“Mil, lu ke belakang!” perintah Jonathan yang sudah berdiri di samping meja Rachel sembari menenteng tasnya.Mila mengangguk, lalu segera bertukar posisi. Karena dia tahu sekarang jam mata pelajaran matematika. Tentu Jonathan harus duduk di depan.Jo memaksakan diri selama pelajaran matematika berlangsung. Meski tubuhnya terasa panas, kepalanya terasa berputar, bahkan perutnya masih kosong. Namun Jo tidak ingin kembali ke UKS. Dia masih merasa dirinya sehat, dan ingin menyelesaikan pelajaran hingga bel kepulangan sekolah nanti.Rachel fokus pada penjelasan pak Supri, namun sesekali dia melirik ke samping. Entah mengapa dia merasa kasihan melihat kondisi Jonathan. Masih sakit tapi memaksa untuk ikut pelajaran.Hingga waktu yang dinantikan datang, suara bel berbunyi. Menandakan jam pelajaran berakhir.Sebelum beranjak dari bangku, Jo menatap ke arah Rachel yang masih sibuk berkemas.“Tungguin gue di depan gerbang!” perintah Jonathan lalu segera keluar dari kelas tanpa menunggu jawaban R
“Rachel?”Panggilan Debora membuat perhatian Rachel tertuju pada wanita anggun yang berdiri di depan pintu.“Tante,” Rachel tersenyum lalu segera melangkah untuk menghampiri Debora.Rachel meraih tangan Debora dan menciumnya dengan santun.“Terima kasih sudah mengantar Jonathan ke rumah. Tadi pagi, padahal mama udah suruh Jonathan untuk ijin, tapi dia ngotot pengen sekolah. Mungkin karena rindu sama kamu.”“Mama!” suara Jonathan terdengar dari dalam. Membuat Rachel ikut melongokkan kepalanya ke dalam rumah. Debora tersenyum sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.“Putra mama malu, ayo kita masuk ke dalam dulu!” Debora meraih tangan calon menantunya lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah.Kini Rachel berada di tempat makan dengan meja luas memanjang. Terlihat mewah dengan warna putih mendominasi.Di atas meja sudah terhidang menu lengkap. Bermacam hidangan cepat saji, lengkap dengan potongan buah dan berbagai macam minuman dingin dalam pitcher kaca.Jonathan mengambil satu poto
Sosok berbadan tinggi tegap yang melotot ke arahnya dengan raut wajah terkejut. Menjadi sangat nyata tatkala lampu kamar mandi dihidupkan.“Elu? Ngapain lu di kamar gue?” tanya Jonathan dengan wajah mengerut bingung.Perlahan Rachel membuka kelopak matanya, garis bibirnya melengkung.“Gue..” Rachel menoleh ke samping kanan kiri untuk mencari alasan. “Gue mau cuci muka, ya cuci muka. Lu keluar dulu, Jo!” Rachel mendorong tubuh jangkung Jonathan. Namun pemuda itu seakan tidak ingin beranjak dari sana.Rachel kembali mendongakkan kepala, menatap wajah Jonathan yang terlihat lebih bercahaya. Bahkan bibir pemuda itu sudah tidak sepucat tadi.Tangan Jonathan terulur mencengkram tangan Rachel yang masih berada di dadanya. Ada gelenyar aneh merambat ke relung hati Rachel.“Lu yang keluar! Ini kamar gue, tempat pribadi gue! Lu gak berhak masuk sini!” ujar Jonathan dengan tatapan tajam. Rachel segera menarik tangannya. Menundukkan pandangan dan meraih gagang pintu untuk keluar.Dia tidak bisa
Jonathan merutuki ucapan ibunya dalam hati. Kenapa juga sang ibu datang di waktu yang tidak tepat?Kini Jonathan dibuat bingung untuk menjawab pertanyaan Jessi.“Bukan, maksud mami, Rachel kucing peliharaan mami,” ralat Jonathan sembari melirik ke Debora, mengisyaratkan untuk tidak banyak bertanya.Jessi bernafas lega, “gue kira Rachel si Cupu. Lagian kok bisa nama kucing sama dengan nama manusia.”Debora memang memelihara seekor kucing Scottish Fold putih, namun kucing itu berjenis kelamin laki-laki. Memiliki nama Pablo, bukan Rachel.Jonathan masih menatap pada Debora yang masih merasa tidak terima putranya mengubah nama kucingnya. Apalagi mengganti nama dengan nama calon menantunya. Tentu Debora tidak akan terima, namun tatapan putranya memaksa Debora untuk diam.Tepat saat itu, kucing ras dengan warna putih menyeluruh, memasuki ruang tamu dari arah luar pintu.“Hay Rachel!” seru Jessi memanggil kucing yang dia kira bernama Rachel.Kucing tak melirik sedikitpun ke arah Jessi, justr
“Hati-hati nanti jatuh!” celetuk Jo saat mereka menuruni anak tangga.Rachel masih terdiam sembari menundukkan pandangan, hingga langkah mereka sampai di lantai bawah.“Mbak, dimana mami?” tanya Jo pada salah satu asisten rumah tangga yang melintas.“Nyonya sedang di kamarnya, tuan Jo.”Jo berpikir sejenak, tangannya masih menggenggam tangan Rachel. Meskipun gadis itu berusaha keras untuk melepaskan, namun Jo tak mengindahkan. Justru menggenggam lebih erat.“Mbak, kalau nanti mami nyariin, bilang ke mami kalau aku mau anter Rachel pulang,” ucap Jo menitip pesan. Lalu segera melanjutkan langkah keluar dari rumahnya.“Lepasin deh Jo, sakit!” cetus Rachel berusaha menarik tangannya. Hingga langkah mereka tiba di samping motor, Jonathan baru melepaskan genggamannya.Jo mengambil helm dan memberikannya pada Rachel yang langsung diterima meski dengan gerakan kasar, karena hati Rachel yang masih merasa kesal.Pintu gerbang dibuka lebih lebar, Jo segera memutar posisi motornya. Namun hingga b
Rachel segera mengganti nama kontak Jonathan dengan si Tengil. Sesuai dengan panggilannya pada pemuda itu.[Enak aja, kerjain sendiri!] balas Rachel disertai emoticon marah.Jonathan selalu saja membuat suasana hatinya rusak. Meminta bantuan dengan ucapan tidak beretika, tentunya membuat Rachel geram.Rachel kembali fokus membaca buku pelajaran. Namun kembali ponselnya berbunyi. Kali ini si Tengil melakukan panggilan.Kembali Rachel mendesah kesal karena merasa kesibukannya teralihkan. Berusaha mengabaikan dering telepon yang memekakkan telinga hingga pikirannya tak mampu berkonsentrasi penuh.“Dasar pengganggu!” gerutu Rachel lalu menolak panggilan.Kali ini dia mengaktifkan mode silent. Lalu segera melanjutkan kegiatannya yang tertunda.Hingga waktu berjalan cepat, Rachel kembali melirik ke arah jam yang berada di atas meja belajarnya. Sudah pukul sembilan malam, tak terasa sudah dua jam berlalu.Rachel merapikan jadwal pelajaran yang akan dia bawa besok. Lalu segera mematikan lampu
Rachel segera memberikan helm pada bapak ojek, lalu melangkah menjauh. Namun Jonathan mengejarnya.“Hay lu mau pulang atau ke sekolah bareng gue?” sentak Jo sembari menarik satu kepangan Rachel. Membuat Rachel meringis dan bergerak mundur.“Sakit Jo, jangan tarik rambut gue!” hardik Rachel gusar. Menepis tangan Jonathan dari rambutnya.“Lu ngapain ninggalin gue tadi?” Jo kini berdiri di depan Rachel, berusaha menghalangi langkahnya.“Gue gak mau kena sial! Tiap bareng lu selalu aja gue kena sial!” jawab Rachel ketus. Lalu memutar tubuhnya dan mulai melangkah cepat ke arah sekolah.Meski tak mungkin untuk mengejar waktu yang sangat mendesak, namun gara-gara Jonathan membuat Rachel kehilangan akal. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kaki ke sekolah.Melangkah terburu-buru di sepanjang trotoar, sambil sesekali melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.“Duh, sial gue bakal telat nih,” ucapnya bermonolog. Saat langkahnya mulai menjauh, Rachel kembali menoleh ke belakang
Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka berhenti di sebuah butik mewah yang berada di kawasan elit pusat perbelanjaan.Dimana berjajar bangunan mewah yang menyediakan berbagai perlengkapan fashion bagi kalangan menengah ke atas.Jonathan memarkirkan motornya secara asal, di samping mobil mewah yang berjejer di pelataran butik yang terlihat ramai pengunjung. Rachel tak melihat keberadaan satu motor pun di sana, kecuali motor milik Jonathan. Meskipun bukan motor murah, namun Rachel merasa canggung berada di tempat asing tersebut.“Jo, ini kita dimana?” tanya Rachel penasaran. Ingin rasanya meminta Jonathan untuk mengantarnya pulang. Setidaknya di rumah lebih aman, dibanding di luar. Apalagi bersama dengan pemuda tengil ini.“Lu gak lihat, tuh baca tulisannya!” balas Jonathan sembari menunjuk ke arah atas. Dimana terpampang nama butik di atas bangunan.“Polma Boutique,” ucap Rachel membaca tulisan yang tertera di atas bangunan.“Nah lu bisa lihat, ngapain nanya?” ujar Jonathan ketus.
Rachel bisa merasakan hembusan nafas Jo yang tertahan. Getaran hangat yang mulai mengisi relung hatinya. Jika biasanya dia akan berontak dan otomatis menjauh, namun sekarang sangatlah berbeda. Bahkan Rachel tak kuasa menolak perasaan cinta yang mulai menguasai hati dan pikirannya. Tanpa sadar, salah satu tangan Rachel terulur membelai lembut wajah Jonathan yang terlihat sedikit pucat. Arah matanya mengikuti pergerakan tangannya. Menelusuri dahi dan pelipis Jo yang terdapat beberapa goresan luka yang masih basah itu. Hingga sentuhannya turun ke permukaan lembut bibir Jonathan. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap bibir merah muda yang terlihat kering itu. Bibir yang sudah pernah mencuri ciuman pertamanya. “Chel?” panggil Jonathan yang terdengar seperti sebuah bisikan. Rachel terkesiap, tersadar akan tindakan anehnya itu. Hendak bangkit dari posisinya, namun kembali tangan Jonathan menahan tengkuk belakangnya. Bola mata Rachel membulat sempurna, nafas Rachel tertahan. Ket
Tangis Debora pecah, Natasya pun merasa iba melihatnya. Segera menghampiri Debora untuk memeluknya.“Tetap kuat dan yakin jika Jonathan pasti bisa melewatinya,” ucap Natasya sembari mengusap punggung Debora dengan lembut.Dia paham bagaimana perasaan seorang ibu yang rapuh ketika melihat anak semata wayangnya tengah berjuang hidup.“Maafkan aku, Nat! Sudah mengganggu dengan meneleponmu. Mas Nicho sedang di luar kota, kemungkinan esok hari nanti baru kembali. Aku bingung dan..”“Jangan minta maaf, bukankah kita keluarga? Jonathan sudah aku anggap seperti putraku sendiri, calon menantuku. Jadi kami pun harus ada di sini menemaninya,” pungkas Natasya seraya mengurai pelukannya.Debora memaksakan senyumnya yang terlihat kaku. Kata-kata calon besannya ini cukup menguatkannya. Tatapan Debora beralih pada gadis yang memakai piyama serta cardigan putih.Wajah calon istri Jonathan terlihat sembab, membuktikan bagaimana sedihnya hati Rachel saat ini. Debora melangkah mendekati Rachel yang tenga
Perasaan bahagia yang membuat mata Rachel tak kunjung terpejam, meski seharian ini sudah melakukan kegiatan yang cukup padat bersama Jonathan. Kini dia sudah berada di dalam kamar. Berbaring di ranjang, namun belum bisa tidur. Padahal hari sudah semakin larut. Berbaring dengan posisi telungkup, tangannya terulur di atas nakas di sisi ranjang. Jemarinya memainkan saklar lampu tidur. Mematikan dan menghidupkannya berulang kali. Pikirannya menerawang jauh ke sosok pemuda tampan yang sudah membuat hidupnya berubah. Jika dulu dia tak akan melewatkan waktu untuk membaca buku, kini niatan untuk membaca buku sudah mulai hilang. Melamun sembari memutar kembali momen terindah seharian ini bersama Jonathan, membuatnya lupa akan hobi membaca. Ting! Suara pesan masuk dari ponsel, membuat atensi Rachel teralihkan. Dengan segera Rachel mencari keberadaan ponsel di sisi ranjang dan melihat ke layar ponsel. Sebuah notifikasi pesan masuk dari operator seluler. Rachel menghela nafas singkat, berha
Karena kehabisan bensin, mobil pun akhirnya berhenti. Berkali-kali Jonathan berusaha menghidupkannya, namun selalu gagal. “Jo, gimana?” tanya Rachel dengan raut panik. Dia tahu apa yang tengah mereka alami, membuatnya diliputi rasa ketakutan. Bagaimana tidak, jika mereka kini berada di jalanan sepi yang hanya ada pepohonan sejauh mata memandang. Titik dimana mereka berhenti pun hanya ada lampu jalanan yang mati hidup. Membuat suasana terlihat mencekam. “Gue coba hubungi supirnya mami, untuk jemput kita,” ujar Jonathan seraya menggenggam tangan Rachel untuk menenangkan. Rachel mengangguk setuju, berharap segera mendapatkan pertolongan. Membalas genggaman Jonathan di tengah kekhawatirannya yang semakin membuncah. Berkali-kali Jonathan menghubungi maminya, namun tak kunjung mendapat jawaban. Bahkan pesan yang dia kirim pun tak dibalas. Namun dia tetap menunjukkan sikap tenang agar Rachel tak semakin khawatir. Memutar otaknya untuk mencari jalan keluar. Hingga dia memutuskan untuk me
Setelah menghabiskan semua makanan, tentunya Jonathan yang lebih banyak makan dibanding Rachel yang memiliki perut kecil. Keduanya pun berdiri di sisi haluan kapal untuk menikmati pemandangan laut dengan jarak lebih dekat.Rachel berdiri menyilangkan kedua tangan di depan dada. Mengusap lengannya yang terbuka dengan telapak tangannya. Langit sudah gelap, bintang-bintang malam mulai terlihat. Jonathan menatap sekilas ke arah Rachel, wajahnya terlihat cantik. Tak bosan untuk dipandang. Angin malam berhembus mengibarkan rambut panjangnya ke arah belakang.Jonathan menggeser posisinya ke samping, memupus jarak di antara mereka. Hingga lengan kanannya menyentuh lengan kiri Rachel, membuat gadis itu berpaling menatap ke arahnya.“Dingin?” tanya Jonathan tanpa membalas tatapan Rachel. Mengarahkan pandangannya ke depan.“Sedikit dingin,” jawab Rachel singkat lalu kembali menatap ke depan.“Mau pulang sekarang? Atau masih mau di sini?” tanya Jonathan lagi, kali ini dia yang menatap ke samping
Jonathan berdecak kagum ketika sosok Rachel terlihat nyata di depan mata. Kedua wanita pegawai salon menggeser posisinya agar Rachel bisa terlihat. Kedua mata Jonathan tak berkedip, berkali-kali menelan saliva yang tercekat di tenggorokan. Wajah Rachel yang biasa memang sudah cantik, namun kali ini tampak berbeda. Rambut panjang yang biasa dikepang dua, kini terurai bebas melewati bahu dan lengannya yang terbuka. Wajah Rachel yang biasa polos tanpa riasan, kini terlihat lebih cantik dengan rona merah muda di pipinya juga bibirnya yang lebih berwarna. Pandangan Jonathan turun ke gaun yang dikenakan Rachel. Gaun hitam tanpa lengan yang begitu kontras dengan kulit Rachel yang putih. Membuat penampilan Rachel terlihat lebih dewasa dan sangat cantik. “Udah siap?” tanya Jonathan tak mengindahkan perkataan wanita pegawai salon. Fokusnya hanya tertuju pada Rachel seorang. Rachel mengangguk samar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jonathan. Setelah membereskan barang bawaannya, kedua
“Jo? Jo-na-than!!” teriak Rachel, berjalan sembari meraba-raba dalam gelap.Meski lampu mati, namun pencahayaan ruangan sedikit terbantu dengan cahaya luar dari sisi jendela yang sedikit terbuka.“Gue di sini!” Suara Jonathan terdengar tak jauh dari posisi Rachel berdiri. Salah satu tangan Rachel mencengkeram erat tepian handuk di depan dada, sementara tangan yang lain meraba ke depan.Langkah Rachel semakin mendekat ke arahnya, Jonathan terdiam di tempat karena dia tahu kondisi Rachel yang hanya mengenakan handuk. Tak ingin kekasihnya itu menganggap dirinya mencari kesempatan dalam kesempitan.Namun saat tengah melangkah, kaki Rachel tersandung. Mengenai ujung meja dan membuat tubuhnya limbung ke depan. Sontak Jonathan menangkap tubuh Rachel yang masih terlihat samar di penglihatannya.“Hati-hati jalannya!” ucap Jonathan. Kondisi tubuh Rachel melekat di dadanya. Membuat jantung Jo berdetak lebih cepat. Posisi Jo setengah terduduk di sandaran lengan sofa, menahan tubuh Rachel dengan m
Rachel membuka satu persatu kain yang melekat di tubuhnya dan meletakkannya di sisi wastafel. Lalu segera membasahi tubuh juga rambutnya di bawah guyuran air shower. Air dingin cukup membuat tubuhnya rileks. Setelah seharian melakukan aktivitas fisik, cukup membuatnya berkeringat. Semakin lama mengenal Jonathan, membuatnya semakin sering memikirkan sosok pemuda itu. Seperti halnya sekarang ini. Wajah sang Kapten Basket itu kembali terlintas dalam pikirannya. Terbayang olehnya wajah Jonathan dalam mode serius, juga senyuman magisnya yang mampu menggetarkan hati Rachel setiap kali membayangkan. Kini Rachel tengah berpikir tentang apa hadiah yang pantas dia berikan untuk Jonathan di hari ulang tahunnya sekarang. Baju? Sepatu? Atau yang lain? Belum pernah Rachel memberikan kado untuk seorang pemuda, dia pun merasa kebingungan. Kembali teringat akan kado yang diberikan oleh Aluna. Kira-kira apa isi kado Aluna untuk Jonathan? Apakah sesuatu yang disukai pemuda itu? Tentu sesuatu hal y
Setelah pelayan resto pergi, Jonathan meraih kelapa utuh di depannya, lalu segera meneguknya untuk menuntaskan dahaga. Sementara Rachel masih bergeming di posisinya. Ya, Rachel merasa bahagia. Rachel tak menampik perasaan itu. Namun dia kesulitan untuk mengutarakan semua. Jonathan adalah orang pertama yang membuatnya merasakan kebahagiaan dengan cara yang berbeda. Cinta. Mungkin itulah hal yang mendasari atas perasaannya saat ini. Sepertinya benih-benih cinta mulai bersemi di hati Rachel dan gadis itu baru menyadarinya. “Gak minum? Seger loh! Cobain!” ucap Jonathan mengalihkan atensi Rachel. Jonathan mengangkat kelapa utuh milik Rachel, lalu mendekatkan pipet bening ke depan bibir Rachel. Gadis itu menatap sekilas ke arah Jonathan sebelum akhirnya memasukkan ujung pipet ke dalam mulutnya. Air kelapa asli tanpa pemanis, membuat tenggorokan Rachel merasakan sensasi segar. “Kira-kira lu butuh ke salon gak?” tanya Jonathan sembari meletakkan kelapa ke tempat semula. “Ngapain ke