Ana mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ia membawa mobil mewah dengan santai. Ana sangat menyukai semilir angina yang menyentuh wajahnya. Ia menaruh tangannya di jendela mobil dengan satu tangan memegang kemudi.
Tujuan Ana kali ini untuk pergi ke klub malam untuk menghilangkan penat. Ia sangat butuh udara segar dan juga sesuatu untuk menyenangkan pikirannya. Ana senang ketika malam hari karena lebih tenang dan leluasa untuk begerak.
Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir kelab malam. Ana memeriksa kartu identitasnya, ia memakai identitas palsu tentunya karena masuk ke Amerika melalui jalur ilegal. Ia tidak bisa membuat kartu identitas karena hal itu. Hal ini juga yang membuat Ana harus selalu waspada dan tidak terlalu mabuk saat minum.
Ia bisa saja di tangkap polisi saat menyetir atau membuat masalah saat di dalam kelab yang membuatnya harus berurusan dengan pihak kepolisian. Ana tidak mau itu terjadi karena akan membuatnya dalam masalah besar bagi organisasi.
Ana tersenyum miring ketika berhasil masuk ke dalam club. Ia langsung di suguhkan dengan kerasnya suara musik yang berdentum dengan campuran wangi alkohol dan berbagai jenis parfum yang di pakai oleh semua orang yang berada di dalam kelab itu.
Ana langsung memilih duduk di salah satu kursi di depan bar, ia memesan cocktail kepada bartender dan langsung meracikkan minuman itu untuknya. Ana tidak ingin mabuk malam ini, ia kesini hanya untuk melepas penat dan sedikit bersenang-senang.
“Silahkan.” Ucap seorang bartender memberikan minuman yang Ana pesan. “Sudah lama sejak kau tidak kemari? Sibuk?” tanya bartender itu.
Ana mengangguk, “Sedikit, banyak kerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Sebenarnya kau kerja apa? Ku lihat kau datang tidak tentu hari.” Tanya Bartender itu lagi sembari mengelap gelas.
Ana menoleh, “Hanya pengantar barang biasa.” Jawab Ana lalu menghela napas pelan.
Bartender itu tersenyum miring, “Aku tidak percaya, pengantar barang tidak mungkin bisa memesan minuman mahal. Tumben, hari ini hanya cocktail?”
Ana tertawa, “Aku sedang tidak ingin mabuk. Pergilah, aku ingin sendiri.”
Bartender itu tersenyum lalu mengagukkan kepala dan pergi dari hadapan Ana. Ia sedikit tidak suka jika seseorang mencoba lebih akrab kepadanya, ia harus lebih berhati-hati karena di tempat ini bukan hanya orang yang ingin melepas penat tetapi banyak juga yang merupakan mata-mata, tidak ada yang bisa ia percayai kecuali dirinya sendiri.
Dua jam berada di dalam kelab itu, Ana sudah menghabiskan tiga cocktail. Ana merasakan tubuh dan pikirannya lebih ringan, ia turun ke lantai dansa. Ia menggoyangkan tubuh sesuai dengan irama musik yang menghentak. Tidak lama berdiri di sana, ada sebuah tangan yang menghampirinya. Ana langsung berbalik dan mengernyit ketika mencium aroma alkohol yang begitu pekat dari pria yang berusaha mendekatinya.
Ana berdecak lalu berpindah tempat, ia tidak ingin berurusan dengan pria mabuk yang kehilangan akal sehat. Namun, pria itu terus mengikutinya kemanapun ia melangkah. Akhirnya, Ana mendorong pria itu dan memperingati agar tidak menyentuhnya.
Tetapi, pria itu masih tetap berkeras kepala. Ana baru saja ingin memukul pria itu ketika seorang pria datang dan berbisik kepada pria mabuk itu dan menyuruhnya pergi. Ana tersenyum miring ketika pria mabuk itu dengan santai pergi meninggalkannya.
“Thanks.” Ucap Ana berterimakasih.
Pria itu menoleh lalu menganggukkan kepala, “Mau begabung denganku? Di lantai atas?” tanya pria itu malu menunjuk ke sebuah tempat yang berada di lantai dua.
Ana mengangguk ia menyetujui ajakan pria itu, kelab ini memiliki lantai dua yang terbuka, mereka hanya naik beberapa anak tangga lalu sampai di atas. Di sana, hanya bisa di temati oleh orang yang memiliki bayaran yang cukup mahal karena dari sini mereka bisa melihat apapun dengan sepuasnya dari atas.
Pria itu memesan wine dan sedikit cemilan, “Mau pesan sesuatu?””
Ana menggeleng, “Aku sudah minum.” Jawab Ana menolak dengan sopan.
Pria itu mengeleng lalu memesankan wine untuknya. Chaya hanya menatap pria itu dengan kening berkerut lalu mengangkat bahunya pelan. Ana mengalihkan perhatiannya menuju lantai bawah. Ternyata memang mereka bisa melihat semua orang dari atas sini termasuk orang-orang yang sedang menari di bawah.
Ana terihat menatap seorang wanita yang memakai baju tipis yang hanya menutupi dada dan juga pingganggnya sedang menari di tiang. Wanita itu di tatap oleh beberapa pria lapar yang berada tidak jauh darinya.
“Kau bisa melakukannya?” tanya pria itu.
Ana mengerutkan kening, “Apa?”
“Menari di tiang.” Ucap pria itu.
Ana tertawa, “Tentu saja tidak, kalau menghancurkan tiang itu aku bisa.”
Gantian pria itu yang tertawa, “Perkenalkan, namaku Werren. Senang bertemu denganmu.”
Ana menjabat tangan pria itu, “Ana. Senang juga bertemu denganmu.”
“Just, Ana? Wow, kamu bukan Anastasia di fifty shades bukan?” tanya pria itu bercanda.
Ana menyeringai, “Tentu saja bukan. Aku jauh berbeda dengannya dan aku tidak punya Christian di dekatku.”
Mereka berdua tertawa, tetapi teredam oleh kerasnya suara musik yang berdentum di dalam kelab itu. Mereka menikmati malam di sana, Werren mengantar Ana sampai di tempat parkir.
“Benar tidak mau ku antar?” tanya Werren.
Ana menggeleng, “Aku punya mobil untuk di bawa pulang dan aku tidak mabuk.Lagipula yang harus kau khawatirkan itu dirimu sendiri, karena kau terlihat sedikit mabuk.”
Werren mengangguk, pria itu mundur perlahan ketika Ana menjalankan mobilnya. Ia melambaikan tangan tanda berpisah, Ana langsung memacu kecepatan untuk berputar-putar sejenak di tengah kota Washington, ia tidak ingin seseorang pun mengikutinya pulang ke markas.
Ketika Ana merasa dirinya sudah benar-benar aman, ia pulang melewati jalan tikus untuk sampai di markas. Ana memilih tidak melewati tengah kota agar bisa menghilangkan jejaknya jika mala mini ia bersenang-senang di klub itu bersama dengan seorang pria tampan.
…
Werren menghela napas frustasi karena tidak berhasil mengikuti mobil Ana. Jujur ia sangat tertarik dengan gadis itu, tetapi tidak ingin langsung mengajaknya untuk menikmati malam lebih ada dengannya hari ini.
Werren kembali mengemudikan mobilnya menuju kantor, ia hanya tertawa pelan ketika tidak berhasil menuntaskan malamnya hari ini. Mungkin ia belum beruntung atau memang salah target, gadis yang ia ajak berkenalan bukanlah gadis yang biasa ia temui.
Werren sangat penasaran dengan gadis itu karena Ana memiliki sikap yang lebih berhati-hati dan sangat tegas dalam mengambil keputusan. Werren tidak bisa memungkiri jika Ana sangat sexy dan juga memiliki proporsi tubuh yang sangat menarik untuk Werren.
Sesampainya di kantor, Werren langsung menuju meja kerjanya. Ia melepas dasinya dengan kasar dan melemaskan lehernya. Ia tersenyum kecil begitu kembali mengingat Ana. Werren mencoba datang ke kelab itu di malam berikutnya tetapi kecewa ketika tidak mendapatkan Ana di sana.
Ia sempat bertanya kepada seorang bartender tetapi pria itu bilang jika Ana tidak setiap hari ke sini. Sejak itu, Werren terus datang ke kelab malam walaupun tidak bisa menemukan Ana. Ia hanya menunggu sampai wanita itu datang kembali.
Werren pulang ke rumahnya dengan tubuh lelah, ia tinggal di salah satu rumah mewah yang ada di tengah kota Washington sejak dipindahkan dari London satu tahun yang lalu. Ia memimpin cabang utama kedua perusahaan setelah di percayai oleh pemilik perusahaan yang merupakan ayah dari sahabatnya.
Werren langsung membersihkan diri lalu berbaring di atas ranjang, ia sangat jarang pulang ke rumah karena kesibukannya yang sangat padat. Tetapi kesibukannya itu membuatnya sedikit senang karena dengan itu ia tidak terlalu memikirkan tentang kehidupannya.
Werren hanya tinggal sendiri di dunia ini setelah kedua orangtuanya meninggal saat adiknya baru menginjak bangku sekolah dasar. Tetapi, tidak lama setelah itu, Werren kehilangan adiknya dan hidup sendiri sampai sekarang.
Werren menghela napas panjang ketika mengingat kenangan itu, ia menggelengkan kepalanya lalu mencoba memejamkan mata untuk berusaha tidur. Tidur Werren tidak pernah lagi nyenyak, ia beruntung ketika tidur selama empat jam dan tidak pernah lebih dari itu sejak adiknya meninggal.
“Shit!” maki Werren dengan suara keras ketika ia tidak berhenti memikirkan tentang kecelakaan adiknya.
Ia menyesal memikirkan tentang itu ketika ingin tidur. Werren bangun dari tempat tidur, mengambil kunci mobil dan berpakaian lalu keluar dari rumah. Malam ini, ia kembali ke kelab malam untuk bersenang-senang.
Werren terkejut ketika ia melihat gadis yang familiar sedang duduk di depan meja bar. Pria itu langsung menghampiri gadis itu dan duduk di sebelahnya. “Hai, kita bertemu lagi?”
Tebakan Werren benar, itu adalah Ana. Gadis itu memakai kaos dengan celana robek. Sangat kontras dengan wajah dan tubuh gadis itu. menurut Werren seharusnya Ana memakai dres ketat sepaha dan pasti gadis itu akan langsung meraih seluruh perhatian semua pria yang ada di sini.
“Memangnya kau lihat aku sedang bersama siapa sekarang?” tanya Ana sakartis.
Werren tertawa lalu memesan minuman, ia memandang wajah Ana yang terlihat sangat lelah seperti telah melakukan sesuatu yang sangat berat. Werren menyentuh bahu Ana dan langsung membuat gadis itu terkejut.
“Kau baik-baik saja?” tanya Werren.
Ana menggeleng, gadis itu beranjak turun dari kursi. Werren mengikutinya dari belakang setelah membayar minuman yag sudah ia pesan. Werren menarik lengan Ana ketika keluar dari pintu.
“Kau mau kemana?” tanya Werren lagi.
Ana tidak berbalik dan hanya berjalan lurus menuju mobilnya, “Pulang.”tetapi setelah mengatakan itu Ana berbalik dan menatap Werren tajam, “Jangan mengikutiku lagi.”
Werren terkejut tetapi ia dengan cepat menghilangkan rasa terkejutnya dan menormalkan ekspresi wajahnya. “Aku tidak mengikutimu.”
Ana tersenyum miring, “Jangan bohong, aku mengetahuinya.”
“Kalau aku mengikutimu memang kenapa? Ada yang marah?” tanya Werren.
Werren menarik Ana untuk berbicara dengannya, ia membuat gadis itu bediri di antara tubuhnya dan mobil gadis itu. Ana mendognak menatap Werren dengan tatapan menantang.
“Aku yang melarangmu.” Jawab Ana tegas.
Werren menipiskan jarak dengan Ana, menghimpit tubuh gadis itu dan tubuhnya seperti tersetrum ketika menyentuh lengan Ana. Seketika Werren yang mau membalas perkataan Ana malah menatap bibir gadis itu yang terlihat sangat ranum.
“Memangnya ada yang salah jika aku mengikutimu?” tanya Werren.
Ana menjilat bibirnya, jantungnya bedebar kencang. Kemarin, ia diperingatkan oleh salah satu rekannya agar lebih berhati-hati karena mereka melihat mobilnya sedang diikuti oleh seseorang dan itu membuat Ana sangat jengkel.
Walaupun seperti itu, ia tetap datang kembali ke kelab ini karena masih penasaran dengan Werren. Pria ini memenuhi pikirannya hanya dengan satu kali bertemu. Ana frustasi dan hari ini nekat keluar dan pergi ke kelab malam ini.
Ana mencium wangi parfum Werren, wangi ini yang membuatnya ingin bertemu pria yang sedang berdiri tepat di depannya.
“Kau,” belum selesai Ana menyelesaikan ucapannya ketika sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya.
Ana mendorong dada pria itu hingga ciuman mereka terlepas, ia melihat mata pria itu berkiat marah ketika tautan bibir mereka terlepas. Ana tetap menahan tubuh pria itu ketika kembali akan menciumnya.
Ana menggeleng, “Kau membuat dirimu dalam bahaya. Jangan mengikutiku.”
Werren mengerutkan kening, “Kenapa? Apa kau di ancam seseorang?”
“Bukan,”
“Kalau begitu, kita taruhan. Kalau kali ini, aku tidak berhasil mengikutimu. Kau bisa pergi dan anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Tetapi, jika aku berhasil menemukanmu, kau akan menciumku? Setuju?” tanya Werren.
Ana tertawa lalu mengangguk. Ia tidak tahu keputusannya ini salah atau tidak tetapi ia harus berusaha agar pria itu tidak menemukannya. Ia masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lalu berbelok untuk mengcecoh Werren.
Ketika setengah jam berlalu dan Ana tidak melihat Werren di manapun, ia bersorak bahagia. Tetapi, kemudian terkejut ketika ia melihat mobil pria itu tiba-tiba datang dari arah berlawanan dan langsung berbelok untuk mencengat mobilnya.
Pria itu membuka kaca spion mobil lalu tersenyum senang karena menang.
Ana mengigit bibirnya, bagaimana bisa pria itu menemukannya? Ana keluar dari mobil dan menuju mobil pria itu. Ana menatap Werren dengan kening berkerut dan pria itu balas menatapnya dengan ekspresi senang dan mengejek. “Bagaimana bisa?” tanya Ana tidak mengerti.Wer
Ana melajukan mobilnya sampai dua ratus meter dari lokasi kecelakaannya. Ia memarkir mobilnya di sebuah lorong gelap yang berada di antara dua gedung tidak terlalu ramai. Ana memegang bahu kanannya yang sakit akibat terbentur di badan mobil.Ia melihat Sherly yang juga dalam kondisi yang tidak jauh lebih baik darinya, bahkan kepala gadis itu berdarah akibat terbentur di kaca mobil. Ana menggeram lalu membuka sabuk pengamannya untuk mengambil dua benda yang merupakan sebuah benda hitam mirip remot yang hanya memiliki d
Werren uring-uringan karena tidak bisa menemukan Ana di manapun. Ia sudah mencarinya berkali-kali ke kelab malam bahkan bertahan sampai pagi buta untuk bertemu dengan Ana tetapi gadis itu tidak pernah lagi datang.Werren berada di balik meja kerjanya dan tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik karena memikrikan tentang Ana. Gadis itu memberikan efek yang sangat hebat untuknya yang sudah sangat handal dalam urusan bercinta.
Ana mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak lagi memikirkan tentang peraturan lalu lintas yang harus ia patuhi. Ana bahkan mendengar suara sirine polisi tetapi dengan cepat mengecoh merkea dan berhasil melarikan diri.Ketika ia sampai di markas, tidak banyak orang di sana dan malah sangat sepi dari biasanya. Ana memarkirkan mobilnya dan mencari Dake tetapi pria itu tidak terlihat dimanapun.
Ana tidak di perbolehkan keluar dari markas dan hanya membantu tim yang bertugas mengawasi CCTV selama empat bulan. Ia juga tidak di berikan ponsel, tetapi Ana tidak masalah karena tidak ada yang ia hubungi di dalam ponsel itu selain rekan-rekannya. Ana tersiksa karena dia hanya menatap layar seharian untuk mengawasi timnya melaksanakan misi. Tugas mereka hanya mengawasi dan mengganti gambar yang di tangkap CCTV agar mobil rekan-rekan mereka tidak terlihat di CCTV pihak keamanan yang setiap saat juga di pantau oleh p
Ana benar-benar membersihkan dapur, itu ia lakukan karena ucapan terimakasihnya karena sedikit banyak telah dilindungi walaupun ia di tampar. Ketika ia sedang mencuci lap yang ia pakai, seorang wanita paruh baya yang menamparnya tadi itu masuk ke dalam.“Sudah bersih, sekarang pergilah!” ucap wanita paruh baya itu.
Ana tidak langsung turun, dia menenangkan dirinya terlebih dahulu lalu membuka pintu mobil. Ana melihat sekeliling dan dia sangat lega ketika tidka melihat sesuatu yang mencurigakan. Sampai sekarang, Ana bisa memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti mereka.Ana mengikuti langkah Werren, ia masuk lebih jauh ke vila pria itu. “Terimakasih telah menolongku.” Ucap Ana pelan ketika mereka sampai di ruang tamu.
Ana meluruskan otot-ototnya, dia baru saja bangun. Tiga hari tidur di vila Werren dia merasa tenaganya pulih, Ana tidak pernah tidur selelap ini setelah tiga tahun lamanya. Di organisasi dia selalu was-was untuk tidur lelap karena takut ada orang yang ingin mencelakainya.Werren berada di kamar lain di lantai bawah, dia sangat bersyukur pria tu memberikannya waktu untuk sendiri dan setelah hari itu Werren berhenti betanya-tanya soal kehidupannya. Selain itu, Werren juga belum menyentuhnya sampai saat ini, Ana sadar pr
Ana bangun dengan kaget ketika mendengar suara keributan dari luar, dengan setengah kesadaran dia langsung bangun dan melangkah keluar dari kamar. Hanya butuh beberapa detik untuk Ana melangkah sampai melihat apa yang sedang terjadi. Di sana, tepat di depan pintu berdiri seorang pria dengan wajah memerah karena marah dan di depannya Werren sedang tertunduk sembari memegang wajahnya. Ana melangkah mendekat.
Ana di sadarkan oleh panggilan telepon, dia segera mengangkatnya hanya dengan menekan satu tombol di saku celananya yang langsung terhubung denan earpods yang masih berada di telinganya.“I’m sorry, Ana. Sepertinya tadi aku diikuti dan membuat Dake tahu tempat itu. Sekarang aku berada di atas rumah dan memperhatikan kemera pengawas. Ada ruang bawah tanah yang berada di belakangmu, sekitar dua meter.” Ucap Anton dari sambungan telepon.
Ana kembali masuk ke dalam kamar setelah menyimpan handuk dan baskom di wastafel, dia melihat Werren sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Ana memutuskan untuk membersihkan diri.Sejak tadi, dia merasakan seluruh tubuhnya ngilu. Walaupun posisi bahunya sudah kembali seperti semula Ana masih merasakan nyerinya sampai sekarang. Dia masuk ke dalam kamar mandi dan melihat pantulan dirinya di cermin.
Perasaan Ana tidak enak, sekarang sudah jam dua malam dan Werren masih belum pulang. Dia sangat khawatir dan tidak bisa tenang menunggu Werren pulang. Ana menghela napas pelan, dia sudah berdiri di dekat jendela setengah jam hanya untuk menunggu kepulangan Werren tetapi tidak ada tanda-tanda pria yang di cintainya itu akan pulang.Ana berjalan buru-buru menuju ruangan kerja Werren, di mana banyak terdapat banyak komputer yang telah di rakit oleh pria itu. dia masuk dan melihat CCTV.
Ana memperhatikan tiga layar komputer di depannya. Dia sudah berada di tempat itu selama lima menit dan melihat Werren berada di sana sembari duduk dan sibuk mengerjakan pekerjaannya.Ana sedang melihat rekaman CCTV di ruangan Werren dari beberapa arah. Tetapi, dia menyukai rekaman yang memperlihatkan pria itu secara dekat. Ana sengaja berada di sana karena tidak lama lagi Rose akan datang, Werren sudah mengabarinya jika wanita itu setuju untuk datang.
Malam itu, menjadi malam yang paling buruk untuk Herman—ayah kandung dari Ana. Setelah di tangkap di Indonesia bersama istrinya, dia di bawa paksa menuju Amerika. Di dalam perjalanan, dia terus saja di siksa dan diberi makanan yang sangat tidak layak.Herman sangat marah tetapi dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Padahal dia baru saja hidup dengan layak setelah beberapa tahun, Herman sangat marah ketika dia di culik karena anaknya yang telah dia jual, Ana melarikan diri.
Werren duduk setelah pria yang menemaninya, Anton… masuk di damping oleh seorang perempuan lain yang membawa tiga cangkir teh panas untuk mereka. Dia sering bertemu dengan wanita seperti Rose. Hanya saja, yang membedakan Rose dengan wanita lain adalah profesinya. “Jadi, langsung saja. Apa yang ingin kau bicarakan tentang mantan atasanku itu?” tanya Rose tertarik.
Werren dan Ana tidak perlu membawa banyak barang, dia tidak ingin membawa pakaian Ana dari vila itu. Untuk menyamarkan jejak bahwa mereka akan pergi, Werren tidak percaya jika mereka tidak akan kembali untuk masuk lagi ke dalam vila ini.Ana sedang membuat sarapan untuknya dan Werren, kali ini dia hanya membuat wafel di siram dengan madu serta teh panas untuk mengisi perut mereka sebelum pergi.
Werren langsung menghubungi Ana ketika menderima pesan itu, dia juga langsung berlari meninggalkan ruangan kerjanya dan langsung naik lift menuju tempat parkir. Tanpa pengawalan, Werren langsung mengemudi menuju vila miliknya. Ana masih tidak mengangkat panggilannya dan itu membuatnya semakin khawatir. Dia mengemudi sangat kencang sampai di peringati oleh petugas kepolisian.