Kini pria yang tak ingin ku sebut namanya itu berjalan kearahku dengan gagah perkasa. Postur tubuh semampai, masih belum berubah.Mark tidak berubah sama sekali. Wajahnya masih tetap awet tanpa keriput yang menghiasi. Pun rambutnya tidak memutih. Padahal usia pria itu telah memasuki empat puluh lima tahun. Apakah ia mewarnainya? Ah sudahlah, itu bukan urusanku. Ada wanita lain di luar sana yang lebih berhak atas dirinya.Mark melayangkan tatapan yang sulit untuk ku artikan. Namun, sukses membuatku ketakutan.Aku sangat mengenal pria itu. Dia diam, tetapi pelan-pelan menghanyutkan. Sikapnya yang saat ini seolah tak mengenalku, hanyalah sebuah tipuan.Dan terbukti benar, kini ia menerobos masuk ke dalam kamar hotel yang ku pesan sembari menciumku secara brutal. Hingga aku terkejut luar biasa.Aku berusaha untuk mendorong tubuh kekar Mark. Namun, tenagaku kalah telak. Mark mengunciku, hingga tak dapat bergerak sama sekali.Akhirnya aku memalingkan wajah, merasa jijik disentuh olehnya. Su
Maria Pov.Sehari setelah insiden pemerkosasan itu, kami dipertemukan kembali dalam sebuah kasus penggelapan dana yang melibatkan Tuan Anderson sebagai penggugat. Dan Mark selaku saksi.Takdir Tuhan sungguh aneh dan tak masuk akal. Orang yang selamanya ingin ku hindari, justru berjalan kearahku kembali. Benar-benar sial.Aku yang nyaris tak profesional ketika berada di dekat Mark. Sementara pria brengsek itu tampak biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa diantara kami.Padahal nyeri pada area selangkanganku masih jelas terasa. Betapa tidak, delapan tahun lamanya tak bercumbu, tiba-tiba dipaksa untuk melakukannya."Nona Maria, apakah semua bukti yang mengarah ke tergugat sudah rampung? Jika iya, aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pelaporan ke pihak berwajib. Dengan begitu mereka akan menidak lanjuti terkait kasus kita." Perkataan Tuan Anderson memecah lamunanku."Ah iya, aku rasa juga begitu. Berhubung semua bukti sudah lengkap," balasku tak bersemangat.Dapat ku rasak
Maria Pov.Alasan yang tidak masuk akal. Mark mengumpanku dengan sebuah kasus semu. Hebatnya lagi, pria itu menyusun segala sesuatunya secara rapi dan epik, hingga tak ada cela untuk membuatku curiga.Dan berhasil, aku pun terjebak dalam ruang lingkup Mark. Lelaki yang selamanya ku benci sepenuh hati."Mengapa kau memperlakukanku seperti ini, Mark? Bukankah sudah delapan tahun berlalu? Kau pun telah membangun kelurga baru bersama Casandra. Lalu apa lagi yang kau inginkan dariku?" Aku tak habis pikir pada cara Mark.Mengapa dia harus repot-repot menghukumku selayaknya penjahat. Padahal dia sendiri telah menikah.Jika ini masih mengenai kepercayaan dan perselingkuhan. Bukankah Mark sendiri telah merusak kepercayaanku dengan menikahi Casandra?Sedangkan dulu ia dengan tegas dan lantang menyatakan, bahwasanya tak akan menjilat ludah sendiri. Nyatanya pria itu telah kembali pada wanita sebelum aku. Bukankah itu sama saja dengan selingkuh? Lalu mengapa dia harus mengumpanku sedemikian rupa?
Author Pov."Apa ini, Mark?" Casandra membanting nokta merah ke atas ranjang Mark. Nokta yang baru saja dilayangkan untuknya."Bukankah kau tidak buta huruf?" jawab Mark seraya merapikan dasinya dengan santai."Aku tahu, tapi apa maksudmu memberiku surat ini?!" tanya Casandra sekali lagi. Meminta penjelasan Mark."Mengapa? Apa kau takut kehilangan status sebagai Nyonya Mark?" Lagi, Mark menanggapi dengan santainya pertanyaan Casandra sembari mengenakan jas."Jawab aku, Mark!" hardik Casandra tujuh oktaf lebih tinggi.Lantas Mark berdiri menghadap Casandra seraya memasukan tangan ke dalam saku celananya sembari berkata, "Bukankah kau menolak pembatalan nikah? Jadi, aku memberimu surat cerai itu.""Apa?" Casandra nyaris kehilangan kata-kata begitu Mark membungkamnya dengan satu kali telak.Dulu ia sangat lantang menolak pembatalan pernikahan yang dilayangkan Mark. Casandra tetap bersi kukuh mempertahankan pernikahan itu.Sekarang wanita itu pun harus gigit jari, karena Mark telah menand
Maria masih berusaha berpikir keras agar terlepas dari jeratan Mark dengan menggunakan hukum. Akan tetapi, ia menyadari, bahwa mustahil melawan pria tersebut.Maria pasti akan kalah sebelum berperang. Di belahan dunia manapun, uang adalah rajanya.Uang dapat membeli harga diri seseorang. Termasuk harkat dan martabat. Sangat sedikit orang yang memegang teguh prinsip hidup.Sudah sejak lama seperti itu. Jadi, tak heran bila kelak dunia ini akan hancur karena uang pula."Tuan Yama, apa aku bisa meminta bantuan Anda?" Tiba-tiba Maria menemukan solusi baru, bahwa ia harus menghubungi Tuan Yama untuk dimintai bantuan.Sudah satu tahun berlalu, mereka tak lagi bekerja di firma hukum yang sama. Sebab, Maria telah membuka firma hukumnya sendiri.Sebagai ahli hukum sejak bertahun-tahun lalu, Maria hendak meminta solusi atas kasus yang ia hadapi saat ini kepada pria tua tersebut. Setidaknya ia bisa melarikan diri dari Mark."Tentu saja boleh, Nyonya Maria. Katakan saja apa yang bisa saya bantu?"
Hari itu Maria kembali ke rumah Mark yang dulu mereka tempati bersama setelah berhasil mengusir Casandra.Para Pelayan memberi hormat pada keduanya. Namun, sama sekali tidak nampak Rebeca. Pelayan yang dahulu turut andil memfitnah Maria. Entah kemana perginya wanita itu. Tak pernah ada yang membahasnya setelah delapan tahun berlalu.Maria memperhatikan seluruh perabot rumah megah tersebut. Tak ada satu pun yang berubah setelah ia pergi.Pun potret pernikahan mereka, masih terpampang sempurnah di dinding ruang keluarga. Entah mengapa Mark tak pernah menyingkirkan benda berukuran persegi empat tersebut. Padahal delapan tahun lalu ia memaki serta mengutuk Maria dengan memandang gambarnya."Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membawaku ke kamarmu?" tanya Maria setelah sadar, bahwa Mark justru membawanya ke dalam kamar mereka dulu."Mengapa? Apa kau teringat sesuatu bersama selingkuhanmu?" balas Mark.Tiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu selalu terdengar sarkas. Menyudutkan Maria, sea
Malam itu Maria tak bisa tidur, karena memikirkan Putranya yang sudah seharian penuh tak dapat berkomunikasi dengannya.Mark telah merusak ponsel wanita tersebut. Sedangkan ia sendiri tidak menghafal nomor telpon Joe ataupun Leo.Beberapa kali Maria memutar badan kiri dan kanan. Hendak memaksa mata untuk terpejam. Namun, pikirannya masih terbayang-bayang akan Putranya.Sementara Mark masih belum pulang. Entah kemana perginya pria tampan tersebut."Sial! AKu tidak bisa tidur," umpat Maria dengan kesalnya.Kemudian Maria bangun dari tempat tidur. Duduk di atas ranjang sembari merenung."Joe, kau sedang apa, Nak? Apa kau baik-baik saja? Kau pasti ketakutan memikirkan Mommy yang tak kunjung menghubungimu," lirih wanita itu.Sudah dua jam lamanya Maria duduk menangis mengingat Joe. Sampai akhirnya ia lelah dan mulai tertidur pulas.Pukul satu malam, Mark pun datang. Melihat Maria sedang tidur dengan mengenakan lingeri hitam yang sedikit terbuka, hingga menunjukkan paha mulusnya.Mark yang
Usai menikmati nasi biryani buatan Maria bersama Joe. Mark masuk ke dalam ruang kerja. Di sana ia memeriksa laporan keuangan perusahaan.Tak lama muncullah Maria dengan secangkir kopi di tangan untuk Mark. Mengecek mantan suaminya itu tengah serius bekerja.Dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Maria pun masuk serta meletakan cangkir kopi yang dibawahnya.Sejenak Mark melirik cangkir kopi yang asapnya masih mengepul di udara itu. Lantas beralih menatap selidik Maria."Terimakasih," ucap Maria dengan nada canggung, tapi bersungguh-sungguh."Untuk apa?" tanya Mark pura-pura tak tahu."Untuk memberiku kesempatan bertemu Joe," papar Maria.*Delapan belas jam lalu.Mark terbang menuju kota tempat tinggal Joe dengan menaiki jet pribadinya tanpa mengganti baju terlebih dahulu.Tujuannya adalah ia hendak membawa Bocah itu untuk menemui Ibunya. Di balik sikapnya yang dingin dan kasar, Mark dapat merasakan betapa besarnya rasa rindu Maria terhadap Putranya itu. Sehingga ia rela terbang jauh