Share

Kalau Cinta, Pasti Sayang
Kalau Cinta, Pasti Sayang
Author: Naila Fawziya

Bab 1

Author: Naila Fawziya
"Tik tak ... tik tak, trang!"

Ini sudah pagi.

Aku menatap ke arah kue berwarna biru yang sudah meleleh di atas meja. Satu-satunya lilin di atas kue itu sudah padam.

Aku merayakan ulang tahun ke-25 tanpa ditemani siapa pun.

Aku berjalan perlahan ke samping meja sambil menatap kue yang belum tersentuh. Aku mengambil kue itu sedikit dengan terlunjuk, lalu memakannya.

"Selamat ulang tahun." Aku memberi ucapan selamat pada diri sendiri.

Setelah itu, aku membuang kue itu ke tong sampah tanpa ragu.

Hari sudah larut, Erino pulang.

Ketika melihat Erino muncul dari pintu, aku berkata, "Kamu sudah pulang, ya."

Tatapan Erino sangat dingin kepadaku. Pria itu berkata sambil mengernyit, "Selain minum anggur, apa kamu nggak ada kegiatan lain yang lebih berguna?"

Sambil menggoyangkan gelas, aku menjawab dengan tersenyum, "Minum anggur berguna, kok."

Aku menghampiri Erino dengan langkah terhuyung-huyung. "Minum anggur sangat berguna. Ayo, kamu juga minumlah ...." Aku mendekatkan gelas ke bibir Erino. Sambil menatapnya, aku berkata, "Ayo, coba minum!"

Erino menyipitkan mata. Dia menepis tanganku dan berkata, "Lebih baik kamu tidur."

Kekuatan Erino sangat besar sehingga aku hampir jatuh ke lantai dan anggur dalam gelasku juga tumpah sebagian.

Guncangan itu membuatku teringat sesuatu. Aku menaruh gelas, lalu berbalik dan tersenyum kepada Erino.

"Aku ulang tahun hari ini."

Mendengar itu, Erino terkejut, tetapi kemudian tatapannya kembali ke semula.

"Ini hari ulang tahunku, harus ada hadiah." Aku berkata sambil menghela napas, "Karena kamu nggak memberiku hadiah, aku saja yang memberimu hadiah."

Sambil berbicara, aku mengeluarkan sebuah dokumen dari laci di samping sofa. Dokumen itu kuserahkan kepada Erino.

"Ini hadiah dariku."

Ketika Erino melihat ternyata dokumen itu adalah surat cerai, dia bertanya sambil mengernyit, "Trik apa yang sedang kamu mainkan?"

"Dulu ayahku yang memaksamu menikahiku. Selama menikah bertahun-tahun denganku, kamu pasti menderita. Bukankah kamu belum bisa melupakan cinta pertamamu? Mulai sekarang, kamu bisa bersamanya lagi."

Aku menyerahkan surat cerai padanya. Sebelum Erino merespons, aku berjinjit dan mencium bibirnya.

Tidak lama kemudian, Erino mendorongku hingga jatuh.

Kali ini, aku merasa sakit saat tubuhku menghantam lantai.

Erino hanya mengernyit, tetapi tidak membantuku berdiri.

Lenganku sakit, tetapi kutahan rasa sakit ini. Aku berkata sambil memejamkan mata, "Rumah tangga kita sudah gagal, sepertinya kita nggak cocok menjadi suami dan istri."

Erino menjawab dengan nada dingin, "Andai dulu kamu berpikir yang sama, kita nggak perlu saling menyakiti seperti sekarang."

"Ini salahku." Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata, "Dosaku ini hanya bisa ditebus dengan kematian."

Erino tersenyum sinis. "Kamu bersedia mati?"

Setelah tertegun beberapa saat, aku menjawab dengan suara pelan, "Kalau aku mati, aku nggak mau mencintaimu lagi di kehidupan selanjutnya."

"Kita lihat nanti setelah kamu mati," ucap Erino. Pria itu mengalihkan pandangannya, kemudian berbalik dan pergi dari rumah.

Pintu dibanting dengan keras.

Erino pergi lagi.

Senyuman mulai sirna dari wajahku. Aku memegang lenganku yang terluka sambil berdiri.

Ternyata Erino masih membenciku.

Aku tersenyum pahit.

Aku duduk di sofa dan mengeluarkan hasil pemeriksaan kesehatan dari laci.

Hal yang paling mengguncang hatiku adalah saat membaca diagnosis kanker stadium akhir pada halaman terakhir.

Aku memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, aku membuka mata dan menyobek hasil pemeriksaan itu.

Sobekan kertas berserakan di lantai. Aku menatap cincin kawin di jari manisku, mengusapnya sebentar, lalu melepaskannya dan meletakkannya di atas meja.

Keesokan paginya.

Aku mengemasi semua barangku dan memasukkan ke dalam mobil. Tanpa sarapan terlebih dulu, aku lebih memilih segera meninggalkan rumah ini.

Aku mengemudikan mobil, perlahan-lahan meninggalkan kota dan menuju ke jalan tol.

Aku membuka jendela mobil. Kurasakan angin yang sejuk dan sinar matahari yang menyilaukan mata.

"Selamat tinggal, Erino."

Aku menyetir ke kanan, kemudian melepas kedua tanganku dari setir dan menginjak gas.

"Brak!"

Mobil menabrak ke tebing di sebelah kanan. Akibatnya, mobil bagian depan rusak parah. Darah segar menetes dari kursi pengemudi.

Aku pun mati, tetapi arwahku masih gentayangan. Awalnya, aku berpikir setelah mati, aku akan berpisah dengan Erino selamanya.

Namun, ternyata arwahku terus mengikutinya.

Di lantai 60 Astro Global.

Arwahku datang ke perusahaan Erino.

Aku melihat sekretarisnya datang ke kantor pagi-pagi. Sekretarisnya membuatkan secangkir kopi dan masuk ke ruangan Erino sambil kuikuti.

"Pak Erino, nanti ada konferensi video dengan Grup Solara pukul setengah 10. Materi rapat sudah saya siapkan di meja."

Erino menjawab sambil memijat dahi, "Ya."

Aku pun tersadar ada sesuatu yang hilang di jari Erino.

Oh ya, cincin kawin!

Erino sudah tidak menggunakan cincin kawin, hanya terlihat bekas merah samar di jarinya.

Benar juga, kami sudah bercerai. Dia tidak perlu memakai cincin kawin lagi. Dadaku terasa sesak. Tidak disangka, orang yang sudah mati, masih merasakan emosi ini.

Related chapters

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 2

    Setiap menjelang jam makan siang, aku selalu melihat ke arah jam. Selama lima tahun, aku selalu mengantarkan bekal makan siang ke kantor Erino, tetapi hari ini aku tidak datang. Sekretarisnya pasti sudah menebak terjadi sesuatu, jadi dia segera memesankan makan siang untuk Erino.30 menit kemudian, makanan yang dipesan pun datang."Pak Erino, silakan makan."Brigitta menaruh makanan dan pergi.Erino masih sibuk dengan pekerjaannya. Tidak terasa 10 menit sudah berlalu.Erino membuka makanannya. Begitu makan satu suap, dia mengernyit.Mungkin karena rasa makanan kali ini berbeda dari biasanya.Dia makan beberapa suap lagi, lalu berhenti makan.Ponsel di meja tiba-tiba berbunyi. Aku melihat sekilas, ternyata aku tahu siapa yang menelepon. Erino hanya mengangkat telepon, tetapi pandangan matanya masih ke arah dokumen."Erino, kamu sudah selesai kerja?"Erino melirik ke layar ponsel, lalu menjawab dengan tersenyum, "Ya, sebentar lagi.""Kita makan bersama malam ini, ya."Sambil membaca doku

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 3

    "Menyebalkan, dia selalu mengekangku!"Salsa terus berada di samping sambil mendengarkan gumaman Erino.Wajah Salsa terlihat muram. Dia merangkul pinggang Erino yang ramping sambil membujuknya, "Erino, kalian sudah bercerai. Nggak ada yang mengekangmu lagi, sekarang kamu boleh minum sampai larut malam.""Bercerai?" Erino memejamkan mata. Dia berkata sambil tersenyum, "Oh ya, benar, kami sudah cerai. Kami sudah cerai ...."Benar, kami sudah bercerai. Erino terlihat sangat bahagia. Padahal aku sudah mencintainya bertahun-tahun, tetapi dia tidak mencintaiku sedikit pun.Dengan terhuyung-huyung, Erino mengambil minuman yang disodorkan. Erino meneguknya langsung hingga mengalir ke lehernya.Ketika tingkah pria menawan itu, Salsa tampak bingung."Sudah, cukup." Salsa menolak tawaran minum dari teman-temannya. "Cukup sampai di sini. Erino sudah mabuk. Aku antar dia pulang."Setelah itu, Salsa memapah Erino keluar dari ruangan.Erino mengikuti Salsa keluar ruangan dan naik ke lantai 60 tanpa m

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 4

    Brigitta tercengang sesaat, kemudian menjawab, "Nggak."Mata Erino menunduk dan tidak berbicara lagi.Ekspresi Brigitta tampak bingung. Kurasa dia mungkin belum pernah bertanya kepadaku. Lagipula, dulu akulah yang selalu mengganggunya sepanjang hari. Setelah selesai minum kopi hangat, Erino meletakkan ponsel dan kembali mengerjakan pekerjaan baru. Di siang hari, Brigitta memesan makan siang untuknya.Erino makan dua suap, keningnya berkerut lagi."Makan siang ini, pesan di mana?""Restoran Selesa." Brigitta berpikir sejenak, kemudian bertanya dengan ragu, "Apakah makanan ini tidak cocok dengan seleramu? Apakah kamu perlu memesan yang lain?""Apakah pesanan yang dulu dengan yang kali ini dari restoran yang sama?""Nggak.""Lain kali pesan restoran yang sebelumnya.""..." Brigitta melirik Presdir sekilas dan tidak berani bicara.Erino meliriknya sambil berkata dengan tenang, "Nggak bisa?"Brigitta tampak dilema, kemudian berkata, "Makanan sebelumnya, nyonya yang antar kemari."Brigitta

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 5

    Tapi tidak.Saat tiba di kantor polisi, Erino hanya melihat Hesti berdiri di antara beberapa polisi dengan ekspresi sedih di wajahnya.Erino mengerutkan kening dan berjalan mendekat.Hesti meliriknya dengan acuh tak acuh, lalu berkata kepada polisi di sampingnya, "Dia adalah suami Mirna, dia bisa menandatangani surat."Mata Hesti sangat merah, tampaknya dia baru saja menangis dan suaranya sangat serak.Erino bertanya dengan tidak sabar, "Apa yang sedang kalian lakukan?"Salah satu polisi menepuk bahu Erino, lalu berkata sambil menenangkannya, "Turut berdukacita."Pupil mata Erino sedikit meyipit, dia tidak begitu mengerti maksud ucapannya."Biar aku antar kamu pergi lihat mayatnya dulu, untuk memastikannya."Erino mengikuti polisi itu.Aku benar-benar ingin tahu seperti apa ekspresi Erino saat melihat mayatku, apakah dia akan merasa sedikit sedih.Aku mengikuti mereka sampai ke sebuah kamar. Di sana ada sebuah tempat tidur dan seseorang sedang berbaring di atasnya, seluruh tubuhnya dit

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 6

    Pandangan matanya kembali ke wajah tersenyum wanita itu di foto pernikahan dan dia bergumam, "Maafkan aku, maafkan aku ...."Dia membalikkan punggungnya, bahunya sedikit bergetar ...."Erino, setelah kita menikah, kamu nggak boleh melakukan sesuatu yang mengecewakan aku. Kamu nggak boleh melakukan hal-hal seperti berpelukan dan berciuman dengan gadis lain selain aku, mengerti?"Mungkin pengingat ini selalu mengingatinya, sehingga dia pulang tepat waktu setiap hari.Setelah menikah, pada ulang tahun pertamanya, aku merajut syal berwarna abu-abu muda untuknya.Pada ulang tahunnya yang kedua, aku pergi ke kampung halamannya dan mempelajari makanan ringan setempat, lalu membuatkan untuknya.Pada ulang tahunnya yang ketiga, aku secara pribadi memasak semangkuk mie panjang umur dan menyajikan kepadanya pada jam 12 pagi. Pada ulang tahun keempat ....Tiba-tiba tidak menemukan kenangan apa pun tentang ulang tahun keempat yang berkaitan dengannya.Benar, dia tidak merayakan ulang tahunnya yang

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 7

    Pelayan mengucek matanya, ekspresi terkejut di wajahnya semakin tak terkendali, "Tuan, apa yang kamu peluk?"Tuan sedikit mengernyitkan alis, ekspresi matanya tampak tidak senang, "Mirna begitu besar di sini, kamu bahkan nggak nampak?"Selesai bicara, dia melihat kembali ke samping dan terdiam sejenak, dia mulai berbicara pada diri sendiri, "Um, aku tahu, aku nggak menyalahkannya, hanya saja kamu berdiri di sini dengan baik, dan dia bahkan nggak nampak kamu."Selain sikap Tuan yang kadang-kadang membingungkan orang, kehidupannya tidak ada yang berubah sama sekali.Dia selalu menunjukkan sebuah tingkah yang membuat semua orang merasa bahwa Mirna masih hidup.Tuan sangat baik terhadap nyonya khayalan ini.Dia menjadi semakin akomodatif terhadap nyonya, meminta dapur memasak makanan kesukaannya dan mengganti sofa di ruang tamu dengan warna kesukaannya.Setiap tingkahnya menunjukkan kerinduan Tuan terhadap nyonya.Salsa entah dari mana mengetahui keadaan Tuan saat ini, dia menerobos masuk

Latest chapter

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 7

    Pelayan mengucek matanya, ekspresi terkejut di wajahnya semakin tak terkendali, "Tuan, apa yang kamu peluk?"Tuan sedikit mengernyitkan alis, ekspresi matanya tampak tidak senang, "Mirna begitu besar di sini, kamu bahkan nggak nampak?"Selesai bicara, dia melihat kembali ke samping dan terdiam sejenak, dia mulai berbicara pada diri sendiri, "Um, aku tahu, aku nggak menyalahkannya, hanya saja kamu berdiri di sini dengan baik, dan dia bahkan nggak nampak kamu."Selain sikap Tuan yang kadang-kadang membingungkan orang, kehidupannya tidak ada yang berubah sama sekali.Dia selalu menunjukkan sebuah tingkah yang membuat semua orang merasa bahwa Mirna masih hidup.Tuan sangat baik terhadap nyonya khayalan ini.Dia menjadi semakin akomodatif terhadap nyonya, meminta dapur memasak makanan kesukaannya dan mengganti sofa di ruang tamu dengan warna kesukaannya.Setiap tingkahnya menunjukkan kerinduan Tuan terhadap nyonya.Salsa entah dari mana mengetahui keadaan Tuan saat ini, dia menerobos masuk

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 6

    Pandangan matanya kembali ke wajah tersenyum wanita itu di foto pernikahan dan dia bergumam, "Maafkan aku, maafkan aku ...."Dia membalikkan punggungnya, bahunya sedikit bergetar ...."Erino, setelah kita menikah, kamu nggak boleh melakukan sesuatu yang mengecewakan aku. Kamu nggak boleh melakukan hal-hal seperti berpelukan dan berciuman dengan gadis lain selain aku, mengerti?"Mungkin pengingat ini selalu mengingatinya, sehingga dia pulang tepat waktu setiap hari.Setelah menikah, pada ulang tahun pertamanya, aku merajut syal berwarna abu-abu muda untuknya.Pada ulang tahunnya yang kedua, aku pergi ke kampung halamannya dan mempelajari makanan ringan setempat, lalu membuatkan untuknya.Pada ulang tahunnya yang ketiga, aku secara pribadi memasak semangkuk mie panjang umur dan menyajikan kepadanya pada jam 12 pagi. Pada ulang tahun keempat ....Tiba-tiba tidak menemukan kenangan apa pun tentang ulang tahun keempat yang berkaitan dengannya.Benar, dia tidak merayakan ulang tahunnya yang

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 5

    Tapi tidak.Saat tiba di kantor polisi, Erino hanya melihat Hesti berdiri di antara beberapa polisi dengan ekspresi sedih di wajahnya.Erino mengerutkan kening dan berjalan mendekat.Hesti meliriknya dengan acuh tak acuh, lalu berkata kepada polisi di sampingnya, "Dia adalah suami Mirna, dia bisa menandatangani surat."Mata Hesti sangat merah, tampaknya dia baru saja menangis dan suaranya sangat serak.Erino bertanya dengan tidak sabar, "Apa yang sedang kalian lakukan?"Salah satu polisi menepuk bahu Erino, lalu berkata sambil menenangkannya, "Turut berdukacita."Pupil mata Erino sedikit meyipit, dia tidak begitu mengerti maksud ucapannya."Biar aku antar kamu pergi lihat mayatnya dulu, untuk memastikannya."Erino mengikuti polisi itu.Aku benar-benar ingin tahu seperti apa ekspresi Erino saat melihat mayatku, apakah dia akan merasa sedikit sedih.Aku mengikuti mereka sampai ke sebuah kamar. Di sana ada sebuah tempat tidur dan seseorang sedang berbaring di atasnya, seluruh tubuhnya dit

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 4

    Brigitta tercengang sesaat, kemudian menjawab, "Nggak."Mata Erino menunduk dan tidak berbicara lagi.Ekspresi Brigitta tampak bingung. Kurasa dia mungkin belum pernah bertanya kepadaku. Lagipula, dulu akulah yang selalu mengganggunya sepanjang hari. Setelah selesai minum kopi hangat, Erino meletakkan ponsel dan kembali mengerjakan pekerjaan baru. Di siang hari, Brigitta memesan makan siang untuknya.Erino makan dua suap, keningnya berkerut lagi."Makan siang ini, pesan di mana?""Restoran Selesa." Brigitta berpikir sejenak, kemudian bertanya dengan ragu, "Apakah makanan ini tidak cocok dengan seleramu? Apakah kamu perlu memesan yang lain?""Apakah pesanan yang dulu dengan yang kali ini dari restoran yang sama?""Nggak.""Lain kali pesan restoran yang sebelumnya.""..." Brigitta melirik Presdir sekilas dan tidak berani bicara.Erino meliriknya sambil berkata dengan tenang, "Nggak bisa?"Brigitta tampak dilema, kemudian berkata, "Makanan sebelumnya, nyonya yang antar kemari."Brigitta

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 3

    "Menyebalkan, dia selalu mengekangku!"Salsa terus berada di samping sambil mendengarkan gumaman Erino.Wajah Salsa terlihat muram. Dia merangkul pinggang Erino yang ramping sambil membujuknya, "Erino, kalian sudah bercerai. Nggak ada yang mengekangmu lagi, sekarang kamu boleh minum sampai larut malam.""Bercerai?" Erino memejamkan mata. Dia berkata sambil tersenyum, "Oh ya, benar, kami sudah cerai. Kami sudah cerai ...."Benar, kami sudah bercerai. Erino terlihat sangat bahagia. Padahal aku sudah mencintainya bertahun-tahun, tetapi dia tidak mencintaiku sedikit pun.Dengan terhuyung-huyung, Erino mengambil minuman yang disodorkan. Erino meneguknya langsung hingga mengalir ke lehernya.Ketika tingkah pria menawan itu, Salsa tampak bingung."Sudah, cukup." Salsa menolak tawaran minum dari teman-temannya. "Cukup sampai di sini. Erino sudah mabuk. Aku antar dia pulang."Setelah itu, Salsa memapah Erino keluar dari ruangan.Erino mengikuti Salsa keluar ruangan dan naik ke lantai 60 tanpa m

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 2

    Setiap menjelang jam makan siang, aku selalu melihat ke arah jam. Selama lima tahun, aku selalu mengantarkan bekal makan siang ke kantor Erino, tetapi hari ini aku tidak datang. Sekretarisnya pasti sudah menebak terjadi sesuatu, jadi dia segera memesankan makan siang untuk Erino.30 menit kemudian, makanan yang dipesan pun datang."Pak Erino, silakan makan."Brigitta menaruh makanan dan pergi.Erino masih sibuk dengan pekerjaannya. Tidak terasa 10 menit sudah berlalu.Erino membuka makanannya. Begitu makan satu suap, dia mengernyit.Mungkin karena rasa makanan kali ini berbeda dari biasanya.Dia makan beberapa suap lagi, lalu berhenti makan.Ponsel di meja tiba-tiba berbunyi. Aku melihat sekilas, ternyata aku tahu siapa yang menelepon. Erino hanya mengangkat telepon, tetapi pandangan matanya masih ke arah dokumen."Erino, kamu sudah selesai kerja?"Erino melirik ke layar ponsel, lalu menjawab dengan tersenyum, "Ya, sebentar lagi.""Kita makan bersama malam ini, ya."Sambil membaca doku

  • Kalau Cinta, Pasti Sayang   Bab 1

    "Tik tak ... tik tak, trang!"Ini sudah pagi.Aku menatap ke arah kue berwarna biru yang sudah meleleh di atas meja. Satu-satunya lilin di atas kue itu sudah padam.Aku merayakan ulang tahun ke-25 tanpa ditemani siapa pun.Aku berjalan perlahan ke samping meja sambil menatap kue yang belum tersentuh. Aku mengambil kue itu sedikit dengan terlunjuk, lalu memakannya."Selamat ulang tahun." Aku memberi ucapan selamat pada diri sendiri.Setelah itu, aku membuang kue itu ke tong sampah tanpa ragu.Hari sudah larut, Erino pulang.Ketika melihat Erino muncul dari pintu, aku berkata, "Kamu sudah pulang, ya."Tatapan Erino sangat dingin kepadaku. Pria itu berkata sambil mengernyit, "Selain minum anggur, apa kamu nggak ada kegiatan lain yang lebih berguna?"Sambil menggoyangkan gelas, aku menjawab dengan tersenyum, "Minum anggur berguna, kok."Aku menghampiri Erino dengan langkah terhuyung-huyung. "Minum anggur sangat berguna. Ayo, kamu juga minumlah ...." Aku mendekatkan gelas ke bibir Erino. Sa

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status