Oliver berdiri di tengah lapangan basket sekolah, mengenakan seragam timnya yang berwarna biru dengan angka "7" di punggungnya.Sorakan dan tepuk tangan dari penonton menggema di seluruh gymnasium. Hari ini adalah pertandingan final yang telah lama ditunggu-tunggu. Dan Oliver, sebagai kapten tim, memimpin dengan penuh percaya diri.Di bangku penonton, Davin dan Jingga duduk berdampingan bersama Olivia dan si kembar—Ariana Briana. Mereka menyaksikan setiap gerakan Oliver dengan bangga. Jingga memegang tangan Davin, mencoba menenangkan suaminya yang tampak tegang."Tenang saja, Sayang," bisik Jingga, "Oliver pasti bisa."Davin hanya mengangguk, mata elangnya tetap tertuju pada lapangan. Ia selalu merasa cemas setiap kali menyaksikan anak-anaknya dalam situasi kompetitif. Tapi di balik kecemasan itu, ada rasa bangga yang luar biasa.Pertandingan berlangsung sengit. Oliver menunjukkan kemampuannya sebagai kapten dengan memimpin timnya melalui stra
Rasa kehilangan itu masih ada meski sudah tiga tahun berlalu sejak ia kehilangan ibu mertuanya.Dengan perasaan sedih dan rindu, Jingga menaburkan bunga di atas tanah sebuah makam. Tanpa terasa air mata meluruh di pelupuk mata, rindu akan pelukan sang ibu mertua, yang kala itu mengembuskan napas terakhir di dalam pelukannya.“Ma, apa kabar?” bisik Jingga dengan suara lirih. “Aku kangen Mama.”Davin merangkul pundak Jingga, meremasnya lembut untuk memberinya ketenangan. Meski tidak banyak berbicara, tapi Jingga tahu bahwa saat ini yang paling terluka dan kehilangan di antara mereka berdua adalah Davin.Dulu, di hari kematian Lucy, Davin tampak terpuruk dan tidak ‘berfungsi’ sebagai manusia normal hampir selama seminggu lebih.“Kemarin Oliver dan tim basketnya dapat juara satu, Ma,” lanjut Jingga, seolah-olah Lucy ada di hadapannya. “Mama pasti bangga, ‘kan?” Jingga terkekeh pelan, membayangkan jika Lucy ada, dia akan menciumi pipi Oliver saat mendapat juara, tidak peduli jika di sampin
“Masih ada satu kejutan lagi untukmu, Sayang.” “Kejutan apa lagi? Kamu belum cukup membuatku syok, ya?” Davin tertawa kecil. Menatap Jingga dengan mesra. “Kamu suka dengan kejutanku barusan?” “Tentu saja,” jawab Jingga malu-malu. Hatinya merasa berbunga-bunga, seolah-olah mereka adalah pengantin yang baru merayakan anniversary pertama. “Aku tahu, setiap kejutan dari kamu selalu out of the box, tapi kali ini jauh lebih out of the box lagi.” Tawa Davin kembali terdengar, kebahagiaan terpancar jelas dalam sorot matanya, menggantikan kesedihan saat di makam beberapa saat yang lalu. Davin tampak lebih misterius daripada biasanya. Ia tidak memberi tahu ke mana mereka akan pergi, hanya mengatakan bahwa ini adalah kejutan terakhir yang telah ia siapkan. Jingga terus menduga-duga ke mana Davin akan membawanya. Namun, semua tebakannya salah saat mereka tiba di sebuah gedung besar yang dikelilingi oleh lampu-lampu gemerlap. Hati Jingga berdebar-debar saat menyadari apa yang ada di depan
“Pak, aku turun di sini aja, deh.” Oliver melirik arloji di pergelangan tangan kirinya dengan gelisah. “Udah mau bel soalnya.” “Siap, Den.” Sang sopir bergegas melepas sabuk pengaman dan hendak turun, akan membuka pintu untuk tuan mudanya. Akan tetapi Oliver sudah membuka pintu sendiri sambil berkata, “Nggak usah turun, Pak. Terima kasih, ya!” Pemuda berseragam putih abu itu berlari di trotoar jalan, menyampirkan ransel di bahu kiri, memeluk beberapa buku tebal, melewati kendaraan yang terjebak kemacetan di depan sekolah elit tersebut. Di tempat itu ada dua sekolah SMA populer yang berbeda, tempatnya saling berseberangan. Kemacetan sudah menjadi konsumsi para pengendara setiap pagi dan sore. Pasalnya, setidaknya satu orang pelajar diantar oleh satu mobil. Tidak terbayang bagaimana panjangnya antrean kendaraan itu. Oliver berlari tergesa-gesa. Dua menit lagi bel berbunyi. Hari ini ia terlambat berangkat karena bangun tidurnya kesiangan. Semalam ia berlatih basket untuk persiapan p
“Aku yang duluan datang ke sini, Kak. Siapa yang datang duluan dia yang—“ “Tapi gue yang duluan pesan!” sela Oliver, menghentikan kata-kata gadis itu—yang langsung menoleh menatapnya dengan sengit. “Nggak bisa begitu dong! Gue yang datang duluan. Itu kue buat gue!” “Lo kayaknya cuma baru lihat-lihat doang,” timpal Oliver tak mau kalah. “Terus gue dateng dan gue yang pesan duluan.” Keduanya saling berebut red velvet cake itu tanpa ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya seorang pria tua yang sejak tadi duduk di bangku dekat jendela dan mendengarkan pertengkaran mereka, berbicara, “Kalian bagi dua saja kuenya, atau makan bersama-sama.” Setelah mendengar saran dari pria tua itu, terang saja Oliver tidak setuju, dan gadis itu pun demikian.Namun, karena red velvet cake tersebut adalah kue favorit Oliver—dan tampaknya begitu pula dengan gadis yang entah siapa namanya itu, akhirnya mereka berdua sepakat untuk membagi dua kuenya. Sang pelayan memberikan dua piring berisi kue yang sudah
Oliver berdiri di depan pagar sekolahnya, sedang menunggu Pak Dodi yang katanya sedang terjebak macet. Tanpa sengaja, tatapannya tertuju pada sekolah yang ada di seberangnya. Seorang cewek yang sedang bermain basket sendirian mencuri perhatiannya. Ia memperhatikan setiap tembakan cewek itu dan... tanpa sengaja, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. Gadis itu tampak handal bermain basket. Dan jauh di dalam hati, Oliver merasa terpukau dengan setiap tembakan gadis itu. Namun, saat menyadari siapa sebenarnya gadis yang sedang bermain basket tersebut, sebuah senyuman jahil terukir di bibirnya. “Gaya tembakan lo itu kayak orang baru belajar basket!” teriaknya dengan nada mengejek, cukup keras hingga terdengar sampai ke lapangan di seberang. Mendengar teriakan Oliver, cewek itu terhenti, menoleh dengan alis terangkat. Ia mendapati seorang cowok dengan postur tegap dan senyum yang sangat mengganggu di wajahnya. Mata gadis itu terbelalak kala melihat siapa lelaki itu. Dia lelaki men
Setelah pulang sekolah, Oliver memutuskan untuk berjalan kaki. Ia sempat mengirim pesan pada Pak Dodi agar menjemputnya di sebuah cafe. Sore ini, Oliver ingin menghabiskan waktu sendirian di cafe tersebut sebelum pulang ke rumah. Saat sedang berjalan di trotoar, tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang cukup familiar akhir-akhir ini. Dia gadis yang kemarin bermain basket dengannya, di lapangan sekolah seberang, sedang berjalan kaki di depannya, menuju halte bus. Oliver melihat gadis itu sesekali menendang batu kerikil, tangannya mengusap tanaman yang ia lewati, atau berlari sambil melompat-lompat ringan seperti anak kecil. Seolah-olah berjalan tanpa melakukan apapun akan membuatnya gelisah. Oliver mendengus pelan, entah mengapa ia merasa terhibur dengan menatap tingkah laku gadis itu. Aneh, pikirnya. Akhir-akhir ini ia sering—walau hanya tiga kali, bertemu dengan gadis tersebut tanpa sengaja. Tiba-tiba, hujan gerimis mulai turun. Oliver mengenakan jaketnya yang semula ia sim
“Hey! Nama lo siapa?!” Gadis itu mendengar seruan pemuda yang tak ia ketahui namanya. Ia menoleh sambil berlari dan memayungi kepalanya menggunakan jaket laki-laki itu.“Yara!” serunya, menyebutkan namanya. “Yara Vianca Zettira!” Yara melompat naik ke dalam bis dan menempati salah satu kursi yang kosong. Ia merasakan jantungnya berdetak kencang. Pipinya memanas. Kejadian barusan di tempat berteduh membuatnya merasakan sensasi aneh di dalam hatinya, yang baru kali ini Yara rasakan. Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Tanpa sadar Yara mengulum senyum sambil melipat jaket lelaki itu yang sedikit basah. Tercium aroma parfum yang tidak pasaran. Sepertinya itu parfum mahal, pikirnya. “Ada apa, Neng? Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya sang ibu, setibanya Yara di halaman rumahnya beberapa lama kemudian. Hujan sudah berhenti. Yara terkejut. “Eh? Ibu....” Ia berdehem, menyembunyikan jaket itu di belakang punggung dan mencium tangan ibunya yang tengah menyapu daun-daun yang berjatuhan ke ter