Share

02. Lembaran Baru

Penulis: Nyemoetdz Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-12 00:42:40

"Hachu!" bersin Jenar Nareswari begitu tiba di rumah dinasnya.

"Maaf, Mbak. Rumah dinas ini kecil dan berdebu. Tidak mewah seperti harapan."

Mendengar itu, Jenar menggelengkan kepala. "Tidak, Pak, ini lebih dari cocok. Jika bukan karena aku ditipu, aku sudah menempati rumah kontrakan itu hari ini," jawab wanita cantik, dengan poni tipis itu.

Ya, salah satu temannya menipu Jenar dengan membawa uang kontrakan yang dia harusnya tempati sekarang.

Mau marah juga percuma karena temannya itu tidak kembali, jadi Jenar hanya menikmati kemalangan kisahnya.

Untungnya, masih ada rumah dinas yang disiapkan.

"Baiklah. Lagian Mbak juga Dokter di rumah sakit Militer sini, jadi tidak perlu dipikirkan sampai mendapat rumah baru. Ini juga atas persetujuan kepala Dokter di sana."

"Iya, Pak, terima kasih sebelumnya."

Jenar menatap sekeliling rumah dinas yang dekat dengan rumah sakit militer itu dan akan menjadi tempat tinggalnya sementara.

**** 

"Ma, Jenar sudah sampai tadi pagi, maaf kalau baru memberi kabar, harus membereskan barang dulu," ucapnya dari balik sambungan telepon.

Sejak sampai, Jenar harus membersihkan rumah dinas itu karena juga lama tidak ditinggali.

Namun, dia merasa senang karena ada teman Dokter yang membantunya.

"Tidak apa-apa, Nak. Oh ya, apa kamu sudah bertemu dengannya? Apa tampan?" Terdengar pertanyaan lawan bicara Jenar begitu antusias.

Jenar memutar matanya malas. "Mama, Jenar saja baru sampai pagi, bagaimana bisa bertemu. Lagian apa Mama sudah memastikan jika dia mau bertemu denganku. Nanti bagaimana anakmu ini kalau di tolak, pasti malu tujuh turunan.

"Sudah, katanya sih siang tadi dia berangkat. Harusnya sudah sampai apalagi kalian di kota yang sama. Semoga kalian bisa cocok ya, Nak. Dari fotonya sih tampan."

Jenar hanya mengiyakan apa yang mamanya katakan. Dia tidak berani untuk menolak, karena kebahagian orang tua menjadi prioritasnya. Usianya baru 29 tahun, namun dia sudah dibilang perawan tua oleh saudaranya karena terlalu fokus bekerja.

"Sebaiknya Jenar tutup teleponnya, Jenar lelah sekali. Besok pagi harus datang ke rumah sakit, malu jika terlambat."

"Tapi apa di sana aman, Nak?"

"Iya, di sini sangat aman, Ma. Tinggal di komplek militer harusnya aman kan. Sudah, aku ingin mandi dan tidur. Mama jaga kesehatan, jangan sakit lagi. Jika sakit, maka Jenar tidak mau menerima perjodohan ini."

"Tentu Mama harus sehat. Mama ingin melihatmu menikah dengan pria tampan dan sukses seperti pria itu. Apalagi poin lebihnya, dia begitu sayang keluarga."

"Mama akan terus bicara tentang ini, Jenar tutup teleponnya."

Setelah sambungan telepon di matikan, Jenar langsung membersihkan tubuh. Terlihat jam menunjukan pukul 8 malam, dan dia baru menyelesaikan semua

Sebelum tidur, dia coba membaca materi yang dia pelajari sampai dia benar-benar mengantuk. Namun, saat baru akan terpejam, suara pintu membuatnya harus berjalan ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang.

"Dokter Jenar?"

"Iya, saya. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya pada pria dengan seragam TNI datang ke rumahnya.

"Ada yang menunggu di Pos, dia bilang teman Anda, maaf mengganggu malam-malam. Saya tidak berani untuk menyuruhnya masuk."

Deg!

"Siapa ya, Pak?"

"Saya kurang tau, Dok. Kalau mau silahkan temui atau saya antar untuk datang ke sini?"

"Laki-laki atau perempuan, Pak?"

"Laki-laki." Jenar coba mengingat siapa yang mencarinya, kenapa datang malam-malam. Apalagi petugas yang berjaga juga takut untuk membolehkan masuk. Mungkin karena Jenar tinggal sendiri di komplek itu.

Jenar berjalan kaki ke depan, di mana seseorang itu menunggu. Dengan jaket yang menyelimuti tubuhnya, dia bersilang tangan karena rasa dingin yang merasuk. Petugas tadi mengajaknya bersama, namun Jenar tidak ingin karena malu.

"Benarkah Anda mencari saya, kalau boleh tau apa yang bisa saya bantu?" Suara Jenar membuat laki-laki di hadapannya itu menoleh ke arahnya. Ternyata dari pihak rumah kontrakan sebelumnya mengirimkan barang miliknya yang sempat dia kirimkan awal.

"Izin, Ndan. Komandan sudah pulang!" Jenar yang mulanya mengajak orang di hadapannya bicara, seketika menoleh ke arah petugas yang tadi datang padanya sedang bicara dengan seseorang yang dia panggil Komandan.

"Ini untuk kalian, tadi ada penjual makanan yang kasihan sudah malam begini dagangannya masih banyak. Makan untuk kalian."

"Mohon izin, terima kasih, Ndan."

"Berikan Mbak ini juga kalau mau." Jenar tersenyum sopan ketika pria itu menawari bungkusan yang dia beli.

"Terima kasih, Pak, untuk Bapak saja. Sebaiknya saya permisi, terima kasih sudah memberitahu tentang pria tadi."

"Apa Dokter mau berjalan kaki dengan koper besar itu? Biar saya antar setelah ini." Pria tadi menawarkan untuk mengantar Jenar dengan koper yang dia bawa.

"Mau ke mana?" Pria yang dipanggil Komandan tadi memotong obrolan mereka.

"Oh iya, bukankah Komandan melewati rumah yang Dokter tempati. Mohon izin, Ndan, apa tidak bisa Komandan membantunya, Dokter ini tinggal di dekat lapangan voli sebelum ke rumah dinas Bapak."

"Kalau begitu mari saya antar." Jenar menatap bingung karena dia akan lelah jika mengangkat koper besar itu sendiri, kebetulan pria yang dipanggil Komandan itu menggunakan motor.

"Sudah, Dok, sudah malam juga, nanti ada Kunti loh."

Hah? Kunti?

Bab terkait

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   03. Seseorang Itu adalah Kamu!

    "Terima kasih, Pak, sudah mengantar. Maaf tidak mempersilahkan masuk, sudah malam juga."Pada akhirnya, Komandan itu mengantarkan Jenar sampai rumah dengan koper besar miliknya. "Tidak apa-apa. Apa Anda bertugas di Rumah sakit Militer?" "Iya, Pak, saya tinggal di sini hanya sementara selama saya mendapatkan kontrakan baru untuk tinggal. Pak Danki yang meminta saya tinggal di sini." "Oh begitu, yasudah, saya tinggal dulu. Selamat istirahat." Jenar masih berdiri di depan rumah sampai pria itu pergi. "Masih muda dan tampan lagi, pemandangan menyegarkan. Ah ... Jenar, kau itu memikirkan apa." Sejenak Jenar membayangkan sesuatu tentang Komandan itu. Bau tubuhnya begitu harum, dia pikir akan beruntung memiliki suami seperti Komandan tampan itu. Sudah tampan, masih muda juga menjadi Komandan, walau tidak mengerti kedudukan di dalam satuan militer, tapi saat mendengar kata Komandan, iti artinya kedudukannya pasti lebih tinggi, itu pikir Jenar. Dia tidak tau pastinya. "Tadi dia itu K

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-12
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   04. Bertemu Wanita yang Dikenalkan

    "Ah ... iya, aku akan bersiap. Bisa kirimkan alamat di mana kita bertemu. Aku akan segera pergi. Maaf membuatmu menunggu," tutur Jenar."Aku akan kirimkan. Kalau bisa dekat tempatmu saja, biar aku yang menemuimu. Aku tidak bisa lebih lama.""Baik, aku akan segera pergi. Maaf sebelumnya." Jenar mengutuk kebodohannya, dia segera ke kamar mandi dan bersiap setelah mengirimkan sharelock tempatnya tinggal. Dan tidak peduli dengan pesan masuk dari mamanya.Setelah mandi dan mengenakan pakaian casual yang sopan, Jenar segera pergi ke tempat di mana pria itu menunggu. Dia bahkan bilang menjemputnya."Aku tunggu dekat pos 2 tempatmu tinggal, tidak terlalu jauh darimu. Aku ada di mobil SUV putih dekat warung angkringan." Jenar mendengarkan penjelasan seseorang dari sambungan telepon, dengan mata yang coba melihat sekita, mencari mobil yang dimaksud.Hingga dia melihat mobil yang dimaksud di seberang jalan, dengan hati-hati Jenar berjalan ke arah mobil itu dan mengetuk jendela mobilnya. Perlahan

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-12
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   05. Hati Tak Bisa Dipaksakan.

    "Memangnya kamu mau dijodohkan dengan duda sepertiku?" tanya pria berparas tampan itu. Mereka sungguh asyik berbincang berdua di sana. Apalagi Mama Jenar memaksa agar dirinya bisa bertemu dengan putera temannya."Aku tidak pernah menolak apa yang mamaku mau. Karena apa yang dia katakan menurutku sebagai keharusan, jadi aku mau menemui Mas walau itu bukan kemauanku. Bagaimana dengan Mas," jawab Jenar sambil melontarkan kembali pertanyaan yang sama. "Jujur aku masih tidak ingin dekat dengan wanita karena aku juga ingin mengejar karirku. Ini juga kemauan orang tua, dan juga kakakku. Mereka akan sangat berisik ketika melihatku menua dengan kesendirian. Apa kamu tau jika kita ini didekatkan untuk menikah?" "Aku tau, tapi jika kita tidak cocok, haruskah kita memaksa hati kita. Setidaknya aku menuruti mama untuk bertemu dengan Mas, urusan itu bagaimana nanti saja. Apalagi kita baru ketemu, aku belum mengenal Mas lebih jauh." "Benar juga, tapi kata mereka, aku harus mau denganmu bagaimana

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-12
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   06. Siapa Pak Danyon?

    "Dok, pasien terakhir," tutur asisten Jenar ketika jam menunjukkan pukul 2 siang. "Baik, Mbak, suruh masuk." Jenar meletakkan ponsel dan fokus pada pasien yang masuk. Seminggu sudah dia tinggal di Solo, Jawa Tengah, tepatnya di Asrama militer dan beberapa hari ini dia tidak mendapat kabar dari Damar. Entah ke mana dia, Jenar tidak berani untuk bertanya lebih dulu dan tentang mamanya Jenar, dia sangat bahagia putrinya berhasil bertemu dengan Damar. "Dia yang banyak bicara kemarin, dia juga yang kabur. Tidak ada kabarnya lagi, tapi kenapa jadi aku terus memikirkan dia. Apa dia menganggap aku wanita tidak baik saat aku bilang pernah diperlakukan buruk oleh pacarku ya?" "Dokter, ada yang mencari Anda di luar." Asisten Jenar membuka sedikit pintu ruang prakteknya dan mengajak bicara. "Siapa? Aku pikir tadi yang terakhir," jawabnya sambil merapikan meja. "Katanya Pak Danyon yang mencari Dokter." "Danyon?" Dia tampak bingung, meski sudah seminggu tinggal di komplek militer, tap

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   07. Apa Itu Artinya Cocok?

    "Aku?" Damar menatap dengan senyum tersungging tipis atas pertanyaan yang wanita cantik di hadapannya itu lontarkan. "Ini hanya misal, Mas, bukan maksud—" "Iya juga tidak masalah. Jangan tegang begitu, mukamu terlihat pucat sekarang," Goda Damar sambil memegang tangan Jenar yang ada di meja dengann satu tangan lain memegang sedotan di gelas minumnya. Sentuhan itu membuat dokter gigi tersebut menatap terkejut. "Maafkan aku. Kalau kamu bertanya pendapatku, isteriku harus mengerti apa yang aku lakukan, maka aku akan memberikan apa yang dia butuhkan. Seperti paham akan tanggung jawab seorang isteri abdi negara. Percuma kan jika kita menikah, tapi kamu menuntut apa yang sudah jelas kamu tau." Damar melepaskan tangannya dan menjelaskan pendapat dari pertanyaan yang dilontarkan. Kegagalan berumah tangga membuatnya belajar, jika memilih wanita harus sejalan, dia tidak ingin hal serupa terulang kembali. "Jadi bagaimana mau Mas, apa isterimu harus menuruti apa yang menjadi kemauanmu, apa b

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   08. Tetap Tidak Bisa Memaksakan Hati

    "Maksud Mas kita pacaran sekarang?""Mungkin perkenalan untuk hal yang serius lebih enak di dengar, daripada kata pacaran," sahut Damar."Sama saja, Mas."Meski ragu, Damar tetap mengiyakan apa yang Jenar katakan. Entah itu tulus dari hatinya atau tidak, untuk sekarang mereka coba menjalani hubungan yang orang tua mereka mau.Setelahnya mereka menikmati waktu makan siang bersama, Damar yang terlihat kaku, ternyata tidak seperti kelihatannya. Awal pertama Jenar melihatnya, Damar tampak tegas dan jarang tersenyum, nyatanya dia sering tersenyum bersamanya.Mereka seperti orang yang tidak pernah menjalin hubungan sebelumnya, mereka berdua tampak kaku, tapi juga asyik. Karena banyak yang mereka bahas, apalagi tentang satu sama lain.***Di rumah, Damar sejenak terdiam dengan apa yang sudah dia katakan tadi pada Jenar. Apa ini pilihan benar atau tidak, yang pasti hatinya ragu. Dia pikir Jenar, wanita baik, namun hatinya tetap tidak bisa dibohongi. Sikap manisnya pada Jenar hanya usahanya un

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   09. Sikapnya Berbeda

    "Jika tidak mau dibantu, kenapa meminta tolong sebelumnya. Sudah saja urus sendiri apa yang ingin kamu selesaikan." Damar menatap serius ke arah Jenar yang tidak tau jika pria di hadapannya ini bisa marah."Bukan seperti itu, aku hanya malu jik—" Jenar yang bingung tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya malu jika terus merepotkan Damar, apalagi sikap pria tadi sungguh membuatnya malu. Belum lagi dia lolos begitu saja dari penjagaan untuk bertemu dengan Jenar."Kalau begitu lakukan sendiri." Damar memberikan kompres kemudian beranjak pergi. Sikapnya berbeda, padahal tadi dia bersikap manis saat mengajak makan siang, sekarang dia malah marah ketika Jenar menolak untuk dibantu.Dengan rasa bingung, Jenar menatap punggung Damar yang pergi. Pria tampan itu bahkan meninggalkan ponsel di meja rumah yang Jenar tempati. Tak tau apa yang sebenarnya dikatakan Jenar hingga membuatnya marah seperti sekarang.Merasakan tangannya yang sakit, Jenar tidak fokus dengan ponsel Damar di hadapannya. Tak in

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   10. Permintaan Terakhir

    "Maafkan aku, Mas. Aku memang yang salah, aku—""Sebaiknya pulang dan istirahat. Aku sudah minta petugas yang berjaga untuk lebih hati-hati lagi. Kalau ada apa-apa cepat hubungi petugas atau berteriak saja."Padahal jika ucapannya, kalau ada apa-apa bisa menghubungi dia menjadi sulit Damar katakan. Dia bersikap berbeda setelah memikirkan apa yang dia lakukan membuat dirinya ragu.Jenar memilih pulang, dia malah menyalahkan diri atas menolak Damar yang mau membantu. Tapi sikapnya sungguh berbeda, apa itu artinya Damar menyesal atas jawabannya tadi siang ketika ingat jika hatinya terluka.Memikirkan Damar, dia sampai lupa dengan tangannya yang terluka sampai terlelap setelah mengobati dengan obat yang Damar berikan.***Dan lagi Damar tidak memberinya kabar. Kali ini sudah 2 hari, Jenar tidak melihat batang hidung Damar. Walau penasaran, tapi Jenar tidak mungkin datang ke rumahnya dan melihat sendiri kondisi Damar."Iya, Ma, aku sedang bertugas, bisakah nanti saja teleponnya. Aku—""Apa

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08

Bab terbaru

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   81. Merasa Bersalah

    "Apa mual, Mbak?" "Sejauh ini tidak, Mbak. Apa memang maunya buah ya, Mbak. Sulit sekali makan nasi. Membayangkan saja sudah terasa mual." "Apalagi bayi kembar, seperti mualnya dobel, tetap semangat. Setelah trimester pertama akan sedikit merasa nyaman. Walau hanya sebentar. Besok ada kegiatan lomba, nanti pukul 2 siang sepertinya ibu-ibu coba untuk menyiapkan hadiah. Apa Mbak ikut?" "Ikutlah, Mbak, malu kalau gak ikut apalagi alasannya hamil. Semua orang juga merasakan itu, aku tidak mau malah di anggap seenaknya sendiri karena kedudukan suamiku." "Lalu untuk jabatan yang ketua berikan bagaimana?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Biar yang lain saja, aku belum siap saja." Jenar diminta menjadi ketua ibu-ibu Persit, dia malah menolaknya. Dia tidak mau dipikir suaminya Danyon, lantas dia bisa menjabat sebagai Ketua. Apalagi dia masih baru. Pengalamannya kurang, itu pikir Jenar. "Aku belum tau banyak, jadi takut salah. Apalagi banyak para senior yang mampu memimpin. Ketua sekarang

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   80. Rujak Buah Serut

    "Kenapa, sudah makan dan habiskan." Jenar hanya menatap makanan yang baru dia makan beberapa suap saja. Padahal tadi begitu senang bisa makan diluar berdua. Nyatanya, setelah mengisi perutnya beberapa suap, dia tidak ingin lagi. "Mas saja yang makan, aku mual." Mata yang berkaca-kaca tanda dia memang sedang menahan rasa mual. Kasihan juga jika sudah seperti ini, Jenar malah tidak bisa makan dengan lahap, rasa mual menyiksanya. Meski itu tanda baik, akan tetapi Damar kasihan pada istrinya. "Enak?" Jenar menangguk senang, dia menyedot susu pisang yang dia minum. Damar mengusap ujung kepala istrinya, dari makanan yang dipesan dia hanya makan 2 suap saja setelahnya Damar yang menghabiskan, dia sangat ingin makan itu, tapi malah mual. Jenar belum tau apa yang pas untuk perutnya, hanya susu pisang yang tidak membuatnya mual. "Maafkan aku, Mas," ucapnya. Usia kandungannya jalan 3 bulan, meski sesekali masih merasa sakit dibagian perutnya, kondisi kehamilan Jenar tetap terkontrol. Apa

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   79. Rencana Gagal

    "Izin, Pak Danyon. Apa kabar!" Dengan sikap hormat, orang dihadapan Damar menjabat sebelum dipersilahkan duduk kembali. "Lama tidak bertemu, Anda juga tidak ada kabarnya, ke mana saja?" Damar tampak senang teman satu satuan dulu datang berkunjung. "Aku masih menjalankan tugas ku di lapangan. Beruntung Anda sekarang sudah dengan tenang membuat rencana untuk Prajurit. Bekerja di balik meja kerja ini."Pria dihadapan Damar adalah seorang kapten, beliau pernah menjadi satu regu ketika penugasan. Belum lagi mereka sering di perintahkan untuk tugas sebelum akhirinya Damar menjadi seorang Komandan Batalyon sekarang. Mereka malah asyik bicara. Apalagi kedatangan Kapten Bambang memiliki sebuah tujuan bukan hanya saling sapa. Damar untuk pulang karena ada tamu, entah akan seperti apa Jenar nanti marah padanya, yang pasti dia tidak bisa pulang sekarang. "Tidak bisakah Anda bergabung latihan kita lusa, satuan mengadakan latihan gabungan aman bersama NKRI, jika mau saya kirimkan jadwalnya."

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   78. Semakin Sensitif Saja

    "Puas sekali menggoda orang, sekarang malah tertawa," gerutu bumil yang masih pagi sudah bawel setelah mengobrol dengan suaminya. "Makanya kamu juga jawabnya begitu. Tenanglah, Sayang, aku masih lama di sini. Karir yang aku jalani di sini masih terbilang baru. Untuk rumah baru, nanti aku coba bicarakan dengan salah satu teman. Kita pilih yang nyaman untukmu." Damar hanya membohongi Jenar tentang pindah tugas ke Papua. Dia diperbolehkan untuk fokus di Batalyon dan juga istrinya. Apalagi kondisi kehamilan sang istri sedang tidak baik, meski harusnya mengutamakan tugas. "Kamu suka sekali menggoda isterimu, sepertinya masa kehamilan Jenar sangat manja. Dikit menangis, ingat menangis, apa yang dia mau menangis," sahut Susi. "Mama sudah rapi, mau ke mana?" tanya Damar. "Mama hari ini mau pulang, ada Wulan dan ibumu juga di sini. Nanti 3 bulanan Mama akan datang. Beberapa minggu saja kan. Titip anak Mama yang bawel ini, dia akan semakin merepotkanmu dengan tingkah manjanya," balas Susi.

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   77. Pindah Tugas

    "Komandan!" Dika datang dengan 4 anggota Polisi, mereka yang awalnya menantang Damar hampir akan pergi sebelum Polisi mengejar mereka dan menendangnya karena lari. "Bahu kiri Anda—" "Ini hanya goresan saja. Apa wanita tadi sudah aman?" tanya Damar. "Ternyata wanita itu dikejar karena motor yang dia gunakan dianggap kredit macet, 2 pria itu mengikutinya sejak keluar dari tempatnya bekerja," jelas Dika yang tau sedikit masalah wanita itu. Damar menemui wanita itu dan memastikan dengan benar masalah mereka. Setelah itu Damar coba mengobati lukanya sebelum dia pulang. Ini akan menjadi masalah untuknya, ketika Jenar tau. Jam munjukan pukul 12 malam ketika Damar sampai di rumah. Rasa bersalah terlihat jelas ketika melihat isterinya menunggu di ruang tamu sampai tertidur. "Bukankah Mas bilang sudah sampai Bandara sejak pukul 8. Kenapa baru pulang?" "Ada masalah tadi di jalan, kamu bisa pastikan pada Mbak Widi besok kalau bertemu. Akh!" Rintihan lirih ketika Damar membuka jaket

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   76. Wanita Tak Dikenal

    Damar sampai di Bandara dan menunggu Dika yang akan menjemput, katanya mobil yang ditumpangi mengalami pecah ban di dekat Bandara, jadi Damar memilih menghampiri Dika menggunakan Taksi online. Jam menunjukan pukul 8 malam saat sampai di Solo. Rasa lelah dia rasakan, apalagi pesawat delay beberapa jam karena cuaca buruk. "Maaf, Komandan, harusnya saya tidak terlambat," ucap Dika ketika melihat Damar menghampirinya. "Apa sudah selesai?" Setelah meletakkan tas yang dibawa, Damar memghampiri Dika yang merapikan ban yang pecah itu ke bagasi, seperti baru selesai. "Mohon izin, baru selesai, Komandan, apa kita—" "Pak, tolong saya. Pria di sana mengikuti saya sejak tadi, bisakah saya pulang bersama dengan menggunakan motor di depan mobil Bapak."Seorang wanita pengguna jalan menghampiri Damar yang berniat akan pulang. Wanita itu tampak ketakutan ketika mengatakannya. Jalanan memang tidak begitu ramai, wanita itu langsung menghampiri Damar dan Dika. Wanita itu melihat Dika memakai seragam

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   75. Ngidam

    "Ngidam pengen suaminya pulang, bagaimana kalau jadi pindah tugas, akan sulit." Suara seseorang menghentikan tangis Jenar karena mendengarkan kata-kata itu. Hatinya semakin gelisah, dia hanya ingin suaminya pulang sekarang, agar merasa lega. "Aku telepon lagi nanti, aku bicara dulu dengan seniorku. Tidak apa-apa kan?" Meski bekerja di lingkup orang yang lebih tua, tidak membuat Damar besar kepala, karena dia juga masih baru di posisinya sekarang dan harus banyak belajar dari seniornya. "Sudahlah, makin bikin kesal saja." Jenar mematikan sambungan telepon begitu saja karena suaminya masih saja sibuk, padahal dia merindukannya. Lawan bicaranya hanya menatap layar ponsel sesaat panggilan masuk itu tertutup. Mood Jenae Hal seperti ini tidak biasa dia lakukan, mungkin juga karena efek hamil karena beberapa hari kemarin terus bersama dan sekarang ada tugas keluar kota. Namun, jika memang suaminya di pindah tugas, dia sunggu harus merelakan pekerjaannya untuk fokus pada keluarganya.

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   74. Ingin Bertemu Suami

    "Rumah rapi walau kamu sedang sakit, kalau bukan suami yang baik, apa coba. Yang banyak bersyukur, Nak." "Jangan terus memarahi anakmu, nanti dia malah kabur dan Damar menyalahkan kita tidak becus merawatnya," sahut Anggi pada besan yang juga temannya. Mereka dekat karena memang sudah berteman sejak lama. "Aku gemas padanya kalau sudah keras kepala." Yang di marahi hanya diam bersandar di ruang tengah rumah dinas Damar, baru tadi siang dia pulang dan sesampainya di rumah diperlakukan bak ratu karena tidak boleh melakukan apapun, apalagi Dokter bilang harus melewati trimester pertama ini agar janinnya benar-benar kuat untuk diajak melakukan kegiatan. "Kamu tidak menginginkan sesuatu, Je? Makan apa gitu?" tanya Wulan. "Apa ya, Mbak, pengen ketemu Mas Damar saja sih, gak pengen makan apa-apa." "Mau di tungguin suamimu ya. Sabar ya, Nak, kita di sini bersamamu. Lain kali kalau ada apa-apa bilang. Atau kamu mau pulang ke Jakarta saja agar bisa kita bantu," tutur Anggi. "Dan m

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   73. Ditinggal Tugas.

    "Tolong maafkan aku, Mas." Kembali Damar mencium kening Jenar. Mereka bicara sedikit berbisik karena takut jika Susi yang masih tidur akan terganggu. Apalagi masih begitu pagi ketika Damar datang. "Aku bantu ke kamar mandi biar Mama tidak repot." Seperti pagi biasa ketika di rumah sakit, Damar membantu isterinya membersihkan tubuh. Karena tidak boleh naik turun tempat tidur dulu, Damar selalu menggendong isterinya dan membantu membersihkan tubuh. Catheter Jenar sudah terlepas kemarin, itu juga anjuran dokter. Walau ada rasa khawatir jika isterinya malah akan banyak bergerak, Damar coba percaya jika isterinya akan menjaga calon bayi mereka. Perkembangannya memang baik, namun Damar ingin semua baik sampai Jenar bena-benar merasa sehat. "Kenapa, mual?" tanya Damar ketika menyodorkan sikat gigi pada istrinya. Jenar mengangguk pelan dengan tangan menutup mulut. Dia mual ketika akan gosok gigi, namun dia tetap harus membersihkan giginya. "Aku seperti bayi beberapa hari ini, karena M

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status