Laura terkejut setelah membaca pesan dari Adrian yang marah-marah, karena tidak mengatakan jika saat ini ternyata Arumi tengah hamil. "Astaga! aku lupa kemarin tidak mengatakan hal itu," Laura menggelengkan kepala, lalu dia menjelaskan dalam pesan itu jika dirinya juga baru tahu. Berharap Adrian tidak akan marah lagi padanya dan pria itu tetap masih dengan komitmennya masih akan tetap bekerja sama. Laura bahkan membujuk Adrian agar tenang, karena menurutnya kehamilan Arumi masih bisa dia atasi dengan cara mengugurkan kandungannya. Agar tidak ada alasan lagi antara Dewa dan Arumi untuk mempertahankan kontrak pernikahan mereka. Karena rasa cinta Adrian yang sudah sangat besar pada Arumi saat mereka masih duduk di kampus membuat lelaki itu pun terdiam, dan terpaksa mempercayai perkataan Laura. "Oke, aku akan melihat kemampuan mu untuk bisa memisahkan mereka nona Laura," kata Adrian dalam pesannya. Tanpa banyak berpikir lagi kini Laura menyanggupi janjinya untuk mengugurkan kan
"Oma! Arumi aku pul..." Panggil Dewa sembari melonggarkan dasi dengan raut wajah tampannya yang terlihat sangat kelelahan bantuan dia terkejut saat melihat penampilan Arumi yang sangat cantik membuatnya hampir tak percaya. Jantung Arumi berdegup sangat kencang, ia terlihat sangat gugup bahkan sampai tak berani mengangkat wajahnya di depan Dewangga. Kedua bola mata Dewa membulat saat melihat Arumi yang terlihat sangat cantik dan berbeda tidak seperti biasanya. "A-Arumi ini benarkah ini kamu?" Celetuk Dewa yang masih mematung terkesima. Melihat ekspresi wajah Dewa yang menatap tanpa berkedip membuatnya Oma Rima tersenyum bahagia, karena dia yakin jika cucu kesayangannya terlihat sudah mulai memperhatikan dan menyukai Arumi. Hingga membuatnya spontan sengaja menggoda. "Lihatlah Dewa, istri mu sangat cantik malam ini, oma yakin dia Arumi akan menjadi pusat perhatian di pesta nanti," seloroh Oma Rima. Seketika suasana terasa hening dan canggung, wajah cantik Arumi seketika te
Beberapa jam kemudian di sebuah gedung hotel bintang lima, beberapa tamu sudah berlalu lalang mulai memasuki gedung mewah dan besar itu dengan penampilan mereka yang terlihat modis, membuat Arumi yang baru pertama kali ikut mendampingi Dewangga tertegun sampai membuat langkah kakinya terhenti. Kedua alis tebal Dewa terangkat, saat melihat Arumi yang malah mematung sembari menatap kagum ke arah pintu utama hotel termewah di kota itu. "Arumi! kenapa malah bengong? ayo cepat masuk, ingat jaga sikap mu jangan membuat ku malu di dalam nanti, karena banyak tamu-tamu penting," tegur Dewa dengan mode wajah datar yang serius. Arumi tersadar dari lamunannya, lalu kembali fokus menyahut Dewa jika dia akan mematuhi perintahnya. Dewa yang sudah di tunggu oleh beberapa rekan bisnisnya kini dia kembali menyodorkan lengannya dan menatap Arumi, Arumi yang sudah mengerti tatapan sebagai kode. Setelah Arumi melingkarkan tangan di lengan Dewa, mereka berdua kembali melanjutkan langkahnya lagi
Disaat Arumi tengah larut dalam pemikirannya, Dewa yang masih banyak mendiskusikan beberapa project baru bersama rekannya, dia mengingatkan Arumi agar menunggunya sebentar. Arumi tertunduk patuh, bahkan Dewa juga tak lupa mengingatkan agar tidak meminum wine Mengingat kondisi wanita yang bergelar istrinya itu tengah hamil muda. Setelah mengingatkan, Dewa yang di ikuti asistennya kini mulai bergabung dengan beberapa rekannya termasuk Adrian yang juga ikut dalam project itu. Melihat beberapa menu makanan yang tersedia di meja dengan berbagai jenis menu membuat Arumi menelan saliva beberapa kali karena membuatnya tergoda. "Wah makanan di sini sepertinya sangat enak-enak aku jadi ingin mencicipinya," Gumam Arumi yang perlahan mencoba mencicipi beberapa cake mini buah-buahan. Laura yang melihat Arumi sendirian membuatnya segera menghampiri, lalu sengaja memulai topik pembicaraan untuk membuat Arumi sadar akan posisinya di hati Dewa. "Hmm, sepertinya ada orang kampung yang baru
"Arumi kamu yang sabar ya, perkataan Dewa tidak usah kamu masukin hati," Clarisa berusaha menghibur Arumi. Dia sangat sedih dan ikut sedih saat melihat sikap Dewa yang sangat keterlauan lebih mementingkan Laura di bandingkan istrinya sendiri. Arumi menarik nafas dalam-dalam dia tidak suka orang lain melihat dirinya lemah, sampai berusaha keras terlihat tegar. "Clarisa! terima kasih karena kamu sudah menghibur ku, tapi seperti aku sedikit pusing dan ingin cepat pulang," keluh Arumi seraya memijat kening. Clarisa yang sangat cemas, kini ia menawarkan diri untuk mengantar Arumi. Awalnya Arumi menolak tapi karena ingin tahu lebih jauh tentang masa lalu Dewa dan Laura membuatnya menerima tawaran wanita itu lalu memberi perintah pada supirnya pribadi Dewa agar tidak menunggunya. Sebagai seorang karyawan pak Hendra hanya bisa mematuhi perintah istri tuanya, Arumi dan Clarisa pun segera bergegas pergi dari pesta mengingat Dewa yang pergi begitu saja tanpa bicara apa pun. Suasana di
Arumi dan Clarisa memberanikan diri membuka pintu ruang UGD, Laura yang sudah di beritahu oleh asistennya kini ia sengaja terlihat seolah takut oleh Arumi. "Nona Laura! bagaimana keadaan mu?" Arumi memberanikan diri membuka pintu untuk melihat kondisi dan ia juga ingin menjelaskan pada Dewa tentang kesalahan pahaman di antara mereka. Melihat Arumi yang datang, Laura bersandiwara dengan cepatnya ia merengek dan mengadu pada Dewa. "Mas Dewa! aku sangat takut pada dia, dia hampir saja membunuh ku," ujar Laura menatap tajam dengan penuh kebencian. Arumi tercengang saat mendengar perkataan Laura, yang seolah ingin menjatuhkan dirinya di depan Dewa. "Nona Laura! apa yang kamu katakan? aku tidak pernah mempunyai niat buruk sedikit pun pada mu, jadi tolong jangan asal berbicara," jelas Arumi yang berusaha membela diri. "Iya benar Laura, kamu jangan berharap ngawur deh. Arumi bukan orang seperti itu. Jadi jangan mengada-ngada," sambung Clarisa yang membela Arumi. Dewa terlihat
Dewa menelan saliva beberapa kali, saat mendengar perkataan Laura yang sudah tak sabar ingin menikah dengannya. Membuat dia semakin bimbang. Di sisi lain dia melihat sang nenek yang terlihat bahagia saat Arumi menjadi cucu mantunya, tapi dia juga sudah terikat janji pada dirinya sendiri jika ia akan menikahi Laura karena bagaimana pun juga Laura pernah menyelamatkan dirinya. Kening Laura berkerut saat melihat wajah datar pria yang sangat dia cintai, Hingga membuatnya memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa mas Dewa hanya diam? mas tidak mungkin mengingkari janji mas kan?" Sindir Laura dengan penuh penekanan. Dewangga tersadar dari lamunannya lalu menyahut dan berusaha menenangkan. "Tidak akan Laura, tapi pernikahan ku dengan Arumi tidak bisa di akhiri begitu saja jadi aku .." Belum sempat Dewa menuntaskan perkatannya, Laura tetap menuntut untuk segera di nikahi apa lagi hubungan mereka sudah lebih dari sekedar pacaran. Bahkan Laura menegaskan dan mengancam jika dia akan m
Ketika Arumi dan Adrian sudah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Clarisa mencari alasan untuk membuat mereka pergi hanya berdua saja. Hal itu membuat Arumi sangat terkejut karena ia merasa tidak nyaman jika hanya pergi berdua. "Clarisa! ayo masuklah, aku akan mengantar kalian pulang biarkan saja nanti orang bengkel yang mengatasi mobil mu," ajak Adrian yang sudah mulai menyalakan mesin mobil mewahnya. "Astaga! aku baru ingat punya janji dengan teman ku. Tuan Adrian bisa tolong antar Arumi pulang? Arumi kamu pulang dulu saja aku baru ingat punya janji tidak papa kan?" jelas Clarisa yang sengaja menolak. Arumi menghela nafas berat, dia merasa jika Clarisa memang sengaja menghindar agar tidak ikut dengan mereka. Adrian yang terlihat begitu antusias dia sama sekali tidak menolak malah ia terlihat lebih bersemangat. "Aku akan mengantar Arumi pulang, kamu tidak usah khawatir nona Clarisa," kata Adrian menyahut. "Tuan benar, anda pasti akan menjaga Arumi dengan baik. Kalau be
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan
Arumi tercengang, saat melihat dan mendengar pertanyaan cinta Adrian yang membuatnya tak habis pikir dan sulit untuk di percaya, karena selama ini sosok lelaki yang ada di depannya itu telah ia anggap sebagai Kaka senior tidak lebih dari itu. "Arumi! apa kamu mendengar ku?" Adrian memegang erat tangan Arumi, sembari menatap dalam tanpa berkedip sedikit pun. Keduanya saling menatap satu sama lain, terutama Adrian, seolah tak ingin melepaskan pandanganya walaupun sebentar saja. Berbeda hal dengan Arumi. Wanita cantik itu berusaha memalingkan wajah ke samping. Rasanya begitu berat untuk menjawab tapi ia memberanikan diri walaupun tidak tahu jawabannya akan di terima atau tidak oleh Adrian. Setelah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, Arumi memberikan sebuah jawaban. "Mas Adrian! kamu adalah pria baik, rasanya sangat cocok jika mencari seorang gadis di luar sana yang masih single, tidak seperti aku." Lirih Arumi yang merasa sangat insecure. Namun yang jelas dalam
Adrian tidak yakin saat mendengar perkataan Arumi, yang sudah tidak peduli lagi pada Dewa. Karena terdengar dari nada suaranya yang penuh dengan keterpaksaan. "Benarkah seperti itu? apa kamu tidak marah melihat berita skandal tentang mereka?" Adrian memastikan kembali. Arumi rasanya sangat sesak setiap kali ada orang yang membahas tentang Dewa, yang sudah pelan dia lupakan meskipun ada luka hati yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. "Cukup tuan, tolong jangan bahas tentang mereka lagi," Pinta Arumi dengan nada sedikit tinggi. Untuk yang pertama kalinya, Adrian sangat terkejut saat melihat Arumi sampai marah dan terlihat sangat serius. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membahas tentang dia lagi," Sesal Adrian. Arumi tidak banyak bicara lagi, satu panggilan dari baby sisternya membuat dia begitu antusias, karena pasti jagoan kecilnya yang ingin menelpon. Setelah menjaga jarak di saat mengangkat telepon dari Excel, Arumi terlihat sangat senang mengingat beberapa jam y
Dewa menghela nafas jengah, saat Laura terus menuntut agar segera menikahinya. Tak ingin banyak bicara lelaki tampan itu pun keluar dari kamar tanpa bicara lagi. "Mas Dewa! tunggu," Laura tidak terima di tinggal begitu saja. Dia berjalan mengikuti Dewangga. Hingga terlihat beberapa kelompok paparazi yang sudah sigap mencari bahan berita terutama seorang Dewa, selain di kenal sebagai CEO muda yang tengah jadi perbincangan hangat di khalayak umum. Terutama sejak berita sang istri pergi. Dewa terkejut, saat melihat para wartawan itu menghadang dirinya dengan beberapa bidik kamera, dan mereka juga melontarkan beberapa pertanyaan padanya. "Tuan Dewa! kenapa anda dan nona keluar dari ruangan kamar yang sama? jangan bilang kalian berdua sudah merajut tali kasih kembali?" celetuk salah satu wartawan tanpa ragu. "Iya benar, apa kalian sudah bersama lagi? lalu bagaimana dengan nona Arumi?" sambung karyawan lainnya. Dewa semakin kesal saat melihat dan mendengar pertanyaan para war