"Walau bagaimanapun paman Heru, satu-satunya keluarga yang aku punya." Arion menghembuskan napas dengan kasar. Tidak bisa dibayangkan jika paman kandungnya berniat untuk menghabisi nyawanya. Sebastian memandang Arion. Pria itu melengos kesal ketika mendengar perkataan Arion. Meskipun statusnya paman, namun tetap hanya paman angkat yang tidak memiliki hubungan darah dengan Arion.Pria berambut gondrong itu semakin kesal ketika melihat keponakannya itu tertawa."Bagiku Paman lebih dari sekedar saudara, karena Paman adalah pengganti mami dan papi. Jika paman pengganti mami dan papi, seharusnya aku memanggil paman bibi, ya." Arion tampak berpikir keras sambil mengetuk-ngetuk pipinya."Beneran nggak enak Paman, kalau paman aku panggil paman bibi. Kapan Paman akan menikah?" Arion berkata ketika Sebastian akan berbicara. Arion tertawa lepas ketika melihat wajah pamannya yang sudah memerah. Di saat hatinya sedang gundah gulana, rasa sedih itu hilang seketika saat melihat wajah kesal paman
Sebastian memberhentikan mobilnya tepat di depan kampus milik Serina. Sebelum mereka keluar dari mobil, gadis itu sudah berlari menuju ke mobilnya.Arion memandang Serina dan kemudian keluar dari dalam mobil. "Kakak, aku rindu." Serina tersenyum manja."Jika sikap kamu seperti ini, mana ada yang mau jadi pacar kamu." Arion tersenyum saat Serina memeluknya. "Setidaknya yang memiliki wajah menengah ke bawah akan mundur." Serina tertawa kecil."Mengapa begitu?" Arion mengerutkan keningnya."Mereka harus memiliki wajah yang jauh lebih tampan dari kakak." Serina tertawa.Arion gemas dan mengacak-acak rambut adik sepupunya itu. Meskipun mereka saudara sepupu namun wajah mereka tidak memiliki kemiripan sama sekali. Karena Serina memiliki wajah yang ayu, khas wanita ketimuran pada umumnya. Serina tertawa dan kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Arion. Meskipun saat ini dia menjadi pusat perhatian mahasiswa yang ada di sana, namun tetap tidak dihiraukannya. "Aku rindu," ucapnya lagi.
Arion berlari memasuki koridor rumah sakit. Langkah kakinya terhenti saat melihat Zahira berbicara dengan dokter Nizam. Melihat ini dadanya panas dan bahkan kakinya gemetar menahan rasa marah. "Aku tidak akan memberikan dia mendekati gadis ku. Dasar playboy kesepian," geram Arion. Dengan cepat dia berjalan mendekati Zahira. Zahira terkejut saat merasakan tangan yang menjalar di pinggang langsingnya. Matanya tidak berkedip ketika melihat pemilik tangan besar nan Koko tersebut. "Maaf Beby, hari ini aku sibuk jadi tidak sempat menghubungi mu." Arion tersenyum dan mencium kening Zahira.Zahira masih melongo menatap Arion. Arion senang melihat ekspresi wajah Zahira yang begitu sangat menggemaskan ketika menatapnya. Dalam hitungan detik, dia lupa janji. Diciumnya bibir Zahira dengan lembut. Zahira yang masih belum menyempurnakan cara kerja otaknya hanya diam bahkan menikmati rasa lembut dan empuk bibir milik Arion. Dengan bodohnya melupakan dirinya berada di tempat umum. Tanpa disada
Sebastian berjalan ke dapur dengan langkah ringan. Kondisi mansion ini begitu sepi karena para pelayan yang sudah beristirahat. Pria itu terkejut dan merasakan jantungnya yang seakan mau lepas saat melihat sosok wanita yang muncul dari dalam kulkas dua pintu yang berukuran tinggi. "Paman." Lily tersenyum manis memandang Sebastian. "Anak kurang ajar, hampir saja aku mati karena serangan jantung. Apa kamu tidak bisa berlaku normal seperti para gadis pada umumnya. Apa yang kau lakukan didalam kulkas." Sebastian marah dan kesal karena ulah Lily. Gadis cantik itu memiliki kebiasaan yang aneh dan Sebastian sangat mengetahui hal itu. "Haha... Ha.. ha... Apa kata dunia jika paman mati hanya karena melihat seorang bidadari." Lily tertawa kecil. Sebastian kesal melihat wajah tanpa dosa si gadis. Akhirnya dia hanya menarik napas pelan dan duduk di kursi bar. "Paman mau apa ke dapur?" Tanya Lily dengan sedikit tersenyum."Aku ingin minum kopi," jawab Sebastian."Paman mau minum kopi apa?
Pada saat itu Lily berusia 14 tahun dan duduk di kelas 9 SMP . Gadis itu pergi ke sekolah lebih awal karena di sekolahnya sedang melakukan MOS untuk siswa baru. Selaku pengurus OSIS, Lily datang lebih awal dengan sepeda motor miliknya. Disaat peristiwa pembantaian keluarganya terjadi, dia tidak berada di rumah. Sang ayah, ibu serta adiknya yang berusia 5 tahun tewas dengan tragis. Ibunya tewas lebih dulu karena melindungi anaknya. Wanita itu akhirnya mengembuskan napasnya saat satu peluru menembus kepalanya. Sedang adik Lily yang di perintahkan lari oleh ibunya, mencoba untuk berlari dan mencari tempat yang aman. Namun salah satu dari penjahat itu menembak kakinya hingga tidak bisa lagi berjalan. Anak laki-laki itu menangis kesakitan dan ketakutan. Namun para penjahat itu malah tertawa dan menembak bahu, dada, perut dan kepalanya. Meskipun anak itu sudah tidak bergerak lagi. Namun para penjahat itu tetap menembak. Lily bisa merasakan rasa sakit sang adik. Disaat tubuh kecilnya mera
Arion duduk di meja kerjanya. Tatapan pria itu fokus ke layar komputer. Dibacanya kalimat yang tercetak hitam kemudian menghafalkannya. Setelah hafal kemudian mencari yang lainnya. Sebastian yang baru saja masuk ke dalam ruangan Arion, hanya diam dan duduk di kursi yang berada di depan keponakannya. Namun sepertinya keberadaannya tidak disadari Arion. Karena pemuda itu senyum-senyum sendiri dan berbicara sendiri."Tahu gak bedanya kamu dengan gitar? Ini kemarin sudah, masak ini lagi. Nanti Zahira malah bilang aku gak kreatif." Arion berkata ketika membaca kalimat gombal di sebuah situs. Ya seperti ini yang dilakukannya, jika stok gombal yang dapat dari beberapa situs sudah habis. Semua ini dilakukannya hanya untuk membuat pipi dokter cantik itu memerah. Arion sangat senang ketika melihat senyum malu-malu Zahira. Meskipun bukan tipe pria yang pintar menggombal, Arion tetap berusaha untuk menggombal sang pujaan hati dengan gombal recehnya.Sebastian hanya diam sambil menggeleng-gele
Zahira terkejut saat melihat Arion datang di jam makan siang seperti ini. Meskipun senang, namun tetap saja menjadi pertanyaan untuknya. "Baby, kita makan siang di luar ya," ajak Arion. Pria itu sudah tidak sabar untuk menerapkan saran dari pamannya. Perlu di akuinya, jika Sebastian benar-benar cerdas dan selalu bisa dihandalkan. Meskipun tidak memiliki pengalaman dengan wanita, namun idenya sangat luar biasa. Tipe wanita yang gengsian seperti Zahira, memang harus di paksa, pikir Arion.Jujur saja, Arion sangat yakin jika Zahira mencintainya. Terlihat jelas dari cara dokter cantik itu memandangnya. Namun yang jadi masalah, bagaimana caranya untuk memaksakan Zahira. Alasan apa yang cocok untuk memaksa si gadis agar mau menjadi istrinya.Zahira memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jika makan di restoran, akan memakan waktu lebih dari 1 Jam. Sedangkan waktu istirahatnya hanya tersisa 30 menit."Maaf mas, aku tidak bisa, aku akan makan di ruangan saja karena jam isti
Arion bukanlah jenis pria yang sabar menunggu. Namun semua itu berlaku ketika berkaitan dengan Zahira.Pemuda berwajah bule itu dengan sabar menunggu Zahira keluar dari ruang rapat. "Apa yang mereka bahas, mengapa lama sekali?" Gumamnya pelan."Jika aku meminta Hira untuk berhenti, dia pasti setuju." Arion berkata dengan yakin."Zahira itu gadis yang cerdas, rajin dan tekun, aku berani taruhan 50 juta. Jika dia mau berhenti, aku akan memberi kakak 50 juta. Namun jika tidak mau berhenti, maka, kakak yang harus memberikan aku uang 250 juta." Mata Arion terbuka lebar ketika mendengar perkataan Lily.l"Aku menang hanya dapat 50 juta, tapi jika kamu yang menang 250 juta?" Arion mengulangi aturan yang dibuat Lily. Lily tersenyum sinis dan menganggukkan kepalanya. Senyum sinis seperti ini sudah menjadi ciri khas gadis tersebut."Ini tidak adil," tolak Arion.Sungguh pintar sekali cara gadis itu untuk mendapatkan uang yang banyak. Aturan yang diberikan "Yang menjadi bos diantar kita, sia
Alex menunggu di depan ruang operasi bersama dengan Arion dan Sebastian. Namun karena operasi berjalan sangat lama, Arion dan Sebastian pulang. Kini tinggal Alex seorang yang menunggu. 20 jam menunggu akhirnya lampu yang menyala di ruang operasi dipadamkan. Ini pertanda bahwa operasi telah selesai. Namun tetap saja Alex merasakan jantungnya yang berdebar dengan cepat. Bagaimana jika operasi tidak berjalan dengan baik. Hal itu rasanya tidak mungkin, mengingat tim dokter yang disediakan oleh Arion bukanlah tim Dokter sembarangan. Bahkan Arion mendatangkan dokter-dokter dari luar negeri yang memang sudah terkenal dengan kemampuan dibidangnya masing-masing. Pintu ruangan terbuka, tim Dokter pun keluar dari dalam ruangan. "Dokter Vandra, bagaimana kondisinya?" Alex langsung bertanya dengan Vandra yang merupakan ketua tim."Operasi berjalan dengan lancar namun pasien masih dalam keadaan kritis. Dalam artian kita akan menunggu selama 24 jam untuk memantau kondisi pasien. Jika kondisi pa
Arion sibuk mengganti popok putrinya yang sedang pup. Dengan sangat telaten, pria tampan itu membersihkan pantat bayinya dengan tisu basah. Setelah bersih barulah memasangkan popok yang baru. Arion sangat menikmati perannya menjadi seorang ayah. Ketika putri kecilnya menangis, ia yang bangun lebih dulu. Jika bayi cantik itu bangun karena merasa tidak nyaman dan meminta diganti pipok, Arion tidak akan membangunkan istrinya, dia yang akan menganggti sendiri."Anak Daddy sudah wangi." Arion tersenyum dan mencium pipi bulat putrinya. "Kamu sangat cantik, Mirip mommy." Arion berkata sambil memandang Zahira yang tertidur lelap. Bayi cantik itu memandang Arion dengan bibir bulat. Seakan ia sedang berbicara dengan Daddy nya. Wajah bayi cantik itu sangatlah sempurna. Hidung mancung, bibir kecil, warna kulit putih kemerahan dan rambut yang berwarna coklat. Meskipun paras wajahnya mirip Zahira, namun warna kulit, hidung, mata, Serta alis, milik sang Daddy. Sepertinya bayi cantik itu sangat p
"Paman, sudah 1 bulan aku disini. Aku bosan mencium aroma obat dan juga aroma desinfektan. Aku rindu aroma kamar. Aku rindu dengan tempat tidur yang empuk seperti di dalam kamar ku. Paman, Aku ingin pulang. Apa Paman bisa meminta izin dengan dokter?" Tanya Shelina. Alex diam beberapa saat. "Ya Paman, aku sudah tidak mau lagi merasakan seperti ini. aku ingin pulang saja. Aku sudah lelah merasakan jarum suntik yang selalu menusuk kulit ku. Aku juga sudah bosan minum obat, hingga lidah ku terasa pahit. Aku ingin menikmati hidup, makan yang banyak tanpa larangan. Minum-minum yang manis dan segar. Aku juga ingin makan bakso dengan cabe rawit." Shelina sudah seperti orang yang pasrah dan putus asa. Ia tidak ingin menghabiskan sisa umurnya di atas tempat tidur pasien. "Kamu jangan bicara seperti itu. Dokter sedang mengatur jadwal operasi kamu. Ada orang yang bersedia mendonorkan mata serta ginjalnya." Alex memberi tahu Shelina. Setelah mendengar ini, ia berharap Shelina akan bersemang
Mendengar perkataan Arion, Zahira pun menganggukkan kepalanya. Dia kembali mengejan. Satu kali, dua kali hingga 3 kali, akhirnya terdengar suara bayi memenuhi ruangan. Suaranya benar-benar ngebas dan melengking. "Bisa dipastikan bakal jadi rocker." Dokter yang membantunya berkata dengan tertawa. Bayi perempuan itu benar-benar sangat cantik dengan hidung yang mancung seperti Daddy nya. Sedangkan bibir kecil seperti mommy nya. "Ini tidak mirip dengan dokter Zahira." Dokter itu langsung memberikan penilaian sambil mengamati wajah cantik bayi tersebut."Iya, mirip dengan Daddy nya," kata suster yang satunya. "Ini mirip dokter Zahira." Suster yang sedang membersihkan bayi cantik itu ikut berbicara. "Mirip sekali dengan dokter Zahira," kata dokter anak yang sedang memeriksa detak jantung bayi. Arion dan Zahira tampak kebingungan ketika melihat tim medis yang ribut memperdebatkan masalah anak yang mirip ibu atau mirip ayahnya. "Sebaiknya kalian jangan berkelahi. Kami membuat dan saling
Didalam mobil Sebastian duduk di posisi tengah. Sedangkan Zahira di sebelah kiri dan Zia disebelah kanan. Pria itu tampak kewalahan ketika menghadapi istri, serta istri dari keponakannya. Rambutnya ditarik dari sebelah kanan dan kiri. Hingga dia harus merasakan sakit di kulit kepalanya. Mengapa kedua wanita ini begitu sangat kejam hingga menyiksanya seperti ini. Sebenarnya yang salah siapa, apakah calon anak dan juga calon keponakannya? Sebastian hanya bisa pasrah ketika rambutnya di tarik dari segala arah. Bukan hanya rambut saja yang ditarik Zahira dan Zia, tangan kiri kanan juga menjadi sasaran kesakitan kedua wanita tersebut.Selama perjalanan ke rumah sakit, Sebastian merasakan penderitaan yang luar biasa. Kedua wanita itu yang akan melahirkan, namun dia juga merasakan kesakitan yang tidak kalah hebatnya. Belum lagi Zia yang mengomel karena menganggap ini semua karena ulah Sebastian.Namun rasa kesal di hatinya mendadak hilang ketika melihat wajah Zia yang begitu sangat kesaki
Mpok Siti berlari ke rumah Sebastian tanpa memutuskan sambungan telepon dengan Arion. "Tuan Sebastian!" Empok Siti langsung memanggil Sebastian. "Ada apa mpok." Sebastian tampak sedang panik. Pria itu baru saja keluar dari kamar sambil memapah istrinya."Tuhan Sebastian, Nyonya Zahira sedang kesakitan. Sedangkan Tuan Arion sekarang di rumah sakit. Jika menunggu tuan Arion pulang, takutnya Nyonya Zahira kelamaan menahan sakitnya. Apakah tuan bisa membawa Nyonya Zahira ke rumah sakit." Mpok Siti berkata dengan tergesa-gesa. Tampak jelas bahwa wanita paruh baya itu benar-benar panik dan mencemaskan kondisi majikannya. "Zia juga sedang kesakitan mau melahirkan. Saya juga mau ke rumah sakit. Baiklah sekalian saja saya akan membawa mereka langsung ke rumah sakit," kata Sebastian "Nyonya Zia juga akan melahirkan?" Mpok Siti terkejut ketika mendengar perkataan dari Sebastian. "Iya, Mpok tolong bawakan tas ke mobil." Sebastian menunjuk tas yang sudah disiapkannya."Baik Tuan." Mpok Siti
"Paman, segera temukan orang yang menyiram Sherina dengan air keras. Aku yakin pelakunya sama dengan orang yang menikam Shelina." Arion berkata dengan wajah marah.Meskipun Heru begitu kejam terhadapnya namun ia tidak sepenuhnya membenci Shelina. Rasa sayang terhadap Shelina tidak akan pernah hilang begitu saja.Melihat Shelina sakit hingga tubuhnya kurus seperti ini saja sudah membuat dia sedih. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada yang mau mendonorkan ginjal untuk gadis malang tersebut."Baik," jawab Alex. Tanpa di perintahkan Arion, ia akan mencari orang itu sampai dapat. "Berikan perawatan terbaik untuk Sherina. Aku ingin dia ditangani oleh dokter kulit terbaik. Begitu juga dengan matanya. Jika perlu kamu boleh mendatangkan dokter dari luar negeri. "Arion berkata sambil memandang Dokter Vandra yang duduk di depannya. "Baiklah, aku memiliki teman yang merupakan dokter terbaik di dunia. Aku akan mengundangnya datang ke sini. Aku yakin dia pasti bersedia untuk memb
Setelah selesai menjenguk sang Papi, Shelina berpindah ke lapas perempuan. Ia di kursi tunggu sambil menunggu kedatangan sang Mami dan juga Kakaknya. Shelina tersenyum ketika melihat Ema dan Alina datang secara bersama. "Mami, Shelin bahwa dimsum." Dengan senyum ceria Shelina memeluk Ema. Setelah seluruh keluarganya ditahan, Shelina kehilangan semangat dalam hidupnya. Ia juga tidak bisa bebas keluar, karena pembencinya yang begitu banyak. Dimanapun Shelina berada, Jika berjumpa dengan masyarakat, pasti langsung di hujat. Tak jarang juga, ia dipukul dan dipermalukan di depan umum. Karena statusnya anak seorang pembunuh. Naman Irwan yang melekat di belakang namanya, membuat Shelina tidak bisa bekerja di manapun. Namun walau seperti kondisinya, Shelina tetap tidak mengeluh dan menyalakan orang tuanya."Wah enak sekali, apa ini Shelin yang masak?" Ema langsung membuka kotak makanan dan mencicipi masakan yang dibawakan Shelina."Iya dong mi," jawab Shelina dengan bangga."Enak sekali k
Shelina tidak kuasa menahan tangisnya ketika melihat berita. Pemberitaan diberitahukan bahwa tanggal eksekusi mati untuk 3 orang terpidana pembunuhan sadis sudah di tetapkan. Tanggal 25 Januari 2025, tiga orang terpidana akan dieksekusi. Terpidana itu adalah Heru Irawan 50 tahun, Ema Sari 47 tahun, Alina Irawan, 25 tahun. Itu artinya hanya satu Minggu lagi. Seharusnya Heru sudah di hukum mati sejak tanggal 10 November 2024. Namun ternyata diundang hingga tanggal 25 Januari. Shelina duduk termenung sambil memandang foto keluarga. Foto ini diambil ketika Alina baru kembali dari Paris. Ia tidak menduga bahwa inilah foto terakhirnya bersama keluarga. Kuat tidak kuat, ia harus tetap menghadapinya dan mencoba untuk iklas menerima kematian orang-orang yang disayanginya dengan cara seperti ini. Mungkin dengan cara kematian seperti ini dosa-dosa mereka dapat sedikit terampuni. Tubuh Shelina semakin lama semakin lemah. Kesehatannya juga semakin memburuk. Seharusnya dia sudah menjalani operasi