"Aku tidak mau hamil! Aku tidak mau hamil!"
Francesca berteriak histeris.
"Apa yang kau katakan! Bagaimana bisa seorang wanita tidak menginginkan anak?" Enrico memutar tubuh Francesca dan memandang wanita itu dengan tatapan tak mengerti.
"Aku tidak mau anak darimu! Aku tidak mau!"
"Kau …." Suara Enrico tercekat. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Setelah percintaan mereka yang dahsyat, di saat Enrico sudah terbang ke awan-awan, tiba-tiba Francesca menghempaskan dirinya dengan sangat keras. Sakit! Hati Enrico seakan tercabik-cabik dengan keras.
Di saat dia menginginkan seorang anak dari rahim Fra
"Francesss … Francesca! Bagaimana kabarmu. Mommy sangat merindukan dirimu, Sayang.""Mommy, Frances juga rindu dengan Mommy. Rindu semuanya." ucap Francesca dengan senyuman di wajahnya.Hari ini setelah Enrico berangkat bekerja, Francesca segera melakukan video call dengan Diana. Dia berlatih memasang senyuman manis pada wanita yang kasih sayangnya melebihi wanita yang melahirkan dirinya.Masih jelas teringat kesepakatan atau mungkin lebih tepatnya ancaman yang diucapkan Enrico kepadanya. Francesca memerlukan sosok ibu untuk menenangkan kegundahan hatinya, tanpa harus menceritakan permasalahan yang ia hadapi."Kenapa kau tidak datang menemuiku, Frances. Haruskah mommy datang ke Italy mengunjungimu, bertemu dengan pria yang sudah m
Di sebuah rumah yang sangat besar dengan penjagaan ketat tampak seorang wanita cantik sedang gelisah. Ia berjalan mondar-mandir tanpa henti dengan tangan yang terkepal memukul tangan lainnya.Gerakannya yang tak menentu itu membuat para pelayan mundur dengan menundukan kepala. Satu tindakan yang salah saja, akan mengakibatkan diri mereka celaka.Wanita itu mulai menengadahkan wajahnya menatap ke arah sosok pria setengah baya yang masih tegap. Pria itu masuk dengan senyum khas yang tersungging di wajahnya.Rambut hitam kelam berombak dan klimis, ditambah dengan kumis di wajahnya yang bersih, membuat pria berusia lima puluh lima tahun itu tampak lebih muda lima tahunan.Pria itu duduk di sebuah kursi kayu yang sudah diberi bantalan empuk. Ia menyilangkan kakinya dan
Maka disinilah Bruno Varoni berada saat ini, di dalam Mansion Enrico. Pria itu duduk dengan angkuh layaknya seorang penguasa. Ia meniupkan cerutu ke arah Francesca yang duduk di hadapannya."Tuan, bisakah anda mematikan cerutu tersebut?" pinta Francesca dengan sopan."Aku menyukai cerutu ini, kenapa harus aku matikan?" tanyanya sinis dengan nada suara yang lembut."Baiklah jika begitu. Silahkan, menikmati cerutu Anda, saya permisi." Francesca beranjak dari duduknya."Beginikah sopan santun dalam menerima tamu penting?" Bruno tidak suka dengan cara Francesca yang tampak tidak menghormatinya."Tamu penting? Saya tidak mengenal Anda dan lagi pula kedatangan Anda bukan untuk mencari saya, bukan?" Francesca dengan tenang men
"Kau sudah berani menantangku. Kita lihat bagaimana aku akan menghancurkan dirimu dan seluruh orang yang kau perdulikan. Aku akan membuatmu menangis darah!"Bruno Varoni berdiri dengan menuding ke arah Enrico. Wajahnya sudah menghitam karena emosi yang tidak dapat ia kendalikan. Seorang donatur yang selama ini ia manfaatkan kelemahannya, bersikap tidak peduli.Enrico tidak begitu saja menyahuti kemarahan pria tua itu. Ia bersikap tenang dan menatap sekutu yang berubah menjadi musuh dengan senyuman tipis.Enrico menjentikan jemarinya, tak lama kemudian seorang pengawal telah datang di dekat mereka."Tuan Bruno Varoni. Akan aku jaga keluargaku sebaik mungkin. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan membiarkan benalu menggerogoti kami. Jika ada pihak
"Kakak! Apa yang kau lakukan dengan Gubernur gila itu? Kau memutuskan untuk menjauhi dia? Kau tahu apa akibatnya?" Leonardo menemui Enrico di ruang kerjanya dengan penuh kemarahan."Tenanglah Leonardo." Enrico meletakan kacamata bacanya dan memijit keningnya."Tenang bagaimana? Dia sudah menyebarkan desas desus mengenai perusahaan kita!"Leonardo melemparkan sebuah koran yang baru saja dia baca. Di bagian depan koran tersebut tampak jelas dituliskan, jika Gubernur Bruno Varoni menegaskan akan mengecek data perusahaan yang dikhawatirkan melakukan tindakan manipulasi data pajak. Dia menekankan pada perusahaan besar yang melakukan ekspor impor.Bukan itu saja, di sana tampak juga berita besar jika Rebecca Varoni, artis besar sedang dalam keadaan depresi akibat dikhian
Hari sudah larut malam, namun Enrico masih berada di dalam ruang kantornya. Pria itu memutuskan untuk tetap tinggal di pabrik. Wartawan yang berkumpul di luar gedung, membuat Enrico memutuskan untuk tetap tinggal.Sebenarnya ia bisa saja menghindari wartawan dengan mudah. Tetapi pria itu memilih untuk terkurung dalam ruang kantornya di dalam pabrik pengolahan minyak zaitun, berkutat dalam pekerjaan dan segala cara untuk menghadapi Gubernur.Enrico lebih takut dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya, ia khawatir akan berakhir menyakiti Francesca. Monster dalam dirinya terus mengaum, memberontak dengan kuat.Enrico bahkan terpaksa mengkonsumsi obat penenang untuk menghentikan Monster yang berusaha kembali menguasai pikirannya."Tuan, Anda harus beristirah
"Pagi Kak Conrad, tumben sepagi ini kau sudah meneleponku?" Francesca baru saja menggeliat dari tidurnya yang tak bisa lelap. Ia melirik ke arah jam di dinding yang menunjukan pukul enam pagi, itu artinya pukul dua belas malam di Miami. Sungguh mengherankan jika Conrad menghubunginya pada jam seperti ini. Apakah ada hal yang penting? "Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya panik. "Kau ini, harusnya aku yang bertanya padamu." sahut Conrad dengan jengkel. "Padaku?" Francesca mengernyitkan keningnya. "Aku sedang dalam perjalanan menuju bandara. Malam ini juga aku akan menuju ke Venice." ujar Conrad. "Kakak mau menemuiku atau ada perjalanan bisnis?" Francesca menegakkan tubuhny
Serra tidak dapat berbuat apapun lagi. Ia hanya memandangi punggung Francesca yang sudah menjauhinya. Gadis pelayan yang masih muda itu memutuskan untuk memberitahukan kemauan Francesca pada Devonte."Aku tidak bisa mencegahnya lagi, Devonte. Nyonya akan sangat curiga jika aku menghalangi dirinya," ucap Serra dengan resah. "Bagaimana keadaan tuan Enrico, apakah dia baik-baik saja?"Terdengar helaan napas panjang Devonte di seberang sana. Serra menanti dengan cemas tindakan yang harus diambilnya."Biarkan Nyonya Francesca datang ke perusahaan. Mungkin dengan melihat bagaimana dia mencemaskan tuan, hatinya bisa tersentuh dan peprangan batin dapat dikendalikan.""Baiklah. Davonte ...." Serra menghela napas panjang sebelum mengeluarkan apa yang ada di dalam benaknya.
SATU TAHUN KEMUDIAN "Kau sudah pastikan kalau bekal Frans sudah disiapkan Denisa?" Napas Francesca tersengal ketika menanyakan hal itu. "Iya sudah. Jangan mengkhawatirkan hal itu. Frans akan baik-baik saja." Enrico tampak memegang tangan Francesca dengan cemas. Butiran keringat dingin menghiasi kening wanita cantik yang bertambah pucat itu. Tangan dinginnya dalam genggaman tangan Enrico yang hangat. "Frans … apakah … dia menanyakanku?" Sesaat setelah rasa sakitnya mereda Francesca kembali mengkhawatirkan Frans, anak sulungnya. "Tentu saja. Dia sangat merindukanmu. Kau harus kuat dan sehat ya. Kami memerlukan dirimu." Enrico dengan sabar mengelus rambut Francesca.
"Duh, Kak Francesca cakep banget." Anna menautkan tangannya di lengan kakak perempuannya. "Kau juga cantik sekali Anna dan kau juga sangat menawan. Tak di sangka kalian bisa tampil sangat anggun dan dewasa." Di tengah keluarganya, Francesca merasa kebahagiaannya nyaris sempurna. "Kita 'kan sudah dewasa bukan anak-anak lagi," sahut Anna dan Adelaide bersamaan. "Iya, sudah bisa berpacaran." Francesca menertawakan wajah mereka yang seketika manyun. "Apa ada yang sudah memiliki pacar?" "Anna itu banyak yang 'nembak' tapi dia suka pilih-pilih." "Apaan sih, Adelle!" Semburat merah muda membuat wajah Anna bertambah cantik. "Benarkah? Sssttt pacaran saja, jangan seperti
"Nyonya Francesca Torres? Mari lewat sini." Seorang wanita yang anggun menghampiri Francesca.Francesca menatap heran ke arah seorang wanita tak dikenalnya yang bergaun indah. Sebuah alat terselip di telinga yang membuat dia bisa berkomunikasi dengan orang lain. Wanita itu segera memimpin langkah dan memisahkan Denisa dari Francesca. Meskipun heran Francesca tetap mengikuti langkah wanita yang membawa dirinya ke pintu utama.Anggukan kecil dari wanita tersebut merupakan tanda yang dimengerti oleh pengawal, mereka segera membuatkan pintu.Mata hazel Francesca seketika menyipit ketika melihat kemewahan dan kemeriahan acara di dalamnya. Dia termangu menatap ratusan pasang mata yang seketika menatap ke arahnya seolah mereka sudah menantikan kehadirannya.Musik lembut k
Francesca mematut dirinya di depan cermin, perubahan penampilan yang sangat luar biasa terjadi pada dirinya saat ini. Wajah polos, imut dan manis itu telah berubah penuh riasan memukau yang sangat dewasa dan anggun.Dia hampir tak percaya ketika Leonardo mengirimkan seorang penata rias untuk memoles wajahnya dengan warna-warni yang senada. Kecantikan Francesca tampak lebih menonjol setelah tangan-tangan tampil tersebut menghiasi wajahnya. Wajah mungilnya terlihat sangat berbeda membuatnya merasa seakan menatap sosok lain di pantulan cermin."Anda luar biasa cantik dan sangat anggun, Nyonya. Bagaikan putri dalam dongeng." Perias itu memuji kecantikan Francesca. Dia berulang kali memutari tubuh wanita cantik yang baru saja dia dandani.“Sedikit parfum lagi anda akan spektakuler." Perias itu memilih b
"Bagaimana jika mereka bahagia tanpa kehadiranku?" Francesca mengulang pertanyaan Leonardo dengan putus asa.Hati wanita itu seakan terguncang mendengar perkataan Leonardo. Benarkah kehadirannya selama ini tidak pernah memberikan kebahagian? Bagaimana mungkin semua kebahagiaan yang mereka rasakan selama beberapa bulan ini hanya sandiwara?Apakah Enrico begitu marah padanya sehingga harus pergi begitu saja.Jikalau sedari awal dia menceritakan kepada Enrico mengenai status dirinya, apakah semua ini tidak akan terjadi?"Apakah Enrico berkata seperti itu padamu?" Francesca tampak sangat tertekan.Leonardo mengangkat kedua bahunya acuh seraya menyandarkan punggung ke bangku dan menatap ke arah taman. Dia mengalihkan p
"Dad! Apa passport Anna, Adel dan Archie sudah siap?" Anna menghubungi Andrew Knight melalui video call."Sudah beres, Princes.""Lalu, kapan kita mulai berangkat?" Adelaide tiba-tiba sudah di samping saudara kembarnya."Sudah tidak sabar semua ya, my Princes?" Andrew semakin senang menggoda kedua putri kembarnya yang beranjak dewasa."Iyalah, ini kan pertama kalinya kami bisa keluar negeri." serentak Adel dan Anna menjawab perkataan Daddy Andrew."Bukannya kalian sudah pernah ke Indonesia?""Beda Daddy. Ini pertama kali kita ke Eropa dengan pesawat pribadi." Anna mencibir ke arah Andrew Knight."Benar! Iya kalau kak Conrad
Francesca benar-benar merasa terpuruk. Keadaannya sangat labil dan lemah. Wanita cantik itu terlihat kacau dan terus menangis meskipun tidak sekeras sebelumnya. Serra sudah membawa Francesca kembali ke Mansion utama dan menemani wanita itu untuk berbaring di tempat tidur, tapi Francesca menolak dan bersikeras untuk menanti kedatangan Enrico dan Frans di ruang tamu. Francesca bahkan tidak menyentuh makanan yang tersedia hanya segelas coklat hangat yang dipaksakan oleh Serra. Aroma manis dan rasanya yang legit hanya bisa sedikit saja menenangkan hati Francesca. “Ini sudah malam Serra … mereka tidak juga kembali." Suaranya terdengar serak. "Cobalah berpikir tenang dan positif. Enrico tidak mungkin menjauhkan dirim
"Wah, ada telol ayam di kepala Flans dah sekalang." Tangan mungil Frans menggosok keningnya yang sudah membengkak sebesar telur ayam.Gerakan lucu dari wajah imut yang meringis membuat Enrico tertawa sedangkan Francesca tersenyum lebar. Enrico tak hentinya membelai kepala Frans penuh kasih sayang."Muka Flans jelek ya?" Bibir mungil Flans tampak manyun."Nggak. Frans lucu, Frans tetap tampan meskipun ada telur di sini." Enrico memencet dahi anaknya."Aow! Sakit Pappa." Frans menjerit dengan sorot mata marah."Iya, maafkan Pappa. Frans kalau jalan hati-hati ya, tidak perlu berlari dengan kencang apalagi di atas lantai marmer, licin.""Tadi Flans kangen Pap
Baru saja Devonte berbalik dari pintu ruangan Enrico, dia harus kembali berhadapan dengan Francesca. Tak dapat dia gantikan wajah kecemasan dengan senyuman tenang, karena wanita itu sudah menyadarinya."Apa terjadi sesuatu? Kenapa kau tampak muram?" pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Francesca hanya dijawab dengan hembusan nafas Devonte."Apa terjadi sesuatu dengan Enrico? Kalian bertengkar? Bagaimana keadaannya saat ini?" Francesca bergerak maju melewati Devonte dan hendak memegang gagang pintu."Jangan masuk."Tangan Francesca berhenti untuk menggerakkan gagang pintu, dia membalikan tubuhnya dan menatap heran ke arah Devonte."Dia sudah tahu." Perkataan sepintas Devonte masih menimbulkan pert