Naya tercengang saat David meminta ditemani. Dia tak ingin suaminya datang secara tiba-tiba dan memergoki dirinya sedang bersama dengan pria lain. Itu akan membuat masalah yang cukup besar.
“Bukankah semua itu jika ada sangkut pautnya dengan urusan kantor? Ah, ini sama sekali enggak ada sangkut pautnya sama urusan kantor. Kita bertemu di sini juga benar-benar kebetulan,” balas Naya, secara tak langsung menolak David.
“Di kamus saya tidak ada yang namanya kebetulan. Jika sudah dipertemukan, itu namanya takdir.”
Naya menghembuskan nafasnya berat dan melirik jam tangannya. Ghiyas akan tiba mungkin masih agak lama, karena jaraknya dengan makan siang cukup jauh. Akhirnya, Naya mengangguk.
“Baik, akan saya temani. Saya hanya bisa menemani Anda untuk menyantap hidangan utama lantaran saya ada janji dengan seseorang untuk menyantap makanan itu bersama,” jawab Naya.
“Ya, tidak apa-apa. Selama kamu mau menemani saya,
“Mas Agi? Udah sampai? Dari tadi?” tanya Naya dengan tegang begitu Ghiyas menghampirinya.“Baru aja. Dari tadi Mas cari kamu, ternyata kamu di sini. Anter Mas ketemu sama pengantinnya dulu, yuk!” ajak Ghiyas.Dari ekspresi Ghiyas dan Ghiyas yang tak bertanya sama sekali tentang David, maka berarti Ghiyas tak melihatnya. Dia sibuk mencari Naya dan kebetulan Naya ada tak jauh dari tepatnya itu.Naya menganggukkan kepalanya dan berjalan bersama dengan Ghiyas. Ghiyas menyodorkan tangannya untuk digandeng Naya. Dan Naya memegangi tangannya Ghiyas dengan perasaan lega.Ghiyas dan Naya naik ke pelaminan bersama. Mereka bergandengan tangan saat itu. Dan Fely menatap ke arah mereka, dia berusaha menyesuaikan dirinya dan kembali normal seperti biasanya. Walau rasanya memang tak bisa, melihat Naya bersama dengan Ghiyas setelah bersama orang lain.“Selamat, ya!” ucap Ghiyas seraya bersalaman dengan kedua mempelai pengantin i
“Kenapa enggak bilang sama Naya? Apa Mas sembunyiin rumah itu karena di dalamnya Mas sembunyiin selingkuhan Mas? Dan Mas pernah enggak pulang karena bermalam sama—”“Hush, astagfirullah. Enggak, ya! Rumahnya aja belum jadi, Sayang. Masih dalam pembangunan, belum layak pakai.” Ghiyas memelototi Naya yang bicara sembarangan tentang dirinya.Naya kemudian tersenyum mendengarnya. Dia tentu senang jika bisa memiliki rumah pribadi.“Kalau gitu, kapan kita bisa pindah?” tanya Naya sambil tersenyum manis.“Belum tahu. Nanti kalau Mas luang, Mas ajak kamu ke pembangunannya dan lihat-lihat. Cocok enggak menurut kamu. Sebelumnya Mas minta maaf karena enggak bilang apa-apa sama kamu tentang rumah kita yang lagi dibangun. Soalnya ini niatnya mau jadi surprise di anniversary kita yang pertama,” jelas Ghiyas.“Ah, enggak apa-apa. Naya suka dikasih surprise,” jawab Naya, dia tampak tersenyum senang.
“Nay!”Sella menatapi Naya yang memasuki kantor sambil menenteng segelas kopi. Dan Naya langsung menoleh sambil menghampiri Sella yang memanggilnya. Sella menatapnya dengan curiga.“Lo sama Pak David sebenarnya ada apa, sih? Gue penasaran banget, deh. Lo enggak cerita sama sekali. Gue sering lihat lo pulang sama Pak David. Tempat lo juga sekarang pindah. Rumor terus beredar tentang hubungan kalian berdua, loh!“ kata Sella.“Udah gue bilang, gue sama Pak David itu rekan kerja. Kita lagi banyak yang harus didiskusikan, makanya gue dipindahin ke atas,” jawab Naya.“Tapi kayaknya lebih dari itu, kalau lo sampai punya ruangan pribadi. Lo apa enggak mau cerita sama gue aja. Lo sama Pak David pacaran, ya? Pak David gimana kalau lagi pacaran?” Sella mengedipkan satu matanya, dia benar-benar ingin mengetahui tentang hubungan Naya dengan David.“Mana gue tahu. Kenapa tanya gue? Gue bukan pacarnya, itu yan
“Kita ada perjalanan bisnis selama tiga hari ke luar kota,” kata David.Naya yang sedang fokus dengan komputer di depannya seketika terdiam dan menatap ke arah David sambil mengernyitkan dahinya. Tidak, perjalanan bisnis adalah mimpi buruk baginya sekarang.“Saya harap kamu bisa ikut, Naya. Karena di sana kita akan mengadakan sebuah pertemuan, yang mana akan ada banyak orang penting dari berbagai perusahaan. Baik perusahaan besar maupun yang sedang naik daun. Membuat kesan yang baik dengan mereka, menambah rekan bisnis, itu semua merupakan cara kamu menjalin koneksi dengan orang-orang di luar sana,” jelas David.David yang tengah berdiri di pintu yang menjadi akses antara ruangan mereka kini mengalihkan perhatian Naya dari pekerjaannya. Naya menatap ke arah David dengan ragu-ragu.“Entahlah, saya belum tahu bisa atau tidak,” jawab Naya seadanya.“Sangat sayang jika kamu tidak bisa ikut dalam acara ini. Ayol
“Naya!” Ghiyas memanggilnya dengan berat, memandang Naya yang pergi dari meja makan.Perlahan tangannya naik ke meja, menjadi sandaran untuk keningnya. Ghiyas mengurut pelipisnya pelan sambil menghela nafasnya dan memandang makanan yang kini tak lagi mengundang seleranya. Namun demi menghargai istrinya yang sudah memasak, dia menghabiskannya.Setelah makan dan merapikan meja makannya, Ghiyas mencuci piring kotornya. Dia memang sangat rajin untuk ukuran pria. Dan setelah menuntaskan tugasnya di rumah, Ghiyas menuju ke kamar.Didapatinya Naya yang tengah duduk di atas kasur, dengan laptopnya yang sekarang berada di pangkuannya dan headphone yang menutup telinganya dengan sempurna. Dia tampak fokus.“Naya!” panggil Ghiyas seraya mendekatinya.Namun, Naya langsung menggeser duduknya menjauh dari Ghiyas. Ya, ini bentuk protesnya. Ghiyas menghela nafasnya berat dan kemudian menatap Naya yang sekarang masih mengabaikannya.K
“Naya minta waktu sama Mas. Selama Naya belum hamil, Naya masih mau kerja. Naya masih mau menggapai semua yang Naya impikan. Naya masih belum puas atas segala yang Naya dapatkan dari hasil kerja keras Naya selama ini,” ucap Naya pelan, terdengar memelas.Pipi Ghiyas menggembung, disertai dengan helaan nafas beratnya. Ucapan Naya berhasil menghipnotis dirinya untuk menuruti keinginan Naya lagi. Toh, hanya perjalanan bisnis.“Kamu pergi sama siapa aja? Mas bisa menghubungi siapa selama kamu pergi kalau kamu enggak bisa dihubungi?”Naya seketika tersenyum mendengar pertanyaan Ghiyas. Kelihatannya Ghiyas mengubah keputusannya.“Nanti Naya kirimkan kontak yang bisa Mas hubungi. Tapi selama Naya masih bisa dihubungi, jangan menghubungi orang lain, ya? Soalnya yang bakal Naya kirim kontak perempuan,” jawab Naya.Ghiyas menganggukkan kepalanya dengan berat hati. Tiga hari tanpa Naya kelihatannya bukan masalah. Dia pernah
Ghiyas datang ke rumah sakit agak siang hari itu. Tampak beberapa rekannya tengah berkumpul di lobi, bersama dengan seseorang yang tampak dia kenali dan membuatnya tersenyum kala bertemu dengannya. Pria yang dia temui juga kemudian tersenyum melihat sosok Ghiyas datang.“Hey! Aduh, Ghiyas! Kabar-kabarnya udah nikah, nih. Maaf, enggak bisa datang waktu itu, saya lagi sibuk-sibuknya,” ucapnya sambil menjabat tangan Ghiyas dengan tegas.“Ah, santai aja. Tumben ke sini, ada apa, nih?” Ghiyas memeluknya dengan singkat.Mereka tampaknya senang saling bertemu. Gabby, Kevin, dan Rendi juga menyambut pria itu dengan ramah. Mereka kelihatannya teman lama yang sudah lama tak bertemu.“Enggak, mau berkunjung aja. Udah lama juga enggak ke sini. Terakhir gue ketemu Rendi waktu liburan kemarin. Lagi sama keluarga kecilnya dia,” cerita Fajar dengan antusias.“Oh, gitu. Lanjut ngobrol di ruangan gue aja, gimana?” tawa
“Waktu itu, dia datang ke ruangan kesehatan dengan mengeluhkan nyeri di perutnya. Katanya dia jatuh terduduk. Dia punya hubungan yang buruk sama teman di kantornya. Temannya ini bercanda mungkin, niatnya. Tapi ternyata efeknya benar-benar fatal. Dia enggak tahu kalau dia juga lagi hamil, yang gue tahu cuman segitu,” jelas Fajar.“Dan di waktu yang sama, lo lagi enggak di sini buat dia, Ghi. Lo marah sama dia, karena sesuatu. Bukan karena keguguran itu?” tanya Rendi pada Ghiyas.“Enggak. Gue sama dia ada masalah memang, tapi bukan tentang ini. Ngapain gue marah kalau dia keguguran? Gue harusnya ada di dekat dia, jaga dia, rawat dia. Bukannya malah pergi.”Ghiyas mendesah kecil. Dia sedang memikirkan apa yang sebenarnya Naya pikirkan hingga tak memberi tahunya sama sekali. Sudah hampir setengah tahun, Naya menyembunyikannya berarti.“Kenapa dia enggak ngasih tau lo, ya? Seharusnya dia cerita, sih.” Rendi mengo