Aku mengerjap. Mataku otomatis mencari-cari seseorang yang terus mengguncang bahuku, sesekali dalam alam bawah sadarku tadi aku merasakan payudaraku di remas-remas.
"Astaga!" Aku terkejut bukan main, buru-buru membuka mulutku sendiri saat pak rebahan disampingku, diranjang anaknya yang sempit ini.
"Diam, jangan buat Kenzo bangun!" bisiknya begitu lirih.
Sialan! Aku mengepalkan tanganku dengan kesal, sudah tidur diganggu dan setelah aku mengecek blouseku yang berbahan satin, bagian dadanya terlihat lecek, benar-benar seperti habis diremas-remas, bahkan dua kancing paling atas terlepas.
"Apa yang bapak lakukan?" Mataku melotot kepadanya.
Pak Ardi tersenyum senang. "Just touching slowly."
Bangsat! Dia udah curi start disaat aku tak berdaya. Aku mendorongnya sampai terjatuh ke lantai. Pak Ardi mengaduh sakit, ia menggeram pelan.
Aku ikut beranjak dengan gerakan pelan agar Ardi kecil ini tidak bangun dan mendapati bapakny
"Aku suka, Tante! Aku suka semua hadiahnya."Kenzo bersorak gembira diantara setumpuk mainan dan pakaian yang berjibun di kamarnya. Ia tertawa sambil bersandar dilenganku. "Terimakasih Tante."Aku ikut tertawa dan mengangguk. Sejak tadi setelah mandi dan makan sore, kami berdua sudah berkutat dengan pembungkus kado, membaca lipatan kertas yang bertuliskan ucapan ulangtahun, lalu tertawa-tawa sambil bercanda.Astaga, aku menyadari bahwa aku semakin menancapkan diriku sendiri kepada keluarga pak Ardi jika begini terus."Jadi apa Tante boleh pulang? Tante masih harus kerja ke kantor." kataku menjelaskan. Bisa ngamuk Coki kalau aku libur lagi, terlebih sejak tadi ia sudah menghubungiku kapan bisa ketemu lagi.Kenzo menggeleng, astaga. Bocah ini ketularan bapaknya. Kecanduan padaku."Tante disini aja, aku kesepian gak ada teman main!" Kenzo cemberut, mengeratkan tangannya di lenganku.Aku menggeleng perlahan, dengan hati-
"Mas Ardi." ulangku, tapi ternyata suaraku terdengar seperti bisikan yang menggoda, bukannya ketus seperti yang aku inginkan.Pak Ardi terkekeh-kekeh. Ia membungkuk untuk mengecupi pelipisku hingga ke rahang dengan spontan. Hingga aku hanya tertegun di pangkuannya."Saya suka panggilan itu. Lakukan lagi, Anna!"Sejujurnya ini hanya sandiwara, aku tak benar-benar menyebutnya dengan panggilan mesra ini. Pikirku, ini hanya sebatas perangai gila yang akan membuatnya jatuh cinta kepadaku."Kenapa, Bu Farah tidak pernah memanggilmu begitu?" Aku menatapnya, membetulkan posisiku agar nyaman duduk di atasnya.Pak Ardi meringis, ia membelai wajahku. "Kamu lupa, Farah pernah memanggilku begitu kalau lagi marah!" jawabnya jujur."Ya, waktu marah kemarin di taman hiburan aku sempat mendengarnya langsung. Memang tidak mesra karena marah, coba kalau enggak. Pasti so sweet, bikin iri!"Pak Ardi mengedik. "Ini bukan oase baru! Memang tidak
Alisku terangkat sinis dan tidak berkata-kata, sementara pak Ardi bersedekap, menatapku dengan pandangan aneh penuh tanda tanya."Apa kamu ingin menghukumku, Anna?"Mataku menyipit. "Untuk apa?" tanyaku ketus, "lagian aku harus menghukum orang kaya dengan cara apa? Yang ada aku rugi sendiri!" Aku mengakhiri ucapanku dengan dengusan pendek.Tawa samar terdengar dari mulut pengawal ini yang memakai kupluk untuk menyembunyikan kepalanya yang plontos. "Kamu pintar, Anna! Aku setuju dengan pilihanmu. Sip, sip." Ia mengacungkan kedua jempolnya yang sebesar jempol kakiku."Aku gak butuh dukunganmu, botak!" tukasku sambil menopang dagu, "lama banget, ya! Terlalu banyak ngegas jadi cepet laper." Aku menghela napas, tidak tahu apa yang harus aku lakukan disini, sementara aku sedang berpura-pura tidak punya ponsel lagi."Itu karena kamu pesannya banyak, Anna! Coba kalau hanya air putih, belum lima menit pun sudah tersaji disini." Pak Ardi merapikan anak
Kepura-puraan ini membuatku tak berdaya, aku tidak bisa santai atau mainan hp. Aku hanya duduk di tepi ranjang, mengayunkan kakiku pelan sambil melihat televisi."Membosankan." gumamku, ingin rebahan tapi pria empat puluhan tahun ini pasti akan melihatku sebagai guling yang empuk dan hangat untuk dipeluk.Tapi beruntunglah aku membawa laptop, aku membukanya, diam-diam memfoto pak Ardi dengan webcam berkali-kali.Mataku beralih kepada pak Ardi.Wajahnya serius, keningnya berkerut. Aku berani memfotonya karena sejak tadi masuk ke kamar ia langsung berkutat dengan pekerjaannya."Kenapa?" tanyaku heran, ia tampak kesulitan dengan pekerjaannya."Oh, Anna! Kemarilah, duduk dipangkuan lagi." pintanya penuh harap. Bibirnya berkerut.Aku menggeleng, ku tepuk-tepuk ranjang. Sekali tebak saja, aku tahu dia mau grepe-grepe. "Lebih empuk disini, daripada disitu, hangat tapi menyebalkan!""Sebentar saja!" Pak Ardi memohon. Aku teta
Karena tak kunjung ngantuk, aku hanya menatap alang-alang palsu yang berada di sampingku, memainkannya sambil membiarkan malam bergerak menuju pagi. "Sepertinya masalah ini juga memberatkan pikiranmu." Pak Ardi memelukku. "Maafkan sikapku tadi!" Tenggorokanku tercekat, aku tidak mengerti harus percaya atau tidak dengan alibinya sekarang. Dia minta maaf secepat ini? tanpa keraguan? Setelah mengatakan bahwa aku ini murahan? Ya, Tuhan. Aku merasa buruk sekali sekarang, merasa hina namun di satu sisi aku merasa spesial menjadi bagian dari hidupnya. Ini konyol and i am like a devil you know? Tapi lihatlah, vila ini mahal, baju-baju yang dia berikan sama sekali bukan merek rendahan. Pak Ardi sudah berusaha, dia sudah menghabiskan banyak uang untukku, menyempatkan waktu untuk bersamaku disela-sela kesibukannya yang padat, yang berarti semua skedul yang ia punya harus di atur lagi setelah affair yang dilakukan ini. Sungguh pasti sekarang s
Aku mendesah nikmat ketika ia mencicipiku dengan kehangatan mulutnya, saking nikmatnya pinggulku terus bergerak-gerak gelisah menahan kedutan yang akan menerjangku dan membuatku malu, jika aku orgasme hanya dengan isapan mulut di payudaraku.Mulutnya terus menghisap, bergantian dari payudara satunya ke satunya lagi, seolah tidak mau ada yang iri dengan jilatan lidahnya yang menggoda.Aku mencengkeram seprai saat isapan mulutnya semakin menggoda."Stop... it, please!" Suaraku bergetar, sedikit tersengal-sengal karena isapan mulut pak Ardi begitu menguasai payudaraku.Pak Ardi menengadahkan kepalanya, ia menarikku ke dalam ciuman-ciuman panjang sementara satu tangannya terus menangkup payudaraku. Aku mendesah di mulutnya, mataku mulai menggelap saat gairah mulai membutakan hati nuraniku.Pak Ardi ikut mendesah. Napas kami mulai terengah-engah. Aku melepas ciumanku terlebih dahulu, lalu mengusap bibirku dengan jengkel."Cukup!" bentakku s
"Sudah selesai!"Aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang basah, dia memanjakan aku dengan teramat baik dan lembut. Pijatan tangannya membuatku rilex dan lupa ini salah.Aku beranjak dari bathtub, telanjang, basah, dan gak tahu lagi harus bersikap bagaimana. "Aku gak tau harus ngucapin terimakasih atau gak, ini..." aku menghela napas, "aku menikmatinya!" kataku jujur. Mau bagaimanapun aku bukan orang munafik. Pak Ardi cukup pintar menggoda apalagi wajah serta tubuhnya teramat menawan untuk diabaikan barang sekejap saja."Bagus kalau kamu menikmatinya, tapi itu hanya pijatan, Anna! Bukan..." Pak Ardi beranjak, ia menggendongku ke bawah pancuran air shower untuk membilas tubuh bersama. Terpaksa sudah aku melingkarkan tanganku di lehernya dan melingkarkan kakiku di pinggangnya jika tidak mau ambruk dan berakhir di tukang pijat urut.Tangannya menangkup bokongku, menepuk-nepuknya seraya menggesekkan tubuhku yang telanjang di bagian tubuhny
Setibanya di area Jaff Corporations, aku diturunkan nun jauh dari pintu lobi perusahaan."Tega ya!" Aku menutup pintu mobil dengan kencang. Mobil melaju dengan kecepatan pelan menuju area parkiran khusus petinggi perusahaan.Aku menghentakkan kaki dengan kesal. Setelah percintaan tadi pagi yang begitu meresahkan, sekarang aku harus jalan kaki dengan rasa nyeri di pangkal pahaku. Sungguh menyedihkan.Tiba di lobi, aku terus berusaha menenangkan seisi pikiranku dan debar jantungku saat ku lihat Bu Farah dan anak-anak ada disini."Hai..." Aku mengusap kepala Kenzo, memaksa senyum agar tak terlihat bersalah."Tante darimana? Aku tadi nyariin Tante ke apartemen gak ada, papa juga." ucap Kenzo dengan rengekan khasnya."Tadi malam Tante nginap di rumah kak Coki, Ken. Lembur kerjaan, ada apa udah cariin Tante aja, kangen ya?" ujarku lagi bersandiwara. Kenzo mengangguk cepat, ia menggandeng tanganku untuk bertemu dengan ibunya