Oleh karena itu, meski dirasa tidak masuk akal, Chermiko masih percaya dengan hipotesis itu.“Jadi, apa kita harus percaya sama dia dan membawa dia ke organisasi sebagai pertukaran dengan Yuna?” tanya Shane. Dia sudah mulai bisa berpikir lebih jernih, tetapi Brandon masih belum bisa memberikan jawaban karena dia juga masih memikirkan itu dengan serius.Sekarang mereka sudah tahu pasti kalau Rainie sungguh menggunakan racun ke dalam tubuhnya sendiri, tetapi yang tidak mereka tahu adalah seberapa jauh efeknya. Mereka masih tidak bisa memastikan apakah nantinya akan ada gejala bawaan atau komplikasi lain.Setelah dipikir-pikir, Brandon memutuskan untuk menyembunyikan hal ini dari siapa pun. “Kita jangan bahas soal ini dulu ke mereka.”“Kamu nggak percaya sama dia?”Chermiko mengira Brandon masih meragukan Rainie, tapi wajar saja, Rainie memang tidak pernah berbicara apa adanya. Tak heran jika Brandon tak akan semudah itu percaya.“Bukannya nggak percaya sama Rainie, tapi sama organisasi.
“Waktu aku masih kerja di lab itu, aku pernah diam-diam menyembunyikan dua botol obat.”“Obat apa?” tanya Brandon.“Aku juga nggak tahu apa, yang jelas itu obat yang mereka teliti. Aku pikir mungkin suatu saat bisa berguna, entah itu sebagai alat transaksi atau untuk kita kasih ke mereka. Selama ini aku nggak pernah kasih tahu ke kalian karena aku juga punya rencanaku sendiri. Seperti yang aku bilang tadi, bisa saja aku pakai untuk keperluan lain. Tapi sekarang kurasa waktu yang tepat untuk pakai itu.”“Lalu kamu mau ngapain sekarang?” Brandon merasakan sedikit firasat buruk.“Aku bakal pakai obat itu ke badanku sendiri.”“Kamu gila! Kamu saja nggak tahu obat apa itu. Bisa saja beracun atau punya efek samping yang lain.”“Aku nggak tahu, tapi Chermiko pasti tahu!” kata Shane seraya mengarahkan dagunya ke Chermiko. “Selama aku nggak langsung mati di tempat, aku nggak eberatan. Yang terpenting kita bisa mengelabui mereka.”“Jadi kamu mau menipu mereka dengan cara menjadikan diri sendiri
Shane berpikir untuk menyelamatkan anaknya kemungkinannya sangat kecil. Keadaan mereka sekarang juga sangat tidak menguntungkan. Andai kata Nathan sudah tiada, maka tidak ada artinya lagi Shane terus hidup. Dia sudah tidak punya harapan dan tujuan hidup, tetapi apabila anaknya masih hidup, Shane bisa tenang selama masih ada Brandon yang merawatnya.“Nggak! Anakmu kamu sendiri yang rawat! Nggak usah aneh-aneh! Aku nggak terima permintaanmu itu. Kamu harus tetap menjalani hidup yang benar. Kamu lihat Chermiko, setelah apa yang selama ini dia lalui, dia masih bisa terus hidup dengan baik.”Chermiko kaget, dia tidak menyangka Brandon menjadikannya sebagai contoh. Dia mengangkat bahunya dan menunjukkan senyum canggung seraya berkata, “Yaaah, hidup tetap harus dijalani. Sebaiknya kita jangan terlalu pesimis dulu. Kita masih punya kemungkinan kecil untu menang. Sekarang mereka masih belum menjalankan langah terakhirnya. Tahu kenapa?”“Kenapa?” tanya Shane.“Karena masih belum waktunya,” jawab
Yuna tidak punya banyak waktu untuk berduaan saja dengan sang Ratu. Tak lama setelah perbincangan mereka berakhir, Fred datang ke amar mereka. Fred yang biasanya tunduk dan segan kepada sang Ratu sekarang tampak berbeda. Begitu masuk, dia langsung melihat sekelilingnya dan masuk ke area ruang tidur.“Fred?! Diam di situ, jangan masuk!” seru sang Ratu yang kaget melihat Fred langsung masuk seenaknya ke kamar tidur tanpa seizinnya. Tetapi Fred tidak menghiraukannya.“Ternyata benar kamu ada di sini,” kata Fred tersenyum. Dia mendekati Yuna dan hendak mengulurkan tangannya, tetapi dia ingat dengan pengalamannya sewaktu dia ingin mengancam Yuna dan mengurungkan niat itu. “Kamu pikir dengan bersembunyi di sini, kamu bisa kabur?”“Kabur? Kenapa aku harus kabur?” balas Yuna.“Baguslah kalau kamu nggak berniat kabur! Karena kamu juga nggak akan bisa! Ikut aku!”“Untuk apa?”“Kamu sudah nggak mau kedua anakmu lagi? Apa kamu sudah nggak peduli sama nasib mereka?”“Kamu juga kelihatannya sudah ng
“Baru sekarang aku sadar ternyata mulutmu itu pintar juga,” kata sang Ratu.“Masih banyak Yang Mulia nggak tahu tentang saya. Saya masih punya banyak kelebihan lain.”Yuna pun lantas mengikuti Fred keluar, tetapi begitu sampai didepan, dia tidak melihat kedua anaknya. Yang ada hanya dua orang penjaga pintu yang memegang alat perekam suara. Rupanya suara tangisan yang tadi dia dengar berasal dari alat perekam tersebut.“Di mana anakku?!”“Bukannya kamu sudah nggak peduli lagi sama nasib mereka? Mereka sudah nggak ada gunanya lagi, jadi aku jadikan makanan anjing saja! Lumayan aku bisa menghemat biaya makanan,” kata Fred dengan ekspresi wajahnya yang benar-benar membuat orang lain muak melihatnya.“Kalau kamu berani menyakiti mereka sedikit saja, aku bakal bikin kamu menyesal sudah dilahirkan di dunia ni!”“Hahaha, mau kabur dari sini saja nggak bisa, sudah berani mengancamku?”Fred mengurung Yuna di tempat yang terpisah dari Ratu. Walau begitu bukan berarti Fred bisa bersantai. Tempat i
Tembakan cahaya terang yang mengarah langsung ke wajah membuat pria tersebut menyipitkan matanya dan merintih kesakitan di saat yang bersamaan. Satu badannya sudah bersimbah darah dengan daging terkoyak.“Tsk tsk tsk … kasihan sekali kamu ini!” ledek Fred seraya mengibaskan saputangannya. “Padahal kamu ini dokter, seharusnya kamu kelihatan rapi dan bersih, tapi kenapa malah jadi begini?”Yang ada di hadapan Fred itu tidak lain dan tidak bukan adalah dokter yang biasanya melakukan pemeriksaan kepada Yuna. Saat itu dia bersikeras tidak mau pergi dan malah kembali berjanji akan membantu Brandon membebaskan Yuna. Namun pada akhirnya dia ketahuan dan dikurung di tempat ini. Setelah disiksa selama dua hari penuh, sekarang dia sudah tidak terlihat seperti dirinya yang dulu lagi.“Coba katakan apa yang mereka kasih ke kamu sampai kamu berani mengkhianati aku?” seraya bertanya, Fred duduk di bangku yang anak buahnya bawakan.Si dokter tidak menatap balik ataupun menjawabnya sepatah kata pun. Di
“Nggak beralah? Di dunia ini ada begitu banyak orang yang nggak bersalah! Apa aku harus melepaskan semua yang memohon padaku? Lagi pula apa kamu nggak tahu kenapa aku nggak mau melepaskan mereka?”“.…”“Coba kasih tahu aku dulu, apa yang mereka kasih ke kamu? Apa mereka cuma bantu menyelamatkan keluargamu? Kalau begitu kasih tahu aku ini saja. Anak dan istrimu kan sudah pulang, tapi kenapa kamu masih balik lagi ke tempat ini? Apa kamu mau jadi mata-mata untuk mereka? Hmm? Memang apa saja yang mereka janjikan untuk kamu?”Jauh sebelum peristiwa sekarang terjadi, Fred pernah memberikan bayaran yang sangat tinggi untuk si dokter, tetapi si dokter dengan keras menolak. Kemudian Fred mengancamnya dengan menyandera keluarganya, dan barulah si dokter mau menurutinya. Namun sekarang si dokter malah mengkhianati Fred. Tentu saja Fred sangat penasaran seberapa besar bayaran yang Brandon berikan padanya.“Orang macam kamu nggak akan ngerti!” kata si dokter.“Orang macam aku? Memangnya kamu sendir
Hari itu Chermiko tidak pergi, melainkan menginap di rumah Brandon.Saat Brandon turun dia melihat di lorong halaman ada Chermiko yang sedang duduk di ayunan rotannya. Dia mengambil dua kalen bir dari kulkas dan memberikannya kepadanya.“Mau minum?”Chermiko tersenyum dan menerimanya. Dia membuka kaleng bir dan langsung meneguknya. “Dulu kupikir kamu ini pengusaha yang tamak, tapi sekarang aku merasa ….”“Sekarang kamu merasa aku nggak tamak?”“Sekarang aku merasa kamu pengusaha yang jago cari duit, tapi … nggak setamak yang aku pikirkan. Hahaha …,” kata Chermiko separuh bercanda untuk mencairkan suasana. Brandon ikut tertawa dan meneguk birnya. Namun di tengah suasana yang cukup santai itu, tanpa sadar keningnya masih terus mengerut.“Jadi soal virus yang ada di badannya Rainie itu, kamu nggak bisa mengakalinya?” tanya Brandon.Ketika mereka tadi sedang bertiga, ada beberapa pertanyaan yang belum sempat Brandon tanyakan karena keadaan mental Shane sedang tidak stabil. Jika dia terlalu
Harus diakui, setiap tutur kata yang Yuna ucapkan sangat mengena di sanubari Ratu. Memang benar meski Ratu tidak bisa lagi menunggu, toh sekarang ada waktu kosong. Tidak ada salahnya bagi Ratu untuk memberi kesempatan kepada yuna untuk mencoba. Kalau yuna gagal, tinggal lakukan sesuai dengan rencana awal.Rencana R10 ini sejak awal memang sudah mendapat berbagai macam halangan. Pertama adalah perlawanan dari anaknya sendiri, kemudian jika diumumkan pun, entah akan seperti apa kritik dan tekanan dari opini publik. Namun di luar semua itu, yang paling penting adalah bahwa Ratu sendiri juga tidak yakin dengan keputusannya sendiri.Dari luar, Ratu mungkin terlihat tegas. Namun hanya dia sendiri yang tahu kalau sebenarnya dia pun sering meragukan keputusannya. Jika Ratu tidak ragu, pada hari itu juga dia akan tetap melanjutkan eksperimennya, bukan malah menunggu seperti sekarang. Dengan diberhentikannya eksperimen R10 untuk sementara, Ratu makin bimbang.“Kamu butuh apa?” tanya Ratu. Berhub
Saat Yuna mengatakan itu, ekspresi wajah Ratu masih tidak berubah. Ratu hanya menutup kelopak matanya untuk menutupi sorotan yang terpancar dari bola matanya. Tentu saja pada awal eksperimen ini dilakukan, dia menyembunyikan faktanya dari semua orang agar tidak ada yang tahu.Eksperimen ini sejatinya adalah sesuatu yang membahayakan nyawa manusia. Ratu tahu betul akan hal tersebut, karena untuk membuat dia hidup abadi, dia harus mengorbankan nyawa orang lain. Kalau sampai ada satu orang saja yang tahu dan kemudian tersebar luas, tentu saja seluruh dunia akan mengecamnya.Namun di sisi lain, Ratu tidak mungkin dan tidak akan mau menyerah. Makanya saat melakukan penelitian, dia hanya memberikan satu resep kepada setiap grup, kemudian meminta mereka untuk menjalankan eksperimen sesuai dengan instruksi yang tertera di setiap lembaran resepnya.Tentu untuk menutupi agar orang lain tidak bisa menerka apa yang sedang mereka lakukan, Ratu memberikan banyak resep yang sebenarnya sama sekali tid
Suara anak kecil yang menggemaskan itu membuat Yuna teringat, sewaktu dia terakhir kali bertemu dengan Nathan, saat itu dia memang sedang hamil. Seketika mendengar itu, Yuna pun tersenyum seraya memegangi perutnya yang kini sudah rata, “Mereka sudah lahir.”“Adik cowok, ya?” tanya Nathan penasaran.“Ada cowok dan cewek. Anak Tante yang lahir ada dua, lho!” ujar Yuna tersenyum sembari mengangkat dua jarinya.Sorot mata Nathan seketika bercahaya. Perasaannya yang sejak awal murung dan penuh waspada langsung berubah menjadi jauh lebih ceria selayaknya anak kecil pada umumnya.“Dua adik?! Wah, Tante hebat banget!”“Hahaha, makasih, ya! Nanti Tante ajak kamu ketemu mereka kalau ada kesempatan,” ujar Yuna tersenyum, nada bicaranya pun jauh lebih lembut saat dia berbicara dengan anak kecil. Melihat Nathan membuat Yuna teringat dengan anak-anaknya sendiri, hanya saja ….“Aku juga kangen sama mereka, tapi … kayaknya aku nggak bisa ketemu mereka lagi,” ucap Nathan dengan suaranya yang kian menge
Mungkin sekarang Nathan sudah tidak lagi disembunyikan seperti pada saat Fred yang memimpin. Namun tentu saat itu banyak hal yang Fred lakukan secara diam-diam. Dia mengira dia bisa menyembunyikan semuanya dari orang lain bahkan dari sang Ratu sekalipun. Namun dia tidak tahu bahwa sebenarnya Ratu sudah mengetahuinya sejak awal.Di luar kamar tempat Nathan ditahan ditempatkan seorang penjaga. Yuna sempat dicegat saat dia mau masuk ke dalam. Yuna menduga mungkin ini adalah perintah dari Ratu. Mereka semua juga diawasi dan dapat berkomunikasi dengan intercom.Nathan sangat patuh sendirian di dalam tidak seperti kebanyakan anak seumurannya. Bahkan sewaktu melihat Yuna, dia masih bisa tersenyum dengan santun dan menyapanya.“Halo, Tante.”“Kamu masih mengenali aku?” tanya Yuna.“Iya, Tante Yuna,” jawab Nathan mengangguk.Yuna pernah menyelamatkan nyawa Nathan saat mereka berada di Prancis. Yuna juga banyak membantu Nathan dan ada suatu waktu Nathan sering main ke rumah Yuna, tetapi kemudian
Tangan yang mulanya Ratu gunakan untuk mengelus wajah Ross langsung ditarik. Raut wajahnya juga dalam sekejap berubah menjadi berkali-kali lipat lebih sinis.“Jadi dari tadi kamu ngomong panjang lebar ujung-ujungnya cuma mau aku membuang eksperimen ini.”“Aku mau kamu merelakan diri sendiri,” kata Ross sambil berusaha meraih tangan ibunya lagi, tetapi Ratu menghindarinya.“Aku cape. Kamu juga balik ke kamarmu saja untuk istirahat,” ucap sang Ratu seraya berpaling.“Ma ….”Sayangnya panggilan itu tidak membuat Ratu tergerak, bahkan untuk sekadar menoleh ke belakang pun tidak.“Ricky!”Ricky yang dari awal masih menunggu di depan pintu segera menyahut, “Ya, Yang Mulia.”“Bawa Ross balik ke kamarnya.”Saat Ricky baru mau masuk untuk mengantar pangerannya pergi, Ross langsung berdiri dan bilang, “Aku bisa jalan sendiri.”Maka Ross pun segera berbalik pergi, tetapi belum terlalu jauh dia melangkahkan kakinya, dia kembali menoleh ke belakang dan berkata, “Ma, aku tahu apa pun yang aku bilang
Seketika itu Ratu syok karena dia jarang sekali melihat anaknya bersikap seperti ini. Saking syoknya sampai dia tidak bisa berkata-kata dan hanya terdiam menatap dan mendengar apa yang dia sampaikan.“Ma, aku tahu sebenarnya kamu pasti takut. Takut tua, takut mati, takut masih banyak hal yang belum diselesaikan. Aku thau kamu juga bukannya egois. Kamu melakukan eksperimen ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi karena masih banyak hal yang mau kamu lakukan.”Di saat mendengar kata-kata Ross, tanpa sadar mata Ratu mulai basah, tetapi dia berusaha untuk menahan laju air matanya.“Aku juga tahu kamu pasti sudah capek. Orang lain melihat kamu berjaya, tapi aku tahu setiap malam kamu susah tidur, bahkan terkadang waktu aku pulang malam dan melewati kamarmu, aku bisa dengar suara langkah kaki lagi mondar-mandir. Kamu pasti capek banget karena harus menanggungnya sendirian. Sering kali aku mau membagi beban itu, tapi ….”Sampai di situ Ross terdiam dan tidak lagi meneruskan ka
“Aku nggak pernah dengar tentang itu,” sahut Ross dengan tenang.“Jelas kamu nggak pernah dengar. Itu hal yang sangat mereka rahasiakan, nggak mungkin mereka mau kamu tahu.”“Jadi Mama sendiri tahu dari mana?” Ross bertanya balik.“....” Ratu berdeham seraya berpaling, dia lalu mengatakan, “Aku punya jalur informasiku sendiri. Terserah kamu percaya atau nggak, tapi itu benar.”“Aku bukanya nggak percaya, tapi kamu yang takut aku nggak percaya. Kalau memang dirahasiakan, pastinya nggak akan mudah untuk mendapat informasi itu. Aku cuma penasaran dari mana kamu tahu itu. Tentu saja kamu bisa bilang informasi itu didapat dari jalur informanu sendiri, tapi coba pikir lagi. Kamu sudah melakukan eksperimen ini selama bertahun-tahun, tapi siapa yang tahu sebelum ini terbongkar? Atau kamu pikir kamu lebih pandai merahasiakan ini dari mereka?”“.… Ross, kamu ….”Saat Ratu baru mau berbicara, dia lagi-lagi disela oleh Ross yang bicara dengan suara pelan. “Ma, tolong jangan marah. Kamu marah karen
Bagaimanapun yang namanya anak sendiri, ketika sudah meminta maaf, amarah Ratu sudah tidak lagi berkobar.“Iya, aku tahu aku salah,” kata Ross menunduk. “Aku nggak sepantasnya ngomong begitu.”“Kamu benar-benar sadar kalau salah?” tanyanya. “Angkat kepalamu. Tatap mataku.”Lantas Ross perlahan mengangkat kepalanya sampai matanya bertatapan, tetapi tetap tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa. Selagi menatap Ross dalam-dalam, Rat tersenyum dan berkata, “Ross, kamu nggak tahu kamu salah. Tatapan mata kamu memberi tahu kalau kamu sebenarnya masih nggak rela!”Bagaimana mungkin Ratu tidak memahami anaknya sendiri. Tatapan mata Ross mengatakan dengan sangat jelas kalau dia masih tidak mengaku salah, tetapi dia hanya mengalah agar ibunya tidak marah. Hanya saja setelah mengalami masa kritis dan setelah mengobrol dengan Juan dan Fred, pemikiran dan suasana hati Ratu sudah sedikit berubah.“Ross, kamu sudah lama tinggal di negara ini, jadi pemikiran kamu sudah terpengaruh sama
Ricky sudah menunggu di luar menantikan Ratu keluar dari kamar tersebut. Dia langsung memegang kursi roda tanpa mengatakan apa-apa, dan mendorongnya dalam kesunyian. Begitu pun dengan Ratu, dia juga hanya diam saja selama mereka berjalan menuju lift.“Pangeran Ross minta bertemu,” kata Ricky.Ratu memejamkan kedua matanya guna menyembunyikan perasaan yang mungkin bisa terlihat dari sorotan mata. Dia tidak menjawab dan hanya mengeluarkan desahan panjang. Walau begitu, Ricky mengerti apa yang ingin Ratu sampaikan dan dia pun tidak lagi banyak bertanya.Seiringan dengan lift yang terus naik, tiba-tiba Ratu berkata, “Bawa dia temui aku.”“Yang Mulia?”“Bawa dia temui aku.”Selesai Ratu berbicara, kebetulan lift juga sudah sampai di lantai tujuan. Ratu mendorong kursi rodanya sendiri keluar dari lift. Ricky sempat tertegun sesaat, tetapi kemudian dia kembali menekan tombol lantai di mana Ross berada.Tak lama kemudian, Ricky mengantar Ross masuk kamar tidur Ratu. Dia mengetuk pintunya, teta