Thania dan William masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya. Perempuan itu tampak tak nyaman berjalan dengan William padahal lelaki itu adalah suaminya."Thania ...." Ima menghampiri sang anak kemudian memeluknya karena merindukan anaknya tersebut. "Kok nggak bilang, kalau kamu mau ke sini?""Maaf, Bu. Dadakan ke sininya makanya nggak bilang dulu.""Oh, gitu. Ya sudah, hayuk masuk dulu. Cuaca lagi panas soalnya di sini." Ima membawa masuk anak dan menantunya ke dalam rumah itu.William masih mengikuti mereka sampai masuk ke dalam sebab sebenarnya ia tak ingin dulu pulang dan ingin menemani Thania di sana sampai kembali ke Jakarta."Mau nginep di sini? Biar Ibu siapkan dulu kamar untuk kalian," ucap Ima bertanya kepada Thania yang kini tengah duduk bersampingan dengan William."Mas William nggak akan nginep, Ma. Cuma aku aja yang nginep di sini. Mas William lagi banyak kerjaan di Jakarta soalnya."Ima menoleh pada William. "Lho. Kenapa? Kok nggak sekalian nginep juga di sini?""Bu. Mas
Pagi harinya, jam sudah menunjuk di angka tujuh pagi. Thania bangun dari tidurnya setelah delapan jam lamanya tidur meski tidak terlalu nyenyak.Ia masih kepikiran tentang ucapan sang mama yang baru ia ketahui bila Ima melarang Thania mencintai Hans karena Maria yang trauma memiliki menantu yang derajatnya di bawah keluarganya.Thania menatap wajahnya sendiri di pantulan cermin seraya menghela napasnya dengan panjang. "Masih agak pucat. Apakah aku masih sakit? Tapi, punggung, kepala dan juga bagian bawahku sudah tidak terlalu sakit."Thania bergumam kemudian menggelengkan kepalanya. "Mungkin karena sudah lama tidak merias wajahku. Sampai tak sadar kalau wajahku pucat seperti ini."Thania keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan pakaiannya berupa jeans dan kemeja serta rambut yang dikuncir kuda.Lalu keluar dari kamarnya dan menghampiri kedua orang tua dan juga dua adiknya, Valina dan Mega. Keduanya sama-sama perempuan. Valina berusia dua puluh dan Mega berusia lima belas tahun.
"Kenapa Tante Maria melakukan itu pada kamu, Hans?" tanyanya ingin tahu dan bingung maksud dari ucapan Hans tadi.Hans menghela napasnya dengan panjang. "Karena dia sangat yakin, orang yang telah membunuh Kak Erald adalah istrinya sendiri. Dan akhirnya malah membuat Mami nggak percaya sama yang namanya menantu."And sorry for my words. Kita tahu lah ya, kamu seperti apa dan aku nggak mau mau jugde kamu seperti itu. Karena kita tidak pernah mau memiliki nasib seperti itu. Mami tahu, aku mencintai kamu bahkan aku sudah minta izin untuk melamar kamu."Dan jawaban Mami benar-benar buat aku marah juga kecewa. Papi tidak pernah mempermasalahkan ini. Dan kamu juga harus tahu, hingga saat ini Mami masih menjalani terapi di psikiater."Thania menelan salivanya dengan pelan. "Dan belum sembuh, juga belum mau, melihat anaknya menikah? Kalau kamu menikah dengan konglomerat seperti kalian, mungkin mami kamu tidak akan seperti itu."Hans menggeleng pelan. "Nggak, Thania. Sama saja. Dia pobhia menan
Sudah lima jam lamanya mereka berada di sana. Kini, keduanya memilih untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran yang ada di sana."Beberapa tahun nggak ke sini, udah banyak menu baru dan tempat makan baru di sini," ucap Thania sembari memandang makanan yang sudah tiba di atas meja.Hans mengulas senyumnya. "Dan selalu kamu, yang kubawa ke tempat ini. Tempat ternyaman untuk bisa bersantai dari penatnya dunia luar," ucapnya tak menyangka bila dirinya hanya membawa Thania ke sana.Bahkan dia juga baru ke Bandung lagi setelah selesai kuliah di Amerika. Ia langsung menghampiri pamannya dan tidak pernah kembali ke Bandung.Ditambah, ia tahu bila Thania pun ada di sana. Namun, harus menahan sakit karena tahu, wanita yang ia cintainya sudah menjadi kepunyaan orang lain.Thania terkekeh pelan. "Nggak balik lagi ke Jakarta? Bukannya kerjaan kamu banyak di sana?" tanyanya ingin tahu sembari menyantap makanan di sana."Selama kamu masih ada di sana, aku juga akan ke sana. Kapan, balik k
Thania menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku udah nggak berharap itu lagi, Hans. Dia sendiri yang udah buat aku nggak jadi jatuh cinta sama dia. Lima tahun mencintainya, memang bukan waktu yang sedikit."Tapi, apa lagi yang mesti aku harapkan? Dia sudah berubah. Tapi, berubahnya pun hanya karena takut dipecat dari jabatan Mahatma Grup oleh papinya jika berani menyakitiku. Aku tidak yakin, dia tulus meminta maaf dan bilang jatuh cinta padaku."Thania menjelaskan bila dirinya sudah tidak mengharapkan cinta dari William lagi. Sebab ia sudah terlanjur kecewa, cintanya hanya dibuat sandiwara oleh lelaki itu.Tidak ada yang mesti ia pertahankan meskipun William benar-benar berubah dan mau mencintai Thania juga memiliki perempuan itu selamanya. Namun, Thania sudah berubah pikiran."Setelah aku pahami, William bukan pilihan terakhirku. Mungkin kamu atau orang lain aku pun tidak tahu. Yang jelas, untuk saat ini aku sudah tidak mengharapkan William lagi di hidup aku."Thania kembali beruca
Thania menghela napas kasar. "Nggak. Masih lama. Mungkin dua bulanan lagi, aku baru mau pulang."William menghela napas lelah mendengar ucapan Thania tadi. "Kenapa harus dua bulan? Bukankah terlalu lama? Kalau nanti Mami dan Papi tanya, aku harus jawab apa?""Tinggal jawab lagi di Bandung apa susahnya, Mas? Nanti juga kamu terbiasa tanpa aku di sana. Jangan hubungi aku jika tidak ada yang urgent, Mas. Aku pulang ke rumah karena ingin menenangkan diri."William menelan saliva dengan pelan. "Setidaknya kabari aku, Thania. Seharian kamu tidak ada kabar, kamu ke mana?""Jalan-jalan. Keliling kebun teh dan melihat pemandangan hijau di sini," jawabnya dengan jujur."Sudah ya, Mas. Aku mau tidur, sudah malam. Tadi habis minum obat juga, jadinya ngantuk.""Baru beberapa menit saja kamu sudah ingin menutup panggilanku. Memangnya kamu tidak merindukanku?"Thania menggaruk alisnya kemudian menghela napasnya. "Nggak, Mas. Dulu, aku memang mencintai kamu. Dan mungkin rasa rindu itu ada. Tapi, seka
Thania berlari ke dalam kamar dan berhasil Hans meraih tangan perempuan itu hingga keduanya masuk ke dalam. Dengan gelak tawa keluar dari mulut keduanya.Hans kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Thania dan menatapnya sembari mengusapi sisian wajah Thania dengan lembut. Lalu mencubit gemas hidung perempuan itu yang sedari tadi tertawa bahagia."Hans! Stop it!" teriak Thania dengan gurauan yang terdengar begitu nyaring. Namun, tentu saja sebenarnya ia sangat menyukai hal itu. Sebab hanya dengan Hans, ia dapat melakukan hal seperti ini."Memangnya mau ngapain, hm?" tanya Hans kemudian melepaskan pelukannya itu. Tangganya menggenggam kedua tangan Thania yang tengah menatapnya itu.Thania mengatur napasnya yang terengah-engah dan menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Nggak tahu. Katanya kamu tidur. Ya udah, sono, tidur. Malah ganggu aku pakai kejar-kejaran. Emangnya kita lagi syuting film holywood?"Hans lantas terkekeh kemudian menarik tangan Thania yang sempat dilepas oleh
Malam harinya, Thania dan Hans memilih memasak untuk makan malam. Hans sudah membeli cukup banyak sembako untuk beberapa hari di sana.Mengingat Thania yang masih belum ingin pulang yang entah sampai kapan perempuan itu akan bertahan di sini, Hans tak ingin menanyakan itu lagi.Melihat Thania yang saat ini tampak tenang dan sedikit bahagia membuat Hans tak tega membiarkan Thania kembali ke Jakarta yang mungkin hatinya akan dipenuhi oleh luka lagi."Mau omelette?" tanya Hans sembari memperlihatkan telur yang tengah ia pegang."Boleh. Kamu suka juga, kan?""Tentu. Semua macam telur, aku suka.""Telur buaya juga suka, hm?"Hans lantas mengerucutkan bibirnya dan mengambil mangkuk serta daun bawang. "Kalau buayanya aku makan, aku pernah. Di Thailand dulu. Kalau telurnya, kayaknya nggak ada deh, yang jual telur buaya.""Yaa nggak usah dibahas juga, Hans!" sengal Thania kemudian."Ups! Sorry. Lupa, Sayang." Hans mencium pipi Thania lalu menerbitkan senyum lebar kepada Thania.Perempuan itu m
Hans kemudian mengecup kening perempuan itu lalu mengusapinya dengan lembut. Menatap wajah Thania penuh dengan cinta."Jauh dari kamu itu aku gak bisa. Apalagi di saat-saat seperti ini. Aku akan selalu ada di samping kamu, Sayang. I'm promise."Thania menganggukkan kepalanya. "Iya, Hans.""Kalian ini. Udah mau punya anak dua pun masih saja romantis-romantisan. Bener-bener pasangan romantis," celetuk Maria menggoda anak dan menantunya itu yang menebar keromantisan di depan mereka tanpa ada rasa malu sedikit pun.Hans menerbitkan senyumnya. "Anak itu pelengkap rumah tangga. Untuk romantis pada pasangan itu wajib. Supaya tetap harmonis dan langgeng.""Amin. Memang kamu ini dari dulu pun sangat peduli pada Thania. Apalagi sekarang, sudah jadi istrinya.""Itu Mami tahu. Masih aja komentar kalau lihat aku memperlihatkan kepedulian aku pada Thania."Maria terkekeh pelan. "Nggak nyangka aja. Kamu akan tetap seperti ini kepada Thania. Tidak pernah malu memperlihatkan keromantisan di mana pun d
Hans mengangguk dan mengulas senyumnya. "Pasti! Terima kasih, sudah mempercayakan aset ini kepada Devan, Kak Thomas. Aku akan menjaga rumah sakit ini dengan baik sampai Devan dewasa dan berhak tahu akan hal ini." "Terima kasih, Hans. Jaga Thania dan Devan dengan baik, sayangi mereka. Jangan pernah mengecewakan mereka. Kamu sudah Tuhan takdirkan untuk menjaga keponakan kami." Hans kembali tersenyum dan mengangguk. "Iya, Kak. Aku akan memegang teguh janjiku pada Tuhan bahwa aku akan selalu menjaga dan melindungi mereka. Aku pastikan, mereka selalu bahagia." Thomas menganggukkan kepalanya. "Jangan pernah lupakan kami, Thania. Kami akan selalu menyayangi kamu juga menganggap kamu sebagai keluarga kami. Jangan pernah lupakan itu." "Iya, Kak. Kakak jaga diri, ya. Semoga keluarga Kakak selalu dalam lindungan Tuhan. Dan sekali lagi terima kasih untuk aset yang diwariskan kepada Devan. Seharusnya kalian tidak usah repot-repot memberikan ini." "No problem. Sudah seharusnya Devan mendapatka
Pukul 07.00 Pagi.Thania mengikuti saran dari Hans untuk memeriksa kehamilannya menggunakan alat tes kehamilan. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi dan menunggu hasil tersebut.Tampak perempuan itu menghela napasnya dengan panjang sembari menunggu hasilnya keluar. Setelah lima menit, Thania mengambil alat tersebut dan melihat hasilnya.Thania tersenyum kala melihatnya. Ia pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri Hans yang tengah mengenakan kemeja kerjanya."Hans?" panggil Thania dengan suara lembutnya."Hows, Honey?" tanya Hans yang sudah tidak sabar ingin tahu hasilnya.Thania menerbitkan senyum kepada suaminya itu. "Seperti yang kamu duga. Dua garis.""Serius?" tanya Hans begitu antusias.Thania mengangguk. "Ya! You're gonna be a father."Spontan lelaki itu memeluk sang istri. Betapa senang ia rasakan karena hasil yang memang sangat ia harapkan."Kita ke rumah sakit sekarang, ya," ucap Hans dengan lembut.Thania mengangguk. "
Ia lalu duduk kembali dan menatap sang anak yang tengah menatap paman yang tidak ia ketahui itu."Baik. Kamu apa kabar? Ini, anak kamu?"Thania mengangguk. "Aku baik. Dan ya, dia Devan. Zayden Devandra. Anakku."Thomas tersenyum lirih kemudian menatap sayu wajah keponakannya itu. "Kamu tampan sekali, Nak. Matamu, mirip sekali dengan ayahmu."Thania tersenyum tipis. Memang, mata Devan sangat mirip sekali dengan William. Dan itu tidak bisa dia pungkiri."Maafkan kami, karena tidak pernah mengunjungi kamu. Semenjak ditinggal Mami, kondisi Papi semakin drop. Sakit-sakitan."Thania menutup mulutnya. "Kak. Kakak serius?"Thomas mengangguk. "Iya. Bukannya kami tidak ingin menjenguk kamu dan melihat anak kamu. Tapi, aku tidak punya waktu, Papi sakit dan Andrew sedang ada masalah dengan istrinya."Kami hancur, Thania. Perusahaan yang dipegang oleh William ditutup karena banyak kasus di dalamnya termasuk kematian Erald, kakaknya Hans. Me
Hans lalu menarik wajah perempuan itu dan kembali meraup bibirnya dengan lembut. Menyesapnya penuh dengan nafsu dengan tangan bergelirya di atas gundukan kenyal nan padat itu hingga membuat Thania membusung spontann merasakan tangan kekar itu menyentuhnya.Tubuhnya kini dibawa di atas tempat tidur. Merebahkan tubuh perempuan itu kemudian menurunkan kepalanya dan kini tengah berada di depan kedua gundukan itu dan menyesapnya satu persatu dengan lembut.“Euumpphh!” lenguhnya seraya mencengkeram erat sprei yang ada di sampingnya.Isapan yang penuh itu membuat gairah Hans semakin bangkit. Telinganya yang sedari tadi mendengar desahan dari mulut Thania semakin membuatnya tak karuan.Ia lantas menyelesaikan permainan di atas gundukan kenyal itu. Hendak membawa masuk miliknya ke dalam goa yang pernah terbawa mimpi karena ingin merasakannya lagi.Hans menyatukan dirinya di bawah sana dengan mata menatap wajah Thania yang sudah bersiap merasakan gempuran
Satu tahun kemudian ....Hari ini adalah hari ulang tahu Devan yang kesatu. Perayaan yang begitu mewah dan megah di sebuah hotel yang ada di kota tersebut.Para tamu undangan sudah hadir memberikan selamat kepada Devan yang kini sudah menginjak satu tahun."Selamat ulang tahun untuk anaknya, Pak Hans," ucap salah satu tamu memberikan selamat kepada Hans untuk Devan."Terima kasih, Pak. Terima kasih juga sudah hadir di acara ulang tahun anak kami," ucapnya sembari tersenyum kepada lelaki itu.Sebuah lagu dinyanyikan dalam acara yang sudah dimulai itu. Thania tampak bahagia menyanbut hari ulang tahun anaknya tersebut."Nggak kerasa ya, udah satu tahun aja usia Devan. Perasaan baru kemarin, masih merangkak. Sekarang udah mulai bisa jalan," ucap Maria kepada anaknya itu.Hans menganggukkan kepalanya. "Iya, Mi. Dan bentar lagi Cyntia mau punya anak. Nanti disusul Thania satu tahun lagi.""Mau kasih adek buat Devan ceritanya?" tanya Maria kemudian.
Makan malam pun sudah tidak berselera lagi. Hans pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Thania yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.Tampak perempuan itu tengah melipat pakaian milik Devan sembari duduk di sofa dekat lemari anaknya itu.Hans lalu menghampirinya. Duduk di samping perempuan itu sembari menghela napasnya dengan panjang."Maaf, karena sudah buat kamu jadi emosi dan marah padaku. Tapi, sumpah demi Tuhan aku tidak punya pikiran seperti itu. Jangan marah lagi. Kita cari solusi sama-sama, ya."Thania hanya menelan salivanya. Masih belum mau mengeluarkan satu kata pun kepada suaminya itu."Thania. Berapa pun biaya yang mesti kita keluarkan, aku akan menyanggupinya. Jangan marah lagi, yaa. Apalagi berpikir seperti ini. Aku mohon, Thania."Hans menggenggam tangan Thania agar dia mau bicara dengannya. Menaruh baju Devan di depan lalu menatap perempuan itu dengan lekat."Please!" ucapnya dengan pelan.Thania menelan salivanya dengan pelan. "Aku bingung, Hans. Aku takut.
Tiga hari kemudian, ada panggilan telepon dari dr. Fahmi di ponsel Hans. Ia lalu segera menerima panggilan tersebut sebab sudah tahu, bila lelaki itu akan memberi kabar tentang diagnosa Devan."Selamat siang, Dok.""Selamat siang, Pak Hans. Maaf, mengganggu waktunya. Saya ingin memberi tahu kalau hasil scan Nak Devan sudah keluar. Apakah bisa bertemu sekarang?""Bisa, Dok. Bisa. Saya akan segera ke rumah sakit sekarang juga.""Baiklah kalau begitu. Saya tunggu kedatangannya, Pak Hans. Terima kasih."Hans kemudian menutup panggilan tersebut hendak menghubungi Thania memberi tahu hal ini."Halo, Sayang. Kamu lagi apa?" tanyanya setelah Thania menerima panggilan tersebut."Lagi menyusui Devan. Kenapa, Hans?"Lelaki itu menghela napasnya dengan panjang. "Hasil scan Devan sudah ada, Than. Hari ini, dr. Fahmi mengajak kita untuk bertemu di sana."Thania menelan salivanya dengan pelan. "Ya sudah. Kamu sibuk nggak, hari ini? Kalau sibuk, biar aku saja yang ke sana.""Nggak. Aku jemput kamu se
Usai pulang dari rumah sakit, meski belum mendapatkan hasilnya, tetap saja membuat hati Thania tidak tenang karena ucapan dr. Fahmi tadi.Thania kemudian menghela napasnya dengan pelan. Hans menghampiri perempuan itu dan duduk di sampingnya.Mencium bahu istrinya itu lalu menatapnya dengan lembut."I'm here, Thania. Jangan takut, menghadapi ini sendirian. Ada aku yang akan menemani kamu menghadapi ini semua. Andai pun memang harus menderita penyakit seperti ayahnya, kita akan menyembuhkannya sampai sembuh. Oke?"Thania tersenyum tipis dan mengangguk dengan pelan. "Iya. Aku akan mencari cara apa pun itu. Bantu aku membesarkan dan menyembuhkan Devan, Hans."Lelaki itu mengangguk dan mengulas senyumnya. "Iya, Sayang. I'm promise." Hans mengusapi sisian wajah perempuan itu lalu mengecup keningnya dengan lembut."Aku nggak pernah menganggap Devan anak tiriku, Thania. Dia sudah aku rawat sejak masih dalam kandungan. Bahkan yang menemani saat dia keluar dari rahim kamu pun aku, yang menemani