03
Malam beetabur bintang dan ditemani sang bulan yang bersinar dengan separuh kekuatan. Angin berembus lembut membelai dedaunan yang berada di halaman rumah dua lantai bercat krem.Suasana sekitar tampak sepi. Penghuni yang hanya berjumlah empat orang tengah berkumpul di ruang keluarga.
Tatapan Sitha terarah pada televisi yang sedang menayangkan film kartun. Namun, pikirannya mengembara ke masa lampau di mana dirinya tergila-gila dengan seorang lelaki berparas manis.
Rasa cinta yang mendalam menyebabkan Sitha menentang orang tua demi memenuhi permintaan Riadi untuk menikah. Padahal saat itu usia mereka masih terbilang muda. Sitha berusia 23 tahun dan Riadi berumur 26 tahun.
Pria perlente yang berasal dari keluarga berada, sempat melambungkan impian Sitha untuk hidup bahagia bak putri dalam dongeng. Namun, keinginan itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Sebab, dari semenjak menikah, kedua orang tua Riadi turut mengatur rumah tangga pasangan muda tersebut.
Pada awal-awal pernikahan, Shita masih mencoba menerima berbagai aturan mertua yang akan berkunjung ke rumahnya setiap beberapa minggu. Namun, kian lama aturan itu kian membatasi ruang geraknya hingga Sitha tidak kuat dan memberontak.
Kala itu, kantornya tengah menangani banyak proyek dan Sitha mengambil kesempatan buat menghindari pertemuan dengan keluarga Riadi.
Sitha mengharapkan dukungan suaminya, tetapi Riadi seolah-olah tidak peduli dan sibuk dengan urusannya sendiri. Meskipun tinggal serumah, tetapi pasangan tersebut kian jarang berada dalam satu kamar alias tidur terpisah.
Sitha mengungsi ke kamar anak-anak karena tidak tahan diabaikan sang suami, yang ternyata tengah menjalin kisah terlarang.
Perselingkuhan Riadi dan Anika menyebabkan hati Sitha patah. Dia yang sudah lelah untuk berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga, akhirnya menyerah dan menggugat cerai.
Sitha tidak menuntut harta gono-gini karena tidak mau persidangan menjadi berlarut-larut. Dia juga tidak meminta sejumlah uang untuk membiayai masa iddah, karena merasa cukup dengan penghasilannya sendiri.
Riadi nyaris tidak pernah mengunjungi anak-anaknya. Inggrid dan Gyan juga jarang menanyakan sang papa, karena dari dulu mereka memang tidak akrab dengan pria tersebut.
Shita tidak pernah memaksa Riadi untuk menemui kedua anaknya, karena tahu pria berkacamata itu tengah dimabuk asmara, hingga melupakan keluarga kecil yang dimilikinya.
Malam beranjak larut. Sitha meminta Asmi mengajak kedua bocah untuk tidur, karena esok hari mereka akan pergi berenang. Perempuan berusia 32 tahun tersebut memandangi saat Inggrid dan Gyan menaiki tangga.
Sitha mematikan televisi, lalu berdiri menuju depan rumah. Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, perempuan berdaster merah memasuki kamarnya untuk beristirahat.
Sementara itu di rumah orang tua Emris, pria berlesung pipi tersebut tengah berbincang dengan ayahnya di teras sambil menikmati kudapan. Berbagai hal mereka perbincangkan, hingga tiba di pokok bahasan yang sebenarnya dihindari Emris.
"Aku belum siap, Yah," tutur Emris menjawab pertanyaan Purwa.
"Kamu masih muda. Apalagi Kayden butuh sosok Ibu," ungkap Purwa sembari memandangi putra bungsunya lekat-lekat. "Jangan berduka terlalu lama. Ikhlaskan Junita agar kamu bisa membuka hati untuk orang baru," sambungnya.
"Ini baru sebulan. Tanah kuburannya pun belum kering."
"Mau nunggu sampai kering? Bisa bertahun-tahun, Ris. Ayah serta ibumu belum tentu panjang umur. Tidak tahu sampai kapan kami bisa membantu merawat Kayden."
"Ehm, maksudku nggak sampai selama itu juga. Minimal setahun, deh. Sampai aku benar-benar mampu menyediakan tempat untuk perempuan lain. Kalau sekarang, nggak bisa."
Purwa manggut-manggut. "Terserah kamu aja. Ayah hanya menyarankan. Ini demi Kay dan kamu juga."
Purwa berdiri dan beranjak memasuki ruang tamu. Dia telah menyampaikan keinginan sang istri yang sejak tadi siang memintanya untuk membujuk Emris agar mau menikah kembali.
Pria tua membuka pintu kamar utama dan menyambangi istrinya yang sedang melipat pakaian bayi. Keduanya berbincang dengan suara pelan agar tidak membangunkan Kayden yang sengaja dibawa Rahmi untuk tidur bersamanya.
Emris mengambil cangkir dari meja dan meneguk tehnya yang sudah dingin. Dia memegangi benda berbahan kaca bermotif abstrak sambil menatap jalanan yang kosong.
Pria berkaus putih menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Dia berharap helaan itu bisa membantunya mengurangi sesak dalam dada.
Perhatian Emris beralih pada cincin polos yang melingkari jemari manis tangan kanannya. Terbayang kembali saat Junita menyematkan benda itu seusai akad nikah. Masa paling bahagia dalam hidupnya karena berhasil memenuhi janji untuk mempersunting perempuan pujaan.
*** Hari berganti hari. Waktu terlewati dengan kecepatan maksimal yang tidak bisa dicegah oleh siapa pun. Kehidupan Emris terus berjalan sebagaimana biasa. Dia tetap berusaha menyisihkan waktu buat mengasuh Kayden, meskipun hanya sekadar jalan-jalan seputar kompleks.Seperti yang dilakukan Emris Sabtu pagi tersebut. Biasanya dia akan memulai perjalanan menyusuri blok yang menuju taman perumahan. Namun, kali itu dia memutuskan mengubah arah melewati blok bagian depan.
Sudut bibir Emris terangkat mengukir senyuman kala menyaksikan perempuan berparas ayu, tengah berjongkok di depan rerimbunan pohon yang berada di dekat pagar.
Emris melangkah sambil memikirkan kata-kata untuk memulai pembicaraan. Kala sudah dekat, pria berkulit kecokelatan berdeham dan berhasil menarik perhatian Sitha yang seketika menoleh ke kiri.
"Hai," sapa Emris seraya tersenyum.
"Halo, Kang," balas Sitha sambil bangkit berdiri. "Lagi jalan-jalan?" tanyanya sembari memandangi kereta bayi biru yang tengah didorong pria berlesung pipi.
"Iya. Udah lama nggak lewat sini. Ternyata banyak rumah yang berubah."
Sitha menghampiri kereta bayi dan merunduk. "Masyaallah. Lucunya," pujinya sembari memandangi Kayden yang balas menatapnya penuh minat.
Sitha hendak memegangi bayi berkaus putih, tetapi kemudian ditangguhkan karena baru ingat jika tangannya kotor. "Mampir, Kang," ajaknya sembari menegakkan badan.
"Ehm, ganggu nggak?" tanya Emris.
"Enggak. Anak-anak pasti suka ketemu bayi. Dan aku mau cuci tangan dulu supaya bisa gendong ... hmm ... namanya siapa?"
"Kayden Rakhasandriya."
"Nama yang bagus."
Sitha mengarahkan tangan kanan untuk mempersilakan Emris masuk ke pekarangan. Mereka jalan bersisian hingga tiba di dekat teras. Emris mengangkat kereta dan menguncinya lebih dulu. Kemudian dia menduduki kursi yang tersedia. Sedangkan Sitha memasuki rumah sambil memanggil anak-anaknya yang segera keluar.
Dalam hitungan detik kedua bocah dan Asmi, berbincang satu arah dengan Kayden yang tampak bingung dengan kehadiran orang-orang baru. Asmi meminta izin Emris untuk menggendong bayi montok, kemudian dia mengayun Kayden dengan luwes.
"Lah! Keduluan," tukas Sitha yang baru tiba dan telah berganti pakaian.
"Dedek bayinya lucu," puji Asmi.
"Sini, aku yang gendong." Sitha mengambil alih Kayden dari sang pengasuh dan mendekapnya dengan hati-hati. "Kay, gede nanti kamu bakal banyak fans. Cakep begini," ungkapnya sembari mencium dahi bayi yang beraroma minyak telon.
"Nurun ayahnya," seloroh Emris.
Sitha melirik sekilas, kemudian meneruskan pembicaraan. "Kayaknya Akang bakal kalah, deh. Kayden ada perbedaan dikit sama Akang. Hidungnya lebih mancung. Nurun ibunya, ya?"
"Betul. Kay mengadopsi hidung dan bibir serta dagu ibunya. Kulitnya pun lebih putih dariku yang rada butek."
Inggrid dan Gyan serta Asmi kompak tertawa mendengar candaan pria yang baru kali itu mereka temui. Sementara Sitha menyunggingkan senyuman yang kian menambah keelokan parasnya.
Tanpa sadar Emris terus menatap perempuan berbaju biru muda yang kian dewasa seiring waktu. Sekaligus tambah memesona.
04Pertemuannya dengan Sitha kemarin sore, ternyata membekas dalam hati Emris. Minggu pagi dia kembali mengajak putranya jalan-jalan dan mengarahkan kereta ke blok tempat Sitha tinggal. Seunit mobil MPV hitam yang terparkir di depan rumah perempuan tersebut, menyebabkan Emris bertanya-tanya dalam hati tentang siapa tamu itu.Emris hendak berbelok kala seorang pria keluar dari pintu depan rumah dua lantai bercat krem. Mereka sempat saling menatap dan Emris merasa pernah melihat pria berkacamata yang mengenakan t-shirt hijau. Namun, dia tidak dapat mengingat nama orang yang tengah melenggang memasuki mobil. "Om!" pekik Inggrid yang telah berada di teras. Dia lari mendatangi Emris dan langsung merunduk untuk menyapa bayi lucu berkaus oren. "Ehm, Kak. Itu siapa?" tanya Emris sambil mengarahkan dagu ke kendaraan yang tengah memutar, sebelum kemudian menjauh."Papa." "Oh, ya." Emris manggut-manggut. Akhirnya dia bisa mengingat laki-laki tadi. "Mamanya lagi apa?" tanyanya. "Masak." "Om
05Teriakan Inggrid dan Gyan mengiringi kedatangan Emris pagi itu. Mereka bergantian menyalami pria berperawakan sedang yang telah mencukur kumis dan janggutnya. Seperti saat-saat sebelumnya, Emris tidak berani memasuki ruang tamu dan hanya duduk di kursi teras, sembari memandangi Inggrid yang sedang mendorong kereta bayi bolak-balik di depan rumah bersama Gyan. Senyuman terukir di wajah Emris kala menyaksikan perempuan bertunik putih campur ungu muda yang keluar dengan membawa nampan. Aroma kudapan kesukaan Ayah satu anak itu menyebabkan Emris ingin segera menyantapnya. Namun, dia harus sedikit bersabar karena makanan di meja masih mengepulkan uap panas. Asmi hadir dan menyajikan dua cangkir kopi susu. Kemudian dia meletakkan nampan ke dekat pot bunga dan menyambangi kedua majikan kecil. Asmi mengambil alih kereta bayi dan mendorongnya dengan jarak yang lebih jauh.Sitha menuangkan teci ke piring dan mengulurkannya pada Emris. "Kang," panggilnya pada pria yang tengah fokus menata
06Hari berganti hari. Putaran waktu beralih masa dengan cepat dan tanpa bisa dihalau oleh siapa pun. Seorang pria yang mengenakan t-shirt biru tua, turun dari mobil SUV hitam. Dia berpindah ke bagian belakang dan membuka pintu kendaraan untuk mengambil barang-barang bawaan, beserta ketiga rekannya. Setelah semua tas tersusun rapi di troli, keempatnya bersalaman dengan sopir mobil rental, kemudian mereka jalan menuju ruang tunggu untuk bergabung dengan rekan-rekan dari berbagai perusahaan. Puluhan menit berlalu, keempat lelaki berbeda tampilan sudah berada di pesawat yang akan mengantarkan mereka ke Kota Bandung. Selain mereka, belasan pengawal PBK juga ikut dalam rombongan tersebut. Emris duduk di kursi dekat jendela, berderet dengan Hendri dan Zafran. Mereka berbincang mengenai berbagai hal hingga tibalah waktunya pesawat untuk lepas landas. Emris mengunyah dua permen mint sekaligus untuk mencegah telinganya berdengung akibat tekanan dalam kabin. Hal serupa juga dilakukan kedua
01 Tangisan bayi mengejutkan seorang pria yang baru terlelap beberapa puluh menit silam. Lelaki bernama Emris Rafardhan membuka mata dan mengubah posisi badan ke kiri. Dia memaksakan diri bangkit untuk mengecek kondisi putranya, Kayden Rakhasandriya, yang baru beumur tiga minggu. Emris menyalakan lampu di meja samping tempat tidur. Dia spontan mengajak sang putra berbincang satu arah sambil mengecek bagian bawah. "Anak Ayah pup, rupanya. Bentar, ya," ucap Emris sembari menarik laci meja kecil dan mengambil tisu basah serta popok baru. Pria berkaus hitam membuka popok sekali pakai putranya yang masih merengek. Dengan hati-hati dia membersihkan area bawah dengan tisu basah. Emris mengambil tisu biasa dari meja untuk mengeringkan putranya, kemudian memakaikan popok baru sambil terus mengajak Kayden berbincang. "Mau susu?" tanya Emris sembari mengangkat dan menggendong anaknya. "Ayah buatin dulu," lanjutnya sembari berdiri dan jalan ke meja rias di mana ada perlengkapan khusus bayi s
02Seorang pria berkaus biru tua memandangi beberapa pekerja yang tengah mengangkut perabotan. Setelah mereka berangkat dengan menggunakan dua mobil bak terbuka sarat barang, pria pemilik rumah berbalik dan mengitari bangunan yang menjadi saksi kisahnya bersama Junita selama tiga tahun pernikahan. Emris menelan ludah untuk mendorong sumbatan di lehernya. Pria berkulit kecokelatan mengedarkan pandangan ke sekeliling dan seolah-olah tengah melihat tayangan ulang ceritanya dan Junita saat baru menikah. Hampir semua ruangan menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Layaknya pasangan pengantin baru, mereka melakukan itu hampir tiap malam dan berpindah-pindah tempat. Ingatan Emris bergeser pada saat Junita hamil. Dia seakan-akan bisa melihat perempuan berambut sepundak jalan sambil memegangi perutnya yang membuncit. Terbayang jelas dalam ingatan Emris kala dia ditelepon Junita yang melaporkan jika waktu persalinan telah tiba. Dia memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi untuk menjemput sang