Share

Jangan Diulangi Lagi

Penulis: Writergaje23_
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-03 21:51:39

"Saya anter sampai sini aja. Udah sana masuk!" usir Arsen begitu mobilnya sudah terparkir di parkiran butik melati.

Aileen menoleh aneh. Tumben sekali Arsen tidak mengantarnya sampai dalam. Apa pria sipit ini sedang sibuk?

"Kamu lagi sibuk, ya? Seharusnya kan aku dianter sama supir aja," ucap Aileen merasa bersalah.

Arsen menoleh bingung. "Kapan aku bilang aku sibuk?" tanya pria itu heran.

"Buktinya kamu mau langsung pergi. Biasanya nganter aku dulu sampai dalem," jawab Aileen polos.

Arsen terkekeh geli sambil menjawil sebelah pipi Aileen gemas. "Enggak sibuk kok. Cuma lagi belajar percaya aja. Jangan curigaan terus sama istri sendiri. Dikira begini begitulah. Bosen saya marahan cuma karena hal kekanakan kayak gitu," jelas Arsen yang dibalas Aileen dengan 'ooo' yang panjang.

"Kamu enggak mau turun nih? Biar saya culik terus jadiin pajangan di ruangan saya," tanya Arsen yang dibalas Aileen dengan delikan.

"Nanti kalau aku jadi pajangan, bukan cuma kamu doang yang liat dong?" jawab Aile
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Malam Termanis

    "Mama Ai Mama Ai!" Ayres memanggil begitu pagi ini Aileen bahkan belum bangun dari tempat tidurnya."Kenapa, Sayang?" jawab Aileen lembut dengan suara serak khas bangun tidurnya."Besok aku udah bagi raport. Mau sekolah SD dooong. Mama Ai sama Papa pergi ambilin, ya? Kata Bu Guru, harus diambilin sama orang tua. Eh, tapi Mama Ai kan masih muda." Bocah itu bercerita panjang lebar."Yaudah, suruh aja Nenek. Nenek kan udah tua tuh. Berarti dia orang tua," sahut Arsen malah semakin menyesatkan teori yang diyakini sang putra.Aileen mencubit pinggang suaminya begitu pria itu duduk di sisi ranjang. "Kamu ini!" kesal Aileen yang hanya dibalas Arsen dengan kekehan geli."Ntar Papa yang ambilin raport kamu. Jangan Mama, dia lagi sakit. Gara-gara semalam main hujan kayak anak kecil. Beneran bukan orang tua banget kan, Res?" ucap Arsen yang dibalas bocah itu dengan anggukan setuju."Kenapa Mama boleh main hujan? Aku kan juga mau tapi selalu dilarang," tanya Ayres protes.Arsen terkekeh geli begi

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-04
  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Tinggal di Rumah Saya

    "Aduuuh ... lewat mana ini?" Perempuan pendek yang baru turun dari bus itu meringis bingung.Masih sambil menyusuri trotoar jalan yang padat sore ini, Aileen menggaruk pipinya. Tidak tahu harus pergi ke mana.Lagipula, Aileen hanya asal menaiki bus saja. Tidak peduli kendaraan umum itu akan membawanya kemana. Yang jelas dia hanya perlu untuk kabur dari rumah; menghindari sang ayah."Aku cari dia dulu. Mama enggak perlu khawatir." Suara seorang pria lumayan dewasa yang tengah menelepon membuat Aileen menoleh ragu. Ingin bertanya takut dimarahi. Tidak bertanya takut semakin nyasar."Permisi, Om!" Pada akhirnya, perempuan pendek itu berani menyapa lebih dulu.Tapi, lirikan pria dewasa itu membuat Aileen mengerjap takut. Apa dia sudah salah memilih orang untuk ditanyai?Pria tadi mengangkat sebelah alisnya. Seolah tengah bertanya 'kenapa?' dengan raut tidak sabaran. Aileen mendadak gugup."Eung ... a-anu ... itu, Om. Mau nanya--""Cepetan! Saya nggak punya banyak waktu," tekan pria jangk

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-05
  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Segera Saya Nikahi

    “Ini rumahnya Om?” tanya Aileen takjub begitu mobil Arsen yang membawa dirinya juga Ayres memasuki gerbang tinggi dan megah kediaman duda tampan itu.“Menurut kamu rumah siapa? Tetangga?” tanya Arsen sewot.Aileen menggeleng panik. Sedangkan Ayres yang berada di pangkuan perempuan itu tertawa cekikikan. Arsen yang melihat puteranya tidak beralih dari pangkuan ART baru mereka itu sejak pertama kali masuk mobil, sejenak melongo takjub.Bagaimana bisa Arsen baru menyadari bahwa Ayres lumayan ‘jinak’ oleh orang baru semacam Aileen? Apa sebelumnya perempuan remaja itu sudah mangancam atau memaksa putranya agar patuh padanya?“Bibi sekarang tinggal di sini, ya? Pasti dikasih makan sama Papa kok, tenang aja. Papaku baik banget meski kadang suka marah,” jelas Ayres panjang lebar yang dibalas Arsen dengan putaran bola mata malas.“Papa mau masuk dulu. Nanti kamu suruh dia ketemu Nenek, biar nenek yang kasih tau ruangan dia di mana,” pesan Arsen pada Ayres begitu pria jangkung itu sudah memarki

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-13
  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Jadi Istri Saya

    “Aku ngapain lagi, Om?”Arsen memandang perempuan pendek di depannya dengan helaan napas berat. Sebenarnya ART barunya ini manusia atau bagaimana? Kenapa sejak pagi tadi dia terus bekerja dan menanyakan pekerjaan lainnya? Apa Aileen itu tidak mengenal kata lelah? “Ini minggu, Aileen. Pembantu di sini kalau hari minggu ya libur juga,” jelas Arsen masih dengan jawaban yang sama sedari pagi tadi.“Tapi aku bingung harus ngapain kalau enggak ada pekerjaan, Om.” Aileen menjawab jujur sambil menggaruk tengkuk.Arsen segera melepas sepatu kerjanya kemudian memandangi perempuan yang sore ini hanya mengenakan celana training semata kaki juga kaus oblong. Meski begitu, penampilan sederhana Aileen justru semakin menambah kecantikan alami perempuan 19 tahun itu. “Yaudah kalau kamu suka banget kerja. Sana, bikinin kopi!” suruh Arsen akhirnya.Aileen mengangguk semangat sebelum kemudian melangkah cepat menuju dapur. Arsen yang melihat kelakuan perempuan itu, hanya menggeleng tidak habis pikir. Ba

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-14
  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Aileen Sakit

    Entah karena terlalu lelah atau mungkin belum terbiasa terpapar AC, Aileen yang sering merasa tidak enak badan sejak tinggal di rumah Arsen kini mulai tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam, badannya terasa panas namun perempuan itu menggigil kedinginan. Ayres yang menyadari sang Bibi tidak kunjung keluar kamar dan menyiapkannya sarapan seperti biasa, tentu saja mencari Aileen ke kamarnya. Lalu, begitu melihat Aileen masih berbaring di ranjangnya dengan gulungan selimut tebal, bocah sipit itu segera naik ke atas kasur."Bibi kenapa? Sakit? Mau disuntik Dokter? Aku kira orang hebat enggak butuh obat," gumam Ayres sambil mengguncang-guncangkan bahu Aileen.Perempuan itu kontan membuka mata. Manik cokelat madunya yang terlihat berair menatap Ayres sayu. "Bibi lagi enggak hebat, makanya sakit. Kamu minta Bi Rindi siapin sarapan dulu, ya?" pinta Aileen yang diangguki bocah yang biasanya keras kepala itu patuh."Bentar, ya?" ucap Ayres sebelum kemudian m

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-15
  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Datang Bulan

    Begitu merasa sedikit membaik dan pulih, Aileen memutuskan untuk bekerja lagi. Perempuan itu bahkan mulai membantu Bi Rindi di dapur juga menyiapkan segala kebutuhan Ayres di sekolah maupun di rumah.Arsen dan Namira yang melihat betapa keras kepala perempuan 19 tahun itu akhirnya cuma bisa menghela berat. Bingung harus mencegah seorang Aileen Nayara bagaimana lagi. Perempuan itu terlalu keras kepala."Aileen." Panggilan bernada dingin itu dibalas Aileen dengan deheman.Perempuan yang siang ini tengah mengepel lantai rumah dengan setelan baju tidur yang masih melekat di tubuh bahkan tidak berniat memandang Arsen sama sekali. Seolah wajah tampan majikannya kalah menarik dari lantai keramik yang basah."Lepas alat pelnya!" titah Arsen tegas yang dibalas Aileen dengan gelengan."Enggak bisa. Aku harus kerja, biar enggak dikira makan gaji buta," jawab perempuan itu sambil kembali melanjutkan kegiatan mengepelnya.Arsen mendengkus sebal. Kemudian, tanpa aba-aba, pria itu merebut alat pel d

    Terakhir Diperbarui : 2021-06-16
  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Tidak Sadarkan Diri

    Untuk kesekian kalinya, Aileen menyembunyikan wajahnya di balik bantal kamar. Menyadari bahwa Arsen melihat darah haidnya justru membuat perempuan pendek itu semakin badmood dan malu.Pasti sekarang duda menyebalkan itu tengah menertawai seberapa jorok dirinya. Aish ... memikirkannya malah membuat Aileen semakin malas keluar dari kamar.Tidak peduli bahwa pekerjaan rumah belum ia kerjakan pagi ini."Bibi Ai ... laper," keluh Ayres dari depan pintu kamarnya.Aileen bangkit duduk. Perempuan pendek itu kemudian berdiri dan segera berlari membuka pintu kamar."Kamu mau makan apa? Maaf, Bibi lupa seduhin susu hangat sama masakin sarapan," ucap Aileen penuh sesal begitu menemukan wajah lesu putra sang majikan di depan kamarnya."Kata Papa, aku enggak boleh ganggu Bibi Ai. Katanya Bibi Ai masih sakit, buktinya kemarin berdarah gitu. Tapi kan aku lapar, Bibi. Kalau Bibi Rindi yang masakin, rasanya kurang enak," adu Ayres polos yang hanya dibalas Aileen dengan wajah cemberut."Yaudah, ayo kita

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-01
  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Amnesia Retrograde

    "Pa, Bibi Ai enggak akan mati, kan?" tanya Ayres untuk kesekian kalinya.Tapi, sama seperti sebelumnya, pria sipit itu hanya diam termenung sambil memeluk erat Ayres yang ada di pangkuan. Bahkan untuk memastikan bahwa Aileen masih bisa selamat kepada putranya saja, Arsen tidak berani."Papa jangan diem aja. Aku takut," rengek Ayres yang kini mulai menangis.Untuk pertama kalinya, Arsen bahkan tidak mampu menyadari kehadiran Ayres. Jiwa pria itu seolah masih tertinggal di suatu tempat.Namira yang baru saja sampai tentu saja langsung mengambil alih sang cucu dari gendongan putranya. Tanpa berucap apa-apa, Namira membawa Ayres menjauh dan mengantar bocah itu pulang dengan beberapa bujukan.Karena lebih daripada Ayres, Arsen lebih butuh untuk ditolong. Untuk pertama kalinya, Namira melihat lagi ketakutan di mata pria itu. Antara lega sekaligus sedih, perempuan tua itu akhirnya duduk di samping Arsen."Arsen," panggil Namira sambil menyentuh sisi bahu Arsen.Seketika, Arsen yang baru ters

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-02

Bab terbaru

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Malam Termanis

    "Mama Ai Mama Ai!" Ayres memanggil begitu pagi ini Aileen bahkan belum bangun dari tempat tidurnya."Kenapa, Sayang?" jawab Aileen lembut dengan suara serak khas bangun tidurnya."Besok aku udah bagi raport. Mau sekolah SD dooong. Mama Ai sama Papa pergi ambilin, ya? Kata Bu Guru, harus diambilin sama orang tua. Eh, tapi Mama Ai kan masih muda." Bocah itu bercerita panjang lebar."Yaudah, suruh aja Nenek. Nenek kan udah tua tuh. Berarti dia orang tua," sahut Arsen malah semakin menyesatkan teori yang diyakini sang putra.Aileen mencubit pinggang suaminya begitu pria itu duduk di sisi ranjang. "Kamu ini!" kesal Aileen yang hanya dibalas Arsen dengan kekehan geli."Ntar Papa yang ambilin raport kamu. Jangan Mama, dia lagi sakit. Gara-gara semalam main hujan kayak anak kecil. Beneran bukan orang tua banget kan, Res?" ucap Arsen yang dibalas bocah itu dengan anggukan setuju."Kenapa Mama boleh main hujan? Aku kan juga mau tapi selalu dilarang," tanya Ayres protes.Arsen terkekeh geli begi

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Jangan Diulangi Lagi

    "Saya anter sampai sini aja. Udah sana masuk!" usir Arsen begitu mobilnya sudah terparkir di parkiran butik melati.Aileen menoleh aneh. Tumben sekali Arsen tidak mengantarnya sampai dalam. Apa pria sipit ini sedang sibuk?"Kamu lagi sibuk, ya? Seharusnya kan aku dianter sama supir aja," ucap Aileen merasa bersalah.Arsen menoleh bingung. "Kapan aku bilang aku sibuk?" tanya pria itu heran."Buktinya kamu mau langsung pergi. Biasanya nganter aku dulu sampai dalem," jawab Aileen polos.Arsen terkekeh geli sambil menjawil sebelah pipi Aileen gemas. "Enggak sibuk kok. Cuma lagi belajar percaya aja. Jangan curigaan terus sama istri sendiri. Dikira begini begitulah. Bosen saya marahan cuma karena hal kekanakan kayak gitu," jelas Arsen yang dibalas Aileen dengan 'ooo' yang panjang."Kamu enggak mau turun nih? Biar saya culik terus jadiin pajangan di ruangan saya," tanya Arsen yang dibalas Aileen dengan delikan."Nanti kalau aku jadi pajangan, bukan cuma kamu doang yang liat dong?" jawab Aile

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Maaf, Ya?

    Aileen cemberut. Begitu sampai rumah, Arsen malah tidak ingin berbicara dengannya. Pria itu benar-benar marah hanya karena Aileen lupa meminta izin untuk pergi dengan Tama."Mas, mau kopi?" Aileen bertanya sambil merangkul pundak sang suami dari belakang.Pria sipit itu mendengkus kemudian menepis lengan Aileen yang melingkar di lehernya. "Saya lagi sibuk! Jangan ganggu," tegur Arsen ketus yang tentu saja tidak membuat Aileen menyerah untuk membujuknya."Aku lapar, belum masak. Pesenin sesuatu di go food dong!" Di saat Arsen tengah marah begitu, Aileen malah sempat-sempatnya meminta dibelikan makanan.Tentu saja Arsen mengabaikan sambil terus melanjutkan pekerjaannya di laptop. "Kamu marah banget, ya?" tanya Aileen begitu tidak mendapat respon apapun dari sang suami."Yaudah deh, terserah kamu aja! Aku juga enggak ngapa-ngapain kok sama Tama. Kalau kamu enggak percaya ya terserah. Intinya aku udah jujur." Kali ini, Aileen malah ikut-ikutan sensi.Tapi, meski sudah mengomel sepanjang

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Aileen dan Tama

    "Wah ... Aileen udah masuk lagi ya, sekarang? Kemarin kemana aja? Kok enggak dateng?" tanya Tama menyapa begitu perempuan pendek itu sampai di tempat kursus.Aileen yang baru saja akan menjawab, langsung diam begitu melihat pelototan Arsen di sampingnya. Jadi demi menghindari Arsen mengomel season dua, perempuan itu hanya diam saja. Membiarkan sang suami menjawabnya."Dia lagi sibuk. Dia kan bukan remaja kemarin sore. Yang kerjaannya kalau enggak belajar atau ekskul, ya main hp." Arsen menjawab dengan nada sedikit sewot.Aileen mendelik protes sekaligus tidak terima. "Aku dulu enggak main hp kok! Dulu aku enggak punya hp soalnya," sanggah perempuan pendek itu tidak tahu suasana yang dibalas Tama dengan kekehan geli."Kabarin saya lagi kalau saya peduli," balas Arsen yang semakin membuat Aileen menghentakkan kaki sebal."Yaudah, saya berangkat dulu. Kamu yang serius belajarnya, jangan malah kebanyakan bercanda sama Tama!" tegur Arsen yang niatnya menyindir pria berkaca mata itu.Tama

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Istri Cantik Saya

    Sejak pulang dari tempat kursus jahit, Arsen lebih banyak marah-marah pada Aileen. Aileen yang tidak tahu alasannya apa tentu saja bertanya-tanya.Lebih dari Almarhumah Bundanya, sang suami terus mengomeli setiap hal yang sebenarnya tidak perlu. Padahal biasanya, Arsen paling malas berbicara."Mas mau ngopi?" tawar Aileen berniat meredakan sensitifitas pria sipit itu.Arsen yang tengah mengetik sesuatu entah apa di laptopnya, hanya membalas dengan lirikan tajam. Aileen mendadak tergagap melihat sikap galak suaminya yang terlalu mendadak."Mau kopi nggak? Kalau enggak aku lanjut bantu Bi Rindi di dapur nih," tanya Aileen sekali lagi sedikit takut."Tadi siang kamu bikinin Tama kopi tanpa nanya dulu di sana. Kok sekarang kamu tanya saya? Ya mau lah! Ga liat mata saya ini udah ngantuk berat?" tanya Arsen sewot yang akhirnya membuat Aileen menyimpulkan satu hal.Arsen ingin minum kopi.Beberapa saat kemudian, Aileen segera berlalu ke dapur. Tidak butuh waktu lama untuk membuat perempuan p

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Kecemburuan Arsen

    "Udah siap?" tanya Arsen begitu melihat sang istri masih sibuk berdandan di depan meja rias.Aileen menggeleng. Sebelum kemudian kembali mengolesi krim siang ke wajahnya. Arsen yang melihat kelakuan perempuan pendek itu hanya mendengkus tidak suka.Kenapa Aileen harus berdandan hanya untuk pergi ke kursus jahit saja? Lagaknya seolah akan pergi kencan dan bertemu pacarnya saja."Kamu kalau di rumah mana pernah dandan kayak gitu buat saya. Giliran keluar rumah aja, baru rapi dan cantik." Arsen mengomentari dengan niat menyindir.Aileen mendelik kesal. "Berarti selama ini aku berantakan dan jelek kalau di rumah?!" tanya Aileen galak yang seketika membuat Arsen berhenti berkomentar.Jika sudah memasang wajah sejudes itu, berarti Arsen harus diam. Atau jika tidak, perang dunia ke sekian kali akan terjadi. Terlebih sekarang istrinya tengah PMS."Udah selesai belum?" tanya Arsen beberapa saat kemudian.Aileen hanya membalasnya dengan gelengan dan gerutuan. "Belum juga apa-apa. Masih aja nan

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Bertemu Tama

    Sejak menikah dengan Arsen, kesehariab Aileen hanya diisi oleh membantu Bi Rindi bersih-bersih dan memasak atau mengurus keperluan penghuni rumah saja. Tidak ada yang lain.Sesekali di hari libur kantor juga sekolah, Arsen akan mengajaknya liburan. Atau paling tidak sekedar berbelanja bulanan ke supermarket.Setelah dipikir-pikir, selama ini kehidupan Aileen hanya berputar di itu-itu saja. Tanpa sadar, perempuan itu mulai merasa bosan dengan kegiatannya sendiri."Bikinin kopi dong!" pinta Arsen sambil merangkul leher sang istri dari belakang.Aileen yang sore ini tengah duduk di ruang tengah sambil menonton TV hanya mengangguk dan tersenyum manis sebagai jawaban. Begitu berjalan ke dapur, Arsen malah mengikutinya.Padahal pria sipit itu bisa mengganti baju atau membersihkan diri terlebih dahulu. "Kapan kamu pulang?" tanya Aileen begitu sampai dapur sambil mengeluarkan toples gula juga kopi bubuk di dalam lemari.Arsen memang pecinta kopi hitam asli yang diracik. Jadilah Aileen selalu

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Ayo Kita Liburan

    Begitu terbangun, Arsen mendapati sapu tangan kecil bertengger di kening. Tapi, kepalanya yang terasa nyeri dan berputar-putar membuat pria itu diam di tempat.Tidak berniat bertanya siapa yang melakukan ini untuknya. Mungkin saja Bi Rindi. Karena sebelumnya, memang hanya perempuan itu yang ada di rumah.Meraih ponsel di sisi kasur dan melihat jam, mata pria sipit itu mendadak melotot (meski terlihat sama saja karena matanya yang kecil). Ini sudah jam 12 malam! Bagaimana bisa Arsen malah tidur selama itu?Kriettt ....Pintu kamar yang terbuka membuat Arsen menoleh. Begitu menemukan Aileen berdiri di sana, pria sipit itu mengerjap terkejut."Loh ... kamu kapan pulang?" tanya Arsen heran yang hanya dibalas Aileen dengan senyum tipis."Udah dari jam 8 tadi. Cuma Mas Arsen aja yang tidur kelamaan," jawab Aileen sambil duduk di ranjang samping suaminya.Arsen mendongak menatap perbedaan sikap sang istri. Sejak kapan Aileen mau mengajaknya berbicara begini?"Kamu ... udah enggak marah?" tan

  • Istri Kecil untuk Bos Duda   Arsen Sakit

    Karena terlalu banyak begadang ketika malam, dan bekerja dari pagi hingga sore bahkan kadang maghrib, Arsen mulai kelelahan. Terbukti dari tubuhnya yang terasa meriang sejak semalam.Tapi, pagi ini pria itu tetap memaksakan diri untuk berangkat kerja. Lagipula, dia malas berdiam diri di rumah sakit. Aileen masih belum juga mau mengajaknya berbicara. Di dalam hati, Arsen sebenarnya sudah berteriak frustasi. Kalau tahu kemarahan Aileen bisa selama dan sesusah ini mereda, mungkin Arsen akan selalu berhati-hati dengan tindakan juga perkataannya.Tapi, semuanya sudah terlanjur. Dan Arsen belum juga menemukan cara meredakan amarah perempuan itu hingga detik ini. Menyebalkan sekali."Pak Sakya kenapa masuk kerja? Kelihatan lagi kurang enak badan," tanya seorang perempuan dengan tubuh tinggi semampai juga sepasang lesung pipit itu.Arsen menoleh sejenak kemudian hanya membalas dengan deheman. Moodnya sedang luar biasa berantakan, jangan tanyakan tubuhnya yang sekarang mulai terasa menggigil

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status