"Bagaimana, dok?" tanya Carla sambil menekan perutnya yang masih terasa nyeri dan mual. "Apa semakin parah?""Bu Carla, sepertinya ibu harus kembali diendoskopi. Saya merasa tak yakin, tapi ini seperti gejala kelainan pada usus bagian dalam. Sebaiknya dilakukan endoskopi untuk pemeriksaan lebih lanjut," saran dokter Sinta."Baiklah, dok. Ada obat yang harus saya minum untuk sementara?""Nanti saya resepkan. Sebaiknya ibu hindari makanan dengan rasa ekstrim, asap rokok dan stress. Saya khawatir asam lambung bereaksi karena ibu sedang dilanda kecemasan," lanjut dokter Sinta yang diangguki oleh Carla."Saya mengerti, dok. Terima kasih atas sarannya."Setelah dokter pergi, Carla beristirahat di ruangan kecil yang disediakan kantor untuk karyawan yang kurang sehat. Ditemani Fira, ia memejamkan matanya sambil terus menahan rasa mualnya."Bu, saya beres-beres ruangan kerja dulu. Saya panggilan supir kantor untuk mengantar ibu pulang ya?" Carla yang masih lemas mengangguk. Niatnya yang akan p
Carla menatap tak percaya dengan lembaran surat yang didapatkannya dari dokter Arnold tadi. Bagaimana bisa dirinya didiagnosa dengan dua penyakit yang berseberangan hasilnya?Ada sedikit keraguan diantara diagnosa salah satu dokter. Namun yang membuat dirinya bingung, kedua penyakit itu sering mengintai kesehatannya selama ini.Carla pernah mengalami penyakit asam lambung dan sekitar dua tahun lalu juga didiagnosa ada kelainan dalam rahimnya.Tengah ia bergelut dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Al datang membuyarkan lamunannya. Carla yang sedang duduk termenung di depan taman rumah sakit menoleh sambil menyerahkan lembaran surat dari dokter Arnold."Menurutmu bagaimana? Dokter kantor bilang ada masalah pencernaan, dokter Arnold bilang masalah di rahim." Carla kembali menoleh lalu menunduk sambil memainkan jarinya. "Hidup aku kenapa buruk sekali ya? Aku bahkan tidak mampu untuk menangisinya. Saking terlalu seringnya kesedihan datang.""Carla, tak ada kesedihan yang tak berujung. Sem
"Carla!"Abi keluar dari dalam kamar mandi setelah mendengar suara keributan dari luar. Tatapannya tertuju pada Carla dan Risya yang saling menunjuk satu sama lain lewat mata mereka. Carla memicing, seperti hendak menerkam Risya. Sedangkan Risya menggeletukkan giginya menahan kesal yang tertahan."Ada apa ini?" Abi mendorong Carla, memisahkan kedua istrinya. Walau tak akan mungkin Carla akan menyerang Risya, tapi tetap saja segala kemungkinan akan terjadi. "Carla, biarkan aku bicara. Kita hanya perlu berkomunikasi dengan baik. Aku tak tahu apa salahku. Selama ini aku bebaskan kamu bertindak sesukamu di luar sana. Apa itu masih kurang untukmu?""Kamu menanyakan hal itu padaku yang memang sudah mandiri sejak dulu?" Carla meninggikan suaranya. "Ada atau tidaknya pernikahan kita, tidak ada hubungannya dengan keseharianku.""Apa maksudmu? Apa aku salah jika menegur sikapmu?""Tidak, tidak salah. Aku yang salah karena terjebak dengan pernikahan tidak jelas denganmu," ujar Carla dengan nada
Rasa sakit itu semakin menjadi. Carla yang mencoba bertahan akhirnya goyah juga. Dengan paksaan dari Al, ia kembali memasuki ruang IGD rumah sakit. Wajahnya pucat, tangannya gemetar menahan sakit. Saat mata Carla terpejam, air mata merembes melalui sudut matanya. Pipinya yang halus tersamarkan tetesan air mata itu."Al, apa yang terjadi pada Carla? Kenapa dia sakit lagi?" tanya Vian yang baru saja sampai. Vian ketakutan saat mendengar Carla jatuh sakit seperti empat bulan lalu. Ia takut kehilangan Carla sebelum sempat memilikinya."Dia sebenarnya sudah mulai sakit sejak tiga hari lalu sepulang kerja. Kata orang kantor, begitu Carla keluar dari ruang rapat, dia sempat dibawa ke klinik kesehatan. Ada yang tak beres dengan perutnya," ujar Al panjang lebar.Vian mengusap dagunya. Ia teringat, tiga hari yang lalu dirinya bertemu dengan Carla di pabrik. Setelah itu, dia kembali ke kantor tapi Carla tidak menunjukkan gejala sakit apapun."Aku bertemu Carla di pabrik lalu diantarkan ke kantor
Setelah Al pergi dari ruangannya, Abi merasakan sesuatu yang dingin merambat ke dalam jantungnya secara perlahan. Tenang tapi menyakitkan. Rasanya, sesuatu itu tak akan bisa membuat hidupnya menjadi tenang sekarang. Seluruh rasa bersalahnya menumpuk hingga timbul kegelisahan.'Tidak, tidak boleh seperti ini.'Ting!Suara dentingan ponselnya mengalihkan sejenak lamunannya tadi.[Jangan lupa ya, mas. Minggu ini ada acara empat bulan kandunganku. Acaranya di rumah ibuku. Aku bawakan pakaian untukmu juga, nanti langsung ke sini ya.]Pesan itu dari Risya.Tadi pagi sebelum ia berangkat kerja, Risya mengatakan akan pulang ke rumah orangtuanya minggu ini. Ada acara malam sabtu nanti dan ia diwajibkan datang karena ini malam sakral bagi keluarga mereka.Menurut keluarga besar Risya, anak satu-satunya yang hendak memiliki anak harus diperlakukan layaknya ratu di rumah. Mereka harus memberikan segalanya untuknya. Risya menghendaki pesta meriah, maka mereka akan mewujudkannya. Tak peduli dapat u
Kesya datang menjelang sore hari. Tadi dirinya sempat datang ke kantor Carla untuk bertemu dengan Al. Sepupu Carla itu menunjukkan beberapa bukti dokumen yang menunjukkan aset milik Carla yang tersimpan rapi di ruangannya. Selama ini, yang menjaga itu semua adalah Al. Karena Carla sangat percaya kakak sepupunya itu adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya."Loh, mas Al datang sama Kesya? Cocok sekali ya." dua orang yang baru saja muncul dari balik pintu saling menatap satu sama lain. Pipi Kesya memerah tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya."Kebetulan ketemu di bawah. Kesya datang sama Adam," kilah Al yang juga malu.Adam yang baru saja masuk bersama pak Ujang langsung menghambur ke pelukan Carla. Ia naik ke atas ranjang tempat ibunya dirawat lalu memeluknya erat. Carla mengusap lembut rambut Adam, tak lupa mencium pucuk kepalanya."Maafkan mama ya sayang. Mulai sekarang, Adam sama mama tinggal dirumah eyang. Adam tidak tinggal lagi di rumah papa." Adam mengangguk pelan. Ia m
Carla menghilang. Sudah hampir seminggu ini tak ada kabar darinya. Di kantor pun tidak ada, terlebih di rumah ibunya. Abi sempat mengunjungi rumah besar dan mewah itu tapi kosong. Asistennya mengatakan jika mertuanya itu sedang pergi ke luar kota. Sama sekali tak ada siapapun di rumahnya.Tak hanya itu juga, ia sempat mendatangi rumah Al sepupunya dan hasilnya sama seperti yang dikatakan asisten mertuanya.'Pergi kemana mereka?'Sabtu minggu ini akan ada pesta kecil di rumah mertua Abi yang lain. Ia ingin pesta itu dihadiri oleh Carla dan keluarganya. Ia juga ingin berbaikan dengan Adam yang sampai saat ini sulit untuk ditemui.Kemarin ia mencoba datang ke sekolahnya, tapi anaknya itu dengan cepat masuk ke dalam mobil Carla. Abi ingin mengikutinya, kalau saja Risya tak menghubunginya hanya untuk meminta transferan uang lagi.Huft.Abi melepaskan lelah dan penatnya di atas ranjang. Tak ada Carla, tak ada Risya dan tak ada Adam malam ini. Besok, ia akan menginap di rumah mertuanya. Jadi
"Selamat ulang tahun, Adam."Kalimat itu meluncur dari bibir Carla setelah acara di resto itu selesai. Adam memeluk tubuh ibunya dengan erat. Selang infusnya masih tertancap di tangan kanannya, membuat pergerakan Carla tak leluasa membalas pelukan anaknya."Mama cepat sehat ya. Adam takut kehilangan mama."Adam pun turun dari ranjang Carla lalu duduk di kursi sebelahnya. Tangannya masih menggenggam erat ujung jari Carla yang terlihat rapuh. Mata sayu dan rambut berantakannya semakin membuat Adam sedih. Ini kedua kalinya bocah kecil itu bersedih melihat ibunya yang menderita."Carla, kata dokter sore ini kamu harus dicek kembali untuk memastikan kemungkinan kista di rahim kamu itu masih ada atau tidak," ujar Al yang diangguki oleh Carla.Carla pernah didiagnosa memiliki kista di rahimnya sekitar dua tahun lalu. Menurut dokter, tidak masalah karena ukurannya masih dalam batas wajar dan dapat disembuhkan. Namun ternyata kista itu s
Epilog: Tak ada yang tahu bagaimana takdir berjalan. Tak ada yang tahu juga bagaimana sebuah cinta akan berakhir dengan seseorang yang dicintai atau tidak. Carla telah jatuh dan bangkit karena cinta, kini hidupnya akan kembali disatukan dengan sebuah cinta. Satu bulan setelah perceraian Abi dan Risya, kabar duka datang dari Carla yang kehilangan suami tercintanya. Setelah berjuang melawan penyakit paru-paru yang telah menggerogotinya selama lima tahun, Vian pun menyerah. Ia meninggalkan seorang anak dan istri yang masih mencintainya. Carla kira, dirinya yang akan pergi lebih dulu. Mengingat penyakitnya yang tak mungkin bisa diselamatkan lagi. Ternyata tuhan masih memberikan umur panjang padanya. Setelah tiga bulan resmi menyendiri, sebuah lamaran datang kembali padanya. Kali ini, ia kembali pada cinta sejatinya yang tak mungkin bisa dilupakan. "Mama cantik sekali," puji Adam yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar rias calon ibunya. Carla memeluk anak pertamanya itu dengan erat. "Ter
Sidang putusan pengadilan akhirnya memutuskan perceraian antara Risya dan Abi. Mereka resmi berpisah dengan dikabulkannya tuntutan yang dilayangkan oleh Abi pada Risya. Perselingkuhan itu terbukti dilakukan dengan sadar dan atas kemauan mereka berdua. Risya sempat pingsan saat pembacaan putusan, walau tak lama kemudian ia sadar lalu menangis meraung-raung memikirkan nasibnya setelah ini. Abi tersenyum pedih melihat surat keputusan cerai yang telah diterimanya. Ini adalah surat ketiga yang dimilikinya. Ia tak lagi sanggup menangis, karena ini terlalu pedih. "Pa, makam mama apakah ada yang menjaganya?" Abi menoleh pada anaknya yang tengah mengemudi di sampingnya. Tak lama kemudian, ia mengangguk. "Adam kangen sama mama Winda." "Papa juga. Andai waktu itu papa tidak terburu-buru menceraikan dia dan pergi begitu saja dari sisinya. Pasti kita akan jadi keluarga yang bahagia saat ini. Maafkan papa, Adam. Papa salah dan berdosa padamu dan juga mama Winda." Abi mengusap air mata yang menga
"Itu adalah anakku, aku adalah ayahnya." Suara itu menggema memecah keramaian drama yang baru saja ditunjukkan oleh Risya di depan hakim persidangan. Semua orang menatap heran pria yang baru saja masuk ke dalam ruang sidang. Risya yang tadi menangis tersedu-sedu kini hanya bisa diam. Isi kepalanya ikut menghilang seperti air mendidih yang menguap. "Dia adalah anak saya pak hakim," tunjuk Sandy, pria yang tadi memasuki ruang sidang. "Itu bohong, pak. Saya hanya melakukan itu dengan suami saya!" bantah Risya. Sandy menyeringai. "Apa perlu aku putar video mesra kita saat menghabiskan malam romantis dan panas berdua?" Huuu Terdengar suara gaduh dari saksi yang mendengar ancaman dari Sandy. Semua orang kini memandang jijik dua orang yang tengah berdebat di depan hakim persidangan. "K-kamu yang jebak aku!" "Kau—" Belum selesai Sandy bicara, hakim mengetuk palunya. "Sidang ditunda minggu dep
Mantan ibu mertuanya duduk dengan nyaman di sofa rumah Abi setelah menunggu lebih dari dua jam kepulangannya. Abi memang sengaja pulang sedikit terlambat tadi. Ia menyempatkan mengajak kedua anaknya berjalan-jalan di pasar malam melihat pertunjukan lalu makan malam sejenak dan akhirnya pulang. Abi tak mengira, mantan ibu mertuanya akan datang dan menunggunya hingga selarut ini. Lebih mengherankan lagi, mata wanita paruh baya itu terlihat sembab dan lelah. Apa yang sebenarnya akan dia katakan hingga mengorbankan waktu istirahatnya? "Ibu ke sini diantar siapa?" tanya Abi sekedar berbasa-basi. Ibu Risya tersenyum getir. Ia menarik napas panjangnya lalu menunduk sejenak. "Tadi, ibu datang bersama menantu ibu yang kebetulan akan berangkat kerja." ibu Risya menggeser posisi duduknya, sedikit mendekat pada Abi yang terdiam di tempatnya. "Kedatangan ibu ke sini, hanya ingin mengatakan sesuatu. Semoga ini akan menjadi pertimbangan dirimu untuk membatalkan rencana perceraian besok." Abi me
Hoeekk hoekkk Risya terbangun dengan kepala pening dan perut yang mual sejak matanya terbuka. Hampir setengah jam ia berjalan mondar-mandir memasuki kamar mandi hanya untuk menuntaskan rasa mualnya. Tak ada sisa makanan yang ke luar, hanya cairan bening yang meluncur dari mulutnya. "Kamu hamil?" suara sang ibu terdengar dari balik pintu kamar mandi. Tangan wanita paruh baya itu menyilang di dadanya. "Anak siapa?" Dengan kaki gemetar, Risya membalikkan tubuhnya menghadap ibunya. Ibu Risya, terkenal keras sejak dulu. Ia memang menyayangi Risya dan sering memanjakannya. Namun jika anaknya itu melakukan kesalahan, ia tak segan untuk berbuat kejam. "Kamu tuli?" bentak ibu Risya. Suara menggelegar itu membuat Risya ketakutan. "Jawab!" "I-iya. I-ini anak mas Abi," jawab Risya gemetar. Tangannya berpegangan pada sisi wastafel agar tak jatuh. Kemarin, sesudah semua orang rumah pergi, Risya diam-diam pergi membeli alat tes kehamilan di apotek. Ia mulai merasakan hal yang tak beres dengan
Dua minggu sudah Risya dikembalikan ke rumah orang tuanya, dua minggu pula Abi merasakan kedamaian di rumahnya. Berkali-kali mantan ibu mertuanya mencoba menghubungi Abi untuk membatalkan perceraian, berkali-kali pula Abi menolaknya. Abi tak ingin luluh lagi dalam jeratan rayuan Risya seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Pria yang sebentar lagi menyandang status duda untuk keempat kalinya itu termenung di pinggir ranjang. Di tangannya, ada selembar surat undangan dari pengadilan untuk sidang cerainya pertama kali. Besok, akan jadi penentuan baginya untuk hidupnya yang baru. Pintu kamar pun terbuka, Adam dan Fariska yang hari ini tengah libur masuk ke dalam kamar milik ayahnya. Abi tersenyum melihat keduanya. "Pa, hari ini kita ke kantor papa ya? Aku lagi enggak ada kelas, Ika lagi rapat guru-gurunya. Boleh kan?" tanya Adam yang dibalas anggukan oleh Abi. "Kalau gitu, Adam sama Ika tunggu di bawah." "Iya. Papa nanti nyusul. Kalian sarapan saja dulu." Kedua anak Abi itu segera
Abi benar-benar telah matang dalam mengambil keputusan untuk bercerai dengan Risya, istrinya. Di dalam kepalanya, tak ada lagi kesempatan kedua untuk mempertahankan rumah tangga. Abi sudah muak dengan segala macam drama yang telah Risya buat. Walaupun dengan penolakan tak rela dari Risya, tetap saja Abi bersikeras untuk menceraikannya. Baginya, perselingkuhan adalah kehinaan dalam sebuah hubungan. "Turun!" perintah Abi yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Risya. "Jangan sampai aku bertindak kasar padamu!" tegas Abi. Pria itu membuka pintu samping lalu menarik Risya ke luar. Risya terus memberontak bahkan tak segan memukul lengan Abi dengan keras. Abi tak peduli, ia tetap menarik Risya setelah berhasil menurunkan dua koper besar milik wanita itu. "Mas, aku enggak mau pulang ke sini!" rengek Risya. Tak peduli dengan rengekan Risya, Abi tetap menyeret koper milik Risya. Mendengar kegaduhan yang ada di depan rumah, ibu mertua Abi segera berlari menemui asal suara. Karena sayup-say
Risya tak terima dengan keputusan yang diambil oleh Abi. Ia terus meraung-raung tak jelas di depan kamar suaminya. Suaranya baru berhenti menjelang pagi. Rupanya, ia tertidur di depan pintu kamar dengan tubuh tengkurap mencium lantai. Abi sama sekali tak terenyuh dengan pemandangan di depannya. Tanpa menoleh sama sekali, ia pergi sambil melangkahi seonggok tubuh yang tengah tertidur itu. Mendengar suara tawa yang cukup keras dari lantai bawah, Risya terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap lalu perlahan terbuka. Tubuhnya sakit, ia melenguh. Rasanya seperti tertimpa ribuan ton besi. "Pa, hari ini aku mau ajak Ika ke rumah Jihan. Boleh kan?" ujar Adam meminta izin pada ayahnya. Abi mengangguk. Kedua anaknya cukup sering menghabiskan waktu di rumah sahabatnya, tak ada alasan untuk menolaknya. "Soalnya, Fariska mau main sama dedek Ragil. Iya kan?" "Ih, kakak. Kenapa dikasih tahu ke papa?" bibir Fariska mengerucut lucu, pipinya menggembung tanda ia marah pada kakaknya. Adam
Adam meremat tangannya, hatinya gusar dan bingung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Sejak kejadian di dalam mobil itu. Tidur malam Adam pun tak pernah tenang. Wajah biadab itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya tiap detik. Adam terus menimbang-nimbang apakah dirinya akan mengungkapkan semuanya pada sang ayah atau tidak. Setiap kali melihat wajah lelah ayahnya, Adam jadi tak tega mengungkapkan. Namun jika mengingat perlakuan buruk ibu tirinya, hatinya memanas. Ia tak rela jika ayahnya dikhianati dengan cara kejam di belakangnya. "Pa," panggil Adam dengan suara pelan. Abi menoleh dengan senyuman manisnya. Menepuk pinggiran sofa lalu melambaikan tangan mengajak Adam untuk duduk di sebelahnya. "Pa, Adam—" Abi melihat raut wajah keseriusan di mata Adam. Sudut hatinya yang peka mengatakan jika anaknya itu membutuhkan bantuan. "Ada apa, nak? Ada yang ingin kamu sampaikan?" Suara lembut ani menggoyahkan keinginan Adam untuk mengungkapkan sebuah rahasia. Pria muda itu menarik napas p