"Tsa, kamu sudah tidur?" bisik Shaka seakan tidak rela istrinya mengabaikan begitu saja. Dia masih menginginkan malam panjang ini. "Hmm ... aku ngantuk Mas," keluh Tsabi dengan mata terpejam. Bukan mengabaikan, tetapi ia lelah dan terasa ngantuk berat. Shaka yang masih ingin ditemani itu mencari kesibukannya sendiri. Ia membuka ponsel yang terpaksa disilint itu dengan banyak panggilan dan pesan. Tentu saja dari orang-orangnya yang menghubungkan dengan informasi penting pekerjaannya. Pria itu hanya mengirim email balasan, selebihnya tidak menanggapi satu telpon pun. Dia memang berniat lepas dari semua rutinitas yang membelenggunya selama beberapa hari ini. Shaka tidak ingin waktu berdua mereka terusik yang akan membuat Tsabi curiga kembali. Butuh ketenangan untuk mencapai kepuasaan sejati. Melihat Tsabi yang sudah tertidur dan tak bisa diganggu gugat, akhirnya pria itu mengalah. Membiarkan Tsabi tetap terlelap damai sampai pagi. Keesokan paginya, Tsabi terjaga lebih dulu. Dia sudah
Setelah menghabiskan waktu liburan lima hari empat malam, Shaka langsung membawa istrinya pulang ke kediamannya. Mereka baru sampai satu jam lalu ketika Shaka menerima telepon dan mengharuskan pergi menit itu juga. "Aku keluar sebentar, ada urusan," pamit Shaka tumben-tumbenan. Walau tidak dijelaskan secara spesifik, dia pamit dengan Tsabi. "Urusan apa? Bukankah kita baru pulang? Apa kamu tidak lelah?" tanya Tsabi seperti biasa, selalu meminta penjelasan. "Pekerjaan Tsabi, aku absen cukup banyak waktu, jadi harus ada yang aku selesaikan di luar. Istirahatlah ... kamu pasti lelah." Shaka keluar setelah mengatakan itu semua. Tsabi menghela napas panjang. Dia memang lelah mengingat baru saja pulang. Sepertinya berendam akan sangat menyenangkan. Wanita itu menyempatkan diri untuk memanjakan tubuhnya. Menikmati hangatnya air membalut tubuhnya dengan aroma terapi. Tsabi menambah beberapa tetes minyak esensial ke dalam bak sebelum akhirnya tubuh itu masuk sembari memijit pelan. Seketik
"Bentar Non, biar kulihat dulu," ucap sang driver turun dari mobil. Langsung membuka kup mobil untuk melihat permesinan. Tsabi ikut keluar setelah menunggu beberapa menit Pak Supir tak kunjung masuk. "Gimana Pak? Apanya yang rusak?" tanya Tsabi mendekat. Ikut melongok di mana Pak Supir tengah memeriksa satu persatu penyebab mobilnya berhenti. "Astaghfirullah ... bensinnya habis Non, maaf tadi sepertinya masih, tapi ini udah nggak sampai pom. Saya cari bantuan dulu Non.""Waduh, kok bisa sampai kehabisan gitu Pak, jangan lama-lama ya Pak, suami saya sebentar lagi pulang, takutnya marah kalau Mas Shaka sampai rumah lebih dulu sebelum saya sampai," kata Tsabi waswas. Pasalnya pria itu sedari tadi sudah mengabari dalam perjalanan pulang. Perempuan itu takut Shaka sampai lebih dulu. "Ini masih jauh dari pom, Non, bagaimana kalau Non Tsabi memesan taksi lebih dulu," usul Pak Supir takut juga tuannya marah. "Iya, mungkin itu lebih baik," jawab perempuan itu mengiyakan. Belum sempat wani
Tsabi menghela napas kasar, mau tidak mau dia menuruti keinginan suaminya. Melepas hijabnya sebelum masuk ke kamar mandi. "Kamu terlihat tidak senang, susah ya membagi senyum untuk yang halal," protes Shaka melihat istrinya berwajah masam. "Bukan begitu Mas, akan kusiapkan airnya," kata Tsabi beranjak. Shaka menyusul istrinya setelah menghabiskan separo kopinya di meja. Dia begitu bersemangat setelah penat kerja seharian. Pria itu melangkah masuk sembari melepas kencing kemejanya, tanpa kata langsung memeluk Tsabi yang tengah sibuk menyiapkan sabun dan juga sampo di dekat bak."Mas, airnya sudah siap, aku tidak harus ikut berendam kan?" kata Tsabi memejam saat suaminya mengusak lembut belakang lehernya. "Hmm ... tapi menurutku berendam berdua jauh lebih mengasyikkan. Aku ingin kamu juga masuk. Sepertinya kita perlu mencoba sensasi yang berbeda.""Tapi Mas," ujar wanita itu kebingungan. Shaka seperti tak peduli, memutar tubuh Tsabi lalu mengecup bibirnya yang sedari tadi berusaha
"Apa yang kamu pikirkan Tsa? Tidur, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Shaka mendapati istrinya tak juga mengantuk. "Apa Mas akan pergi nanti setelah aku lelap?" balas Tsabi sungguh tak rela. Entahlah, malam ini dia tidak ingin ditinggal sama sekali. Shaka menatapnya dalam diam. Rasa hati memang terbesit untuk meninggalkannya, tetapi dia juga akan pulang lagi seperti biasa. Namun, nampaknya mata bening Tsabi masih cukup kuat berjaga. Membuat Shaka mau tidak mau mencoba lelap. Pria itu menemukan mimpinya lebih dulu."Mas, kamu beneran tidur?" tanya Tsabi mendekat. Tak ada sahutan membuat perempuan itu kembali mundur, menarik selimutnya lalu ikut terlelap menjemput pagi. Perempuan itu baru ingin terlelap saat terdengar vibrasi handphone yang menyeru. Tsabi kembali terjaga sembari meraih ponselnya. Ia bangkit terduduk. Itu HP Shaka, mungkin orang di sebrang sana tengah menunggunya, tapi siapa? Entahlah, karena Tsabi tak berani mengangkat telponnya. Takut dianggap melanggar privasi.
"Non Tsabi!" Jeritan itu sampai ke telinga Bik Lusi yang tengah sibuk di dapur. Dia setengah berlari menghampiri nyonya rumah. "Apa yang terjadi Non?" tanya Bik Lusi tergesa. "Astaghfirullahalazim ya Allah ... itu Bik, kotaknya," ucap Tsabi dengan tangan menahan perih. "Astaga! Tangan Non Tsabi berdarah," ucap Bik Lusi tertegun. Dia ikut melongok kotak paketan yang tadi diterima olehnya dari seorang kurir. "Allahu Akbar ... apa ini Non?" tanya Bik Lusi keheranan. Sebuah jerami kertas dengan tumpukan silet abstrak dan sebuah boneka bayi berdarah di bawahnya. Terlihat begitu menyeramkan. Tsabi yang membukanya kurang hati-hati sampai terluka. "Singkirin Bik, aku nggak mau lihat itu," kata wanita itu shock seketika. Entah siapa yang mengirimnya dan apa maksudnya. Yang jelas insiden tadi membuat Tsabi tak tenang. "Siap Non," jawab Bik Lusi membuangnya ke sampah. Dia menatap dengan curiga, sayangnya tadi tidak begitu jelas saat menerima sebab orang tersebut memakai penutup wajah, top
"Kita mau ke mana lagi Mas?" tanya Tsabi saat Shaka meminta untuk mengemas barang. "Pindah Tsabi, tempat ini sudah tidak aman," kata Shaka tentu saja demi kebaikan bersama."Pindah lagi?" Jujur Tsabi agak keberatan, dia mulai nyaman di sana walau sempat ada teror. Daripada di rumah besar yang banyak penjaganya. Seperti penjara baginya, tanpa Tsabi tahu, kalau semua itu Shaka lakukan demi untuk menjaga keamanan di rumahnya. "Tidak ada waktu untuk membantah, menurutlah ... aku tidak ingin kejadian seperti tadi terulang," ucap Shaka membuat Tsabi akhirnya terdiam menurut. Sangat terasa sedari awal hidup dengan Shaka banyak kejadian yang janggal. Walaupun Tsabi mencoba memahaminya, dia tetap gagal paham. "Bik Lusi bisa mengosongkan rumah ini besok. Tolong pindahkan semua barang-barang Tsabi dengan mobil yang besok akan menjemputnya. Kami akan meninggalkan tempat ini malam ini," ujar Shaka sebelum beranjak. "Saya duluan Bik, hagi-hati. Jangan lupa kunci pintunya.""Siap Non," jawab Bik
"Tsabi, apa yang kamu lakukan di situ? Bukankah seharusnya istirahat di kamar?" seru Shaka melihat istrinya terdiam. "Ya, aku baru saja mengambil minum," jawabnya sembari menatap perempuan di samping Shaka. Perempuan di sebelah Shaka hanya menatap dengan sinis tanpa menyapa. Membuat Tsabi bingung ingin bertanya. "Angel, kenapa menatap seperti itu? Beri salam yang sopan untuk kakak iparmu," tegur Shaka pada adik angkatnya. Angel selangkah lebih dekat, dia mengulurkan tangannya. "Angel, adik kesayangan Shaka," ucap perempuan itu dengan nada angkuh. "Tsabi," jawab wanita itu menerima uluran tangan Angel dengan sopan. "Aku ke kamar dulu Mas," pamit Tsabi karena bingung hendak menanyakan apalagi. Shaka mengangguk tanpa menjelaskan apa pun, sementara Angel berjalan di sampingnya seraya menggamit tangan Shaka dengan manja. Hal yang membuat pemandangan itu menggelikan. "Adik angkat, kok Shaka nggak pernah cerita? Apakah dia tinggal di sini juga," gumam Tsabi sembari melangkah ke kamar
"Tapi apa Mas?" Tsabi yang penasaran langsung mencicipinya. Tidak ada masalah, rasanya juga cukup enak. Namun, ia sedikit eneg ketika mendapati isian bawang bombainya."Hehehe. Seharusnya kamu bikin lebih banyak lagi. Aku suka, kalau ukurannya kecil gini kurang sayang.""Ish ... bikin worry saja. Habisin semuanya Mas, aku kenyang.""Kapan kamu makan?" Sedari bangun Shaka belum melihat istrinya mengisi perutnya."Lihatin kamu udah kenyang. Aku belum lapar, udah minum susu tadi," jawab Tsabi benar adanya."Sini aku suapin," ujar pria itu membagi sisa gigitannya.Sebenarnya Tsabi agak mual dengan bawang bombay, tetapi isian itu kurang menarik tanpa umbi satu itu.Tsabi baru mengunyah beberapa suapan, tetapi dia merasa semakin eneg. Wanita itu langsung beranjak dari kursi seraya menutup mulutnya.Shaka yang melihat itu langsung berdiri menyusul. Paling tidak bisa melihat istrinya dalam kesusahan."Sayang, maaf, kamu beneran mual?" ucap pria itu iba. Kasihan sekali melihat Tsabi yang menda
"Kamu juga capek kan Mas, kenapa mijitin?" tanya wanita itu sembari menyender di kepala ranjang. "Lelahku hilang saat melihat senyum kamu sayang," ujar Shaka jujur. Sedamai itu ketika menatap wajahnya yang teduh. Selalu menenangkan. "Bisa aja kamu Mas," jawab Tsabi tersenyum. Ditemani gini saja sudah mengembalikan moodnya. Apalagi dipijitin begini, sungguh Mas Shaka suami yang romantis dan pengertian. Perlahan netra itu mulai berat. Seiring sentuhan lembut yang mendamaikan. Tsabi terlelap begitu saja. Melihat itu, Shaka baru menyudahi pijitanya, dia membenahi posisi tidur istrinya agar lebih nyaman. Sebenarnya ada hasrat rindu yang menggebu, apalagi memang pria itu sudah beberapa hari tak berkunjung. Namun, nampaknya waktu dan keadaan kurang memberikan kesempatan. Tsabi juga terlihat lelah akibat aktivitas seharian di luar. Shaka akan menundanya besok sampai waktu memungkinkan. Agar keduanya sama-sama nyaman. Terutama Tsabi yang saat ini tengah hamil muda. Kadang moodian. Shaka h
"Nggak jadi aja ya, perasaan aku nggak enak," kata Shaka yang sebenarnya takut kalau nanti istrinya bakalan sakit hati lagi. "Kenapa, kalau dia nggak mau ketemu sama aku, mungkin mau dijengukin kamu. Kita bisa bawakan makanan kesukaan Angel dan mukena. Aku yakin dia mau berubah. Kita tidak boleh memusuhinya Mas.""Kenapa sih kamu jadi orang baik banget. Dia udah jahat banget loh sama kamu, sama keluarga kita. Wajar kan kalau pada akhirnya aku nggak respect.""Sangat wajar, itu namanya naluriah. Ketika seseorang disakiti terus membalas. Aku cuma mau kasih ini Mas, mana tahu dia bisa terketuk hatinya untuk melakukan kebaikan.""Oke, nanti aku antar," ucap Shaka pada akhirnya. Mereka benar-benar mengunjungi Angel yang saat ini dalam tahanan. Akibat perbuatannya, Angel harus menerima sanksi berat. Mendapatkan kurungan yang tak sebentar. Karena mencoba melakukan penganiayaan dan juga pembunuhan."Ngapain kalian ke sini? Puas lihat aku di sini seperti ini," sentak Angel menatap sinis pasu
Sepekan telah berlalu, tapi kesedihan nampaknya masih membekas di hati Shaka. Suasana hatinya beberapa hari ini sedang tidak baik-baik saja. Beruntung Tsabi adalah istri yang begitu perhatian dan pengertian. Wanita itu sangat sabar menemani suaminya yang dalam suasana duka.Hari ini pria itu sudah mulai beraktivitas kembali seperti biasanya. Toko dan bengkelnya juga sudah mulai dibuka kembali. Setelah sepekan tutup total karena dalam suasana berkabung. Ibunya memang belum meninggalkan banyak kenangan manis dengannya. Namun, sebagai seorang anak pasti sangat kehilangan ditinggalkan orang yang telah melahirkannya untuk selamanya. "Mas, ini ganti kamu hari ini," ujar Tsabi menyiapkan pakaian ganti suaminya. Walaupun beraktivitas di samping rumahnya, tentu Tsabi tak pernah lupa mengurusi pakaian suaminya juga untuk kesehariannya. Santai, tapi bersih dan tertata. "Makasih sayang," jawab Shaka memakainya begitu saja di depan istrinya. Sudah tidak tabu lagi. Bahkan menjadi pemandangan men
Tepat pukul lima sore hari Nyonya Jesy menghembuskan napasnya yang terakhir. Shaka sangat terpukul dengan kepergian ibunya. Pria itu tersedu sembari membacakan ayat-ayat suci di dekat ibunya. Tsabi mengusap lembut punggung Shaka setelah menyelesaikan surat yasin menutup doa ibu mertuanya. "Yang ikhlas Mas, biar mommy tenang," ucap Tsabi menguatkan. Dia tahu ini berat, hanya doa terbaik untuk almarhum mommy yang sekarang bisa ia lakukan. Wanita itu langsung menghubungi keluarganya. Ummi Shali, Ustadz Aka, dan Khalif serta beberapa orang abdi dalem langsung bertolak ke rumah sakit. Tentu saja untuk mengurus kepulangan dan juga pemakamannya. Beberapa orang lainnya nampak sudah bersiap menunggu jenazah pulang ke rumah duka. Suasana mengharu biru saat jenazah itu tiba dan hendak disholatkan. Ustadz Aka sendiri yang mengimaminya. Berhubung waktu belum terlalu malam, almarhum langsung dikuburkan malam itu juga. Tepatnya setelah sholat maghrib. Semuanya seakan berjalan begitu cepat. Padah
"Tsabi, apa yang terjadi sayang?" Ummi Shali dan suaminya langsung bertolak ke rumah menantunya begitu mendapatkan kabar dari Shaka. "Zayba jatuh Ummi, dia sepertinya sangat kaget," jelas Tsabi mengingat bocah kecil itu terlepas dari troli. Salah satu karyawan toko yang menggendongnya dan langsung mengamankan bayi itu. "Astaghfirullah ... Mas, cucuku gimana ini. Kita bawa ke tukang pijat.""Kenapa bisa sampai seteledor itu menjaga anak kecil. Bukankah kamu di rumah?""Tsabi tidak enak badan abi, tadi habis periksa. Aku nitip ke mommy, tapi malah ada musibah begini.""Kamu sakit?" tanya Ummi Shali menatap dengan serius. "Sakit, tapi sebenarnya—" Tsabi terdiam, agak ragu berkata jujur saat ini. Namun, bukankah kabar baik itu harus berbagi. "Sebenarnya apa?" tanya Abi Aka giliran yang menatapnya. "Zayba mau punya adik, Ummi," kata Tsabi malu dan ragu membagi kabar bahagia tersebut. "Kamu hamil lagi?" tanya Ummi cukup kaget. Baby Zayba belum genap satu tahun sudah mau punya bayi. Ba
"Ide menarik, boleh dicoba kalau nanti gagal.""Maaf ya, belum bisa bahagiakan kamu," ucap Shaka tiba-tiba. Baru saja mau bangkit, sepertinya ada saja halangannya. "Aku nggak ngerasa gitu kok, maaf juga kalau masih banyak mengeluh selama jadi istri kamu." Tsabi mencoba menerima dan bersabar dengan ujian yang datang dari keluarga Shaka. Dia juga harus bisa menerima keluarganya juga bukan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hampir satu purnama Angel menumpang di rumah mereka. Semua Tsabi lalui dengan tidak mudah. Karena wanita itu sering berulah dengan sengaja. Beruntung Shaka yang pengertian memperlakukan Tsabi dengan penuh perhatian. "Sayang, kamu pucet sakit?" tanya Shaka memperhatikan istrinya yang sepertinya kurang enak badan. "Agak pusing Mas, perlu minum obat kayaknya." Beruntung ini hari libur, jadi Tsabi tidak harus berangkat mengajar. "Ya sudah tiduran saja, mumpung libur juga. Tidak usah mengerjakan apa pun. Zayba hari ini full sama abi.""Makasih Mas," jawab
"Nggak bisa Mas, aku kan kemarin sudah izin. Kamu sarapan dulu ya, terus minum obat. Nanti biar Zayba sama Mbok Tini. Kemarin juga seharian sama Mbok Tini."Shaka yang tengah rebahan meraih pinggang istrinya agar duduk makin dekat. Pria itu memposisikan kepalanya tepat di pangkuan istrinya dengan manja. "Obatnya kamu," katanya sembari menenggelamkan wajahnya ke perut Tsabi. Tangan kanannya memeluk erat. Seolah tidak mengizinkan wanita itu untuk beranjak dari sisinya."Aku bikinin sarapan ya, terus minum obat.""Pingin sarapan kamu, yank, aku tidak semangat," kata pria itu mode rewel. Bisa begini juga ternyata cowok yang super dominan itum"Dih ... aku belum bersih lah. Tapi udah mau sembuh kok. Kamu kenapa jadi manja gini sih Mas. Nanti aku kabari kalau udah selesai.""Kangen, namanya juga kangen ya gini. Kamu cuek banget dari kemarin."Repot kalau suaminya mode rewel. Sakit sedikit manjanya ngalahin bayi. Tsabi tidak leluasa bergerak sama sekali. Tiba-tiba Zayba juga merengek. Tsab
"Kamu ngapain sih Mas ngikutin mulu, tidur sana!" omel Tsabi melihat suaminya mengekor dirinya. "Ya itu Zayba rewel, mana tahu kamu butuh bantuan.""Nggak, aku pikir kamu malah nggak ingat pulang," jawabnya ketus. Efek lelah dan juga tubuhnya sedikit tidak enak badan, membuat Tsabi sewot sendiri. "Kok ngomongnya gitu, aku pasti pulang lah. Ya walaupun akhirnya malam. Maaf, tadi ikut ngaji dulu.""Ya nggak pa-pa kan, aku juga nggak pernah ngelarang juga. Kamu mau ngapain aja terserah kamu. Lagian ada Khalif kok yang bisa bantuin ke mana-mana.""Memangnya tadi ke mana? Kamu nggak telpon kan?""Seharusnya kamu ingat memberi kabar. Bukannya nungguin aku hubungi kamu. Memangnya aku sempat apa telpan telpon terus Zayba sakit begini.""Zayba masih sakit?" Tsabi tidak menjawab, melainkan menatapnya dengan merotasi matanya jengah. Bukankah pria itu tahu tadi pagi juga Tsabi sudah mengeluh kalau bayinya sakit. Apa seorang pria tidak sepeka itu. Perempuan itu kembali masuk ke kamar seraya me