*Happy Reading*Ternyata, Arletta kalau sudah kecewa memang sadis. Tak perduli dalam keadaan genting dan ada nyawa yang sedang di ujung tanduk. Gadis itu tetap tak perduli. Dibujuk seperti apa pun, Arletta yang keras kepala tetap pada pendiriannya. Tidak mau dan tidak akan pernah mendonorkan darahnya setetes pun. Begitulah orang kalau sudah benar-benar kecewa. Hatinya seakan mati. Bunda Reen yang seorang psikiater saja sampai menghela napas berkali-kali saat membujuk Arletta. Beruntung masih ada Yudistira, ayahnya Arkana yang punya golongan darah 'O'. Hingga beliaulah yang akhirnya memberikan darahnya untuk si nenek. Kecewa, jelas di rasakan keluarga Arkana terhadap sikap keras kepala Arletta. Namun, di sisi lain gadis itu pun tidak bisa di salahkan seenaknya. Karena Arletta punya alasan sendiri kenapa sampai begitu membenci keluarga Sumito."Tidak masalah kalau setelah ini kalian semua jadi membenciku bahkan meninggalkanku. Bagiku, itu sudah jadi hal biasa. Yang penting, aku tidak
*Happy Reading*"Sudah?""Hm ..." Arletta hanya mampu bergumam sebagai jawaban pada tanya Arkana yang baru saja kembali dari kamarnya. Tadi, pria itu memang ijin ke kamarnya untuk sekedar cuci muka dan ganti baju. Tak lama, Arkana sudah kembali lagi dengan tampikan agak fresh, disertai titik-titik air yang masih menghiasi ujung rambut gondrongnya. "Ini aja?" Arkana bertanya lagi, seraya melihat tulisan Arletta. Meski, sebenarnya dia pun tak bisa membaca tulisan itu dengan jelas. Di mana-mana tulisan dokter emang kayak gini, ya? Terlihat seperti coretan asal dan hanya apoteker yang ngerti. Berhubung Arkana bukan apoteker, jadi dia tidak ngerti."Ya." Arletta membalas dengan suara lemah sambil memejam. Kepalanya terasa berputar jika matanya dibuka. Sepertinya, vertigonya kambuh. Melihat itu, Arkana mendesah panjang lalu memberikan usapan lembut pada kepala gadisnya. Sambil, sesekali memberikan pijatan yang lumayan meredakan pening di kepala Arletta. "Mau titip sesuatu gak? Sarapan
*Happy Reading*Mendengar kenyataan yang tengah terjadi pada Arkana. Hati dan pikiran Arletta seketika kacau. Gadis itu gusar dan rasanya ingin segera pergi dari sana demi menyelamatkan kekasihnya. Tetapi, ke mana? Ke mana Arletta harus pergi? Di mana tepatnya keberadaan Arkana saja, belum ada yang tahu. Termasuk tim pencarian yang sudah Ayah Yudis kerahkan. Lalu apa? Apa yang harus Arletta lakukan sekarang? Dia tidak mungkin hanya menunggu seperti ini saja, kan? Atau .... haruskah Arletta pergi ke tempat Joshua?"Ayah, apa ini perbuatan uncle Josh?" Arletta ingin memastikan. "Ayah tidak tahu. Soalnya, belum ada kabar apa pun mengenai orang-orang yang mengejar Dewa. Jadi ayah tidak bisa memastikan siapa yang sedang kita hadapi saat ini. Entah Joshua, atau rekan bisnis keluarga Hardikusuma. Yang jelas, kita tidak boleh gegabah." Mengingat nama besar keluarga Hardikusuma. Memang menjadi hal yang wajar jika mereka juga mempunyai rival bisnis di luaran sana. Dan biasanya, mereka memang
*Happy Reading*Lelucon macam apa lagi ini?Sungguh! Kepala Arletta benar-benar tak habis pikir dengan drama hidupnya selama ini. Apalagi dengan kenyataan yang Bruno bawa saat ini. Rasanya kepalanya bisa pecah memikirkan semuanya. "Jadi, lo ....""Ya, Let. Gue sepupu lo." Bruno menegaskan setelah menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya. Kan? Apa Arletta bilang? Drama apa lagi ini ya Tuhan .....? Setelah sekian lama mengenal Bruno, bahkan adu urat gak jelas tiap bertemu. Ternyata ... dia ... sepupu Arletta? Bruno Pratama Sumito. Anak pertama dari Adiyaksa Sumito, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kakak dari Mama Ajeng dan Mommy Rumi. Kurang drama apalagi, coba?Baiklah, mari kita jelaskan sedikit tentang keluarga Sumito. Biar kalian gak makin ngebul baca novel ini. Jadi, Keluarga Sumito itu, punya tiga anak. Pertama Adiyaksa Sumito, kedua Ajeng Nyimas Sumito, ketiga Arumi Nyimas Sumito. Nah, sebagai anak pertama dan satu-satunya anak lelaki di keluarga Sumito, sudah bisa d
*Happy Reading*Sekilas, mungkin tampaknya masalah yang Arletta hadapi itu sepele. Hanya perebutan harta warisan. Sebagian dari kita bahkan mungkin menilai Arletta bodoh, karena rela hidup dalam ancaman selama tujuh tahun demi mempertahankan harta peninggalan ayahnya. Iya, kan? Harta tidak dibawa mati, dan harta masih bisa di cari. Ngapain sih, harus mati-matian mempertahankannya? Lepasin aja padahal, nanti juga dapat gantinya. Seandainya semudah itu, jelas sudah Arletta lepas dari dulu. Apalagi untuk seorang Arletta yang pintar dan punya banyak talenta. Menjadi orang kaya bukanlah hal yang sulit. Kalau dia mau, dia bisa menjual kecantikan dan bakatnya menjadi seorang penggiat entertaiment seperti Karmilla. Apa pun bisa diusahakan Arletta. Jika memang masalahnya hanya uang semata.Sayangnya, apa yang terlihat diluar memang kadang tak seperti yang sebenarnya terjadi. Karena faktanya, masalah Arletta yang paling utama adalah bukan semata-mata harta warisan saja. Akan tetapi, obsesi gi
*Happy Reading*"Lo emang gila, Kan! Luka sebanyak dan separah ini, bukannya langsung ke rumah sakit malah pulang. Gak habis pikir gue."Bruno langsung mengomel. Setelah Ayah Yudis selesai menjahit semua luka di tubuh Arkana. Dibantu para medis lainnya yang memang sengaja dipanggil ke kediaman Arkana. Sementara itu, pria yang baru saja di omeli Bruno malah mendengkus dengan pelan dan mengerjap lemah satu kali. Lalu mengeratkan genggaman tangannya pada Arletta sambil tersenyum menenangkan."Soalnya gue takut, orang yang lagi nunggu kabar dari gue di rumah ini sedih dan malah milih nyerah sama keadaan."Arletta menggigit bibir bawahnya dan menahan napas sejenak, demi menghalau tangisnya. jemarinya ikut mengeratkan tautan tangan mereka dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Arletta takut ini hanya mimpi semata. Makanya sejak kedatangan Arkana tadi yang langsung tumbang. Dia tidak mau berjauhan lagi dari pria itu. Tangan mereka terus bertaut dan tak terpisahkan lagi. B
*Happy Reading*"Sebelum membicarakan rencana selanjutnya. Bisa tolong beritahu, apa yang masih kalian sembunyikan dari aku?" pinta Arletta tiba-tiba. "Khusunya elo, Kav!" imbuhnya lagi, sambil menunjuk Elkava. "Gue? Kenapa sama gue?" Namun, Elkava malah pura-pura polos."Kav!" Arletta mengeratkan gigi dengan kesal. "Mau gue tonjok lagi?" ancam gadis itu kemudian. Bahkan sudah mengangkat kepalan tangannya sejajar dengan wajah. "Eh, eh, nggak, nggak." Tak ayal, hal itu pun berhasil membuat Elkava menelan saliva kelat dan menyerah untuk menggoda gadis itu lagi. "Ya ampun. Gue cuma becanda kali, Let. Lo kenapa makin galak, coba?" keluhnya kemudian. "Ya abis gue sebel sama lo! Bisa-bisanya lo boongin gue gak abis-abis!" tukas Arletta kesal."Boongin apa, sih? Kapan gue boong sama lo?" Elkava tak mau mengaku."Soal Arnetta?" Arletta mengingatkan."Ya ... kecuali hal itu." Elkava menjawab terbata."Soal orang tua Mas Arkana?" Arletta kembali mengingatkan. "Orang tua Arkana? Lah, gue boo
*Happy Reading*"Lo udah liat rekaman Arnetta terakhir?"Eh? Rekaman?Ada apa dengan rekaman itu memang?"B-belum," jawab Arletta kikuk."Loh, kok? Kenapa? Padahal rekaman itu udah lama kan gue kasihnya," protes Elkava."Ya emang. Tapi ... lo kan tahu gue gak bisa liat bayangan sendiri. Sementara Arnetta kan, plek-ketipleknya gue. Jadi, mana berani gue liatnya. Kalau gue kambuh lagi, gimana?" terang Arletta tanpa keraguan lagi meski ada orang tua Arkana di sana. Dia yakin keluarga Arkana pasti sudah tahu hal itu dari Elkava."Justru gue harap lo bisa sembuh setelah liat itu rekaman. Soalnya, setahu gue lo kan bisa punya ketakutan itu, karena dibayang-bayangi rasa bersalah pada Arnetta, kan? Pada kematian Arnetta yang selama ini kita kira bunuh diri karena depresi. Sementara kenyataannya, dia gak mati bunuh diri, tapi dibunuh. Lebih dari itu, Arnetta sebenarnya gak pernah nyalahin lo sama sekali. Makanya gue sangat berharap, setelah lo liat rekaman itu. Rasa bersalah lo akan hilang dan