"Sekar gak mau! Kalian semua penculik!" Sekar merengek saat mereka mulai menggotongnya. Bibirnya cemberut. Wajahnya sudah semasam air cuka.
"Nanti Sekar laporin ke pamannya Sekar!" Sekar menggeliat. Menarik-narik tangan dan kakinya agar terlepas dari cengkeraman mereka."Diem aja sih, Kar!" John mendelik."Ini penindasan terhadap anak kecil!" Rengek Sekar.Satu pemuda lagi yang tidak kebagian tugas dengan inisiatif sendiri meraih kunci motor scoopy Sekar di atas meja dan berjalan setengah berlari mendahului mereka menuju parkiran rumah itu. Dengan semangat dia membawa motor Sekar ke depan gerbang dan memanaskan motor gadis itu.Komplotan itu mendudukkan Sekar di atas motornya. Kayden menepuk-nepuk kepala Sekar. Dia menjawil bibir gadis itu yang masih saja cemberut. "Senyum dong~""Huh!" Sekar membuang wajah ke samping dan melipat tangan di dada.Kayden menepuk lagi kepala gadis itu kemudian menyampirkan ransel bunga-bunga ke bahu Sekar. "Ingat jangan nakal di sekolah. Jangan godain cowok ganteng. Jangan bikin ulah. Sama jangan berurus-""Jangan berurusan sama Shaka. Kalo Sekar papasan sama dia di koridor, wajib puter balik. Ck. Itu mulu tiap hari!" Sekar berdecak dan memutar mata jengah.Kayden mengangguk puas. "Bagus. Pokoknya kalo lo di-""Bang~" Sekar merengek, "Kalo masih lama mending gue balik tidur lagi."Kayden terkekeh melihat wajah masam gadis itu. "Yaudah sana berangkat. Hati-hati." Kayden menepuk kepala gadis itu sekali lagi."Hati-hati kesayangan abang~" lima orang lelaki di samping Kayden kompak bersuara. Senyum manis terpatri di bibir masing-masing.Sekar membuang muka. Suaranya ketus membalas mereka. "Sekar gak sayang tuh!" Sekar lalu melajukan motornya keluar dari gerbang rumah itu.***Sekar menurunkan laju kendaraannya saat gerbang SMA Garuda sudah berada di depannya. Sekar menghela nafas berat dan mulai memasuki area sekolah itu. Dia mengarahkan motornya ke parkiran khusus sepeda motor.Deg. Sekar merasakan perasaan tidak nyaman saat matanya bersirobok dengan tatapan tajam seseorang. Cowok itu sedang duduk di atas motornya yang terparkir di bawah pohon kedondong yang sudah berbunga.Sekar segera mengalihkan pandangannya dari cowok itu. Matanya lalu berkeliling mencari lahan yang masih kosong untuk motornya."Parkir di sini aja." Cowok itu memperhatikan Sekar yang celingukan ke sana ke mari.Sekar pura-pura tuli. Dia terus melongokkan kepala mencari tempat kosong.Cowok itu berdecak tidak puas. "Di sini aja. Lo gak bisa parkir lagi di lain. Udah penuh semua. Lo liat sendiri, kan?"Sekar menghembuskan nafas berat sebelum mengarahkan motornya ke sebelah motor besar pemuda itu."Kok tumben lo telat datang hari ini?" Suara cowok itu menanyai Sekar.Sekar hanya memandang cowok itu sekilas sebelum menundukkan pandangan. "Thanks." setelah itu Sekar pergi menuju kelasnya di lantai tiga.Shaka menatap punggung gadis itu dan berdecak tidak puas. Dia lalu memperhatikan wajahnya di spion, "masih yang paling ganteng muka gue. Kenapa dia liat gue kayak liat hantu?"***Sekar menarik nafas dalam sebelum memasuki kelasnya yang sudah mulai ramai. Mereka saling melempar canda dengan teman masing-masing. Sekar kembali menghela nafas dan mengepalkan tangannya. Dia melewati meja-meja murid sampai akhirnya berhenti di kursi paling belakang dan duduk di sana. Sekar merasakan beberapa tatapan yang mengarah padanya tapi Sekar mengabaikannya.Dia memasukkan tasnya ke dalam laci dan merebahkan kepalanya ke atas meja dengan lengan kiri sebagai bantal. Sekar lalu memejamkan matanya. Tanpa sadar sebutir cairan bening keluar dari sudut matanya. "Manda, Oci... Gue kangen kalian."Cairan bening itu kembali jatuh dan semakin deras. Sekar menelungkupkan kepalanya dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia tidak ingin ketahuan nangis di kelas.***"Aaa..." Sekar berjengit kaget saat merasakan dingin di sebelah pipinya. Dengan refleks dia memiringkan tubuh.Cowok itu terkekeh. "Bengong aja lo!" Dia menyodorkan sebotol minuman dingin ke depan gadis itu. "Tadi kenapa lo langsung ninggalin gue di parkiran? Padahal gue udah nunggu lo dari lama tau."Sekar melotot melihat wajah di depannya. Kata-kata Kayden tadi pagi langsung berseliweran seperti hantu di kepalanya. 'Jauhi Shaka... Jauhi Shaka....'Sekar tanpa sadar berdiri. Dia meraih buku novel yang teronggok di samping tempatnya duduk tadi Kemudian gadis itu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.Shaka melongo melihat punggung gadis itu yang sudah menghilang di balik tembok. "Muka gue beneran gak ganteng lagi, kah? Kenapa doi liat gue kayak abis liat setan?" Shaka menggeram frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri. "Susah banget narik perhatian lo!"***"Jiahh dianggurin!" Seorang pemuda langsung terdengar begitu Shaka tiba di rooftop sekolah mereka di lantai enam.Shaka mendelik kemudian menghampiri empat orang itu yang tengah bersantai di samping pagar pembatas. Shaka menjauhkan sebelah kaki yang nangkring di atas kursi sebelum duduk di sana. Dia menatap sebuah pintu yang terkunci dari luar di depannya. Satu-satunya ruangan di atap gedung sekolah mereka."Gak ngumpul di sana aja lu, gitaran kek?" Shaka menunjuk ruangan itu dengan dagunya."Kalo di dalem mah gak bisa liat lu ditinggalin cewek." Ricko, yang tadi kakinya disingkirkan Shaka melemparinya dengan kulit kacang."Pertama kali gak sih liat Shaka dianggurin cewek." Vernon terkekeh. Dia merampas bungkus kacang di tangan Ricko.Bara mengangguk semangat yang diikuti Devan. Keempatnya menatap Shaka miris. "Pelet lu kagak manjur-manjur amat ternyata!" Bara terkekeh kemudian mengambil botol minuman dingin di tangan Shaka yang masih tersegel. Dia meminumnya dengan rakus."Setan. Padahal gue juga haus!" Vernon menggeplak kepala Bara.Bara terkekeh. "Lo kalah cepet ... Tapi rasanya biasa aja, cuma jus mangga biasa. Tapi ada aroma-aroma penolak-"Shaka menggeplak kepala Bara yang tengah membaui jus mangganya hingga botol itu tumpah dan sebagian cairan oranye itu membasahi wajah Bara. Bara menatap masam Shaka kemudian menyeka wajahnya dengan tangan.Gantian Shaka yang terkekeh. Dia kemudian menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya menatap ke hamparan rumput hijau taman samping sekolah yang hening.Mata Shaka tertuju pada kursi di bawah pohon yang tadi dia duduki bersama Sekar. Senyumnya tersungging. "Cuma masalah waktu aja. Gak ada sejarahnya gue gak bisa naklukin cewek.""Udah dua minggu lo ngincer tuh cewek. Mana sampe pura-pura ketabrak doi." Ricko terkekeh. "Empat kali." Tambah Devan. Cowok yang dari tadi bungkam itu akhirnya bersuara.Shaka menatapnya sebal. "Calon propesor diem aja!"Bara ngakak. "Devan sekalinya ngomong langsung bongkar aib orang."Vernon mengangguk setuju. "Iya. Padahal gue sama Bara cuma pernah liat dua kali. Yang pertama pas abis upacara. Pak bos sampe kejengkang. Alami bener jatohnya." Vernon tersenyum miring sembari melirik Shaka dengan ekor mata."Yang kedua pas itu kan, ngerapihin bola mau dibalikin ke gudang. Lah tumben-tumbenan dia mau. Biasa juga kita-kita yang disuruh." Tambah Bara."Eh tapi zonk. Cewek incerannya malah minta tolong tante Cecil buat bantu. Lu kagak digrepe si tante kan di gudang?" Timpal Vernon."Rezeki kagak ke mana kata Cecil mah." Ricko terkekeh. Shaka menatap sebal mereka semua."Eh tapi yang dua lagi kapan, Van?" Vernon mencondongkan kepala. Lagaknya sudah seperti ibu-ibu saat mencari gosip terpanas."Pas lagi di perpus-" Ucapan Devan terpotong karena Ricko sudah berdiri dan memeriksa dahi Shaka. "Gak demam. Apa jangan-jangan lo kerasukan arwah kakek gue makanya lo bisa nyasar ke sarangnya orang pinter?" Shaka berdecak dan menjauhkan tangan Ricko. "Kakek lo masih sehat dua-duanya. Lo gue aduin kakek Ali biar disuruh cari duapuluh jangkrik!" Ricko terkekeh dan menggeplak kepala Shaka. "Masih inget aja lo hukuman jaman kita bocah! Kakek yang gue maksud tuh opah Albert Einstein. Kagak tau aja lu gue cucunya. Makanya kepinteran belio nurun ke gue." Ricko mengangkat kerah seragamnya sambil menolehkan kepala bangga. Bara menggeplak kepala Ricko dengan emosi. Padahal dia sudah menyimak dengan serius tadi. "Malu lo sama calon propesor Devan. Orang pinter mah diem-diem, ya Van?" "Orang pinter mah minum to-lak angin." Devan terkekeh. Bara, Shaka, Ricko dan Vernon sontak menggeleng. Detik berikutnya tawa mereka menggema. "Coba lagi. Anda belum beruntung." Shaka menepuk bahu Devan prihati
"Ngagetin aja abang nih!" Sekar memukul bahu John. Jantungnya hampir copot tadi."Lo mau ngerahasiain apa dari Kayden? Lo kalo ketahuan pasti dikelitikin sampe nangis." John mengacungkan telunjuknya. Matanya melotot menakuti."Sekar mau rahasiain kalo kemaren bang Jono pecahin cangkir kesayangan bang Kay diem-diem.""Eh k-kapan? Jangan nuduh sembarangan kalo gak ada bukti.""Tengah malam kemaren, jam 02:45 abang ngapain ngendap-ngendap bawa kresek hitam lewat pintu belakang?"Mata John melotot."Sekar sudah amanin barang buktinya." Sekar berbisik pelan. "Tadinya mau Sekar rahasiain sama Sean, tapi yaudah kalo bang Jono mau semuanya dibongkar. Huh~" Sekar mengibaskan rambutnya sebelum menggandeng Sean masuk."Beneran pecah cangkirnya?" Sean menoleh ke samping. Sekar mengangguk dan melirik Jhon di belakang mereka. "Padahal itu kan cangkir yang bang Kay bawa dari rumahnya. Peninggalan bunda."John mengejar langkah Sekar dan Sean."Adek abang yang paling cantik, tetap kita rahasiain aja ya
Arabella tersenyum puas melihat reaksi Sekar. Dia bersorak riang. "Tuh kan, bener tebakan gue! Gak sia-sia dua minggu ini gue merhatiin lo!" Sekar melongo. Bella terkekeh dan menggeser duduknya lebih dekat. "Awalnya gue heran aja di saat semua murid baru sibuk nyari temen dan bentuk circle masing-masing lo malah narik diri. Padahal ya, lo itu cantik banget, blasteran lagi. Lo tuh gampang banget kalau mau jadi famous meskipun baru kelas sepuluh."'Bahkan ada foto lo di ponsel kakak gue.' bathin Arabella. "Lo jangan aneh-aneh deh. Gue gak kenal siapa itu kak Evelyn yang lo maksud." Sekar menggeleng kemudian bangkit. Arabella langsung menahan lengan Sekar. "Lo gak perlu bohong. Gue liat pas Kak Evelyn narik lo ke gudang belakang kemarin. Meskipun gue gak tau apa yang dia lakuin di sana, tapi itu pasti bukan sesuatu yang baik." Arabella menahan Sekar dan mengajaknya duduk kembali.Sekar menghela nafasnya. Dia kembali duduk di samping Arabella. "Kalaupun itu benar, gue tetep gak bisa tem
Langit sudah hampir gelap saat Sekar kembali ke apartemennya yang sepi. Di sebelah tangannya dia menenteng paperbag dengan logo restoran terkenal. Sekar memasuki apartemennya dengan helaan nafas yang besar dan berat. Tapi dia kemudian tersenyum saat melihat sepatu laki-laki tersimpan di rak sepatunya. Apalagi saat melihat seseorang yang sedang duduk di sofa membelakanginya. Cowok itu sedang fokus dengan layar televisi di depannya yang sedang menyayangkan siaran tinju. Sekar buru-buru melepas sepatunya dan menyimpannya di sebelah sepatu cowok itu. Sekar kemudian berlari dengan kaki telanjangnya dan langsung memeluk cowok itu dari belakang. Cowok itu mengecup lengan yang melingkari pundaknya kemudian menatap Sekar dari samping. "Gimana sekolah hari ini? Kok sore banget pulangnya?""Aaa kangeeen... Bang Kay kenapa gak bilang dulu sih kalau mau ke sini?" Sekar melepas tas di punggungnya juga paperbag nya dan meletakkan ke atas meja. Dia kemudian bergabung menonton tv di sampingnya. Kayd
Sementara itu di tempat yang berbeda, Shaka sedang cengar-cengir menatap deretan angka di layar ponselnya.Dia berdeham sebentar sebelum menyentuh logo telepon berwarna hijau di layar.Shaka tersenyum melihat panggilnya diangkat. Dia buru-buru menempelkan ponselnya ke telinga."Hai." Shaka menyapa dengan suaranya yang paling merdu."..."Wajah Shaka mengeras kemudian segera memutuskan panggilan secara sepihak."Arghhh... Gue harap lo cuma becanda, Kar." Shaka melempar ponselnya ke tengah ranjang Vernon.Vernon, Bara, Ricko dan Devan yang sedang duduk di balkon kamar Vernon melongokkan kepala dari luar."Arghhh Sekaar." Shaka frustrasi. Dia menyugar rambutnya ke belakang kemudian memejamkan mata. Empat sahabat Shaka saling berinteraksi lewat mata. "Pak bos gak abis kesambet setan kamar mandi rumah lo pan?" Bara menundukkan kepala untuk berbisik-bisik di antara mereka. Vernon menggeleng polos."Tumben-tumbenan dia nyebut nama cewek sefrustrasi itu." Celetuk Bara ikut-ikutan. "Biasa dia
"Gak. Soalnya kemaren pak Jarwo udah cerita." Jawab Sekar. Dia terkekeh melihat wajah kesal Sadi. "Eh, itu pesenan Sekar deh kayaknya." Sekar mendekati gerbang saat melihat mamang gopud. Dia berdecak puas saat sudah menerima dua plastik besar pesanannya. Sekar kembali ke pos satpam dan mengeluarkan tiga bungkus bakso ke atas meja. "Buat bapak-bapak." "Aduh neng, jadi ngerepotin." Sadi tersenyum sungkan. "Padahal baru kemarin neng beliin kita rokok mahal, sekarang dikasih makanan gratis pula." "Gak papa. Lagian bukan duit Sekar juga." Sekar terkekeh. "Kalo gitu sampein makasih kita buat pacarnya neng, ya." Ucap Jarwo. "Iya." Sekar terkekeh saja. Dia membayangkan pasti Kayden akan mengamuk kalau Sekar mengaku-ngaku pacarnya. Sekar kemudian pamit pada bapak-bapak itu. °°°°° "Lo dari mana aja? Gue udah keliling-keliling nyari lo tau." Bella mendumel saat melihat Sekar baru saja tiba di taman. Bella sudah lama menunggunya. "Aak!" Sekar bersendawa. Dia mengesampingkan bungkus bening
Sekar membasuh wajahnya berkali-kali untuk meredamkan amarahnya. Kata Kayden, jika sedang marah Sekar harus pergi membasuh muka untuk menenangkan perasaannya."Dia gatau apa-apa. Dia bego. Shaka bego. Shaka ba-jingan." Sekar terus menepuk-nepuk air ke wajahnya. Air matanya sesekali masih merembes. Sekar menggigit bagian dalam bibirnya agar tangisnya tidak pecah."Ibu orang baik." Bibir Sekar bergetar. Bayangan ibunya yang tengah senyum dari tengah laut terlintar di benaknya. Hati Sekar langsung tenggelam hingga ke dasar.Ceklek.Seseorang membuka pintu toilet dari luar. Sekar melihat orang yang masuk dari kaca di depannya. Sekar menatap datar pantulan orang itu dan melihat gadis itu mendekatinya."Gimana rasanya dihina sama cowok paling ganteng di Garuda?" Evelyn berdesis. Gadis itu juga menatap Sekar dari pantulan kaca di depan mereka.Sekar menyunggingkan senyumnya. "Segitunya lo pengen ngejek gue sampai rela buntutin ke toilet." Evelyn berdecak. "Gak usah alihin pembicaraan." Seka
"Arghhh..." Shaka berteriak sambil kembali menghantamkan kepalan tangannya ke samsak tinju. Kakinya sesekali terinjak pecahan beling menimbulkan bunyi keras di ruangan sunyi itu."Bang-sat. Be-go. Be-go." Shaka kembali menghantamkan tinjunya. Kulit tangannya sudah robek dan darah merembes yang sebagian sudah mulai mengering. "Sejak kapan lo berubah brengsek gini, ha! Bajing-an. Bang-sat. Punya mulut dijaga, anj-ing!"Shaka terus meninju ke depan. Semakin dia ingin melupakan kejadian tadi, semakin kata-kata jahatnya berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Apalagi teringat wajah Sekar yang menangis karena kata-kata kasarnya. Shaka merasa begitu brengsek.Dia memang sedikit tersinggung dengan yang dikatakan Sekar, tapi tentu itu bukan salah Sekar. Perempuan mana pun pasti akan merasa risih jika terus didekati apalagi dengan paksaan seperti yang dilakukan Shaka beberapa hari ini. Tidak seharusnya Shaka marah pada gadis itu. "Gue harus apa, nyet!" Shaka menyugar rambutnya frustrasi. Tu
"Masuk!" Kata suara dari dalam. Sekar berdecih dalam hati. Matanya berkilat jijik mendengar suara Brian itu. Dia berjalan santai setelah seorang pemuda membukakan pintu. Begitu masuk mata Sekar langsung melotot melihat sosok di depannya. Matanya berkilat ngeri sesaat. Dia berbalik dan ingin keluar dari ruangan itu tapi seseorang sudah terlebih dahulu menutup pintu dan menguncinya dari luar. Seseorang yang duduk di balik meja menaikkan sudut bibirnya. Dia berjalan menghampiri Sekar. Sekar meneguk ludahnya. Kakinya bergerak mundur tanpa sadar. Pemuda itu berhenti di depan Sekar. Dia menyesap rokok di tangannya dan menghembuskan asapnya tepat ke depan wajah Sekar. Sekar memejamkan matanya dan menahan sekuat tenaga agar tidak kelepasan batuk. "Long time no see, baby girl~" Kata pemuda itu. Sebelah tangannya mengelusi pipi kiri Sekar. Sekar memejamkan matanya dan menolehkan wajahnya k
Ponsel Sekar berdering. Gadis itu merogoh isi tasnya untuk memeriksa ponselnya. Dia tertegun menatap layar ponselnya. "Ilen?" Gumamnya tanpa suara. Keningnya berkerut. Dia menggeleng kemudian mengembalikan ponselnya ke dalam tas setelah menolak panggilan. Belum selesai menyimpan ponselnya, nada dering kembali bergema. Sekar berdecak dan dengan cepat menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar. "Kenapa?" Tanya Sekar ketus. "Kar, tolongin gue. G-gue takut~" "Hah?" Sekar melototkan matanya. Dia menjauhkan ponselnya dari telinga. Matanya sekali lagi memastikan nama penelepon. "Kar, gue takut." Suara Evelyn terdengar lagi. "Len, lo baik-baik aja, kan?" Tanya Sekar cemas. Evelyn menggelengkan kepalanya di seberang sana. "Selametin gue, Kar. G-gue... Hiks. Gue takut." "Len, lo tenang, oke. Lo bisa ceritain semuanya pelan-pelan." "Brian, d-dia nipu gue. S
"Dulu aku merasa kau adalah manusia paling menjijikkan yang rela melakukan apa saja demi harta, tapi ternyata jalang di sampingmu jauh lebih menjijikkan. Kalian pasangan yang cocok." Oda tersenyum sinis. Dia puas karena Dewo terdiam lama di seberangnya tanpa bisa menjawab. "Dan untuk isi catatan sebenarnya aku sudah lupa di mana menyimpannya, yang jelas...." "A-apa?" Dewo menahan nafas. Tangannya berkeringat. "Seandainya suatu hari nanti kau kecelakaan yang sangat parah dan membutuhkan donor darah dari anak-anakmu, maka hanya ada satu anakmu yang bisa melakukannya." Hati Dewo menjadi dingin. "Apa maksud perkataanmu?" Oda tersenyum sinis. "Dewo Maryoto, kau mampu merampok kekayaan tanteku dengan otak pintarmu, apa hal kecil seperti ini saja kau tidak mampu mengartikannya." Oda kemudian menekan logo telepon merah di layar ponselnya. Pemuda itu berdecak jijik se
"Kar~" Shaka langsung bangkit saat melihat Sekar muncul di belokan lantai apartemennya. Hatinya yang tergantung seharian ini akhirnya bisa merasakan kelegaan. Shaka mendekat dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. "Kamu ke mana aja~? Seharian aku ngawatirin kamu. Aku takut kamu kenapa-napa." Tubuh Sekar membeku. Shaka tak menyadari keanehannya. Tangannya mengusap puncak kepala Sekar dengan sayang. "Sayang?" Shaka menundukkan kepalanya hingga wajahnya sejajar dengan Sekar. Sekar mundur ke belakang dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kata-kata orang tua Shaka kemarin terngiang lagi di benaknya. Mata Sekar berembun lagi. "Kar, kamu kenapa?" "A-aku gak papa." Sekar menolehkan wajahnya ke samping saat tangan Shaka hendak menyentuh dagunya. "A-aku capek mau istirahat. Kamu sebaiknya pulang." Sekar mendorong bahu Shaka kemudian segera mem
"Iya, tapi kita kan posisinya juga lagi bolos. Ntar lo bebas mau galakin kalo lo lagi gak bolos. Ini kita sama jatohnya. Kagak malu lo?" Gio mengembalikan spatulanya ke tangan Kayden. "Aduk lagi. Jan lupa tambahin aer dikit." Perintahnya. Gio kemudian mendekati Sekar lagi. Gio menepuk puncak kepala Sekar dua kali sambil mengedipkan sebelah matanya. Sekar mengulum senyumnya. "Seneng, kan, lo sekarang ada yang bela." Kayden melototi Sekar. Sekar berpura-pura tidak melihatnya. "Sekali ini gue gak marah. Tapi besok-besok janji jangan bolos lagi." Kata Kayden lebih lembut. Sekar menganggukkan kepalanya dengan patuh. Setelahnya baru dia berani mendekati Kayden. "Bang Kay masak apa?" Tanyanya manja. "Mie rebus." Kata Kayden. Dia lalu menyerahkan spatula di tangannya. "Bantu adukin." Katanya. Dia lalu mulai memecahkan tujuh butir telur. "Banyaknya~" Sekar membulatkan mulutnya melihat mie di dalam panci
Kayden terkekeh. Dia dengan semangat menunggu bagaimana Gio akan menghadapi Sekar yang curigaan. "Beneran habis putus. Astaga. Kan liat sendiri selama gue dirawat di rumah sakit gak ada yang jenguk gue. Kalo ada pacar kan gak mungkin gue gak dijenguk." Gio mendelik sebal. Sekar terkekeh. "Terus kok kenapa bisa putus?" "Kepo lu!" Gio mengusap wajah Sekar dengan telapak tangannya. "Paling habis diselingkuhin kan lo?" Kayden tersenyum mengejek. Gio bungkam. Hanya matanya yang melirik sinis Kayden. Kayden terbahak-bahak dan memukul pahanya sendiri. "Anji-ng. Beneran habis diselingkuhin?" "Setan lu!" Gio menarik bagian depan rambut Kayden. Bibirnya cemberut. Sekar terkekeh lucu. "Gio jomblo aja juga, biar kayak Sekar sama bang Kay~" Sekar mengh
Mata Kayden berkedut kesal. "Biasa juga gue. Ada lu aja makanya jadi elu." "Ya berarti selama ini pelayanan lu kagak memuaskan. Gitu aja kagak ngarti." "Heh mulut lu!" Kayden melototkan mata. Kemudian adegan jambak menjambak terjadi lagi. Sekar beralih duduk di single sofa. Dia melanjutkan memakan cikinya dan cengengesan melihat kelakuan keduanya. "Kok lo gak misahin gue sama Kayden?" Gio menahan tangan Kayden yang hampir menyentuh rambutnya yang acak-acakan. Dia menatap Sekar tak puas. Begitu juga Kayden. "Abang berantemnya seru. Sekar mau nonton." Sekar memamerkan senyumnya. Mata Gio dan Kayden berkedut kesal. Mereka lalu berpisah dan duduk diam seperti semula. "Sini lagi," Kayden menunjuk tengah-tengah sofa yang kosong. Sekar dengan cemberut kembali duduk di sana.
Sekar sedang duduk di atas permadani dengan berbagai bumbu dapur menghampar di depannya. Di sebelah gadis itu masih menyala laptop yang layarnya menampilkan beragam informasi tentang bumbu-bumbuan beserta gambarnya. "Yang ini pedas!" Sekar menjauhkan butiran kecil berwarna putih di tangannya. Dia baru saja membauinya. Rasa pedas memenuhi rongga hidungnya. "Lagi apa?" Sekar menoleh ke belakang dan langsung tersenyum lebar. "Bang Kay~ Bang Kay datang sama Gio~" Sekar lekas menumpahkan butiran merica di tangannya ke dalam mangkuk. Dia mengibas-ngibaskan tangannya ke ujung kaosnya kemudian mendekati Kayden dan Gio. Senyumannya semakin lebar saja. "Awas robek bibirnya senyum lebar-lebar." Kayden mencubit gemas sebelah pipi Sekar. "Biarin!" Sekar menjulurkan lidahnya. Senyumnya semakin lebar. Dia lalu menyerobot untuk berdiri di tengah-
Sekar menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya." Jawabnya. Shaka tersenyum puas. Dia mengacak gemas pucuk kepala Sekar. "Yaudah kalo gitu aku tinggal dulu, ya." Sekar langsung menaikkan pandangannya menatap Shaka. Shaka tersenyum manis dan meraih tangan Sekar. "Bentar aja. Ini barang bang Mustopa ada yang kebawa sama aku. Dia butuh sekarang." Sekar mengeratkan genggaman tangannya. Dia takut melihat pandangan tidak suka Ratna di belakang punggung Shaka. "Ya. Bentar doang kok. Janji abis itu gak kelayapan ke mana-mana. Lagian kan di rumah ada mama. Kalian bisa masak-masak seru lagi. Bisa belajar masak karedok juga. Itu tuh masakan sunda kesukaan aku. Kamu harus belajar bikin itu. Biar aku tambah tergila-gila sama kamu." Shaka membisikkan kalimat terakhir. "Ya ma, Shaka