Sesampainya di rumah Dave, Rachel terlihat bingung.
"Kita ada dimana sekarang?" tanya Rachel seraya menegok ke kiri dan kanan."Rumahku," kata Dave santai.Rachel terkejut mendengarnya. Ia lantas menatap tajam ke arah Dave."Kenapa kau bawa aku ke rumahmu?""Eh... Anu.."
Dave gelagapan, bingung harus menjawab apa.
Saat Dave ingin membuka mulutnya, tanpa di duga Rachel menarik ujung kerah baju Dave dan menciumnya dengan ganas. Dave membalas ciuman Rachel. Ia menarik pinggang Rachel, mengikis jarak di antara keduanya. Kedua tangan Rachel meremas rambut Dave saat ciuman Dave beralih turun ke lehernya. Entah apa yang ada di pikiran Rachel saat itu. Ia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Dave, terus menginginkan lebih walaupun batinnya berkata lain.Tubuh Rachel seakan sedang tidak sejalan dengan pikirannya saat ini. Rachel malah pasrah serta mengalungkan lengannya saat Dave mengendongnya masuk ke dalam kamar.Entah karena suhu di kamar Dave atau apapun itu, yang jelas Rachel merasa hawa panas yang mencekiknya. Rachel yang sudah tidak dapat menahan lagi itu, lantas melucuti seluruh pakaian di tubuhnya. Dave sempat tercengang untuk sesaat, memandangi pemandangan indah di depannya.Efek mabuk membuat gerakan Dave menjadi lebih agresif. Tidak membuang banyak waktu lagi, Dave menarik tangan Rachel. Ia merebahkan tubuh Rachel di ranjang miliknya bersamaan dengan tubuhnya sendiri."Ingat ya, kau yang memancingku. Maka..."Belum selesai Dave berbicara, Rachel menarik wajah Dave dan melahapnya dengan ganas. Dave mengimbangi permainan panas Rachel. Seringai kecil terukir di wajahnya. Napas keduanya semakin memburu.
Merasa kehabisan oksigen, Rachel melepaskan pangutan mereka lebih dulu. Dave memandangi wajah Rachel dalam, mencoba menelusuri wajah cantiknya."Jika sudah memulai, aku tidak akan berhenti.""Tidak ada yang menyuruhmu untuk berhenti. Cepatlah! Aku sudah tidak tahan," rancau Rachel yang mulai tersiksa.Dave kembali melanjutkan aktivitasnya. Bergelung di balik selimut tebal, dimana Rachel berada dalam rengkuhannya.Napas yang memburu menambah panas permainan mereka berdua. Suara derit ranjang yang berbunyi tidak mereka hiraukan.
Desahan mengiringi setiap gerakan Dave yang berada diatas tubuh Rachel. Mereka bergerak bersamaan, menyatukan irama keduanya hingga saling bersinergi menuju kenikmatan yang tiada tara.☆☆☆☆☆Damian menginginkan agar pernikahan Dave dan Rachel segera dilangsungkan. Kalau bisa seminggu setelah perses lamaran.Robert heran, mengapa mereka harus menikah secepat itu. Ia awalnya menolak pernikahan mendadak itu dan meminta jangka waktu yang lebih lama. Namun setelah Damian menjelaskan kejadiannya yang sebenarnya, Robert akhirnya menyetujuhi rencana Damian.Kedua orang tua Rachel hanya bisa mengadakan pesta kecil untuk pernikahan mereka karena acara yang terbilang mendadak. Damian tidak keberatan dan ikut membantu biaya pesta dan perlengkapan pernikahan lainnya.
Tanpa di ketahui oleh kedua orang tua Rachel maupun orang tuannya sendiri, Dave membuat perjanjian sendiri dengan Rachel.Selepas acara lamaran, Dave mengajak Rachel berbicara empat mata dengannya.Alhasil, Rachel meminta izin kepada semuanya untuk berbicang berdua dengan Dave di depan teras rumahnya.
"Aku akan menikah denganmu selama sebulan. Kalau kau nantinya tidak hamil, kita akan langsung bercerai. Tapi kalau kau hamil kita buat perjanjian ulang," kata Dave dengan wajah datar."Bukan 'kah sudah ku katakan sebelumnya? Aku tidak butuh rasa kasihan dari kalian," sela Rachel memotong ucapan Dave."Aku hanya mencoba menyelamatkanmu dari gunjingan orang. Kenapa kau keras kepala sekali?" ujar Dave sambil mengaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal."Asal kau tau saja ya. Saya ini punya kekasih dan kami sudah merancang pernikahan, tapi sekarang malah kau yang datang ke rumah saya."Dave terdiam sesaat, tidak menyangka Rachel memiliki kekasih. Jika dilihat dari fisik Rachel yang mengoda itu, wajar bila ada laki-laki yang mendekatinya."Lalu, kenapa kau diam saja saat di dalam tadi? Kau 'kan bisa bilang akan menikah dengan kekasihmu itu dan menolak lamaran saya," sunggut Dave dengan nada kesal.Rachel terdiam, bingung menjelaskan keadaan hubungan asmaranya dengan sang kekasih ke Dave.
"Jangan bilang kalau kau tidak dapat menolak pesonaku," ucap Dave sambil tersenyum mengoda.
Pletak...Rachel memukul kepala Dave."Argh... Sakit bego," runtuk Dave seketika."Pantas saja ya papahmu itu ingin menghajarmu. Otakmu itu memang tidak waras rupanya," ujar Rachel seraya berjalan pergi meninggalkan Dave seorang diri."Berani sekali kau mengataiku begitu," pekik Dave seketika.Rachel tidak menghiraukaan Dave dan terus berjalam masuk ke dalam rumahnya."Yak... Hey.. Hel—"Dave berteriak memanggil nama Rachel."Awas saja kau ya. Kau akan menerima balasannya nanti," ancam Dave terlihat kesal."Kau pikir aku akan takut. Kita lihat saja nanti siapa yang akan membalas siapa," serang balik Rachel seakan tidak mau kalah.☆☆☆☆☆Pernikahan yang terbilang mendadak itu rencananya dilakukan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat terdekat saja. Seminggu kemudian...Dave memandangi pantulan dirinya dari balik cermin. Black suit hitam dipadu padankan dengan kemeja putih yang pas melekat di tubuh atletis Dave. Rambutnya ia sisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi lebar yang menambah kesan maskulin di wajah Dave.Hanya saja wajah tampannya itu nampak muram. Dave masih kesal dengan perkataan Rachel tempo hari. Ia seperti merasa di jebak keadaan untuk menikah dengan wanita yang tidak di kenalnya.Tok... Tok... Tok...Terdengar suara ketukan pintu, membuat Dave menoleh. Seorang wanita yang terlihat lebih mudah dari Dave muncul dari balik pintu."Tamunya udah pada datang, Ka. Acaranya juga sudah mau di mulai. Kakak mau nunggu apa lagi?" tanyanya sambil memandangi wajah kakaknya itu."Cindy, Kakakmu ini belum mau menikah. Kamu gak bisa bawa kakak kabur kemana gitu?"Wanita yang di panggil Cindy itu mengeleng. "Sudah terlambat kalau kakak mau kabur sekarang. Memangnya ada apa sih, Ka?" tanya Cindy penasaran."Tolong kak Dave, Cin. Sekali ini saja. Kakak gak bisa nikah sama orang yang gak kakak kenal. Tolong bawa kakakmu ini pergi dari sini," bujuk Dave dengan wajah memelas."Gak kenal tapi malah tidur sama dia," sindir Cindy seketika."Itu 'kan efek mabuk. Kamu juga kalau mabuk pasti gitu juga," kelit Dave tidak terima."Enggak dong. Aku 'kan gak pernah mabuk—"Cindy terkekeh pelan, lalu berjalan mendekati Dave."Sejauh ini yang Cindy liat ka Rachel baik orangnya."Dave cemberut saat mendengar adiknya memuji Rachel."Keluar yuk, Kak. Nanti malah aku lagi yang kenal omel papah," ajak Cindy sembari mengiring Dave keluar kamar.☆☆☆☆☆Dave berdiri didepan altar, menunggu kedatangan mempelai wanitanya. Semua tamu undangan mulai berbisik-bisik di belakang Dave. Entah apa yang mereka semua bicarakan, Dave nampak tidak perduli. Tatapan mata Dave nampak kosong.Kreeek.... Terdengar suara pintu yang dibuka perlahan.BERSAMBUNG...
Dave menoleh ke belakang, menatap ke arah daun pintu kembar di ruangan itu yang perlahan mulai terbuka. Rachel perlahan muncul dari balik pintu itu. Ia melangkah kaki dengan kedua tangannya mengapit lengan kekar Robert. Kedua orang itu jalan beriringan memasuki ruangan. Dave seketika terpana melihat Rachel dalam balutan dress putih panjang. Rachel terlihat nampak berbeda daripada waktu pertama kali bertemu dengan Dave. Entah karena senyumnya yang mengembang atau mungkin pula dari riasan wajah, yang menambah pancaran kecantikan di wajahnya. Sesampainya di depan altar, Robert memberikan tangan Rachel pada Dave. Di pandangnya wajah Dave sekilas, sembari menepuk pundaknya. "Titip Rachel ya," bisik Robert di telinga Dave. Dave mengangguk pelan, lalu menoleh sekilas ke arah Rachel. Mereka berdua kemudian saling mengucap janji suci pernikahan di hadapan pendeta.Kate melihat pasangan pe
Kate lantas menghela napas berat. Kate memandangi wajah Rachel yang kini menundukkan kepalanya sembari mengerakkan kukunya, tidak berani menatap ke arah Kate."Anak itu ya, benar-benar. Malam pertama malah menyuruh istrinya tidur di luar kamar," dengus Kate seraya mengeleng sebal.Kedua tangan Kate terkepal. Ia hendak berjalan pergi, tapi langkahnya seketika terhenti."Mamah, mau kemana?" tanya Rachel saat melihat Kate hendak menaiki tangga."Mau ke atas, ngasih pelajaran ke suami kamu itu."Rachel terus memegangi lengan Kate, mencegahnya pergi ke kamar Dave."Tidak usah, Mah. Lagipula sekarang sudah larut malam. Nanti malah menganggu yang lain. Dave juga sepertinya sudah tidur," ucap Rachel sambil menahan Kate.Kate menghela napas berat, lalu beralih melihat ke arah Rachel. Sedangkan, Rachel hanya bisa diam saja sembari matanya menatap penuh harap ke arah Kate."Ya, sudah. Sekara
Rachel menghela napas berat sembari mengeleng heran."Rupanya kau kemari hanya ingin bertengkar denganku.""Hah?""Terserahlah, kalau tidak percaya. Tidak penting juga bagiku," ujar Rachel seraya berjalan pergi meninggalkannya."Yak.. Saya belum selesai bicara. Kau mau pergi kemana?" teriak Dave dengan lantang."Ambil sisir."Suara Rachel terdengar samar-samar di telinga Dave, membuatnya mengendus sebal.☆☆☆Rachel yang kesal karena ulah Dave yang membuat moodnya buruk itu, memutuskan pergi ke cafe langganannya. Ia ingin menenangkan diri sembari meminum secangkir kopi cappucino late.Sesampainya di cafe, Rachel terkejut saat melihat Alex tengah memesan kopi."Lex..."Alex juga sama terkejutnya dengan Rachel."Mau pesan kopi juga?" sapa Alex basa-basi.
"Kamu tau 'kan selama ini aku berjuang mengumpulkan uang agar kita bisa nikah." "Aku tau, tapi seenggaknya jawab telpon sekali aja masa gak bisa. Aku bingung saat itu dan gak bisa nolak lamaran Dave karena kamu menghilang." Suara Rachel terdengar parau. Alex lantas menarik Rachel kedalam dekapannya. Tangis Rachel pecah seketika. "Maaf. Sinyal disana gak memungkinkan aku buat jawab telpon," ujar Alex sembari menepuk-nepuk punggung Rachel. "Ceritakanlah! Apa yang sebenarnya terjadi," pinta Alex dengan nada lembut. Rachel lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Dave yang berakhir dengan pernikahan yang mendadak. Alex mendengarkan dengan seksama. Tangan Alex seketika terkepal, menahan kesal. Alex tidak menyangka rencananya yang sempat gagal itu malah dimanfaatkan baik oleh Dave. "Kalau saja Emilio tidak datang malam itu, pasti aku yang lebih dulu mencicipi Rachel." Batin Alex bersuara dala
"Asal kau tau. Ayahmu sendiri yang menitipkan dirimu padaku. Bukan ke mamah ataupun papah. Jadi kau adalah tanggunganku sampai tiba saatnya saya mengembalikan kau ke ayahmu setelah kita bercerai nanti—""Jangan pernah coba-coba melanggar aturan yang saya buat untukmu, jika tidak mau menanggung akibatnya. Karena saya yang lebih berhak atas dirimu dari pada siapun dirumah ini," ancam Dave.Arah pandangan Dave tanpa sengaja melihat ke arah bibir Rachel.Dave mengejapkan kedua matanya, memandangi bibir merona Rachel. Seketika muncul pikiran nakalnya yang ingin mencium Rachel. Namun saat ia beralih menatap ke arah mata Rachel. Seketika Dave tersadar."Apa maksudnya itu? Kau..."Dave menghendus sebal dan pergi meninggalkan Rachel yang belum selesai berbicara."Hey, jangan pergi. Aku belum selesai bicara," teriak Rachel seketika.Teriakan Rachel tidak menghentikan langkah kaki Dave yang
Dave yang baru keluar kamar mandi, melihat Rachel tengah menatap ke bagian dadanya yang tidak tertutup handuk. "Rupanya kau sudah bangun," ucap Dave datar. Suara bass Dave seketika menyadarkan Rachel dari lamunannya. Dave mengernyitkan dahi saat melihat Rachel yang tidak juga bergeming duduk di sofa. "Kenapa masih diam disitu? Cepat mandi sana," ketus Dave mengusir Rachel ke kamar mandi. Rachel yang masih mengantuk itu, berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Dave hanya memperhatikannya dalam diam. Begitu Rachel selesai mandi, ia melihat Dave berdiri dengan lemari pakaiannya yang terbuka. Saat ini Dave telah memakai kemeja polos dan celana panjang. Namun kepalanya menoleh ke segala arah, seakan tengah mencari sesuatu. Rachel berjalan mendekatinya. "Kau cari apa? tanya Rachel menyamakan arah pandangan Dave. "Gesper hitam. Kau tidak membuang gesperku 'kan?" Rachel mende
Rachel yang tiba-tiba merasa penasaran itu, lantas menoleh ke Cindy."Dave kalau lagi kesal itu biasanya sikapnya bagaimana?" tanya Rachel manatap Cindy penuh minat."Ka Dave kalau sudah kesel pasti bakal ngomel, mengerutu terus sepanjang jalan. Pusing denger ocehannya.""Kamu sering di marahin dia juga ya.""Dirumah ini yang paling kalem cuma aku, Ka. Mamah juga sebenarnya, tapi dia kalo udah marah seremnya lebih dari papah. Ka Dave 'kan kaya papah sebenarnya gampang marah, tapi marahnya bentar doang. Jadi harap maklum ya ka."Rachel mengangguk pelan, kemudian mengajak Cindy turun ke bawah.Sesampainya mereka berdua di halaman rumah, Dave sudah berkaca pinggang di samping mobil banteng ngamuk warna hitam."Tuh 'kan, Ka. Bentar lagi bakal ngomel deh pasti," bisik Cindy di tepat telinga Rachel.Rachel dan Cindy berjalan bersamaan, mendekati Dave yang tengah be
Dave mengamati setiap lekuk wajah di hadapannya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.Tangan Rachel tanpa sadar bergerak mengusap-usap lengan dengan mata tertutup seakan merasakan hawa dingin yang menyerang.Seketika Dave sadar selimut yang di kenakan Rachel terkesiap. Kedua tangan Dave lantas terulur menarik ujung selimut itu sampai batas pundak Rachel.Baru setelah itu Dave berjalan naik ke ranjang, memposisikan dirinya berbaring dengan nyaman.Dave menatap ke atas. Kedua matanya menerawang memandangi lama atap langit-langit kamarnya. Entah apa yang di pikirkan laki-laki berambut pirang itu pada malam hari. Lelah berkutat dengan pikirannya, perlahan mata Dave terpejam dengan sendirinya.☆☆☆Sinar mentari pagi yang menyilaukan mata tertutup, membuat Dave terbangun dari tidurnya. Ia mengerang pelan sembari meregangkan otot-otot persendiannya.Dave mengejapka
Rachel menatap lama ke sebuah tanggal pada kalender yang tengah di pegangnya. Ia baru sadar kalau bulan ini dirinya belum juga kedatangan tamu bulan. Pembalutnya yang tersimpan di box penyimpanan masih utuh. Meski sudah pernah mengandung Darrel, tetap saja kali ini dia kecolongan. "Bodoh. Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang setelah dua bulan berlalu?" umpatnya pada diri sendiri. Rachel yakin dirinya hamil, tapi ingin memastikannya dulu sebelum memberitahukan kabar bahagia ini pada sang suami. Pagi-pagi sekali Rachel pergi ke apotek dekat rumah untuk membeli alat tes kehamilan. Begitu sampai di rumah, Dave memarahi Rachel karena pergi tanpa izin. "Darimana saja kamu? Kenapa pergi tanpa membangunkanku dulu?" cecar Dave begitu Rachel kembali. "Aku hanya pergi ke apotek dekat sini," jawab Rachel santai. "Kamu sakit?" Dave mendekat. Di sentuhnya kening dan leher istrinya bergantian dengan punggung tangannya.&nbs
Dewi yang tengah mengatur laju napasnya yang masih memburu, seketika terlonjak kaget. Ia mendongak, menatap Alex yang kini sudah terbaring di sampingnya dengan mata terpejam.Dewi mengumpat melalui tatapan matanya. Ia tidak menyangka Alex malah menyebut wanita lain saat bercinta dengannya."Jadi yang kau bayangkan saat bercinta denganku tadi itu Rachel," desis Dewi nampak tersinggung.Percuma saja Dewi berbicara, Alex sepertinya tidak mendengarkannya. Napasnya yang teratur diiringin suara dengkuran halus yang keluar dari mulut Alex, menandakan lelaki itu sudah tertidur nyenyak.Kekagumannya pada sang bos membuatnya lupa diri, berharap suatu saat Alex dapat melihat cintanya yang teramat besar. Logikanya seakan hilang, tergantikan akan keinginannya untuk memiliki Alex seutuhnya.Kini Dewi hanya bisa menyesal dan terus menyalahkan diri sendiri. Tindakan bodohnya waktu itu ternyata membuahkan hasil hingga dirinya sekarang berakhir terkurung dalam
Trauma itu akan tetap ada. Bahkan setelah berbulan-bulan lamanya Alex tak lagi mengusik rumah tangga Rachel. Wanita itu terkadang masih di dera ketakutan yang sama. Takut jika suatu hari nanti Alex datang menemui Rachel di saat lelaki itu sedang tidak waras seperti waktu itu. Bayang-bayang masa lalu dimana wanita itu mendapat perlakuan tidak menyenangkan kembali melintas seketika. Saat itu Rachel sedang bersembunyi dari kejaran Alex. Lelaki itu terlihat seperti orang gila setelah Rachel dengan tegas berterus terang ingin memutus hubungan dengannya. Wanita itu awalnya mengira dapat terbebas setelah bersembunyi. Namun Alex rupanya menemukan tempat persembunyian Rachel. "Lex, aku mau pulang. Kita bicara besok lagi ya. Sampai ketemu besok," ujar Rachel berbicara setenang mungkin. Melihat mata Alex yang mengelap seperti bukan dirinya, Rachel segera bergegas pergi. Namun wanita itu terlambat. Alex tiba-tiba meraih pergelangan tangan Rachel, menariknya
Dave menatap wajah Rachel lekat. "Kamu pernah bilang nggak sabar mau lihat anak kamu. Tapi kenapa begitu Darrel lahir, kamu jadi cuek begini?" Wajah Dave yang semula tanpa ekspresi kini malah tersenyum miring. "Anak saya? Apa kamu yakin kalau Darrel itu anak saya?" Rachel tersentak dengan pertanyaan Dave. Ia tidak menyangka Dave akan meragukan keberadaan Darrel. "Apa maksudmu, Dave?" Dave memandang wajah Rachel dengan tatapan yang sulit di artikan. "Waktu saya ke kantor kamu buat kasih surat pengunduran diri itu, Alex sempat berkata sesuatu ke saya. Soal anak itu—" Rachel seketika merasa was-was sekaligus penasaran dengan apa yang di katakan Alex ke Dave. "Lelaki itu bilang kalian berdua pernah berhubungan badan di belakang saya. Benar begitu?" tanya Dave nampak tenang. "Dave... Aku bisa jelaskan semuanya ke kamu." Sudut bibir Dave seketika tertarik ke atas. "Jadi tangis kesedihan s
Damian dan Kate terlihat terkejut setelah mendengar penuturan Cindy. Mereka tidak habis pikir dengan kelakuan anak lelakinya yang hingga kini belum terlihat juga batang hidungnya."Anak itu ya benar-benar kelakuannya. Awas saja nanti kalau sudah datang. Papah pukul kepalanya. Biar tahu rasa," sungut Damian seraya mengeleng kesal."Padahal sudah sering mamah kasih tahu. Kejadian juga. Istrinya mau lahiran, malah pergi kemana lagi tuh anak."Kate juga ikut meruntuki dengan berbagai caci maki yang ditujukan untuk Dave."Sudahlah, Pah, Mah. Mengomelnya nanti saja pas kak Dave sudah ada. Lebih baik sekarang kita berdoa semoga persalinan kak Rachel diberi kelancaran," saran Cindy menengahi.Damian dan Kate saling berpandangan untuk beberapa saat. Kemudian mengangguk. Kini mereka sudah lebih tenang. Walaupun sesekali Damian terlihat mondar-mandir di depan ruang bersalin. Sedangkan. Cindy dan Kate yang duduk bersebelahan terlihat saling menguatkan se
Entah sengaja atau tidak, Dave dengan polosnya malah bertanya pertanyaan yang membuat mamahnya semakin jengkel mendengarnya."Benar-benar ini anak ya," geram Kate sembari meremas ponsel Rachel.Tidak ingin keributan semakin meluas, Rachel pun berusaha menenangkan mertuanya."Sudahlah, Mah. Tidak apa-apa. Mamah tidak perlu cemas. Kata dokter masih seminggu lagi. Lagipula masih ada Dave yang bakal selalu jagain Rachel. Ya kan, Dave?""Hmm..."Dave berdeham sekenanya. Lelaki itu mengiyakan saja perkataan Rachel agar dapat terbebas dari amukan mamahnya.☆☆☆Rachel melirik ke arah jam di dinding yang saat ini menunjukkan pukul empat sore. Melihat hari sudah mulai senja, ia lantas bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.Walau gerakannya sudah tidak bisa segesit dulu lagi, namun ia tidak terlihat mengeluh. Wanita itu malah akan bosan kalau hanya duduk-duduk bersantai, menunggu suami pulang kerja. Untuk itu Rach
Setelah Dave berhasil melepaskan diri, lelaki itu malah bangkit dan berjalan ke luar kamar. Mata Rachel kembali berkaca-kaca ketika melihat bayang-bayang yang perlahan menghilang dari balik pintu. Rachel kembali merasa sedih saat menyadari suaminya sudah tidak tertarik lagi padanya. Semenjak kejadian malam itu, Dave benar-benar menghentikan frekuensi hubungan intim mereka. Entah mengapa lelaki itu jadi kehilangan gairahnya, seperti malam ini. Andai saja wanita itu tahu. Dave sebenarnya hampir menyentuh Rachel kembali malam ini, tapi gairah Dave mendadak padam ketika terbayang Rachel pernah di sentuh lelaki lain saat masih berstatus sebagai istrinya. Andai lelaki itu tidak teringat kata-kata Alex tempo hari, mungkin mereka tidak akan tidur di ranjang yang terpisah malam ini. ☆☆☆ Seorang lelaki berambut pirang nampak tengah berjalan memasuki kawasan poliklinik ibu dan anak di sebuah rumah sakit. Langkah kakinya mendadak berhenti saat melihat peman
Rachel tiba-tiba kembali menyinggung nama Alex saat mereka tengah makan bersama. Dave yang tengah menyendokkan makanan ke mulutnya, jadi berhenti begitu nama lelaki itu disebut. Selera makannya mendadak hilang entah kemana."Bukankah saya sudah cerita ya? Tidak dengar? Waktu itu telingamu kemana saat saya sedang bicara," ketus Dave menahan kesal.Mata hazel wanita itu mendadak berkaca-kaca mendengar nada tidak bersahabat yang keluar dari mulut suaminya."Aku tidak tahu apa saja yang Alex katakan padamu. Tapi kumohon jangan percaya apapun yang di ucapkannya. Dia itu," lirih Rachel menahan isak tangis yang ingin keluar.Suara sendok yang beradu dengan piring seketika membungkam mulut Rachel. Wanita itu berjingkat kaget mendengar suara bunyi sendok yang di lempar Dave. Entah di sengaja atau tidak, Dave tiba-tiba menaruh sendok makannya dengan kasar."Alex lagi. Alex lagi. Apa kamu tidak bisa membicarakan hal lain selain lelaki itu, Hah?"
Rachel membuka matanya, merasakan sebuah tendangan kuat di perutnya. Sontak ia mendongak sembari mengusap-usap perut besarnya."Kenapa, Sayang? Sudah lapar ya. Tunggu sebentar ya, Sayang. Kita makan sama-sama setelah menunggu papa pulang ya. Mama yakin papamu pasti sebentar lagi pulang," gumam Rachel seakan tengah berbicara dengan anak yang di kandungnya.Bayi di perutnya semakin aktif saja bergerak setiap harinya. Rachel memakan beberapa keping biskut dicampur dengan susu untuk menganjal rasa lapar. Ia tidak ingin anaknya ikut kelaparan menunggu suaminya yang tak kunjung pulang.Keinginan Rachel yang ingin makan malam bersama Dave yang menjadikan alasan wanita hamil itu tetap duduk setia di depan meja makan saat ini. Berulang kali ia menghela napas panjang setelah menyadari Dave belum juga pulang padahal hari sudah mulai petang."Sepertinya hari ini Dave lembur lagi," desah Rachel sembari menatap jam dinding.Hubungan Dave dan Rachel semakin