20.30 WIB
Rizwan baru saja menidurkan Shanaya. Meskipun sudah seharian bekerja dan mengurus segalanya, pikirannya tak bisa lepas dari kejadian siang tadi, sebuah pertemuan tak terduga dengan mantan kekasihnya. Wajah wanita itu pernah mengisi hatinya sekarang kembali terbayang, dan perasaan benci sempat muncul kini terasa menghilang begitu saja, tergantikan dengan rasa cemas. Namun, semua pikiran itu hilang ketika ia mendengar suara tangisan Shanaya. Baru saja 10 menit berlalu sejak bayi itu tidur, tapi tangisannya pecah membuat seluruh anggota keluarga terbangun. Rizwan mendekati tempat tidur anaknya, menggendongnya dengan hati-hati, mencoba menenangkan suara tangisan yang semakin keras. Akhirnya, dengan sedikit usaha, bayi itu diam juga. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar kamar. Ayahnya, Arjuna, menunggu diluar dengan wajah cemas. "Rizwan, kemarilah," pinta Arjuna dari luar kamar. Rizwan menidurkan anaknya kembali dengan hati-hati, kemudian keluar mengikuti ayahnya. "Ada apa, ayah?" tanya Rizwan sambil menutup pintu dengan sangat hati-hati. Ada hal penting yang ingin disampaikan ayahnya sampai menuntunnya ke ruang tamu. "Sidang hak asuh Shanaya sebentar lagi akan digelar," ucap Arjuna dengan nada serius. Rizwan lemas seketika. Semua yang sudah ia pikirka tentang masa depan Shanaya, tentang perasaan bimbang dan cemasnya kembali membayangi dirinya. Mencari pengasuh yang tepat untuk anaknya rasanya lebih mudah daripada berjuang untuk hak asuh yang semakin sulit didapat. "Ayah, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku ingin hak asuh Shanaya jatuh ke tanganku. Tapi bagaimana caranya aku bisa meyakinkan hakim bahwa..." Rizwan mendadak diam, pandangannya mulai kosong. "Kalau begitu, kau harus menikah," ucap Liliana, sang ibu yang tiba-tiba muncul di ruang tamu. Rizwan mengusap wajahnya, merasa lelah sekali begitu mendengar saran itu. "Cepat atau lambat kau harus menikah. Lagipula, yang dibutuhkan Shanaya adalah seorang ibu, bukan hanya seorang pengasuh. Kalau istrimu bisa menjadi ibu yang baik bagi Shanaya, hak asuh itu pasti jatuh ke tanganmu," kata Liliana "Mencari pengasuh saja sangat sulit bagiku, apalagi mencari ibu bagi anakku. Tidak semudah itu, bu," jawab Rizwan dengan suara lelahnya. Namun, Liliana terus memberi solusi praktis. "Pilih salah satu dari mereka. Menikahlah, dan masalahmu akan selesai," katanya sambil menunjukkan banyak foto wanita yang telah dipilih berdasarkan kecantikan, pendidikan, dan latar belakang keluarganya. Rizwan merasa mual mendengarnya. "Bu, mengawali hubungan baru itu tidaklah mudah," jawabnya, merasa tak siap untuk hal itu. Tiba-tiba, Rizwan teringat sesuatu. Suara tangisan Shanaya tidak terdengar lagi. Mengapa bayi itu diam? Rizwan merasa ada yang aneh. Ia cepat-cepat menuju kamar anaknya. Setibanya di sana, pandangannya teralihkan ke tempat tidur. Shanaya, bayi kecil yang sebelumnya ada di ranjang, tak ada di sana. Sementata jendela kamar terbuka lebar. "Shanaya!!" teriak Rizwan dengan panik, keringat dingin langsung membasahi dahinya. Rizwan berlari keluar, mencari-cari di sekitar rumah, menyisir setiap sudut. Mungkin bayi itu keluar tanpa ada yang tahu. Tapi rasa panik semakin menggila. Ia tak bisa kehilangan anak ini, terutama saat proses hak asuh. * Rizwan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan rasa takut yang menggerogoti hatinya. Dalam kepanikan, hanya satu hal yang ada di pikirannya yaitu tidak lain adalah Shanaya. la harus menemukan bayi itu sebelum terjadi sesuatu yang buruk. Di depan, mobil penculik tampak mulai melambat. Tiba-tiba, mobil itu berhenti mendekati kompleks kontrakan. Mesin mobil mati. Dengan cepat, penculik itu keluar dari mobil, menggendong bayi yang masih menangis dan berlari dengan tergesa-gesa menuju jalan yang sepi. "Jangan biarkan mereka lolos!" teriak Rizwan pada bodyguardnya, yang langsung mengikutinya mengejar penculik itu. Di jalan yang sama, Isyana baru saja pulang dari panti asuhan. Malam itu terasa sunyi hingga dia mendengar suara tangisan bayi yang sangat familiar. Saat ia berjalan lebih jauh, ia melihat sosok seorang pria yang berlari kencang, membawa bayi di pelukannya. Tanpa berpikir panjang, Isyana segera beraksi. Melihat pria itu semakin menjauh, ia berlari menghampiri dan mengambil balok kayu yang ada di pinggir jalan. Tanpa ragu, ia menghantamkan balok itu ke tubuh penculik tersebut. Pria itu terjatuh, namun segera bangkit dan melangkah maju. Isyana menghadapi pria itu dengan keberanian yang luar biasa. Saat pria itu mengangkat tangan untuk menyerang, Isyana tidak gentar. Dengan sekuat tenaga, ia memukul pria itu hingga terjatuh lagi. Isyana meraih bayi itu dari pelukan pria tersebut. Namun, di saat yang sama, pria itu bangkit dan berusaha menyerang Isyana dari belakang. Tanpa diduga, Rizwan dan bodyguardnya datang tepat pada waktunya. Rizwan segera menghajar pria itu dengan pukulan keras, membuatnya jatuh terkapar. "Kau tidak apа-ара, sayang?" tanya Isyana dengan penuh perhatian, matanya melihat dengan lembut ke arah bayi yang kini diam di pelukannya. Dia sama sekali tak menyangka bayi yang ia selamatkan adalah Shayana. Bayi yang sama yang ia selamatkan kemarin. "Bolehkah aku minta bayiku?" ucap Rizwan dengan suara yang terdengar agak canggung. Isyana menatapnya sejenak, masih memeluk Shanaya dengan erat. Setelah beberapa detik, dia mengangguk, sedikit ragu, tapi akhirnya menyerahkan bayi itu. Tangannya perlahan menyentuh tubuh kecil itu, seraya memastikan bayi itu aman di pelukan Rizwan. Rizwan menatap ke langit sambil berucap syukur karena putrinya selamat. Namun, saat ia menggendongnya, bayi itu mulai menangis lagi. Rizwan terlihat cemas, mencoba menenangkan bayi itu, tetapi usahanya tampak sia-sia. "Aku tidak mengerti kenapa dia menangis lagi," ujar Rizwan. "Karena caramu menggendong salah," jawab Isyana. Dengan gerakan lembut, Isyana mendekatkan dirinya untuk membenarkan posisi tangan Rizwan, memastikan posisi bayi itu lebih nyaman. Begitu Rizwan mengikuti arahannya, Shanaya langsung berhenti menangis. Bayi itu terlihat lebih tenang dan nyaman dalam pelukan Rizwan. Rizwan terdiam sejenak, matanya tak lepas dari Isyana. Ada rasa hutang budi, sekaligus kekaguman. Ia tak menyangka bahwa Isyana, wanita yang dulu ia tinggalkan sekarang menyelamatkan anaknya. Setelah memastikan bayi itu tenang, Isyana hendak beranjak pergi, melangkah mundur dengan langkah hati-hati. Namun, Rizwan tiba-tiba memanggilnya. "Isyana, tunggu," pintanya. Isyana berhenti, menoleh perlahan. Rizwan mendekat sembari memegang Shanaya yang kini sudah tenang di pelukannya. "Terimakasih, kau sudah menyelamatkan putriku," ujar Rizwan dengan nada yang dalam dan tulus, matanya tak lepas dari Isyana. Isyana hanya membalas dengan anggukan kepala, tak mengucapkan sepatah kata pun. Punggung wanita berambut panjang itu semakin menjauh dari pandangan Rizwan. "Ikuti wanita itu. Jangan biarkan dia celaka. Cari tau juga alamatnya," ucap Rizwan pada bodyguardnya. "Baik bos," Para bodyguard Rizwan segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Sementara Rizwan meninggalkan tempat itu bersama putrinya.Suara gedoran keras menggema di depan kontrakan Isyana."PAK SURYA! KELUAR PAK!" suara garang seorang pria membelah pagi yang masih sunyi.Isyana yang baru saja menyeduh kopi di dapurnya langsung menoleh ke pintu dengan napas tercekat. Jantungnya berdegup cepat, sudah bisa menebak siapa yang datang.BRAK! BRAK!"WOI! BUKA PINTUNYA!!" teriakan itu makin keras, disertai suara sepatu menghentak-hentak di teras sempit kontrakan.Dari jendela, Isyana bisa melihat tiga orang pria berdiri dengan wajah bengis. Salah satunya, lelaki bertubuh kekar dengan kaus hitam ketat, menendang tempat sandal di depan pintu hingga terbalik.Tetangga-tetangga mulai mengintip dari balik jendela dan celah pintu, tapi tak satu pun yang berani keluar atau membantu. Mereka sudah tahu reputasi orang-orang itu.Isyana mengepalkan tangan, mencoba menenangkan diri. Tak ada gunanya bersembunyi. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah ke pintu, membukanya sedikit."Pak bukankah belum jatuh tempo?" ujar Isyana. Wanita
Playground~"Ayo buka mulutmu nak. Makan sedikit ya," Rizwan tampak letih sembari menggendong putrinya sambil membawa mangkuk kecil. Dia rela habis dari kantor mengajak putrinya ke playground agar putrinya mau makan. "Ayolah Shanaya, buka mulutmu," bujuk Rizwan. Rizwan menghela napas panjang, menatap Shanaya yang tetap membuang muka. Sendok kecil di tangannya terangkat, tetapi tetap tak bisa menembus pertahanan bocah itu yang sudah bersikeras mengatupkan bibirnya rapat-rapat.Di sekelilingnya, anak-anak lain tertawa riang, berlarian ke sana kemari di dalam playground penuh warna. Beberapa ibu muda dengan santainya menyuapi anak mereka tanpa drama. Rizwan semakin jengkel."Ayah sudah lelah, Shanaya," gumamnya pelan, separuh mengeluh. Shanaya hanya menatapnya sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya, matanya berbinar-binar melihat anak-anak lain bermain perosotan.Rizwan yang tengah terfokus pada Shanaya, tanpa sengaja menyenggol botol susu yang ada di meja kecil dekatnya. D
"Pak tolong, beri kami kesempatan. Kami janji akan melunasi hutang---""Ahh BOHONG! Grebek saja rumahnya, keluarkan semua barangnya," "Pak jangan, Pak!!" Surya menghalangi lima orang pria bertubuh kekar itu yang berusaha memasuki kontrakannya. Sudah seminggu jatuh tempo dimana dia harus mencicil hutangnya. Sementara sang istri, Herlina yang duduk di kursi roda hanya bisa berteriak agar mereka tidak mengambil barang-barangnya. "Jangan ambil barang kami," teriaknya. "Pak, saya mohon Pak!! Saya janji---"Ah minggir!!!" Bruak..Mereka yang dibayar untuk menagih hutang sesekali tak segan mendorong pria paruh baya itu hingga jatuh ke lantai. Sungguh malang nasib keluarga kecil ini. Niatnya ingin merubah nasib dengan berhutang demi menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Namun siapa sangka mereka menggali lubangnya sendiri. Pekerjaan dan masa depan yang cerah hanya menjadi angan-angan saja, usai anak semata wayang mereka yang merupakan sarjana psikologi justru memilih mengabdika
Pagi itu, panti asuhan "Kasih Bunda" sudah dipenuhi suara tawa anak-anak. Udara masih terasa sejuk, sisa embun menempel di dedaunan halaman belakang tempat beberapa anak berlarian, sementara yang lain duduk rapi di teras, sibuk dengan mainan mereka. Isyana melangkah masuk, tas selempangnya masih tersampir di bahu.Dia tersenyum melihat anak-anak bermain. Beberapa dari mereka langsung menyambutnya."Kak Isya! Kak Isya!" Seorang anak perempuan menarik ujung bajunya. "Lihat gambar yang aku buat!"Isyana menunduk, memperhatikan coretan warna-warni di selembar kertas. "Wah, bagus sekali! Ini gambar apa?" tanyanya sambil mengusap kepala anak itu."Ini keluarga!" Jawab bocah itu dengan mata berbinar.Isyana hanya tersenyum tipis sebelum berdiri lagi, matanya menyapu ruangan. Panti terlihat seperti biasa, ramai dan hangat. Tak ada tanda-tanda sesuatu yang aneh—atau lebih tepatnya, tak ada tanda-tanda bayi yang ia temukan tadi malam."Dimana bayi itu," ucapnya heran. Dengan langkah santai,
Playground~"Ayo buka mulutmu nak. Makan sedikit ya," Rizwan tampak letih sembari menggendong putrinya sambil membawa mangkuk kecil. Dia rela habis dari kantor mengajak putrinya ke playground agar putrinya mau makan. "Ayolah Shanaya, buka mulutmu," bujuk Rizwan. Rizwan menghela napas panjang, menatap Shanaya yang tetap membuang muka. Sendok kecil di tangannya terangkat, tetapi tetap tak bisa menembus pertahanan bocah itu yang sudah bersikeras mengatupkan bibirnya rapat-rapat.Di sekelilingnya, anak-anak lain tertawa riang, berlarian ke sana kemari di dalam playground penuh warna. Beberapa ibu muda dengan santainya menyuapi anak mereka tanpa drama. Rizwan semakin jengkel."Ayah sudah lelah, Shanaya," gumamnya pelan, separuh mengeluh. Shanaya hanya menatapnya sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya, matanya berbinar-binar melihat anak-anak lain bermain perosotan.Rizwan yang tengah terfokus pada Shanaya, tanpa sengaja menyenggol botol susu yang ada di meja kecil dekatnya. D
Suara gedoran keras menggema di depan kontrakan Isyana."PAK SURYA! KELUAR PAK!" suara garang seorang pria membelah pagi yang masih sunyi.Isyana yang baru saja menyeduh kopi di dapurnya langsung menoleh ke pintu dengan napas tercekat. Jantungnya berdegup cepat, sudah bisa menebak siapa yang datang.BRAK! BRAK!"WOI! BUKA PINTUNYA!!" teriakan itu makin keras, disertai suara sepatu menghentak-hentak di teras sempit kontrakan.Dari jendela, Isyana bisa melihat tiga orang pria berdiri dengan wajah bengis. Salah satunya, lelaki bertubuh kekar dengan kaus hitam ketat, menendang tempat sandal di depan pintu hingga terbalik.Tetangga-tetangga mulai mengintip dari balik jendela dan celah pintu, tapi tak satu pun yang berani keluar atau membantu. Mereka sudah tahu reputasi orang-orang itu.Isyana mengepalkan tangan, mencoba menenangkan diri. Tak ada gunanya bersembunyi. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah ke pintu, membukanya sedikit."Pak bukankah belum jatuh tempo?" ujar Isyana. Wanita
20.30 WIBRizwan baru saja menidurkan Shanaya. Meskipun sudah seharian bekerja dan mengurus segalanya, pikirannya tak bisa lepas dari kejadian siang tadi, sebuah pertemuan tak terduga dengan mantan kekasihnya. Wajah wanita itu pernah mengisi hatinya sekarang kembali terbayang, dan perasaan benci sempat muncul kini terasa menghilang begitu saja, tergantikan dengan rasa cemas.Namun, semua pikiran itu hilang ketika ia mendengar suara tangisan Shanaya.Baru saja 10 menit berlalu sejak bayi itu tidur, tapi tangisannya pecah membuat seluruh anggota keluarga terbangun. Rizwan mendekati tempat tidur anaknya, menggendongnya dengan hati-hati, mencoba menenangkan suara tangisan yang semakin keras. Akhirnya, dengan sedikit usaha, bayi itu diam juga.Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar kamar. Ayahnya, Arjuna, menunggu diluar dengan wajah cemas."Rizwan, kemarilah," pinta Arjuna dari luar kamar.Rizwan menidurkan anaknya kembali dengan hati-hati, kemudian keluar mengikuti ayahnya.
Pagi itu, panti asuhan "Kasih Bunda" sudah dipenuhi suara tawa anak-anak. Udara masih terasa sejuk, sisa embun menempel di dedaunan halaman belakang tempat beberapa anak berlarian, sementara yang lain duduk rapi di teras, sibuk dengan mainan mereka. Isyana melangkah masuk, tas selempangnya masih tersampir di bahu.Dia tersenyum melihat anak-anak bermain. Beberapa dari mereka langsung menyambutnya."Kak Isya! Kak Isya!" Seorang anak perempuan menarik ujung bajunya. "Lihat gambar yang aku buat!"Isyana menunduk, memperhatikan coretan warna-warni di selembar kertas. "Wah, bagus sekali! Ini gambar apa?" tanyanya sambil mengusap kepala anak itu."Ini keluarga!" Jawab bocah itu dengan mata berbinar.Isyana hanya tersenyum tipis sebelum berdiri lagi, matanya menyapu ruangan. Panti terlihat seperti biasa, ramai dan hangat. Tak ada tanda-tanda sesuatu yang aneh—atau lebih tepatnya, tak ada tanda-tanda bayi yang ia temukan tadi malam."Dimana bayi itu," ucapnya heran. Dengan langkah santai,
"Pak tolong, beri kami kesempatan. Kami janji akan melunasi hutang---""Ahh BOHONG! Grebek saja rumahnya, keluarkan semua barangnya," "Pak jangan, Pak!!" Surya menghalangi lima orang pria bertubuh kekar itu yang berusaha memasuki kontrakannya. Sudah seminggu jatuh tempo dimana dia harus mencicil hutangnya. Sementara sang istri, Herlina yang duduk di kursi roda hanya bisa berteriak agar mereka tidak mengambil barang-barangnya. "Jangan ambil barang kami," teriaknya. "Pak, saya mohon Pak!! Saya janji---"Ah minggir!!!" Bruak..Mereka yang dibayar untuk menagih hutang sesekali tak segan mendorong pria paruh baya itu hingga jatuh ke lantai. Sungguh malang nasib keluarga kecil ini. Niatnya ingin merubah nasib dengan berhutang demi menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Namun siapa sangka mereka menggali lubangnya sendiri. Pekerjaan dan masa depan yang cerah hanya menjadi angan-angan saja, usai anak semata wayang mereka yang merupakan sarjana psikologi justru memilih mengabdika