"Perusahaan Dirgantara yang berinisiatif mencari kami untuk membahas pesanan ini. CEO mereka yaitu Pak Agam yang kamu kenal suka dengan gaya desain bangunan Perusahaan Vasant. Jadi, dia meminta harus desainer Moon dari Perusahaan Vasant untuk mendesain bangunan baru Perusahaan Dirgantara."Pamela mengerutkan alisnya, Moon adalah nama kerjanya.Saat Pamela mendengar pesanan ini ada kaitan dengan Agam, Pamela tidak lagi ragu. "Nggak terima!""Tapi, Bos, biaya desain Perusahaan Dirgantara senilai ini!" Marlon di samping mengulurkan dua jarinya dan membuat huruf "T" dengan tangan.Dua triliun?!Pamela hampir saja tersedak kopi ....Paman benar-benar kaya!Perusahaan Vasant baru berdiri beberapa tahun, sekarang masih dalam tahap ekspansi bisnis. Meski nilai pasar perusahaan terus meningkat, uang yang bisa mereka gunakan tak banyak.Dua triliun ....Pamela benar-benar tidak bisa menolak godaan ini!Marlon dan Ariel saling menatap, merasa bos pasti tidak bisa menerima godaan begitu ....Marlo
Ekspresi Pamela menjadi serius, lalu segera berdiri dari kursi. "Marlon, kamu keluar untuk mengulur waktu, sedangkan aku akan mencari kesempatan untuk kabur. Jangan biarkan dia tahu aku ada di sini!""Baik!"Marlon langsung menyimpan sikap tak seriusnya dan menerima perintah untuk menyambut Agam.Pamela mengikuti Marlon sampai depan kantor, lalu melalui celah pintu untuk mengamati situasi di luar ....Hanya melihat Agam keluar dari lift diikuti dengan Ervin.Marlon menyambut dengan senyum. "Pak Agam, maaf atas penyambutan kami yang kurang baik."Agam menganggukkan kepalanya. "Kalian yang terlalu sungkan."Marlon secara alami menyampingkan tubuh untuk memandu jalan. "Bu Ariel bilang Pak Agam sangat tertarik dengan desain bangunan Perusahaan Vasant, sekarang aku akan membawamu untuk melihat interior Perusahaan Vasant dulu."Agam mengangkat tangan untuk menolak, "Nggak usah repot-repot, sebelum naik ke sini, aku sudah melihat interior di lantai bawah, juga sudah memahami gaya desain bangu
Ariel berkata, "Ini termasuk hal pribadi desainer, jadi saya nggak bisa mengatakannya."Agam tersenyum dengan dingin. "Tampaknya Perusahaan Vasant nggak berniat menerima pesanan Perusahaan Dirgantara, kalau begitu nggak usah dipaksa."Selesai berbicara, Agam meletakkan kopinya, lalu berdiri ....Percakapan mereka didengar jelas oleh Pamela yang di ruang istirahat!Nada bicara Agam sudah terdengar tak senang, dia juga tahu kalau Agam tidak punya kesabaran yang lebih.Hari ini kalau dia pergi, pesanan dua triliun akan melayang!Ketika sedang berpikir, Pamela tiba-tiba melihat di pojok ruang istirahat terletak setumpuk mesin yang dibeli oleh Marlon, di antara mesin itu ada masker anti racun ...."Pak Agam, tunggu dulu!"Agam yang sudah mau keluar tiba-tiba berhenti melangkah begitu mendengar suara itu, lalu pelan-pelan menoleh dengan mata yang disipitkan ....Setelah mendengar suara itu, Ariel menoleh dengan kaget!Penampilan bos ....Pamela mengganti baju Ariel di ruang istirahat, juga m
Setelah menjelaskan kedatangannya dengan antusias, Agam tidak memberi respons apa pun. Sikap ini membuat senyum di wajah Jovita menjadi kaku.Wajah Agam yang ganteng menjadi dingin, bahkan membuat orang merasa takut.Jovita tidak berani cari topik lagi, dia hanya menoleh melihat Ariel yang mengantar Agam keluar agar bisa menghilangkan suasana tegang ini."Bu Ariel, di mana asistenku, ya? Aku mau ambil sesuatu darinya!"Mata Ariel terlintas rasa gawat, dia memegang kacamata berbingkai emas dengan tenang sambil menjawab, "Nona Jovita, tadi asistenmu sudah keluar."Jovita mengerutkan alisnya dengan kesal. "Sudah keluar? Ke mana dia? Kenapa nggak menungguku kembali?!"Ariel tersenyum sopan, bahkan bersikap tak peduli. "Aku kurang tahu."Awalnya Jovita merasa tidak senang karena Pamela ditinggalkan untuk berbicara dengan Ariel. Sekarang dia mengetahui kalau wanita jalang itu pergi duluan tanpa memberi tahu dirinya, hal ini membuatnya sangat tidak senang. Dia segera mengeluarkan ponsel untuk
Pria ganteng dan wanita cantik berjalan beriringan, sungguh enak dilihat ....Melihat Pamela berjalan bersama Marlon dari Perusahaan Vasant, mata Jovita melintas rasa cemburu. Karena di depan mereka tiga orang yang hebat, dia hanya bisa tersenyum ramah, tapi malah bertanya dengan nada yang aneh, "Pamela, ke mana kamu?"Pamela berjalan mendekat, lalu menjawab dengan jujur, "Aku mau ke kamar mandi, tapi setelah cari sangat lama, juga nggak menemukan kamar mandi. Kemudian, bertemu dengan Pak Marlon, jadi merepotkannya untuk memandu aku ke kamar mandi."Jovita memelototi Pamela, lalu melihat ke arah Marlon dan berkata dengan sopan, "Pak Marlon, maaf sekali karena asistenku sudah merepotkanmu."Marlon hanya tersenyum. "Nggak apa-apa, tadi aku juga mau ke kamar mandi, jadi hanya sekalian membantunya."Jovita tertawa, tetapi dalam hatinya sangat tidak senang karena Pamela bisa bersama dengan Marlon ....Pamela bertanya dengan ekspresi patuh, "Kak Jovita, kok kamu sudah kembali? Apa sudah mema
Marlon menghela napas dengan tak berdaya, lalu menjawab, "Bos lompat keluar dari jendela kantor, lalu masuk ke kamar mandi melalui jendela. Inilah cara yang dia gunakan."Ariel mengerutkan alisnya. "Ini di lantai 30!"Marlon mengangkat bahunya sambil berkata, "Di ruang istirahat ada set panjat tebingku, jadi bos menggunakan alat itu! Selain itu, kamu juga tahu keterampilan bos gimana, jadi itu bukan kesulitan baginya!"Ariel melepaskan kacamata berbingkai emasnya, lalu memijat alisnya. "Jadi, orang di dalam?""Orang di dalam adalah Sekretaris Zee, bos menyuruhnya mengganti pakaian, lalu duduk di sana dengan mengenakan masker anti racun dan pura-pura sibuk bekerja!""Bos memang pintar!"Marlon menyipitkan mata sambil berpikir. "Ariel, kenapa Bos begitu menolak Agam tahu kalau dia adalah Moon?"Ariel meliriknya, lalu memperingatinya, "Bos pasti ada alasannya sendiri, kita jangan asal tebak!"Marlon memegang dagunya sambil berpikir. "Aku nggak percaya kalau Agam nggak suka pada Bos, aku h
Agam menyipitkan mata untuk melihat Pamela sambil tersenyum....Ting!Pintu lift terbuka.Agam memasukkan tangannya ke kantong celana sambil berjalan keluar, sedangkan Ervin mengikutinya dari belakang.Jovita juga menarik Pamela keluar, takut pria di depan akan lupa janji makan bersama dan pergi duluan ...."Nona Alister, tunggu dulu!"Tiba-tiba ada yang memanggilnya, Jovita pun berhenti melangkah, dia menoleh, lalu melihat Pak Marlon selaku wakil CEO Perusahaan Vasant keluar dari lift satunya lagi sambil menatapnya dengan senyum.Jovita berbalik dengan percaya diri sambil bertanya dengan senyum, "Pak Marlon, ada masalah apa sampai membuat Anda mengejar ke sini? Apa masih ada masalah ambasador yang perlu disampaikan padaku?"Marlon hanya meliriknya, lalu melihat ke arah Pamela. "Aku nggak mencarimu, aku mau mencari Nona Alister ini."Senyum di wajah Jovita menjadi kaku, tetapi dia tetap berusaha tersenyum dan berkata, "Begini, ya .... Pamela, cepat ke sana, Pak Marlon mencarimu!"Keti
"Terserah," jawab Agam.Dari nada bicara pria ini yang dingin, sepertinya dia sama sekali tidak tertarik untuk makan, tetapi dia malah tidak menolak.Jovita tidak berpikir panjang tentang sikap Agam yang cuek. Dia hanya merasa senang karena dia bisa makan siang dengan seorang pria terhormat seperti Agam."Kalau begitu, ayo pergi ke Restoran Yunella, makanan di sana enak-enak!" kata Jovita.Restoran Yunella adalah salah satu restoran kelas atas terbaik di Kota Marila. Harga makanan di restoran tersebut sangat mahal. Kalau bukan untuk mentraktir orang penting seperti Agam, Jovita biasanya juga tidak rela untuk makan di restoran itu!Agam hanya mengiakan ajakan Jovita dengan ekspresi datar, lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu lobi ....Sambil mengikuti Agam, Jovita menoleh dan berteriak dengan kesal pada Pamela, "Ayo cepat, jangan lama-lama! Kamu mau membuat Pak Agam menunggumu, ya?"Pamela mengernyit dengan tidak berdaya, lalu menyusul kedua orang itu.Mereka datang dengan jemputan