Setelah Al pergi dari ruangannya, Abi merasakan sesuatu yang dingin merambat ke dalam jantungnya secara perlahan. Tenang tapi menyakitkan. Rasanya, sesuatu itu tak akan bisa membuat hidupnya menjadi tenang sekarang. Seluruh rasa bersalahnya menumpuk hingga timbul kegelisahan.'Tidak, tidak boleh seperti ini.'Ting!Suara dentingan ponselnya mengalihkan sejenak lamunannya tadi.[Jangan lupa ya, mas. Minggu ini ada acara empat bulan kandunganku. Acaranya di rumah ibuku. Aku bawakan pakaian untukmu juga, nanti langsung ke sini ya.]Pesan itu dari Risya.Tadi pagi sebelum ia berangkat kerja, Risya mengatakan akan pulang ke rumah orangtuanya minggu ini. Ada acara malam sabtu nanti dan ia diwajibkan datang karena ini malam sakral bagi keluarga mereka.Menurut keluarga besar Risya, anak satu-satunya yang hendak memiliki anak harus diperlakukan layaknya ratu di rumah. Mereka harus memberikan segalanya untuknya. Risya menghendaki pesta meriah, maka mereka akan mewujudkannya. Tak peduli dapat u
Kesya datang menjelang sore hari. Tadi dirinya sempat datang ke kantor Carla untuk bertemu dengan Al. Sepupu Carla itu menunjukkan beberapa bukti dokumen yang menunjukkan aset milik Carla yang tersimpan rapi di ruangannya. Selama ini, yang menjaga itu semua adalah Al. Karena Carla sangat percaya kakak sepupunya itu adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya."Loh, mas Al datang sama Kesya? Cocok sekali ya." dua orang yang baru saja muncul dari balik pintu saling menatap satu sama lain. Pipi Kesya memerah tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya."Kebetulan ketemu di bawah. Kesya datang sama Adam," kilah Al yang juga malu.Adam yang baru saja masuk bersama pak Ujang langsung menghambur ke pelukan Carla. Ia naik ke atas ranjang tempat ibunya dirawat lalu memeluknya erat. Carla mengusap lembut rambut Adam, tak lupa mencium pucuk kepalanya."Maafkan mama ya sayang. Mulai sekarang, Adam sama mama tinggal dirumah eyang. Adam tidak tinggal lagi di rumah papa." Adam mengangguk pelan. Ia m
Carla menghilang. Sudah hampir seminggu ini tak ada kabar darinya. Di kantor pun tidak ada, terlebih di rumah ibunya. Abi sempat mengunjungi rumah besar dan mewah itu tapi kosong. Asistennya mengatakan jika mertuanya itu sedang pergi ke luar kota. Sama sekali tak ada siapapun di rumahnya.Tak hanya itu juga, ia sempat mendatangi rumah Al sepupunya dan hasilnya sama seperti yang dikatakan asisten mertuanya.'Pergi kemana mereka?'Sabtu minggu ini akan ada pesta kecil di rumah mertua Abi yang lain. Ia ingin pesta itu dihadiri oleh Carla dan keluarganya. Ia juga ingin berbaikan dengan Adam yang sampai saat ini sulit untuk ditemui.Kemarin ia mencoba datang ke sekolahnya, tapi anaknya itu dengan cepat masuk ke dalam mobil Carla. Abi ingin mengikutinya, kalau saja Risya tak menghubunginya hanya untuk meminta transferan uang lagi.Huft.Abi melepaskan lelah dan penatnya di atas ranjang. Tak ada Carla, tak ada Risya dan tak ada Adam malam ini. Besok, ia akan menginap di rumah mertuanya. Jadi
"Selamat ulang tahun, Adam."Kalimat itu meluncur dari bibir Carla setelah acara di resto itu selesai. Adam memeluk tubuh ibunya dengan erat. Selang infusnya masih tertancap di tangan kanannya, membuat pergerakan Carla tak leluasa membalas pelukan anaknya."Mama cepat sehat ya. Adam takut kehilangan mama."Adam pun turun dari ranjang Carla lalu duduk di kursi sebelahnya. Tangannya masih menggenggam erat ujung jari Carla yang terlihat rapuh. Mata sayu dan rambut berantakannya semakin membuat Adam sedih. Ini kedua kalinya bocah kecil itu bersedih melihat ibunya yang menderita."Carla, kata dokter sore ini kamu harus dicek kembali untuk memastikan kemungkinan kista di rahim kamu itu masih ada atau tidak," ujar Al yang diangguki oleh Carla.Carla pernah didiagnosa memiliki kista di rahimnya sekitar dua tahun lalu. Menurut dokter, tidak masalah karena ukurannya masih dalam batas wajar dan dapat disembuhkan. Namun ternyata kista itu s
Carla menghela napas lega setelah dokter menyatakan bahwa penyakitnya masih bisa disembuhkan dengan terapi dan pengobatan. Dalam kasus Carla, kista yang tumbuh di rahimnya sering tumbuh karena hormon yang tak seimbang.Mungkin, hal inilah yang membuat Carla sulit untuk mendapatkan keturunan. Padahal menurut dokter, ia tidak memiliki masalah sama sekali dengan kesuburan."Hari ini, bu Carla sudah bisa pulang. Tapi tetap harus pengobatan rawat jalan sesuai dengan intruksi dari dokter," pesan dokter Silva yang selama ini merawat Carla selama berada di rumah sakit.Carla mengangguk. Semangatnya meninggi saat dokter memberinya sinyal positif akan potensi kehamilan yang sangat mungkin bisa dirinya alami. Carla janji setelah sembuh dari penyakitnya, ia akan mulai kembali terapi supaya dirinya bisa segera hamil. Dirinya sangat merindukan hadirnya seorang bayi dari rahimnya sendiri.Tapi tunggu, bukankah dirinya akan bercerai dengan Abi setelah keluar dari rumah sakit?"Terima kasih, dok."Via
"Mas, ngapain kamu bawa mbak Carla ke rumah?" Risya menghadang Abi yang baru saja ke luar dari kamarnya. Mata Risya mengintip sekilas ke arah tempat tidur. Ada Carla yang sedang tertidur dengan keadaan tubuh tertelungkup. Risya tak menyukai Carla sejak dirinya diancam minggu lalu dan setelah memiliki kelemahan Carla, dirinya bertekad untuk membalas ancaman itu. "Jangan ganggu Carla. Kamu mau ngapain?" Abi menutup pintu lalu mengajak Risya turun ke bawah. Mau tak mau istrinya menurut mengikuti suaminya. "Mbak Carla itu sudah berselingkuh. Mas Abi masih mau kembali sama dia? Dimana harga diri mas Abi sebagai seorang suami?" "Ris..." "Aku mau, kamu usir mbak Carla dari rumah ini. Atau aku yang akan pergi!" ancam Risya. "Ada apa ini?" Riandari datang dari kamarnya setelah mendengar keributan dari arah tangga depan kamar Abi. "Kenapa ribut-ribut? Ris, katakan sama ibu." Kesempatan yang bagus untuk menyingkirkan Carla. Risya bergelayut manja di lengan ibu mertuanya, merengek meminta
"Jadi, kamu tuduh aku selingkuh? Sejak aku keluar dari rumah sakit, hanya itu saja yang bisa kamu tuduhkan?" Carla yang sudah jengah terpaksa keluar dari dalam mobil. Walau dalam keadaan terengah-engah karena masih merasakan tubuh yang kurang sehat, ia memilih untuk menemui Abi yang tengah berdebat dengan Al. Ini tidak benar, ia tak pernah sekalipun berselingkuh dengan siapapun. "Memang itu kan kenyataannya. Lihat, selingkuhan kamu datang ke sini untuk membawa kamu kabur. Bukankah itu sudah jadi bukti?" Abi, dengan mulut kejamnya menuduh istrinya telah bermain gila di belakangnya. Dulu, semarah apapun Abi tak pernah sama sekali ia mengucapkan kalimat tajam menusuk seperti tadi. Ini sudah di luar kebiasaannya. "Atas dasar menjemput? Kamu sudah gila, Mas? Buat apa aku berselingkuh?" Carla berteriak. Satu tangannya menahan sakit di dekat ulu hatinya. Asam lambungnya kembali naik setelah kemarin telah hampir sembuh total. "Tanyakan sama hatimu. Apa yang sebenarnya kamu inginkan." Ri
5 bulan kemudian Carla kira, kembali lagi ke rumah itu akan membuat sakit hatinya hilang. Carla kira, Abi sang suami yang masih dicintainya juga akan berubah seiring waktu berlalu. Ternyata tidak, dia tidak berubah sama sekali. Saat Carla masuk kembali ke kamar itu, suasana penuh kehangatan yang telah dibangunnya selama tujuh tahun berlalu hilang semua. Berganti asing dan tak dikenalnya. Carla datang ke rumah ini hanya untuk mempertahankan apa yang selama ini harus dipertahankan. Ini miliknya, bukan milik mereka. "Kamu, kembali ke sini?" tegur Riandari yang baru saja turun dari lantai dua kamarnya. Carla tak menjawabnya. Malas, pikirnya. "Tidak tahu malu." "Seharusnya, yang numpang di sini yang harus tahu malu," ketus Carla. Ia duduk bersama bibik di ruang makan sambil memakan sarapannya. Mata Riandari memicing heran, giginya bergemeletuk melihat bibik ikut makan di meja makan bersama Carla. Ia pun naik pitam. "Loh, ini babu kamu kenapa ikut makan di sini? Enggak tahu malu! Per
Epilog: Tak ada yang tahu bagaimana takdir berjalan. Tak ada yang tahu juga bagaimana sebuah cinta akan berakhir dengan seseorang yang dicintai atau tidak. Carla telah jatuh dan bangkit karena cinta, kini hidupnya akan kembali disatukan dengan sebuah cinta. Satu bulan setelah perceraian Abi dan Risya, kabar duka datang dari Carla yang kehilangan suami tercintanya. Setelah berjuang melawan penyakit paru-paru yang telah menggerogotinya selama lima tahun, Vian pun menyerah. Ia meninggalkan seorang anak dan istri yang masih mencintainya. Carla kira, dirinya yang akan pergi lebih dulu. Mengingat penyakitnya yang tak mungkin bisa diselamatkan lagi. Ternyata tuhan masih memberikan umur panjang padanya. Setelah tiga bulan resmi menyendiri, sebuah lamaran datang kembali padanya. Kali ini, ia kembali pada cinta sejatinya yang tak mungkin bisa dilupakan. "Mama cantik sekali," puji Adam yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar rias calon ibunya. Carla memeluk anak pertamanya itu dengan erat. "Ter
Sidang putusan pengadilan akhirnya memutuskan perceraian antara Risya dan Abi. Mereka resmi berpisah dengan dikabulkannya tuntutan yang dilayangkan oleh Abi pada Risya. Perselingkuhan itu terbukti dilakukan dengan sadar dan atas kemauan mereka berdua. Risya sempat pingsan saat pembacaan putusan, walau tak lama kemudian ia sadar lalu menangis meraung-raung memikirkan nasibnya setelah ini. Abi tersenyum pedih melihat surat keputusan cerai yang telah diterimanya. Ini adalah surat ketiga yang dimilikinya. Ia tak lagi sanggup menangis, karena ini terlalu pedih. "Pa, makam mama apakah ada yang menjaganya?" Abi menoleh pada anaknya yang tengah mengemudi di sampingnya. Tak lama kemudian, ia mengangguk. "Adam kangen sama mama Winda." "Papa juga. Andai waktu itu papa tidak terburu-buru menceraikan dia dan pergi begitu saja dari sisinya. Pasti kita akan jadi keluarga yang bahagia saat ini. Maafkan papa, Adam. Papa salah dan berdosa padamu dan juga mama Winda." Abi mengusap air mata yang menga
"Itu adalah anakku, aku adalah ayahnya." Suara itu menggema memecah keramaian drama yang baru saja ditunjukkan oleh Risya di depan hakim persidangan. Semua orang menatap heran pria yang baru saja masuk ke dalam ruang sidang. Risya yang tadi menangis tersedu-sedu kini hanya bisa diam. Isi kepalanya ikut menghilang seperti air mendidih yang menguap. "Dia adalah anak saya pak hakim," tunjuk Sandy, pria yang tadi memasuki ruang sidang. "Itu bohong, pak. Saya hanya melakukan itu dengan suami saya!" bantah Risya. Sandy menyeringai. "Apa perlu aku putar video mesra kita saat menghabiskan malam romantis dan panas berdua?" Huuu Terdengar suara gaduh dari saksi yang mendengar ancaman dari Sandy. Semua orang kini memandang jijik dua orang yang tengah berdebat di depan hakim persidangan. "K-kamu yang jebak aku!" "Kau—" Belum selesai Sandy bicara, hakim mengetuk palunya. "Sidang ditunda minggu dep
Mantan ibu mertuanya duduk dengan nyaman di sofa rumah Abi setelah menunggu lebih dari dua jam kepulangannya. Abi memang sengaja pulang sedikit terlambat tadi. Ia menyempatkan mengajak kedua anaknya berjalan-jalan di pasar malam melihat pertunjukan lalu makan malam sejenak dan akhirnya pulang. Abi tak mengira, mantan ibu mertuanya akan datang dan menunggunya hingga selarut ini. Lebih mengherankan lagi, mata wanita paruh baya itu terlihat sembab dan lelah. Apa yang sebenarnya akan dia katakan hingga mengorbankan waktu istirahatnya? "Ibu ke sini diantar siapa?" tanya Abi sekedar berbasa-basi. Ibu Risya tersenyum getir. Ia menarik napas panjangnya lalu menunduk sejenak. "Tadi, ibu datang bersama menantu ibu yang kebetulan akan berangkat kerja." ibu Risya menggeser posisi duduknya, sedikit mendekat pada Abi yang terdiam di tempatnya. "Kedatangan ibu ke sini, hanya ingin mengatakan sesuatu. Semoga ini akan menjadi pertimbangan dirimu untuk membatalkan rencana perceraian besok." Abi me
Hoeekk hoekkk Risya terbangun dengan kepala pening dan perut yang mual sejak matanya terbuka. Hampir setengah jam ia berjalan mondar-mandir memasuki kamar mandi hanya untuk menuntaskan rasa mualnya. Tak ada sisa makanan yang ke luar, hanya cairan bening yang meluncur dari mulutnya. "Kamu hamil?" suara sang ibu terdengar dari balik pintu kamar mandi. Tangan wanita paruh baya itu menyilang di dadanya. "Anak siapa?" Dengan kaki gemetar, Risya membalikkan tubuhnya menghadap ibunya. Ibu Risya, terkenal keras sejak dulu. Ia memang menyayangi Risya dan sering memanjakannya. Namun jika anaknya itu melakukan kesalahan, ia tak segan untuk berbuat kejam. "Kamu tuli?" bentak ibu Risya. Suara menggelegar itu membuat Risya ketakutan. "Jawab!" "I-iya. I-ini anak mas Abi," jawab Risya gemetar. Tangannya berpegangan pada sisi wastafel agar tak jatuh. Kemarin, sesudah semua orang rumah pergi, Risya diam-diam pergi membeli alat tes kehamilan di apotek. Ia mulai merasakan hal yang tak beres dengan
Dua minggu sudah Risya dikembalikan ke rumah orang tuanya, dua minggu pula Abi merasakan kedamaian di rumahnya. Berkali-kali mantan ibu mertuanya mencoba menghubungi Abi untuk membatalkan perceraian, berkali-kali pula Abi menolaknya. Abi tak ingin luluh lagi dalam jeratan rayuan Risya seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Pria yang sebentar lagi menyandang status duda untuk keempat kalinya itu termenung di pinggir ranjang. Di tangannya, ada selembar surat undangan dari pengadilan untuk sidang cerainya pertama kali. Besok, akan jadi penentuan baginya untuk hidupnya yang baru. Pintu kamar pun terbuka, Adam dan Fariska yang hari ini tengah libur masuk ke dalam kamar milik ayahnya. Abi tersenyum melihat keduanya. "Pa, hari ini kita ke kantor papa ya? Aku lagi enggak ada kelas, Ika lagi rapat guru-gurunya. Boleh kan?" tanya Adam yang dibalas anggukan oleh Abi. "Kalau gitu, Adam sama Ika tunggu di bawah." "Iya. Papa nanti nyusul. Kalian sarapan saja dulu." Kedua anak Abi itu segera
Abi benar-benar telah matang dalam mengambil keputusan untuk bercerai dengan Risya, istrinya. Di dalam kepalanya, tak ada lagi kesempatan kedua untuk mempertahankan rumah tangga. Abi sudah muak dengan segala macam drama yang telah Risya buat. Walaupun dengan penolakan tak rela dari Risya, tetap saja Abi bersikeras untuk menceraikannya. Baginya, perselingkuhan adalah kehinaan dalam sebuah hubungan. "Turun!" perintah Abi yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Risya. "Jangan sampai aku bertindak kasar padamu!" tegas Abi. Pria itu membuka pintu samping lalu menarik Risya ke luar. Risya terus memberontak bahkan tak segan memukul lengan Abi dengan keras. Abi tak peduli, ia tetap menarik Risya setelah berhasil menurunkan dua koper besar milik wanita itu. "Mas, aku enggak mau pulang ke sini!" rengek Risya. Tak peduli dengan rengekan Risya, Abi tetap menyeret koper milik Risya. Mendengar kegaduhan yang ada di depan rumah, ibu mertua Abi segera berlari menemui asal suara. Karena sayup-say
Risya tak terima dengan keputusan yang diambil oleh Abi. Ia terus meraung-raung tak jelas di depan kamar suaminya. Suaranya baru berhenti menjelang pagi. Rupanya, ia tertidur di depan pintu kamar dengan tubuh tengkurap mencium lantai. Abi sama sekali tak terenyuh dengan pemandangan di depannya. Tanpa menoleh sama sekali, ia pergi sambil melangkahi seonggok tubuh yang tengah tertidur itu. Mendengar suara tawa yang cukup keras dari lantai bawah, Risya terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap lalu perlahan terbuka. Tubuhnya sakit, ia melenguh. Rasanya seperti tertimpa ribuan ton besi. "Pa, hari ini aku mau ajak Ika ke rumah Jihan. Boleh kan?" ujar Adam meminta izin pada ayahnya. Abi mengangguk. Kedua anaknya cukup sering menghabiskan waktu di rumah sahabatnya, tak ada alasan untuk menolaknya. "Soalnya, Fariska mau main sama dedek Ragil. Iya kan?" "Ih, kakak. Kenapa dikasih tahu ke papa?" bibir Fariska mengerucut lucu, pipinya menggembung tanda ia marah pada kakaknya. Adam
Adam meremat tangannya, hatinya gusar dan bingung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Sejak kejadian di dalam mobil itu. Tidur malam Adam pun tak pernah tenang. Wajah biadab itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya tiap detik. Adam terus menimbang-nimbang apakah dirinya akan mengungkapkan semuanya pada sang ayah atau tidak. Setiap kali melihat wajah lelah ayahnya, Adam jadi tak tega mengungkapkan. Namun jika mengingat perlakuan buruk ibu tirinya, hatinya memanas. Ia tak rela jika ayahnya dikhianati dengan cara kejam di belakangnya. "Pa," panggil Adam dengan suara pelan. Abi menoleh dengan senyuman manisnya. Menepuk pinggiran sofa lalu melambaikan tangan mengajak Adam untuk duduk di sebelahnya. "Pa, Adam—" Abi melihat raut wajah keseriusan di mata Adam. Sudut hatinya yang peka mengatakan jika anaknya itu membutuhkan bantuan. "Ada apa, nak? Ada yang ingin kamu sampaikan?" Suara lembut ani menggoyahkan keinginan Adam untuk mengungkapkan sebuah rahasia. Pria muda itu menarik napas p