Share

Musuh

Penulis: Atieckha
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-08 23:28:47

"Arka, apakah kau merasa… mungkin istriku punya musuh?" tanya Rangga tiba-tiba. Suaranya pelan, namun nada khawatirnya jelas terasa. Rangga dan Arka sedang berbicara di dalam ruang kerja Rangga.

Arka menatapnya sejenak, menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan. Akhirnya, ia bicara dengan mantap, "Menurut saya pribadi, musuh itu tidak datang dari Ibu Febby. Musuh yang mengincar nyawanya… kemungkinan besar datang dari Anda, Tuan."

Kening Rangga berkerut, kebingungan. "Maksudmu apa, Arka?" tanyanya sambil bersandar di kursi, mempersilakan Arka untuk duduk di seberangnya.

Arka menarik napas sejenak, lalu menjelaskan, "Saya hanya menyimpulkan, Tuan. Orang yang ingin menyakiti Ny. Febby pasti memiliki alasan kuat. Dan alasan itu, menurut saya, bukan semata untuk menyakiti Ny. Febby, tetapi untuk menyakiti Anda secara mendalam. Dengan menyerang orang yang paling Anda cintai, musuh Anda tahu, luka yang mereka berikan akan lebih dari sekadar fisik. Itu akan mengoyak hati Anda."

Rangga terdiam.
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Tangisan Haru

    "Baiklah, Arka, lanjutkan pekerjaanmu," ujar Rangga dengan nada penuh wibawa, namun tampak ada kekhawatiran tersirat di matanya."Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu," jawab Arka dengan sopan, sebelum membungkuk sedikit dan berjalan keluar dari ruang kerja Rangga. Ia kembali ke meja kerjanya yang terletak persis di depan ruang kerja sang atasan.Begitu Arka keluar, Rangga mencoba kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya yang sempat tertunda. Namun, pikirannya terus terganggu oleh bayangan ancaman yang baru saja mereka bicarakan. Siapa yang mungkin berani menyakiti keluarganya? Siapa yang punya dendam begitu besar terhadapnya sampai-sampai mengincar nyawa istri dan anak-anaknya?Rangga mendesah panjang dan memejamkan mata sejenak. Dalam hati, ia bersumpah, Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun yang berani mengusik kebahagiaan keluargaku, apalagi sampai menyakiti anak dan istriku.Meskipun ancaman itu masih membayangi pikirannya, ia mencoba menepisnya dan fokus pada pekerja

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Tiga Ronde

    Setelah kejutan ulang tahun yang menyentuh hati, Rangga memandang keluarganya dan seluruh orang di rumah dengan penuh kasih sayang. Ia merasa begitu beruntung dikelilingi orang-orang yang tulus mendukung dan melindungi keluarganya, dari istri dan anak-anaknya hingga para pekerja dan pengawal setia. Hari itu terasa sangat spesial, dan Rangga ingin membagikan kebahagiaan ini dengan semuanya.Rangga memanggil Arka, asisten setianya, yang berdiri tak jauh darinya. “Arka, bisakah kamu memesankan makanan dari restoran terbaik di kota? Pastikan pesanannya cukup untuk semua orang di rumah. Malam ini kita akan makan bersama di sini, di rumah.”Arka mengangguk dengan senyum lebar. “Tentu, Tuan. Saya akan segera mengurus semuanya,” jawab Arka, penuh semangat. Ia segera beranjak untuk menelpon restoran langganan Rangga dan memastikan pesanan akan tiba secepat mungkin.Febby, yang berdiri di samping Rangga, menatap suaminya dengan penuh kebanggaan. “Sayang, kamu ingin berbagi kebahagiaan dengan s

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Ingin Liburan

    Di ruang keluarga yang mewah itu, suara tawa Elio dan Elina mengisi ruangan. Mereka duduk di antara kedua orang tua mereka, Rangga dan Febby, dengan wajah ceria dan penuh rasa penasaran.“Mama, Papa,” panggil Elio dengan suara polosnya. “Kapan kita pulang kampung ke rumah nenek? Kami ingin tahu rasanya pulang kampung,” ujarnya, matanya berbinar menatap kedua orang tuanya.Rangga tersenyum, menyadari betapa besar rasa ingin tahu putranya tentang kampung halaman. “Nanti, kalau kalian sudah liburan, kita akan pulang kampung bersama-sama, Sayang,” jawab Rangga lembut sambil mengusap kepala Elio.“Yay, kita akan pulang kampung!” teriak Elio dengan semangat, wajahnya berseri-seri. “Mama, kapan kita liburan? Berapa lama kita di rumah nenek?” Elina ikut bertanya, penuh antusiasme sambil menggoyang-goyangkan tangan sang mama.Febby tersenyum lembut, menatap kedua buah hatinya dengan penuh kasih. “Liburannya masih lama, Sayang. Tapi kalau sudah dekat, Mama pasti kasih tahu. Kita akan habiskan

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Cemburu

    Rossa dan Arka telah tiba di butik yang mewah. Rossa tampak semangat memilih gaun yang elegan, berharap dapat tampil memukau saat mendampingi Arka di acara reuni akbar teman-temannya. Arka tersenyum di sisinya, memberikan beberapa saran saat Rossa menunjuk beberapa gaun yang terpajang.“Gaun merah itu bagus untukmu, sayang,” ujar Arka sambil menunjuk gaun merah elegan dengan aksen renda di bagian leher.Rossa menatap gaun yang dimaksud, matanya berbinar. “Kamu yakin? Aku tidak ingin terlalu mencolok.”Arka mengangguk sambil tersenyum hangat. “Justru itu yang akan membuatmu terlihat istimewa,” ujarnya. “Aku ingin kamu tampil percaya diri saat bersamaku nanti.”Rossa tersenyum dan memegang tangan Arka erat. “Terima kasih, sayang. Aku tidak ingin mengecewakanmu.”Sementara itu, di sudut butik yang sama, Nabila, mantan kekasih Arka berada di sana bersama sahabatnya, Nana. Tatapan Nabila terpaku pada kemesraan Rossa dan Arka, membuat hatinya seakan teriris. Baginya, dulu Arka adalah soso

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Sarapan

    Arka memberhentikan mobilnya di depan rumah Rangga yang megah, lalu beralih menatap Rossa yang duduk di sampingnya. Lampu-lampu jalanan memantulkan cahaya lembut di wajah Rossa, membuatnya tampak semakin anggun dalam gaun merah elegan yang dipakainya malam itu. Mereka baru saja menghabiskan waktu bersama, dan meski malam sudah larut, Arka merasa enggan berpisah.“Aku aku pulang dulu ya,” ujar Arka pelan, masih menatap Rossa dengan lembut. Rossa tersenyum, sedikit menunduk menahan malu. “Iya sayang. Aku senang bisa bersamamu. Malam ini terasa sangat istimewa.”Arka mengangguk, lalu dengan perlahan mengulurkan tangan, meraih tangan Rossa dan menggenggamnya dengan penuh kehangatan. Mereka saling bertukar pandang, seolah dalam diam mengungkapkan semua perasaan yang belum sempat tersampaikan.“Semoga suatu hari nanti kita bisa menikmati lebih banyak waktu bersama seperti ini,” bisik Arka, suaranya hampir tak terdengar, tetapi sarat dengan ketulusan.Rossa menatapnya dengan lembut. “Aku j

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Risih

    Saat tiba di ruang kerja Rangga untuk menaruh berkas, Arka menghela napas berat."Apa-apaan coba sok perhatian tumben," gumamnya kaget bercampur kesal.Sejak ada Rossa di sisinya Arka sama sekali tak butuh wanita lain. Arka hanya ingin Rossa seorang. Arka menghela napas sekali lagi, lalu kembali ke meja kerjanya. Tak berselang lama Rangga tiba di lantai ruang kerjanya."Pagi Tuan," apa Nabila dan Arka kompak, sambil sedikit membungkuk memberi hormat."Pagi juga, Arka, Nabila," jawab Rangga terus masuk ke ruang kerjanya.Sepanjang pagi, Nabila tampak seperti sengaja mencari alasan untuk mendekati Arka. Ia bicara tentang laporan kecil yang sebenarnya bisa ia urus sendiri, menawarkan kopi hangat, dan bahkan sesekali melontarkan pujian terhadap cara Arka menangani pekerjaan. Setiap kali Nabila bicara, Arka berusaha tetap tenang dan sopan, meskipun tak bisa menyembunyikan perasaan risih yang perlahan-lahan merayapi hatinya.“Arka, kamu ingin kopi atau teh?” tanya Nabila tiba-tiba, sambil

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Hamil

    "Nabila!" panggil Rangga ketika ia sudah ada di lobi. Kebetulan, Nabila juga masih berada di sekitar lobi. Dengan cepat, Nabila mendekati Rangga."Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan."Harusnya sih, saya tidak perlu bicara seperti ini. Saya minta maaf sebelumnya kalau apa yang akan saya ucapkan ini menyinggung perasaanmu," ucap Rangga mengawali kalimatnya, membuat jantung Nabila berdebar semakin kencang."I-iya, Tuan. Ada apa?" tanya Nabila dengan suara lirih."Tolong jangan berharap apa pun lagi pada Arka, apalagi mengejarnya secara berlebihan. Dia bisa menjadi orang yang paling membencimu karena dia sangat tidak menyukai wanita agresif. Dan sekarang, Arka sudah memiliki calon istri, dan mereka akan segera menikah. Calon istrinya itu adalah kakak iparku sendiri. Jadi, jangan coba-coba untuk mengganggu hubungan mereka lagi. Kamu sudah pernah melewatkan kesempatan emas, di mana saat itu Arka benar-benar ingin mengulang kembali hubungan kalian yang pernah terputus," uca

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Merayakan

    Rangga menatap Febby dengan perasaan yang tak menentu, dia nyaris tak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar. Matanya menatap lekat-lekat wajah istrinya, seolah mencari kepastian lebih dalam dari sekadar kata-kata.“Ka—kamu beneran hamil, sayang?” tanyanya dengan suara terbata, penuh harap dan ketidakpercayaan.Febby tersenyum hangat, lalu mengangguk dengan penuh keyakinan. “Iya, sayang. Kita akan punya anak lagi,” jawabnya lembut, seolah kata-katanya itu adalah musik indah yang meresap ke dalam hati Rangga.Seolah tak mampu menahan luapan rasa bahagianya, Rangga menarik tubuh Febby ke dalam pelukan. Air mata jatuh tanpa malu-malu dari kedua matanya, namun ia tak peduli. Dalam hatinya, ia terus-menerus bersyukur pada Tuhan atas anugerah ini. Ia mengusap wajah Febby dengan jemari lembutnya, lalu menghujani pipi, kening, dan bibir istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.“Aku bahagia sekali, sayang. Aku benar-benar nggak menyangka kalau Tuhan memberi kita kepercayaan lagi,” ucap Ra

Bab terbaru

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Tamat

    Arka masih berdiri dengan ekspresi serius, berhadapan dengan Nabila yang tampak gugup. Sebuah kesalahan fatal baru saja terjadi, membuat Nabila harus menghadapi amarah Arka, rekan kerjanya yang juga dikenal sebagai tangan kanan Rangga.“Ma–maaf,” ucap Nabila dengan nada terbata-bata. Matanya menatap meja, tak berani menatap langsung ke arah Arka. “Aku akan memperbaikinya.”Arka menyilangkan tangan di depan dada, ekspresinya tetap tegas. “Sudah seharusnya begitu, Nabila. Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan urusan kantor,” tegurnya. “Data ini sangat penting. Kita dibayar untuk bekerja, bukan untuk mengecewakan pemilik perusahaan.”Nada suaranya yang dingin membuat Nabila merasa semakin bersalah. Rekan kerja lain di tempat itu, yang mendengar percakapan mereka, memilih untuk mengabaikannya.Nabila menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu Arka benar, dan ia harus memperbaiki kesalahan ini secepat mungkin. “Baik, Arka,” ucapnya dengan nada penuh penyesalan. “Unt

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Pulang Saja

    Arka mengetuk pintu ruang kerja Rangga dengan hati yang sudah terasa berat sejak tadi. Ia tahu, percakapan ini akan melibatkan Nabila, yang terlihat semakin berusaha mendekatinya belakangan ini. Setelah mendengar suara Rangga mempersilakan masuk, Arka membuka pintu dan melangkah masuk bersama Nabila. Mereka duduk berdampingan, meskipun suasana di antara keduanya terasa canggung.Rangga menatap mereka sejenak, matanya tajam namun tetap ramah. Ia memulai pembicaraan, “Arka, saya akan segera mempersiapkan penggantimu-”Belum selesai kalimat itu terucap, Nabila langsung memotong, “Maksud Anda bagaimana, Tuan?”Nada suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu, namun juga sedikit ketakutan. Ia menatap Rangga, mencoba mencari penjelasan dari kalimat yang setengah terucap itu.Rangga tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya pada Arka yang tampak tenang. “Arka kan sebentar lagi akan menikah,” lanjut Rangga, nadanya penuh pengertian. “Dia akan menjadi pimpinan salah satu anak cabang Wijaya Group

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Nguping

    “Kalian ini berani-beraninya, ya, ngomongin Mama,” ujar Febby pura-pura marah sambil memandang mereka dengan alis terangkat.Elina dan Elio hanya tertawa kecil, tampak tak terpengaruh oleh wajah pura-pura serius mamanya. “Kami hanya bercanda, Mama!” jawab mereka serempak dengan wajah polos dan senyum lebar, seperti berusaha meyakinkan bahwa mereka tidak bersalah.Febby menggeleng, lalu tersenyum. “Ya sudah, ayo cepat sarapan dulu. Nanti keburu terlambat ke sekolah,” katanya dengan suara lembut, namun tetap tegas.“Siap, Mama!” balas mereka, masih dalam nada polos dan penuh semangat.Tak lama kemudian, Elina dan Elio mengambil tas mereka, dan bersiap turun ke lantai bawah. Di ruang makan, Rangga, sudah duduk dengan rapi dan tampan dalam setelan kerjanya, menunggu mereka dengan sabar. Di meja itu juga sudah ada nenek mereka, dan Rossa, yang duduk menunggu sambil tersenyum melihat keceriaan anak-anak itu.Melihat kedatangan mereka, Rangga segera berdiri dari kursinya dan dengan penuh kas

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Nyonya Muda Pelit

    Malam telah larut ketika Mayang dan Rossa memasuki kamar. Setelah percakapan hangat bersama keluarga, mereka kini berdua, bersiap untuk beristirahat. Namun, suasana hati Rossa tampak tidak tenang. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan menerawang, sementara Mayang mengamati anaknya dengan lembut dari sudut ruangan."Ma," Rossa akhirnya membuka suara dengan nada pelan, tapi penuh rasa takjub, "Rossa sama sekali nggak menyangka, ternyata Arka bakal mendapatkan hadiah sebesar itu dari Rangga. Padahal tadi kami sempat diskusi, setelah menikah mungkin dia hanya akan pulang ke Sun City setiap akhir pekan. Tapi sekarang… hadiah itu mengubah segalanya. Kami bahkan bisa tinggal di sana bersama Mama."Mayang mendekati anaknya dan duduk di sebelahnya. Ia menggenggam tangan Rossa dengan lembut. "Iya, Sayang. Mama juga nggak pernah menyangka. Kalau Mama ingat-ingat lagi… Mama malu sekali atas apa yang pernah Mama lakukan ke Rangga dulu." Suara Mayang mulai serak. "Mama dulu menghina dia

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Kejutan

    Setelah Arka pamit pulang, Febby, Rangga, dan Mayang masih duduk bersama. Di samping mereka, Rossa duduk tenang, menyimak obrolan sambil tersenyum kecil, namun di wajahnya ada keraguan yang tersirat.Febby yang duduk di sebelah Rossa menatapnya dengan penuh perhatian. "Kakak, rencananya mau menikah di sini atau di kota Sun City?" tanyanya lembut, ingin tahu keputusan kakak tirinya itu. Pertanyaan itu sontak membuat semua mata di ruangan tertuju pada Rossa, menunggu jawabannya.Rossa tersenyum tipis, lalu menghela napas panjang. "Kak Rossa sih inginnya di Sun City saja," jawabnya akhirnya, memandangi mereka satu per satu. "Di sana banyak kenangan yang ingin kami pertahankan, tempat-tempat yang istimewa untukku dan Arka. Lagipula, kami juga akan tinggal di sana setelah menikah... meskipun harus berpisah jarak dan waktu dengan Arka yang akan tetap bekerja di sini." Ada sedikit nada ragu di ujung kalimatnya, seakan-akan perpisahan itu adalah pengorbanan yang tak mudah baginya.Rangga ya

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Pembahasan Serius

    “Kamu serius, sayang?” tanya Arka.Rossa mengangguk, “aku serius sayang. Kapanpun aku siap,” ulang Rossa.“Dua bulan lagi ada hari baik, apa kamu mau?”Rossa mengangguk.Arka kembali masuk ke dalam rumah sang atasan, dia minta Rangga dan febby kembali turun sebentar. Mereka pun berkumpul di ruang keluarga rumah mewah Rangga.Suasana hangat penuh kekeluargaan begitu terasa, terutama dengan adanya Febby yang tengah mengandung anak kedua, membawa kebahagiaan tersendiri bagi seluruh keluarga. Melihat Arka yang tampak ragu-ragu, Rangga segera menepuk punggungnya dan mempersilakannya duduk di samping."Ada apa, Ark? Kok wajahmu serius banget?" tanya Rangga, berusaha mencairkan suasana.Arka menarik napas dalam-dalam, memandangi ketiganya satu per satu, lalu berkata, "Saya ingin minta izin, Sama tante, Tuan dan Nyonya. Setelah berdiskusi dengan Rossa, kami memutuskan untuk menikah dua bulan lagi."Pernyataan itu mengejutkan semua orang, terutama Mayang, yang tidak menyangka rencana pernika

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Siap Menikah

    Rangga dan keluarganya bersiap untuk malam spesial mereka. Ia merangkul bahu istrinya, Febby, yang sedang hamil, dengan lembut sembari mengajak kedua anak kembar mereka, Elina dan Elio."Ayo, sayang, kita bersiap," ucapnya dengan suara hangat yang penuh semangat.Bocah kembar berusia empat tahun yang energik, tidak bisa menahan kebahagiaan mereka. Setiap kali diajak makan di luar, mereka tahu pasti bisa memilih menu yang mereka inginkan tanpa batasan. Restoran mewah dengan berbagai pilihan hidangan daging adalah favorit mereka.Si kembar masuk ke dalam kamarnya bersama suster Barbara."Kamu mau daging apa nanti?" tanya Elina sambil memandang adik kembarnya, dengan mata berbinar. Mereka sedang dibantu mengganti pakaian oleh suster Barbara, yang setia menemani mereka setiap hari."Aku mau daging sapi saja, kamu daging ayam saja, nanti kita bagi," jawab Elio, mencoba memberi saran."Oke, tos dulu dong!" Elina mengulurkan tangannya, dan keduanya melakukan tos sambil tertawa kecil.Suster

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Merayakan

    Rangga menatap Febby dengan perasaan yang tak menentu, dia nyaris tak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar. Matanya menatap lekat-lekat wajah istrinya, seolah mencari kepastian lebih dalam dari sekadar kata-kata.“Ka—kamu beneran hamil, sayang?” tanyanya dengan suara terbata, penuh harap dan ketidakpercayaan.Febby tersenyum hangat, lalu mengangguk dengan penuh keyakinan. “Iya, sayang. Kita akan punya anak lagi,” jawabnya lembut, seolah kata-katanya itu adalah musik indah yang meresap ke dalam hati Rangga.Seolah tak mampu menahan luapan rasa bahagianya, Rangga menarik tubuh Febby ke dalam pelukan. Air mata jatuh tanpa malu-malu dari kedua matanya, namun ia tak peduli. Dalam hatinya, ia terus-menerus bersyukur pada Tuhan atas anugerah ini. Ia mengusap wajah Febby dengan jemari lembutnya, lalu menghujani pipi, kening, dan bibir istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.“Aku bahagia sekali, sayang. Aku benar-benar nggak menyangka kalau Tuhan memberi kita kepercayaan lagi,” ucap Ra

  • Disangka Anak Magang, Suamiku Ternyata Bos Besar   Hamil

    "Nabila!" panggil Rangga ketika ia sudah ada di lobi. Kebetulan, Nabila juga masih berada di sekitar lobi. Dengan cepat, Nabila mendekati Rangga."Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan."Harusnya sih, saya tidak perlu bicara seperti ini. Saya minta maaf sebelumnya kalau apa yang akan saya ucapkan ini menyinggung perasaanmu," ucap Rangga mengawali kalimatnya, membuat jantung Nabila berdebar semakin kencang."I-iya, Tuan. Ada apa?" tanya Nabila dengan suara lirih."Tolong jangan berharap apa pun lagi pada Arka, apalagi mengejarnya secara berlebihan. Dia bisa menjadi orang yang paling membencimu karena dia sangat tidak menyukai wanita agresif. Dan sekarang, Arka sudah memiliki calon istri, dan mereka akan segera menikah. Calon istrinya itu adalah kakak iparku sendiri. Jadi, jangan coba-coba untuk mengganggu hubungan mereka lagi. Kamu sudah pernah melewatkan kesempatan emas, di mana saat itu Arka benar-benar ingin mengulang kembali hubungan kalian yang pernah terputus," uca

DMCA.com Protection Status