Senja merayap turun di Desa Gayam, membawa serta keheningan yang menyesakkan, seolah-olah seluruh desa menahan napas. Sari duduk di beranda rumahnya yang sederhana, memeluk erat buku Sadajiwa, kitab kuno yang menyimpan rahasia leluhur. Di atas meja kayu di hadapannya tergeletak Keris Pasopati, warisan pusaka yang kini terasa begitu berat di tangannya. Cahaya senja yang memudar memantulkan kilatan samar di bilah keris itu, seakan mengingatkannya akan beban yang kini ia pikul.Bukan hanya cerita tentang Mudra dan Vanua yang memenuhi benaknya, atau kisah tentang perjuangan dan perbedaan pandangan mereka yang kini mulai mereda. Malam ini, pikirannya dipenuhi oleh gambaran dari petilasan Ni Grenjeng. Batas antara dunia nyata dan dunia gaib terasa begitu tipis. Bisikan-bisikan halus dari mata air purba, bayangan dedemit yang menari-nari di antara pepohonan tua—semuanya terasa nyata, begitu dekat, seolah-olah baru saja terjadi di hadapannya.“Mereka bukan sekadar makhluk mitos,” bisiknya, sua
Vanua berjalan kaki saat matahari belum menyentuh puncak bukit. Perjalanan menuju Kampung Tujuh adalah ziarah sunyi, napasnya beradu dengan kabut pagi yang menggantung di lembah. Ia telah meninggalkan kota belasan tahun lalu, mencari ruang di mana dinding-dinding beton tak lagi mencekik dan kesunyian bukan lagi penjara.Saat kaki menyentuh tanah Kampung Tujuh, perjalanan batin Vanua berubah arah. Kampung itu hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga, hidup dalam harmoni yang seimbang dengan alam. Di sinilah ia menemukan ketenangan pada masa belia, membangun rumah bambu sederhana berjarak tujuh meter dari kompleks makam leluhur. Rutinitasnya saat itu begitu sederhana: mengumpulkan madu, membakar dupa cendana, dan menari dengan langkah-langkah yang mengalir seperti sungai.Namun, kini ketenangan itu terusik. Pagebluk melanda, membawa pesan kematian yang mengintai di setiap sudut kehidupan. Warga Kampung Tujuh dilanda ketakutan yang merambat seperti api di ladang kering. Mereka takut kehila
Senja melukis langit Desa Gayam dengan warna keemasan, tetapi Mudra tak lagi peduli keindahannya. Macetnya perputaran dana bergulir BUM Desa mendominasi pikirannya. Salah satu penunggak terbesar adalah Rontek, lelaki bertubuh kekar dengan ilmu kebal yang membuatnya tak mudah ditagih. Sejak pertama kali meminjam uang, Rontek selalu menghindar saat tiba waktunya membayar."Aku harus menagihnya," gumam Mudra, menatap wajah Bu Raisa yang penuh kekhawatiran. "Tapi wajahnya itu, Bu. Seperti matahari saat pinjam uang, seperti kelinci saat ditagih. Terakhir, aku malah disambut parang.""Jangan bercanda, Mudra!" seru Bu Raisa, memasuki ruang kerja BUM Desa. "Rontek itu sakti. Orang-orang bilang dia bersemadi di mata air purba.""Mungkin aku harus ikut bersemadi," jawab Mudra, melirik ke arah mata air purba yang sepi. "Siapa tahu Rontek mau bayar."Malam itu, Mudra mencoba bermeditasi di rumahnya. Ia menyadari napasnya, menerima pikiran yang melompat-lompat seperti monyet di pepohonan. Wajah Ron
Pagi itu, Mudra terbangun dengan perasaan aneh, seolah semalam ia melayang di angkasa. Sebuah kalimat berputar di kepalanya: "Kamu percaya hari ini jam 6 sore di permukaan bulan?" Ponselnya bergetar, pesan dari Vanua: "Hari ini jadwalku bersua denganmu. Aku sedang menuju Desa Gayam, perjalanan dari Kampung Tujuh Yogyakarta."Mudra tersenyum, membayangkan pertemuan ini. "Kita akan bertemu secepatnya, Vanua," balasnya, mengetik pesan di layar ponsel. Dalam hatinya, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda tentang pertemuan kali ini, seolah bukan sekadar percakapan biasa.Hujan turun deras saat Mudra melaju dengan motornya menuju kafe di ujung desa. Ia ingin mentraktir Vanua, sebagai cara untuk memperdalam hubungan mereka dan berbincang tentang tarot, ilmu yang diwarisi dari neneknya. Tarot bukan sekadar alat peramal nasib bagi Mudra, tetapi jendela ke alam bawah sadar, cara untuk memahami diri sendiri dan orang lain."Hujan, kau musuhku," gumamnya, menatap hujan yang menyamarkan pandanganny
Pinggiran Hutan Barat yang keramat diselimuti kabut purba, menyelubungi pohon-pohon tua yang menjulang seperti penjaga bisu dari dunia lain. Udara dingin merayap di kulit Mudra, tetapi ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar cuaca yang menariknya ke sini."Aku merasa ada sesuatu yang menunggu kita di sini," kata Mudra, tatapannya tajam menembus kabut.Vanua mengangguk. "Bisikan sunyi membawa kita ke tempat ini. Seperti ada sesuatu yang harus kita temukan."Di antara pepohonan, berdiri sebuah gapura bambu tua yang membentuk lengkungan alami. Cahaya remang-remang menyelusup di sela-selanya, menyoroti sosok berjubah merah dan kuning yang berdiri tegak di depan altar batu. Sosok itu, tinggi dan penuh wibawa, memegang tongkat kayu berukir yang berpendar dengan cahaya keemasan. Lehernya dihiasi pentagram perak yang berkilau samar di bawah rembulan."Siapa dia?" bisik Mudra."Penyihir," jawab Vanua. "Seorang penjaga batas antara dunia nyata dan dunia gaib."Mereka melangkah mendekat, perlaha
Sari bukan sekadar perempuan desa biasa. Ia adalah pegiat literasi dan penjaga Keris Pasopati, pusaka leluhur yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Keris itu memiliki pamor Adeg, diyakini membawa perlindungan serta membuka jalan bagi keberuntungan material. Meski tampak tegar, di balik keteguhannya tersimpan kerinduan mendalam akan sosok ibu yang telah tiada. Kehangatan, nasihat, dan kasih sayang ibunya selalu menjadi sumber kekuatannya, tetapi kini ia harus mencari kekuatan itu dalam dirinya sendiri.Di tengah krisis pangan yang melanda Desa Gayam selama pagebluk, kepemimpinan Sari diuji. Persediaan makanan semakin menipis, dan warga mulai cemas. Sari mengorganisir distribusi bahan pangan dengan adil, memastikan setiap keluarga mendapat bagian yang cukup."Sari, warga mulai khawatir. Stok beras semakin sedikit," lapor seorang pemuda desa."Kita akan atur distribusinya dengan baik. Dahulukan keluarga yang paling membutuhkan," jawab Sari dengan suara tegas."Tapi bagaimana ji
Kabut tipis menyelimuti Desa Gayam, menyembunyikan sebagian rumah dan jalan setapak. Udara dingin menyusup hingga ke sumsum, membawa serta keheningan yang aneh. Mudra duduk di beranda rumahnya, matanya kosong menatap kabut yang menggantung di cakrawala. Pikirannya melayang, mencoba merangkai kepingan peristiwa yang telah terjadi.Di dalam rumah, Vanua masih tertidur lelap di atas kasur dengan napas yang teratur. Aroma dupa cendana bercampur dengan dingin pagi menciptakan suasana yang mistis. Mudra menghela napas, merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Ia tahu ada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang masih mengendap di dasar pikirannya.Tak ingin larut dalam kebimbangan, Mudra memutuskan untuk mencari ketenangan di petilasan desa. Tempat itu selalu menjadi peraduan batinnya ketika kebingungan melanda. Langkahnya pelan menyusuri jalan setapak, hingga akhirnya tiba di bawah pohon beringin tua yang berdiri kokoh di petilasan.Di sana, ia melihat Sari duduk bersila dengan mata terpejam
Vanua berdiri di depan rumah bambunya, menatap Kampung Tujuh yang dahulu tenang, kini dipenuhi kecemasan. Panen yang gagal, bencana alam yang merusak ladang, dan wabah penyakit yang merenggut nyawa, semuanya seperti gejala dari ketidakseimbangan yang lebih besar. Tapi ada satu hal yang lebih mencemaskan: kehadiran sosok misterius yang disebut Raja Batu.Mereka bergegas menuju balai desa, tempat para tetua berkumpul. Bu Ros, kepala desa Kampung Tujuh, berdiri di tengah ruangan dengan wajah penuh keprihatinan."Vanua, Mudra, Sari, kami sangat membutuhkan bantuan kalian," katanya dengan suara berat. "Tanah ini semakin tidak subur, hujan turun tanpa henti, dan orang-orang sakit tanpa sebab yang jelas. Kami khawatir sesuatu telah mengganggu keseimbangan desa."Sari melangkah maju, tatapannya penuh keyakinan. "Kita harus melakukan ritual penyatuan," katanya mantap. "Kekuatan spiritual dan duniawi harus bersatu. Keseimbangan telah terganggu, dan kita harus memanggil kembali harmoni yang hilan
Vanua berdiri di depan rumah bambunya, menatap Kampung Tujuh yang dahulu tenang, kini dipenuhi kecemasan. Panen yang gagal, bencana alam yang merusak ladang, dan wabah penyakit yang merenggut nyawa, semuanya seperti gejala dari ketidakseimbangan yang lebih besar. Tapi ada satu hal yang lebih mencemaskan: kehadiran sosok misterius yang disebut Raja Batu.Mereka bergegas menuju balai desa, tempat para tetua berkumpul. Bu Ros, kepala desa Kampung Tujuh, berdiri di tengah ruangan dengan wajah penuh keprihatinan."Vanua, Mudra, Sari, kami sangat membutuhkan bantuan kalian," katanya dengan suara berat. "Tanah ini semakin tidak subur, hujan turun tanpa henti, dan orang-orang sakit tanpa sebab yang jelas. Kami khawatir sesuatu telah mengganggu keseimbangan desa."Sari melangkah maju, tatapannya penuh keyakinan. "Kita harus melakukan ritual penyatuan," katanya mantap. "Kekuatan spiritual dan duniawi harus bersatu. Keseimbangan telah terganggu, dan kita harus memanggil kembali harmoni yang hilan
Kabut tipis menyelimuti Desa Gayam, menyembunyikan sebagian rumah dan jalan setapak. Udara dingin menyusup hingga ke sumsum, membawa serta keheningan yang aneh. Mudra duduk di beranda rumahnya, matanya kosong menatap kabut yang menggantung di cakrawala. Pikirannya melayang, mencoba merangkai kepingan peristiwa yang telah terjadi.Di dalam rumah, Vanua masih tertidur lelap di atas kasur dengan napas yang teratur. Aroma dupa cendana bercampur dengan dingin pagi menciptakan suasana yang mistis. Mudra menghela napas, merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Ia tahu ada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang masih mengendap di dasar pikirannya.Tak ingin larut dalam kebimbangan, Mudra memutuskan untuk mencari ketenangan di petilasan desa. Tempat itu selalu menjadi peraduan batinnya ketika kebingungan melanda. Langkahnya pelan menyusuri jalan setapak, hingga akhirnya tiba di bawah pohon beringin tua yang berdiri kokoh di petilasan.Di sana, ia melihat Sari duduk bersila dengan mata terpejam
Sari bukan sekadar perempuan desa biasa. Ia adalah pegiat literasi dan penjaga Keris Pasopati, pusaka leluhur yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Keris itu memiliki pamor Adeg, diyakini membawa perlindungan serta membuka jalan bagi keberuntungan material. Meski tampak tegar, di balik keteguhannya tersimpan kerinduan mendalam akan sosok ibu yang telah tiada. Kehangatan, nasihat, dan kasih sayang ibunya selalu menjadi sumber kekuatannya, tetapi kini ia harus mencari kekuatan itu dalam dirinya sendiri.Di tengah krisis pangan yang melanda Desa Gayam selama pagebluk, kepemimpinan Sari diuji. Persediaan makanan semakin menipis, dan warga mulai cemas. Sari mengorganisir distribusi bahan pangan dengan adil, memastikan setiap keluarga mendapat bagian yang cukup."Sari, warga mulai khawatir. Stok beras semakin sedikit," lapor seorang pemuda desa."Kita akan atur distribusinya dengan baik. Dahulukan keluarga yang paling membutuhkan," jawab Sari dengan suara tegas."Tapi bagaimana ji
Pinggiran Hutan Barat yang keramat diselimuti kabut purba, menyelubungi pohon-pohon tua yang menjulang seperti penjaga bisu dari dunia lain. Udara dingin merayap di kulit Mudra, tetapi ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar cuaca yang menariknya ke sini."Aku merasa ada sesuatu yang menunggu kita di sini," kata Mudra, tatapannya tajam menembus kabut.Vanua mengangguk. "Bisikan sunyi membawa kita ke tempat ini. Seperti ada sesuatu yang harus kita temukan."Di antara pepohonan, berdiri sebuah gapura bambu tua yang membentuk lengkungan alami. Cahaya remang-remang menyelusup di sela-selanya, menyoroti sosok berjubah merah dan kuning yang berdiri tegak di depan altar batu. Sosok itu, tinggi dan penuh wibawa, memegang tongkat kayu berukir yang berpendar dengan cahaya keemasan. Lehernya dihiasi pentagram perak yang berkilau samar di bawah rembulan."Siapa dia?" bisik Mudra."Penyihir," jawab Vanua. "Seorang penjaga batas antara dunia nyata dan dunia gaib."Mereka melangkah mendekat, perlaha
Pagi itu, Mudra terbangun dengan perasaan aneh, seolah semalam ia melayang di angkasa. Sebuah kalimat berputar di kepalanya: "Kamu percaya hari ini jam 6 sore di permukaan bulan?" Ponselnya bergetar, pesan dari Vanua: "Hari ini jadwalku bersua denganmu. Aku sedang menuju Desa Gayam, perjalanan dari Kampung Tujuh Yogyakarta."Mudra tersenyum, membayangkan pertemuan ini. "Kita akan bertemu secepatnya, Vanua," balasnya, mengetik pesan di layar ponsel. Dalam hatinya, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda tentang pertemuan kali ini, seolah bukan sekadar percakapan biasa.Hujan turun deras saat Mudra melaju dengan motornya menuju kafe di ujung desa. Ia ingin mentraktir Vanua, sebagai cara untuk memperdalam hubungan mereka dan berbincang tentang tarot, ilmu yang diwarisi dari neneknya. Tarot bukan sekadar alat peramal nasib bagi Mudra, tetapi jendela ke alam bawah sadar, cara untuk memahami diri sendiri dan orang lain."Hujan, kau musuhku," gumamnya, menatap hujan yang menyamarkan pandanganny
Senja melukis langit Desa Gayam dengan warna keemasan, tetapi Mudra tak lagi peduli keindahannya. Macetnya perputaran dana bergulir BUM Desa mendominasi pikirannya. Salah satu penunggak terbesar adalah Rontek, lelaki bertubuh kekar dengan ilmu kebal yang membuatnya tak mudah ditagih. Sejak pertama kali meminjam uang, Rontek selalu menghindar saat tiba waktunya membayar."Aku harus menagihnya," gumam Mudra, menatap wajah Bu Raisa yang penuh kekhawatiran. "Tapi wajahnya itu, Bu. Seperti matahari saat pinjam uang, seperti kelinci saat ditagih. Terakhir, aku malah disambut parang.""Jangan bercanda, Mudra!" seru Bu Raisa, memasuki ruang kerja BUM Desa. "Rontek itu sakti. Orang-orang bilang dia bersemadi di mata air purba.""Mungkin aku harus ikut bersemadi," jawab Mudra, melirik ke arah mata air purba yang sepi. "Siapa tahu Rontek mau bayar."Malam itu, Mudra mencoba bermeditasi di rumahnya. Ia menyadari napasnya, menerima pikiran yang melompat-lompat seperti monyet di pepohonan. Wajah Ron
Vanua berjalan kaki saat matahari belum menyentuh puncak bukit. Perjalanan menuju Kampung Tujuh adalah ziarah sunyi, napasnya beradu dengan kabut pagi yang menggantung di lembah. Ia telah meninggalkan kota belasan tahun lalu, mencari ruang di mana dinding-dinding beton tak lagi mencekik dan kesunyian bukan lagi penjara.Saat kaki menyentuh tanah Kampung Tujuh, perjalanan batin Vanua berubah arah. Kampung itu hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga, hidup dalam harmoni yang seimbang dengan alam. Di sinilah ia menemukan ketenangan pada masa belia, membangun rumah bambu sederhana berjarak tujuh meter dari kompleks makam leluhur. Rutinitasnya saat itu begitu sederhana: mengumpulkan madu, membakar dupa cendana, dan menari dengan langkah-langkah yang mengalir seperti sungai.Namun, kini ketenangan itu terusik. Pagebluk melanda, membawa pesan kematian yang mengintai di setiap sudut kehidupan. Warga Kampung Tujuh dilanda ketakutan yang merambat seperti api di ladang kering. Mereka takut kehila
Senja merayap turun di Desa Gayam, membawa serta keheningan yang menyesakkan, seolah-olah seluruh desa menahan napas. Sari duduk di beranda rumahnya yang sederhana, memeluk erat buku Sadajiwa, kitab kuno yang menyimpan rahasia leluhur. Di atas meja kayu di hadapannya tergeletak Keris Pasopati, warisan pusaka yang kini terasa begitu berat di tangannya. Cahaya senja yang memudar memantulkan kilatan samar di bilah keris itu, seakan mengingatkannya akan beban yang kini ia pikul.Bukan hanya cerita tentang Mudra dan Vanua yang memenuhi benaknya, atau kisah tentang perjuangan dan perbedaan pandangan mereka yang kini mulai mereda. Malam ini, pikirannya dipenuhi oleh gambaran dari petilasan Ni Grenjeng. Batas antara dunia nyata dan dunia gaib terasa begitu tipis. Bisikan-bisikan halus dari mata air purba, bayangan dedemit yang menari-nari di antara pepohonan tua—semuanya terasa nyata, begitu dekat, seolah-olah baru saja terjadi di hadapannya.“Mereka bukan sekadar makhluk mitos,” bisiknya, sua
Setelah meninggalkan Desa Gayam, Vanua berjalan tanpa tujuan yang jelas. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain, mencari ruang di mana ia bisa benar-benar merasa bebas dari tatapan dan penilaian orang lain. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin ia merasa asing, semakin ia menyadari bahwa kebebasan yang ia dambakan tidak datang dari keterasingan.Di setiap desa yang ia singgahi, ia melihat berbagai bentuk komunitas: ada yang hidup dalam kebersamaan yang erat, ada pula yang penuh dengan ketidakpercayaan dan konflik. Ia menyaksikan bagaimana masyarakat bertahan, membangun, dan melindungi satu sama lain dalam kebersamaan. Hal ini membuatnya mulai merenungkan kembali pemikirannya tentang kerumunan, tentang "neraka adalah orang lain," dan tentang rasa takutnya terhadap hubungan sosial.Dalam kesendiriannya, ia kembali mengingat Desa Gayam. Ia teringat bagaimana warga desa menyambutnya, bagaimana mereka bekerja sama untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur, bagaimana mereka