Home / Pernikahan / Gaun Pengantin Untuk Maduku / Bab. 1. Paket Gaun Pengantin

Share

Gaun Pengantin Untuk Maduku
Gaun Pengantin Untuk Maduku
Author: Dwiratna4005

Bab. 1. Paket Gaun Pengantin

Author: Dwiratna4005
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

"Permisi, Bu! Pesan antar paket. Apakah ada orang di rumah?"

Kuhentikan gerakkan spatula yang sedang beradu dengan kuali di atas kompor. Pendengaranku menangkap suara teriakan dari depan rumah. Paket siapa itu yang datang di siang bolong begini.

"Permisi! Paket, Bu."

Aku menoleh ke belakang pada arah pintu tengah, yang menjadi penghubung antara ruang tengah dan dapur di rumahku. Suara itu terdengar kembali dengan mengucapkan kata yang sama.

"Permisi, Bu! Paket."

"Iya, sebentar! Tunggu!"

Kutinggalkan olahan ikan pindang patin yang belum matang di kuali tanpa mengecilkan api kompornya. Suara itu terus berteriak tanpa menyadari bahwa aku mulai terganggu akan suara cemprengnya itu.

"Berisik! Jangan teriak terus! Saya nggak budek!"

Satu teriakan akhirnya keluar dengan bersamaan terbukanya pintu rumah yang kubuka lebar. Aku melotot pada dua lelaki yang berdiri di depan rumah.

"Maaf, Bu, kami pikir tak orang di rumah. Jadi kami .…"

"Walaupun nggak ada orang di rumah ini, ya, jangan teriak-teriak, dong! Ganggu tetangga yang lain juga, Mas! Banyak yang istirahat di kompleks ini kalau siang hari tau!" Kupotong cepat satu kalimat itu yang belum selesai terucap.

Aku menatap kurir itu dengan kesal. Kulipat siku di depan dada, menyandarkan bahu pada bingkai pintu, serta mengangkat dagu untuk memberi kesan galak pada kurir dari ekspedisi ternama.

"Sekali lagi maaf, Bu, kami tak bermaksud seperti itu. Kami hanya ingin paket ini sampai di alamat yang tepat. Soalnya ini paket mahal takutnya diambil orang kalau ditinggal begitu saja." Lagi, lelaki bernama Sabrang yang tertulis di seragamnya itu menjelaskan.

"Ya udah saya maafkan. Tapi jangan diulangi di tempat lain, Mas. Itu nggak sopan. Penghuni di perumahan ini tak suka dengan suara keributan. Lagian itu, kan, ada bel, sih, kenapa tak tekan belnya saja. Kan, praktis. Jadi tak perlu berteriak kek di hutan." Satu telunjuk aku angkat pada dinding di samping pintu rumah.

Kedua lelaki berkulit sawo gelap itu pun kompak melihat keatas, kemudian satu tarikan senyum malu-malu mereka sematkan padaku. Aku hanya menggeleng. Bel rumah sebesar dua jari itu tak nampak oleh mereka.

"Lalu, paket apa yang kalian kirim ke rumah saya?"

Aku menelisik pakaian yang melekat pada keduanya. Warna merah mencolok yang menjadi dasar pada seragam yang mereka pakai, celana bahan berwarna hitam, yang di lengkapi dengan sepatu hitam khas kurir dari ekspedisi JNA.

"Kami dari ekspedisi JNA, Bu. Apa benar ini alamat rumahnya Bapak Arman? Kami ingin mengantarkan paket pesanan beliau dari butik."

"Butik. Paket apa itu? Rasa-rasanya kami tak ada pesan apapun dari butik, Mas. Salah alamat kali."

Aku mulai mencecar mereka yang membuat rasa penasaranku membuncah. Kutarik langkah untuk berdiri pada tepian teras, melihat ke arah mobil box di jalan.

Keduanya menatapku seolah tengah berpikir. Setelahnya, Basrang mengecek ulang nota di tangannya. Dahinya tampak berkerut. Sesekali ia menatapku sebentar, lalu melihat nomor rumah, dan fokusnya kembali lagi pada nota yang masih ada di tangannya.

"Dalam nota ini alamat yang tertulis benar di rumah ini. Untuk penerima atas nama Bapak Arman Pramudya. Dan untuk pengirimnya atas nama Luna Sandoro. Dengan isi paket satu pasang baju pengantin dari Butik Vinatoone. Benarkan Bapak Arman Pramudya tinggal disini, Bu?"

Kalimat penjelas itu membuat rasa terkejutku semakin naik. Vinatoone Butik katanya.

"Apa, Mas? Sepasang baju pengantin? Nggak salah alamat itu?" tanyaku balik untuk meminta penjelasan pada mereka.

Dadaku seketika berdegup kencang saat kalimat penjelas itu mulai merasuk dalam otak.

"Iya sepasang baju pengantin, Bu. Dari Vinatoone Butik."

"Vinatoone Butik, yang beralamat di Gang Sarilayu yang tak jauh dari komplek sini, kan?"

"Iya, benar, Bu."

Kusambar satu nota yang masih ada di tangan Sabrang. Aku baca satu per satu kalimat yang tersusun rapi di dalamnya. Semua keterangan pada kertas itu sangat membuatku terkejut. Benar. Isi paketnya gaun pengantin.

Milik siapa?

Mendadak kedua kakiku mulai goyah. Seakan-akan tak ada lagi kekuatan di dalamnya. Rasanya hatiku patah-patah karena beban yang mendadak masuk dalam rumah tanggaku.

"Astagfirullah. Ya Tuhan ini cobaan apa." Refleks aku berpegangan pada tiang penyangga di teras. Kedua tungkai mendadak lemas tak mampu membuatku berdiri lama.

"Aduh, Bu, hati-hati. Ibu nggak apa-apa? Mari saya bantu berdiri." Sabrang dengan cekatan menahan tubuh ini, agar tak merosot ke lantai.

"Duduk dulu, Bu. Hati-hati kakinya kebentur meja."

Kedua kurir itu menuntunku untuk duduk pada kursi berbahan plastik yang ada di teras rumah.

"Sudah nggak apa-apa, Mas. Terima kasih, ya!"

Mereka mengangguk dengan menatapku iba. Aku menghirup udara berulang kali untuk menormalkan debaran di dada. Rasa tak nyaman di dalamnya telah merembet pada sekujur tubuh, hingga sekedar untuk duduk pun aku tak sanggup.

"Bawa kesini paketnya, Mas! Letakkan di sana saja!"

"Baik, Bu."

Kuarahkan mereka untuk menyimpan paket itu di pojok teras, di dekat pintu masuk. Karena enggan untuk membawanya masuk ke dalam rumah, aku putuskan untuk menggantung satu pasang gaun pengantin yang masih terbungkus plastik bening itu pada jemuran, yang biasa kupakai untuk menjemur pakaian.

Kuremas kepala yang tertutup jilbab segiempat berwarna navy. Suamiku sendiri mendapat paket gaun pengantin dari butik ternama.

Aku tergugu dalam kesepian. Fakta itu sungguh sangat mengejutkan.

Suara decit ban mobil yang bergesekan dengan paving block di halaman rumah telah menarik kesadaranku ke permukaan. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sosok yang sedari tadi menjadi peran utama dalam pikiranku, kini sudah ada di depan mata.

Lelaki itu tampak terburu-buru ketika keluar dari mobil. Langkah panjang ia lakukan setelah membanting pintu mobil dengan kuat. Dari jarak beberapa meter, aku bisa melihat wajah kepanikan disertai rahang yang mengetat kuat.

Aku semakin berdecih, ketika Mas Arman nekat masuk ke teras yang telah di pasang pagar keliling tanpa melepas sepatunya.

"Mana paketku, Al? Apa kamu ada menerimanya?"

Tanpa basa basi, kalimat itu akhirnya terlontar dari bibir tebalnya.

"Paket apa yang kau tanya, Mas? Aku tak paham dengan maksudmu."

Dalam kepura-puraan, kualihkan pertanyaan itu tanpa senyum yang tertarik.

"Omong kosong apa itu, Al! Tadi aku berpapasan sama mobil ekspedisi JNA di simpang gang lima. Pasti mobil itu ke rumah ini, kan! Mana paketku!"

Teriakan itu mulai menggelegar seperti elang yang kelaparan.

Tatapan elangnya yang dulu penuh kehangatan, kini penuh akan aura kebencian terhadap diri ini yang pernah melahirkan satu anak perempuannya.

"Itu gaun siapa, Mas? Apakah benar kamu yang memesannya? Untuk apa?"

Masih dalam kepura-puraan, aku berusaha tenang saat melempar tanya.

"Bukan urusanmu! Kau tak perlu tahu tentang gaun itu!"

Seperti bensin yang tersulut api, amarahku naik seketika. Aku bangkit dari kursi dengan kecepatan beberapa detik.

"Aku ini istrimu, Mas! Aku berhak tahu tentang itu! Kamu jangan macam-macam, ya!" Kutarik paksa pundaknya untuk berbalik ke arahku.

Kami saling beradu pandang. Aku takkan pernah takut melawan kebathilan yang terjadi dalam rumah tanggaku. Angkara murka harus kubalas dengan keji.

"Persetan dengan statusmu! Aku tak peduli! Kau pikir kau itu siapa berani mencampuri semua urusanku, hah! Minggir! Aku mau pergi!"

Seperti buta dalam kegelapan, lelaki yang telah mengucap kalimat ijab kabul di sepuluh tahun yang lalu itu mendorong bahuku tanpa perasaan.

"Aww!"

Aku menatapnya dengan kilatan api yang semakin menjadi. Sungguh tak kusangka, kesadaraannya yang seolah tak ada di rumah. Ia semakin tak memperdulikan suara kesakitanku yang terbentur dinding rumah.

Langkah panjang itu terus ia tarik untuk meninggalkan rumah, serta membawa sepasang gaun pengantin itu ke dalam mobil. Sekuat tenaga aku berusaha bangkit untuk mengejarnya.

Penjelasan. Hanya penjelasan yang kuinginkan saat ini juga atas perlakuannya hari ini. Tertatih-tatih aku berusaha mendekati mobilnya yang telah mundur ke arah jalan gang kompleks, hingga suara deru mobinya yang mulai menghilang tak menyurutkan langkahku untuk terus mengejarnya sampai di ujung gang.

"Keterlaluan kau, Mas! Lihat saja! Akan kubalas semua perlakuanmu hari ini! Camkan itu! Takkan aku biarkan kau hidup tenang setelah ini! Arggh! Sialan!"

Umpatan demi umpatan terus kulontarkan akibat kekecewaan di hati. Kukepalkan dua telapak tangan dengan kuat. Rasa sakit di hati takkan aku biarkan menguap begitu saja. Sakit ini akan aku perjuangkan untuk kebahagian yang akan datang, walau harus hidup tanpanya.

Mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, telah menarik ingatanku dalam kilasan masa lalu yang telah terjadi sekian lama.

Ternyata inilah jawaban atas tiadanya restu dari pernikahanku.

♡♡♡♡♡♡

Related chapters

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 2. Berciuman di Mobil.

    Bagiku satu pengkhianatan pasti akan terulang kembali suatu saat nanti. Jadi, tak ada istilahnya mendapat kesempatan kedua dikemudian hari. Mas Arman, boleh saja kau tersenyum puas untuk hari ini. Esok hari siapa yang sangka akan ada kejadian buruk yang terjadi kepadamu.Langkahku yang masih tertatih-tatih terhenti seketika diambang pintu rumah. Indra penciumanku mengendus bau sesuatu yang tak enak dirasa. "Astagfirullah ikanku gosong." Kupercepat langkah dengan menahan sakit yang tak kunjung hilang. Ikan patin pindang yang seharusnya menjadi makan siangku telah gosong tak terbentuk. Nyala api di kompor segera aku matikan saat kepulan asapnya telah memenuhi ruangan dapur."Argh! Sialan! Ini semua gara-gara lelaki pengkhianat itu! Awas kau Mas! Aku tak terima diperlakukan seperti ini! Takkan kubiarkan kalian hidup bahagia diatas penderitaanku!" Aku terus berteriak histeris di dalam dapur dengan kepulan asap yang mulai menghilang.Dalam keadaan perut kosong emosiku semakin menjadi. Ku

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 3.Mengejar mobil itu.

    Mataku seketika berkunang-kunang ketika mobil bernomor plat BM 3 AI itu melaju dengan kencang. Ia meninggalkanku dengan sejuta malu yang harus kutanggung sendirian. Rasanya wajahku semakin memerah ketika beberapa orang menatapku kasihan. Tatapan mereka seolah memperingatkan bahwa aku telah kalah dalam perselingkuhan suamiku sendiri."Jangan patah semangat, ya, Mbak. Saya yakin Mbak pasti kuat.""Sudah tinggalkan lelaki pengkihanat itu, Bu. Sekali selingkuh selamanya akan selingkuh. Ingat itu.""Sabar, Mbak. Tetap semangat meninggalkan lelaki itu. Buat ia miskin dulu, lalu kamu tinggalkan. Itu balasan yang setimpal untuknya.""Tetap tenang, ya, Bu. Balas lelaki itu dengan elegan dan sadis. Tuhan selalu membersamai istri sah yang dizholimi. Saya titip satu tamparan untuk lelaki itu.""Santuy saja, Mbk. Saya siap menyediakan jasa persantetan dan pesugihan yang kejam.""Tenang, Mbak. Perlakukan dan layani lelaki itu dengan lembut. Setelah ia terbuai, langsung kasih sianida kasih sayang pa

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 4. Detektif Lana

    "Aku punya kabar penting tentang Mas Arman. Berita hot ini, Mbak."Mataku seketika melebar saat mendengar kalimat itu. Aku menoleh ke belakang. Lana tersenyum lebar serta menaik-turunkan alisnya untuk menggodaku.Seketika aku mencebik. Ia memang senang menggoda kakaknya. Perlahan aku melepas pelukan tanganku pada pinggang Aleeya, lalu turun perlahan dari ranjang. Setelah berhasil turun dari ranjang tanpa membuat kebisingan, kupegang tangan Lana, segera kuseret ia keluar dari kamar. Aku tak mau Aleeya terbangun dari tidur siang karena mendengar obrolanku dengan tantenya."Is, kenapa aku diseret, sih, Mbak! Sakit tau tanganku. Lepas."Lana berusaha melepas cengkraman tanganku. Ia mendengus sebal. Aku menyeretnya ke belakang kamar, dimana ada kolam ikan disana. Kolam ikan ini tempat aman untuk menggosip. Jaraknya jauh dari dapur, dimana Ibu lagi memasak.Aku mendelik padanya, setelah Keadaan sudah cukup aman. "Nanti Aleeya bangun. Ada apa? Ada kabar apa tentang Mas Arman?" Tanpa basa bas

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 5. Bukti perselingkuhan.

    Suara lembut itu sedikit berubah. Ada nada ketakutan di dalamnya. Tak biasanya air muka Ibu menegang ketika mendengar obrolanku dengan Ilana.Apakah ibu mulai khawatir itu akan menjadi kenyataan dalam kisah hidup anaknya.Lalu, siapa yang mau mengalami hidup seperti itu. Tidak ada. Semua itu karena takdir yang harus diterima, walau hati tak suka. Takdir dari kesalahan manusianya sendiri yang kerap lalai dari tanggung jawabnya sendiri."Al, kenapa diam saja? Kamu anak Ibu yang paling besar. Ibu yakin kamu nggak akan berbohong sama Ibu. Ada apa? Boleh cerita sama Ibu? Kita masih keluarga, kan?" cecar Ibu mulai tak sabar.Langkahnya sedikit demi sedikit mulai mendekatiku. Tatapannya tak sedikitpun beralih dari kami berdua. Aku dan Ilana semakin terdesak. Kalimat ancaman itu takkan pernah berhenti jika hanya diam yang kami lakukan. Wanita yang bernama Siti Raudhah itu semakin menatapku tajam. Seolah-olah ia akan memakanku hidup-hidup.Mati-matian aku menahan diri untuk tak membuka suara d

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 6. Kabar Kecelakaan.

    Bab. 6. Seperti pepatah berkata, seenak-enaknya tinggal dirumah saudara, masih lebih enak tinggal di rumah sendiri. Begitulah yang seperti aku rasakan jika sudah ada di rumah Ibu. Akan terasa nyaman untuk memejamkan mata, namun akan terasa malas untuk hanya beranjak sebentar saja. Seolah-olah aku akan lupa waktu, dan lupa segalanya karena kenyamanan yang aku terima. Walau sudah berkeluarga dan memiliki satu keturunan, Ibu tak pernah membandingkan aku dengan Ilana. Kasih sayangnya masih sama seperti yang dulu. Mendadak rasa dilematis menyerangku untuk enggan kembali ke rumah sendiri. Bahkan, untuk hanya sekedar melanjutkan perjalanan ke butik yang jaraknya hanya beberapa kilo pun aku rasanya malas. Hingga, kubiarkan jarum pendek itu berlalu begitu saja tanpa bisa kucegah. Aku masih terlalu nyaman untuk beranjak dari dudukku di meja makan. Sayangnya, yang namanya hidup harus tetap berlanjut. Jika berlanjut bermalas-malasan, maka aku akan ketinggalan di masa depan. Pukul empat sore

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 7. Bertemu calon madu.

    Hingga beberapa menit kemudian, aku tak bisa mengalihkan pandanganku pada pinggang ramping itu. Siapa wanita itu? Apa benar ia teman Mas Arman? Atau, wanita itu adalah seseorang yang ada dalam ponselnya Ilana? Jangan-jangan …. "Mbak, Mbak, hello," tegur Mbak Ayu padaku, yang masih terdiam menatap punggung ramping itu. Seketika aku terkesiap, lalu berpaling padanya. "Eh, iya, ada apa, Mbak? Kenapa?" "Mbak ini malah melamun, loh. Padahal dari tadi saya ajakin ngomong." "Hihi, iya, maaf, Mbak. Malah ngelamun sayanya," ujarku tak enak padanya. Senyum kikuk pun tertarik akibat fokusku pecah karena wanita itu. "Ya sudah, nggak apa-apa, Mbak. Saya cuma mau ngasih tau itu ada polisi yang juga mengantarkan korban ke rumah sakit ini. Siapa tahu Mbak butuh keterangan lebih jelas. Bisa ditanya langsung sama polisi itu, ya." "Oh, oke. Terima kasih, Mbak. Saya permisi, ya." Kuanggukan kepala padanya sebagai tanda terima kasih. Karena tak mau basa-basi, kutinggalkan ia yang masih berdiri

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 8. Mengusir Wanita itu.

    "Alana. Ka--mu kenapa bisa disini? Si--apa yang mengabari kamu kalau Mas disini?" Mas Arman bertanya dengan terbata-bata. Wajah piasnya membuatku gemas ingin memakannya. Pintar sekali ia berakting di depanku. Kalimat terbata itu, hampir saja membuatku tertawa keras. Kalimat itu terdengat menggelikan di telingaku. Kenapa Mas Arman jadi sepanik itu? Padahal kalimatnya yang terlontar itu sangat begitu romantis untuk wanita di belakangku. Lihatlah bola mata itu. Ia terus bergerak ke kanan ke kiri seolah mencari kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri. Apakah ia tak menyadari dengan kehadiran dua orang yang berdiri di pintu kamar inapnya? Atau ia gagal fokus karena kebaradaanku saat ini? Kubawa langkah untuk masuk dalam kamar inapnya yang berukuran 7x7 m persegi. Tampak besar, namun terasa sepi. Kupindai seluruh ruangannya yang berwarna putih gading. Aku terus melangkah, memutari ranjang dengan mengetuk-ngetukkan jari-jariku di pinggiran ranjang perawatannya. Dari jarak tiga meter

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 9. Bukti WA.

    Tak sampai lima menit pintu itu tertutup dari luar, aku memulai kembali interogasiku pada Mas Arman. Lelaki ini semakin dibiarkan akan semakin menjadi. Sikapnya akan semakin parah jika aku hanya diam tak bergerak.Mungkin ia lupa, bahwa aku pernah mengucap sebaris kalimat pamungkas sesaat setelah ia mengucapkan akad kala itu, bahwa aku membenci pengkhianatan.Saat ini, lelaki yang tengah mencoba mengalihkan pembahasan penting itu semakin salah tingkah. Sepertinya ia mulai sadar jika aku telah mencurigainya."Kamu yakin, Mas, tidak mengenal wanita itu? Kalau aku perhatikan kalian seperti sudah saling mengenal lama. Benarkah begitu?" tanyaku lagi dengan kalimat yang sama.Kuangkat bobot tubuh dari sofa untuk mendekatinya, yang seolah sibuk dengan bantalnya yang ada di belakang punggung berseragam rumah sakit."Kamu ini apa-apaan, sih, Al! Sudah berkali-kali aku bilang nggak kenal ya nggak kenal! Tolonglah, Al, jangan ngomong ngelantur kemana-mana! Mas lagi sakit ini. Perihatin sedikit k

Latest chapter

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 22. Maling Uang.

    "Kamu pikir kamu siapa bisa mengaturku, Mas! Sebelum perselingkuhanmu terbongkar, aku wajib menuruti semua perkataanmu sebagai suami. Tapi kali ini, itu semua sudah aku hapus setelah kedokmu terbongkar! Tak ada maaf lagi untukmu mulai sekarang ini!"Aku terus menggrutu setelah keluar dari ruang inap di belakangku. Sudah bisa aku pastikan mereka takkan bisa tersenyum lagi setelah semua pembalasanku terjadi. Wanita yang dulu mereka anggap baik, sudah tak ada lagi. Telah aku hapus semua rasa kebaikanku untuk kalian."Aduh! Kalau jalan pakai mata, dong! Gimana, sih! Jadi sakit, kan, sikuku terbentur lantai!" Aku berteriak kesal karena tersungkur ke lantai. Entah siapa yang menabrak bahuku dari belakang.Baru juga keluar dari ruangan itu, malah terkena sial. Sepertinya karena kebanyakan bergaul dengan mereka, jadi kesialan terus mengikuti aku. Mereka semua memang pembawa sial.Pergelangan tanganku sakit seketika, karena menahan bobot tubuh yang hampir saja mencium lantai berkeramik marmer.

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 21. Memohon-mohon

    "Mau apa kamu, hah!" Seketika mataku mendelik, saat Liana ingin menyambar ponselku. Secepat kilat kusembunyikan benda canggih ini ke belakang punggungku, agar dia tak bisa sembarangan mengambilnya. Tatapannya yang dipenuhi dengan kobaran api yang menyala-nyala, seolah ingin menerkamku saat ini juga. Netranya yang mulai basah, seakan menolak fakta bahwa yang ada dalam foto dan video itu bukan dirinya. Liana memang pandai memutar keadaan. Dia bak artis pemeran utama, yang sangat lihay menjalankan perannya. Sejenak kubalas tatapannya yang pintar bersandiwara itu dengan senyum sinis tak bersahabat. Dia pikir bisa mengelabuiku. "Bawa sini ponsel itu!" Liana semakin berani membentakku. Namun, perlakuannya itu tak mampu membuat pertahananku runtuh. Hatiku sudah sekeras batu terhadap semua keluarganya. "Mimpi! Jangan harap aku akan memberikannya! Kamu pikir kamu siapa, hah!" Liana semakin meraung sejadi-jadinya. Kepalan tangannya memukul dinding berulang kali, seolah i

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 20. Pelaku

    Seketika aku tertawa dalam hati, setelah mendengar semua penghinaan itu dari bibirnya Mama Ratih. Lihat saja, jika video dalam ponselku sudah dilihatnya dengan mata sendiri, apakah ia masuh bisa terus menghinaku.Mari kita buktikan. Bukti ini akan membungkam mulutnya yang lantam.Ponsel yang ada di dalam tas, kuambil dengan cepat. Aku buka aplikasi rahasia untuk mencari bukti berupa video. Video rahasia yang kusimpan beberapa hari yang lalu masih aman di dalamnya.Tanpa berpikir ulang, video berjumlah lima buah dengan durasi masing-masing hampir lima belas menit, sudah aku kirim ke beberapa sosmed milikku. Tak ada satupun kontak di ponsel yang aku private. Biarkan mereka semua tahu. Apa itu pembalasan yang sesungguhnya. Apa yang sudah keluar dari bibir ini, pantang untuk dijilat kembali.Setelah ini, akan terbukti siapa yang bisa membalas dengan menyakitkan.Harga diri yang sudah tercoreng, harus diselamatkan walau harus bertarung nyawa. Kini tinggal menunggu bom itu meledak, maka hab

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 19. Video Asusila

    "Tenang, Al! Ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Mas bisa menjelaskan semuanya!" dalihnya berusaha membela diri. Tak lama setelah kalimat itu terucap, ia berusaha turun dari ranjang dengan susah payah. Sayangnya, pembelaan itu tak berarti apa-apa untukku. Kalimat pembelaan yang sengaja ia lontarkan, semakin membuat hatiku terhantam pilu. Pilu untuk kesekian kalinya, hingga tak terasa apapun di dalam sana. Hambar. Itulah yang kurasa saat ini. "Jadi menurutmu pikiranku salah begitu! Lantas bagaimana dengan pikiranmu sendiri, Mas! Apa perlu otakmu aku cuci dengan spon pencuci piring biar jernih, iya! Bener-bener kamu, ya!" Serta merta aku meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Dalam keadaan remang-remang dalam ruangan rawatnya, semakin membuat napasku sesak. Lelaki ini pintar sekali memanfaatkan keadaan. Ia sengaja mematikan lampu dalam ruangannya, agar tak terlihat mencolok dari keadaan orang luar yang lalu lalang di depan ruang inapnya. Bukankah ia cerdik sekali. "Bu–kan begi

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 18. Melabrak Dengan Mata Sendiri

    Di sela meeting yang masih berjalan, aku masih menarik sudut bibir secara diam-diam. Ternyata paket itu sudah sampai lebih cepat dari dugaanku. Kalian pasti terkejut atas datangnya paket terbaru itu. Tentu benak kalian takkkan mampu menerima sebuah kenyataan, yang dimana kenyataan itu lebih hina dari sekedar berzina. Bisa aku pastikan, jika isi paket itu tersebar ke semua orang, kalian semua pasti merasa tak ingin lagi hidup di dunia ini. Sungguh keberuntungan yang sangat menguntungkan. Baru kali ini aku merasa bangga karena mendapatkan keberuntungan itu. "Aww!" sentakku terjaga dari lamunan indah itu. Kugerakkan leher ke sebelah kiri, dimana Mbak Vina berada yang telah mencubit pinggangku. Aku menggeram marah. Bisa-bisanya ia menyubitku disaat meeting dengan tamu penting. "Sakit bego, Mbak!" bisikku kesal padanya, yang dibalasnya dengan membeliakkan mata beloknya. "Makanya kalau meeting itu yang serius! Jangan cuma plonga plongo doang kamu, ya!" hardiknya padaku, yang ketahuan m

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 17. Paket Misterius

    Senyum lepas aku tarik untuk pembalasanku kali ini. Kalian yang memulai untuk melibatkan Bapakku. Jadi, jangan salahkan aku yang ikut melibatkan anggota keluarga kalian.Kulepas ponsel dari kabel charger yang belum terisi penuh. Menghubungi seseorang pagi ini jauh lebih penting, dari sekedar mengisi baterainya. Ibu jariku membuka WA untuk mencari nomor ponsel, yang baru dikirim Ilana barusan.Segera aku telepon nomor berjumlah delapan digit itu."Hallo, selamat pagi. Apa benar ini dengan kurir ekspedisi JNA?" Satu salam tanda kesopanan aku lontarkan pada admin sebuah ekspedisi."Iya, betul, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?"Admin itu menjawab dengan suara khasnya yang lembut.Sebelum menjawab, aku menuliskan alamat pada amplop yang sudah aku tutup rapat dengan double selotip. "Bisa ambil paket ke rumah, Mbak. Saya mau mengirimkan sebuah amplop pagi ini."Kembali aku tersenyum lepas saat alamat itu sudah tertulis rapi dengan huruf capslock bertinta tebal."Bisa, Mbak. Kebetulan hari ini

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 16. Berhasil Menyadap WA.

    Tok tok tok.Aku mengetuk pintu berwarna coklat yang masih tertutup rapat. Entah sudah keberapa kali ketukan itu aku layangkan, namun tak juga terbuka dari dalam. Jam malam yang hampir terlewati, aku memutuskan untuk pulang ke rumah Ibu saja. Toh, di rumahku juga tak ada siapa-siapa."Ibu mana, sih? Lama banget buka pintunya! Mana mau hujan lagi!" gerutuku kesal pada pintu yang masih tertutup. Aku melihat ke atas, dimana langit sudah menggelap karena awannya yang menghitam."Bu! Lana pulang! Bukain, dong, pintunya!" Kembali aku mengetuk pintu itu dengan kuat. Andaikan bel di rumah Ibu tidak rusak, pasti aku sudah masuk dari tadi.Mengintip pada celah gorden di jendela pun tak bisa, karena lampu didalamnya sudah padam. Sepertinya para penghuni rumah Ibu sudah melelapkan matanya pada kegelapan."Assalamualaikum, Alana pulang, Bu!" Suaraku yang mulai serak, tak bisa lagi berteriak memanggil Ibu.Sedetik kemudian, ide brilian muncul di kepalaku. Kurogoh ponsel di dalam tas. Aplikasi WA mi

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 15. Kepelitan Membawa Keberkahan.

    Faktanya memang benar, takdir seseorang itu takkan berubah jika seseorang itu tak mau merubahnya. Majunya hidup seseorang itu tergantung dari ikhtiar dan usahanya yang maksimal. Makin rajin dirinya, maka makin banyak pula peluang kesuksesan yang bisa diraihnya.Mungkin, jika dulu aku masih bermalas-malasan hidupku takkan seperti ini. Mungkin, jika aku masih mengabaikan usul Ibu Angkat dan mertuaku untuk mengirim beberapa desain simple ke beberapa butik ternama, aku takkan mungkin jadi salah satu desainer yang diperhitungakn kemampuannya.Membayangkan pun aku tak pernah mau untuk jadi bagian dari mereka. Dan itu semua berkat restu dari dua perempuan yang sudah membantuku tanpa pamrih apapun.Entah sudah berapa kali dua perempuan hebat itu selalu mengingatkanku, akan saran itu untukku segera mewujudkannya. Katanya, kalau usaha itu tak dicoba kita mana tahu akan beruntung atau tidak. Hingga, salah satu penyebab kenekatanku untuk menjalankan saran itu adalah dengan keberadaan Aleeya yang

  • Gaun Pengantin Untuk Maduku   Bab. 14. Teringat Masa Kelam

    Di setiap detik yang berlalu, kembali menyadarkan aku dari pentingnya menghargai waktu yang terus berjalan. Saat waktu yang telah terlewati, ia takkan bisa terulang, begitu pun dengan kesempatan. Aku mulai sadar dan teringat kembali dengan semua yang terjadi, bahwa hidupku mulai berantakan setelah kedatangan lelaki itu.Meski pembahasan gaun pengantin itu belum selesai, aku masih beradu tegang dengan Mbak Vina, perihal kesempatan yang bisa aku berikan untuk Mas Arman. Ia berharap aku mau mempertimbangkan usul itu, tapi sayangnya itu tak berlaku padaku yang memegang teguh wanita berprinsip. Kembali ponselku berdering. Dengan sigap Mbak Vina memberikan kepadaku, agar segera kujawab. Aku hanya mendengus kasar. Dan tetap mengabaikan nomer itu yang menari-nari disana dengan sepuasnya."Biarkan saja, Mbk. Nggak usah dijawab teleponnya. Biar tau rasa dia. Pasti mereka panik banget di rumah sakit. Hahaha." Sambil tergelak, aku letakkan kembali ponsel itu ke meja. Dan bersamaan dengan itu,

DMCA.com Protection Status