Share

Di Luar Dugaan

last update Last Updated: 2025-01-13 20:55:07

Perkataan Livia spontan membuat Sharon terdiam. Senyumnya sedikit pudar dan ia mencoba untuk tetap tenang walau perkataan Livia mengenai Lunetta berhasil menyentuh titik sensitifnya. Sharon diam-diam menghela napasnya. Wanita itu menunduk sesaat kemudian menatap Livia dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan.

"Okay, Livia. Aku harap kamu dan Rajendra selalu bahagia" ucapnya datar, kemudian memanggil Lunetta yang masih asyik bermain dengan Gadis. "Lunetta, sudah waktunya pulang!"

Lunetta yang belum puas bermain terlihat enggan namun akhirnya tetap mengikuti keinginan sang ibu. "Bye, Gadis. See you tomorrow!" ucapnya ceria kemudian berlari ke arah Sharon.

Sharon menggandeng tangan Lunetta menuju pintu. Sebelum keluar ia menoleh sekali lagi ke arah Livia. "Aku pulang dulu. Tapi, Livia, kamu jangan terlalu yakin dengan apa yang kamu miliki sekarang. Dunia seringkali tidak sebaik yang kita kira," ujarnya dengan kata penuh penekanan.

Livia membalasnya dengan senyum tipis. Ia tidak ingin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Eby Prianto
thornya kayanya senang de kalau livia menderita
goodnovel comment avatar
Ambarwati Ambarwati
duh lama amat bs jalannya kok gak operasi aja
goodnovel comment avatar
Aditya Aditya
thor butuh titik terang, tolong dong si sharon² tu ketahuan sama rajendra pas lagi ngucilin livia biar rajendra jadi benci se bencinya sm tuh cewek habistuh sadar diri dan minggat dah tuh si sharon
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Meminta Izin Livia

    "Nggak ada apa-apa, Liv," jawab Rajendra berbohong."Kalau memang nggak ada apa-apa kenapa tadi dia memanggil kamu?" tanya Livia tidak percaya.Rajendra menghela napas dalam diam sebelum menjawab, "Dokter bilang perkembangan kamu sangat bagus dan kamu sangat bersemangatm Tentang jadwalnya dokter Hailey bilang kamu harus terapi lima hari dalam seminggu."Livia tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Serius, Ndra? Saya happy banget mendengarnya. Saya janji akan lebih giat lagi supaya bisa jalan bareng kamu tanpa membuat kamu malu.""Liv ..." Rajendra mencekal pelan lengan Livia hingga langkah Livia ikut terhenti."Iya?""Aku nggak suka mendengar kamu bilang kayak gitu lagi, Liv. Aku nggak malu jalan sama kamu apa pun keadaan kamu."Livia tersenyum getir teringat masa lalu, di mana Rajendra selalu menyembunyikan dirinya."Sejak kapan itu berubah, Ndra? Dulu kamu selalu mem--""Please, Liv, nggak usah bahas masa lalu." Rajendra segera memotong perkataan Livia sebelum ia selesai berbicara.

    Last Updated : 2025-01-14
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Yang Terjadi Di Rumah Sakit

    Rajendra membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia menatap Livia yang kini duduk di tepi tempat tidur."Siapa yang datang, Ndra?" Livia bertanya sambil menahan kantuknya.Rajendra menghampiri tempat tidur, duduk di tepinya dan menggenggam tangan Livia. "Liv, Sharon yang datang. Dia dengan Lunetta. Lunetta demam tinggi dan terus mengigau. Sharon minta aku buat nemenin ke rumah sakit.""Emangnya dia nggak punya orang lain yang bisa dimintai tolong? Kenapa harus kamu, Ndra?" Livia sedikit emosi mendengarnya."Karena kita tetangganya, Liv. Dia juga bilang nggak tahu lagi harus minta tolong ke siapa. Sejujurnya aku nggak tega ngeliat kondisi Lunetta. Badannya benar-benar panas," kata Rajendra menjelaskan.Livia terdiam mendengarnya. "Kalau kamu nggak mengizinkan aku nggak akan pergi, Liv."Livia membayangkan jika dirinya yang berada pada posisi Sharon. Ia hanya berdua dengan Gadis tanpa ada yang menemani. Tanpa ada Rajendra. Apakah ia tega?Livia menghela napasnya, mencoba menekan emosi ya

    Last Updated : 2025-01-14
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Pencuri Ciuman

    Rajendra merasakan tubuh Sharon melekat padanya, yang membuat lelaki itu kaku seketika. Ia menurunkan pandangannya memandang Sharon yang kini terisak dengan tubuh bergetar. Barusan dokter mengatakan Lunetta harus diopname karena ia mengidap tipes.Perasaan Rajendra jadi campur aduk. Rasa kasihan, kesal dan merasa bersalah muncul, yang tidak jelas dari mana asalnya.Rajendra menepuk punggung Sharon dengan hati-hati. Berusaha melepaskan pelukan itu dengan halus. "Sha, tenang dulu. Aku ngerti kamu lagi panik. Tapi jangan begini."Sharon mengangkat wajahnya yang penuh oleh air mata dari pundak Rajendra. "Aku nggak tahu lagi harus gimana, Ndra. Semua ini terlalu berat buat aku. Bulan lalu anak temanku ada yang meninggal karena tipes, aku takut kehilangan Lunetta," jelas Sharon tersedu-sedu."Aku paham kamu butuh support dan bantuan, Sha. Tapi aku nggak bisa selalu ada untuk kamu. Kamu harus kuat demi Lunetta. Aku sudah bantu kamu sebisa mungkin, tapi aku juga punya keluarga," kata Rajendra

    Last Updated : 2025-01-14
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Dulu Aku Pernah Jadi Yang Tersayang

    Rajendra tertidur tanpa menyadari situasi di sekelilingnya. Wajahnya terlihat tenang meski ada gurat kelelahan yang membayang.Sharon yang tadinya tampak terguncang kini merasa lega. Ia menatap Rajendra dengan perasaan mendamba. Ini adalah momen di mana ia bisa sedikit lebih dekat dengan lelaki itu."Akhirnya kita bisa sedekat ini lagi, Ndra. Aku tahu caraku salah, tapi hanya ini satu-satunya jalan untuk dekat denganmu." Sharon menggumam pelan penuh rasa syukur.Tangannya membelai lembut pipi Rajendra. Meski ia tahu ini salah, namun ia memilih untuk mengabaikan suara hati yang menyuruhnya untuk berhenti.Sambil terus membelai-belai pipi Rajendra, pikiran Sharon terbang ke masa lalu. Dulu dirinya adalah yang tersayang. Rajendra sangat mencintainya. Mereka bahkan sudah merencanakan pernikahan. Dan ya ... Rajendra memang menikah, tapi dengan perempuan lain. Sejak saat itu Sharon menghilang dari hidup Rajendra membawa luka dan kenyataan pahit. Siapa sangka semesta berkonspirasi mempertemu

    Last Updated : 2025-01-15
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Siapa Dia Sebenarnya?

    Pagi ini terasa begitu berbeda bagi Livia. Bagaimana tidak? Rajendra masih belum pulang sejak semalam. Padahal janjinya tidak akan lama. Saat Livia mencoba menghubungi suaminya itu melalui ponsel, terdengar suara ponsel tersebut dari balik bantal. Ternyata Rajendra meninggalkannya. Mungkin karena terburu-buru Rajendra sampai lupa membawanya.Livia memandang Gadis yang menggigit teether-nya di tempat tidur. Sesekali putrinya itu merengek meminta perhatian dari Livia, sedangkan Livia sibuk bersiap-siap untuk pergi terapi.Teringat Rajendra yang masih belum pulang, Livia mencoba mengesampingkan rasa kecewanya. Ia memutar otak bagaimana caranya pergi terapi dengan membawa Gadis. Ini bukan soal menggendong Gadis, tapi tentang siapa yang menjaganya saat sesi terapi berlangsung nanti.Livia mengembuskan napas berat. Dalam keterbatasannya sebagai seorang difabel, ia tahu setiap langkah yang akan diambilnya harus penuh dengan perhitungan. Sejujurnya, keberadaan Rajendra sangat banyak membantu.

    Last Updated : 2025-01-15
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Jadi Begini Cara Mainmu?

    Ucapan Livia membuat Rajendra terdiam. Kalimat terakhir istrinya itu bagai petir yang menyambar tanpa ada angin tanpa ada hujan. Tatapan Livia sekarang tidak hanya menunjukkan kekecewaan tapi juga perasaan curiga yang perlahan muncul ke permukaan."Jangan begitu, Liv. Dia bukan siapa-siapa. Aku nggak kenal dia sebelumnya. Jadi bagaimana mungkin dia menjadi mantanku?" kata Rajendra berusaha untuk tetap tenang walaupun rasa bersalah yang begitu hebat karena telah berbohong menghantam dadanya dengan begitu kuat. "Aku cuma membantu dia. Dia sendirian dan panik banget. Itu saja," lanjut Rajendra menjelaskan pada Livia."Dia sendirian?" Livia mengulangi dengan nada rendah. "Dia punya anak, berarti dia punya suami. Masa iya nggak ada satu pun teman atau kerabat yang bisa menolong dia selain kamu. Lagian banyak tetangga di apartemen ini. Kenapa harus kamu, Ndra?" tatap Livia tidak mengerti."Aku nggak tahu kalau soal itu, Liv. Mungkin karena dia merasa dekat dengan kita karena sama-sama orang

    Last Updated : 2025-01-15
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Dia Kan Bukan Anakku

    Hari ini Livia sudah mempersiapkan dirinya untuk pergi terapi. Ia bertekad akan pergi sendiri tanpa ditemani Rajendra."Mau ke mana kamu, Ndra?" tanya Livia melihat Rajendra juga sedang bersiap-siap."Lho, kok gitu nanyanya, Sayang?" Rajendra keheranan. "Kita kan mau pergi terapi.""Saya akan pergi sendiri. Kamu tolong jaga Gadis baik-baik."Rajendra terdiam sejenak sambil memandangi wajah Livia. Dan ia menemukan keseriusan di sana. "Kenapa kamu ingin pergi sendiri? Biasanya kita selalu pergi bertiga.""Kasihan Gadis kalau terlalu lama menunggu. Saya pikir lebih baik dia di apartemen. Dia jadi bisa tidur atau main dengan leluasa.""Oke. Tapi biar aku antar kamu ke rumah sakit ya?""Nggak usah, Ndra, biar saya naik taksi.""Tapi kita masih tergolong baru di sini. Kamu belum banyak tahu daerah di sini, Liv." Rajendra berusaha mencegah."Justru itu. Biar saya pergi dengan taksi. Percayalah saya akan baik-baik saja. Kamu nggak perlu sampai secemas itu. Saya orangnya nggak panikan. Masih b

    Last Updated : 2025-01-16
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Mungkin Aku Sudah Mati

    Hampir satu minggu Lunetta dirawat di rumah sakit. Hari ini anak itu sudah dibolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Meski begitu Lunetta masih terus merengek dan minta digendong. Hal itu membuat Sharon merasa kewalahan juga kesal. "Mommy, gendong aku. Aku nggak mau jalan," rengek Lunetta sambil menarik-narik tangan Sharon. Sharon menghela napasnya meningkahi kemanjaan sang putri. "Sayang, Mommy juga capek. Kamu kan sudah besar, ayo jalan sendiri." "Tapi aku nggak bisa. Kakiku sakit Mommy ..." "Kamu itu tipes, Lunetta, bukan sakit kaki kayak perempuan pincang itu. Ayo jalan, nanti kalau kamu nggak mau jalan Tuhan bikin kakimu jadi pincang. Mau kamu?" ancam Sharon dengan mata melebar. "Maksud Mommy pincang seperti Aunty Livia?" Sharon terdiam sebentar kemudian tersenyum tipis. Senyum yang sepertinya ramah tapi begitu penuh siasat. Lalu ia berjongkok di depan Lunetta. Tangannya meraih bahu kecil putrinya lalu mengunci mata Lunetta dengan tatapan. "Lunetta sayang."

    Last Updated : 2025-01-16

Latest chapter

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 3

    "Yang benar aja kamu, Ndra. Nggak mungkin Gadis nikah sama Randu!" Begitu kata Erwin di saat Rajendra mengatakan tentang rencana menikahkan kedua anaknya."Aku dan Livia juga kaget, Pi. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka berdua saling mencintai," ujar Rajendra pada Erwin."Kayak nggak ada orang lain aja." Erwin terlihat tidak setuju atas rencana pernikahan keduanya."Ya mau gimana lagi, Pi. Namanya juga cinta."Erwin terdiam. Ia kehilangan kata untuk menjawab kata-kata Rajendra."Pi, kita restui saja mereka. Jangan dipersulit," pinta Rajendra." Aku nggak ingin melihat anakku menderita apalagi kalau mereka sampai kawin lari."Erwin menghela napasnya lalu bertanya, "Sejak kapan mereka pacaran?""Sudah cukup lama, Pi. Livia yang punya firasat itu tapi aku nggak percaya. Sampai akhirnya keduanya mengaku."Erwin terdiam lagi seolah sedang memikirkan perkataan Rajendra. "Kamu nggak lupa siapa orang tua Randu kan, Ndra? Jangan lupa dia anak Utary dan nggak tahu siapa bapaknya.""Aku udah lupaka

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 2

    "Liv love, kamu ngeliat Gadis nggak?" tanya Rajendra setelah masuk ke ruangan Livia. Setelah semua yang terjadi Livia juga bekerja di kantor menjadi asisten pribadi Rajendra. Lagi pula anak-anak sudah besar."Paling pergi makan siang bareng Randu," jawab Livia sambil merapikan ikatan rambutnya."Makin hari mereka semakin dekat," komentar Rajendra."Iya. Aku pun ngeliatnya begitu." Livia menimpali. "Kamu ngerasa nggak sih, kalau hubungan mereka kayak udah nggak wajar?""Nggak wajar gimana?" Rajendra mengerutkan dahinya.Livia tampak ragu namun tak urung mengatakan. "Aku ngeliat mereka kayak orang lagi pacaran. Benar nggak?"Rajendra tertawa mendengarnya. "Kamu ada-ada aja, Sayang. Randu dan Gadis kan dari kecil sudah tumbuh bersama. Mereka itu kakak adik. Nggak mungkin mereka seperti yang kamu bilang."Livia terdiam. Yang dikatakan Rajendra ada benarnya. Tapi firasatnya berkata lain. Sebagai seorang ibu ia tahu persis ada yang berbeda dalam hubungan Randu dan Gadis. Cara Randu menatap

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 1

    Waktu terus berlalu tanpa bisa dihentikan. Setiap detik yang terlewati bagaikan anak panah yang melesat dengan cepat.Anak-anak sekarang sudah dewasa. Randu sudah bekerja sebagai salah satu staff di Kemenlu. Sedangkan Gadis melanjutkan kerajaan bisnis Rajendra bersama dengan Livia. Hubungan Gadis dengan Randu sangat dekat. Bahkan tidak bisa lagi dibilang sebagai kakak adik biasa. Tumbuh bersama sejak kecil dan melewatkan berbagai hal berdua membuat mereka saling terikat satu sama lain. Meski tidak ada pernyataan cinta yang terucap namun keduanya menyadari bahwa mereka berdua saling mencintai. Hanya saja mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Rajendra dan Livia menganggap keduanya saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Tidak sedikit pun terbersit di pikiran mereka bahwa keduanya akan melewati batas itu."Dis, Abang pengen ngomong. Bisa nggak kita ketemuan makan siang nanti?" Itu pesan yang diterima Gadis dari Randu ketika ia sedang sibuk-sibuknya bekerja di kantor."Ha

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Part 376

    Rajendra membawa Livia dengan disupiri Geri setelah menitipkan anak-anak pada Bu Mimi. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak panik. Maklum saja, ini adalah untuk pertama kalinya Rajendra melewati semua momen kehamilan Livia, mulai dari morning sickness, masa-masa Livia tidak bisa makan apa pun, masa-masa betapa protektifnya Rajendra padanya, masa-masa kehamilan tua di mana Livia mulai merasa kesakitan di mana-mana dan tidak bisa tidur hingga saat ini tiba masanya untuk melahirkan."Sakit banget, Ndraaa ..." Livia merintih tidak tahan di atas pangkuan Rajendra."Iya, Sayang. Sabar sebentar ya. Nggak lama lagi kita nyampe di rumah sakit," kata Rajendra sambil mengelus-elus perut Livia. "Ger, lebih kencang lagi," suruh Rajendra pada Geri agar menaikkan kecepatan."Baik, Pak," jawab Geri sambil memandang melalui spion tengah kemudian menekan pedal gas lebih dalam.Selama dalam perjalanan ke rumah sakit Livia terus merintih. Melihat ringisan di wajahnya membuat Rajendra tidak tahan. Andai

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Part 375

    Kehamilan ketiga ini tidak mudah bagi Livia. Kondisinya lebih lemah dari dua kehamilan sebelumnya. Livia yang sering mual dan muntah-muntah otomatis membuat anak-anak bertanya apa yang terjadi pada ibu mereka."Bang Randu, tahu nggak kenapa Bunda muntah-muntah terus?" tanya Gadis pada Randu ketika mereka akan berangkat sekolah pagi itu.Livia yang muntah setiap pagi dan Rajendra yang selalu memijit tengkuknya adalah pemandangan yang sering dilihat anak-anak belakangan ini.Randu mengangkat bahunya tidak tahu. "Entahlah. Abang juga nggak tahu, Dis.""Apa mungkin Bunda lagi sakit?" Gadis terlihat khawatir."Kita tanya aja langsung yuk," ajak Randu.Kedua anak itu menunggu Livia dan Rajendra keluar dari kamar mandi. Mereka saling pandang saat mendengar suara muntahan dari arah dalam sana.Beberapa menit kemudian Livia dan Rajendra keluar dari kamar mandi."Ngapain pada kumpul di sini?" tanya Rajendra."Adis dengar Bunda muntah-muntah terus setiap pagi, Pa. Bunda sakit apa, Pa?" tanya Gad

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Part 374

    "Kok aku bawaannya pengen nyium celana dalam kamu terus ya, Liv?" "Apa sih, Ndra?" Livia mendelik malu, mukanya sedikit memerah."Iya, Sayang, aku serius," jawab Rajendra sungguh-sungguh. "Sini!" Rajendra merenggut celana dalam bekas pakai Livia setelah Livia membukanya. Saat itu mereka akan mandi berdua.Livia terpaksa memberikannya pada Rajendra. Lelaki itu langsung mencium dan menjilatinya tepat di bagian kewanitaan Livia."Astaga, Ndra!" Livia geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya. Ternyata Rajendra kalau bucin gini amat ya?"Wanginya khas, aku suka," kata Rajendra yang membuat Livia bertambah malu."Sini, Ndra! Balikin nggak?" Livia berusaha merebut dari tangan Rajendra tapi Rajendra menjauhkan celana dalam itu dengan mengangkatnya tinggi-tinggi."Cuma celana dalam aja, Sayang. Pelit banget sih." Rajendra tertawa melihat ekspresi Livia yang sudah kehabisan akal."Tapi kamu itu aneh. Masa maunya celana dalam aku. Nggak cukup apa nyium yang ini?" Livia menunjuk organ vital

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Part 373

    lHari demi hari berlangsung dengan damai. Kehidupan rumah tangga Livia dan Rajendra berlangsung harmonis bersama anak-anak mereka. Sesekali Rajendra menelepon Lunetta, namun gadis kecil itu tidak ingin berbicara dengannya. Lunetta masih merajuk lantaran Rajendra meninggalkannya di tempat sang nenek.Sementara itu Rajendra menjadi ayah yang siaga untuk Ananta. Hampir setiap malam Rajendra menemani Livia begadang untuk menyusui atau mengurus Ananta jika anak itu tidak mau tidur. Mereka saling bahu membahu dan berbagi tugas. Setiap tumbuh kembang Ananta tidak lepas dari perhatian Rajendra. Rajendra tidak ingin kehilangan momen-momen penting itu karena tidak akan bisa diulang kembali. Tanpa terasa sekarang Ananta sudah berusia satu tahun. Anak itu sudah bisa berjalan walau kakinya belum terlalu kokoh. Sore itu Rajendra pulang lebih cepat dari biasanya sehingga ia punya banyak waktu bermain dengan Ananta."Ndra, tolong jagain Ananta sebentar ya, aku mau nyiapin makanannya," ujar Livia."

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Part 372

    "Lho, Papa kenapa udah pulang? Katanya Papa pergi liburan?" Gadis tercengang ketika sore itu melihat Rajendra sudah ada di rumah."Papa nggak jadi liburan, Papa tadi pagi cuma mengantar Kak Lunetta ke rumah kakek dan neneknya.""Apa, Pa? Berarti Papa bohongin kita? Kata Papa bohong itu dosa," mulut Gadis mengerucut.Rajendra tertawa karenanya. "Papa nggak bohong, Nak. Papa cuma nggak ingin bikin Adis sedih.""Emangnya Lunetta nggak bakal ke sini lagi ya, Pa?" tanya Randu menimpali.Rajendra menggelengkan kepalanya. "Untuk saat ini nggak. Lunetta tinggal dan sekolah di Surabaya. Nanti kalau liburan dia baru ke sini.""Kasihan Kak Lunetta. Kalau tahu dia mau pergi Adis kan bisa kasih hadiah perpisahan. Lagian emangnya di sana Kak Lunetta main sama siapa, Pa? Kak Lunetta kan nggak punya teman.""Ada, Sayang. Nanti kalau Kak Lunetta sudah sekolah temannya juga banyak seperti di sini. Adis nggak usah khawatir ya." Rajendra me

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Part 371

    Taksi berhenti di depan sebuah rumah bercat putih berpagar hitam. Rajendra dan Lunetta turun. Sebelah tangan Rajendra menggeret koper sedangkan sebelahnya lagi menggandeng tangan Lunetta."Papa, kenapa hotelnya kayak gini? Kenapa nggak bagus?" tanya Lunetta keheranan. Matanya mengelana ke sekeliling."Ini bukan hotel, Sayang. Ini rumah nenek dan kakek, orang tuanya mommy Sharon."Lunetta terdiam sejenak sebelum kembali bertanya. "Kita ngapain di sini, Pa?""Kita ngunjungin nenek dan kakek. Selama ini mereka nggak tahu Lunetta itu yang mana. Ayo kita masuk."Berhubung pagar yang tidak dikunci memudahkan Rajendra untuk masuk ke dalam pekarangan. Tepat di depan pintu Rajendra menekan bel. Hanya dalam beberapa detik seorang wanita berusia enam puluhan keluar."Tante Ratih, masih ingat saya?" kata Rajendra mengawali.Wanita itu mengerutkan dahinya seolah sedang berpikir. Setelah ingatannya pulih ia berkata, "Rajendra?""Iya, Tante. Ini saya.""Sudah lama sekali saya tidak ketemu kamu," uja

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status