Home / Romansa / KAKEK TUA itu SUAMIKU / Dikira cabe-cabean

Share

Dikira cabe-cabean

Author: sarinah0488
last update Huling Na-update: 2022-07-09 14:44:17

KAKEK TUA itu SUAMIKU

Bab 3

Pintu dibuka oleh Ibu, kemudian masuklah seorang perempuan muda dengan rambut pirang panjang, hidung mancung dan mata yang lentik, mirip artis yang aku lihat di televisi. 

Siapa dia ya?

"Nisa? Kenapa ada disini? Kapan pulang?" Kali ini malah suamiku yang bersuara.

"Ayah terkejut? Sama! Nisa juga terkejut dengan kabar pernikahan Ayah!" Oh, jadi ini anaknya suamiku. Jadi aku ibunya perempuan cantik ini donk. Tapi malah lebih tua anaku daripada ibunya. 

"Duduk dulu, Nak, kita ngobrol dulu. Pulang dari luar negeri kok nggak kabar-kabar?" 

Perempuan itu tetap bergeming tak mau menuruti perintah ayahnya.

"Mana istri baru Ayah? Dia?" Telunjuknya mengarah pada Ibu. Ibu pun kaget, dikira dia istri suamiku padahal adalah ibu mertuanya.

"Bukan Nak, bukan dia." Suamiku kemudian berdiri, dan menarik tanganku sehingga aku mengikutinya berdiri. "Dinda, kenalin ini anakku yang paling bontot, namanya Nisa." Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan tapi sama sekali tak ada respon darinya.

"Hah? Ayah nggak salah? Jadi perempuan cabe-cabean ini yang jadi Ibu tiriku?" Nisa menyebutku dengan cabe-cabean! Enak saja! Kalau saja dia bukan anak dari suamiku sudah aku tarik rambutnya. "Heh Dinda! Kamu pasti cuma mau morotin harta ayahku aja kan? Kalau nggak ngapain kamu mau nikah sama ayah?" 

"Namaku Seva bukan Dinda!" sanggahku. Gara-gara aki-aki lebay ini namaku jadi berubah!

"Bukankah tadi ayah memanggil Dinda? Kupingku masih waras dan daya ingatku tinggi nggak mungkin aku salah dengar!" 

"Namanya Seva, Nis, Dinda itu panggilan sayang Ayah buat Seva" jawab suamiku. Suamiku kemudian menjelaskan asal muasal panggilan itu.

"Astaga Ayah! Apa nggak malu? Ayah itu sudah ENAM PULUH TAHUN nggak pantas rasanya bucin kayak anak muda! Dan kamu! Apa jangan-jangan kamu sudah pelet ayah aku ya?" Lagi-lagi Nisa menuduhku sembarangan.

"Mbak, maaf jangan nuduh sembarangan ya!" Aku berusaha bersabar menghadapi Nisa.

"Mbak? Hellow, aku bukan adikmu! Kalau kamu nikah dengan ayahku berarti aku ini anak tirimu! Tapi sayang sampai kapanpun aku tak sudi punya ibu tiri macam kamu!" ucap Nisa sambil bertolak pinggang.

"Nak Nisa, duduk dulu yuks, bicarakan ini baik-baik," ucap Bapak menengahi.

"Nggak! Nggak sudi aku duduk disini! Nisa kecewa sama Ayah! Nisa benci Ayah!" Teriak Nisa sambil menangis.

"Dengerin Ayah dulu Nis," pinta suamiku.

"Nggak! Nisa nggak mau lagi ketemu sama Ayah!" Nisa berlari keluar, suamiku berusaha mengejarnya tapi usianya yang sudah tak muda lagi membuatnya tak mampu berlari. Nisa kemudian sudah masuk ke mobil mewahnya kemudian pergi dengan kecepatan tinggi. Kami hanya mampu memandang mobil yang dikendarai Nisa menghilang di ujung jalan.

***

Malam menjelang, sampai tengah malam aku masih tak bisa tidur memikirkan Nisa. Aku tau dia pasti terluka, dan itu disebabkan karena aku. 

"Kenapa belum tidur?" tanya suamiku.

"Nggak bisa tidur, gerah," jawabku asal. Memang cuaca malam ini terasa gerah bahkan dia terus mengipasi dirinya dengan kipas sate milik bapak. Nggak usah tanya kipas angin, kita nggak punya.

"Bisakah Dinda ambilkan minum? Rasanya haus." Yah, memang aku pun merasakan hal yang sama, mungkin karena terus berkeringat akibat gerah.

Aku pun beranjak dari ranjang ke luar kamar menuju dapur.

"Loh, Seno? Kenapa belum tidur?" Seno terlihat sedang duduk sendirian di meja makan.

"Haus Mbak, tadi ambil minum," jawabnya.

"Udah kan minumnya? Sekarang tidur lagi gih, besok sekolah kan?" 

"Mbak, maaf ya," ucap Seno lagi. 

"Kenapa minta maaf, memangnya Seno salah apa?" 

"Karena Seno, Mbak jadi nikah sama Pak Bambang," kata Seno dengan nada bergetar. Aku yang tadinya sedang menuang air ke cangkir kemudian beralih mengambil tempat duduk di samping Seno.

"Nggak Kok, nggak gitu juga alasannya. Seno nggak usah punya pikiran macam-macam, yang penting Seno sembuh terus lanjutin sekolahnya. Katanya Seno mau mondok? Jadi kan?" 

Seno menganggukkan kepalanya. "Seno tidur dulu ya, Mbak," pamit Seno.

***

Pagi menjelang, aku telah bersiap dengan tas kuliahku. Aku sangat berharap pihak kampus tak ada yang mendengar kabar pernikahanku, aku takut dikeluarkan dari kampus. Sebenarnya jika aku bukan masuk lewat jalur bidik misi, menikah bukan jadi penghalang buatku untuk terus kuliah, sayang aja jika sudah tiga tahun kuliah harus terhenti.

"Dinda, nanti sopir akan mengantar Dinda dan Seno ya." Suamiku juga telah bersiap katanya mau ke kantornya ada urusan. Aku sih bodo amat!

"Nggak usah, aku nggak mau nanti malah temen-temen pada curiga kalau aku naik mobil. Aku naik angkot saja seperti biasa." Kuberikan alasan yang masuk akal agar aku bisa berangkat naik angkot. 

"Oh, ya sudah, ini uang saku buat Dinda buat seminggu. Kanda ada urusan ke luar kota. Nggak apa-apa kan ditinggal seminggu?" Suamiku terlihat menyodorkan uang kepadaku. Aku cukup tercengang dengan uang yang dia berikan.

"I—ini berapa jumlahnya?" tanyaku gelagapan melihat uang segepok di tangan.

"Sepuluh juta, apa masih kurang? Ibumu tadi juga sudah kuberi, itu khusus buat Dinda." 

"Seminggu sepuluh juta? Astaga! Uang saku sepuluh juta? Biasanya sepuluh ribu per hari juga sudah beruntung. Nggak, jangan banyak-banyak, sisa kemarin aja masih ada." Aku justru takut dengan uang yang bagiku itu terlalu banyak, kusodorkan kembali uang itu padanya. 

"Dinda itu aneh, dikasih uang malah menolaknya. Udah simpen aja uangnya, belilah baju atau apapun yang Dinda mau. Kalau kurang nanti Kanda tambahin, Kanda pergi dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawabku. Kusimpan uang itu dalam laci lemariku. Aku cukup membawa uang dua puluh ribu di kantong.

Aku ke luar kamar hendak berpamitan pada ibu dan bapak. Terlihat ada ibu, bapak dan Seno yang duduk di meja makan. Mereka terlihat diam tanpa suara, apa mereka lagi marahan ya? Kok pada saling diam?

"Bu, Pak, kok pada diam? Apa lagi pada marahan?" Kuberanikan diri untuk bertanya.

"Duduk sini, Va," perintah Bapak. 

Kugeret kursi di sebelah Ibu kemudian duduk menuruti perintah Bapak. Bapak kemudian terlihat merogoh sakunya. 

"Lihat ini!" Bapak mengeluarkan uang dari sakunya, Ibu juga, diikuti oleh Seno. Mereka meletakkan uang itu di meja. 

"Kenapa, Pak?" tanyaku.

"Bapak dikasih uang lima juta sama suamimu, katanya buat satu minggu." Bapak menjelaskan asal muasal uang itu.

"Ibu juga sama Pak."

"Seno juga dikasih sejuta, Bapak aja yang pegang ya," Seno justru menyerahkan uang itu pada Bapak.

"Kita bahas nanti ya, sudah siang nanti malah Seva terlambat. Seno, Ayo!" 

***

Sesampainya di kampus aku sudah ditunggu oleh Riska.

"Va, gimana?" Riska langsung bertanya saat aku memasuki gerbang kampus. Sepertinya dia sudah menungguku dari tadi.

"Gimana apanya?" tanyaku balik. Heran dengan pertanyaan Riska. 

"Itunya" jawab Riska.

"Ish, kalau ngomong yang jelas donk. Itunya apanya?" 

"Idih, masa nggak paham?"

"Jelasin dulu baru aku paham." Kuletakkan tas gendong yang cukup berat di meja nomor tiga dari depan tempatku duduk, begitupun dengan Riska, dia duduk di sampingku.

"Kamu kan udah nikah, gimana rasanya malam pertama? Sakit nggak?" Reflek kupukul kepala Riska dengan buku tulis yang aku keluarkan dari dalam tas. 

"Aduh! Sakit tau!" Riska memegangi kepalanya yang aku pukul.

"Ssssttttt, jangan keras-keras nanti ada yang dengar bisa mamp*s aku!" Aku celingukan melihat keadaan takut ada yang mendengar ucapan Riska. Untung saja mereka sedang asyik ngobrol sendiri jadi nggak dengar omongan Riska.

"Jangan diem aja, gimana rasanya?" Riska terus saja bertanya.

"Rasanya itu—"

"Selamat pagi semua," ucap Pak Edi, dosen mata kuliahku pagi ini yang sudah masuk ke kelas. 

Kulirik Riska yang terlihat kecewa tidak jadi mendengar ceritaku. Aku hanya tersenyum melihatnya.

***

"Oke, kelas saya akhiri. Ada pertanyaan?" tanya Pak Edi. Ruangan kelas hening, pertanda semua mahasiswa sudah pintar. Eh! "Kalau tidak ada pertanyaan, kelas saya akhiri. Selamat siang."

Akhirnya kelas kembali riuh dengan suara mahasiswa yang berhamburan keluar.

Aku dan Riska, jalan beriringan menuju ke parkiran. Riska ke kampus dengan membawa motor beda denganku yang naik angkot. Kali ini Riska akan mengantarku, sebenarnya dia itu penasaran dengan pertanyaan tadi pagi yang sampai saat ini belum aku jawab. 

"Va … " Seseorang memanggilku dari belakang. Aku berbalik dan melihat siapa orangnya. Ternyata itu Andi sang ketua BEM dan mahasiswa yang banyak sekali idolanya, terutama kaum hawa. Ya iya lah, masa kaum adam.

"Ya, ada apa?" jawabku malu. 

"Ini buat kamu," ucapnya seraya memberikan sebungkus coklat Silver Queen kepadaku.

"Buatku? Dalam rangka apa?" Aku yang baru pertama kali diberi coklat heran dengan maksud pemberiannya.

"Nggak apa-apa, tadi aku beli tapi kebanyakan takut sakit gigi juga. Jadi ini buat kamu aja." Andi langsung memberikan coklatnya di tanganku.

"Aku pulang ya," pamitnya 

"I—iya, makasih, Ndi" jawabku. Aku melihat coklat ditanganku dan memasukannya ke dalam tas kuliahku.

"Andi kayakny suka deh sama kamu." Riska mengucapkannya sambil menyikut lenganku. 

"Ngaco kamu! Mana mungkin dia suka sama aku, cewek yang lain juga banyak!" 

"Inget, Va, kamu sudah punya suami" ucap Riska lirih.

"Ayo jalan!" Tak ku gubris ucapan Riska. 

Lima belas menit perjalanan akhirnya kami sampai di rumah. Memasuki halaman ada mobil ambulance yang terparkir dan motor yang kuhitung ada lima buah juga berada di halaman.  Pikiranku langsung tertuju ke Bapak. 

Ya Tuhan, ada apa ini?

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Dilarang hamil

    KAKEK TUA itu SUAMIKUBab 4 Lima belas menit perjalanan akhirnya kami sampai di rumah. Memasuki halaman ada mobil ambulance yang terparkir dan motor yang kuhitung ada lima buah juga berada di halaman. Pikiranku langsung tertuju ke Bapak. Ya Tuhan, ada apa ini?"Pak … Bapak!" Aku memanggil Bapak sambil berlari menuju rumah. Ya Tuhan semoga Bapak tidak apa-apa. Aku sangat khawatir karena Bapak punya riwayat penyakit jantung."Kenapa, Va? Kenapa teriak-teriak?" jawab Bapak.Ah, lega rasanya. Ternyata bapak sedang duduk di ruang tamu. Ibu juga duduk disampingnya. Tunggu, mana Seno?"Seno mana, Pak?" Masih saja aku takut terjadi sesuatu dengan anggota keluargaku."Ada itu di kamar. Sini loh, ada Bu Bidan sama perangkat desa mau ketemu sama kamu." Bapak menjelaskan siapa saja yang ada di ruang tamu. Karena ruang tamu yang sempit jadi yang duduk hanya Bu Bidan dan Pak Lurah saja yang lainnya berdiri. "Kami tunggu di luar saja ya Pak, biar lebih enak ngobrolnya." Salah satu dari laki laki

    Huling Na-update : 2022-07-09
  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Ancaman wanita asing

    KAKEK TUA itu SUAMIKUBab 5"Mar, kamu kan masih punya utang lima ratus ribu jadi motor ini saya bawa dulu sebagai jaminan sampai kamu bisa lunasin utang kamu!"Apa?! Dih, Bude emang keterlaluan!"Rik … Riko, sini kamu!" Riko yang sedang berjalan kemudian berbelok setelah mendengar panggilan ibunya."Ada apa, Bu? Riko mau main, nih," jawab Riko. Riko tampak kesal acaranya terganggu."Mau motor baru ini nggak? Ini bawa motornya pulang!" Bude Ratmi menyerahkan kunci motor yang dipegangnya."Beneran? Ini motor yang Riko pengin, siapa yang beli Bu? Ayo deh Riko boncengin Ibu, tapi nanti Riko langsung bawa main ya motornya." Riko begitu bersemangat dan langsung menaikinya."Tunggu!" Aku yang sedari tadi hanya memperhatikan lama-lama geram juga melihat tingkah Bude. "Assalamualaikum," ucap suamiku yang baru datang. Saking konsentrasinya melihat tingkah laku Bude dan Riko sampai tidak sadar ada yang datang."Waalaikumsalam," jawab kami serempak."Udah nyampe motornya? Gimana? Dinda suka ng

    Huling Na-update : 2022-07-13
  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Mereka mengeroyokku

    KAKEK TUA itu SUAMIKUBab 6Bagaimana dia tahu kalau aku sudah menikah? Daripada pihak kampus tahu lebih baik aku menurutinya. Pintu belakang mobil itu terbuka lalu aku masuk dan duduk disebelahnya.Siapa kira-kira wanita ini ya?Bau parfum yang sangat wangi tercium begitu aku duduk di samping wanita itu. Beda sekali denganku yang bau matahari, apalagi kalau melihat dandanan dan model bajunya. Aku dan wanita itu layaknya bumi dan langit. Aku yang sangat lusuh dan dia yang cantik dan modis bak artis. "Jalan, Pak!" Perintahnya pada sopir. Mobil mewah yang aku tumpangi pun perlahan melaju. Tak ada suara berisik mesin seperti angkot yang biasa aku tumpangi, tak ada bau solar tercium yang ada wangi pengharum mobil dan hawa dingin yang keluar dari AC yang terpasang. Jika mereka yang diluar merasa kegerahan maka aku tetap sejuk walaupun di dalam mobil. Seumur hidup baru pernah aku merasakan naik mobil mewah seperti ini. "Kenapa? Baru pernah naik mobil mewah seperti ini?" Wanita itu seperti

    Huling Na-update : 2022-07-13
  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bibir jontor

    KAKEK TUA itu SUAMIKUBab 7"Ikat dia dan lakban mulutnya! Taruh di gudang!"Astaga! Mereka begitu jahat! Ya Tuhan, selamatkan aku.Ditariknya aku untuk berdiri oleh dua orang laki-laki, kemudian memaksaku untuk jalan. "Lepasin aku! Lepas! Toloooong!" Aku berteriak minta tolong berharap ada bantuan yang datang. Kaki kananku tiba-tiba tersandung oleh kaki kiriku akibat jalanku yang dipaksa. Aku pun kemudian terjatuh. Mereka bukannya membantuku untuk berdiri tapi justru mereka melarakku di lantai. Tega sekali mereka. Ibu … bapak tolong Seva."Berhenti kalian!" Terdengar teriakan dari belakangku."A—ayah!" Kedua laki-laki yang menyeretku seketika berhenti dan melepaskan tanganku. Aku yang dengan posisi badan tertelungkup kemudian menyatukan tanganku dibawah dahiku. Ya, aku menangis. Aku yang sedari tadi menahannya kini tak sanggup lagi menahannya.Sentuhan di bahuku dan usapan tangan di kepalaku belum mampu meredakannya. Biarlah, aku melepas beban di dada. "Kalian keterlaluan! Siapa

    Huling Na-update : 2022-07-13
  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Mamih

    KAKEK TUA itu SUAMIKUBab 8Memasuki halaman terlihat mobil mewah yang kemarin aku tumpangi bersama Nyonya Lidiya. Mau ngapain lagi dia kesini?Baiknya aku masuk atau aku menghindar dulu ya? Tunggu, di dalam masih ada ibu, bapak juga Seno. Bagaimana kalau mereka tau kejadian kemarin? Kalau begitu aku masuk saja. "Assalamualaikum," ucapku saat akan memasuki rumah."Waalaikumsalam," jawab mereka serempak. Ternyata bukan hanya Nyonya Lidiya tapi ada juga Nyonya Tania. "Sini, Nak, mereka anak-anak suamimu." Ibu memperkenalkan mereka. Ibu menyangka aku belum tahu siapa mereka. "O, ini ya istri baru Ayah? Wah, cantik ya, Ayah pinter banget cari ibu baru buat kita. Bener nggak Mbak Lidiyia?" Nyonya Tania mengatakan seolah-olah kita baru saja bertemu."Be—betul. Cantik banget, pantes Ayah langsung klepek klepek," jawab Nyonya Lidiya. Aku yang masih bingung dengan sikap mereka hanya bisa terdiam, sikap mereka sungguh sangat berbeda dengan yang kemarin. Apa mereka sudah sadar dan menerimaku

    Huling Na-update : 2022-07-13
  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Galih dan Ratna

    KAKEK TUA itu SUAMIKUBab 9"Terima kasih, sudah mau memaafkan anak-anak ku." Suara lirih itu terdengar menempel di telingaku. Nafasnya yang hangat kini beralih di leher. Aku merinding ketika sebuah kecupan mendarat di tengkuk. Rasanya bulu-bulu halus di seluruh tubuhku sudah berdiri. Dia membalikkan badanku, kini kami saling bertatapan. Tangannya yang sedianya melingkar di perutku kini beralih memegang kedua pipiku. Dia mendekatkan wajahnya padaku, semakin dekat bahkan hidung kami sudah saling menempel. Apa yang harus aku lakukan?Oh Tuhan bibirku ini masih perawan jangan sampai ternoda oleh suamiku. Aku belum rela … Berikan pertolongan untuk hambaMU yang selalu bersikap manis ini atau sebentar saja, ubah wajah suamiku seperti Bang Jimin atau Bang Lee Min Hoo ya boleh lah, atau kalau lokalan ya udah Bang Billar ya nggak apa-apa.Tok tok tok"Permisi Bos, mobil sudah siap apa jadi pulang sekarang?" Alhamdulillah ternyata Tuhan mengirimkan penyelamat itu Bang Agus, produk lokal yang

    Huling Na-update : 2022-07-14
  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Identitas anak tiriku

    KAKEK TUA itu SUAMIKUBab 10Sepertinya aku melihat seseorang yang aku kenal. Bener nggak ya?Benar! Mataku nggak salah lihat! Dia memakai setelan jas yang juga berwarna putih. Kenapa Andi juga ada disini?Duh, kok jadi bisa kebetulan gini?"Ini acara apa?" tanyaku pada suamiku."Acara ulang tahun cucuku. Dinda nanti akan Kanda kenalin ke semua anak dan cucuku. Ayo, kita kesana.""Si—siapa nama cucunya?""Andi, mungkin dia seumuran sama Dinda. Nanti Kanda kenalin sama Dinda."Duar!Jawaban itu laksana petir yang menyambarku. Baru saja Andi tadi menyatakan suka padaku tapi malam ini, aku harus mendapati kenyataan kalau Andi adalah cucuku. Takdir seperti apa ini?"Permisi Bos, Nyonya ingin bertemu," ucap Pak Agus."Baiklah, Ayo!"Apa sekarang waktunya, apa sekarang jati diriku terungkap di depan Andi? Aku belum siap. Jujur, ada rasa tersendiri saat aku didekat Andi. Apalagi waktu kejadian tadi pagi."Dinda … kok bengong? Ayo!" "I—iya" jawabku gugup. Lalu digandengnya tanganku seperti t

    Huling Na-update : 2022-07-14
  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 11 Aku yang berkuasa!

    KAKEK TUA itu SUAMIKUBab 11Aku yang mendengar ancaman Mbak Susi langsung terdiam. Lulus kuliah adalah impianku, bahkan cita-cita ku ingin menjadi arsitek. Kalau aku dikeluarkan dari kampus pupus sudah harapanku."Dinda, tolong ambilkan ponsel di kamar!" perintah suamiku. Dengan gontai aku melangkah ke kamar melaksanakan perintahnya. Tak butuh lama, aku sudah meletakkan ponselku dan juga ponsel Seno di atas meja."Ponselku, Dinda …" Aku kira Riko meminta ponselku dan Seno, apa mungkin saat aku tadi ke kamar mereka juga meminta ponsel suamiku? Betapa rakusnya mereka!Segera kuambil ponsel di atas nakas yang sedang diisi daya dan menyerahkannya pada suamiku. Langsung saja suamiku mengutak-atik benda pipih di tangannya. Mungkin sedang me reset ponsel sebelum diserahkan pada Bude Ratmi.'Ya, selamat siang' ucap Suamiku yang terlihat sedang menghubungi seseorang entah siapa.'Langsung saja, aku ingin karyawan yang bernama Suparmin bagian administrasi untuk dipecat hari ini juga! Tanpa pesa

    Huling Na-update : 2022-09-07

Pinakabagong kabanata

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 162 Ending

    "Cie yang sudah jadi CEO," ledek Riska saat aku sampai di kantor. "Kamu tahu?" Riska mengangguk." Tristan yang cerita semalam." "Kenapa bukan Tristan saja yang menggantikanku? Kenapa Andi?" "Andi itu di Australia pimpinan tertinggi perusahaan Va, sekarang beralih pada Mas Ivan. Andi dipindah tugaskan balik kesini jadi presiden direktur menggantikan kamu" jelas Riska. "Nggak tau aku maunya suamiku, bisa-bisanya mengundurkan diri nggak bilang-bilang." "Suamimu ingin yang terbaik buatmu Va, yakin itu," ucap Riska. *** Malam ini udara terasa dingin, bahkan pendingin ruangan tidak aku nyalakan. "Masih banyak kerjaannya?" tanya suamiku yang melihatku masih sibuk di depan laptop. "Nggak, bentar lagi selesai. Lagian kenapa Kanda harus mundur sih? Kalau nggak kenapa bukan Tristan aja yang jadi CEO?" Aku kemudian mematikan laptopku, pertanda aku sudah selesai mengerjakan pekerjaanku. Di dada bidang suamiku aku sandarkan kepalaku. "Kanda hanya ingin istirahat Dinda, Kanda mau m

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 161 Apa rencanamu sebenarnya?

    "Iya, ini aku. Kenapa? Kamu kaget?" Sejujurnya iya, aku sangat kaget. Dari gelagatnya, sepertinya Mbak Susi punya niat tidak baik sama aku. "Mbak Susi mau apa?" "Mau main-main sebentar sama kamu," sahut Mbak Susi. "Apa maksud Mbak Susi?" "Aku cuma mau tau, kalau wajahmu itu sudah nggak cantik, apa suamimu masih mau sama kamu?" Aku semakin bingung dengan ucapan Mbak Susi. Mbak Susi terlihat sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya. Pintu toilet yang tadinya tertutup kini terbuka semuanya. Namun yang keluar bukan wanita, tapi justru Pakde Parmin juga dengan tiga orang polisi lain, hanya satu yang wanita dia adalah Riska. Mbak Susi yang masih sibuk dengan tasnya tak sadar jika Pakde Parmin dan ketiga polisi datang mendekat, ketiga polisi bahkan langsung menyergap Mbak Susi dari belakang. Mbak Susi kaget, dan berusaha memberontak. "Lepas! Lepaskan aku!" "Kamu nggak akan bisa lepas sekarang," sahut Pakde Parmin. "Bapak tega, menangkap anak Bapak sendiri?" "Bapak harus teg

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 160 Dia membuntuti

    Sesampainya di parkiran aku dan Riska bergegas untuk turun. Langsung menuju ke lantai lima. Di depan ruanganku aku dan Riska kemudian berpisah. Riska ke divisinya sendiri dan aku masuk ke ruanganku sendiri.Hari itu aku lewati seperti biasa, memeriksa laporan dan menandatangani berkas. Ting Pesan masuk ke ponselku. Nomor baru lagi. Apa ini Mbak Susi lagi ya? Aku segera membukanya. Benar dia lagi yang mengirimku pesan.[ KAMU PIKIR AKU TAKUT DENGAN BODYGUARDMU YANG BERTAMBAH BANYAK? NGGAK! KAMU SALAH! ] [ Mau kamu sebenarnya apa, Mbak? Aku rasa aku nggak pernah mengusikmu, mengganggumu. ] Kubalas pesan dari Mbak Susi. Sudah muak rasanya mendiamkannya.[ BERANI JUGA KAMU MEMBALAS PESANKU. AKU MAU KAMU MENDERITA! AKU TIDAK RELA JIKA KAMU BAHAGIA! ] Mbak Susi kemudian mengirimkan sebuah foto padaku. Foto mobil Tristan yang tadi pagi aku tumpangi. Ya Tuhan, bahkan Mbak Susi tau jika aku ikut mobilnya Tristan.Aku segera keluar dari ruanganku dengan buru-buru dan menuju ke ruangan Tris

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 159 Seperti porselen

    "Jangan begitu Bude. Bude nggak usah merasa bersalah. Kita doakan saja semoga Mbak Susi secepatnya kembali ke jalan yang benar." "Bude sudah berusaha menghubungi nomor Susi tapi tidak ada yang bisa." "Sudahlah Bude, suatu saat Mbak Susi pasti mencari Bude. Bagaimanapun juga seorang anak pasti suatu hari butuh ibunya. Ehm, Bude minta tolong siapkan buah ya," pintaku pada Bude. Bude kemudian beranjak menuju ke dapur menyiapkan apa yang aku minta. "Assalamualaikum …!" Terdengar suara seseorang yang selama beberapa hari ini menghilang. Suara yang aku rindukan. "Waalaikumsalam," jawabku seraya menyambut Riska. Riska langsung memelukku erat. "Kangen banget sama kamu, Va," ucap Riska. "Ah, aku nggak, biasa aja!" jawabku bohong. Riska kemudian mendorongku. "Tega banget kamu!" Aku menarik tangan Riska kemudian merangkulnya. "Gitu aja ngambek. Ya kangen lah," lanjutku. Tak lama berselang, Tristan datang. "Tiap hari dia minta pulang, katanya kangen si kembar, kangen kamu, kangen Bi R

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 158 Pesan ancaman

    Pagi ini, aku tengah bersiap pergi ke kantor. Jadwal sudah dikirim lewat email oleh Nana–sekretarisku. "Kanda, mungkin nanti aku pulangnya sore," ucapku pada suamiku. Suamiku sekarang lebih banyak di rumah. Hanya sesekali ke kantor itupun tidak lama. "Apa Dinda sibuk?" "Lumayan, ada berkas yang harus aku pelajari dari hasil meeting kemarin, juga ada meeting dengan klien siang nanti." Pekerjaan yang kemarin tertunda karena sibuk dengan kasus Seno, kini harus menumpuk pada hari ini. Biasanya ada Riska dan Tristan yang menghandle, tapi mereka baru akan kembali tiga hari lagi. Dari foto yang dikirim Riska, terlihat dia sangat bahagia. Syukurlah, aku ikut senang melihatnya. Sebenarnya ada rasa kehilangan beberapa hari tidak mendengar suara khas Riska. Untung saja besok setelah honeymoon mereka akan tinggal disini terlebih dahulu. Kali ini aku setuju dengan hadiah rumah yang besar dari suamiku, bisa menampung orang banyak. "Jangan terlalu capek, kalau ada apa-apa hubungi Kanda." Sua

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 157 Dia tidak takut!

    Waktu menunjukkan pukul delapan malam, saat semua prosedur pembebasan Seno telah selesai. Dengan langkah yang gembira Seno berjalan menuju ke mobil."Aku lapar," ucapku saat diperjalanan menuju pulang."Saya juga lapar, Nona Bos," sahut Pak Agus. "Kanda juga, dari siang belum makan," imbuh suamiku. "Ha ha ha." Kami semua tergelak tertawa bersama. Saking fokusnya pada Seno kami lupa mengisi perut kami.Sebelum sampai rumah, kami memutuskan untuk terlebih dahulu membeli makanan untuk dibawa pulang. Menu yang paling disukai oleh anak-anak. Ayam goreng tepung kriuk-kriuk begitu anaku menyebutnya. "Pak Agus, bagikan juga makanannya pada bodyguard serta yang lainnya ya." "Siap, Nona Bos," sahut Pak Agus."Om Seno …!" teriak Arthur saat melihat Seno masuk ke rumah. Dia langsung meminta Seno untuk menggendongnya. Padahal Arthur sudah berusia enam tahun tapi tetap saja jika ada Seno ataupun Tristan dia akan langsung minta gendong. Berbeda dengan Alvina, dia hanya akan memeluk Seno dan memi

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 156 Buronan

    Mendengar perintah suamiku, anak buah suamiku dengan cekatan langsung mengambil laptop dan menyalakannya. Aku dan suamiku kemudian duduk di kursi tepat di hadapan mereka.Raut wajah mereka berubah pucat setelah melihat putaran rekaman CCTV. Salah satu dari mereka memang tidak terlihat jelas wajahnya tapi jika dilihat dari rekaman CCTV mobil Seno akan sangat terlihat jelas."Apa mereka pelakunya, Va?" tanya Pakde Parmin. "Iya Pakde, tapi mereka belum mau mengaku.""Apa kalian masih mau menyangkal setelah melihat rekaman itu?" Lanjut suamiku bertanya.Mereka berdua saling pandang satu sama lain. Keringat bahkan sudah terlihat jelas mengalir pada wajah mereka. Mereka tentu saja takut, tidak ada celah lagi buat mereka untuk menghindar."Kalian mau menjawabnya atau anak buah saya yang bertindak?" ancam suamiku.Bodyguard di belakang mereka bahkan sudah menarik baju bagian leher mereka. "A—ampun, saya akan mengatakannya," ucap laki-laki berkaos putih dengan mimik wajah ketakutan."Kataka

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 155 Membawa pelaku

    Percakapan dengan Aldo sengaja aku keraskan volumenya, agar satu ruangan ini bisa mendengarnya. "Bagaimana ini, Kanda?" "Tenanglah, sudah ada titik terang," jawab suamiku. "Kalian, segera bawa kesini dua orang yang menanyakan alamat pada Aldo!" Perintah suamiku pada anak buahnya. "Siap Bos!" jawab mereka serempak. Aku terus mondar-mandir di teras, menanti kedatangan Pakde Parmin dan Pak Agus. "Dinda, sini duduk. Jangan mondar mandir terus seperti itu," titah suamiku. Aku tak menggubrisnya, terus saja aku melangkah maju lalu kembali lagi. "Dinda …." Lagi, suamiku memanggil namaku. Mau tak mau aku menurutinya, duduk di samping suamiku di kursi teras. Tiiin Tiin Terdengar klakson mobil di depan, dengan segera Pak Satpam membuka pintu gerbang. Pertama masuk adalah mobil sedan hitam milik suamiku, disusul kemudian mobil sport milik Seno. Aku sangat penasaran dengan mobil Seno, bahkan sebelum mobil itu berhenti aku sudah berlari menghampirinya. Pintu mobil Seno terbuka, kelua

  • KAKEK TUA itu SUAMIKU    Bab 154 CCTV

    "Dia dituduh membawa narkoba Mbak," jawab Ibu."Nggak mungkin Seno seperti itu, ini pasti ada kesalahan, atau mungkin ada yang menjebaknya!" "Permisi Bos, mereka sudah datang," ucap Pak Agus. "Suruh mereka tunggu di ruang tamu.""Siap, Bos."Suamiku kemudian meletakkan sendoknya, meminum air putih yang ada di depannya, kemudian beranjak dan meninggalkan meja makan."Bude, tolong temani Ibu ya," pintaku pada Bude Ratmi. Aku kemudian menyusul suamiku, menemui orang-orang suruhan suamiku."Aku berikan tugas untuk kalian minta rekaman CCTV hari ini yang ada di toko buku Pelita, kafe Remaja juga di sekitar kampus Seno. Selidiki juga teman yang bersama Seno!" titah suamiku. "Akan ku kirim foto Seno pada kalian!""Siap Bos!" sahut mereka serempak. Lima orang dengan pawakan tinggi kekar kini beranjak dan meninggalkan ruang tamu.***Keesokan harinya, aku tengah bersiap untuk menemani Ibu ke kantor polisi. Semua jadwal kantor sudah aku serahkan dengan Pak Ilyas, direktur keuangan pada perusa

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status