LOGINHana akhirnya membalikkan badan sembari melipat tangan di depan dada. Tatapannya datar, tidak ada ketakutan, kesedihan, ataupun kekecewaan. Sudah terlalu banyak hal yang membuat Hana merasa sakit, bahkan mungkin saat ini perasaannya hambar kepada adiknya sendiri.Kasih sayangnya kini hanya tersisa setetes, sama seperti ikatan darah yang memang tidak bisa dihancurkan oleh apa pun. Kalau saja adiknya ini orang lain, mungkin dia akan melakukan semuanya dengan totalitas tanpa berpikir dua kali. Namun, Hana takut kalau orang tuanya merasa sedih, jadi dia hanya akan memberikan hukuman beberapa persen saja."Aku sudah punya banyak bukti, sebelum kamu mengatakan kalau kamu sendiri punya buktinya."Kalila, mendengar itu, terkesiap. Tubuhnya menegang di tempat. Raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang barusan didengar, seolah sebuah pukulan mutlak mendarat di hatinya sampai ia tidak bisa mencerna kata-kata kakaknya.Melihat kebingungan di mata K
Hana terdiam. Dia menatap lurus ke depan. Sudah diduga kalau adiknya itu pasti akan cuci tangan dengan cara menyerahkan bukti-bukti kejahatan Aji, agar dirinya bersih dari tuduhan apa pun.Mungkin kalau saja kasus ini tidak melibatkan perselingkuhan, tentu Hana akan memihak kepada Kalila. Tetapi, rasa sakitnya itu sudah terlalu mendalam, bahkan untuk memaafkan adiknya saja dia tak bisa.Dia melakukan ini hanya demi ikatan darah yang tidak bisa diganggu gugat. Hana akan menyelamatkan nyawa Kalila dari Aji hanya sampai batas itu, dan bukan berarti akan menyelamatkan Kalila dari hukuman yang seharusnya diterima.Terlihat Hana menarik napas panjang. Meskipun dari belakang, Kalila dengan jelas melihat pundak kakaknya naik turun, menandakan kalau wanita itu sedang berusaha tenang.Jantung Kalila berdetak dengan sangat kencang. Dia berharap kakaknya bisa memberikan toleransi kepadanya agar tidak dihukum atau membusuk di dalam penjara. Kalila janji, setelah masalah ini selesai, dia akan pergi
Setelah Aji diikat dengan kuat dan rapi di gudang, Rendy dan Bi Asih pun membantu Hana untuk mencari bukti-bukti yang sekiranya bisa dijadikan alat untuk menghancurkan Aji, terutama perselingkuhan suaminya dan adiknya. Namun sebelum itu, Hana pun menemui Kalila yang sedari tadi ada di kamar. Sejauh ini adiknya menurut dan tidak mengeluarkan suara apa pun yang bisa mencurigakan. "Tolong, ya. Cari apa pun yang sekiranya bisa dijadikan bukti dan juga cari saja di manapun. Entah itu di mobil, di tas kerja Mas Aji atau di manapun. Aku ingin bukti itu segera didapatkan sebelumnya Mas Aji sadar kembali." Kedua orang itu menganggukkan kepala, sementara Hana langsung berjalan ke tempat Kalila. Di dalam, wanita itu sudah benar-benar ketakutan. Bagaimana kalau Aji tahu keberadaannya di sini? Pasti wanita itu akan berada dalam bahaya atau mungkin nyawanya akan hilang detik itu juga.Tubuhnya tersentak saat mendengar pintu terbuka. Dia mematung tempat, takut jika yang datang itu Aji, tapi Kal
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Hana? Tentu saja aku hanya ingin tahu, tidak lebih," ucap Aji, gelagatnya mencurigakan. Terlihat sekali canggung dan Hana sudah menangkap semua kebohongan itu sejak dia bertanya tentang kamar Kalila. Hana sudah yakin kalau semua ini tidak bisa ditunda lagi. "Ya sudah, Mas. Cepat sarapan, takut nanti telat. Jangan sampai kamu kesiangan. Nanti kesempatan untuk mencari kerja akan hilang," ujar Hana.Aji pun menurut saja dan dia langsung menyantap makanan dengan tenang. Sementara itu Nara hanya diam saja melihat pembicaraan kedua orang tuanya. Dia terlalu kecil untuk memahami yang sedang dibicarakan Hana juga ayahnya.Hana makan secara perlahan, dia ingin melihat suaminya menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Baru dia akan menyusul untuk menghabiskan makanan yang ada di piring. Karena wanita itu sedang menunggu sesuatu yang sangat penting, yakni reaksi obat yang diberikan oleh Bi Asih ke minuman milik Aji. Tak butuh waktu lama sampai Aji selesai ma
Pria itu pun bergegas untuk membersihkan diri. Dia tidak tahu ke mana Kalila, yang pasti tujuannya kali ini adalah bertemu dengan rekannya yang sudah dimintai bantuan untuk mencari di mana keberadaan Kalila. Dia juga harus pastikan kalau bukti yang Kalila punya itu segera dimusnahkan.Suara ketukan pintu membuat Aji terkesiap, kebetulan pria itu sedang memakai jam tangan. Suara Hana juga terdengar dari sana."Mas, kamu sudah bangun, kan? Ayo kita sarapan! Nara juga sudah menunggu," ucap istrinya membuat Aji yang bernapas lega. Dia kira Hana ingin mengatakan apa, ternyata hanya mengajaknya sarapan. Semenjak Kalila hilang begitu saja, entah kenapa hatinya tidak tenang. Ketakutan jika Hana tahu tentang kejahatannya, termasuk memalsukan obat saat Hana sakit dulu. "Nggak bisa dibiarin. Bisa-bisa aku gila kalau ketakutan seperti ini. Lagi pula sebaiknya memang Hana tidak tahu apa-apa. Kalau aku sudah bertemu Kalila, aku juga akan membuat Hana kehilangan segalanya, termasuk Nara," ujar Aji
"Kok, kamu ngomong seperti itu sama suami sendiri? Kamu mencurigaiku?" tanya Aji, tiba-tiba saja malah benar-benar berbeda jauh dari sebelumnya. Saat Hana mengatakan tentang gaji dan keuangan, ini membuat Hana takut kalau Aji itu sebenarnya psikopat yang sedang menyamar jadi suaminya. Namun, sudah bertahun-tahun lamanya sampai Nara cukup besar, Aji baru memperlihatkan semua itu. "Em, mungkin perasaanku saja. Kamu akhir-akhir ini tidak seperti biasanyam kamu jauh berbeda dengan Mas Aji yang dulu, saat aku sakit. Apakah ini karena aku sembuh, jadi kamu berubah sikap?" tanya Hana dengan berani lagi. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi hari ini, yang pasti wanita itu harus tahu sifat asli Aji seperti apa jika dirinya terus menekan emosi sang pria."Tidak seperti itu, Hana. Aku hanya kaget saja karena kamu tiba-tiba bilang kalau kamu tidak membutuhkanku. Bukankah itu adalah hal yang sangat sensitif jika didengar oleh seorang suami? Suami itu kan tugasnya mencari nafkah. Kamu seolah







