Ular Raksasa jelmaan dari Sharma mendarat di halaman depan sebuah istana yang berdiri megah dengan benteng setinggi 20 tombak dan dijaga ketat oleh ratusan prajurit bertelinga runcing. Mereka semua adalah makhluk dari bangsa peri. Dewi Arimbi turun dari atas kepala ular raksasa itu disusul Bima Sena dan yang lainnya.Ratusan prajurit berpakaian dan bersenjata lengkap menyambut kedatangan Dewi Arimbi dengan berbaris di sepanjang jalan menuju pintu masuk istana. Bima cukup merasa kagum dengan sambutan yang ditunjukkan para prajurit Kerajaan Peri tersebut. Meski Dewi Arimbi berasal dari dunia manusia yang kini menjelma menjadi seorang Dewa, mereka tetap menghormati pemimpin mereka dengan sungguh-sungguh.Hanya saja, beberapa mata tertangkap oleh Bima menatap kearahnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Bima sadar, tubuhnya terlalu mencolok saat ini. Dia sedikit menyesal memiliki tubuh Dewa Bumi tersebut setelah bertemu dengan Dewi Arimbi, cinta lamanya."Kalau tubuhku terus sebesar ini, t
Meja itu berbentuk bundar dan berukuran sedang untuk digunakan sebagai tempat minum teh sambil berbincang. Dengan cahaya lampu dari beberapa ekor kunang raksasa yang ditampung di dalam botol kaca besar, tempat itu menjadi terang benderang meski malam sudah datang.Bima dan Dewi Arimbi nampak duduk saling berhadapan. Dewi Arimbi duduk di kursi kayu sedangkan Bima duduk bersila di lantai kayu. Karena tubuhnya yang tinggi besar, meski dia duduk tetap saja dia lebih tinggi dari Dewi Arimbi yang duduk diatas kursi.Setelah kepulangan Dewi Lanjar dan anak-anaknya, Dewi Arimbi meminta Bima untuk menemui nya secara pribadi di ruangan khusus yang dia sediakan di dalam ruangan istirahatnya. Awalnya Bima menduga yang tidak-tidak dan merasa canggung jika sampai apa yang dia pikirkan menjadi nyata. Dia mengukur-ukur benda miliknya yang di perkirakan sebesar paha pria dewasa. "Tentu tidak akan muat..." batin Bima dengan pikiran kotornya yang mulai merasuk di kepalanya. Hal itu juga terpikirkan ole
Bima Sena tertegun mendengar apa yang Dewi Arimbi katakan. Dia baru saja mengetahui dua takdir yang akan dia alami di masa depan."Aku akan mati dan tak bisa bereinkarnasi. Tapi Azalea akan hidup...Apakah aku dan dia saling bertukar nyawa?" gumam pria itu sambil mengusap dagu."Bukan bertukar nyawa. Itu murni takdir yang tidak bisa dihindari. Karena waktu pastinya aku sama sekali tidak tahu. Kau akan mati dimana pun aku tidak tahu. Tapi mengenai kebangkitan Ratu Azalea, aku tahu siapa yang membangkitkan dia...Dan itu tidak bisa aku beritahukan padamu," kata Dewi Arimbi."Lalau, bagaimana dengan hubungan kita? Kau dan aku terpisah bukan karena kita yang mau...Apakah tidak ada kelanjutan atau keputusan dari hubungan kita di masa lalu?" tanya Bima.Dewi Arimbi tersenyum."Maaf kakang, kau dan aku tidak ditakdirkan saling memiliki...Tapi, kita bisa melawan takdir...Dengan melakukan pengorbanan darah..." kata Dewi Arimbi."Pengorbanan darah...? Apa itu?" tanya Bima."Kita berdua akan mengu
Sukma Bima Sena dan sukma Dewi Arimbi sama-sama keluar dari raga kasarnya. Mereka berdua melayang di atas meja bundar tersebut dan saling tatap. Bima yang terlihat gagah dengan sosok aslinya membuat Dewi Arimbi tak mampu lagi membendung perasaan rindu yang selama ini menderu di dalam relung hatinya. Dia pun langsung memeluk pria itu dengan erat sambil mencurahkan air matanya. Wanita yang kuat dan tak Terkalahkan itu terlihat lemah di hadapan Bima Sena yang memeluk tubuhnya dengan lembut."Arimbi...Aku sangat merindukan dirimu..." bisik Bima."Aku lebih dari yang kau rasakan...Sudah sangat lama, aku merindukanmu. Kau pasti juga memikirkan Azalea bukan...? Jadi, siapa disini yang tersiksa?" kata Dewi Arimbi.Bima tersenyum sambil mengusap rambut panjang wanita itu dengan lembut dan penuh kasih sayang."Aku tahu itu...Kau lebih menderita dibanding diriku...Tapi, tetap saja...Aku sama menderitanya saat kau hilang dulu dan tahu-tahu sudah menjadi milik orang lain...Apakah kau tidak tahu ba
Bima Sena duduk di atas bangunan menara yang menjulang tinggi ke langit. Dia menatap kearah langit dengan tatapan mata kosong. Dia benar-benar tak habis pikir, kejadian yang dia rasakan semalam terasa sangat nyata. Tapi kenapa Dewi Arimbi seolah tidak merasakan apa-apa? pikir Bima.Disaat dia tengah berpikir keras dengan apa yang terjadi semalam, seseorang datang menghampiri dirinya. Dia adalah Sharma yang sebelumnya mengantar dia menuju ke Kerajaan Peri tersebut."Sepertinya anda sedang banyak masalah? Apakah ini menyangkut Dewi Arimbi?" tanya Sharma sambil duduk di sebelah pria itu.Bima menghela napas dalam-dalam."Entahlah Sharma...Apakah kau pernah menjalin kasih dengan seorang pria?" tanya Bima.Mata wanita cantik itu membesar mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Bima. Dia nampak bingung harus menjawab apa."Belum..." ucapnya sambil menunduk."Haah...Sudah aku duga. Kau tak akan tahu perasaanku saat ini seperti apa jika kau belum pernah menjalin cinta dengan siapa pun,
"Kau datang membawa banyak orang Patih Bima?" ucap Dewi Lanjar sambil tersenyum.Bima membalas senyuman tersebut."Mereka yang datang dengan sukarela untuk mengantarku." sahut Bima sambil kedua matanya tak lepas menatap dua sosok yang melayang di sebelah kanan dan kiri Dewi Lanjar. Seolah tahu apa yang tengah Bima tatap wanita itu pun tersenyum."Mereka adalah pengawal setiaku. Balung Ireng dan Balung Putih. Kau bisa melihat mereka adalah hal yang luar biasa," kata Dewi Lanjar."Aku pernah melihatnya dulu. Meski samar, aku masih mengingat mereka." kata Bima."Oh, begitukah? Hmmm...Sepertinya Dewi Arimbi mengalami hal yang luar biasa semenjak kedatangan dirimu, Patih Bima..." kata Dewi Lanjar."Sepertinya kau tahu hal itu sebelum aku memberitahumu. Apakah kau tahu tentang sumpah di Kerajaan Peri Pelindung?" tanya Bima.Dewi Lanjar menggelengkan kepalanya."Aku kurang paham. Tapi aku pernah mendengar bahwa setiap orang yang ingin menjadi penguasa di kerajaan itu harus berani bersumpah.
Bima dan rombongan Dewi Lanjar mendarat di danau Probo Lintang. Rupanya disana telah menanti banyak rombongan lain. Mereka antara lain adalah rombongan dari Laut Selatan yang dipimpin oleh Dewi Nawang Wulan. Lalu ada rombongan dari Kerajaan Wates yang dipimpin oleh Dewi Ambarwati bersama Dewi Maharani serta Mahadewi. Dan rombongan yang terakhir adalah Dewi Kematian alias Iyana Tunggadewi. Ternyata mereka saling berhubungan untuk berkumpul di atas danau tersebut dan masuk kedalam Kerajaan secara bersama-sama. Hal itu dikarenakan mereka berasal dari alam bawah kecuali Dewi Maharani, ibu dari Raja Bayu Jaga Geni."Kau datang cukup terlambat adik," ucap Dewi Nawang Wulan begitu Dewi Lanjar berhenti didepan mereka. Ratu Laut Utara bertemu dengan Ratu Laut Selatan. Dewi Lanjar turun dari Kereta Kencana bersama dengan Bima, Jung Seo dan Antasena yang langsung nangkring di pundak sang kekek. Dewi Nawang Wulan dan yang lainnya sama-sama memicingkan mata menatap kearah Bima Sena yang memiliki
Akhirnya hari itu juga semua calon peserta turnamen dan tamu agung yang diundang oleh Jaka Geni semuanya telah datang di Kerajaan Probo Lintang. Semua disambut dengan baik oleh keluarga Geni dan bahkan mendapat perlakuan yang luar biasa.Mereka mendapatkan tempat tinggal yang dibangun khusus secara terpisah dengan istana Kerajaan. Bayu Jaga Geni sudah menyiapkan tempat tinggal khusus bagi para tamu undangan yang tentu saja datang dari kalangan Dewa serta tempat tinggal untuk para peserta turnamen. Kedua tempat tinggal antara tamu dan peserta terpisah oleh tembok besar yang diatasnya terdapat dua menara dengan mata raksasa di bagian atasnya. Mata raksasa itu berguna untuk mengawasi semua yang dilakukan para tamu dan para peserta agar tidak melanggar aturan yang diberlakukan di Kerajaan. Raja Bayu benar-benar ketat tentang hal ini.Bara Sena yang semula hanya tinggal di penginapan kota akhirnya dia pun mendapatkan rumahnya sendiri di kawasan istana bersama para peserta yang lain. Begitu
Bara Sena yang saat itu masih berada di puncak gunung dan tengah mengendalikan Rantai Ungu miliknya terkejut dengan kemunculan 4 Binatang Pemburu Jiwa. Dan kini empat binatang itu bersatu untuk mengalahkan Gandi Wiratama. Jika dia berusaha membantu Raja Naga Air tersebut, maka kendalinya atas rantai ungu akan hilang dan pasukan Mayadwipa yang di pimpin Empat Raja akan bergerak bebas. Dengan jumlah pasukan sebanyak itu, meski lawan mereka adalah seorang Dewa sekalipun, tetap akan kesulitan. Apalagi para prajurit tersebut memiliki kemampuan menyusun formasi yang menyulitkan lawan."Apa yang harus aku lakukan? Sial!" batin pemuda itu kesal karena dia hanya bisa setengah berlutut sambil menapakkan tangannya ke tanah."Kau pasti sudah sangat gatal ingin ikut bertarung bukan? Hahaha!" bisik Iblis Sasaka di dalam kepala Bara."Makhluk yang bersatu itu memiliki kekuatan yang tidak wajar sama seperti Panglima Bayantaka. Keadaan Gandi juga sudah hampir kehabisan tenaga setelah mengerahkan pasuk
Lingkaran biru itu muncul tepat di belakang Sri Wedari. Tak lama kemudian Gandi muncul dan memegang bahu wanita Naga tersebut. Seketika wujud wanita itu kembali seperti semula seolah kekuatan sisik naga telah diambil kembali oleh pemiliknya. Sri Wedari hanya bisa terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya terasa kaku."Jangan berbuat hal bodoh. Aku tak mengijinkan itu. Lebih baik kau rawat mereka yang terluka dengan kemampuan milikmu. Biarkan anjing ini aku yang hadapi." kata Gandi dengan suara yang membuat tanah bergetar.Sri Wedari tak bersuara sama sekali dan hanya bisa menunduk. Dia mundur secara perlahan dan membiarkan Gandi yang maju untuk menghadapi manusia anjing tersebut.Melihat Gandi yang muncul menggunakan portal gaib, kedua mata binatang Pemburu Jiwa itu pun menyala merah menatap tajam kearah Gandi."Bisa menciptakan portal gaib? Itu artinya dia adalah seorang Dewa Tingkat Atas. Kalau begitu, jiwanya pasti lebih nikmat dibanding yang lainnya, kekeke..." ucap ma
Pragasena bersama Banyu Segara dan Sri Wedari sama-sama merasakan tekanan dari hawa membunuh binatang Pemburu Jiwa yang tengah murka tersebut. Tekanan itu bahkan membuat mereka hampir jatuh berlutut karena saking kuatnya."Gila! Hanya aura membunuh saja sudah sekuat ini!" seru Pragasena."Makhluk ini sangat kuat...! Bagaimana dengan Iblis bernama Mayadwipa yang memelihara mereka!?" sahut Banyu Segara."Aku tak bisa menjawab hal itu. Yang jelas, dia telah menaklukkan seluruh makhluk hidup di Tanah Kutukan ini kecuali diriku." kata Pragasena membuat Banyu Segara terdiam seketika."Kalau benar begitu, Mayadwipa adalah musuh yang sangat berbahaya..." kata Sri Wedari.Pragasena dan Banyu Segara sama-sama saling pandang dan tak berkata apa-apa. Tiba-tiba dari arah langit muncul sinar merah membara yang menderu kearah mereka. Dengan cepat Pragasena segera mengerahkan tenaga dalamnya dan melepaskan Pukulan Sakti miliknya ke atas. Banyu Segara pun ikut membantu. Kecuali Sri Wedari yang bergera
Ratusan ribu pasukan air milik Gandi menerjang pasukan Ratu Mayadwipa. Peperangan tak dapat dielakkan lagi. Para dewa yang membantu Bara dan Gandi pun mengamuk begitu sampai di kaki gunung. Karena kaki pasukan sebanyak itu terikat oleh rantai ungu milik Bara, dengan mudah para pasukan air membunuh mereka menggunakan Pedang maupun tombak.Para Raja yang melihat itu nampak geram namun tak bisa berkutik karena rantai ungu yang melilit tubuh mereka. Dalam sekejap mata, ribuan bahkan puluhan ribu prajurit Mayadwipa tewas di tangan pasukan air dan para dewa yang menyerang mereka secara serempak. Mayat berjatuhan dalam keadaan terpenggal kepalanya atau pun terpotong tubuhnya. Banyak pula yang mati karena luka tusuk dan anak panah air yang menancap bagaikan besi.Keadaan yang tak menguntungkan tersebut memaksa para Raja mengeluarkan bekal rahasia yang dibawa dari Kerajaan Mayadwipa."Lepaskan semua peliharaan Ratu! Biarkan mereka mengamuk!" teriak Raja Agra memberi perintah kepada tiga Raja l
Xue Ruo berniat untuk menerobos pertahanan lawan yang masih berjarak belasan ribu tombak dari puncak gunung tersebut. Namun dia masih menahan diri melihat Lian Xie memegang pundaknya."Tahan dulu amarahmu. Jika kau kesana sekarang, bisa jadi kau akan masuk ke dalam perangkap orang-orang aneh yang baru saja datang melalui celah ruang." kata Lian Xie mengingatkan.Xue Ruo pun menuruti apa kata Lian Xie. Bagaimana pun juga, dia merasa tidak perlu meluapkan amarah tanpa berpikir panjang. Karena dia pernah mengalami hal yang buruk akibat kecerobohannya tersebut. Wanita itu akhirnya bisa menahan diri dan menunggu saran dari Lian Xie yang dirasa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.Pasukan Raja Agra bersama para pengawal istana mulai bergerak maju. Lingkaran hitam raksasa pun ikut bergerak kearah gunung mengikuti langkah para prajurit yang berjumlah ratusan ribu. Para Raja yang lain pun ikut bergerak dengan perintah di tangan Raja Agra melalui telepati.Hu Shi Yun menoleh kearah Rui Y
Wung!Sepuluh Pedang Es raksasa meluncur dari atas langit menuju ke bawah sana dimana ratusan ribu prajurit manusia iblis terpana dibuatnya. Raja Agra pun terpaku sejenak karena hantaman gelombang petir merah masih belum usai ditambah serangan mematikan sadari atas langit."Kekuatan apa yang sebenarnya kami hadapi? Apakah ini alasan Ratu mengutus setengah prajurit Kerajaan ke tempat ini? Karena lawan memiliki kekuatan yang mengerikan..." batin Raja Agra.Tiba-tiba muncul pecahan ruang di atas ratusan ribu pasukan tersebut. Lalu keluar beberapa sosok dari dalam pecahan ruang tersebut dan langsung mengayunkan senjata mereka kearah langit.Wusss!Tiga sinar putih menderu membentuk sabit raksasa. Lian Xie terkejut merasakan aura kuat dari serangan tiga sosok yang baru saja muncul tersebut. Dan ternyata benar, serangan itu memang sangat kuat. Itu terbukti saat tiga cahaya berbentuk sabit tersebut membabat putus tiga pedang es raksasa milik Dewi Es Lian Xie. Setelah itu terciptalah ledakan
Dewi Es Lian Xie mendengus geram melihat apa yang tengah dilakukan oleh para prajurit bawahan Raja Agra. Lu Xie yang juga melihat hal itu tak tinggal diam. Dia berniat untuk membantu wanita tersebut menggunakan kemampuan petir merah miliknya."Jangan membantuku Lu Xie! Biarkan aku yang menangani para serangga ini. Kau tetap ditempat dan menjaga mereka berdua. Aku yakin, musuh mengincar Gandi dan Bara yang membawa pusaka dari Bayantaka dan reruntuhan Kuno." kata Lian Xie.Lu Xie mengangguk dan tetap berada di tempatnya sambil menatap kearah langit dimana puluhan lingkaran portal muncul dan mengeluarkan Pedang Es raksasa."Wanita ini, dia memiliki banyak kekuatan yang tak terbayangkan olehku..." batin Lu Xie.Para Raja yang lain yang juga melihat lingkaran biru tersebut segera saling berhubungan melalui telepati jarak jauh. "Apa yang terjadi di wilayah Agra?" tanya Raja Ungrama."Ada Dewa dengan kekuatan es yang menjadikan kami sasaran Pedang Es raksasa miliknya. Saat ini kami akan ber
Belasan ribu tahun yang lalu, seorang wanita dari ras Iblis bernama Mayadwipa atau yang disebut sebagai Tujuh Iblis Kehancuran datang ke tanah kutukan yang ada di dalam wilayah Kerajaan Naga Air dan menaklukkan Kerajaan manusia iblis serta binatang Iblis di sana. Para Raja Manusia Iblis yang menyerah pun menjadi bawahan sang Wanita Iblis yang memang memiliki kekuatan sangat mengerikan. Tidak ada satu pun Raja Kerajaan dari ras manusia iblis maupun ras bintang Iblis yang mampu melawan Ratu Mayadwipa sehingga mereka pun dipaksa untuk tunduk kepada wanita Iblis tersebut.Para Raja tidak menyadari, bahwa waktu itu Mayadwipa datang dalam keadaan tengah terluka setelah pertarungannya melawan Sasaka. Kedatangannya telah mengubah pandangan dua ras tersebut terhadap Pencipta mereka, yakni Empu Jagat Martapura yang kala itu sudah melemah setelah menciptakan Tombak Banyu Biru dan senjata terakhir sebagai kuncinya, yakni Pedang Pembuka Kehidupan.Setelah Empu Jagat meninggal, Mayadwipa pun menjad
Bara dan Gandi sama-sama duduk bersila untuk memulihkan diri setelah pertarungan besar yang mereka lakukan sementara para pengikut mereka berjaga di berbagai titik di atas puncak gunung. Kedua pemuda itu duduk di tengah lahar yang mendidih dimana tepat di bagian tengah nya ada sebongkah batu raksasa yang mereka gunakan untuk duduk.Pragasena, Dara Purbavati bersama dua Naga Penjaga Banyu Segara dan Sri Wedari ikut menjaga di atas puncak gunung di sisi sebelah timur. Iblis Mata Perak Du Khan melayang di udara sendiri sambil sedekap tangan dan kedua mata yang tertutup. Sementara, Dewi Es Lian Xie berada di sebelah barat bersama Lu Xie nampak berjaga-jaga sambil mengawasi sekitar.Hu Shi Yun dan Rui Yun berdiri di sisi sebelah selatan. Sedangkan Xue Ruo berada di sisi utara bersama Du Khan namun dia duduk bersila di bawah sementara Iblis Mata Perak itu melayang di udara."Apa kau merasakannya Nona Xue?" tanya Du Khan melalui telepati."Apa yang kau rasakan? Aku tak merasakan apa pun," ta