Share

34. Apa? Istri?

Penulis: Lusia
last update Terakhir Diperbarui: 2022-04-11 07:00:03
Alia menatap layar ponselnya, kemudian kepala terangkat melihat restoran mewah tepat di matanya.

"Alamat restoran ini benar, 'kan?" batin Alia.

Sesekali mengecek kembali layar ponsel, untuk melihat lokasi yang Ayora kirimkan apakah benar, dan benar! Itu adalah restoran di mana Fahmi sedang dinner dengan wanita lain.

Tidak salah lagi.

Kaki panjang Alia melangkah cepat dengan perasaan jantung berdebar. Kedatangan Alia di sambut ramah oleh pelayan yang memberi salam dan mengantarkan ke meja.

Sedari tadi mata Alia mencari suaminya diantara banyaknya tamu. Sial! Alia tidak tahu nomor meja suaminya, seharusnya dia bertanya pada Ayora terlebih dahulu.

Waiter mendatangi Alia sambil membawa buku menu.

"Selamat malam, Kak. Ini menu makan malam hari ini."

Alia mengangguk. Dia menerima buku menu itu, membaca menu. Lalu pandangan mata sama sekali tidak fokus pada pelayanan waiter, atau ke buku menu, berkali-kali pandangannya ke sekeliling restoran—mencari-cari.

Dalam kondisi seperti ini,
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Kamu Menidurinya?   35. Selingkuhan Sebagai Istri

    Alia ternganga. Membatin dengan makian favoritnya kata, Sialan. Berani sekali Fahmi memperkenalkan selingkuhan sebagai istri. Fahmi sudah pergi dari restoran saat dia pergi ke toilet. Sekarang, harapan untuk melihat selingkuhannya telah hilang. Wanita itu pulang ke rumah dengan perasaan kekecewaan *** Pukul sebelas malam. Fahmi mengantar Misella pulang sampai di depan rumah. Sebelum turun dari mobil, mereka berdua saling memandang dengan tatapan dalam. Tatapan Fahmi begitu lembut, tatapan itu bertahan lebih dari lima detik—menatap sampai. tersenyum. Misella salah tingkah menyadari tatapan mata dari Fahmi. "Berhenti menatapku seperti itu," pinta Misella. "Kalau kamu terus menatapku. Aku akan turun sekarang." "Lima menit." Fahmi masih menatap Misella. Sebuah tatapan yang tidak pernah diberikan untuk Alia. "Kamu kok cantik banget, sih," puji Fahmi. Benar. Fahmi jatuh cinta pada Misella karena paras cantik wanita itu yang mampu mengikat hatinya hingga sekarang. Lagi pula, siap yan

    Terakhir Diperbarui : 2022-04-11
  • Kamu Menidurinya?   36. DAMN IT!

    Alia stres minta ampun. Setelah pulang dari restoran. Dia kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Tanpa mengganti pakaian, tubuhnya ambruk di depan pintu. Lalu beberapa menit berdiri—menjatuhkan badannya di atas tempat tidur, memejamkan mata sesaat sambil membuka tas selempang untuk mengambil ponsel, dan mengecek ponselnya. Tidak ada satu pun panggilan. Mencoba menghubungi Fahmi kembali. Lagi, lagi dan lagi tidak diangkat. "Oh for God's sake! Pick up the fucking phone already!" Sudah tidak tahan lagi. Alia lemparkan ponsel ke sembarang arah sambil berteriak keras agar teriakan melegakan hatinya. Tidak peduli ponsel itu rusak akibat di lempar. Sekarang Alia membutuhkan pelampiasan. "DAMN IT! LELAKI BERENGSEK!" maki Alia, mengungkapkan kekesalan. Lalu Alia pergi ke kamar mandi. Melampirkan peralatan mandi hingga berjatuhan di lantai—berserakan di mana-mana. Di depan wastafel. Alia menjambak rambutnya sendiri sebelum memandang wajahnya di cermin Tidak bisa menangis dalam ko

    Terakhir Diperbarui : 2022-04-11
  • Kamu Menidurinya?   37. Pengkhianatan Sesungguhnya

    "Sudah puas menemui wanita lain?" Pertanyaan dengan nada dingin, sedingin es batu “M-maksud kamu?” “Kamu makan malam dengan wanita lain bukan?” Fahmi gelagapan. Tidak berani beradu mata dengan Alia. Sumpah demi apapun. Alia menyeramkan bila sedang marah. "Ti-t-tidak. A-aku dari rumah teman. Erza memintaku untuk menemani makan malam," jawabnya gugup. "Ya ... karena sudah lama tidak keluar malam untuk mencari makan malam dengannya," imbuhnya sebagai alasan. "Tatap mataku!" perintah Alia dengan tidak ingin ada penolakan. Fahmi memberanikan diri menatapnya. Tatapan mata bagaikan jendela hati karena dapat memancarkan perasaan yang lisan sembunyikan. "Mulut bisa berbohong, tetapi tidak dengan mata," pungkas Alia. Fahmi mengunci bibir rapat-rapat. Tak percaya dengan perkataan Alia yang menusuk hatinya. Rupanya perkataan Alia barusan, menyindir dirinya. Hening beberapa saat hingga Alia membuka suara kembali. "Kamu punya wanita lain bukan? Berselingkuh lagi!" Nada suara Alia memelan

    Terakhir Diperbarui : 2022-04-11
  • Kamu Menidurinya?   38. DASAR BAJINGAN!

    Alia memejamkan mata. Air mata menggenang di pelupuk mata, dia tahan agar tidak menetes. "Tiba-tiba berbicara yang tidak masuk akal? Aku sibuk bekerja, selalu lembur. Demi kamu, demi kita. Untuk masa depan kita dan anak kita! Jadi, untuk apa berselingkuh? Membuang waktu saja." Alia harus tegar mendengar perkataan Fahmi yang membuatnya sesak di dada. Namun, namanya wanita mempunyai hati yang lembut. Setegar apapun, tetap saja menangis. Alia memundurkan langkah, tubuhnya merosot di bawah—terduduk tak berdaya. Sudah tidak tahan lagi dan mulai menangis. Bukan ini yang dia harapkan, Alia ingin Fahmi mengatakan jujur bukan sebuah kebohongan. Fahmi mendekati Alia ketika melihat istrinya menangis. Berjongkok di depannya. "Aku tidak berselingkuh, Alia. Kamu adalah wanita yang aku cintai." Fahmi berkata demikian untuk menenangkan Alia. Alia menghapus air matanya. "Aku punya bukti kamu makan malam dengan wanita lain," ucap Alia dengan nada serak dan terisak pelan. Mata Fahmi terbelalak leb

    Terakhir Diperbarui : 2022-04-11
  • Kamu Menidurinya?   39. Kiss Mark

    Fahmi baru selesai mandi, dia segera memakai kemeja biru langit, dan jam tangan. Tiba-tiba mendapatkan pesan dari Misella, untung saja tidak ada Alia di kamar.Fahmi membalas pesan, 'Sudah aku bilang. Jangan mengirim pesan ke nomor ini.' Pesan terkirim dan tidak lama menunggu, Misella membalas cepat.'Lalu aku harus mengirimkan pesan ke nomor mana? Nomor kamu satunya tidak aktif sejak semalam.'Oh, iya. Fahmi baru ingat. Dia beberapa hari yang lalu telah membeli ponsel baru dan ponselnya dia taruh di bakasi mobil. Dia bahkan membeli ponsel baru tanpa sepengetahuan Alia.'Nanti aku akan menelfonmu.'Beberapa detik setelah pesan terkirim, Misella menelfon Fahmi. Fahmi mengangkat panggilan itu sambil memastikan Alia tidak akan ke kamar, karena Alia sedang di dapur-biasa membuat sarapan pagi."Good morning, sayang!" sapa Misella dengan suara khasnya.

    Terakhir Diperbarui : 2022-04-11
  • Kamu Menidurinya?   40. Menjadi Mata-mata

    "Kenapa dia harus melakukannya di situ ketika aku sedang benar-benar merasa kesal, marah, dan kecewa."Leher termasuk bagian area sensitif. Hal itu membuat ciuman di leher sangat intens."Sial!" maki Alia dalam hati. Ciuman di leher membuatnya bertekuk lutut dan tidak mungkin untuk menolak. Akhirnya, Alia lepas kendali. Rasanya luar biasa indah karena leher menjadi zona sensitif seksual.Alia dan Fahmi menjadi terangsang, gila, dan memabukkan. Keduanya kehilangan kendali atas diri sendiri.Fahmi menghentikan ciuman di leher sesaat. Dia berbisik pelan, "So sexy."Bagi Fahmi, tengkuk adalah lekukan tubuh yang indah dan sangat menarik. Menggoda dengan cara mengigit, menjilat, dan meniup leher. Fahmi pun kembali melakukan aksinya.Hingga bunyi ponsel berdering di kantong celana membuat kedua manusia itu menghentikan kegiatan bermesraan dan saling mena

    Terakhir Diperbarui : 2022-04-11
  • Kamu Menidurinya?   41. Misella Disidang

    Pagi-pagi sekali, Misella disidang oleh kedua orang tuanya. Papa Misella berwajah sangar menatap Misella dengan tatapan serius, jiwa ketegasan bisa terbaca di raut wajahnya. Sedangkan, Mamanya? Seseorang ibu gaya sosialita, high class.Sebenarnya Misella akan kabur dari rumah secara diam-diam, tetapi Robert—ayah Misella— telah menghadangnya dengan tatapan tajam dan melempar koper ke sembarang arah lalu menyuruh Misella duduk di ruang tengah.Alhasil rencana kabur gagal total.“Mau kemana kamu?” Pertanyaan nada dingin dari Robert. “Membawa koper segala!”“A-aku mau pindah ke apartemen, Pa,” jawab Misella terbata-bata.Tiffany, Mama Misella terkejut mendengar penuturan putrinya. “Apa yang kamu katakan, sayang. Pindah?”Hening.Misella tidak menjawab.Robe

    Terakhir Diperbarui : 2022-04-11
  • Kamu Menidurinya?   42. OH, GOD. WHY?!

    Alia menggerutu kesal.Mengapa jalannya menjadi ramai dan macet. Dia sudah ketinggalan jauh, mobil Fahmi hampir tidak terlihat lagi di matanya.Alia mengendarai mobil dengan ngebut. Berusaha menyalip kendaraan lain. Tidak peduli akan terjadi kecelakaan dan nyawa menjadi taruhan. Pikiran sudah kacau sedari tadi.Citttt ...!!!Alia menginjak rem secara mendadak.Oh, shit!Lampu merah.“Akkhh!” Alia mengerang, memegangi kepalanya. Terus menggerutu tidak jelas. Bahkan menyalahkan lampu merah. “Kenapa harus ada lampu merah di saat aku sedang menjadi mata-mata!”Hei. Itu bukan kesalahan lampu merah.Ya. Alia tahu itu.Alia hanya butuh pelampiasan, menggerutu di dalam mobil seperti orang gila yang berbicara sendiri.

    Terakhir Diperbarui : 2022-04-11

Bab terbaru

  • Kamu Menidurinya?   140. —THE END — S 2

    Para tamu bertanya-tanya termasuk Misella ikut terheran. Sontak Abian dan Alia menutup mulut tak percaya. Dikejutkan dengan kehadiran kedua orang tua Abian yang tiba-tiba datang bergabung di acara tersebut. Tak disangka-sangka mendapat surprise dari keluarga Abian. Ayah Mario, Ibu Caroline, Kak Amber dan juga Xylia si gadis kecil bule dengan rambut pirangnya."Sepertinya mereka dari keluarga terpandang," batin Misella menebak.Amber melambaikan tangan pada Abian dengan semangat sekali dan senyum lebarnya. Keluarga Abian pun semakin mendekat. Hati Alia terenyuh dengan kedatangan mereka. Alia pikir, keluarga Abian sangat mustahil untuk menginjak kaki di Jakarta. Sebab mereka lebih menyukai berada di Bali ketimbang di Jakarta, seperti pertama kali Abian memperkenalkan Alia pada keluarganya di Bali. "Siapa mereka?" ucap Papa Alia kebingungan."Mereka Keluarga saya, Pa. Ibu, ayah, dan kakakku dari Amerika," jawab Abian cepat. "Saya kira tidak akan datang."Tiffany melongo, begitu juga den

  • Kamu Menidurinya?   139. Sembilan Bulan Kemudian — S 2

    Sembilan bulan kemudian .... Setelah kejadian mengerikan di Belleza, rencana Robert berhasil total dan kematian Fahmi tidak membuat orang menaruh kecurigaan. Itulah gelapnya tinggal di hunian modern itu. Siapapun yang mempunyai uang, dia akan berkuasa. Pada dasarnya uang segalanya, termasuk uang membuat orang lain tutup mulut.Di hunian elit, Belleza unit 002 milik keluarga Robert.Keluarga Robert hidup jauh lebih bahagia daripada tahun kemarin. Kini Kayla sudah bisa berbicara walaupun belum amat jelas. Tingkah lucu dan nada bicara cadel Kayla sangat menghibur mereka. Apalagi Kayla cukup tanggap, pasti tumbuh besar menjadi anak pintar. "Kayla sayang ...!" Tiffany berteriak, melambaikan tangannya dengan senyum lebarnya. Saking kangennya dengan cucunya. "Nenek datang!"Kayla baru turun dari tangga dituntun oleh Misella. Misella langsung berkata, "Hayo, siapa yang datang itu, Kay?" nunjuknya ke arah pintu.Awalnya Kayla sempat bingung, tapi langsung sadar. Tubuh mungil itu berlari untuk

  • Kamu Menidurinya?   138. Menjadi Pembunuh — S 2

    Deg."APA KATAMU?!" Robert sangat terkejut. Berdiri dengan sorot mata tidak percaya. "Putriku tidak mungkin melakukan itu!"Bella terkaget-kaget. Tiffany yang baru sadar dari pingsan, syok kembali. Membekap mulutnya tidak menyangka. "T-tidak! Putriku bukan anak pembunuh!" Geleng-geleng kepala. "Pasti ada kesalahpahaman. Iya, kan?!""Maaf ... Saya melihat dengan kepala saya sendiri! Bahwa Putri Anda yang mendorong Fahmi!" tegas pengawal itu meyakinkan. "Harus ke atas sekarang kalau tidak percaya."Mereka langsung berlari-lari naik tangga menuju kamar Kayla. Mulut mereka terbuka lebar saat melihat jendela kaca telah hancur. Mata masing-masing menangkap punggung Misella, berdiri di antara serpihan kaca berserakan di lantai. Tidak ada yang memperdulikan betapa cantiknya warna kembang api di menyala-nyala.Robert membalikkan badan Misella. "Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Robert butuh penjelasan. "Kenapa begitu berantakan di sini?!" tambah Robert.Kesadaran Misella kembali saat kedat

  • Kamu Menidurinya?   137. Terjatuh dari Penthouse — S 2

    "T-tapi Tuan ...." "Tidak ada tapi tapi!" Robert masih punya secuil rasa kasihan setelah melihat Fahmi begitu mengenaskan. "Beri waktu dua menit dan awasi dia jangan sampai menyentuh sedikitpun cucu saya! Kalau cucu saya sedang tidur, jangan sampai lelaki itu membangunkan!""Baik Tuan." Body guard menurut, mereka pun menghampiri Fahmi. "Hei! Ayo jalan!" perintahnya karena Fahmi hanya diam tak bergerak. "Cepat jalan! Sebelum Tuan Robert berubah pikiran!"Fahmi pun berjalan pincang naik ke arah tangga dikawal ketat. Meninggalkan Robert di bawah bersama putri pertama. Bella dengan penuh amarah menghampiri Robert yang melamun dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana."Papa!" teriak Bella. "Papa yang benar saja membiarkan lelaki bajingan itu menemui Kayla?! Di atas juga ada Sella!" Marah Bella, geleng-geleng kepala kenapa Papanya berbuat demikian.Robert menatap putri pertamanya. "Sudah. Kamu jangan marah begitu," tanggap Robert

  • Kamu Menidurinya?   136. Menghajar habis-habisan — S 2

    Robert kembali ke apartemen karena baru selesai menyelesaikan beberapa pekerjaan mendadak di hari tersebut. Awalnya Robert ingin menikmati waktu malam tahun baru bersama sang istrinya, alhasil gagal. Saat pulang lelaki tua geram setelah mendapatkan pesan dari putrinya. "Dia datang sendirian?" tanya Robert pada dua body guard itu.Salah satu body guard menjawab, "Sepertinya sendiri, Tuan. Saya mendapat notif panggilan banyak sekali dari putri dan istri Anda.""Kenapa dia ada di sini?" Napas Robert terdengar berat. Sangat heran sekali. "Apa tidak punya harga diri?" sinisnya mengingat wajah Fahmi yang begitu memuakkan."Mungkin dia lapar," tebak body guard setengah bercanda."Dia lapar pada hari ini?" Satu alis Robert naik."Kan Tuan yang membuatnya miskin tak punya apa-apa. Jadi, dia berusaha mendatangi keluarga Tuan agar mendapat belas kasih," jelas body guard itu."Ah, iya. Kalau begitu kita harus cepat!"Dua b

  • Kamu Menidurinya?   135. Dendam. Benci. Marah. — S 2

    Jantung Misella terasa dihantam batu. Selama ini tidak pernah mengizinkan Fahmi melihat wajah putrinya. Batinnya pedih mendengar permintaan Fahmi, Misella merasa menjadi Ibu yang jahat. Sorot mata Fahmi hampir membuat pertahanan Misella goyah, rasa kasihan segera ditepis jauh-jauh.“Dia hanya mantan suami yang tidak tahu diri!” batinnya memperingatkan."Jangan mimpi. Jangankan Sella sebagai ibu! Aku saja tak akan membiarkanmu bertemu Kayla," sinis Bella. "Pergilah dari sini!" Bella menarik paksa tangan Misella, cepat-cepat memencet sandi pintu.Misella menoleh ke belakang, terperangah Fahmi semakin mendekat. Hah?! secepat itu? "Kak! Ayo cepat!" Menarik-narik dress Bella dengan panik."Sabar dong, Sel. Tangan Kakak jadi tremor ini," balasnya bersamaan bunyi pintu apartemen terbuka.Keduanya bergerak cepat masuk ke dalam saat pintu akan tertutup sempurna, tangan Fahmi menerobos pintu tak peduli akan terjepit. Misella dan Bella langsung mendorong sekuat tenaga agar pintu tertutup."Hanya

  • Kamu Menidurinya?   134. Ingin Bertemu Putrinya — S 2

    Lima jam yang lalu.Misella dan Bella saling berdebat kecil mengenai undangan party dari Yuna. Bella merobek-robek kertas undangan pink pastel cantik itu dengan kesal. "Untuk apa kau datang?! Bukannya lebih baik kamu mengabaikan wanita penyebalkan itu!" omel Bella, pipinya merah menyala. Tak habis pikir jalan pikiran adiknya itu. Diperlakukan buruk, dipermalukan masih saja mau bergabung dengan orang bermuka tebal. Misella berdiri memasang muka tanpa dosa di depan Bella. "Aku hanya ingin datang. Apa salahnya, sih, Kak?""Salah! Memang salah." Bella menarik napas dalam-dalam. Sadar, hanya masalah kecil sampai berdebat dan emosi begini. "Sudah, abaikan saja," lanjutnya menahan diri—merebahkan tubuhnya di sofa."Aku mau datang! Titik." Misella keukuh. "Aku belum pernah datang ke party tahun baru."Bella memutar bola matanya. Astaga. Adiknya sudah dewasa tapi masih keras kepala. Tidak pernah menurut perkataanya. "Ya sudah. Aku temenin! Jangan sendirian. Bisa jadi kamu akan dipermalukan de

  • Kamu Menidurinya?   133. Sebuah Perintah — S 2

    Sudah setengah jam Alia pingsan, kini mulai sadar. Matanya mulai terbuka, pandangan pertama yang dilihat adalah lampu cantik di atas langit-langit dinding yang menggantung. "Akhirmya kamu juga sadar, sayang." Abian menghela napas lega. Setia menunggu Alia bangun, tak melepas genggaman tangan.Alia melihat Abian duduk di sampingnya. "A-apa yang terjadi padaku? Di mana kita?" tanyanya bingung, sadar sedang bukan di kamar miliknya, kamar itu asing.Pelayan datang membawa segelas air putih, diberikan pada Abian. "Minum dulu," perintah Abian.Alia bangun dari posisi baringnya. Meminum beberapa teguk air putih dibantu Abian memegang gelasnya."Kamu pingsan, sayang. Kita masih di apartemen Yuna," ucap Abian memberi tahu. Alia sadar seketika. Matanya membesar, ingat kejadian menakutkan. Memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia langsung turun dari ranjang tanpa berpikir panjang, tubuhnya oleng—untunglah pelayan siap siaga me

  • Kamu Menidurinya?   132. Apa yang terjadi?! — S 2

    Bunyi kaca pecah mengangetkan dan tiba-tiba ada teriakan dari atas membuat empat orang di balkon itu menengadah kepala ke atas. Betapa terkejutnya melihat ada seseorang di atas sana—di dorong hingga tubuhnya hilang kendali, jatuh bersamaan serpihan kaca tebal telah melukai setiap kulitnya. Tangan itu berusaha menggapai di udara, namun malangnya tak bisa berpegang benda apapun.Pasrah dalam hitungan detik tubuh itu jatuh melewati samping kiri balkon hingga menghantam sky light lobby apartemen yang terbuat dari kaca. Sky light berbentuk persegi panjang terpecah, hancur seketika. Saat menghantam lantai seketika sel sel dalam tubuh meledak. Pembuluh darah pecah sehingga tak ada sirkulasi oksigen ke seluruh tubuh membuat organ vital dan otak berhenti berfungsi. Tengkorak hancur beberapa bagian dan darah terciprat ke mana-mana.Orang-orang sedang berada lobby terkejut mendengar bunyi amat keras lalu diperlihatkan tubuh tergeletak tak bernyawa. Tak hanya itu penghuni Bel

DMCA.com Protection Status