Jam menunjukkan pukul lima sore. Ia terpaksa menambah jam kerjanya karena pekerjaan itu belum selesai. Ia harus menyelesaikan pekerjaan ini. Anna menatap layar komputernya sampai matanya memerah.
Ia berdiri sejenak, melepaskan otot yang sudah kaku seharian duduk di kursi putarnya. Berjalan menuju jendela. Melihat keluar, terlihat lampu-lampu kota Jakarta bersinar, namun beberapa saat kemudian hujan deras turun, menciptakan suasana yang semakin menambah berat beban di pundaknya. Beberapa saat berlalu, ia kembali menduduki kursinya. Anna telah menghabiskan berjam-jam mengerjakan laporan itu. Beberapa kali ia mengecek ulang hasilnya. Kini, dia yakin bahwa setiap detail telah sesuai dengan standar yang diharapkan. Anna akhirnya memutuskan untuk mengirimkan laporan yang telah dikerjakannya ke email Damar. Setelah menekan tombol "Kirim," dia duduk sejenak, merasakan kelelahan dan stres yang melanda tubuhnya. Namun, rasa lega juga mengalir dalam dirinya karena dia merasa telah memberikan yang terbaik. Sejenak ia menyandarkan tubuhnya di dinding kursi. Tanpa sengaja ia pun tertidur. Suasana damai tidak bertahan lama untuknya. Pintu ruang kantornya terbuka dengan kasar. Anna terkejut melihat Damar Wijaya berdiri di sampingnya. Terasa sakit sekali ia menarik bahunya, ekspresinya kaku dan penuh kemarahan. "Anna!" Wanita itu berdiri terburu-buru dari kursinya, berusaha menenangkan diri. "Tuan Damar, saya sudah memperbaiki laporan sesuai dengan arahan Anda. Saya baru saja mengirimkan hasilnya ke email Anda" "Aku sudah melihatnya. Kamu pikir pekerjaan kamu sudah benar?" Damar menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan email Anna. "Laporan ini masih jauh dari yang aku inginkan. Masih ada kekurangan di bagian analisis pasar dan proyeksi keuangan." Terasa seluruh tubuh Anna gemetar. "Tapi saya sudah memperbaiki semua yang Bapak sebutkan sebelumnya. Apakah ada yang masih belum sesuai?" Anna masih konsentrasi melihat gerak bibir Damar. Damar menghela napas panjang. "Masih banyak hal yang harus kamu perbaiki. Ini tidak bisa diterima. Kamu harusnya bisa melakukan lebih baik dari ini." Rasa frustrasi Anna memuncak, namun dia mencoba untuk tetap tenang. "Tuan Damar, saya sudah berusaha keras dan menambah ja kerja untuk memperbaiki laporan ini. Mohon berikan saya kesempatan untuk memperbaikinya lebih lanjut." Damar memandang Anna dengan tatapan tajam. "Kamu memang menunjukkan dedikasi, tapi dedikasi saja tidak cukup. Yang aku butuhkan adalah hasil yang sempurna. Kamu seharusnya tahu itu!!!" Anna merasa keputusasaan merayapi hatinya. "Baik, saya akan memperbaikinya esok hari, Tuan. Malam ini saya harus membeli ulang alat bantu pendengaran yang baru," jelasnya. Hati Damar sedikit melandai. "Baiklah. TERSERAH!! Jam sembilan pagi, hasilnya bawa ke ruanganku!" Anna menarik bibirnya berat. Ia mengangguk patuh. Damar pun mengizinkannya pulang. Anna berjalan keluar menunggu taksi online yang lewat. Hujan pun sudah reda. Hanya tersisa titik air yang jatuh berselang. Bug! Sebuah pukulan mengenai tubuhnya, ia terhuyung dan jatuh. Seseorang mengenakan menutup kepala, menarik tangannya kuat. Ia merampas gelang hitam yang di pakai Anna. Meski sekuat tenaga ia berusaha merebut kembali gelang itu, ia tak bisa melawan tenaga orang itu begitu kuat. "Kembalikan gelang itu!!" Tidak ada jawaban darinya, setelah gelang berada di tangannya. Ia pun berlari. Anna tak bisa mengejarnya. "Penjahat bodoh!! Meski kau jual pun itu tidak ada harganya!! Aku akan tukar dengan perhiasanku!!! Tolong kembalikan gelang itu!!" Teriakan Anna tidak didengarnya. Anna pun pasrah. Jika ia tidak mungkin bertemu dengan Amar nya. "Amar, maafkan aku tidak bisa menjaga pemberianmu!" Anna menundukkan kepala lemas. Setelah melihat sebuah taksi lewat ia pun menaikinya, dengan tujuan pertokoan dipusat kota. .... Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. "Tuan Damar, ini adalah hasil revisi pekerjaan saya kemarin. Mohon Anda periksa dan tandatangani," ucap Anna. Setelah ia masuk dengan menyerahkan berkas yang telah digarap. Damar melihat alat bantu pendengaran telah terpasang di telinganya. Ia tidak perlu susah payah menunjukkan lekuk bibirnya untuk memperjelas kalimat yang diucapkannya. Damar meraih berkasnya dan mulai membuka hasilnya dari lembar pertama. Manik matanya seakan menunjukkan suatu apresiasi atas pekerjaan Anna. Tapi mungkin ia enggan mengungkapkan. "Kamu boleh pergi!!" Setelah mengatakan itu, ia mengibaskan tangan, mengusir Anna layaknya nyamuk. Anna pun menurut saja. Saat punggung Anna tak lagi terlihat, tanpa sadar ia mengulas senyumnya. "Pekerjaan wanita itu sangat memuaskan! Tidak pernah aku mendapatkan sekretaris dengan pola pikir kuas sepertinya. Tapi sayangnya, aku sangat membencinya!" Dering ponsel Damar berbunyi. Segera ia meraih untuk menerima panggilannya. "Asisten Lian." [Katakan urusanmu, cepat!] titah Damar, tidak pernah menunjukkan kelembutan. [Tuan Damar, apakah Anda saat ini memiliki waktu bertemu gadis masa lalu, Tuan?] terdengar suara Asisten Lian dari seberang telpon. Damar mengembangkan senyumnya. Ia berdiri karena tidak sabar. [Tentu aku mempunyai banyak waktu untuk menemuinya. Bahkan seluruh waktuku hanya untuk wanita itu! Atur waktu dan tempatnya segera beritahu aku!!] [Baik, Tuan.] Setelah panggilan telpon berakhir, ia meraih jas yang tergantung di kursinya. Lekas ia pakai dan berlari keluar. Sepanjang koridor, ia tak bisa mengontrol diri saking bahagianya. Hingga senyumnya tanpa disadari ditunjukkan pada pegawai yang dilewatinya. Banyak pegawai wanita hampir jatuh pingsan melihat senyum Bosnya. Mereka tidak pernah menjumpai pria itu memasang wajah lembutnya, kali ini mereka seperti tersihir oleh pesona Damar. "Tolong tampar pipiku, apa aku sedang bermimpi melihat Pak Sabar tersenyum!" ucap salah satu pegawai. Plak!! "Aduh sakit! Kok di tampar beneran sih!!" "Lah, kamu sendiri minta di tampar, aku tak salah dong!"Mobil mewah Damar melesat cepat. Ia menaikkan beberapa kali tingkat kecepatan agar lekas sampai ditempat tujuan. Sudut bibir yang terangkat tak sedikit pun turun. Ia merasa hari ini, ia harus merayakannya. "Asisten Lian ... Aku akan berikan hadiah besar untukmu! Pekerjaanmu tidak pernah mengecewakanku!" Dua manik mata Damar hanya fokus depan saja. Terkadang sedikit kesal karena beberapa kali melewati jalanan ia terjebak macet, namun tidak berlangsung lama. Ia menggebrak dasbornya merasa tak sabar. "Sungguh jalanan pusat kota tidak pernah ada sepinya! Andai aku jadi Presiden, aku sudah buat lima cabang jalan agar kemacetan kota bisa teratasi. Nyatanya aku hanya seorang Presiden Direktur saja." Bola mata Damar melirik ke kaca spion di atas kepala. Terlihat di sana separuh wajah Damar. Ia sedikit memperjelas dengan menggerakkan wajahnya. Menunduk untuk bisa menjangkau penglihatan pada rambutnya. "Sedikit berantakan! Tapi aku tetap pria paling tampan sejagad raya! Tidak ada satu w
"Maaf Damar, aku tidak ingat. Kecelakaan itu membuatku melupakan hal-hal yang berkenaan denganmu." Dengan cepat ia membalas untuk menutupi kecurigaan Damar. "Ya sudah tidak masalah. Maafkanlah aku karena terlalu memaksa. Baiklah mari kita nikmati hidangan ini bersama." "Ajak juga Asisten kamu, Damar. Dia yang telah berusaha keras untuk menyatukan kita kembali," ucap Hanna tersenyum. Ingin menunjukkan sisi Baiknya pada Damar. "Tidak perlu! Dia hanya pekerja rendahan! Tidak perlu di beri satu penghormatan!" ucap Damar. Lian yang mendengar itu menatap t4j4m ke arah bos-nya tanpa Damar tahu. **** Keesokan harinya ... Tepat pukul tujuh pagi, Asisten Lian mengumpulkan para pegawai untuk berbaris rapi menyambut wanita berharga yang selama ini tuannya cari. Tidak ada waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Asisten hanya akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Terlihat dari kaca tebal transparan perusahaan. Sebuah mobil yang sudah resmi di belikan Damar hanya untuk Hann
"Dasar wanita hin4!! Pembuat onar!! Bisa-bisanya mengaku-ngaku sebagai wanita masa lalu Pak Damar. Yang benar saja! Cih!!" ejek yang lain.Mereka bahkan mendorong tubuh Anna hingga jatuh tersungkur! "Dasar wanita tu li!! Jangan bermimpi menjadi wanita yang spesial di hati Pak Damar, kamu seperti kacung hidup! Mengerti!! Kamu dan Nona Hanna bagaikan bumi dan langit. Jauh sekali!!" "Tu li?" Salah satu di antara mereka bertanya. Karena ia tak tahu kebenarannya. "Ya, wanita itu tu li!! Lihat saja di telinga terpasang alat bantu pendengaran, karena dia tu li. Coba saja lepas paksa alat itu. Dia akan bingung karena gak bisa dengar. Huh ... Jadi, mana mungkin Pak Damar melirik wanita tu li seperti dia??" "Parah!!" Gelak tawa mereka sangat menyakitkan hati Anna. Hingga bola mata Anna basah begitu saja, karena rasanya teramat pedih. Assisten Lian yang dari tadi tersenyum sinis di belakang tubuh Anna lekas bertindak. "Sudah! Sudah!! Kalian keterlaluan sekali mempermalukan Nona Anna seper
Sementara di ruang kerja Damar ...Pria dengan postur tubuh sempurna itu memandang wajah Hanna. Wanita cantik itu duduk di hadapannya. Hanya ada pembatas meja.Lengkung bibir Damar pun tak kunjung turun. Ia tak tahu lagi, bagaimana ia mengutarakan kebahagiannya."Perasaan dari tadi aku liat kamu hanya senyum-senyum saja? Memang apa yang membuatmu bahagia, Damar?" Hanna, wanita pembohong itu meletakkan dagu di telapak tangan. Ia pun memandang wajah Damar yang rupawan. Keduanya saling pandang."Aku tak menyangka, kamu sangat cantik."Hanna tersipu malu, ia membuang wajahnya karena tak kuasa mendengar pujian Damar untuknya."Ah. Kamu terlalu berlebihan, Damar. Aku tak secantik itu.""Aku tidak pernah mengatakan dusta, Hanna. Oh ya, kamu tinggal di mana? Boleh tidak, aku mengantar kamu pulang nanti?"Jantung Hanna berdebar. 'Diantar pulang? Aduh, bagaimana ini?' gumamnya cemas."Hah? Ah, tidak perlu Damar. Aku bisa pulang sendiri. Hadiah mobil termahal yang kau beri untukku, mampu mengan
Sementara dalam perjalanan Asisten Lian dan Hanna..."Sayang ... Beri aku separuh hadiah yang kau terima dari Damar! Ini tidak adil jika kau habiskan sendiri uang itu! Uang tersebut tidak akan habis tujuh turunan!" ucap Delia nama asli dari dramanya memerankan sebagai peran Hanna. Ia memasang wajah cemberutnya.Asisten Lian tertawa keras. Ia mencubit pipi Delia gemas. "Dasar wanita. Selalu memiliki sifat iri! Apa kamu lupa, mobil ini pun harganya fantastis? Selama kamu bisa memerankan drama kamu sebagai Anna, kamu akan banjir uang, Sayang!! Uang yang kuterima tidak akan ada artinya untukmu!"Delia bergeming sejenak. Memikirkan ucapan Lian. Hingga bayangan-bayangan yang dirakit dalam otaknya pun berjalan. "Benar, aku bisa merasakan juga kekayaan yang dimiliki Damar selama aku di sampingnya. Melihat bajuku kotor saja tanpa pikir panjang ia segera mentransfer sejumlah uang untukku membeli pakaian. Loyal banget pria itu! Apa dia pria bodoh ya? " Delia menurunkan bibirnya."Entahlah, dia
Damar bergeming sejenak mendengarkan permainan biola indah yang tidak pernah di dengarnya.Terakhir kali ia mendengarkan permainan itu saat Hanna menampilkan padanya dulu."Amar, bagaimana permainan biola ku? Jelek gak?" tanya Hanna setelah beberapa menit ia memainkan permainan biola kegemarannya.Hanna sangat senang bermain biola. Karena biola adalah hidupnya. Saat ia sedih, hanya suara biola yang dapat menenangkannya. "Bagus Hanna. Wah ... Kamu jago sekali bermain biola? Kamu pasti menang ikut perlombaan itu!!" puji Amar menunjukkan kesungguhan."Benarkah? Aku jadi semangat untuk mengikutinya, Amar.""Tentu. Oh ya, saat kamu ikut perlombaan itu terus menang dan mendapatkan uang banyak, kamu jangan melupakan aku ya? Aku takut, setelah kamu sukses, terus melupakan aku, Hanna!" celetuk Amar polos."Aku sudah berkali-kali katakan padamu, Amar. Aku tidak akan pernah melupakan kamu," ucap Hanna."Oke ..."Sebelum perlombaan dimulai, ia mempertaruhkan nyawanya demi menolong Amar...Ia bar
Setelah beberapa saat terhenti, Kakek Wijaya berkata lagi, "Bahwa saya akan segera mengadakan pertunangan cucu saya dengan Nona Anna," ucap Kakek Wijaya dengan sangat jelas, sembari memegang bahu Anna di sampingnya sebagai petunjuk wanita inilah yang akan menjadi pendamping cucunya.Bagai kebakaran jenggot, Delia menggoyangkan lengan Damar dan mengatakan, "Damar. Apa benar yang di katakan Kakek?" Wanita itu merasa tidak bisa menerima. Begitu pula Anna yang terkejut mendengar penuturan Kakek.Sementara Damar tertegun beberapa saat. Setelah ia bisa mencerna dengan baik ucapan sang kakek, ia berjalan maju mendekati kakeknya."Apa yang kakek katakan? Damar tidak mungkin menerima wanita itu sebagai pendamping hidup Damar. Bukankah Damar sudah katakan jika sebenarnya wanita masa lalu cucu kakek sudah Damar temukan!" Damar mengatur ritme nafasnya. Ia sungguh ingin murka karena keputusan sepihak Kakeknya. "Kakek tidak mau tahu, karena pilihan Kakek hanya untuk Nona Anna. Hanya dia yang panta
Di koridor luar kamar Damar yang sepi, Lian berdiri bersandar di dinding, napasnya cepat dan penuh emosi yang tertahan. Dia melirik kanan-kiri, memastikan tidak ada orang yang mendengar, sebelum berbalik menghadapi Delia yang berdiri di dekatnya dengan ekspresi gugup.Lian, aku hanya melakukan apa yang kau minta," bisik Delia, mencoba membela diri, meski nadanya terdengar lemah.Namun Lian tidak bisa menahan kekesalannya lebih lama lagi. Wajahnya merah, rahangnya mengeras, dan suaranya nyaris tertahan agar tak terdengar dari dalam ruangan Damar."Melakukan apa yang aku minta? Serius, Delia? Itu sama sekali bukan yang aku inginkan!" Lian membentak, suaranya rendah namun tajam seperti pisau. "Kau seharusnya hanya pura-pura menjadi wanita masa lalunya, bukan malah memberikan napas buatan seolah-olah kau benar-benar menyelamatkannya!"Asisten Lian berkata kasar pada Delia, karena di otaknya sudah mulai berasap. "Apa kamu menikmatinya, hah? Apa kau sadar? Aku sangat cemburu melihat semua
Anna meraih pergelangan tangan Damar, dan reflek Damar menarik tubuhnya agar tidak jatuh. Keduanya saling berpandangan tanpa terasa ia menghabiskan waktu beberapa saat untuk hal konyol itu menurut Damar. Seketika kerja jantung Damar bekerja berkali lipat.'Astaga ... Ada apa denganku? Hanya dengan wanita ini aku kesulitan menggerakkan tubuhku. Ayo sadar Damar!!' racau nya."Damar!"Panggilan Delia mengagetkannya. Hingga Damar terpaksa melepaskan tangannya, membiarkan tubuh Anna terjatuh."Ah... Ya, Hanna? Maaf!!" Tak enak hati, pasti Hanna berpikir macam-macam melihatnya tadi. 'Dasar Damar bod0h!!' batinnya mengumpat sendiri."Aku tidak jadi minum, tiba-tiba rasa hausku sudah hilang dengan sendirinya melihat kemesraan kalian!" Berpura-pura cemburu, agar Damar makin tidak bisa merelakan Delia pergi dari sisinya."Maaf ya, Hanna. Aku hanya membantunya agar tidak jatuh, itu saja."****Di ruang tamu besar rumah keluarga Wijaya, Kakek Wijaya duduk di kursi favoritnya dengan ekspresi seri
Delia mengetuk pintu ruangan Damar. Setelah suara balasan dari dalam ruang menyahut, wanita itu pun segera masuk ke dalam tanpa ragu. Melangkahkan kakinya yang jenjang dengan mengenakan sepatu hitam dengan hak tinggi.Semula Damar sibuk dengan laptopnya. Terpaksa ia hentikan pekerjaannya demi wanita special itu. "Hanna? Pagi sekali kau datang? Kenapa tidak memberi tahuku jika mau datang? Aku kan menjemputmu."Delia menarik sudut bibirnya ke samping. "Bukan kamu yang jemput tapi pasti menyuruh asisten kamu, kan Damar?" Damar hanya tersenyum gemas. "Tidak akan Hanna, kamu kan wanita yang berharga demi apapun di dunia ini. Aku akan prioritaskan kamu meski aku sedang sibuk sekalipun."Seperti sebelumnya, wanita dengan tipu daya itu akan menunjukkan wajah sedih. Ia harus menjadikan dirinya penipu ulung. Damar harus tahu jika Delia benar-benar terpukul akan idenya.Di ruangan besar dan mewah kantor Damar itu, Hanna palsu—Delia—duduk di sofa dekat meja kerja Damar. Ia tersenyum lembut, mena
Di aula pertemuan besar kantor pusat Wijaya Group, suasana yang biasanya penuh semangat mendadak sepi. Para pegawai duduk dalam keheningan, menunggu pengumuman penting yang akan disampaikan oleh Presiden Direktur, Damar, dan Kakek Wijaya. Wajah-wajah mereka dipenuhi tanda tanya. Semua orang telah mendengar desas-desus tentang wanita masa lalu Damar yang telah ditemukan, tetapi tak ada yang menyangka bahwa hari ini mereka akan mendengar pengumuman tentang pernikahan.Damar berdiri di depan ruangan, wajahnya tampak tenang namun tatapannya tajam. Di sebelahnya, Kakek Wijaya tersenyum bangga, seolah-olah semua yang telah direncanakannya berjalan sesuai keinginan. Di sudut ruangan, berdiri Anna. Ia tampak terkejut dan cemas, tak tahu apa yang akan terjadi. Ia merasa tak ada firasat buruk, namun getaran aneh mengguncang hatinya. Dan yang paling tak terduga, nama dirinya akan disebut.Damar melangkah maju ke podium, mikrofon di genggamannya. Suasana tegang, semua mata tertuju padanya.Dam
Keesokan paginya, di ruang keluarga yang luas dan megah, Damar duduk diam di sofa kulit berwarna cokelat tua, dipenuhi aroma kayu tua dan hiasan-hiasan antik, memandang keluar jendela besar yang menghadap taman. Cahaya matahari yang cerah membanjiri ruangan, tapi dalam hati Damar, hanya ada kegelapan dan kekosongan. Di seberangnya, Kakek Wijaya duduk dengan tenang di kursi kayu dengan ukiran indah, wajah tuanya dipenuhi keriput yang menunjukkan pengalaman hidup panjang, namun di matanya, masih ada sinar harapan yang belum padam.Untuk kesekian kalinya, percakapan tentang pernikahan itu kembali mengemuka. Kakek Wijaya telah lama mendorong Damar untuk menikah, dan nama Anna-lah yang disebutnya berulang kali, meski Damar telah menunjukkan kebaikan Delia berulang kali, tetap saja Kakek tidak pernah memandang Delia sebagai wanita terbaik untuk Damar. Wanita yang selama ini bekerja sebagai sekretaris Damar. Wanita yang dalam pandangan Damar, tidak lebih dari sosok wanita hina yang tidak
Damar baru ingat, jika semua terjadi yang menimpanya karena ulah Anna. Sorot matanya menelusuri ruang kamarnya. Ia tak mendapati Anna di sana.Asisten Lian yang tanggap segera bertanya, "Tuan, apa yang sedang Anda cari?" Meskipun sebenarnya dia tahu jika sedang mencari Anna."Kau tahu di mana Anna? Wanita hina yang merusak hidupku! Wanita yang datang dan mengobrak abrikkan diriku? Gara-gara Anna, aku tenggelam. Dan gara-gara Anna juga aku di permalukan banyak orang. Mereka semua jadi tahu jika aku pria lemah yang tidak bisa berenang," ucapannya pada Asisten Lian."Wanita itu harus di hukum, Asisten Lian!!" sambungnya tidak terima."Gara-gara dia, aku hampir ma ti!!" Kakek Wijaya menggeleng kepala. "Kejadian yang menimpamu itu karena ulahmu sendiri, bagaimana bisa kamu menyalahkan Nona Anna!?" Pria tua itu tetap tidak setuju jika Damar menyalahkannya.Hanya mengulas senyum getir. "Kakek akan mempercepat pernikahan kalian."Baik Damar, Delia dan Lian bertanya-tanya. Kalian siapa maksu
Di koridor luar kamar Damar yang sepi, Lian berdiri bersandar di dinding, napasnya cepat dan penuh emosi yang tertahan. Dia melirik kanan-kiri, memastikan tidak ada orang yang mendengar, sebelum berbalik menghadapi Delia yang berdiri di dekatnya dengan ekspresi gugup.Lian, aku hanya melakukan apa yang kau minta," bisik Delia, mencoba membela diri, meski nadanya terdengar lemah.Namun Lian tidak bisa menahan kekesalannya lebih lama lagi. Wajahnya merah, rahangnya mengeras, dan suaranya nyaris tertahan agar tak terdengar dari dalam ruangan Damar."Melakukan apa yang aku minta? Serius, Delia? Itu sama sekali bukan yang aku inginkan!" Lian membentak, suaranya rendah namun tajam seperti pisau. "Kau seharusnya hanya pura-pura menjadi wanita masa lalunya, bukan malah memberikan napas buatan seolah-olah kau benar-benar menyelamatkannya!"Asisten Lian berkata kasar pada Delia, karena di otaknya sudah mulai berasap. "Apa kamu menikmatinya, hah? Apa kau sadar? Aku sangat cemburu melihat semua
Setelah beberapa saat terhenti, Kakek Wijaya berkata lagi, "Bahwa saya akan segera mengadakan pertunangan cucu saya dengan Nona Anna," ucap Kakek Wijaya dengan sangat jelas, sembari memegang bahu Anna di sampingnya sebagai petunjuk wanita inilah yang akan menjadi pendamping cucunya.Bagai kebakaran jenggot, Delia menggoyangkan lengan Damar dan mengatakan, "Damar. Apa benar yang di katakan Kakek?" Wanita itu merasa tidak bisa menerima. Begitu pula Anna yang terkejut mendengar penuturan Kakek.Sementara Damar tertegun beberapa saat. Setelah ia bisa mencerna dengan baik ucapan sang kakek, ia berjalan maju mendekati kakeknya."Apa yang kakek katakan? Damar tidak mungkin menerima wanita itu sebagai pendamping hidup Damar. Bukankah Damar sudah katakan jika sebenarnya wanita masa lalu cucu kakek sudah Damar temukan!" Damar mengatur ritme nafasnya. Ia sungguh ingin murka karena keputusan sepihak Kakeknya. "Kakek tidak mau tahu, karena pilihan Kakek hanya untuk Nona Anna. Hanya dia yang panta
Damar bergeming sejenak mendengarkan permainan biola indah yang tidak pernah di dengarnya.Terakhir kali ia mendengarkan permainan itu saat Hanna menampilkan padanya dulu."Amar, bagaimana permainan biola ku? Jelek gak?" tanya Hanna setelah beberapa menit ia memainkan permainan biola kegemarannya.Hanna sangat senang bermain biola. Karena biola adalah hidupnya. Saat ia sedih, hanya suara biola yang dapat menenangkannya. "Bagus Hanna. Wah ... Kamu jago sekali bermain biola? Kamu pasti menang ikut perlombaan itu!!" puji Amar menunjukkan kesungguhan."Benarkah? Aku jadi semangat untuk mengikutinya, Amar.""Tentu. Oh ya, saat kamu ikut perlombaan itu terus menang dan mendapatkan uang banyak, kamu jangan melupakan aku ya? Aku takut, setelah kamu sukses, terus melupakan aku, Hanna!" celetuk Amar polos."Aku sudah berkali-kali katakan padamu, Amar. Aku tidak akan pernah melupakan kamu," ucap Hanna."Oke ..."Sebelum perlombaan dimulai, ia mempertaruhkan nyawanya demi menolong Amar...Ia bar
Sementara dalam perjalanan Asisten Lian dan Hanna..."Sayang ... Beri aku separuh hadiah yang kau terima dari Damar! Ini tidak adil jika kau habiskan sendiri uang itu! Uang tersebut tidak akan habis tujuh turunan!" ucap Delia nama asli dari dramanya memerankan sebagai peran Hanna. Ia memasang wajah cemberutnya.Asisten Lian tertawa keras. Ia mencubit pipi Delia gemas. "Dasar wanita. Selalu memiliki sifat iri! Apa kamu lupa, mobil ini pun harganya fantastis? Selama kamu bisa memerankan drama kamu sebagai Anna, kamu akan banjir uang, Sayang!! Uang yang kuterima tidak akan ada artinya untukmu!"Delia bergeming sejenak. Memikirkan ucapan Lian. Hingga bayangan-bayangan yang dirakit dalam otaknya pun berjalan. "Benar, aku bisa merasakan juga kekayaan yang dimiliki Damar selama aku di sampingnya. Melihat bajuku kotor saja tanpa pikir panjang ia segera mentransfer sejumlah uang untukku membeli pakaian. Loyal banget pria itu! Apa dia pria bodoh ya? " Delia menurunkan bibirnya."Entahlah, dia