“Cepat! Cepat! Tambah kecepatannya! Jangan lambat!” Kalingga berteriak sambil mengayunkan selang itu, memecut prajurit yang ia anggap lelet karena tidak segera berlari menghindar darinya. “Cepat! Ngomongin orang aja cepat, kalian. Giliran disuruh lari lelet kayak siput! Tambah kecepatannya!” teriak
Selama di kamar mandi, Wildan memegangi punggungnya yang terasa panas dan perih. Jelas, bekas pecutan selang tadi mulai membiru. “Brengsek! Aku dibuat kayak pecundang,” keluhnya. Wildan meninju dinding kamar mandi. Giginya bergemeletuk, rahangnya menegang, dan kilatan amarah kelihatan berkobar d
Keadaan ibu Bening sudah membaik sekarang. Ia juga sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Namun, Bening mencegah ibunya untuk beraktivitas terlalu jauh. Kalau biasanya ibu Bening rajin bersih-bersih dan memasak, kali ini Bening melarangnya. Bening biasa menggantikan ibunya, tetapi memang selayaknya
“Terus, gimana ceritanya kamu bisa kenal sama komandannya Wildan yang namanya Kalingga itu?” Bening agak ragu untuk menjelaskannya. Ia setengah berbohong waktu itu saat pergi ke luar kota dengan alasan ada job endorsement. Maksudnya, Bening memang ada job tersebut, tetapi sebenarnya tidak harus sam
Ibunya Bening menghela napas dalam-dalam. “Tau gitu kamu ambil beasiswa kuliahmu dulu, Ning. Lima tahun kalian bersama dan akhirnya kayak begini. Kalau aja dulu beasiswanya diambil, sekarang kamu udah sarjana.” Bening mengangguk-angguk. “Iya, Bening juga nyesel dulu kemakan sama omongan manis Mas W
Kalingga baru saja selesai mandi ketika pesan dari Bening masuk. Ia keluar dari kamar mandi dengan melingkarkan handuk di pingganya, sementara rambutnya masih basah. Layar ponselnya menyala begitu pesan itu masuk. Kalingga segera mendekati ponselnya dan mengecek siapa yang mengirim pesan. Kernyitan
“Ning, Mas janji ini bakal jadi yang terakhir. Setelah ini, Mas nggak akan ganggu kamu lagi. Anggap aja ini sebagai pertemuan untuk ucapan selamat tinggal dari Mas buat kamu.” Bening mendecak kesal. Entahlah, ia merasa geli sendiri dengan omongan Wildan. Sok memelas sekali pria itu. “Nggak usah n
Bening tersadar. Ketika ia membuka matanya, pemandangan yang ia lihat bukan kafe di gang yang sepi itu lagi, tetapi sebuah ruangan yang ia sinyalir sebagai kamar hotel. Bening sontak bangkit duduk dari posisinya. Kepalanya masih terasa begitu pusing, membuat ia meringis kesakitan karena tiba-tiba la
Setelah semua urusan selesai, Langit dan Dahayu akhirnya pulang ke rumah. Karena Dahayu mengendarai mobilnya sendiri, Langit mengikutinya dari belakang dan memastikan wanita itu tidak menghilang dari pengawasannya. Langit langsung menarik Dahayu masuk ke kamar begitu mereka sampai. Dahayu pasrah-p
Sudah dua jam berlalu sejak Langit keluar dari rumah. Dahayu mulai khawatir. Pasalnya, laki-laki itu sama sekali tidak menghubunginya. Pikiran Dahayu mulai tertuju kepada klub malam. Namun, dengan segera dia mengenyahkan kemungkinan itu. “Langit udah berubah. Dia nggak bakalan pergi ke klub malam l
“Ya Allah, beneran, Yu?” Bening sampai tidak percaya mendengarnya. Semua orang di meja makan terlihat tersenyum, terutama ibu Langit yang akhirnya mendapatkan cucu pertamanya. Dahayu malah malu sendiri karena menjadi pusat perhatian. Bening berdiri dari kursinya dan menghampiri Dahayu, memeluk putr
Bibir mereka tidak menempel lama. Karena tiba-tiba Dahayu mendorong Langit dan beringsut menjauh. Wajahnya memerah padam dan jantungnya berdebar tak karuan, tetapi dia justru menolak bertautan dengan Langit. Langit menatap Dahayu dengan kecewa. “Kenapa, Yu? Apa aku salah cium kamu? Aku ‘kan suami k
Buket bunga yang Langit bawa cukup besar. Dahayu sampai kesulitan membawanya dan hampir tidak bisa melihat apa pun. Sementara itu Langit tersenyum kecil melihat Dahayu kewalahan membawa buket itu. Dia mengikuti istrinya memasuki rumah singgah. Ini bukanlah kunjungan pertama Langit ke rumah ini, teta
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan