Kekacauan melanda Istana Valen. Suara senjata yang berbenturan, teriakan pasukan, dan langkah kaki berat para pemberontak yang menguasai lorong-lorong istana mengisi udara. Di dalam ruang pertemuan utama, pertempuran antara Rainer dan Elyse melawan Valen dan Bern baru saja dimulai. Namun, ini bukan sekadar pertempuran fisik; ini adalah pertempuran ideologi yang telah memuncak selama bertahun-tahun penindasan.Di luar ruangan, pasukan pemberontak semakin mendekati pusat kekuatan. Para bangsawan yang dulu merasa tak terkalahkan kini mulai merasakan keputusasaan. Mereka sadar bahwa mereka sudah kalah, meskipun Valen dan Bern masih berusaha untuk mengendalikan situasi. Rainer berdiri tegak, matanya menatap Valen dengan tajam, siap untuk mengakhiri perjalanan panjang ini."Sudah cukup, Valen. Dunia ini tidak membutuhkan lagi orang-orang seperti kalian," kata Rainer dengan nada tegas.Valen mengernyitkan dahi. "Kamu masih berpikir kita bisa menang dengan cara seperti ini, Rainer? Apakah kam
Keheningan yang menyelimuti Istana Valen setelah kemenangan pasukan pemberontak terasa berat dan penuh beban. Suara langkah kaki yang mengisi lorong-lorong istana kini tak lagi menandakan ketegangan, tetapi langkah menuju perubahan yang lebih besar. Di luar tembok besar yang dulu berdiri kokoh sebagai lambang kekuasaan, Rainer dan Elyse berdiri di tengah lapangan yang penuh dengan pasukan dan rakyat jelata, menyaksikan bagaimana sistem yang lama mulai runtuh.Setelah pertempuran yang sengit, para bangsawan yang dulu berkuasa kini berada dalam penahanan, sebagian besar menyerah begitu saja, sementara yang lain berusaha melarikan diri, tetapi tak ada lagi tempat untuk mereka bersembunyi. Dunia yang pernah dibentuk oleh tangan mereka kini menghadap pada kenyataan yang tidak bisa mereka hindari—perubahan tak terelakkan. Rainer, yang kini berdiri di atas panggung yang dulunya adalah tempat kekuasaan, merasakan tanggung jawab yang begitu besar. Dunia yang selama ini ia anggap mustahil untuk
Pagi itu, udara di sekitar istana terasa lebih berat dari biasanya. Setelah berbulan-bulan bekerja tanpa henti untuk membangun dunia yang lebih baik, Rainer merasakan bahwa perubahan yang ia impikan tidak datang tanpa tantangan. Di balik kegembiraan rakyat, di balik janji-janji perubahan yang mengalir deras, masih ada mereka yang merasa terancam. Bangsawan yang berhasil bertahan, meskipun sebagian besar menerima amnesti, mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan. Mereka yang dulu berkuasa merasa kehilangan pijakan mereka, dan kini mereka mengandalkan cara lama untuk mendapatkan kembali posisi mereka.Di ruang pertemuan istana, Rainer duduk di ujung meja panjang, menatap peta dunia yang tersebar di depannya. Elyse berdiri di sampingnya, tangan terlipat di dada, wajahnya penuh perhitungan. “Mereka mulai bergerak, Rainer,” kata Elyse, suaranya tenang meski matanya tajam. “Kelompok-kelompok ini tidak hanya diam, mereka mulai menggalang dukungan secara diam-diam.”Rainer menghela napas d
Ketegangan memenuhi aula besar istana saat para pemimpin pemberontak berkumpul di sekeliling meja panjang. Wajah-wajah mereka penuh kewaspadaan dan kegelisahan. Rainer duduk di tengah, menatap sekeliling dengan tatapan tajam, mencoba membaca ekspresi mereka. Di sisinya, Elyse berdiri dengan tangan terlipat, waspada terhadap setiap gerakan mencurigakan.Laporan tentang kelompok bangsawan yang melarikan diri semakin mencemaskan. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan adanya pengkhianatan di dalam kelompok mereka sendiri. Salah satu mantan sekutu Rainer, seorang pemimpin pemberontak yang dulu bertarung bersamanya, kini diduga memiliki hubungan dengan kelompok tersebut.“Sebagian besar wilayah sudah mulai menerima pemerintahan baru,” kata Rainer, suaranya tegas. “Tapi ada beberapa di antara kita yang merasa tidak puas, merasa bahwa perubahan ini tidak cukup cepat atau tidak sesuai dengan harapan mereka.”Seorang pria tua dengan janggut putih mengangguk. “Kami telah bertarung
Malam itu, Rainer berdiri di depan jendela kamarnya di istana, menatap cahaya kota yang berpendar di kejauhan. Pikirannya masih dipenuhi pertemuannya dengan Lucian. Pria itu mungkin belum sepenuhnya berkhianat, tetapi kata-katanya menunjukkan bahwa perpecahan dalam kelompok mereka semakin nyata.Elyse duduk di kursi di belakangnya, menggulung peta di atas meja. "Lucian masih ragu," katanya akhirnya. "Tapi kita tidak bisa mengandalkan keraguannya. Jika dia benar-benar berbalik melawan kita, kita harus bersiap."Rainer mengangguk. "Aku tahu. Aku hanya berharap dia cukup cerdas untuk melihat jalan yang benar. Jika dia tetap bersikeras bahwa membalas dendam adalah satu-satunya pilihan, maka kita tidak punya banyak waktu sebelum dia bertindak."Suasana di ruangan itu terasa berat. Di satu sisi, mereka baru saja mulai membangun dunia baru, tetapi di sisi lain, ancaman dari dalam semakin menguat."Ada kabar dari utara," lanjut Elyse. "Mata-mata kita melaporkan bahwa beberapa bangsawan yang m
Malam itu, udara di istana terasa lebih berat dari biasanya. Rainer duduk di ruang strategi, menelusuri setiap detail peta yang terbentang di hadapannya. Ia tahu bahwa waktu semakin menipis. Jika musuh bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk menggagalkan pemberontakan sebelum berkembang menjadi perang besar.Elyse berdiri di sampingnya, tatapannya serius. “Kita harus membuat keputusan segera. Jika kita menunggu lebih lama, kita mungkin akan kehilangan kesempatan untuk bertindak lebih dulu.”Rainer mengetuk ujung jarinya di peta. “Aku sudah memikirkan berbagai skenario, dan tidak ada satu pun yang tanpa risiko. Lucian masih ragu, tapi kelompok bangsawan bayaran di utara sudah mengambil keputusan mereka. Mereka akan menyerang, dan jika Lucian tidak cepat memihak kita, dia akan ikut dihancurkan.”Elyse menghela napas. “Kita tidak bisa menunggu dia membuat keputusan. Jika kita membiarkannya sendiri, kemungkinan besar dia akan jatuh ke tangan mer
Fajar merekah dengan sinar keemasan, tetapi medan perang masih diselimuti kabut sisa pertarungan semalam. Mayat-mayat berserakan, darah mengering di tanah, dan asap tipis membubung dari reruntuhan benteng yang sempat terbakar. Pasukan Rainer berhasil mempertahankan posisi mereka, tetapi kemenangan ini belum cukup untuk memberi mereka keunggulan mutlak.Di atas bukit kecil yang menghadap ke medan pertempuran, Rainer berdiri dengan tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam, menelusuri sisa-sisa pasukan yang masih hidup. Lucian berdiri di sampingnya, tubuhnya penuh luka ringan, tetapi sorot matanya lebih tegas daripada sebelumnya."Kita harus segera bergerak," ujar Elyse, yang baru kembali setelah menginspeksi korban luka. "Pasukan bangsawan bayaran mungkin mundur untuk sementara, tetapi mereka pasti akan kembali dengan bala bantuan lebih besar."Rainer mengangguk. "Kita tak bisa bertahan di sini terlalu lama. Ini bukan benteng utama, dan jika kita terjebak, kita akan dihancurkan tanpa a
Udara dingin menggigit kulit saat Rainer, Elyse, dan Lucian melaju dengan cepat meninggalkan Vardenhall. Dokumen yang mereka curi dari rumah dagang Durnhart berisi informasi berharga—bukti aliran dana dari para pedagang dan bangsawan yang membiayai pasukan bayaran yang selama ini menjadi duri dalam daging.Di atas bukit yang menghadap ke jalan utama, Rainer menarik napas dalam. Matanya menatap cakrawala, memikirkan langkah berikutnya. Dengan informasi ini, ia tidak hanya bisa menghentikan aliran dana musuh, tetapi juga menjatuhkan mereka dari dalam.Elyse mendekat, melihat ekspresi berpikir Rainer. "Apa yang ada di pikiranmu?"Rainer mengangkat salah satu dokumen dan menunjukkannya pada Elyse. "Lihat ini. Sebagian besar dana mereka berasal dari keluarga Durnhart, tetapi ada juga sumber lain. Bangsawan dari timur, pedagang senjata dari selatan... semua ikut terlibat."Lucian, yang berdiri di samping kuda mereka, bersedekap. "Jadi kita harus menyerang mereka satu per satu?"Rainer mengg
Rainer duduk di dalam ruang taktiknya, menatap peta yang terhampar di atas meja. Peristiwa yang baru saja terjadi dengan Tangan Hitam adalah bukti bahwa informasi adalah senjata paling ampuh di dunia ini. Namun, ia tahu bahwa ancaman tidak berhenti di sana.“Kita sudah menghancurkan mereka dari dalam,” kata Marcus, berdiri di seberang meja dengan tangan terlipat. “Tapi ini tidak akan berakhir di sini. Pihak yang lebih besar pasti sudah memperhatikan pergerakan kita.”Elyse mengangguk, ekspresi wajahnya penuh kecemasan. “Kerajaan pasti menyadari bahwa kita semakin kuat. Mereka tidak akan diam saja.”Rainer tersenyum kecil. “Itulah yang aku harapkan.”Ia mengambil bidak catur kayu di meja dan menggerakkannya. “Setiap kemenangan kecil akan mendorong lawan kita untuk bertindak. Dan ketika mereka bertindak, kita bisa membaca pola mereka.”Marcus mengerutkan kening. “Kau ingin mereka bergerak lebih cepat?”Rainer mengangguk. “Ya. Aku ingin melihat
Angin malam berembus kencang di atas benteng barat, membawa hawa peperangan yang semakin dekat. Dari kejauhan, cahaya obor berkedip-kedip di sepanjang dataran selatan, menandakan bahwa pasukan Lionel Drakos telah mulai bergerak.Rainer berdiri di atas menara pengawas, matanya tajam mengamati pergerakan musuh. Elyse berdiri di sampingnya, ekspresinya tegang."Kita tidak bisa menunggu lebih lama," katanya. "Jika mereka sampai ke desa-desa di perbatasan, kita akan kehilangan banyak pendukung."Rainer mengangguk, lalu berbalik ke arah Marcus dan para penasihat militernya yang sudah berkumpul di bawah menara."Kita akan melancarkan serangan sebelum mereka siap," Rainer berkata dengan suara mantap. "Tapi kita tidak akan bertindak seperti biasa. Kita akan membuat mereka berpikir bahwa kita lebih lemah dari yang sebenarnya."Marcus mengangkat alisnya. "Kau ingin menjebak mereka?"Rainer tersenyum tipis. "Bukan hanya menjebak. Aku ingin mereka percay
Langit masih gelap ketika suara derap langkah tergesa-gesa menggema di lorong-lorong benteng. Salah satu mata-mata yang ditugaskan Rainer untuk menyusup ke ibu kota Vildoria baru saja kembali, napasnya tersengal seolah ia telah berlari sepanjang malam.Rainer menunggu di ruang taktik, tangannya terlipat di depan dada, sementara Elyse dan Marcus berdiri di sampingnya."Ada berita?" tanya Rainer tanpa basa-basi.Mata-mata itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah gulungan perkamen yang tampak lusuh dan berdebu."Ada pergerakan di dalam ibu kota Vildoria, tapi bukan hanya dari pihak kerajaan," lapor mata-mata itu. "Kelompok yang disebut 'Tangan Hitam' mulai bergerak, dan mereka bukan sekadar bayangan.""Tangan Hitam?" Elyse mengulang nama itu dengan alis berkerut.Rainer mengambil perkamen itu, membuka isinya, dan membaca dengan saksama."Mereka adalah kelompok yang bergerak di belakang layar," jelas mata-mata itu. "Mereka bukan bagian da
Malam di benteng utama terasa lebih hening dari biasanya. Meskipun pasukan Rainer telah meraih kemenangan besar melawan pasukan Vildoria, ia tahu bahwa kemenangan ini bukanlah akhir. Vildoria bukan satu-satunya ancaman yang harus ia hadapi.Di dalam ruang strateginya, Rainer menatap peta yang terbentang di atas meja. Di sekelilingnya, Elyse, Marcus, dan beberapa komandan utama berdiri menunggu arahannya."Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Marcus, matanya menatap Rainer dengan penuh harapan."Kita tidak bisa hanya bertahan," jawab Rainer. "Jika kita hanya menunggu serangan selanjutnya, cepat atau lambat mereka akan menemukan cara untuk menjatuhkan kita. Kita harus bergerak lebih dulu."Elyse mengangguk. "Kau ingin menyerang mereka langsung?""Bukan serangan langsung," kata Rainer sambil menggeser bidak-bidak di peta. "Kita akan melemahkan mereka dari dalam."Para komandan saling berpandangan, mencoba memahami maksud Rainer.
Malam setelah kemenangan di perbatasan barat, Rainer berdiri di dalam tendanya, menatap peta yang dipenuhi tanda-tanda strategis. Di satu sisi, ia merasa puas karena berhasil mengalahkan Lionel Drakos tanpa kehilangan terlalu banyak pasukan. Namun, jauh di dalam benaknya, ia tahu bahwa perang ini belum berakhir.Elyse masuk ke dalam tenda, membawa segulung laporan terbaru. "Kabar dari utara," katanya dengan suara tegang. "Gerakan militer mulai terlihat di perbatasan kerajaan Vildoria."Rainer mengangkat alisnya. "Vildoria akhirnya bergerak?""Sepertinya begitu," jawab Elyse. "Mereka mungkin melihat kelemahan kita setelah perang ini dan berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk menyerang."Marcus, yang baru saja memasuki tenda, mendengus. "Mereka salah besar. Justru setelah kemenangan ini, moral pasukan kita sedang berada di puncaknya. Jika mereka berpikir kita lemah, mereka akan menyesalinya."Rainer berpikir sejenak. "Kita harus mengonfirmasi niat
Malam masih gelap saat beberapa bayangan bergerak cepat di gang-gang ibu kota Vildoria. Lima sosok berpakaian gelap, masing-masing dengan simbol kecil berbentuk mata di pergelangan tangan mereka, menyelinap melalui lorong-lorong sempit menuju sebuah gudang tua yang tersembunyi di antara bangunan usang.Di dalam, beberapa pria dan wanita bertopeng sudah berkumpul di sekitar meja panjang, peta dan dokumen tersebar di atasnya. Mereka adalah anggota Tangan Hitam—organisasi rahasia yang beroperasi di balik layar, mengendalikan informasi dan kekuatan dengan cara yang hanya mereka yang berkepentingan bisa pahami.Seorang pria bertopeng duduk di tengah, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang lambat. "Rainer mulai bergerak," katanya dengan suara tenang namun tajam.Salah satu anggota lain mengangguk. "Ya, dan dia sudah mengetahui keberadaan kita. Tidak lama lagi dia akan mencari cara untuk menghancurkan kita dari dalam."Pria bertopeng itu menghela napas. "Maka kita harus bergerak lebih
Malam berhembus dingin saat Rainer berdiri di atas menara pengawas, menatap ke arah selatan. Dalam kegelapan, titik-titik api kecil terlihat di kejauhan—kemah pasukan yang mulai berkumpul di wilayah perbatasan. Jika laporan itu benar, seseorang dari keturunan keluarga kerajaan lama sedang membangun kekuatan di sana.Elyse melangkah mendekat, mantel tebal melilit tubuhnya. "Kau tampak gelisah."Rainer tersenyum tipis. "Gelisah bukan kata yang tepat. Lebih ke... mengantisipasi."Elyse bersandar di pagar batu. "Jika benar ada keturunan kerajaan lama yang tersisa, itu bisa menjadi masalah besar. Rakyat yang masih setia pada monarki pasti akan berkumpul di bawah panji mereka.""Dan itulah yang membuat ini menarik," Rainer menjawab. "Orang-orang selalu mencari simbol. Jika seseorang bisa meyakinkan mereka bahwa kerajaan lama bisa bangkit kembali, maka kita akan menghadapi perang yang lebih besar dari sebelumnya."Marcus datang membawa sebotol anggur, wajahnya tetap santai meskipun situasi s
Langit di atas wilayah barat masih dipenuhi asap, sisa dari pertempuran yang baru saja berakhir. Kastil milik Count Reinhardt kini berdiri dalam kehancuran, simbol kejatuhan para bangsawan yang menolak tunduk pada perubahan.Di dalam ruang pertemuan yang dulu penuh dengan kemewahan, kini hanya ada aroma debu dan darah. Rainer berdiri di tengah ruangan, menatap peta besar yang terbentang di atas meja. Wilayah barat telah mereka taklukkan, tetapi peperangan belum selesai.Elyse masuk ke ruangan, wajahnya tenang namun penuh ketegasan. “Beberapa pasukan kita masih sibuk mengamankan desa-desa sekitar. Sebagian besar rakyat di sini tidak berani melawan, tetapi ada kelompok kecil yang masih setia pada Reinhardt.”Rainer mengangguk. “Itu sudah kuduga. Reinhardt mungkin sudah tiada, tapi jejaknya masih ada dalam pikiran orang-orang yang dulu hidup di bawah perlindungannya.”Marcus, yang duduk di sudut ruangan dengan cangkir anggur di tangannya, mendengus. “Orang-orang bodoh. Mereka tidak sadar
Rainer berdiri di puncak menara istana, menatap ke kejauhan. Kota yang dulunya diperintah dengan tangan besi oleh Duke Alistair kini dalam transisi menuju era baru. Cahaya fajar mulai menyinari bangunan-bangunan yang masih dipenuhi bekas pertempuran. Jalanan yang tadinya berlumuran darah perlahan dibersihkan, meski bau asap dan kematian masih terasa.Di bawahnya, rakyat berkumpul di alun-alun utama, menunggu pengumuman berikutnya.Elyse melangkah mendekat. “Mereka menunggu pidatomu.”Rainer mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju ke kejauhan. “Perjuangan ini belum berakhir. Kota ini masih bisa jatuh ke dalam kekacauan jika kita tidak segera bertindak.”Elyse menatapnya dengan penuh perhatian. “Aku tahu. Tapi untuk saat ini, kita telah memberi mereka harapan.”Rainer akhirnya mengalihkan pandangannya ke Elyse. Dalam beberapa bulan terakhir, gadis itu telah menjadi orang yang paling ia percaya. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Elyse selalu menjadi suara rasional yang menyeimbangkan pemi