“Kamu yakin tak apa sendirian?” Halda kembali bertanya, masih terdengar khawatir. Sejak Elena bercerita bahwa Glen mengunjunginya, rasa cemas Halda semakin meluap.
“Tenang saja. Glen tidak akan menyakitiku.” Elena tersenyum seolah ingin memastikan Halda bahwa dia akan baik-baik saja meskipun pergi sendirian. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan di dokter kandungan. Masuk ke trimester akhir, dan dia ingin memastikan bahwa janinnya sehat dan berkembang dengan baik.
Halda menghela napas, lalu tanpa banyak bicara, ia melaju dengan mobilnya ke kantor. Sementara itu, Elena berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit untuk mengambil nomor antrian di poli obgyn.
“Berangkat lebih awal pun tetap saja dapat antrian ke-40?” Elena mengerutkan dahi, merasa heran. Belum puas dengan keadaannya, ia memutuskan untuk menyebrang ke kafe yang ada di dekat rumah sakit. Kafe tersebut sudah buka, dan Elena ingin menunggu sambil membeli camilan.
Namun, saat ia baru saja akan memasuki kafe, suara yang dikenal memanggilnya.
“Elena. Kamu di sini?”
Itu suara Freya. Elena terkejut melihat kakak tirinya yang tiba-tiba muncul. Freya, dengan senyum manis, langsung memeluknya erat seperti seorang kakak yang sangat perhatian.
Elena tersenyum, sedikit kikuk. Ia tak pernah merasa benci pada Freya. Selama ini, kakak tirinya itu selalu bersikap baik padanya. Bahkan saat Freya menikah dengan Glen, dia tidak merasa bahwa itu sebuah "perebutan". Mungkin karena Elena sudah merasa terlepas dari masa lalu itu, meskipun dalam hati tetap ada keraguan yang tak bisa diungkapkan.
“Ya, aku ada jadwal periksa siang ini.” Elena menjawab dengan lembut.
Freya tersenyum lebar, menatap Elena dengan penuh perhatian. “Kamu mau minum apa? Biar aku pesankan. Jangan minum yang manis-manis, ya. Itu bisa menyebabkan hipertensi untuk ibu hamil. Bagaimana kalau jus buah saja?”
Elena hanya mengangguk, tidak terlalu bersemangat.
“Sudah makan?” tanya Freya dengan penuh perhatian.
“Ah, sudah, Kak. Kamu tak perlu repot-repot.” Elena merasa sedikit canggung, namun ia tak ingin merepotkan Freya lebih jauh.
“Bagaimana mungkin aku diam saja saat bertemu dengan adikku ini?” Freya berkata sambil tersenyum lebar. Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung memesan dua roti selai dan jus buah untuk mereka berdua.
“Kamu ada perlu di rumah sakit?” Elena bertanya pada Freya yang terus tersenyum lebar untuknya. Senyum itu tampak ceria, namun ada sedikit kesan tersembunyi dalam sorot matanya yang seakan menunggu sesuatu.
“Aku berniat membesuk temanku,” jawab Freya sambil tetap menjaga ekspresi hangat. “Bagaimana kabarmu? Aku turut prihatin dengan keputusan ayah.” Freya melanjutkan dengan nada yang lembut, seolah ingin menunjukkan empati, meskipun Elena tahu perasaan Freya tak bisa sepenuhnya dipahami.
Elena hanya mengangguk pelan, matanya menatap Freya dengan tatapan kosong. Ekspresi Freya yang semula ceria itu tiba-tiba berubah menjadi lebih sedih, seperti ada rasa cemas yang tak terucapkan.
“Tak masalah. Aku bisa mengatasinya,” jawab Elena dengan suara datar, meskipun jauh di dalam hatinya, ada perasaan yang tak bisa diungkapkan.
Freya tiba-tiba menarik tangan Elena dan mengusap punggung tangannya dengan lembut. “Kamu pasti bisa melewatinya. Aku yakin akan ada pria yang mau menerima kamu sepenuh hati nantinya.” Ucapan itu terdengar penuh perhatian, tetapi di hati Elena, itu justru terasa seperti pisau yang mengiris pelan.
Elena tersenyum, tapi senyumnya itu terasa getir, penuh kepahitan. Bagaimana mungkin ada pria lain yang bisa menerima dirinya? Suami kakaknya itu terus mengikutinya, tidak memberi ruang. Dia bahkan menanam benih dalam tubuhnya ini, sesuatu yang tak bisa ia elakkan, tak peduli bagaimana pun perasaan hatinya.
Tiba-tiba ponsel Freya berdering, menginterupsi suasana yang sempat terasa berat. Freya segera mengangkat panggilan itu, memberikan petunjuk yang cukup jelas pada Elena bahwa waktu mereka bersama harus segera berakhir.
“Ah, Elena. Padahal aku masih ingin mengobrol banyak padamu,” kata Freya dengan nada yang sedikit menyesal, namun tetap terlihat sibuk dengan percakapan di telepon.
“Sepertinya kali ini ada yang lebih penting dan tak bisa kamu tinggal, Kak. Pergilah!” jawab Elena. Setelah mengecup kedua pipi Elena dengan lembut, Freya akhirnya berjalan keluar dengan langkah ringan. Dia langsung masuk ke dalam mobil, mengenakan kacamata hitamnya. Nampak bibirnya terangkat menunjukkan senyum yang tersungging begitu dingin.
Elena menatapnya untuk sesaat, lalu memalingkan wajah, mencoba mengumpulkan perasaan yang bercampur aduk. Setelah beberapa saat, dia menenggak jus buah yang masih ada di tangannya. Rasanya terlalu manis, lebih manis daripada kenyataan yang harus dihadapinya.
Setelah merasa cukup, dia berjalan kembali ke rumah sakit. Baru saja masuk ke pintu lobi, perutnya tiba-tiba terasa begitu kram. Sebuah rasa sakit yang datang begitu mendalam dan tajam, seakan tubuhnya sedang berontak. Elena menahan napas dan memegangi perutnya, berusaha untuk tetap tenang.
"Nyonya, kau tak apa-apa?" suara seorang gadis di resepsionis terdengar khawatir.
“A-aku... perutku tiba-tiba kram dan... bercampur mulas,” Elena berusaha menjelaskan dengan suara tercekat. Sakit itu semakin menyengat, dan dia merasa seolah ada sesuatu yang bergejolak dalam tubuhnya, ingin dikeluarkan. Suatu tekanan yang tak bisa ditahan.
Dia berusaha menenangkan napasnya, namun rasa sakit itu semakin kuat. Mungkin ini bukan hanya sekadar rasa mulas biasa. Elena berusaha mengalihkan pikirannya, namun rasa cemas mulai mengisi kepalanya. Apakah ini... kontraksi?
Elena menahan rasa sakit itu, berusaha berdiri tegak, sementara gadis resepsionis yang tadi mengajukan pertanyaan itu semakin panik melihat keadaan Elena yang semakin kesakitan.
*
Sudah dua hari sejak Elena meminum jus bersama Freya, dan kini dia berdiri di luar ruangan inkubator khusus perawatan NICU bayi. Hatinya berdebar-debar, memandang melalui kaca ruangan, melihat bayi mungilnya yang terbaring di dalam inkubator dengan peralatan medis di sekelilingnya. Perasaan tidak menentu menyeliputi Elena, tak bisa dipungkiri, ada perasaan marah yang terpendam dalam dirinya.
"Aku yakin ini kesengajaan," ujar Halda dengan suara gemetar, menahan amarah yang sudah hampir meluap. Saat dia mendapat telepon yang memberitahukan bahwa Elena mengalami kontraksi dini dan harus melahirkan prematur, hatinya langsung terasa hancur. Bayi yang dilahirkan itu laki-laki, hanya memiliki berat satu kilo dua ons, jauh dari berat ideal bayi pada usia kehamilan yang seharusnya.
"Jangan menuduh, Halda. Mungkin bayiku sudah tak sabar ingin dilahirkan," Elena menjawab, mencoba menjaga ketenangannya meskipun dalam hatinya ada kegelisahan yang sangat dalam.
Namun, saat Halda menoleh kepadanya dengan tatapan yang penuh kecurigaan, Elena merasakan ketegangan yang sulit dia jelaskan.
"Jangan terlalu polos, Elena," Halda menegaskan, dengan nada yang lebih keras, seakan sudah tahu apa yang terjadi. Lalu dia menarik Elena untuk duduk di kursi di sampingnya.
Di tangan Halda, ada pompa ASI elektrik yang sudah disterilkan dan siap digunakan. "Kamu harus segera memompa ASI-mu lagi, Aku takut bengkaknya semakin parah."
Elena hanya bisa mengangguk pelan. Sejak kemarin, dadanya terasa bengkak dan penuh, karena bayi kecilnya belum bisa menyusu secara langsung.
Dengan sedikit rasa canggung, Elena mulai memasang apron yang dibawakan Halda dan menyiapkan diri untuk memompa ASI. Sensasi yang datang begitu aneh, namun dia harus melakukannya, karena itu satu-satunya cara agar dia tak mengigil seperti semalam karena bengkak di dadanya.
Di sebelah Elena, seorang wanita tua duduk dengan tatapan khawatir. Wanita itu berkali-kali mengusap dahinya yang berpeluh, seakan tak bisa tenang melihat keadaan bayi yang masih harus berada di inkubator.
"Nyonya, sepertinya Nona muda alergi laktosa," wanita muda yang mengenakan baju khas baby sitter itu tiba-tiba mendekat dengan suara pelan.
Wanita tua yang duduk tak jauh dari Elena langsung menundukkan kepalanya, terlihat bingung dan khawatir. Kedua tangannya saling meremas, menunjukkan kegelisahannya yang begitu dalam. "Lalu bagaimana?" tanyanya kepada wanita muda itu. Namun, setelah bertanya, dia menoleh ke arah Elena dan Halda yang sejak tadi hanya diam saja, seakan mencari jawaban atau harapan dari mereka.
Kemudian, dengan perlahan, wanita tua itu mendekati Elena. Tatapannya sendu dan penuh dengan harap. "Nona, apakah kamu baru saja melahirkan?" tanyanya dengan suara lembut namun penuh kepedihan.
Elena mengangguk pelan. Kebingungannya jelas tergambar dari ekspresi wajahnya. Dia tak tahu arah pembicaraan wanita tua itu, namun tatapannya yang begitu tulus membuat Elena tidak mampu berkata apa-apa.
"Maukah kamu menyusui cucuku?" Suara wanita tua itu bergetar, nyaris berbisik, namun setiap kata yang keluar mengandung permohonan yang dalam. "Ibunya baru saja meninggal saat melahirkan, dan dia tak bisa meminum susu formula. Aku mohon, Nona… aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku minta tolong padamu. Aku akan membayar ASI-mu, berapapun yang kamu minta."
"Ta, tapi, Nyonya…" Halda tampak ragu. Kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya, namun sebelum sempat melanjutkan, Elena sudah lebih dulu menarik lengannya, menahan langkahnya agar tidak mundur."Aku bisa, Nyonya. Tapi… apakah tak masalah? Aku juga punya bayi yang masih butuh ASI," tanyanya pelan, seolah memastikan.Wanita tua itu tersenyum lembut, matanya menyiratkan harapan yang besar. Ia menggeleng pelan."Tak masalah, yang terpenting cucuku mendapatkan ASI. Dia sudah seharian tak meminum apa pun," suaranya bergetar, menyiratkan kecemasan seorang nenek yang ketakutan kehilangan darah dagingnya.Tanpa membuang waktu, wanita tua itu bangkit dengan antusias. Ia melambaikan tangan ke arah baby sitter yang menunggu di sudut ruangan. Dengan sigap, baby sitter itu membawa bayi kecil yang terbungkus selimut putih.Elena menatap bayi mungil itu dengan perasaan campur aduk. Wajahnya begitu cantik, namun tampak layu. Kulitnya mulai menguning, pertanda ia b
"Bodoh sekali kamu itu!" Rosa memegang keningnya dengan frustrasi. Seketika, kepalanya terasa pusing. Freya masih meringkuk di atas ranjang, matanya basah oleh air mata yang terus mengalir."Aku nggak nyangka kalau obatnya akan bereaksi seperti itu." Suara Freya terdengar gemetar, menahan tangis."Harusnya kamu bertanya dulu pada ibu sebelum melakukannya!" Rosa mendekat dengan ekspresi serius, tatapannya tajam. "Terus, kamu dapat obat itu dari mana?" Rosa mulai curiga dan menatap Freya dengan penuh tanya.Freya tetap terdiam, matanya menatap kosong. Dia memang sengaja membeli obat pelancar kontraksi secara ilegal dengan bantuan temannya yang bekerja di toko obat."Resep itu bisa jadi masalah besar kalau Glen tahu." Rosa kini menarik tangan Freya dengan kasar, wajahnya penuh ketegangan. "Kamu lupa bagaimana usaha ibumu supaya kamu bisa menikah dengan Glen? Ibu rela membayar pegawai hotel itu dengan harga tinggi supaya dia bisa membawa Glen dan membuatnya t
Setelah acara krematorium selesai, William masih memegang guci berwarna biru laut dengan ukiran bunga matahari yang sangat indah. Guci yang berisi Abu jenazah Sarah, berputar lembut di dalam, seolah membawa kenangan dari masa lalu yang tak akan pernah kembali."Kamu sudah melihat anakmu? Dia sangat cantik. Kulitnya yang kemarin menguning sudah mulai normal. Selain karena sinar bilirubin, ibu juga sudah menemukan pendonor ASI untuknya," kata Widya dengan lembut, mencoba memberi penghiburan. William hanya diam, matanya kosong, mengarahkan pandangannya ke luar jendela."Aku hanya melihatnya sebentar," jawab William pelan. Sebuah kebohongan. Bahkan, dia hanya berhenti di depan halaman rumah sakit tanpa berani masuk ke dalamnya. Dia belum siap menerima kenyataan bahwa putrinya, yang kini tak pernah mengenal ibunya, harus tumbuh tanpa Sarah."Ibu memberinya nama Angel," lanjut Widya, menatap putranya yang masih terdiam. William menoleh, mata yang biasany
"Waktunya menyusui, Nona Angel." Seorang perawat datang memberitahu Elena. Elena yang paham langsung bangkit dan memberi kode pada Halda untuk segera pergi."Kembalilah besok pagi. Aku akan baik-baik saja di sini." Halda, yang melihat Elena cukup yakin, akhirnya mengangguk dan menurutinya. Lagi pula, ada urusan penting malam ini, jadi dia setuju untuk mengikuti permintaan Elena. Sementara itu, Elena melangkah masuk ke ruang khusus menyusui.Tak lama setelah itu, seorang perawat lain datang menggendong seorang bayi mungil dengan selimut pink yang tampak mahal."Suster, kenapa aku merasa sakit ketika dia menyusu?" Elena bertanya sambil menahan rasa sakit saat bibir mungil Angel menyentuh dadanya. Perawat muda itu tersenyum dan menjelaskan."Karena dia belum terbiasa, langit-langit mulut bayi kadang masih kasar pada awalnya," jawab suster tersebut. Elena hanya mengangguk seolah paham, meskipun rasa sakit itu masih terasa. Di sisi lain, dia melihat Angel. Mat
Elena masih menatap lekat-lekat nominal pada cek di tangannya. Jumlahnya begitu besar, nyaris sulit dipercaya. Wanita tua itu benar-benar kaya raya.Suara derit pintu kamar membuatnya tersadar. Tanpa menoleh, ia melirik sekilas ke arah pintu dan mendapati sosok pria yang masuk dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya. Dengan sigap, Elena segera menyelipkan cek itu ke dalam kantong mantelnya."Kamu benar-benar lebih suka melihatku sengsara, Kak." Ucapnya dengan nada setengah menyindir.Ia masih kesal dengan Glen. Pria itu sama sekali tak menggubris maksudnya saat mereka berbicara tadi siang. Bahkan sekarang, Glen datang tanpa mengganti pakaian, sepertinya benar-benar tak pulang ke rumah."Aku selalu konsisten dengan ucapanku." Glen menjawab singkat, lalu meletakkan kantong-kantong belanjaan itu ke atas meja.Tatapannya menyipit saat menyadari sesuatu. Di atas meja, sudah tersaji berbagai macam makanan dengan bran
Elena duduk di tepi ranjang rumah sakit. Di sampingnya, Glen berdiri diam. Tatapannya lekat, penuh dengan emosi yang sulit diartikan. Elena tahu pria itu ingin mengatakan sesuatu, tapi ia lebih memilih diam."Glen, aku mohon padamu, jangan semakin mempersulitku saat ini." Suara Elena lirih, penuh kepenatan.Glen tetap tak bergeming. Matanya menyusuri wajah Elena yang lelah. Seberapapun keras Elena berusaha mengusirnya, Glen tak akan pergi."Kamu tak bertanya tentang kabar ayahmu?" tanyanya pelan.Elena mendengar pertanyaan itu, tapi sengaja mengabaikannya. Jacob, ayahnya. Ia memang merindukan sosok tua itu, tetapi setiap kali mengingat amarah dan kekecewaan yang terpancar dari matanya terakhir kali mereka bertemu, Elena mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh."Dia mungkin belum tahu. Kecuali ada yang memberitahunya, tapi aku yakin itu tak akan terjadi," lanjut Glen dengan nada samar.Dia mengulas senyum tipis, lalu tanpa izin mendeka
Halda membantu Elena berkemas. Tak ada alasan lagi untuk tetap tinggal di bangsal perawatan saat ini.“Aku sudah pergi ke ruang administrasi, dan kau pasti sudah tahu jawabannya.” Halda berbicara tanpa menoleh pada Elena. Mendengar itu, Elena langsung membanting selimutnya kasar di atas ranjang rumah sakit.“Tak ada gunanya kamu kesal. Mau kamu pergi ke ujung dunia mana pun, dia tetap tak akan membiarkanmu.”Elena mendengus kesal. Dia mengingat bagaimana Glen berubah sikap sejak menikah dengan kakak tirinya, Freya. Walaupun begitu, pria itu justru mencari celah, bahkan membuat Elena hamil.Saat mereka larut dalam keheningan, tiba-tiba suara deritan pintu yang terbuka memecah diamnya ruangan. Elena menoleh ke asal suara dan melihat Widya masuk dengan ragu.“Nona…” Widya memanggilnya pelan. Elena hanya tersenyum tipis, seolah membalas sapaan itu.“Aku turut berduka atas apa yang terjadi padamu.” Lalu Widya mendekat dan meraih tangan Elena, men
“Sayang, aku nggak mau bercerai denganmu. Aku mohon, jangan lakukan ini padaku.” Freya memohon dengan suara bergetar, air mata mengalir di wajahnya. Dia bahkan berlutut, memegang kaki Glen seolah itu satu-satunya cara untuk menghentikan keputusannya.Glen menghela napas panjang, lalu merogoh saku celananya. Dengan gerakan santai, dia mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakan, dan menyesapnya perlahan. Asap putih mengepul di udara, menciptakan jarak tak kasatmata antara mereka.“Besok adalah acaramu, aku akan menundanya sampai lusa. Tapi jangan salah paham, Freya. Aku tetap tidak akan mengampunimu.” Tanpa ragu, dia menghempaskan Freya dengan kasar hingga tubuh perempuan itu terjatuh ke lantai.“Sayang, tunggu! Aku hamil!”Langkah Glen terhenti. Dengan gerakan lambat, dia menoleh dan menatap Freya yang masih terduduk di lantai. Mata perempuan itu berbinar penuh harap, yakin bahwa kata-katanya mampu membatalkan
“Lupakan, aku hanya bertanya saja.” Hana menundukkan sebagian tubuhnya untuk berpamitan sebelum akhirnya berbalik dan pergi.Sementara itu, Glen yang baru saja keluar dari kediaman Martin membuka map yang baru saja Patrick berikan. Dia memeriksa isinya dengan seksama, dahinya berkerut.“Kamu yakin?” tanyanya pada pria yang duduk di kursi kemudi. Matanya tajam menatap Patrick, menunggu kepastian.“Masih menunggu info valid, Tuan,” jawab Patrick tegas.Glen mengangguk paham. Dia membuka sebagian kaca jendela mobilnya, membiarkan udara luar masuk. Pandangannya menembus langit siang yang cerah dan terik. Nafasnya berat, seolah ada beban besar yang tengah menghimpit dadanya.Mobil hitam pekat itu melaju dengna cepat membelah jalanan kota norland dengan kecepatan tinggi.*Elena duduk di sofa dengan tubuh sedikit kaku, merasa sungkan di bawah tatapan tajam William. Sejak tadi, pria itu menat
“Sayang, aku nggak mau bercerai denganmu. Aku mohon, jangan lakukan ini padaku.” Freya memohon dengan suara bergetar, air mata mengalir di wajahnya. Dia bahkan berlutut, memegang kaki Glen seolah itu satu-satunya cara untuk menghentikan keputusannya.Glen menghela napas panjang, lalu merogoh saku celananya. Dengan gerakan santai, dia mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakan, dan menyesapnya perlahan. Asap putih mengepul di udara, menciptakan jarak tak kasatmata antara mereka.“Besok adalah acaramu, aku akan menundanya sampai lusa. Tapi jangan salah paham, Freya. Aku tetap tidak akan mengampunimu.” Tanpa ragu, dia menghempaskan Freya dengan kasar hingga tubuh perempuan itu terjatuh ke lantai.“Sayang, tunggu! Aku hamil!”Langkah Glen terhenti. Dengan gerakan lambat, dia menoleh dan menatap Freya yang masih terduduk di lantai. Mata perempuan itu berbinar penuh harap, yakin bahwa kata-katanya mampu membatalkan
Halda membantu Elena berkemas. Tak ada alasan lagi untuk tetap tinggal di bangsal perawatan saat ini.“Aku sudah pergi ke ruang administrasi, dan kau pasti sudah tahu jawabannya.” Halda berbicara tanpa menoleh pada Elena. Mendengar itu, Elena langsung membanting selimutnya kasar di atas ranjang rumah sakit.“Tak ada gunanya kamu kesal. Mau kamu pergi ke ujung dunia mana pun, dia tetap tak akan membiarkanmu.”Elena mendengus kesal. Dia mengingat bagaimana Glen berubah sikap sejak menikah dengan kakak tirinya, Freya. Walaupun begitu, pria itu justru mencari celah, bahkan membuat Elena hamil.Saat mereka larut dalam keheningan, tiba-tiba suara deritan pintu yang terbuka memecah diamnya ruangan. Elena menoleh ke asal suara dan melihat Widya masuk dengan ragu.“Nona…” Widya memanggilnya pelan. Elena hanya tersenyum tipis, seolah membalas sapaan itu.“Aku turut berduka atas apa yang terjadi padamu.” Lalu Widya mendekat dan meraih tangan Elena, men
Elena duduk di tepi ranjang rumah sakit. Di sampingnya, Glen berdiri diam. Tatapannya lekat, penuh dengan emosi yang sulit diartikan. Elena tahu pria itu ingin mengatakan sesuatu, tapi ia lebih memilih diam."Glen, aku mohon padamu, jangan semakin mempersulitku saat ini." Suara Elena lirih, penuh kepenatan.Glen tetap tak bergeming. Matanya menyusuri wajah Elena yang lelah. Seberapapun keras Elena berusaha mengusirnya, Glen tak akan pergi."Kamu tak bertanya tentang kabar ayahmu?" tanyanya pelan.Elena mendengar pertanyaan itu, tapi sengaja mengabaikannya. Jacob, ayahnya. Ia memang merindukan sosok tua itu, tetapi setiap kali mengingat amarah dan kekecewaan yang terpancar dari matanya terakhir kali mereka bertemu, Elena mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh."Dia mungkin belum tahu. Kecuali ada yang memberitahunya, tapi aku yakin itu tak akan terjadi," lanjut Glen dengan nada samar.Dia mengulas senyum tipis, lalu tanpa izin mendeka
Elena masih menatap lekat-lekat nominal pada cek di tangannya. Jumlahnya begitu besar, nyaris sulit dipercaya. Wanita tua itu benar-benar kaya raya.Suara derit pintu kamar membuatnya tersadar. Tanpa menoleh, ia melirik sekilas ke arah pintu dan mendapati sosok pria yang masuk dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya. Dengan sigap, Elena segera menyelipkan cek itu ke dalam kantong mantelnya."Kamu benar-benar lebih suka melihatku sengsara, Kak." Ucapnya dengan nada setengah menyindir.Ia masih kesal dengan Glen. Pria itu sama sekali tak menggubris maksudnya saat mereka berbicara tadi siang. Bahkan sekarang, Glen datang tanpa mengganti pakaian, sepertinya benar-benar tak pulang ke rumah."Aku selalu konsisten dengan ucapanku." Glen menjawab singkat, lalu meletakkan kantong-kantong belanjaan itu ke atas meja.Tatapannya menyipit saat menyadari sesuatu. Di atas meja, sudah tersaji berbagai macam makanan dengan bran
"Waktunya menyusui, Nona Angel." Seorang perawat datang memberitahu Elena. Elena yang paham langsung bangkit dan memberi kode pada Halda untuk segera pergi."Kembalilah besok pagi. Aku akan baik-baik saja di sini." Halda, yang melihat Elena cukup yakin, akhirnya mengangguk dan menurutinya. Lagi pula, ada urusan penting malam ini, jadi dia setuju untuk mengikuti permintaan Elena. Sementara itu, Elena melangkah masuk ke ruang khusus menyusui.Tak lama setelah itu, seorang perawat lain datang menggendong seorang bayi mungil dengan selimut pink yang tampak mahal."Suster, kenapa aku merasa sakit ketika dia menyusu?" Elena bertanya sambil menahan rasa sakit saat bibir mungil Angel menyentuh dadanya. Perawat muda itu tersenyum dan menjelaskan."Karena dia belum terbiasa, langit-langit mulut bayi kadang masih kasar pada awalnya," jawab suster tersebut. Elena hanya mengangguk seolah paham, meskipun rasa sakit itu masih terasa. Di sisi lain, dia melihat Angel. Mat
Setelah acara krematorium selesai, William masih memegang guci berwarna biru laut dengan ukiran bunga matahari yang sangat indah. Guci yang berisi Abu jenazah Sarah, berputar lembut di dalam, seolah membawa kenangan dari masa lalu yang tak akan pernah kembali."Kamu sudah melihat anakmu? Dia sangat cantik. Kulitnya yang kemarin menguning sudah mulai normal. Selain karena sinar bilirubin, ibu juga sudah menemukan pendonor ASI untuknya," kata Widya dengan lembut, mencoba memberi penghiburan. William hanya diam, matanya kosong, mengarahkan pandangannya ke luar jendela."Aku hanya melihatnya sebentar," jawab William pelan. Sebuah kebohongan. Bahkan, dia hanya berhenti di depan halaman rumah sakit tanpa berani masuk ke dalamnya. Dia belum siap menerima kenyataan bahwa putrinya, yang kini tak pernah mengenal ibunya, harus tumbuh tanpa Sarah."Ibu memberinya nama Angel," lanjut Widya, menatap putranya yang masih terdiam. William menoleh, mata yang biasany
"Bodoh sekali kamu itu!" Rosa memegang keningnya dengan frustrasi. Seketika, kepalanya terasa pusing. Freya masih meringkuk di atas ranjang, matanya basah oleh air mata yang terus mengalir."Aku nggak nyangka kalau obatnya akan bereaksi seperti itu." Suara Freya terdengar gemetar, menahan tangis."Harusnya kamu bertanya dulu pada ibu sebelum melakukannya!" Rosa mendekat dengan ekspresi serius, tatapannya tajam. "Terus, kamu dapat obat itu dari mana?" Rosa mulai curiga dan menatap Freya dengan penuh tanya.Freya tetap terdiam, matanya menatap kosong. Dia memang sengaja membeli obat pelancar kontraksi secara ilegal dengan bantuan temannya yang bekerja di toko obat."Resep itu bisa jadi masalah besar kalau Glen tahu." Rosa kini menarik tangan Freya dengan kasar, wajahnya penuh ketegangan. "Kamu lupa bagaimana usaha ibumu supaya kamu bisa menikah dengan Glen? Ibu rela membayar pegawai hotel itu dengan harga tinggi supaya dia bisa membawa Glen dan membuatnya t
"Ta, tapi, Nyonya…" Halda tampak ragu. Kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya, namun sebelum sempat melanjutkan, Elena sudah lebih dulu menarik lengannya, menahan langkahnya agar tidak mundur."Aku bisa, Nyonya. Tapi… apakah tak masalah? Aku juga punya bayi yang masih butuh ASI," tanyanya pelan, seolah memastikan.Wanita tua itu tersenyum lembut, matanya menyiratkan harapan yang besar. Ia menggeleng pelan."Tak masalah, yang terpenting cucuku mendapatkan ASI. Dia sudah seharian tak meminum apa pun," suaranya bergetar, menyiratkan kecemasan seorang nenek yang ketakutan kehilangan darah dagingnya.Tanpa membuang waktu, wanita tua itu bangkit dengan antusias. Ia melambaikan tangan ke arah baby sitter yang menunggu di sudut ruangan. Dengan sigap, baby sitter itu membawa bayi kecil yang terbungkus selimut putih.Elena menatap bayi mungil itu dengan perasaan campur aduk. Wajahnya begitu cantik, namun tampak layu. Kulitnya mulai menguning, pertanda ia b