Lelaki itu sudah bisa menebak siapa yang sudah menghubungi Alea. Pasti mantan kekasihnya yang memaksanya untuk balikan. Benar kata Alea, mantan kekasihnya itu masih mengharapkannya dan mengejarnya."Aku jadi penasaran. Siapa pria bodoh itu yang sudah mencampakkan wanita baik-baik?" gumam Juno. Dia semakin penasaran tentang siapa mantan kekasih Alea ini. Seperti apa pekerjaan, rupa, keluarganya dan kalau bisa dia akan menghancurkan lelaki itu sampai tidak bisa berdiri lagi dihadapan Alea."Kenapa Adrian belum mendapatkan informasinya?"Dia tidak diam saja, dia masih menunggu informasi dari Adrian tentang mantan kekasih Alea. Tapi dia belum mendapatkan informasinya.Juno penasaran, dia ingin melihat nomor ponsel mantan kekasih Alea di ponsel kekasihnya itu. Tapi dia tidak mungkin melakukannya tanpa izin Alea dan dia akan dianggap melanggar privasi.Tak lama kemudian, Alea tiba dari kamar mandi. Wanita cantik berambut panjang berwarna kecoklatan itu terlihat gugup. Bahkan terlihat jelas
Setelah pembicaraan mendalam satu sama lain, Alea memutuskan untuk membuka hatinya untuk Juno. Pria dewasa yang dia kira sudah mengambil kegadisannya di Golden Night. Jika ada yang bertanya apa dia sudah move on dari Martin atau belum? Jawabannya sudah, karena dia tidak pernah kembali setelah kecewa. Setelah hilang feeling, maka dia pun tidak ada rasa apapun lagi terhadap Martin.Jika ada yang bertanya, apakah dia sudah ada perasaan pada Juno? Jawabannya adalah dia yang mulai merasa nyaman dengan perhatian lelaki dewasa itu. Dia juga sudah mulai menunjukkan perhatiannya pada Juno.Contohnya seperti sekarang ini, Alea membuatkan Juno makan siang dan berencana mengajak Juno makan bersama. Dia mengirimkan pesan pada Juno untuk menemuinya ditangga darurat perusahaan, tempat mereka bertemu diam-diam. Terhitung sudah 1 bulan mereka menjalani hubungan sembunyi-sembunyi."Ini memalukan. Kenapa aku membuatkan makanan untuknya?" Alea berbicara sendiri. "Ini bukan apa-apa. Ini hanya balasan kare
"Aahh... Lebih cepat, sayang. Terus ... aarggh." Jantung Alea berdegup kencang saat mendengar erangan dan desahan dari dalam apartemen kekasihnya. Suara itu membuat kakinya gemetar, tetapi ia tetap melangkah, mengikuti sumbernya. Semakin dekat ke kamar, suara itu semakin jelas—menusuk telinganya seperti belati tajam. Jemarinya mencengkeram erat kotak merah yang dibawanya, hadiah kecil berisi kue yang dibuat dengan penuh cinta untuk kekasihnya, Martin. Namun, saat berdiri di ambang pintu, dunianya runtuh dalam sekejap. Napasnya tertahan. Kedua matanya membelalak, memaku pandangannya pada pemandangan yang menghancurkan hatinya. Di atas ranjang, Martin terbaring tanpa sehelai benang pun di tubuhnya—bersama seorang wanita yang sangat dikenalnya. Dadanya sesak, seolah udara menghilang dari ruangan. Kotak merah dalam genggamannya bergetar, hampir terlepas dari tangannya. Semua rasa cinta dan harapan yang dia bawa kini luruh, berganti dengan nyeri yang mengoyak hatinya tanpa ampun.
"Kamu masih virgin?" Seketika rasa panas, gairah dan nafsu yang semula membuncah itu langsung hilang dalam sekejap. Sebelumnya, Juno berpikir sikap Alea yang agresif, seperti orang yang sudah pro melakukan hubungan intim. Tetapi, yang dia temui justru hal sebaliknya. Sadar dirinya bisa jadi menodai seorang gadis suci, apalagi kondisi gadis itu mabuk berat, Juno langsung mengurungkan niatnya. "Ayo Om. Sentuh aku lagi." Alea yang kehilangan sensasi dari sentuhan itu protes. "Om, ayo...." "Saya tidak bisa melanjutkannya." Pria itu berkata sambil mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai. Dia memakai pakaiannya kembali dan mulai mengancingkan kemejanya satu persatu. Alea menatap Juno dengan sorot mata penuh kebingungan. Nafasnya masih memburu, dadanya naik turun dengan cepat, namun kini ada sedikit ketakutan di sana. Dia tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba berhenti, padahal tadi Juno terlihat begitu menginginkannya. "Kenapa, Om? Aku mau ini. Aku sudah siap," suara Alea
Kenapa dia bisa melakukan hal sebodoh itu? Apa yang membuatnya begitu ceroboh? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Alea ketika gadis itu di perjalanan pulang. Apalagi setelah pemilik klub yang menyewakan gigolo itu mengatakan bahwa semalam, pria yang seharusnya menemani Alea justru pergi ke kamar yang salah dan melayani tamu lain. Pemilik klub bahkan sudah mengembalikan uang Alea tanpa banyak penjelasan. "Jadi, siapa pria itu?" gumam Alea, berusaha mengingat sosok pria yang tidur dengannya tadi malam. Wajahnya samar-samar terbayang dalam benaknya, "Tapi dia sangat tampan… dan hot juga," ucapnya pelan, merasakan debaran aneh di dada. Alea menggelengkan kepala cepat. "Dasar kamu sudah gila, Alea! Bukannya khawatir apakah dia benar-benar tidur denganmu atau tidak, kamu malah sibuk memikirkan ketampanannya," gerutunya, sambil memukul pelan kepalanya sendiri. Beberapa menit kemudian, Alea sampai di depan rumahnya, diantar tukang ojeg. Namun, alangkah terkejutnya dia saat matanya m
Jantung Alea seakan berhenti berdetak dan dadanya terasa sesak, seolah-olah ada yang meraup oksigennya secara paksa. Manakala dia melihat pria yang semalam sudah menemaninya dan pria itu juga sudah memberikan kenangan ciuman pertama untuknya."Ke-kenapa dia bisa ada di sini?" desis Alea sembari menggigit bibirnya sendiri, guna menahan rasa gugup itu. Namun, apa yang dilakukannya itu sia-sia, lantaran dia malah menunjukkan kegugupannya.Alea semakin tidak aman, ketika pria itu tiba-tiba saja berhenti di depannya dan menatapnya dengan tajam. Alea pun langsung menundukkan kepalanya, untuk menyembunyikan wajahnya dan berharap bahwa Juno tidak mengenalinya."Kumohon, pergi sajalah dari sini." Mulut Alea komat-kamit dan meminta agar pria itu segera pergi dari hadapannya."Angkat kepala kamu!" titah lelaki itu dengan suara dinginnya pada Alea.Semua orang yang ada di sana, sontak saja melihat ke arah Alea dan Presdir baru itu. Mereka bertanya-tanya apa yang telah dilakukan oleh Alea atau apa
Alea menelan salivanya sendiri dan mematung ketika Juno mengatakan bahwa dia hanya memiliki dua pilihan. Kata-kata pria itu terdengar begitu ambigu, membuat pikirannya dipenuhi berbagai spekulasi."A-apa maksud Bapak? Kenapa Bapak bicara aneh seperti ini?" tanya Alea dengan gugup. Dia berusaha menerka maksud sebenarnya di balik ucapan Juno.Apakah dia salah dengar? Atau justru pria itu benar-benar mengatakan sesuatu yang sulit dipercaya?"Apa saya salah dengar? Bapak meminta saya untuk berpacaran dengan Bapak?" tanyanya lagi, kini dengan suara pelan seperti berbisik.Namun, Juno hanya tersenyum tipis tanpa segera memberikan jawaban. Tatapan matanya tetap tenang, seolah menikmati kebingungan Alea. Sementara itu, Alea mulai kehilangan kesabaran."Pak, saya lagi tanya sama Bapak!" ujar Alea dengan nada lebih tinggi. Dia merasa perlu mendapatkan kepastian.Juno mengangkat sebelah alisnya sebelum akhirnya berucap, "Saya tidak tuli, jadi kamu tidak usah berteriak seperti itu untuk berbicara
Tatapan Juno, suaranya yang terdengar datar, entah kenapa malah terasa menyeramkan bagi Alea. Wajah wanita cantik itu menegang, kedua matanya melebar, terutama saat melihat seringai tipis di bibir Juno."Kamu akan menyesal karena telah menolak perintah saya, Nona."Hening. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bersuara. Seringai itu lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin tanpa emosi. Alea menelan salivanya sendiri, melihat raut wajah Juno yang menyeramkan."Keluar."Namun, Alea tetap terpaku di tempat. Perubahan sikap Juno yang begitu cepat membingungkannya."Saya bilang keluar!" Kali ini, nada suara Juno lebih tegas, bahkan nyaris membentak. Alea tersentak. Tanpa berpikir panjang, dia segera melangkah keluar dari ruangan itu.Demi apa pun, jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian barusan. Nafasnya sedikit memburu, seolah dia baru saja keluar dari sebuah situasi berbahaya.Saat itu, Adrian, sekretaris Juno, melihatnya berjalan dengan langkah tergesa-gesa keluar dari ruangan
Setelah pembicaraan mendalam satu sama lain, Alea memutuskan untuk membuka hatinya untuk Juno. Pria dewasa yang dia kira sudah mengambil kegadisannya di Golden Night. Jika ada yang bertanya apa dia sudah move on dari Martin atau belum? Jawabannya sudah, karena dia tidak pernah kembali setelah kecewa. Setelah hilang feeling, maka dia pun tidak ada rasa apapun lagi terhadap Martin.Jika ada yang bertanya, apakah dia sudah ada perasaan pada Juno? Jawabannya adalah dia yang mulai merasa nyaman dengan perhatian lelaki dewasa itu. Dia juga sudah mulai menunjukkan perhatiannya pada Juno.Contohnya seperti sekarang ini, Alea membuatkan Juno makan siang dan berencana mengajak Juno makan bersama. Dia mengirimkan pesan pada Juno untuk menemuinya ditangga darurat perusahaan, tempat mereka bertemu diam-diam. Terhitung sudah 1 bulan mereka menjalani hubungan sembunyi-sembunyi."Ini memalukan. Kenapa aku membuatkan makanan untuknya?" Alea berbicara sendiri. "Ini bukan apa-apa. Ini hanya balasan kare
Lelaki itu sudah bisa menebak siapa yang sudah menghubungi Alea. Pasti mantan kekasihnya yang memaksanya untuk balikan. Benar kata Alea, mantan kekasihnya itu masih mengharapkannya dan mengejarnya."Aku jadi penasaran. Siapa pria bodoh itu yang sudah mencampakkan wanita baik-baik?" gumam Juno. Dia semakin penasaran tentang siapa mantan kekasih Alea ini. Seperti apa pekerjaan, rupa, keluarganya dan kalau bisa dia akan menghancurkan lelaki itu sampai tidak bisa berdiri lagi dihadapan Alea."Kenapa Adrian belum mendapatkan informasinya?"Dia tidak diam saja, dia masih menunggu informasi dari Adrian tentang mantan kekasih Alea. Tapi dia belum mendapatkan informasinya.Juno penasaran, dia ingin melihat nomor ponsel mantan kekasih Alea di ponsel kekasihnya itu. Tapi dia tidak mungkin melakukannya tanpa izin Alea dan dia akan dianggap melanggar privasi.Tak lama kemudian, Alea tiba dari kamar mandi. Wanita cantik berambut panjang berwarna kecoklatan itu terlihat gugup. Bahkan terlihat jelas
Adrian terdiam mendengar pertanyaan mendesak dari Nyonya Besar, alias ibu dari Juno William. Dia sudah berjanji kepada Juno untuk merahasiakan hubungannya dengan Alea yang masih belum ada kejelasan. Alea belum juga menerimanya, meskipun Juno sudah mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama kepada wanita itu. Wanita gila yang sempat mengiranya sebagai gigolo, namun juga wanita hebat yang mampu membuatnya berdebar setiap kali berada di dekatnya."Adrian, jawab pertanyaan saya!" suara Nyonya Besar terdengar lantang dan tegas.Adrian menelan ludah, berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya. Meskipun nyonya besar hanya bicara dengannya ditelpon, tapi dia merasa kalau nyonya besar ada disampingnya. "Maafkan saya, Nyonya, tapi tidak ada orang seperti itu," ucapnya berdusta. Hanya itu jawaban yang terlintas di kepalanya saat ini.Nyonya Besar menyipitkan matanya, tidak puas dengan jawaban tersebut. "Saya tidak yakin dengan ucapanmu. Kamu terdengar berbohong."Adrian menghela napas, merasa te
Alangkah terkejutnya Alea saat melihat Juno tiba-tiba saja ada disampingnya. Padahal tadi dia ingat sudah mengunci pintu rumah dan sengaja menyendiri dihari libur ini. Tapi bagaimana Juno bisa masuk? Apa dia lupa mengunci pintu karena tidak fokus?"Siapa yang menyakitimu Alea? Berani sekali dia melukaimu seperti ini. Ayo katakan padaku!" ujar lelaki yang jauh lebih dewasa daripada Alea itu. Dia menatap Alea dengan penuh perhatian dan kekhawatiran. Tatapannya begitu hangat, berbeda ketika pria itu sedang bersama dengan orang lain.Alea malah merasa tidak enak hati, perasaannya jadi campur aduk antara haru dan ragu. Benarkah Juno sebaik ini? Ataukah dia hanya ingin mempermainkannya?"Hey, kenapa kamu malah semakin menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Juno dengan lembut.Wanita itu mengusap sisa air mata di wajahnya. "Aku baik-baik saja Om.""Jangan bilang kamu baik-baik saja, kalau kamu terlihat seperti ini."Ucapan Juno membuat Alea teringat kepada mendiang papanya yang sudah tiada. Pa
"Ibu?"Kedatangan sosok wanita paruh baya yang dipanggil Alea sebagai ibu itu sontak membuat Alea terkejut. Ekspresinya menunjukkan ketidaksenangan yang jelas."Kamu masih berani panggil saya ibu setelah kamu mengabaikan telepon dan pesan dari saya?" cecar Maya, ibu tiri Alea. Sorot matanya tajam dan penuh amarah saat dia melangkah mendekat."Mau apa Ibu ke sini?" tanya Alea dengan nada dingin."Mau apa kamu bilang? Kamu ini ya, dasar anak tidak tahu diuntung! Saya sudah berulang kali menghubungi kamu, tapi kamu tidak pernah mengangkat telepon atau membalas pesan saya!" Maya terus mengomel, suaranya meninggi."Untuk apa kita saling berhubungan? Sejak Papa saya meninggal, kita sudah tidak ada sangkut paut lagi, Ibu tiri." Alea menekankan kata-kata itu dengan tajam. Baginya, hubungan mereka sudah berakhir sejak kepergian sang ayah."Tidak bisa begitu dong! Kamu mau hidup sendiri dan enak-enakan, sementara saya dan adik kamu menderita? Kami terlilit utang gara-gara ayah kamu yang bodoh i
Alea menahan ludahnya sendiri, kala dia melihat atensi tajam yang tertuju kepadanya dari seorang Juno. Pria itu membuat jantungnya tidak aman."Kenapa diam saja? Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku?" tanya Juno lagi dengan nada bicara yang tetap sama, yaitu datar."Aku lapar, aku mau makan siang."Juno langsung memegang kedua tangan Alea dan menghentikan wanita itu. "Jangan mengalihkan pembicaraan, karena aku sedang bertanya sama kamu, Golden Night." Tekan Juno yang membuat wanita itu terdesak.Alea sendiri heran, kenapa dia malah takut pada Juno dan kenapa dia harus menjawab pertanyaannya? Sedangkan hubungan pacaran mereka bukan berdasarkan cinta, melainkan pemaksaan Juno dan ancamannya."Saya rasa, saya tidak memiliki keharusan untuk menjawab pertanyaan Bapak.""Gunakan kata 'aku', bukan saya." Ralat Juno tegas."Ah i-iya baiklah. Aku tidak memiliki keharusan untuk menjawab pertanyaan Bapak.""Gunakan kata Sayang, bukan Bapak."Alea berdecak kesal, mendengar Juno terus aja meralat
Martin terdiam, wajahnya berubah pucat. Dia tidak menyangka Alea akan mengungkit kejadian itu dengan begitu dingin dan tajam."Aku khilaf, Lea. Aku menyesal," katanya dengan suara lirih. "Itu terjadi sekali saja, aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia."Alea tertawa kecil, namun bukan karena lucu—lebih kepada rasa muak yang sudah menumpuk. "Khilaf, ya? Kenapa semua orang yang ketahuan selingkuh selalu beralasan ‘khilaf’?"Martin mencoba mendekat, tapi Alea mundur selangkah. "Lea, aku benar-benar minta maaf. Aku mau memperbaiki semuanya. Aku masih cinta kamu.""Cinta?" Alea menatap Martin dengan tatapan tajam. "Cinta nggak akan bikin kamu naik ke ranjang dengan wanita lain. Cinta nggak akan bikin kamu menghancurkan kepercayaan yang udah susah payah aku bangun buat kamu."Martin terdiam, tidak bisa membantah.Alea menarik napas dalam. "Dengar, Martin. Aku udah selesai dengan kamu. Pergilah. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku."Martin masih berusaha mengatakan sesuatu, tapi Al
Juno mengangkat alis, lalu tersenyum tipis. "Menurutmu?"Alea mengerutkan kening, merasa tidak puas dengan jawaban pria itu. Dia menepis tangan Juno secara halus, kemudian mengambil tisu untuk membersihkan noda di bibirnya sendiri."Saya tidak tahu, dan saya tidak ingin tahu," jawab Alea ketus.Juno justru terkekeh kecil. "Kenapa? Kamu cemburu kalau saya melakukannya pada wanita lain?"Alea mendengus. "Kenapa harus cemburu? Enggaklah!"Juno menatapnya lekat-lekat, seolah sedang membaca pikirannya. "Benarkah?"Alea tidak menjawab. Dia hanya menunduk, sibuk menghabiskan rotinya. Sementara Juno tetap memperhatikannya dengan intens, membuat Alea semakin canggung."Apa kamu sudah merasa nyaman bersama saya?" tanya Juno tiba-tiba.Alea terdiam sejenak. Nyaman? Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin dia bisa merasa nyaman dengan seseorang yang awalnya memaksanya untuk berpacaran? Mereka bahkan baru kenal satu hari, lalu berpacaran, mana mungkin bisa nyaman secepat itu."Saya belum tahu," jawab
Siapa yang mengira bahwa Martin, mantan kekasih Alea, adalah keponakan satu-satunya Juno? Pria yang saat ini menjadi kekasih Alea. Mereka sama-sama belum mengetahui fakta tersebut.Martin menatap curiga ke arah sepatu pantofel wanita berwarna hitam yang tergeletak dekat dapur. Apakah pamannya memiliki kekasih? Pria yang selama ini bahkan tak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita?"Om, apa Om punya pacar?" tanya Martin, mengarahkan perhatiannya pada Juno yang masih sibuk memanggang roti.Juno tidak menjawab. Alih-alih merespons, dia malah mengabaikan kehadiran keponakannya di sana."Mana mungkin Om punya pacar?" gumam Martin, setengah tak percaya. Tatapannya beralih ke arah dua potong roti panggang di atas piring. Juno bahkan mengoleskan selai coklat dengan rapi di atasnya."Om bikin dua roti. Apa pacar Om ada di sini? Dia menginap?" Martin semakin penasaran."Pergilah sebelum aku panggil petugas keamanan," usir Juno datar."Tapi aku ingin melihat pacar Om dulu. Pasti dia sangat