Home / Romansa / FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang) / 3. Bukan Mantan, Bukan Musuh Bag. 2

Share

3. Bukan Mantan, Bukan Musuh Bag. 2

Author: Bintu Ikhwani
last update Last Updated: 2022-01-29 09:24:16

“Apa kabar, Nad?”

Jantung Nadya seketika memanas saat mendengar lagi suara itu. Meski telah begitu lama, dia sangat tahu siapa pemiliknya.

Ali.

Nadya membuang muka. Sebuah usapan di pipi dia lakukan buru-buru demi memastikan tak ada sisa air mata yang tersisa.

Sedetik kemudian dia melirik pada Ali. Genggaman pada dompet di pangkuan menguat. Mati-matian, Nadya berupaya mempersiapkan diri menghadapi laki-laki itu. Lebih tepatnya, perasaannya sendiri.

“Baik, Mas. Alhamdulillaah,” jawab Nadya lirih sebelum menunduk.

Dia tahu, tidak seharusnya. Tapi memandang Ali lagi setelah sekian lama, nyatanya membuat dia kacau dalam sekejap. Susah payah dia berusaha menyembunyikan kekacauan itu, dan sialnya, justru membuatnya malah terlihat seperti orang bodoh.

“Boleh duduk?” tanya laki-laki itu lagi.

Nadya mengangguk samar. Derit kursi. Dan aroma maskulin parfum terhidu begitu saja yang entah bagaimana Nadya menyukai itu.

Setelahnya, detik berlalu dalam hening. Bagi seorang teman, tak bertemu setelah sekian lama akan memunculkan banyak kalimat yang terucap.

Tapi tidak bagi Nadya. Tenggelamnya dia dalam keheningan adalah bukti bahwa perasaannya masih sama setelah sekian lama.

‘Astaga.’ Nadya menghela napas dalam.

Tak ada obrolan apa pun melainkan pandangan yang sesekali Ali curi dari wajah perempuan di sampingnya. Bahkan setelah memiliki satu anak, perempuan itu tetap ayu seperti dulu.

Nadya menoleh.

Ali mengulum senyum sebelum akhirnya melempar pandang ke tengah aula, di mana bocah bergaun putih dengan rambut terikat, tengah berada. Sayap kupu-kupu di atas ikatan rambutnya mengepak setiap kali bocah itu aktif bergerak.

Ali menarik bibir samar menyadari menemukan sosok Nadya dalam diri anak itu. Lalu apakah kelak dia akan cantik seperti ibunya? Apakah kelak dia juga akan membuat banyak pria patah hati?

“Anakmu cantik, Nad,” ucapnya masih melihat ke arah Tasya yang bermain dengan temannya di tengah sana.

Nadya mengikuti arah pandang laki-laki itu lalu tersenyum tanda setuju. Bocah itu mewarisi genetik sang ayah yang bersih. Bahkan bibir tipis itu pun khas Pramono. Jika ada yang Nadya wariskan pada Tasya itu hanya sifat keras kepala yang sering kali membuatnya seperti memandang diri sendiri.

“Makasih, Mas,” ucap Nadya akhirnya.

“Seperti ibunya,” lanjutnya lalu menoleh pada wanita itu. Menatapnya lekat. Lalu berpaling kembali.

Nadya mendesah dalam hati. Lalu mengedar pandang. Beruntung orang-orang terlihat tengah sibuk pada urusannya masing-masing, hingga tak terpikir untuk menangkap basah seseorang yang tengah kacau hatinya di tengah sana.

Pandangannya lalu berhenti pada dompet di pangkuan. Dari ujung mata Nadya melihat Ali menatap lekat ke arahnya. Lalu seakan sengaja melakukannya, Ali kembali tersenyum saat Nadya kembali menoleh.

“Apakah untuk yang ini ... aku juga harus bilang makasih?” Nadya bertanya dengan sorot serius.

Ali membalasnya. “Karena tidak mungkin lebih dari itu, bukan?”

Nadya membuang muka, dan menghela napas dalam, lagi. Berat tiba-tiba terasa di dada. Membuatnya ingin lari saat itu juga.

“Mas apa kabar?”

Ali mengedikkan bahu. “Tak terlalu baik.”

Nadya ingin bertanya kenapa, tapi memilih mengurungkan karena tak ingin menampakkan sikap perhatian pada laki-laki itu.

Nadya mengedar pandang. Lebih pada wanita-wanita muda seumurnya yang mengenakan seragam batik serupa. Istri Ali, pasti  salah satu di antara mereka bukan?

“Di mana istrimu?” tanyanya lagi. Laki-laki seusia Ali, seharusnya memiliki paling tidak dua anak. Sayangnya topik itu terlalu kentara. Nadya jelas-jelas hanya mencari bahan bicara.

Alih-alih menjawab, Ali justru tersenyum sebagaimana dua belas tahun lalu. Kedua mata itu kini memandang lekat ke arah perempuan di sampingnya. Membuat Nadya mati-matian menahan diri, agar tak sampai terjebak kembali akibat candunya senyum di bibir itu.

Samar terdengar helaan napas. “Satu-satunya perempuan yang ingin kunikahi, menjadi milik laki-laki lain. Aku tak tahu apakah masih ada yang seperti dia,” jawabnya sambil berpaling ke tengah ruangan.

Sontak Nadya tercengang. Bagai dipukul batu besar, mendadak dadanya terasa nyeri.

Dia tak berharap mendengar itu. Jawaban yang menyeret lagi gumpalan hitam di dadanya dan mendadak terasa kian membesar. Menyumbat aliran udara ke paru-paru. Menyesakkan.

Nadya memalingkan muka. “Mustahil tidak ada yang lebih baik,” sahutnya.

“Banyak yang lebih baik. Tapi tak ada yang sama.”

“Tak masalah tidak sama, asal lebih baik!” tegasnya.

Pandangan mereka menghunus satu sama lain. Bibir mereka terkunci. Hingga beberapa saat, Nadya menyadari dia telah terlalu lama menatap laki-laki itu.

Nadya kembali membuang muka. “Menikahlah. Dengan yang lebih baik,” ucapnya serupa bisikan.

Nadya jujur saat mengatakan dia ingin Ali menikah. Itulah harapannya untuk laki-laki itu, agar dia bahagia bersama wanita. Siapa pun dia.

“Jadi itukah alasan kamu menerima dia? Bukan kau, orang tuamu.”

“Apa?” Nadya kembali menatap tajam laki-laki itu.

Belum sampai dia menanggapi, dari tengah aula, Tasya mendekat dan berhenti tepat di depan sang ibu.

“Ma, Mama, Papa masih lama ya?” tanya bocah itu, memaksa Nadya berpaling dari Ali.

“Sebentar kok, Sayang,” jawabnya.

“Tasya mau beli mainan sama Papa,” adunya sebelum menoleh ke arah bocah di tengah sana.

Satu di antara mereka membawa mainan berbentuk tabung bening dengan cairan kebiruan di tangan kiri dan stik berbentuk rantai di tangan kanan yang jika diayunkan akan muncul banyak gelembung. Nadya tahu, putrinya ingin membeli mainan itu.

“Ya udah, sama mama aja, yuk?”

Tasya menggeleng. Nadya mendesah, karena tahu akan mendapat jawaban itu.

Reaksi berlawanan justru diperlihatkan Ali. Dia terkekeh pelan ketika menyadari tebakannya yang mengatakan Tasya persis ibunya, adalah benar.

Sesaat Nadya mendelik kesal pada laki-laki itu, lalu kembali memandang putrinya.

Detik berikutnya, seakan menyadari sesuatu, Ali menelan tawanya kembali, berganti senyum tipis, lalu perlahan memudar sepenuhnya.

Obrolan ibu dan anak itu masih berlanjut. Tasya dengan rengekannya. Sang ibu dengan alasannya.

Lalu ide gila muncul begitu saja dalam benak Ali. “Sama Uncle, mau?” dia berucap.

Bocah yang semula menunduk, mengangkat wajah dan memindai sosok asing di sebelah ibunya. Bocah itu kemudian berpaling pada sang ibu yang kini mendelik ke arah laki-laki itu disertai gelengan samar.

Namun, Nadya harus kecewa, jika itu berarti permintaan agar Ali menuruti keinginannya. Meski paham arti isyarat itu, Ali mengabaikannya dan justru merendahkan posisi duduknya, sejajar bocah itu.

“Om baik kok, teman mama juga.”Ali menoleh pada wanita itu, “ya, ‘kan Ma?”

Nadya kembali mendelik. Lalu mendengkus. Mati-matian dia menahan diri untuk tidak mengomel di hadapan Tasya.

Namun, entah setan dari mana yang menggoda bocah itu. Alih-alih merasa takut, Tasya justru bertanya, “Boleh, Ma?”

‘Astaga.’ Nadya menghela napas.

Itulah yang Nadya takutkan. Tasya mudah dekat dengan orang baru. Dan, memangnya siapa yang tidak akan terpikat dengan laki-laki itu? Bahkan bocah sekecil Tasya pun tahu, Ali adalah pria baik.

Nadya membuang muka. Nggak boleh! Dia ingin mengatakan itu. Namun melihat kedua mata polos putrinya, yang itu berarti kesempatan untuk tidak melihatnya tantrum di tempat itu, dia tak bisa menolak.

Nadya menarik paksa bibirnya perlahan, dan mengangguk. “Boleh, Sayang.”

Ali tersenyum menang. Dia bangkit. “Aku tak akan lama,” ucapnya sembari meraih Tasya ke dalam dekapan.

“Percayalah,” lanjutnya sebelum berbalik dan menjauh dengan langkah panjang.

Pandangan Nadya mengikuti langkah Ali. Tampak laki-laki itu bicara pada putrinya, dan Tasya asyik menyimak. Punggung lebarnya semakin gagah dengan adanya seorang anak dalam dekapan. Sekilas, dia tampak seperti ayah yang tengah menggendong putrinya.

Nadya menghela napas. ‘Lancang kamu, Ali. Kamu masih sama seperti dulu. Selalu perhatian. Tanpa peduli sikapmu telah mempermainkan perasaan orang.’

Nadya baru berpaling saat punggung laki-laki itu menghilang di balik kerumunan.

To be continue ...

Related chapters

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   4. Pertemuan Dua Lelaki

    Bukan di kantor, pertemuan itu diadakan di kafe, setelah Pramono menyebutkan alasannya tak bisa berlama-lama. Pramono bangkit ketika pandangannya menangkap dua orang mendekat ke meja yang telah dipesannya. Satu di antaranya lelaki berkaca mata dengan badan sedikit berisi. Usianya kisaran lima puluh lima atau sedikit lebih tua dari itu. Kemeja kotak-kotak, dengan dua kancingnya terbuka. Satu yang lain, wanita dengan rambut coklat dan sedikit kusut, dan ... menatapnya dengan ekspresi tak percaya. Pramono mengabaikannya. “Selamat siang, Pak Bram,” sapanya ramah dengan tangan kanan terulur. “Siang. Senang akhirnya bisa bertemu Anda, Pak Pram.” “Ayah!” pekik wanita muda di samping laki-laki itu tertahan. Pandangannya memindai bergantian ke arah sang ayah dan Pramono masih dengan ekspresi yang sama. Satu tangannya kemudian kikuk merapikan rambut kusutnya. “Betul,” jawab Bramantyo. “Apa dia mirip ayah?” tanyanya seraya memandang Pramono, lalu kembali ke arah putrinya yang menunduk. Semu

    Last Updated : 2022-01-29
  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   5. Masih Berdebar?

    “Kamu nggak pernah bilang punya teman bernama Ali?” Nadya tergagap. Dia memandang suaminya dan Ali bergantian. Belum sempat Nadya membuka mulut, Ali mendahului bicara, “Mungkin dia lupa,” ucapnya tenang, “dia terlalu pelupa untuk mengingat aku. Lagi pula, kami baru bertemu setelah lebih dari sepuluh tahun,” lanjutnya. Ali beralih pada Tasya dan menyerahkan boneka panda itu padanya dan menatap teduh seakan ada sesuatu di wajah bocah itu yang sangat menarik perhatiannya. “Sya ... Papa udah pulang, Uncle ke sana dulu, ya?” tunjuknya pada salah satu sudut halaman rumah Minarti di mana pemuda berpakaian serupa tengah berkumpul. Tasya mengangguk. “Makasih, Uncle.” Ali menarik kedua sisi bibirnya. Lalu mengacak gemas rambut bocah itu. “Titip Panda, dijaga baik-baik. Janji?” ucapnya sambil mengacungkan jari kelingking. Tasya menyambut riang. Ali bangkit. Dia memandang Nadya dan Pramono bergantian sebelum melenggang pergi. Di sampingnya, pandangan Pramono masih mengikuti Ali sampai pang

    Last Updated : 2022-01-29
  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   6. Kenangan Lalu Bag. 1

    Tujuh tahun sebelumnya. Deru knalpot terdengar berhenti di halaman rumah Ikhsan. Tak berselang lama, Nadya mendengar sapaan salam. Dadanya tiba-tiba memanas disusul debar tak beraturan. Dia kenal suara itu. Dengan langkah buru-buru, Nadya berlari ke arah jendela. Membuka tirainya sedikit, demi memuaskan rasa ingin tahunya. Lalu debar-debar halus itu kian menggila saat akhirnya, dia benar-benar melihat siapa yang datang. ‘Nggak mungkin, ‘kan? Mau apa dia?’ Nadya menggigit bibir. Ada yang seketika bergemuruh, namun Nadya tak bisa menghentikannya. Setelah sekali lagi mencoba menenangkan diri, hati-hati Nadya membuka pintu. Lalu tampaklah wajah Ali dihiasi selarik senyum lembut di antara sorot mata teduhnya. “M—Mas Ali ... ?” “Ya.” Ali kembali mengulum senyum. “Aku.” “S—silakan, Mas.” Nadya menggeser diri, memberi jalan pada Ali untuk masuk. Lalu mempersilakannya duduk. Masih tak percaya pada apa yang dilihat, sesaat Nadya berdiri kikuk memandang laki-laki itu seperti orang bodoh y

    Last Updated : 2022-01-29
  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   7. Kenangan Lalu Bag. 2

    Sepanjang perjalanan, hanya deru knalpot yang terdengar karena keduanya tenggelam dalam lautan pikiran masing-masing. Ali dengan pertanyaan bagaimana cara meyakinkan orang tua Nadya untuk mengubah keputusannya. Dan Nadya dengan perasaan campur aduk yang lebih banyak dia keluarkan dengan air mata. Ali melirik kaca spion. Tangan kirinya terulur untuk membetulkan letaknya agar bisa menangkap pantulan seseorang di balik punggung. Seseorang yang tubuhnya bergetar sejak kedatangannya tadi. Seseorang yang dia kecewakan meski selama ini tahu bagaimana perasaannya sejak dulu. Di kafe bambu tak jauh dari rumah mereka, Ali membawa Nadya masuk. Sengaja dia memilih kursi paling ujung dekat jendela karena cuaca mendadak hujan. Bukan hanya karena dia suka suasananya, tapi juga itu jarak terjauh dari pengunjung lain. Mencegah orang mendengar apa pun yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian, dua cangkir kopi tersaji lengkap dengan kue keju kesukaan Nadya. Rasa manis adalah buster terbaik saat hati s

    Last Updated : 2022-03-07
  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   8. Jalang

    Akan ada masa kita menyesal pada apa yang telah terjadi. Itulah sebab, pentingnya memikirkan dengan baik sebelum menentukan pilihan. Menghindari penjara berupa “andai-andai” yang tak mungkin terulang lagi. Tepat pukul sebelas malamnya, kajian walimah selesai. Setelah seharian hatinya terguncang oleh pertemuan dengan Ali, Nadya memutuskan pulang. Dia beruntung karena Tasya biasanya akan rewel jika tidur bukan di rumahnya, dan kini dia memiliki alasan pulang. “Nggak nginep aja, Nduk?” Dinar bertanya penuh harap. “Maunya, Bu, tapi tahu kan, Tasya susah tidur di tempat asing.” Dinar mengangguk. Meski firasatnya sebagai orang tua terlalu terasah untuk dibohongi setelah melihat mata sembab putrinya lagi sejak bertemu Ali. Dinar tahu itu. Tak hanya itu, dia juga sempat melihat Ali menyusul Nadya duduk di teras, beberapa jam lalu. Dan memang di sanalah. Tepat di halaman rumah tak jauh dari rumah mertua Dinar, seorang lelaki tengah diam-diam memandang putrinya di balik gelapnya malam. Pemu

    Last Updated : 2022-03-07
  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   9. Dinasnya Pramono

    Matahari sudah terik. Waktu menunjukkan pukul satu siang saat Nadya menyelesaikan pekerjaannya di dapur dan duduk di ruang tengah bersama Tasya yang asyik memainkan legonya dengan lesu. “Bobo yuk, Dek?” tanya Nadya. Bocah itu menggeleng. Sebaliknya dia justru bertanya, “Ma, Papa kapan pulang?” Mainan yang semula dia mainkan, kini hanya dipukul-pukulkan ke lantai. “Nanti kalo kerjaan Papa dah selesai, Dek,” jawab Nadya sembari memijat pelipisnya. Matanya terpejam, mencoba mengistirahatkan diri. Tak ada yang memaksanya mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, sulit baginya untuk benar-benar santai menyadari dirinya belum berberes rumah. Itulah yang membuatnya harus mengerjakan pekerjaan rumah, meski tak ada yang meminta. “Papa lama! Kenapa Papa nggak ngajak Asya?” ucapnya lagi. Bibir mungil itu mulai mengerucut. “Karena Papa sekarang kerjanya pindah-pindah. Jadi kasihan Tasya kalo ikut.” Nadya mendesah lelah. Kadang-kadang pertanyaan kritis putrinya sedikit menyebalkan. “Tapi Tasya mau

    Last Updated : 2022-03-07
  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   10. Antara Anugerah dan Musibah

    “Halo, Al,” Pramono menyapa Ali yang kedapatan tengah duduk sendirian di jajaran kursi tamu yang hampir kosong. Sebagian besar tamu sudah meninggalkan acara, menyisakan beberapa orang saja. Ali menoleh. “Yo.” “Sendirian aja?” Pram kembali bertanya. Lalu menyusul duduk di samping Ali setelah meraih satu gelas teh hangat di meja tak jauh dari mereka. Ali mengangguk. Di tangannya ponsel masih menyala. Dan segera dia masukkan ke saku. Pramono yakin dia sempat melihat foto seorang bocah bergaun putih dengan rambut terikat, yang diambil dari arah samping. Sekilas, tampak mirip Tasya. “Thanks, tadi sudah membawa Tasya main.” Pramono meletakkan teh yang baru disesapnya ke atas meja, “tak menyangka, Tasya akan secepat itu akrab dengan orang asing.” Ali mengangguk samar. “Bukan masalah. Tasya anak penurut, walaupun sedikit keras kepala.” Ali menarik sebelah bibirnya. “Persis seseorang.” Pramono sempat menangkap ekspresi itu. Dan itu sedikit mengganggunya. Tepatnya, pada kalimat, ‘persis

    Last Updated : 2022-03-08
  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   11. Kedatangan Ali

    Pintu terbuka. Hal pertama yang terlihat adalah sorot teduh di bawah topi hitam. Dahi lebar. Alis tebal. Hidung mancung. Bibir tipis lengkap dengan senyumnya yang meski samar, namun Nadya bisa melihatnya dengan jelas. Rahang tegas dengan jenggot tipis yang terarsir, menambah gagah sosok Ali yang Nadya kenal dulu. Menawan. Terutama kedua mata yang hampir selalu menyipit saat tersenyum, namun entah bagaimana bagi Nadya justru bagai lautan dalam yang siap menenggelamkan kapan saja. Nadya berdengap. Dia nyaris kehabisan napas setiap kali memandang wajah itu, dulu. Dan, bagaimana mungkin hal yang sama terjadi lagi sekarang? “Uncle ...” Tasya memanggil. Ali menoleh. Nadya tergagap. Panggilan Tasya seketika memecah keheningan di antara mereka. Nadya nyaris lupa ada Tasya di antara mereka. Tak butuh waktu lama untuk Tasya berada dalam gendongan Ali. Sebuah kecupan mendarat di pipinya, bocah itu tergelak akibat rasa geli. Ali kembali memandang Nadya dengan senyum samar. Seakan pertemuan

    Last Updated : 2022-03-12

Latest chapter

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   136. Last Part Season 2

    Usai makan malam, dan menidurkan Tasya di kamarnya, Nadya termenung di ujung ruang tamu. Remote di pangkuan. Televisi menyala di ujung ruangan. Namun, pikirannya melayang entah kemana. Ada hal yang membuat dia enggan dengan mudah menerima kebaikan Pramono. Salah satunya, dosa yang dia perbuat. Nadya malu. Dia merasa tak tahu diri jika menerima kebaikan Pramono begitu saja, sementara tangannya telah begitu jahat mencabik hati laki-laki baik itu. Hal yang juga sekali lagi akhirnya Nadya sesali, adanya lebam biru di pipi Tasya yang ternyata akibat ulah Ratna, wanita yang selama ini menampakkan wajah lembutnya di hadapan Pramono, yang seolah sanggup menggantikan kedudukan istri mana pun. Nadya menunduk. ‘Ini semua salahku. Andai aku tak menanggapi Ali. Andai aku tak menyerahkan kehormatanku begitu saja ... mungkin ini semua tak akan terjadi. Dan jika ada yang pantas dihukum, maka itu adalah aku,’ bisik Nadya dalam hati. Dia menangis dalam diam. “Apa yang kau pikirkan?” Dari arah dapur,

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   135. Mengubah Niat

    “Mas baik-baik saja?” tanya Annisa pada Pramono tepat ketika membuka pintu kamar rawatnya. Setelah sempat melirik sebentar, alih-alih menanggapi, laki-laki itu justru berpaling dari gadis yang mendekat ke arahnya. “Jadi Nadya bersamanya, sekarang?” tanya Pramono tak terkejut. Annisa mengedikkan bahu, seolah ada jawaban, ‘Begitulah’ pada gerakan itu. “Hanya untuk minta maaf. Tak ada yang lain,” jawabnya datar. Sontak laki-laki di bed menoleh. Dahinya berkerut begitu saja. “Minta maaf? Untuk?” “Mbak Nadya merasa apa yang menimpa Ali—kalian adalah salahnya.” Laki-laki itu menatap skeptis, lalu terkekeh pada detik berikutnya. Ekspresi wajahnya berubah begitu getir. “Korban sesungguhnya bukan dia,” ucapnya di antara geraham beradu. “Bukan dia yang seharusnya mendapatkan permintaan maaf itu, kau tahu bukan?” “Mas, Nisa pikir bukan itu maksud Mbak Nadya.” “Lalu apa?” Annisa menelan ludah sebelum mulai bicara, “Dia hanya merasa Ali tak perlu mendapat pukulan itu.” Kerutan di dahi Pra

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   134. Semakin Keruh

    Berniat pulang lebih awal, pukul tiga sore Pramono keluar dari ruangannya. Melewati meja Hana, berbelok kiri, dia melangkah menuju ruang editor untuk menemui Nadya dan bermaksud mengajaknya pulang bersama. Namun, Pramono harus kecewa karena wanita itu tidak ada di mejanya. Laki-laki itu berbalik. “Kau tahu di mana Nadya, Hana?” Sontak Hana mendongak. Pandangannya sempat melirik ke ruangan sebelah di mana Nadya biasanya berada, sebelum kembali pada sang bos yang berdiri dengan tatapan dingin, menunggu jawaban. “Tidak, Pak. Saya kira tadi sudah izin sama Bapak.” Pramono memicing. Artinya dia pergi? “Sejak kapan?” “Mungkin satu jam yang lalu.” Laki-laki itu meninggalkan meja Hana dan keluar dari ruang editor dengan langkah panjang. Satu tangannya menyelip ke dalam saku kanan celana, lalu keluar dengan ponsel dalam genggaman dan mulai menggulirkan ibu jari. “Kau di mana?” tanyanya pada seseorang di ujung sana setelah nada sambung terputus. “Aku di rumah.” “Rumah yang mana?” “Yang

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   133. Persaingan Dua Lelaki

    “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” tanya Pramono berusaha menutupi kemarahannya. Laki-laki di hadapannya berdeham pelan. Detik berikutnya punggung dan menatap dingin ke arah Pramono. “Aku ingin mengatakan, mari kita bersaing secara sehat,” jawabnya tenang. “Aku tahu, meski Anda begitu marah, jauh dalam lubuk hati Anda, Anda masih sangat mengharapkan Nadya—demi putri kalian. Dan mungkin, masih ada sedikit cinta untuk dia di dalam sana. Benar? Kupastikan, aku akan mencintainya dengan baik. Jika Anda tidak yakin bisa memaafkannya dengan ikhlas, sebaiknya menyerah lah dari sekarang.” ‘Astaga ...’ Pramono meraup wajah lelah. Gigi geraham bergemeletuk. Menoleh ke kanan, diraihnya ponsel yang tergeletak di meja. Ibu jarinya bergulir menelusuri daftar kontak. Pada nama Annisa dia berhenti dan menekan tombol call. “Ya, Mas?” sapa Annisa tepat setelah bunyi dengung di telinganya terputus. “Sa, aku bisa minta tolong?” “Ya. Minta tolong apa?” *** Sepulang dari kantor Pramono, Edwin

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   132. Kedatangan Edwin

    Beberapa menit yang lalu. “Nah, begini kan cantik.” Shofwa mengulum senyum. “Coba Teteh lihat. Cantik, ‘kan?” tanya Shofwa pada wanita di sampingnya. Dipandanginya wajah itu dari pantulan kaca di depan mereka. Tak menyahut, Nadya memandang seraut wajah di cermin. Dia hampir tak mengenali dirinya sendiri yang kini dibalut jilbab panjang. Tak ada yang terlihat lagi melainkan wajah bersih dengan mata coklat dalam dan bibir yang dipulas dengan warna lembut, khas dirinya. Gadis di samping Nadya mengulum senyum. Kedua matanya menyipit. Menampakkan ekspresi kebahagiaan yang tak dibuat-buat. “Bahkan ... masih secantik itu setelah Teteh pakai jilbab. Maha Kuasa Allah menciptakan wanita dengan kecantikannya yang sempurna.” ‘Cantik?’ Nadya menatap ragu pada dirinya sebelum menunduk. ‘Apakah itu anugerah, atau musibah?’ Dia bahkan mengira kecantikannya adalah petaka yang berakhir dengan terlukanya hati banyak orang. Kini, bahkan keluarga dan orang tuanya juga. Nadya merasakan hangat merebak

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   131. Perbincangan dengan Shofwa

    “Mama masih di sini?” tanya Tasya saat menuruni anak tangga dan melihat ada sang ibu di dapur. Wanita yang masih mengenakan pakaian yang sama sejak kemarin siang, memandang ke arah bocah yang mendekat. Selarik senyum dia suguhkan seolah tak ada beban apa pun di hatinya. “Mama harus masak dulu. Terus antar Tasya ke Sekolah, terus berangkat kerja,” jawabnya. “Tapi ... tapi ... mama pulang lagi, kan?” Gerakan tangan Nadya melambat. Piring berisi nasi itu sempat mengambang sebelum diletakkannya ke meja, lalu memandang bocah di ujung meja dengan tatapan teduh. Dia bisa melihat dengan jelas ketakutan di wajah bocah itu. Nadya menoleh pada laki-laki yang kini siap dengan kemeja putihnya. Tak ikut campur, namun dia yakin Pramono menyimak pembicaraan itu, dan ingin tahu apa jawabannya. Tak berselang lama, wanita yang berdiri di ujung meja mengangguk. “Iya, Sayang. Mama akan datang lagi,” jawabnya seiring tatapan ke arah Pramono. Pandangan mereka beradu. Pramono sadar dia belum mendapat j

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   130. Permintaan (Mantan) Suami Bag. 2

    “Kuingin kau menemui Tasya barang semenit. Dia membutuhkan ibunya.” Terngiang kembali kalimat Pramono kemarin. Nadya meremas jemarinya gugup. Di depan sana Playground tempat Tasya bermain sudah terlihat. “Kau gugup?” tanya Pramono. Nadya memilih tak menanggapi. Mobil berhenti. Tak langsung keluar, Nadya justru sibuk mengatur napas. Mempersiapkan diri pada apa pun yang mungkin terjadi nanti. Penolakan, misalnya. Saat marah, anak itu sering menolak sang ibu. Dan besar kesalahannya, membuat Nadya merasa pantas mendapat kemarahan dari Tasya, bahkan mungkin bukan kata maafnya. Sementara dalam pandangan Pramono, sikap itu tampak seperti seseorang yang menunggu dibukakan pintu. Maka laki-laki yang telah berada di luar itu lalu mendekat ke pintu, membukanya. Satu tangannya lalu terulur ke arah Nadya. Wanita itu terenyak. Sempat dipandangnya tangan itu, lalu ragu-ragu menerimanya. “Tasya pasti senang melihat kau datang,” ucap Pramono sembari menutup pintu. Sebaliknya, keraguan justru mem

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   129. Permintaan (Mantan) Suami

    “Mas, di sini.” Annisa melambai pada laki-laki yang mengedar pandang di tepi alun-alun kota Bandung. Topi hitam di kepala. Jam di tangan kirinya. Laki-laki berkemeja putih itu menoleh. Lalu tersenyum. Dia melangkah mendekat. Namun perempuan dari arah sebaliknya melangkah lebih cepat. Gadis itu berhenti ketika jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Dengan teliti, dipandanginya wajah itu. Binar kebahagiaan terpancar jelas di matanya. Senyum jujur yang dibalut rasa malu. Satu lagi ... rasa yang sama. Annisa hampir tak percaya bisa melihat laki-laki itu datang begitu jauh hanya untuk menemuinya. Annisa melangkah maju dengan kedua tangan terbuka, dan merengkuh erat tubuh laki-laki itu. “Aku kangen, sama Mas.” Ragu, laki-laki itu mundur selangkah. Kedua tangannya sempat akan mengurai dekapan Annisa, namun akhirnya memilih membiarkan ketika dekapan itu terasa lebih erat. *** “Ratna!” Mendengar namanya dipanggil, wanita di pintu keluar bandara menoleh. Wajah yang semula sendu, beru

  • FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)   128. Kemarahan Pramono Bag. 2

    Beberapa menit sebelumnya. “Mas sarapanlah dulu.” Ratna meletakkan mangkuk sayur di meja. Satu piring dia ambil dan meletakkannya di depan Pramono. Di atasnya, nasi lengkap dengan sayuran telah tersaji. “Terima kasih,” jawab Pramono melirik wanita di seberang meja sebentar. Tampak sembab di wajah itu. Dia yakin, Ratna menangis belum lama tadi. Beralih ke piring, laki-laki itu meraih sendok di atasnya. “Kau baik-baik saja?” Ratna tertawa datar. “Apa ada yang baik-baik saja, setelah diceraikan suaminya?” Butuh waktu bagi Ratna untuk mendengar tanggapan laki-laki di depan meja. Wajahnya menunduk ke arah makanan di hadapan. “Aku hanya tak ingin membebanimu, Ratna,” ucap Pramono dengan nada begitu rendah. “Aku tahu.” Wanita itu mengangguk. “Itulah kenapa kuminta Kak Syarif datang untuk menjemput ke sini.” “Syarif? Asisten Ayah?” “Ya.” Pramono manggut-manggut. Kabari aku saat dia datang. Aku harus ke kantor sebentar. *** Usai mengantar Tasya ke sekolah, Pramono bergegas menuju kan

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status