“Masuk..!” seru Budi dari dalam ruang kerjanya, setelah Bimo mengetuk pintu ruangan itu.
“Selamat Pagi Pak Budi. Bapak memanggil saya?” ucap Bimo sopan. “Duduklah Bimo! Ada peringatan yang harus kaudengar dan perhatikan baik-baik!” ucap tegas Budi, dengan tatapan tajam ke arah Bimo. “Bimo! Aku mendapat laporan dari Bu Devi, tentang perilakumu yang ceroboh dan tak senonoh dalam bekerja! Karenanya aku langsung memberikan peringatan kedua padamu!” “Ahh! Langsung peringatan kedua Pak Budi..?” desah tegang Bimo bertanya. “Ya! Dan kau tahu artinya peringatan kedua itu Bimo..?! Sekali lagi kau membuat kesalahan, maka tak ada pilihan lain selain kau dipecat dan keluar dari kantor ini! Paham Bimo..?!” “Paham Pak Budi,” sahut Bimo, seraya memberanikan diri balas menatap wajah kepala personalia itu. Dan sebuah lintasan tentang Budi pun langsung tergambar jelas di benak Bimo. “Ahh..!” seru Bimo tanpa sadar. Hal yang tentu saja mengejutkan bagi Budi, pria berumur 39 tahun itu. “Kenapa kau terkejut seperti itu Bimo..?!” tanya kesal Budi. “Maaf Pak Budi. Bolehkah saya bicara secara pribadi dengan Pak Budi, di luar masalah peringatan untuk saya..?” tanya Bimo hati-hati. Ya, dalam lintasannya itu, Bimo melihat suatu masalah yang cukup fatal dalam rumah tangga atasannya itu. “Bicaralah Bimo. Tapi jangan coba-coba menjilatku untuk mendapatkan keringanan sangsi!” sahut ketus Budi, dengan setengah hati mempersilahkan Bimo bicara. “Maaf Pak Budi. Apakah Bapak merasakan ada hal yang aneh dengan ‘kemampuan’ Pak Budi di ranjang akhir-akhir ini? Dan hal aneh itu hanya terjadi di rumah Pak Budi saja,” ujar Bimo pelan. “Heii..! D-darimana kau tahu soal itu Bimo..?!” kejut dan gugup Budi bukan kepalang. Wajahnya memerah seketika, karena rasa malu dan penasaran bercampur aduk. Ya, sudah dua bulan ini Budi memang merasakan kemampuannya di ranjang seperti lenyap. Burungnya loyo dan tak mampu menunaikan tugasnya untuk sang istri tercinta. Namun anehnya, jika dia mengajak istrinya bercinta di luar rumah, maka burungnya bisa tegak dan gagah seperti biasanya. “Tenanglah Pak Budi. Saya juga baru saja mengetahuinya setelah melihat Pak Budi. Apakah ada tetangga baru di sekitar kediaman Pak Budi? Sepertinya dia menanam sesuatu di halaman rumah Bapak, karena dia menaruh hasrat pada istri Pak Budi,” ungkap Bimo, sambil setengah pejamkan matanya. “Hahh..! Kau benar lagi Bimo..! Memang ada tetangga baru yang berselisih 3 rumah dari rumahku. Dan dia baru 3 bulan pindah di situ!” seru terkejut Budi, demi mendengar kebenaran dari ucapan Bimo. “Tapi Pak Budi harus janji tak akan mendendam pada orang itu. Karena apa yang di tanamnya akan berbalik menyerangnya. Setelah Pak Budi membakar benda yang di tanam di halaman rumah Pak Budi,” ujar Bimo tenang. Ya, sungguh hati Bimo sendiri juga heran. Bagaimana dia bisa bersikap setenang itu berbicara dengan Pak Budi. Bimo merasa yang tengah berbicara dengan Budi seperti bukan dirinya. Lalu siapa..?! “B-benda apa sebenarnya yang di tanam si brengsek itu Mas Bimo..?! Sungguh membuatku ingin pulang sekarang juga!” seru Budi geram, panggilannya seketika berubah menjadi sopan pada Bimo. Ya, Budi seperti melihat pancaran wibawa dan kharisma Bimo yang sungguh berbeda saat itu. Hal yang membuatnya seketika merasa hormat dan segan pada pemuda itu. Aneh! “Pak Budi tak perlu membuka bungkusan kain putih pada benda itu. Pak Budi cukup langsung membakarnya saja di halaman belakang rumah. Maka pengaruh buruk benda itu akan hilang, dan kemampuan Pak Budi akan normal kembali,” ujar Bimo tenang. “Ahh..! L-lalu dimana tepatnya benda terkutuk itu berada Mas Bimo..?” sentak Budi semakin penasaran. “Benda itu memiliki kekuatan Pelemah Hasrat, dan ditanam di bawah pot bonsai beringin halaman rumah Pak Budi. Biarlah akan saya pagari rumah Pak Budi dari jauh, agar dia tak bisa lagi mengerjai keluarga Pak Budi.” Seth, seth, seth! Bimo langsung pejamkan matanya dan membuat garis berbentuk kotak, dengan jari telunjuknya yang tiba-tiba saja bergetar kepulkan asap putih. “Hahh..!” seru terkejut Budi dengan mata terbelalak. Karena dia bukan hanya melihat kepulan asap putih dari jari Bimo, namun dia juga merasakan hawa hangat yang tiba-tiba menebar di ruangannya. ‘Gila..! Bagaimana Bimo bisa tahu soal tanaman bonsai beringin kesayanganku..?! Ke rumahku saja dia belum pernah! Fix..! Bimo memang asli orang pintar!’ seru batin Budi, merasa takjub dan yakin akan kemampuan Bimo. “Sudah Pak Budi. Kini Pak Budi tinggal membakar saja benda yang di tanam itu. Dan bersikap biasa sajalah pada penanam benda itu. Karena akibat buruk benda itu akan balik menyerangnya, dan akan terus begitu sampai dia minta maaf pada Pak Budi.,” ujar Bimo tersenyum. “Ahh..! M-maafkan saya Mas Bimo..! Saya percaya kejadian kemarin dengan Bu Devi itu hanya ketidaksengajaan belaka. Saya pribadi menarik kembali peringatan kedua itu ya Mas Bimo. Terimakasih atas bantuan Mas Bimo..!” sentak rikuh Budi, karena rasa tak enaknya telah bersikap keras pada Bimo tadi. “Tak apa Pak Budi. Pak Budi hanya menjalankan tugas saja kok. Saya permisi ya Pak Budi,” ujar Bimo tersenyum maklum, seraya beranjak dari kursi. “S-silahkan Mas Bimo. Terimakasih.. terimakasih ya Mas Bimo,” ucap sopan dan gugup Budi. Dia langsung beranjak mengiringi Bimo dan sekaligus membukakan pintu ruangannya untuk Bimo. ‘Tak kusangka! Di balik kelemahanmu, ternyata kau menyembunyikan kemampuan yang luar biasa Bimo!’ bathin Budi kagum dan takjub. Dari ruangan Budi, Bimo pun langsung menuju ke ruang OB. Nampak rekan-rekan OBnya tengah berbincang di sana. Namun mereka serentak menoleh ke arah Bimo, saat menyadari kehadirannya. “Bagaimana Bimo..?!” “Apakah kau dipecat..?!”Pertanyaan bernada sindiran dan juga senyum mengejek, nampak jelas di wajah para rekan OBnya itu.“Aman..!” seru Bimo seraya tersenyum, untuk membuat keki para rekan OB yang pastinya berharap dia celaka bahkan dipecat itu.“Kalau begitu, sekarang cepat kau bersihkan ruang toilet lalu pel lorong lantai 2 sekalian..!” seru Luki dengan nada kesal dan wajah tak senang.“Lho? Bukankah tugas mengepel lantai 2 adalah tugas Paul, Kak Luki..?” ujar Bimo heran dan bernada protes.“Ya, hari ini kau yang mengerjakannya Bimo! Karena aku dan Paul akan keluar untuk membeli perlengkapan logistik! Kerjakan saja, jangan banyak tanya!” seru Luki bertambah kesal.“Banyak omong kau Bimo! Hihh..!” Blaakh! Paul ikut memaki marah, seraya menyepak betis Bimo. Karena dia merasa cemas tak jadi di ajak Luki keluar kantor, dan urung mendapatkan uang lebihan belanja.“Aihh..!” seru kaget semua rekan OB di ruangan itu, saat mendengar kerasnya suara sepakkan kaki Paul membentur betis kaki Bimo.Namun Bimo sendiri tak
“Hei..! K-kenapa Bimo..?!” seru heran dan terkejut Lidya.“Ada apa Bimo..?!” seru Rindy yang ikut merasa kaget dan heran melihat sikap Bimo.“Mbak Lidya. Apakah ada rekan pria sekantor Mbak Lidya yang mengendarai Rubicon hitam dan mengenakan jam Rolex..?” tanya Bimo dengan wajah serius.“Heii..! Bagaimana kau bisa mengenali Rudy manajer pemasaran di perusahaanku Bimo..?! Apakah kau pernah bertemu dengannya..?” sentak terkejut Lidya, mendengar ciri-ciri Rudy disebutkan dengan tepat oleh Bimo.“Sama sekali aku tak pernah bertemu dengannya Mbak Lidya. Hanya saja sebaiknya Mbak Lidya berhati-hati dengan orang itu. Apakah dia tadi memberikan sesuatu pada Mbak Lidya..?” ujar Bimo tenang, seraya bertanya.“Hahh..! Rudy memang memberikan parfum untukku tadi siang Bimo. Katanya itu hadiah dari temannya yang baru kembali dari Paris. Memangnya ada apa dengan parfum itu Bimo..?” seru heran Lidya lagi, merasa takjub dengan ketepatan terawangan Bimo.“Bisa kulihat parfum yang diberikan si Rudy itu
'Heii..! Siapa Devi itu..?!' sentak penasaran batin sang penyelinap itu. Perlahan dia menghampiri ranjang tempat Bimo terbaring pulas. Perlahan dengan dada berdebar sosok penyelinap itu menatapi sosok Bimo, yang diam-diam telah lama mencuri hati dan menjadi obyek fantasinya. Ya, sosok itu adalah Rindy, sang pemilik kost! Malam itu usai Lidya pulang ke rumahnya, tiba-tiba saja Rindy merasa harus menuntaskan keinginan yang telah lama direncanakannya. Memiliki anak dari benih Bimo! Bahkan Rindy sudah mempersiapkan sebuah rumah di desa. Yang disiapkan untuk ditinggalinya, jika dia hamil dari benih Bimo nantinya. Dan dia akan kembali ke Kajarta setelah anaknya dilahirkan. Sementara dalam tidurnya, Bimo tiba-tiba saja bermimpi berada dalam ruangan Devi. Dalam mimpinya itu, Devi menyatakan rasa cintanya pada Bimo, dan tentu saja Bimo menerimanya. Bimo heran dengan keagresifan Devi dalam mimpinya itu, karena Devi dengan lincahnya membuka bajunya, sleetingnya, dan juga memelorotkan celan
"Bimo..! Kemarilah cepat..!" seru Luki memanggil dari arah pintu utara gedung kantor. Bimo pun bergegas menghampiri seniornya itu. "Ada apa Kak Luki..?" "Bimo, kau harus menjenguk Paul di klinik sebelah kantor secepatnya. Paul terus memanggil-manggil namamu sejak semalam. Sepertinya dia ingin bertemu denganmu!" seru Luki kesal. Karena sebenarnya dia enggan dan malas mengabarkan hal itu pada Bimo. 'Entah apa hubungannya Bimo dengan penyakitmu Paul', batin Luki bingung. "Baik Kak Luki. Aku akan menemuinya di klinik sebelah setelah berganti pakaian," sahut Bimo, seraya beranjak hendak masuk ke gedung kantor. "Baik! Cepatlah Bimo!" seru Luki lagi. Akhirnya usai berganti dengan pakaian kerjanya, Bimo pun langsung keluar kantor dan menuju ke klinik 24 jam yang berada di sebelah kantornya itu. Nampak Wanti, Tia, Dino, serta rekan OB lainnya yang tengah menunggui Paul, karena memang saat itu belum masuk jam kerja. "Ahh! Akhirnya kau datang Bimo! Lekaslah kau temui Paul, sejak semalam
"Hai cantik..! Kok pagi-pagi sudah melamun di lobi..?" Seruan seorang pria mengejutkan Devi dari lamunannya, dia pun sontak menoleh ke arah suara itu. "Ahh! Tony mengejutkan saja. Hehe," sahut Devi terkejut seraya terkekeh. Setelah melihat sosok yang datang adalah Tony, putra sang Direktur Umum kantor itu. "Kenapa dengan OB tadi itu Devi..?" tanya Tony, yang rupanya ikut melihat ke arah pandangan Devi tadi. Jujur saja ada rasa kurang senang dan cemburu di hati Tony. Saat dia melihat cara Devi menatap hangat, pada sosok Bimo yang tengah berjalan tadi. Dan walau sekilas saja. Hal itu sudah cukup bagi Tony, untuk mengenali dan mengingat sosok Bimo. OB yang baru saja diperhatikan Devi. "Ahh! Tak ada apa-apa Tony. Hanya kebetulan saja aku sedang melihat ke arah sana," desah Devi menyahut. Dia agak terkejut, karena Tony mengetahui siapa yang tengah diperhatikannya barusan. "Oh begitu. Baik Devi, mari kita bicara di ruanganmu. Kebetulan ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," ajak To
"Tidak Bimo! Kau duduklah di lantai saja. Toh lantai ruangan ini dilapisi karpet, tak akan membuat celanamu kotor!" seru Tony lagi. "Baik Pak Tony." "Hhh..!" dan Devi pun hanya bisa menghela nafas sebalnya, terhadap prilaku semena-mena Tony di hadapannya. Namun dia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membela Bimo. 'Inilah yang menyebabkan aku tak sudi menerima cintamu Tony! Kau seperti anak kecil..!' sungut geram batin Devi. Dan memang sesungguhnya tak ada yang kotor atu pun salah dengan sepatu Tony. Dia hanya ingin menunjukkan kekuasaan dan kelebihannya saja atas diri Bimo, di hadapan Devi. Dengan berbuat begitu, maka Tony seperti ingin memperlihatkan pada Devi. Bahwa Bimo bukanlah apa-apa dan siapa-siapa dibanding dirinya! Sungguh Picik..! *** Akhirnya jam kerja pun usai. Bimo bergegas berganti pakaian dan beranjak hendak keluar dari gedung kantornya. "Bimo. Bisakah kita bicara sebentar di ruangku sebelum pulang?" ucap berbisik seseorang, yang bergegas menjajajri lang
'Awas kau Bimo..! Jika aku sampai dipecat, akan kuhadang dan kuhabisi kau bersama grupku!' bathin Luki mengancam, sambil terus berjalan keluar dari kantor. *** "Ini benar kau sudah ada uangnya Bimo..?" tanya Rindy agak heran, saat Bimo datang dan membayar sewa kost untuk dua bulan di muka. Ya, tentu saja begitu. Karena baru kemarin Bimo bicara padanya, soal kemungkinan akan telat membayar sewa kostnya. "Kebetulan Bimo ada rejeki tak terduga Tante," sahut Bimo tersenyum tenang. Hal yang membuat Rindy gemas, dan ingin mencium wajah Bimo saat itu juga. Namun dia masih sadar, jika mereka berada di teras terbuka kediamannya. Bimo memang telah menghitung isi amplop pemberian pak Budi. Amplop itu ternyata berisi uang senilai 15 juta. Uang yang cukup besar bagi Bimo, yang berpenghasilan di bawah UMR itu. "Baiklah, aku terima uangnya ya Bimo. Kalau kau butuh sesuatu, kau jangan sungkan bilang padaku ya," ucap Rindy akhirnya. "Baik Tante, terimakasih." "O ya Bimo. Jangan lupa dengan pe
"Heii..! Bimo..! Kau sungguh OB yang tak tahu diri dan tak becus dalam bekerja..! Bisa hancur nama perusahaan Ayahku ini, jika kau terus bekerja di sini..!" seru keras Tony di tengah ruang lobi. Bimo pun hanya tertunduk diam, mendengarkan seruan serta caci maki Tony di ruang lobi terbuka itu. Namun wajah Bimo sama sekali tak menampakkan rasa takut atau panik, mendengar teguran keras Tony itu. Dan sontak para karyawan lain pun heboh. Dengan diam-diam mereka mencoba mengintip, atau pura-pura melintas di ruang lobi. Hanya untuk mengetahui kenapa Bimo mendapat teguran keras dari Tony. Nampak Devi, Pak Budi, serta beberapa staf lain juga berjalan menuju ke arah lobi. Bahkan para OB seperti Wanti, Dino, Paul, dan lainnya juga ikut menyaksikan dari sudut koridor di sisi ruang lobi. *** Sementara di saat yang sama.Masuk ke area kantor Bimo sebuah sedan Audi A8L hitam, yang langsung memarkirkan mobilnya di area parkir kantor. Klekh! Turun sepasang kaki jenjang seorang wanita cantik dar
"Huhh..! Kebetulan sekali kalau begitu..! Ayo Bu, kita bicara langsung saja dengan Bimo..!" seru Baskara, seraya mengajak istrinya ikut menemui Bimo. Dan memang benar Bimolah yang datang berkunjung ke kediaman Baskara saat itu. Klekh..! "Wah..! Mas Bimo jadi juga datang ke sini. Silahkan duduk Mas," sambut Devi tersenyum gembira, melihat kedatangan Bimo. Kendati hatinya juga diliputi rasa was was akan sikap orangtuanya terhadap Bimo nanti. "Lho..! Ada tamu kok disuruh duduk di teras Devi. Persilahkan saja Bimo masuk ke ruang tamu sini. Kami juga hendak bicara dengannya," ujar Baskara dingin dari dalam pintu. Ya, Bsaskara dan Rini merasa enggan ikut keluar menyambut Bimo. Walau mereka juga agak terkejut, saat melihat Bimo datang dengan mengendarai mobil yang cukup berkelas. "Hmm..! Apakah itu mobilnya atau pinjaman ya Bu..?" bisik Baskara di dekat telinga Rini. "Entahlah Mas. Yang jelas kita tanya saja padanya, apa sebenarnya yang bisa dia tawarkan pada putri kita dengan bekerja
Klik.! "Ya, halo Mbak Ratri,” sahut Bimo. “Pagi Bimo. Sedang sibukkah sekarang?” tanya Ratri. “Aku baru saja mandi Mbak. Bagaimana kabarnya nih?” sahut Bimo bertanya. " O ya Bimo. Tak lama setelah kamu pergi A' Rahadian meminta bantuanku, untuk mengirim dana ke rekeningmu sebesar 5 miliar. Semoga sudah kau terima ya Bimo." Ratri mengabarkan.“Lho, darimana Mbak Ratri tahu nomor rekeningku?” tanya Bimo heran. “Bukankah saat Bimo membawa A'a Rahadian ke rumah sakit, kamu yang membayarkan biayanya Bimo? Dari situlah aku mengetahui nomor rekeningmu,” sahut Ratri tenang. “Oh iya, hehe. Kalau begitu, sampaikan terimakasihku pada Mas Rahadian ya. Tapi sebetulnya tak perlu berlebihan Ratri. Mas Rahadian seharusnya bisa menggunakan uang itu untuk pengembangan bisnisnya saja." “Tidak Bimo. Bahkan menurutku kamu pantas menerima yang lebih dari itu." “Ahh, kalian ini. O iya, bagaimana kabar si Desi kecil Mbak?” “Wahh, dia sekarang jadi fans beratmu Bimo. Dimana-mana dia bercerita soal k
Bruaghhk..! Braaghk..!! Ciittt...!! Gedubraghhk..!! "Arrghk..!!" terdengar teriakkan orang-orang dalam dua kendaraan itu. Dua APV hitam itu pun langsung miring dan terguling ke arah ladang singkong di seberang jalan. Taph..! Yoga mendarat ringan di dekat kedua mobil pengangkut yang terguling itu. Dan dengan cepat dia keluarkan pistol dari balik pakaiannya. Lalu... Darr..! Darr..! ... Darr..!! Dua pengemudi mobil dan dua rekannya yang mendampingi di dalam mobil pengangkut itu. Keempatnya tewas seketika dengan kepala berlubang, diterjang timah panas yang dilepaskan Yoga dengan tanpa ampun. Cittt...!! Tiga pengendara motor segera injak rem motor mereka dengan tiba-tiba dan berseru kaget dan marah ke arah Yoga. "Heii..!! S-siapa.. Dor, dor, ... Dorr..!! Namun rentetan tembakkan dari para anak buah Yoga langsung menjawab, dan menembus tubuh ketiga pengendara motor yang mengawal mobil pengangkut itu. "Ahkss..!!" Brugh..! ... Brugh..! Ketiga security pengawal itu pun ikut tewas
"Hebat Mas Iwan. Kalau begitu Mas Iwan akan Lidya tempatkan di divisi pengawasan anggaran proyek saja ya. Jadi Mas Iwan bisa langsung terjun ke lapangan proyek nantinya," jelas Lidya. "Terimakasih Mbak Lidya. Saya siap ditempatkan dimanapun itu. Saya akan mencurahkan seluruh daya, kesetiaan, dan kemampuan saya pada perusahaan Mbak Lidya. Dan saya berterimakasih sekali atas bantuan dan pertolongan Mbak Lidya dan Mas Bimo. Rasanya sampai mati pun, saya tak akan bisa membalas hutang budi saya pada kalian berdua," ucap Iwan, dengan suara serak penuh rasa haru dan terimakasih. "Tak perlu terlalu dipikirkan Mas Iwan. Besok datanglah dengan membawa CV Mas Iwan ke kantor saya. Temuilah kepala personalia di sana. Ini kartu saya, perlihatkan saja pada kepala personalia. Selanjutnya Mas Iwan tinggal ikuti saja arahannya ya," ujar Lidya, ikut merasa terharu dan senang mendengar ucapan Iwan. "Benar Mas Iwan. Tak perlu terlalu dijadikan beban pikiran. Hanya saja, jika melihat orang disekitar M
"Hahh..! K-kamu punya perusaahaan..?!" sentak terkejut Hesti, seolah tak percaya. Ya, walau memiliki sebuah perusahaan ternama, penampilan Lidya memang terkesan biasa saja. Lidya memang tak suka menunjukkan perhiasan atau pun gemerlap pakaian, yang biasa dikenakan oleh orang-orang kelas elite. Padahal jika Hesti dan Darma berkesempatan melihat semua perhiasan yang dimiliki Lidya di lemari koleksinya. Niscaya mata mereka akan katarak dan buta seketika..!Karena saking berkilau, langka, dan banyaknya koleksi perhiasan Lidya..! "T-tapi perusahaannya harus ternama. Minimal kami mengenalnya Lidya..!" seru gagap Hesti, tak mau menyerah begitu saja. "Ayah..! Kenapa Ayah mempermalukan Tari di depan orang-orang..?! Tari bukan barang dagangan, Ayah..!" sentak Tari, yang merasa malu sekali, terhadap prilaku kedua orangtuanya. Di depan Iwan dan kedua pendampingnya itu. "Kamu diam dulu Tari..! Ini untuk kebaikkanmu sendiri, dan juga nama baik keluarga..!" hardik Darma, seraya membelalakkan mat
'Ahh..! Mas Bimo, Mbak Lidya..! Sebegitu besar bantuan kalian padaku..!' bathin Iwan tersentak kaget penuh keharuan. Dia pun menatap Bimo dan Lidya bergantian, dengan sepasang mata beriak basah. Dengan diam-diam Bimo menepuk pelan punggung Iwan, untuk mengisyaratkan agar Iwan tetap tenang dalam pembicaraan itu. Dan Iwan pun memahami isyarat menenangkan dari Bimo itu. "B-baik..! Kami akanmenghitung uang itu nanti," ujar Hesti seraya beranjak dari kursinya, hendak memanggil putrinya. Ya, Tari akhir-akhir ini memang lebih senang mengurung diri di kamarnya. Setelah peristiwa kekasihnya yang dipermalukan oleh kedua orangtuanya itu. Tok, tok, tok..! "Tari..! Keluarlah sebentar, ada tamu yang ingin bertemu denganmu Nak..!" seru sang ibu, setelah mengetuk pintu kamar Tari. Namun Tari yang berada dalam kamar itu merasa sangat enggan, untuk menyahuti seruan ibunya itu. Tari tetap tenggelam dalam lamunan dan kesedihannya. Dia tak ambil peduli dengan panggilan ibunya itu. Ya, perasaan Tari
"Hahh..! Kau lagi..! M-mau a.. Darma berseru keras pada Iwan, namun seketika seruannya terhenti di tengah jalan. Demi dilihatnya wanita cantik dan pemuda gagah penuh wibawa yang tersenyum di belakang Iwan. "Maaf Pak. Saya Bimo, kami datang menemani saudara kami Mas Iwan, untuk membicarakan sesuatu dengan keluarga Bapak," ujar Bimo tersenyum tenang. "Ohh..! Ehh..! I-iya Mas. I-itu mobil kaliankah..?" sahut gugup Darma, seraya menanyakan mobil berkelas yang parkir di depan rumahnya. "Benar Pak, itu milik kami," sahut Lidya tersenyum ramah. Kendati hati Lidya merasa jengkel, dengan cara Darma menerima kedatangan Iwan tadi. 'Hhh..! Bagusnya Iwan segera tinggal di rumah sendiri, setelah menikah dengan putrinya nanti', bathin Lidya.Ya, Lidya bisa membayangkan tekanan mental yang akan dialami Iwan, jika dia tinggal serumah dengan mertua yang berprilaku seperti Darma itu. "Ohh. Mari silahkan masuk..! Bu..! Ada Iwan datang..!" Darma segera mempersilahkan mereka masuk, seraya berseru mem
'Maafkan aku Tari. Susah kuupayakan sekuat dayaku mencari dana 250 juta itu. Namun rupanya kita memang belum berjodoh. Semoga kau mendapatkan jodoh yang terbaik dalam hidupmu', bathin Iwan pasrah sudah. Iwan kembali naik ke atas motornya, sebetulnya dia ingin langsung saja pulang ke kontrakkannya. Namun... 'Heii..! Aku sudah janji malam ini ketemuan sama Mas Bimo, di taman kota kemarin itu..!' bathin Iwan terkejut sendiri. Saat dia teringat janjinya dengan Bimo, teman barunya itu. Iwan pun langsung bergegas menstarter motor matic yang kreditnya masih berjalan itu. Dia sama sekali tak berpikir macam-macam, soal ucapan terakhir Bimo soal solusi yang dirasanya aneh itu. Ya, yang ada di benak Iwan hanyalah dia ingin bicara lebih lama dengan Bimo. Karena Iwan merasa, saat dia bicara dengan Bimo, semua masalah hidup yang dialaminya tersa terlupakan walau sejenak. 'Nanti aku akan minta nomor ponselnya ahh..! Terlalu sekali aku, sampai lupa bertukar kontak dengannya kemarin itu!' sungut
'Maha Kuasa Engkau Ya Tuhan. Tante Mira ternyata sedang mengandung..!' seru terkejut bathin Bimo. "Tante Mira. Bimo ikut berduka dengan kematian Tonny. Tapi kalau boleh Bimo menyarankan Tante jangan terlalu larut dalam kesedihan ya.Kasihan dengan janin di dalam rahim Tante nantinya. Karena dialah yang akan meneruskan bisnis Pak Donald nantinya." "Aihh..! A-apa Mas Bimo..?! A-aku hamil..?!" Terdengar seruan kaget tertahan Mira di sana. "Benar Tante. Tante bisa memeriksakan kandungan Tante nanti bersama Pak Donald ya. Jangan terlalu bersedih ya Tante. Pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik buat keluarga Tante." "Ahh..! M-mas Bimo benar. T-terimakasih Mas Bimo. Aku tak akan tahu sedang mengandung, jika Mas tak memberitahuku..! T-terimakasih Mas Bimo, aku akan segera mengabarkan hal ini pada suamiku." Klikh! Entah harus bersedih atau gembira hati Mira saat itu, karena kabar buruk dan kabar bahagia datang di saat yang bersamaan dalam keluarganya.Namun Mira merasa harus memberitah