Share

Perempuan favorit

Author: minipau
last update Last Updated: 2024-10-12 10:29:14

“Kamu pulang.”

Prasetyo nyaris terjungkal saking terkejutnya, spontan lelaki itu melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul tiga dini hari, seharusnya Natalia sudah tidur sejak tadi.

“Belum tidur?” tanya Prasetyo sembari menutup pintu kamar, tubuhnya terasa lengket. Ia butuh mandi dan menyegarkan tubuh setelah seharian beraktifitas di banyak tempat. “Aku akan mandi dulu.”

Natalia sama sekali tidak menjawab, perempuan itu hanya duduk diam di atas ranjang sembari menatap kosong pada layar televisi yang menampilkan drama dari salah satu stasiun tv ternama.

“Kenapa kalian para perempuan sangat menyukai tontonan penuh drama seperti itu?” tanya Prasetyo begitu keluar dari kamar mandi, tubuh lelaki itu masih setengah basah. lelaki itu hanya melapisi tubuhnya dengan bathrobe berwarna hitam. “Cari penyakit.” Cecar lelaki itu lagi begitu adegan di dalam layar menampilkan tokoh utama perempuan yang terisak begitu mengetahui ternyata suaminya memiliki wanita idaman lain.

“Menurutmu kenapa?” tanya Natalia tanpa mengalihkan tatapan dari layar. “Tentu saja untuk menyadarkan kami apa yang akan terjadi jika bersikap bodoh saat suami kami benar-benar memiliki wanita idaman lain.”

Natalia melirik suaminya begitu lelaki itu tertawa, bagi Prasetyo ucapannya jelas hanya bualan. Lelaki itu sudah sejak awal mengatakan tidak akan pernah bisa setia terhadap pernikahan mereka, sejak awal Prasetyo tidak pernah berjanji bahwa ia adalah satu-satunya.

“Apa dia cukup hebat saat di atas ranjang?” tanya Natalia langsung.

Prasetyo yang sedang menuangkan vodka ke dalam gelas hanya tersenyum miring, lelaki itu jelas tahu apa yang Natalia maksudkan. Tapi sepertinya Prasetyo lebih senang bermain-main dengan perasaan istrinya, alih-alih memberikan jawaban Prasetyo justru melemparkan pertanyaan yang menyebalkan.

“Siapa yang ingin kamu pastikan?” tanya lelaki itu sembari menyesap vodka di dalam gelasnya.

Tangan Natalia terkepal, “Ada berapa perempuan sebenarnya?”

“Perlukah aku mempertemukan kalian?” tanya Prasetyo santai.

Natalia tahu suaminya hanya sedang mempermainkannya, tapi hatinya sudah terlalu panas. Perempuan itu sudah terlalu buta untuk menyadari bahwa bisa saja lelaki itu sedang meledeknya.

“Favoritmu pasti Samantha.”

Alis Prasetyo terangkat seolah bertanya kenapa Natalia berpikir demikian.

“Kamu tidak pernah mengizinkan siapapun menyentuh ponselmu, kamu sendiri yang bilang kalau ponsel adalah barang privasi yang tidak bisa dipegang tanpa izin.” Natalia berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. “Tapi kamu mengizinkan Samantha menyentuhnya, perempuan itu bahkan bisa mengangkat panggilan dariku.”

Prasetyo kembali menuang vodka ke dalam gelas, gestur lelaki itu sangat santai, duduk di single sofa tidak jauh dari ranjang. Gestur santai itu memancing amarah Natalia, perempuan itu merasa Prasetyo tidak terlalu menanggapinya padahal seharusnya lelaki itu meminta maaf atau minimal berjanji akan membiarkan Natalia memiliki akses ke ponselnya juga, sama seperti apa yang lelaki itu berikan kepada Samantha.

“Jadi, apa cukup memuaskan kamu, Mas?” tanya Natalia dengan sinis. “JIka dia memang sehebat itu, kamu yakin hanya kamu satu-satunya lelaki yang menyentuhnya?” Natalia terus mengoceh. “Bagaimana jika saat kamu pergi, perempuan itu mengundang lelaki lain untuk naik ke atas ranjangnya? bagaimana jika-”

Ucapan Natalia terhenti karena tiba-tiba saja, Prasetyo naik ke atas ranjang. Lelaki itu mencengkram rambut Natasha hingga membuat perempuan itu harus mengdongkakkan kepala.

“Samantha bukan perempuan rendahan seperti kamu, Nat. Dia tidak memerlukan lelaki untuk naik ke level kehidupan yang lebih tinggi.” desis Prasetyo tepat di depan wajah Natalia. “Dia bukan kamu.”

Tubuh Natalia gemetar, ia bisa merasakan satu tangan suaminya yang bebas berusaha membuka simpul gaun tidurnya. “Dibandingkan mencemburui Samantha, lebih baik kamu juga berusaha keras agar bisa menjadi perempuan kesayanganku.”

Kepala Prasetyo turun, memberi kecupan ringan pada urat-urat leher Natalia yang menonjol. “Layani aku malam ini dan kita lihat, apakah aku akan mengizinkan kamu membuka ponselku saat sarapan nanti.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Aku bukan pelacur

    Prasetyo menatap tubuh indah yang kehabisan napas di bawah kuasanya, kulit Natalia penuh keringat. Lelaki itu tersenyum senang, selalu ada kepuasan tersendiri ketika ia berhasil menaklukan istrinya setelah pertengkaran mereka. Prasetyo merasa menang, karena masih bisa memiliki perempuan itu meski Natalia membencinya. “Tidak pernah ada tempat untuk kembali, Nat.” Bisik Prasetyo tepat di hadapan bibir Natalia yang bengkak karena ulahnya. “Kamu yang merangkak masuk ke kehidupanku dan ini lah kehidupan yang harus kamu lalui.” “Mas.” Rintih Natalia karena Prasetyo kembali bergerak, padahal baru beberapa saat lalu ia mendapatkan pelepasannya. “Cukup.” Prasetyo menulikan telinga, lelaki itu justru bertindak makin berani dengan mengunci kedua tangan Natalia di atas kepala perempuan tersebut. Hal itu membuat Prasetyo lebih dapat menikmati pemandangan dua bukit kembar Natalia yang semakin tinggi menantang. “Mas.” Rintih Natalia karena pelepasannya kembali datang, di tambah ia juga harus me

    Last Updated : 2024-10-12
  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Lakon drama rumah tangga

    “Jangan ulangi lagi.” Dari ujung matanya Prasetyo mendengar langkah kaki samar yang sangat dikenalnya, Natalia. Bukannya menyudahi panggilan, lelaki itu justru tetap melanjutkan obrolan. Bahkan obrolan tersebut terdengar semakin mesra, Natalia yang hendak memasuki ruang makan memilih untuk menghentikan langkah sembari mencuri dengar. “Datanglah pukul tujuh malam nanti, bar Arman yang baru ini katanya lebih seru.” Kata Prasetyo sembari menghirup aroma kopi hitam kesukaannya. “Oh ayolah, seseru apa pun tempatnya pasti jadi membosankan kalau kamu nggak datang.” Telinga Natalia semakin panas, meski begitu ia tahu bahwa Prasetyo tidak suka di konfrontasi. Apa yang dialaminya malam tadi adalah pelajaran sekaligus peringatan, suaminya tidak suka jika Natalia mencampuri urusannya, terutama tentang Samantha. Dengan kesadaran itu, Natalia mencoba menenangkan diri dan baru setelahnya memasuki ruang makan dengan langkah dan wajah yang tenang seolah-olah tidak terganggu dengan percakapan sua

    Last Updated : 2024-10-12
  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Bersikap abu abu

    Prasetyo sama sekali tidak terkejut begitu melihat Akbar ada di dalam ruang kerjanya pagi ini, mereka sudah bersahabat cukup lama. Bisa dibilang, Akbar dan Arman adalah saksi hidup atas setiap kenakalan yang Prasetyo lakukan semasa remaja bahkan sampai sebelum lelaki itu menikah. “Wajahmu selalu saja muram, Pras.” Akbar berdiri untuk menyambut Prasetyo. “Apa yang kau lakukan sepagi ini di kantor orang lain?” tanya Prasetyo, lelaki itu mengabaikan salam dari Akbar dan langsung menuju meja kerjanya yang sudah diisi oleh tumpukan laporan yang harus diperiksa. “Pergilah, kau membuatku kesal.” Akbar tertawa. “Kalimat macam apa itu. Padahal baru saja kau membujukku untuk datang ke bar Arman yang baru.” Akbar dengan santai duduk di sofa hitam tepat di depan meja kerja Prasetyo. “Oh ayolah, seseru apa pun tempatnya pasti jadi membosankan kalau kamu nggak datang.” Akbar menirukan perkataan Prasetyo sembari menggerakan bibirnya secara berlebihan, lelaki itu sengaja menggoda Prasetyo yang se

    Last Updated : 2024-10-12
  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Pagutan pertama (18+ warning)

    Bertahun-tahun lalu, Prasetyo menghabiskan masa muda dengan penuh kesenangan. Ia memiliki uang, kekuasaan sekaligus perempuan tercantik di kampusnya, Samantha. Hidup Prasetyo lengkap, ia bahkan sudah sangat yakin untuk memilih Samantha sebagai pasangan hidupnya. Sampai perempuan itu mengecewakannya, menghancurkan kehidupan Prasetyo yang sempurna dengan melemparkan kotoran ke wajahnya. Samantha menolak lamaran Prasetyo, tidak cukup sampai di sana perempuan itu bahkan dengan tega mengakhiri hubungan mereka dan memilih untuk mengejar karirnya di New York padahal Prasetyo sudah merendahkan diri dengan memohon agar Samantha tidak meninggalkannya. Lelaki itu bersedia menunggu sebanyak apapun waktu yang perempuan itu butuhkan. Tapi jawaban Samantha tetap sama, lalu hubungan mereka berakhir. Sekarang perempuan itu kembali, terlihat semakin cantik dari sosok Samantha yang Prasetyo ingat terakhir kali. Prasetyo harus terus mengingatkan diri agar tidak terbawa perasaan, karena setelah sekia

    Last Updated : 2024-10-12
  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Tidak sadarkan diri

    Samantha merasa adrenalinnya terpacu begitu Prasetyo membalas ciumannya, lelaki itu bahkan menariknya kian rapat. Lidahnya menyusup, membelai setiap sudut dengan tidak sabaran. Respon yang seperti itu membuat Samantha yakin bahwa ia masih memiliki kesempatan, persetan dengan Nathalia. Jika Prasetyo menginginkannya, maka ia tidak akan mundur, perempuan itu juga akan berdiri di sisi Prasetyo dan memperjuangkan hubungan mereka. “Pras.” Desah Samantha begitu pagutan mereka terlepas, matanya berbinar. Perempuan itu sama sekali tidak menutupi kebahagiaannya. “Aku tahu, Pras. Aku tahu, kamu masih mencintaiku. Aku tahu.” Samantha sangat bersemangat, perempuan itu jelas sangat merasa antusias dengan respon Prasetyo terhadap sentuhannya. “Aku benar kan, Pras. Kamu memang masih mencintaiku, iya kan?” Pagutan pada bibirnya adalah jawaban yang diberikan Prasetyo, Samantha senang. Perempuan itu bahkan kian berani menggerakan tangannya untuk menelusuri otot-otot Prasetyo yang masih terbungkus p

    Last Updated : 2024-10-12
  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Samantha dan Akbar

    Akbar hanya bisa menghela napas, karena sepeninggalan Prasetyo dan Arman, Samantha tidak bisa berhenti menghancurkan barang-barang di apartemennya. Adik sepupunya itu memang memiliki temperamen yang buruk, tapi sebagai orang yang sudah mengurus Samantha sejak kecil mau tidak mau Akbar harus mengakui bahwa ia memang sangat menyayangi Samanta. “Hentikan!” Akbar menahan tahan Samantha yang kembali akan melempar pajangan di atas nakas, pecahan beling dan kaca berserakan di bawah kaki mereka. Akbar tidak ingin Samantha terluka. “Sudah cukup, Samantha.” “Lepas!” Samantha memberontak, emosinya belum selesai. Ia masih tidak terima karena Prasetyo lebih memilih Nathalia dibandingkan dirinya. “Lepas!” teriak Samantha semakin histeris. “Berhenti bersikap seperti penyakitan!” geram Akbar. Samantha berbalik, mata merah menatap Akbar yang tampak lelah. “Dia meninggalkan aku, Akbar. Dia lebih memilih perempuan sialan itu dibandingkan aku!” “Apa yang kamu harapkan?” tanya Akbar, lelaki itu m

    Last Updated : 2024-10-12
  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Terima kasih untuk hari ini

    Arman bergegas bangun dari duduknya begitu melihat Nathalia menggerakan jari-jarinya, beberapa saat yang lalu dokter yang menangani Nathalia datang untuk memeriksa kondisi vital perempuan itu, Prasetyo yang penasaran mengikuti dokter lanjut usia itu ke ruangan prakteknya untuk konsultasi lebih jauh. “Nat.” Panggil Arman pelan, matanya tidak berhenti memperhatikan wajah Nathalia sedangkan tangannya dengan sigap menekan tombol darurat untuk memanggil perawat. “uh, pusing.” “Hey, pelan-pelan saja. Kamu pingsan cukup lama.” Arman mengulurkan tangan untuk menghalangi mata Nathalia dari silaunya lampu kamar perawatan, Arman mengerti bahwa perempuan itu pasti lebih sensitif terhadap cahaya setelah pingsan cukup lama. “Bertahanlah, sebentar lagi. Perawat akan segera datang.” Arman menyampaikan itu semua dengan tenang, suaranya yang lembut membuat Nathalia itu merasa nyaman alih-alih panik karena tiba-tiba saja berada pada kondisi yang asing. Seingatnya, ia sedang membaca di perpustak

    Last Updated : 2024-10-12
  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Asumsi sendiri

    Arman sebetulnya masih ingin tinggal, tapi lelaki itu cukup sadar diri untuk tidak memaksakan kehendaknya. Diantara mereka berdua, Prasetyo lah yang berhak dan berkuasa atas Nathalia. Karena itu, meski harus mengepalkan tangan sampai kuku jarinya memutih, Arman akhirnya mengalah. “Baiklah, kabari aku jika kau masih membutuhkan bantuan.” Kata Arman sembari mengemasi dompet dan jaketnya. “Aku pulang dulu.” Nathalia hanya memberikan senyum tipis sebagai balasan ketika Arman berpamitan kepadanya, tapi senyumnya tidak bertahan lama karena wajah muram suaminya langsung menyambutnya. “Apa harus sampai seperti ini?” tanya Prasetyo datar.“Mas Pras ini ngomongin apa?”Prasetyo bersedekap, menatap Nathalia yang masih pucat dengan wajah muram. Ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya, ada perasaan kesal luar biasa karena akibat kecerobohan istrinya ia harus merelakan satu malam di rumah sakit alih-alih bersenang-senang di klub malam. Prasetyo berkali-kali berperang dengan dirinya sendiri

    Last Updated : 2024-11-29

Latest chapter

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Final Chapter

    Di dalam sebuah kamar hotel yang tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, Nathalia duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat gelas teh hangat yang sudah mulai mendingin. Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya, meski di dalam kepalanya, badai belum juga reda. Kejadian beberapa jam lalu masih terputar jelas dalam ingatannya—bagaimana ia hampir kehilangan nyawa, bagaimana Prasetyo dan Arman akhirnya menghadapi dalang yang selama ini mengatur segalanya dari balik bayang-bayang.Dan kini, Prasetyo ada di ruangan yang sama dengannya. Duduk di kursi dekat jendela, diam, hanya menatap keluar seakan mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan.Hening di antara mereka terasa begitu tegang, tetapi berbeda dari biasanya. Dulu, keheningan seperti ini muncul karena ketidaksukaan Prasetyo terhadapnya, karena dinginnya sikap pria itu yang selalu menempatkan dirinya seolah Nathalia tidak berarti apa-apa. Namun kini, ada ketegangan yang berbeda—sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit, dan lebih

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Rekonsiliasi

    Di dalam sebuah kamar hotel yang tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, Nathalia duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat gelas teh hangat yang sudah mulai mendingin. Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya, meski di dalam kepalanya, badai belum juga reda. Kejadian beberapa jam lalu masih terputar jelas dalam ingatannya—bagaimana ia hampir kehilangan nyawa, bagaimana Prasetyo dan Arman akhirnya menghadapi dalang yang selama ini mengatur segalanya dari balik bayang-bayang.Dan kini, Prasetyo ada di ruangan yang sama dengannya. Duduk di kursi dekat jendela, diam, hanya menatap keluar seakan mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan.Hening di antara mereka terasa begitu tegang, tetapi berbeda dari biasanya. Dulu, keheningan seperti ini muncul karena ketidaksukaan Prasetyo terhadapnya, karena dinginnya sikap pria itu yang selalu menempatkan dirinya seolah Nathalia tidak berarti apa-apa. Namun kini, ada ketegangan yang berbeda—sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit, dan lebih

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Fear adn tears

    Di dalam mobil yang melaju cepat, Prasetyo menatap Arman dengan tajam. Napasnya berat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Kebenaran yang baru saja diucapkan Arman masih menggema di kepalanya.“Aku mengkhianatimu,” ulang Arman, kali ini dengan suara lebih mantap. “Aku yang memberi informasi tentangmu kepada mereka.”Prasetyo mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak melayangkan pukulan ke wajah pria di sebelahnya. Namun, bukan itu yang paling mengusiknya—melainkan kata ‘mereka’ yang diucapkan Arman.“Siapa ‘mereka’?”Arman mengalihkan pandangannya keluar jendela, lalu menghela napas. “Orang yang ingin kau lenyap dari garis keturunan Rahardjo. Mereka tidak mau kau kembali dan mengambil hak warismu.”Dira dan Rendra bertukar pandang. Sejak awal, mereka merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perebutan harta dalam kasus ini.“Apa ini ada hubungannya dengan keluargamu, Pras?” tanya Dira.Prasetyo mengangguk. “Aku meninggalkan semuanya bertahun-tahun lalu. Aku tidak peduli

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Bersatu kembali

    Di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota, Nathalia duduk di dekat jendela, menatap layar ponselnya dengan gelisah. Sudah lebih dari enam jam sejak terakhir kali Prasetyo mengirim pesan. Ia tahu pekerjaan suaminya penuh risiko, sering kali membuatnya terjaga semalaman. Tapi kali ini, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang lebih berbahaya dari sebelumnya.Ponselnya bergetar, membuatnya tersentak. Dengan cepat, ia meraihnya, berharap ada kabar dari Prasetyo. Namun, pesan yang muncul justru dari nomor tidak dikenal:"Dia dalam bahaya. Jika kau ingin menyelamatkannya, bersiaplah."Nathalia merasakan jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar saat membaca pesan itu berulang kali, mencoba mencari makna tersembunyi di baliknya. Ia ingin mengabaikannya, berpikir mungkin ini hanya trik seseorang yang ingin mempermainkannya. Namun, instingnya berkata lain.Ia mencoba menghubungi Prasetyo, tapi tak ada jawaban. Makin gelisah, Nathalia berdiri dan melangkah ke meja kec

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Genctatan senjata

    Prasetyo, Rendra, dan Dira duduk di dalam ruangan sempit dengan dinding bata yang mulai lapuk. Lampu redup dari ponsel mereka menjadi satu-satunya penerangan. Napas mereka masih tersengal setelah pelarian tadi."Apa yang kita dapatkan?" tanya Prasetyo, mencoba menenangkan diri.Dira menatap layar ponselnya dengan saksama. "File ini... sepertinya bukan hanya dokumen biasa. Ada video dan beberapa catatan transaksi mencurigakan. Ini bukan hanya tentang kita. Ini lebih besar dari yang kita kira."Rendra meremas rambutnya dengan frustrasi. "Sial. Ini bisa berarti kita mengejar sesuatu yang jauh lebih berbahaya."Sebelum mereka bisa membahas lebih lanjut, suara deru mobil mendekat. Prasetyo segera mematikan lampu ponselnya, memberi isyarat pada yang lain untuk diam. Mereka mengintip dari celah jendela yang tertutup tirai usang.Di luar, sebuah sedan hitam berhenti. Arman keluar dari dalam mobil, tangannya mengepal erat. Matanya menatap lurus ke arah bangunan tempat mereka bersembunyi."Arma

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Simpang jalan

    Prasetyo dan Rendra berjalan cepat di dalam terowongan sempit yang lembap. Cahaya remang-remang dari ponsel mereka menjadi satu-satunya sumber penerangan. Langkah kaki mereka menggema, menciptakan suasana yang semakin mencekam."Kita harus keluar dari sini secepatnya," bisik Rendra, suaranya terdengar tegang."Aku tahu. Tapi kita juga harus memastikan Dira bisa lolos," jawab Prasetyo, matanya terus mencari jalan keluar di ujung terowongan.Sementara itu, di dalam gudang, Dira terus mengetik dengan cepat, mencari celah dalam enkripsi flash drive tersebut. Wajahnya menegang saat mendengar suara pintu didobrak. Beberapa pria bersenjata masuk dengan langkah waspada."Di mana mereka?" bentak pria berkacamata hitam yang memimpin kelompok itu.Dira tetap tenang, meski jantungnya berdebar kencang. Ia berpura-pura tidak tahu apa-apa, mengangkat tangan seolah menyerah. "Aku sendirian. Mereka meninggalkan aku begitu saja."Pria berkacamata hitam itu menyipitkan mata, seakan menilai apakah Dira b

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Berakhirnya permainan

    Angin malam semakin menusuk saat Prasetyo dan Rendra menyusuri trotoar menuju lokasi yang disebutkan Dira. Jalanan lengang, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas, serta suara gemerisik daun yang tertiup angin. Keduanya berjalan dengan waspada, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan mereka tidak diikuti."Tempat biasa itu di mana?" tanya Rendra, suaranya sedikit bergetar."Gudang tua di belakang stasiun. Dira sering pakai tempat itu untuk urusan yang nggak mau dilihat banyak orang," jawab Prasetyo dengan nada rendah."Apa kita nggak masuk perangkap?"Prasetyo terdiam sejenak, tapi kemudian menggeleng. "Dira bukan tipe yang berkhianat. Kalau dia setuju untuk ketemu, berarti dia benar-benar mau membantu."Mereka tiba di sebuah gang sempit yang berujung pada bangunan tua dengan dinding kusam. Cahaya lampu neon di atas pintu berkedip lemah. Prasetyo mengetuk pintu besi tiga kali, lalu hening. Tak lama, suara gerendel terdengar, dan pintu terbuka sedikit."Masuk cepat," suara pe

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   Berburu

    Hembusan angin malam terasa dingin saat Prasetyo dan Rendra menyusuri gang sempit, napas mereka masih tersengal setelah pelarian mendebarkan dari gudang. Lampu jalan yang temaram hanya memberikan sedikit penerangan, bayangan mereka memanjang di aspal yang basah."Kita harus cari tempat berlindung," ujar Rendra, suaranya rendah namun tegas.Prasetyo mengangguk. Mereka berdua tahu bahwa pria berkacamata hitam tidak akan menyerah begitu saja. Flash drive yang mereka bawa terlalu berharga, berisi sesuatu yang jelas ingin disembunyikan oleh pihak yang mengejar mereka.Mereka terus berlari, menyelinap di antara gang-gang gelap, sebelum akhirnya tiba di sebuah warung kopi 24 jam yang tampak sepi. Prasetyo mendorong pintu kaca, dan lonceng kecil berdenting pelan. Seorang pria paruh baya di balik meja kasir melirik mereka sekilas sebelum kembali menatap layar ponselnya.Mereka memilih meja di sudut ruangan, tempat di mana mereka bisa mengawasi pintu masuk dan keluar."Kita perlu tahu apa isi f

  • Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal   pertarungan

    SUV hitam itu berhenti tanpa suara, tapi Prasetyo dan Rendra tahu bahwa ancaman yang ada di dalamnya lebih berisik daripada yang terlihat. Pintu depan mobil terbuka, dan seorang pria berkacamata hitam melangkah keluar dengan tenang. Dari cara berjalannya, ia jelas bukan orang biasa."Mereka tidak akan menunggu lama sebelum masuk," bisik Rendra sambil merapat ke dinding.Prasetyo mengamati sekeliling, mencari kemungkinan jalan keluar lain. Gudang ini hanya memiliki satu pintu utama dan beberapa jendela kecil yang terlalu tinggi untuk dilalui dengan cepat. Jika mereka bertahan di sini, pertarungan tak terhindarkan.Suara pintu mobil lain terbuka. Dua pria berbadan besar keluar, masing-masing membawa sesuatu di balik jaket mereka. Prasetyo dan Rendra tidak perlu menunggu untuk tahu bahwa itu bukan sesuatu yang ramah."Kita harus ambil inisiatif duluan," bisik Prasetyo.Rendra mengangguk. "Aku akan ke sisi kiri, buat pengalihan. Begitu mereka masuk, kita buat mereka sibuk."Langkah kaki s

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status