Share

bab 6

last update Last Updated: 2025-02-21 16:00:40

"Ta, tapi, Nyonya…" Halda tampak ragu. Kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya, namun sebelum sempat melanjutkan, Elena sudah lebih dulu menarik lengannya, menahan langkahnya agar tidak mundur.

"Aku bisa, Nyonya. Tapi… apakah tak masalah? Aku juga punya bayi yang masih butuh ASI," tanyanya pelan, seolah memastikan.

Wanita tua itu tersenyum lembut, matanya menyiratkan harapan yang besar. Ia menggeleng pelan.

"Tak masalah, yang terpenting cucuku mendapatkan ASI. Dia sudah seharian tak meminum apa pun," suaranya bergetar, menyiratkan kecemasan seorang nenek yang ketakutan kehilangan darah dagingnya.

Tanpa membuang waktu, wanita tua itu bangkit dengan antusias. Ia melambaikan tangan ke arah baby sitter yang menunggu di sudut ruangan. Dengan sigap, baby sitter itu membawa bayi kecil yang terbungkus selimut putih.

Elena menatap bayi mungil itu dengan perasaan campur aduk. Wajahnya begitu cantik, namun tampak layu. Kulitnya mulai menguning, pertanda ia benar-benar kekurangan asupan. Hatinya mencelos. Ia menoleh ke arah Halda, mencoba mencari kepastian.

"Setahuku, ukuran lambung bayi baru lahir hanya sebesar kelereng. Jadi, meskipun tak minum selama dua hari, seharusnya masih bisa bertahan," ucapnya lirih pada Elena

Namun, rasa iba tetap menyergap hatinya. Ia menggigit bibir, ragu. "Kamu yakin ini tidak akan mengganggu ASI untuk bayimu?"

Elena menghela napas, kemudian menggeleng. Dengan lembut, ia meraih tangan Halda, menepuknya pelan, memberikan keyakinan.

"Aku yakin. Tidak apa-apa, Halda."

*

"Kamu salah sangka, Sayang."

Suara Glen terdengar dingin dan berbahaya. Tangannya mencengkeram dagu Freya begitu kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan.

Tatapan Glen dipenuhi api amarah. Matanya melotot tajam, napasnya memburu, dan rahangnya mengeras. Giginya bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara samar yang membuat suasana semakin mencekam.

"Sudah kubilang, aku akan memastikan kamu aman selama tidak menyentuh Elena," bisiknya, namun intonasinya justru terdengar lebih mengancam daripada teriakan. "Tapi kenapa kamu justru mencelakai bayinya juga?"

Freya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dadanya naik turun dengan napas tersengal, bukan karena marah, melainkan karena ketakutan yang merayapi tubuhnya.

"Bukan… bukan begitu, Glen. Aku tidak pernah bermaksud mencelakainya," ujarnya terbata-bata. "Dia adikku, dan anak yang dikandungnya juga keponakanku. Mana mungkin aku…"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, cengkeraman Glen semakin kuat.

"Kamu sudah melangkah terlalu jauh, Freya." Suaranya terdengar lebih rendah, lebih mengerikan. "Bahkan statusmu sebagai istriku pun tidak akan cukup untuk membuatku mengampunimu."

Dalam satu gerakan kasar, Glen mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada bayi itu… aku pastikan kita bercerai!" Freya terdiam, tak mampu berkata-kata. Matanya membesar, shock mendengar ancaman itu.

Tanpa menoleh lagi, Glen meraih jasnya yang terlempar di atas ranjang, lalu melangkah keluar dengan tergesa-gesa.

Di luar pintu, Hana muncul membawa segelas teh hangat. Namun, saat melihat sorot mata Glen yang penuh amarah, tubuhnya menegang.

"Kak Glen…" ucapnya pelan, namun pria itu tak menggubris. Dengan tatapan tajam yang menusuk, Glen langsung berjalan melewatinya, meninggalkan suasana tegang di dalam kamar.

Hana menoleh ke dalam, melihat Freya yang terduduk lemas di lantai. Mata wanita itu basah, bahunya bergetar hebat.

Senyum sinis muncul di sudut bibir Hana. Ia tak berniat masuk ke dalam kamar Freya, justru mengangkat cangkir teh ke bibirnya, meniup permukaannya dengan tenang sebelum menyeruputnya pelan.

"Tak kusangka, statusmu begitu rendah di hadapan suamimu sendiri," ucapnya dingin, sebelum melangkah meninggalkan Freya dalam kehancuran.

Freya meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menekan nomor ibunya dengan cepat, berharap panggilannya segera diangkat. Napasnya tersengal, dan air mata mulai mengaburkan penglihatannya.

"Bu, pulanglah sekarang!" suaranya terdengar nyaris putus asa.

Di seberang sana, suara Rosa terdengar malas-malasan. "Aduh, Freya… Ibu lagi ada acara di keluarga Thomas. Tak mungkin ibu pergi begitu saja."

Siapa yang tak kenal keluarga Thomas? Mereka adalah pengusaha properti paling berpengaruh di Norland. Sebuah kehormatan besar bisa duduk bersama mereka dalam jamuan makan malam yang mewah seperti ini.

"Tapi, Bu… Glen mengancam menceraikanku!"

Terdengar isakan tertahan dari bibir Freya, membuat Rosa yang semula terdengar santai kini terdiam sejenak. Wajahnya menegang.

"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanyanya, nada suaranya lebih dingin dari sebelumnya.

Freya menggigit bibirnya, berusaha menahan ketakutan yang menguar di dadanya. "Aku… aku hanya mentraktir Elena minum jus."

Rosa menegang. Jemarinya mencengkeram gaun mahal yang membalut tubuhnya, menahan amarah yang mulai berkecamuk.

"Kamu bodoh atau gila?" dengusnya tertahan, nyaris seperti bisikan tajam.

Freya terisak semakin keras. "Bu, aku tak tahu ini akan sejauh ini…"

"Tunggu saja sampai Ibu pulang. Jangan buat keadaan makin buruk!" Rosa memutus panggilan tanpa memberi Freya kesempatan berbicara lagi.

Ia menghela napas panjang, berusaha menekan rasa frustrasi yang mulai menjalari tubuhnya. Bagaimana mungkin putrinya bertindak seceroboh itu?

Di hadapannya, Jacob muncul membawa dua gelas wine merah, menyerahkannya satu kepadanya dengan senyum tenang.

"Siapa yang menelepon, sayang?" tanyanya santai, menyesap anggurnya.

Rosa menghela napas, berusaha menenangkan diri. Ia memasang senyum manis, meski pikirannya masih kalut. "Freya bilang dia kurang enak badan."

Jacob menatapnya sejenak, lalu mengangkat bahu. "Apa kita perlu pulang lebih awal?"

Rosa menggeleng cepat. "Tidak. Ini terlalu penting untuk ditinggalkan."

Bagaimana mungkin ia pergi sekarang? Tujuan utamanya datang ke jamuan makan malam ini belum tercapai.

Ia mengedarkan pandangan ke seluruh aula yang dipenuhi tamu dari kalangan elite. Namun, satu sosok yang ia cari tidak terlihat di mana pun.

"Aku tak melihat Nyonya Besar Reynand sama sekali sejak tadi," bisiknya pelan kepada Jacob.

"Kau belum dengar kabar?" Pria tua itu menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut.

"Kabar apa?" Rosa mengerutkan kening.

Jacob menyesap winenya sebelum menjawab dengan nada serius. "Dia baru saja kehilangan menantunya. Mana mungkin hadir di acara ini?" Mata Rosa sedikit melebar. Jantungnya berdegup lebih cepat.

Kehilangan menantu?

Ia menatap Jacob, mencoba membaca lebih jauh. Jika menantunya meninggal, berarti…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 7

    "Bodoh sekali kamu itu!" Rosa memegang keningnya dengan frustrasi. Seketika, kepalanya terasa pusing. Freya masih meringkuk di atas ranjang, matanya basah oleh air mata yang terus mengalir."Aku nggak nyangka kalau obatnya akan bereaksi seperti itu." Suara Freya terdengar gemetar, menahan tangis."Harusnya kamu bertanya dulu pada ibu sebelum melakukannya!" Rosa mendekat dengan ekspresi serius, tatapannya tajam. "Terus, kamu dapat obat itu dari mana?" Rosa mulai curiga dan menatap Freya dengan penuh tanya.Freya tetap terdiam, matanya menatap kosong. Dia memang sengaja membeli obat pelancar kontraksi secara ilegal dengan bantuan temannya yang bekerja di toko obat."Resep itu bisa jadi masalah besar kalau Glen tahu." Rosa kini menarik tangan Freya dengan kasar, wajahnya penuh ketegangan. "Kamu lupa bagaimana usaha ibumu supaya kamu bisa menikah dengan Glen? Ibu rela membayar pegawai hotel itu dengan harga tinggi supaya dia bisa membawa Glen dan membuatnya t

    Last Updated : 2025-02-21
  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 8

    Setelah acara krematorium selesai, William masih memegang guci berwarna biru laut dengan ukiran bunga matahari yang sangat indah. Guci yang berisi Abu jenazah Sarah, berputar lembut di dalam, seolah membawa kenangan dari masa lalu yang tak akan pernah kembali."Kamu sudah melihat anakmu? Dia sangat cantik. Kulitnya yang kemarin menguning sudah mulai normal. Selain karena sinar bilirubin, ibu juga sudah menemukan pendonor ASI untuknya," kata Widya dengan lembut, mencoba memberi penghiburan. William hanya diam, matanya kosong, mengarahkan pandangannya ke luar jendela."Aku hanya melihatnya sebentar," jawab William pelan. Sebuah kebohongan. Bahkan, dia hanya berhenti di depan halaman rumah sakit tanpa berani masuk ke dalamnya. Dia belum siap menerima kenyataan bahwa putrinya, yang kini tak pernah mengenal ibunya, harus tumbuh tanpa Sarah."Ibu memberinya nama Angel," lanjut Widya, menatap putranya yang masih terdiam. William menoleh, mata yang biasany

    Last Updated : 2025-02-21
  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 9

    "Waktunya menyusui, Nona Angel." Seorang perawat datang memberitahu Elena. Elena yang paham langsung bangkit dan memberi kode pada Halda untuk segera pergi."Kembalilah besok pagi. Aku akan baik-baik saja di sini." Halda, yang melihat Elena cukup yakin, akhirnya mengangguk dan menurutinya. Lagi pula, ada urusan penting malam ini, jadi dia setuju untuk mengikuti permintaan Elena. Sementara itu, Elena melangkah masuk ke ruang khusus menyusui.Tak lama setelah itu, seorang perawat lain datang menggendong seorang bayi mungil dengan selimut pink yang tampak mahal."Suster, kenapa aku merasa sakit ketika dia menyusu?" Elena bertanya sambil menahan rasa sakit saat bibir mungil Angel menyentuh dadanya. Perawat muda itu tersenyum dan menjelaskan."Karena dia belum terbiasa, langit-langit mulut bayi kadang masih kasar pada awalnya," jawab suster tersebut. Elena hanya mengangguk seolah paham, meskipun rasa sakit itu masih terasa. Di sisi lain, dia melihat Angel. Mat

    Last Updated : 2025-02-22
  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 10

    Elena masih menatap lekat-lekat nominal pada cek di tangannya. Jumlahnya begitu besar, nyaris sulit dipercaya. Wanita tua itu benar-benar kaya raya.Suara derit pintu kamar membuatnya tersadar. Tanpa menoleh, ia melirik sekilas ke arah pintu dan mendapati sosok pria yang masuk dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya. Dengan sigap, Elena segera menyelipkan cek itu ke dalam kantong mantelnya."Kamu benar-benar lebih suka melihatku sengsara, Kak." Ucapnya dengan nada setengah menyindir.Ia masih kesal dengan Glen. Pria itu sama sekali tak menggubris maksudnya saat mereka berbicara tadi siang. Bahkan sekarang, Glen datang tanpa mengganti pakaian, sepertinya benar-benar tak pulang ke rumah."Aku selalu konsisten dengan ucapanku." Glen menjawab singkat, lalu meletakkan kantong-kantong belanjaan itu ke atas meja.Tatapannya menyipit saat menyadari sesuatu. Di atas meja, sudah tersaji berbagai macam makanan dengan bran

    Last Updated : 2025-02-22
  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 11

    Elena duduk di tepi ranjang rumah sakit. Di sampingnya, Glen berdiri diam. Tatapannya lekat, penuh dengan emosi yang sulit diartikan. Elena tahu pria itu ingin mengatakan sesuatu, tapi ia lebih memilih diam."Glen, aku mohon padamu, jangan semakin mempersulitku saat ini." Suara Elena lirih, penuh kepenatan.Glen tetap tak bergeming. Matanya menyusuri wajah Elena yang lelah. Seberapapun keras Elena berusaha mengusirnya, Glen tak akan pergi."Kamu tak bertanya tentang kabar ayahmu?" tanyanya pelan.Elena mendengar pertanyaan itu, tapi sengaja mengabaikannya. Jacob, ayahnya. Ia memang merindukan sosok tua itu, tetapi setiap kali mengingat amarah dan kekecewaan yang terpancar dari matanya terakhir kali mereka bertemu, Elena mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh."Dia mungkin belum tahu. Kecuali ada yang memberitahunya, tapi aku yakin itu tak akan terjadi," lanjut Glen dengan nada samar.Dia mengulas senyum tipis, lalu tanpa izin mendeka

    Last Updated : 2025-02-22
  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 12

    Halda membantu Elena berkemas. Tak ada alasan lagi untuk tetap tinggal di bangsal perawatan saat ini.“Aku sudah pergi ke ruang administrasi, dan kau pasti sudah tahu jawabannya.” Halda berbicara tanpa menoleh pada Elena. Mendengar itu, Elena langsung membanting selimutnya kasar di atas ranjang rumah sakit.“Tak ada gunanya kamu kesal. Mau kamu pergi ke ujung dunia mana pun, dia tetap tak akan membiarkanmu.”Elena mendengus kesal. Dia mengingat bagaimana Glen berubah sikap sejak menikah dengan kakak tirinya, Freya. Walaupun begitu, pria itu justru mencari celah, bahkan membuat Elena hamil.Saat mereka larut dalam keheningan, tiba-tiba suara deritan pintu yang terbuka memecah diamnya ruangan. Elena menoleh ke asal suara dan melihat Widya masuk dengan ragu.“Nona…” Widya memanggilnya pelan. Elena hanya tersenyum tipis, seolah membalas sapaan itu.“Aku turut berduka atas apa yang terjadi padamu.” Lalu Widya mendekat dan meraih tangan Elena, men

    Last Updated : 2025-02-23
  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 13

    “Sayang, aku nggak mau bercerai denganmu. Aku mohon, jangan lakukan ini padaku.” Freya memohon dengan suara bergetar, air mata mengalir di wajahnya. Dia bahkan berlutut, memegang kaki Glen seolah itu satu-satunya cara untuk menghentikan keputusannya.Glen menghela napas panjang, lalu merogoh saku celananya. Dengan gerakan santai, dia mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakan, dan menyesapnya perlahan. Asap putih mengepul di udara, menciptakan jarak tak kasatmata antara mereka.“Besok adalah acaramu, aku akan menundanya sampai lusa. Tapi jangan salah paham, Freya. Aku tetap tidak akan mengampunimu.” Tanpa ragu, dia menghempaskan Freya dengan kasar hingga tubuh perempuan itu terjatuh ke lantai.“Sayang, tunggu! Aku hamil!”Langkah Glen terhenti. Dengan gerakan lambat, dia menoleh dan menatap Freya yang masih terduduk di lantai. Mata perempuan itu berbinar penuh harap, yakin bahwa kata-katanya mampu membatalkan

    Last Updated : 2025-02-23
  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 14

    “Lupakan, aku hanya bertanya saja.” Hana menundukkan sebagian tubuhnya untuk berpamitan sebelum akhirnya berbalik dan pergi.Sementara itu, Glen yang baru saja keluar dari kediaman Martin membuka map yang baru saja Patrick berikan. Dia memeriksa isinya dengan seksama, dahinya berkerut.“Kamu yakin?” tanyanya pada pria yang duduk di kursi kemudi. Matanya tajam menatap Patrick, menunggu kepastian.“Masih menunggu info valid, Tuan,” jawab Patrick tegas.Glen mengangguk paham. Dia membuka sebagian kaca jendela mobilnya, membiarkan udara luar masuk. Pandangannya menembus langit siang yang cerah dan terik. Nafasnya berat, seolah ada beban besar yang tengah menghimpit dadanya.Mobil hitam pekat itu melaju dengna cepat membelah jalanan kota norland dengan kecepatan tinggi.*Elena duduk di sofa dengan tubuh sedikit kaku, merasa sungkan di bawah tatapan tajam William. Sejak tadi, pria itu menat

    Last Updated : 2025-02-23

Latest chapter

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 14

    “Lupakan, aku hanya bertanya saja.” Hana menundukkan sebagian tubuhnya untuk berpamitan sebelum akhirnya berbalik dan pergi.Sementara itu, Glen yang baru saja keluar dari kediaman Martin membuka map yang baru saja Patrick berikan. Dia memeriksa isinya dengan seksama, dahinya berkerut.“Kamu yakin?” tanyanya pada pria yang duduk di kursi kemudi. Matanya tajam menatap Patrick, menunggu kepastian.“Masih menunggu info valid, Tuan,” jawab Patrick tegas.Glen mengangguk paham. Dia membuka sebagian kaca jendela mobilnya, membiarkan udara luar masuk. Pandangannya menembus langit siang yang cerah dan terik. Nafasnya berat, seolah ada beban besar yang tengah menghimpit dadanya.Mobil hitam pekat itu melaju dengna cepat membelah jalanan kota norland dengan kecepatan tinggi.*Elena duduk di sofa dengan tubuh sedikit kaku, merasa sungkan di bawah tatapan tajam William. Sejak tadi, pria itu menat

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 13

    “Sayang, aku nggak mau bercerai denganmu. Aku mohon, jangan lakukan ini padaku.” Freya memohon dengan suara bergetar, air mata mengalir di wajahnya. Dia bahkan berlutut, memegang kaki Glen seolah itu satu-satunya cara untuk menghentikan keputusannya.Glen menghela napas panjang, lalu merogoh saku celananya. Dengan gerakan santai, dia mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakan, dan menyesapnya perlahan. Asap putih mengepul di udara, menciptakan jarak tak kasatmata antara mereka.“Besok adalah acaramu, aku akan menundanya sampai lusa. Tapi jangan salah paham, Freya. Aku tetap tidak akan mengampunimu.” Tanpa ragu, dia menghempaskan Freya dengan kasar hingga tubuh perempuan itu terjatuh ke lantai.“Sayang, tunggu! Aku hamil!”Langkah Glen terhenti. Dengan gerakan lambat, dia menoleh dan menatap Freya yang masih terduduk di lantai. Mata perempuan itu berbinar penuh harap, yakin bahwa kata-katanya mampu membatalkan

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 12

    Halda membantu Elena berkemas. Tak ada alasan lagi untuk tetap tinggal di bangsal perawatan saat ini.“Aku sudah pergi ke ruang administrasi, dan kau pasti sudah tahu jawabannya.” Halda berbicara tanpa menoleh pada Elena. Mendengar itu, Elena langsung membanting selimutnya kasar di atas ranjang rumah sakit.“Tak ada gunanya kamu kesal. Mau kamu pergi ke ujung dunia mana pun, dia tetap tak akan membiarkanmu.”Elena mendengus kesal. Dia mengingat bagaimana Glen berubah sikap sejak menikah dengan kakak tirinya, Freya. Walaupun begitu, pria itu justru mencari celah, bahkan membuat Elena hamil.Saat mereka larut dalam keheningan, tiba-tiba suara deritan pintu yang terbuka memecah diamnya ruangan. Elena menoleh ke asal suara dan melihat Widya masuk dengan ragu.“Nona…” Widya memanggilnya pelan. Elena hanya tersenyum tipis, seolah membalas sapaan itu.“Aku turut berduka atas apa yang terjadi padamu.” Lalu Widya mendekat dan meraih tangan Elena, men

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 11

    Elena duduk di tepi ranjang rumah sakit. Di sampingnya, Glen berdiri diam. Tatapannya lekat, penuh dengan emosi yang sulit diartikan. Elena tahu pria itu ingin mengatakan sesuatu, tapi ia lebih memilih diam."Glen, aku mohon padamu, jangan semakin mempersulitku saat ini." Suara Elena lirih, penuh kepenatan.Glen tetap tak bergeming. Matanya menyusuri wajah Elena yang lelah. Seberapapun keras Elena berusaha mengusirnya, Glen tak akan pergi."Kamu tak bertanya tentang kabar ayahmu?" tanyanya pelan.Elena mendengar pertanyaan itu, tapi sengaja mengabaikannya. Jacob, ayahnya. Ia memang merindukan sosok tua itu, tetapi setiap kali mengingat amarah dan kekecewaan yang terpancar dari matanya terakhir kali mereka bertemu, Elena mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh."Dia mungkin belum tahu. Kecuali ada yang memberitahunya, tapi aku yakin itu tak akan terjadi," lanjut Glen dengan nada samar.Dia mengulas senyum tipis, lalu tanpa izin mendeka

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 10

    Elena masih menatap lekat-lekat nominal pada cek di tangannya. Jumlahnya begitu besar, nyaris sulit dipercaya. Wanita tua itu benar-benar kaya raya.Suara derit pintu kamar membuatnya tersadar. Tanpa menoleh, ia melirik sekilas ke arah pintu dan mendapati sosok pria yang masuk dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya. Dengan sigap, Elena segera menyelipkan cek itu ke dalam kantong mantelnya."Kamu benar-benar lebih suka melihatku sengsara, Kak." Ucapnya dengan nada setengah menyindir.Ia masih kesal dengan Glen. Pria itu sama sekali tak menggubris maksudnya saat mereka berbicara tadi siang. Bahkan sekarang, Glen datang tanpa mengganti pakaian, sepertinya benar-benar tak pulang ke rumah."Aku selalu konsisten dengan ucapanku." Glen menjawab singkat, lalu meletakkan kantong-kantong belanjaan itu ke atas meja.Tatapannya menyipit saat menyadari sesuatu. Di atas meja, sudah tersaji berbagai macam makanan dengan bran

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 9

    "Waktunya menyusui, Nona Angel." Seorang perawat datang memberitahu Elena. Elena yang paham langsung bangkit dan memberi kode pada Halda untuk segera pergi."Kembalilah besok pagi. Aku akan baik-baik saja di sini." Halda, yang melihat Elena cukup yakin, akhirnya mengangguk dan menurutinya. Lagi pula, ada urusan penting malam ini, jadi dia setuju untuk mengikuti permintaan Elena. Sementara itu, Elena melangkah masuk ke ruang khusus menyusui.Tak lama setelah itu, seorang perawat lain datang menggendong seorang bayi mungil dengan selimut pink yang tampak mahal."Suster, kenapa aku merasa sakit ketika dia menyusu?" Elena bertanya sambil menahan rasa sakit saat bibir mungil Angel menyentuh dadanya. Perawat muda itu tersenyum dan menjelaskan."Karena dia belum terbiasa, langit-langit mulut bayi kadang masih kasar pada awalnya," jawab suster tersebut. Elena hanya mengangguk seolah paham, meskipun rasa sakit itu masih terasa. Di sisi lain, dia melihat Angel. Mat

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 8

    Setelah acara krematorium selesai, William masih memegang guci berwarna biru laut dengan ukiran bunga matahari yang sangat indah. Guci yang berisi Abu jenazah Sarah, berputar lembut di dalam, seolah membawa kenangan dari masa lalu yang tak akan pernah kembali."Kamu sudah melihat anakmu? Dia sangat cantik. Kulitnya yang kemarin menguning sudah mulai normal. Selain karena sinar bilirubin, ibu juga sudah menemukan pendonor ASI untuknya," kata Widya dengan lembut, mencoba memberi penghiburan. William hanya diam, matanya kosong, mengarahkan pandangannya ke luar jendela."Aku hanya melihatnya sebentar," jawab William pelan. Sebuah kebohongan. Bahkan, dia hanya berhenti di depan halaman rumah sakit tanpa berani masuk ke dalamnya. Dia belum siap menerima kenyataan bahwa putrinya, yang kini tak pernah mengenal ibunya, harus tumbuh tanpa Sarah."Ibu memberinya nama Angel," lanjut Widya, menatap putranya yang masih terdiam. William menoleh, mata yang biasany

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 7

    "Bodoh sekali kamu itu!" Rosa memegang keningnya dengan frustrasi. Seketika, kepalanya terasa pusing. Freya masih meringkuk di atas ranjang, matanya basah oleh air mata yang terus mengalir."Aku nggak nyangka kalau obatnya akan bereaksi seperti itu." Suara Freya terdengar gemetar, menahan tangis."Harusnya kamu bertanya dulu pada ibu sebelum melakukannya!" Rosa mendekat dengan ekspresi serius, tatapannya tajam. "Terus, kamu dapat obat itu dari mana?" Rosa mulai curiga dan menatap Freya dengan penuh tanya.Freya tetap terdiam, matanya menatap kosong. Dia memang sengaja membeli obat pelancar kontraksi secara ilegal dengan bantuan temannya yang bekerja di toko obat."Resep itu bisa jadi masalah besar kalau Glen tahu." Rosa kini menarik tangan Freya dengan kasar, wajahnya penuh ketegangan. "Kamu lupa bagaimana usaha ibumu supaya kamu bisa menikah dengan Glen? Ibu rela membayar pegawai hotel itu dengan harga tinggi supaya dia bisa membawa Glen dan membuatnya t

  • Ibu Susu Bayi CEO   bab 6

    "Ta, tapi, Nyonya…" Halda tampak ragu. Kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya, namun sebelum sempat melanjutkan, Elena sudah lebih dulu menarik lengannya, menahan langkahnya agar tidak mundur."Aku bisa, Nyonya. Tapi… apakah tak masalah? Aku juga punya bayi yang masih butuh ASI," tanyanya pelan, seolah memastikan.Wanita tua itu tersenyum lembut, matanya menyiratkan harapan yang besar. Ia menggeleng pelan."Tak masalah, yang terpenting cucuku mendapatkan ASI. Dia sudah seharian tak meminum apa pun," suaranya bergetar, menyiratkan kecemasan seorang nenek yang ketakutan kehilangan darah dagingnya.Tanpa membuang waktu, wanita tua itu bangkit dengan antusias. Ia melambaikan tangan ke arah baby sitter yang menunggu di sudut ruangan. Dengan sigap, baby sitter itu membawa bayi kecil yang terbungkus selimut putih.Elena menatap bayi mungil itu dengan perasaan campur aduk. Wajahnya begitu cantik, namun tampak layu. Kulitnya mulai menguning, pertanda ia b

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status