Kuparkirkan mobil dan segera menuju posisi di mana Agam dan anak buahku berada. Berjalan cepat melewati lorong rumah sakit yang sepi pengunjung. Rumah sakit ini milik swasta, sehingga malam hari pun poliklinik buka praktik.
Dari kejauhan, kulihat mereka sedang mengobrol. Aku mempercepat langkah sembari berusaha mengendalikan emosi. Aku sangat berharap bisa bertemu dengan Dinta.
Melihat kedatanganku, Agam segera mengulurkan tangan untuk mengajak bersalaman. Demi mencari tahu keberadaan Dinta, kusambut uluran tangan dari mantan suami Nia itu. Padahal, bila menuruti kata hati, ingin sekali menarik kerah bajunya dan mendaratkan pukulan di wajah Agam.
Kulirik papan pada pintu ruangan poli rumah sakit. Di sana ada tulisan nefrologi, poliklinik tempat pemeriksaan pasien dengan masalah ginjal.
“Apa kabar, Pak Agam? Lama tidak bertemu,” tanyaku berusaha ramah.
“Alhamdulillah, baik, Pak Irsya. Pak Irsya sedang ada acara apa di sini?”
“Nia! Kamu keterlaluan! Dinta ini anaknya Agam. Kami hanya meminta ginjalnya, kamu malah mempersulit seperti ini. Kamu mau saya laporkan sama polisi, hah?” Kakak Agam berteriak memaki Nia, tepat di hadapanku.Dari ucapannya, aku bisa mengetahui kalau perempuan ini memiliki pendidikan yang minim. Makanya, dia berbicara asal. Karena faktor intelegensi yang sangat rendah, membuatnya berbicara tanpa memikirkan akal dan kebenaran. Orang dengan tipe seperti di tidak bisa dihadapi dengan adu mulut. Jelas, hanya akan membuat hati semakin panas.“Inilah sebabnya, kamu tidak bisa diterima baik oleh keluarga kami dari dulu. Kamu jelas jauh berbeda dari Rani. Dasar perempuan egois!” lanjutnya lagi sambil menatap sinis Nia.“Mau sampai kapan kamu bertindak seenaknya, Nia? Udah Agam pergi tanpa membawa harta sedikit pun, sekarang kamu melarang yang Dinta untuk jadi pendonor Aira. Di mana hati nurani kamu, Nia?” Ibu Agam ikut menyalahkan Nia
Aku meminta Doni untuk membawa pulang Dinta lebih dulu. Sekarang, aku hanya bersama Nia di dalam mobil. Aku masih terdiam, memberikan ruang untuknya meluapkan segala emosi dalam dada. Hanya isak serta sedu sedan yang kudengar sepanjang kami bersama. Kini, mobil sudah di jalan raya, keluar dari kawasan rumah sakit.Di jalan yang agak lengang, kutepikan kendaraan.“Menangislah yang kencang, Nia. Jangan ditahan. Ungkapkan semua rasa kesal dan emosi kamu. Jadikan malam ini sebagai malam terakhir kamu menangis karena mereka. Karena setelah ini, aku janji, tidak akan ada satu pun orang yang bisa menyakitimu.”Hanya kalimat ini yang bisa kuungkapkan untuk mengurangi kesedihan serta beban wanita di sampingku. Tenggorokan ini tercekat. Meski pernah disakiti dua kali dalam pernikahan, tetapi yang dialami Nia ini jauh lebih berat dari yang pernah menimpaku.Sekitar seperempat jam, kami bersama dalam bisu. Nia masih menangis. Kali ini, dengan suara yang a
Pagi harinya, aku langsung pamit pulang. Sudah dua hari tidak ke sekolah, jadi aku harus berangkat. Siang nanti, aku akan ke toko perhiasan untuk membelikan mas kawin yang paling indah untuk Nia. Meski baru pernikahan di bawah tangan, tetapi aku harus memberikan sesuatu yang membuat Nia merasa berharga.“Pak Irsya, wajahnya semringah sekali hari ini. Dua hari tidak berangkat, ke mana aja, Pak?” Bu Parmi, guru senior di sekolahku ini rajin menggoda. Maklum, usia beliau jauh di atasku, jadi berani seperti itu.“Masa, sih, Bu? Biasa saja, ah. Saya bahagia, karena saya bertemu dengan Bu Parmi setelah dua hari tidak berangkat,” candaku pada wanita berusia di atas lima puluh tahun itu.“Bohong sekali, Pak. Ayo, ke mana, tuh? Atau jangan-jangan, sedang mempersiapkan sesuatu, ya?” godanya, lagi.Aku tersenyum malu. Memang benar, orang kalau merasa bersalah akan sulit berkilah.Sejenak, aku ingat sesuatu hal. Malam tadi,
“Mbah, ada cicak. Aira mau nyanyi.” Anak kecil di sampingku berceloteh girang saat melihat hewan merayap di tembok.“Mana, mana? Oh, itu? Iya, ada cicak.” Ibu Agam ikut menimpali.“Cicaknya ada berapa itu, Mbah? Ada banyak. Aira pengin nyanyi.”Aku berdeham, berharap tamuku tahu, kalau aku tidak suka. Kulirik Agam yang menatapku segan.“Bu, tolong Aira dibawa keluar,” pinta mantan suami Nia pada ibunya.Kakak Agam yang beranjak dan meraih tubuh keponakannya, lalu membawa pergi.“Jadi, kedatangan kalian ke sini untuk menghasut saya?” Aku bertanya untuk memastikan.“Bukan menghasut, Pak. Kami ingin menyelamatkan Pak Irsya dari Nia. Dulu saja, waktu masih hidup dengan Agam, sukanya mengekang. Perempuan tapi mengatur suami, kan, itu tidak baik, Pak. Tidak menurut sama imam, itu bukan istri baik, kan? Kami sampai kehilangan akal mengatasi sifatnya. Makanya, Agam memili
Sejurus kemudian, wanita yang sebentar lagi akan kunikahi menempelkan keningnya pada kamera. Lalu, kucium layar gawai sekarang sekarang adalah keningnya. Cukup lama diriku melakukan hal bodoh itu. Hingga tawa Nia menyadarkan anganku. Ternyata, kamera sudah mengarah pada seluruh wajahnya. Setelah panggilan berakhir, aku segera bersiap-siap untuk mandi karena hari sudah sore. Malam hari selepas magrib, dengan ditemani Doni, aku berangkat ke rumah Nia. Tak lupa membawa satu set perhiasan sebagai mas kawin. Doni pemuda yang sangat sopan, dia tidak pernah berani menggodaku. Sikapnya sangat menunjukkan kalau dirinya seorang yang terpelajar. Meskipun hanya pernikahan siri, aku harus tampil dengan sempurna. Memakai baju batik berwarna coklat dengan celana hitam. Tak lupa, sebuah peci tersemat di kepala ini. Sejenak kupandangi diri di balik cermin. Tidak jauh dengan Dorry Harsa. Hanya beda usia saja. Begitu sampai di rumah Nia, suasana sudah ramai. Padahal, ak
Aku hendak menjawab, tetapi ada kedua anak di bawah umur yang tidak sepatutnya mendengar obrolan kami. Aku hanya mendengkus sebal. Ibu dari kedua anak itu malah tersenyum lebar dan menggoda.“Tunggu hukumanku nanti,” ancamku sembari menyeringai.“Papa mau hukum Ibu? Ibu salah apa?” tanya Dinta cukup keras, hingga terdengar oleh neneknya.“Dinta, Danis, katanya mau beli es krim sama tante?” Sepertinya, ibu dari Nia cukup paham, apa yang sedang kuinginkan, jadi berusaha memberikan uang waktu untuk kami berdua.“Dinta, papa punya sesuatu untuk Dinta.”Aku teringat sebuah benda yang kubelikan untuknya. Bagaimanapun, yang kunikahi adalah janda yang memiliki anak. Jadi, bukan hanya tentang hubunganku dengan Nia. Aku juga harus bisa membuat mereka nyaman dengan hadirnya orang baru di tengah-tengah mereka.“Apa itu?” tanya anak perempuan itu, penuh antusias.“Ada di antara perh
NIAPria itu akhirnya sah menjadi suamiku. Meski belum tercatat di KUA, tetapi bersentuhan dengannya saat ini sudah tidak menjadi dosa bagi kami berdua.Bahagia? Aku sangat bahagia. Tiada kata-kata yang mampu menggambarkan rasa hati ini. Kini, aku memiliki seorang pria tampan yang baik dan melindungi kami bertiga. Masalah pangkat dan kedudukannya, aku tidak peduli. Bilapun dirinya memiliki kelebihan akan hal itu, kuanggap hanya faktor kebetulan semata. Lagipula, awal pertemuan kami hanya karena masalah kerjasama bisnis.Diberikan sebuah mas kawin yang sangat indah merupakan kebanggaan tersendiri bagiku yang sudah janda. Pak Irsya orang yang pandai membawa diri. Sadar, bahwa menikahiku—kata pepatah beli satu dapat tiga—dirinya mencoba untuk tidak menciptakan suasana yang membuat Dinta merasa diabaikan.Saat lelaki berstatus duda itu mengucapkan ijab kabul, aku sengaja mendengarkan dari kamar. Aku tidak ingin ada yang melihat saat
“Aku punya sesuatu yang spesial untuk kamu.” Bisiknya di telinga ini. Selain suka memanggil namaku, dirinya juga hobi berbisik di telinga.“Menjauhan dikit. Aku lagi cuci piring.”Bukannya pergi, malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya.“Mas,” panggilku manja. Dan memintanya untuk menjauh dari tubuhku menlalui kedipan mata. “Menjauh, nanti anak-anak lihat, bagaimana?”“Baiklah, aku tunggu di kamar, ya?” Sedetik kemudian, dirinya sudah berbalik dan menjauh dari aku.“Bu, Adek mau bobok sama Kakak. Tapi, boleh main HP, ya?” pinta Danis saat aku masuk ke kamar mereka.“Kakak pakai HP Ibu, Danis pakai HP papa. Ini.” Pak Irsya muncul dengan membawa dua benda pipih dan memberikannya pada mereka.“Tutup pintunya, Bu,” pinta Danis dan aku segera menutupnya.Kini, diriku sudah berada di dalam kamar dengan ranjang baru yang besar.
Part 11 POV Dania (Ending) Lelah hati tatkala harus menghadapi banyak hal. Akhirnya aku menyerah pada keadaan. Aku tidak akan memaksakan takdir apapun sekarang. Selalu bertemu dengan orang-orang yang membuat hati ini sakit hati, membuatku semakin sadar kalau hanya keluarga Laura saja yang baik padaku. Melihat penghianatan Nindi dan juga sikap Cika yang masih dingin dan membenciku, membuat hati ini sudah memutuskan. Aku akan menghilang dari hidup orang-orang yang mengenalku. Untuk apa mempedulikan Cika yang sangat membenciku? Baginya, Ines adalah ibunya. Setelah Nindi keluar dari rumah, Laura menelpon malam-malam dan menangis. Ia mengatakan kalau pacarnya ternyata selingkuh dan dia seorang diri. Laura menanyakan perkembangan hubunganku dengan Cika, dan aku menjawab apa adanya. “Cika tidak akan pernah bisa menerimaku. Itu kenyataannya,” jawabku sudah pasrah dengan keadaan. “Dania, aku minta maaf, bisakah kamu kembali kesini? Hidup bersamaku dan aku menarik semua ucapanku kemarin,” p
Part 10Tiga hari tinggal bersama, dia tetap masih diam. Makananku tetap disiapkan, tetapi menunggu aku keluar untuk makan sendiri. Dia sama sekali tidak seperti dulu yang memanggilku, menyiapkan baju ganti dan segala keperluanku. Akhirnya, pagi ini kuberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.“Apa aku akan diusir seperti Nindi?” tanyaku pelan. Dia yang lagi-lagi berkutat dengan laptop--mengangkat wajah.“Pilihlah mana dari milikku yang akan kamu ambil, Cika! Sisanya, bila kamu tidak mau, maka akan kujual. Kamu bisa gunakan untuk keperluan hidupmu. Itu jika kamu mau,” jawabnya tanpa ekspresi ramah.Aku memainkan jari jemariku. Bingung hendak menjawab apa. Ponselnya berdering dan dia langsung mengangkatnya. Aku masih berdiri mendengarkan dia berbicara dengan orang yang kukira ada di luar negeri.Meski sudah lama tidak pernah belajar bahasa asing lagi, tetapi aku tahu apa arti dari ucapan yang disampaikan seseorang dari seberang telepon sana. Speaker ponsel yang dihidupkan membuatku bi
Part 9“Mbak Dania, aku minta maaf, Mbak, aku akui memang salah dan aku akan meminta dia untuk keluar dari rumah Mbak Dania asalkan Mbak Dania masih mengizinkan aku untuk tetap di sini. Aku akan menjaga Cika, Mbak, aku janji,” kata Nindi sambil bersimpuh dan memegang kaki dia.“Aku sudah tidak butuh siapapun lagi, Nindi. Aku akan membiarkan orang-orang yang hanya memanfaatkanku dan juga orang-orang yang tidak menyukaiku untuk pergi dari hidupku. Aku tidak akan memaksakan takdir bahagia bersamaku, jadi, kamu tidak perlu bersimpuh meminta, karena aku sudah akan menghapusmu dari daftar orang-orang yang kukenal,” jawab dia santai.Seketika aku memandang wajah cantik itu. Ada sebuah perasaan terluka di sana. Jika dia benar-benar tidak mau lagi mengurusku, maka, siapa yang akan mengurusku lagi? Tiba-tiba saja ketakutan besar menguasai hati.Wajah itu, dia tidak mau melihat padaku. Padahal, aku berharap itu.Nindi masih bersimpuh sambil menangis.“Dimana mobilku, Nindi?” tanya dia datar.“Ee
Part 8POV CikaAku memilih masuk dan duduk di atas hamparan pasir meski terik matahari terasa sangat menyengat di kulit. Benar-benar bingung hendak minta tolong dan mengadu pada siapa, maka kuputuskan untuk menangis seorang diri.“Ya Allah, kirimkan bantuan untukku. Ya Allah, ampuni aku jika aku selama ini nakal dan banyak dosa. Ya Allah, aku janji, jika aku mendapatkan pertolongan untuk masalahku ini, aku akan kembali sholat seperti saat di pondok dulu. Jika ada orang yang menolongku, maka aku akan menjadikannya sahabat,” ucapku sambil menangis.Lama aku berada dalam posisi ini, hingga leher terasa pegal, lalu aku mengangkat kepala. Saat menoleh, ternyata ada seseorang yang duduk di sebelahku dan dia melakukan hal yang sama.Menatapku.Deg.Jantungku berpacu lebih cepat tatkala mendengar orang itu memanggil namaku. Dia sosok yang kurindu, tetapi juga kubenci.“Kenapa kamu berpanas-panasan sendirian di sini?” ucapnya sambil berteriak.Aku diam, enggan menjawab. Teringat olehku Nindi
Part 7POV DaniaAku menatap tubuh Nyonya dan Tuan yang terbujur kaku di rumah sakit dengan darah bersimbah di sekujur tubuh mereka–dengan hati yang sangat hancur.Baru sebentar kembali bekerja bersama mereka yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri, tetapi harus merasakan sakitnya kehilangan. Nyonya dan Tuan tewas dalam kecelakaan tunggal. Mobil yang mereka tumpangi menabrak sebuah pohon dan nyawa mereka langsung hilang di tempat itu juga.Tak tahu lagi harus berusaha tegar seperti apa. Karena mereka berdua adalah keluarga yang kumiliki saat ini dan kenapa takdir selalu tidak berpihak padaku?Mayat Nyonya dan Tuan dimakamkan dua hari kemudian setelah berbagai prosesi keagamaan mereka berdua berlangsung. Kini, saat semua pelayat pergi, aku hanya berdua saja dengan anak semata wayang Nyonya yang berusia dua puluh tahun.“Aku akan melanjutkan kuliah di negara sebelah. Kamu jika masih mau di sini, maka harus mencari pekerjaan lain. Karena aku sudah tidak bisa membayarmu. Rumahku aka
Part 6POV CIKAAku menatap rumah besar itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Meski keberadaanku tidak diakui di sini, tetapi nyatanya, belasan tahun diriku hidup di sana.Walaupun tanpa kenangan indah, tetapi aku bisa melakukan apapun di rumah itu. Kini, aku harus melangkah pergi untuk yang terakhir kalinya. Hati benar-benar sadar, jika memang diri ini tiada lagi diharapkan oleh mereka. Kehadiranku di rumah itu hanya untuk mengukir kisah sedih.Hari ini aku pergi dengan naik taksi. Pulangnya, memilih berjalan menyusuri jalanan komplek perumahan elit yang semuanya memiliki pagar yang tinggi. Sengaja memilih berjalan kaki, hanya sekadar ingin menikmati rasa yang sangat menyesakkan dalam dada ini. Rencananya, nanti akan pulang dengan naik bus. Di dekat gerbang perumahan ini ada sebuah halte.Langkah kaki ini berjalan lambat. Aku sadar kini aku sudah benar-benar sendiri, dan sebentar lagi, bisa saja harus tiba-tiba hidup dengan sosok yangtidak kukenal sama sekali. Aku Cika, harus ber
Part 5Sebuah ketukan di luar pintu kamar membuat Cika beranjak dari tempat tidurnya. Ia yang sudah setengah mengantuk terpaksa bangun untuk menemui orang yang sudah pasti itu Nindi. Dengan memicingkan mata, Cika menatap perempuan yang masih lajang itu yang sudah siap dengan koper besar.“Mbak Nindi mau pergi?” Seketika mata Cika yang semula setengah mengantuk terbuka sempurna.“Iya,” jawab Nindi singkat dan ragu.Napas Cika mulai narik turun. Antara takut dan kaget.“Mbak Nindi, aku sama siapa di sini?” tanya Cika mulai menampakkan ketakutannya.“Sudah saatnya kamu belajar hidup mandiri , Cika. Tidak mungkin aku akan terus bersama dengan kamu. Ibu kamu saja sudah pergi. Dan keluarga kamu saja sudah tidak memperdulikan keberadaanmu lagi. Masa aku yang bukan siapa-siapa kamu harus bertahan di sini? Aku punya impian untuk menikah, aku punya keluarga yang harus aku rawat. Jadi, aku akan pergi sekarang dan mulai saat ini, kamu hidup di sini sendiri,” jelas Cika.“Mbak Nindi, tidak bisakah
Part 4 Cika merasa sangat kesepian dengan hidup yang dijalani saat ini. Bingung karena setiap hari yang dilakukan hanyalah makan dan tidur saja. Hendak keluar untuk sekadar mencari kesenangan bersama teman-temannya pun susah dilakukan karena rumah yang ditempatinya saat ini cukup jauh dengan rumah kawan semasa ia sekolah. Bermain ponsel juga membuat kepalanya pusing. Nindi juga lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Jika malam minggu tiba, gadis yang sudah dewasa itu akan keluar bersama dengan sang kekasih dan pulang jika sudah dini hari saat Cika sudah terlelap dalam mimpi. Dua bulan sudah dilalui Cika hidup seorang diri di rumah besar peninggalan Dania. Di suatu pagi, Cika yang baru saja bangun menemui Nindi yang tengah sarapan pagi. Dengan langkah berat dan kepala tertunduk berjalan pelan menghampiri Nindi yang sedang sarapan. “Kenapa?” tanya Nindi saat Cika sudah sampai di hadapannya. “Pembantu yang katanya mau datang itu, apa tidak ada kabarnya?” tanya Cika ragu. Sikap ke
Part 3Langit mulai gelap. Tidak ada bintang satupun di sana. Aku mulai menoleh ke kanan dan kiri mencari sebuah tumpangan yang bisa membawaku pulang. Entah pulang kemana. Dalam keadaan bimbang, aku membuka ponsel. Ternyata Rindi menelpon banyak ke nomorku. Ia juga berkirim pesan. Aku membukanya, tetapi hanya di bagian akhir yang kubaca.[Kamu kemana saja?][Kenapa belum pulang?][Cika, balas pesanku!][Cika, kamu kemana? Cepat pulang]Aku takut, tetapi tidak mungkin aku mengatakan kalau saat ini sedang di bandara. Akhirnya, aku memilih mencari taksi dengan berjalan keluar bandara. Tidak ada tempat lagi untuk pulang selain rumah Dania dan aku berharap Rindi sedang menungguku di sana. Aku sangat takut.Seketika bernapas lega saat kulihat Rindi tengah menungguku dengan cemas. “Dari mana saja kamu?” tanyanya cemas dengan wajah marah.Kali ini aku tidak akan melawannya. Dia satu-satunya orang yang masih peduli berada di sisiku. Aku diam sambil memainkan ujung kuku.“Cika, kamu dari mana?”