Share

Bab 4

Penulis: fnzaxa
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-06 12:09:37

Langkah Fianna terpacu pelan memasuki bagian dalam rumah Abian. Tetesan air dari bajunya kini membasahi lantai dan membuatnya tidak bisa melangkah lebih jauh. Ia lantas kembali mundur dan mencari keset yang bisa mengeringkan kakinya.

Tak berselang lama, Abian kembali dengan handuk dan sepasang pakaian. “Kamu masuk aja, ngapain di sana?” tanyanya heran saat Fianna masih berdiri di ambang pintu. “Masuk sendiri atau mau saya bawa ke sini?”

“Basah, Pak,” jawab Fianna.

“Masuk aja dulu. Nanti bisa saya lap.” titah Abian. Tangannya kini menyerahkan handuk. “Pakai handuk dulu. Ganti juga pakaian kamu, dari sini lurus belok kiri, ada kamar mandi.”

“Iya, terima kasih, Pak,” jawab Fianna yang menerima pemberian Abian itu dan dengan langkah seribu memasuki dalam rumah Abian.

Setelah selesai mengganti pakaiannya, Fiana keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan bingung menelusuri rumah Abian. Rasanya canggung dan juga tidak nyaman, terlebih sangat mengingat jikalau ini adalah rumah Abian, si Manajer Galak yang hobi sekali marah-marah.

“Pak Abian,” panggil Fiana saat ia tak kunjung menemukan sosok Abian. “Ada di mana?”

“Dapur,” samar-samar terdengar suara Abian dan Fianna bergegas menghampiri sumber suara.

Fianna mengintip dari balik tembok dan saat sudah menemukan sosok Abian, dia melangkah mendekat dan duduk di sebuah kursi di bar kecil yang ada di dapur. Kedua mata Fina menatap punggung lebar Abian yang tengah sibuk dengan cangkir dan teko.

Tidak dapat dipungkiri jika sosoknya memang sempurna, di luar perilaku jeleknya yang galak dan menyebalkan. Apalagi kini, Abian yang tengah serius dengan kedua lengan kemeja yang dilipat sampai siku itu berkali-kali terlihat menarik untuk dipandang mata.

Fianna lantas mengalihkan pandangan saat Abian berbalik badan dan menyajikan segelas teh hangat di depannya. Uap muncul dari balik cangkir itu dengan aroma melati yang menenangkan. 

“Minum dulu,” titah Abian.

“Terima kasih, Pak,” jawab Fianna yang kini tangannya menggapai cangkir dan meminum teh yang telah disajikan. Rasa manis menyapa lidahnya dan tubuhnya sedikit menghangat setelahnya.

Suara gemericik hujan terdengar deras di luar jendela rumah, menciptakan harmoni alam yang menjadi latar penuh kecanggungan di antara mereka berdua. Fianna meremas cangkir tehnya dengan gemetar, mencoba menemukan kata-kata untuk memecah keheningan.

“Kenapa kamu?” tanya Abian yang duduk di seberang meja dengan ekspresi serius dan tatapan tajam memperhatikan gerak-geriknya.

Fianna lagi-lagi merasa hatinya berdegup kencang di tengah ketidaknyamanan. Dia memandang cangkir tehnya, takut bertatapan mata dengan Abian. Namun, tiba-tiba perut Fianna bersuara, menciptakan keheningan yang singkat di antara mereka.

“Oh laper,” ejek Abian.

Fianna lantas menutup matanya sejenak dan kedua pipinya sedikit merona, merasa malu atas suara tak terduga dari perutnya. Bisa-bisanya di situasi yang seperti ini, perutnya malah keroncongan dan tidak bisa diajak bekerjasama. “Hehe iya, Pak,” jawabnya jujur.

Abian bangkit dari duduknya. “Mau mie gak?” tanya Abian.

“Jika bapak tidak keberatan, boleh, Pak, hehe. ” jawab Fianna sudah kepalang malu dan tidak memperdulikan harga dirinya.

“Saya tidak keberatan.” balas Abian yang kini mulai memasak mie. “Hitung-hitung balas budi saya.”

“Mau pakai telur?” tanya Abian sekali lagi. “Saya gak tahu kesukaan kamu apa,”

“Boleh, Pak.” jawab Fianna. “Pakai rawit sama saos kalau ada, ya, Pak, hehehehe. Tapi, kalau gak ada, oplosan juga enak, kok.”

“Mau saya bantu, Pak?” tawar Fianna yang kini melihat Abian sudah sibuk sendiri.

“Kamu duduk diam saja,” titah Abian.

Fianna kembali memperhatikan bagaimana gerak-gerik Abian yang terasa memanjakan mata. Bagaimana punggung yang kokoh itu terlihat lebar dan cocok untuk dijadikan bersandar. Namun dengan segera, Fianna menggeleng keras saat pemikiran aneh itu hadir.

Beberapa saat kemudian, Abian berbalik badan dan meletakkan semangkuk mie dengan kuah merah menggoda. Telur setengah matang tampak sempurna di atas mie yang mengambang juga ada beberapa sayuran hijau di sana.

"Ini yang kamu," Abian menyimpan semangkuk mie itu di depan Fianna.

“Terima kasih, Pak.” Fianna melirik ke arah mangkuk mie milik Abian dan tampak jikalau tampilan mie mereka sama, hanya saja untuk kuah mie Abian tidak semerah miliknya.

“Kenapa? Kurang?” tanya Abian saat Fianna malah memperhatikan mangkuk miliknya. “Mau saya bikinin lagi?”

Buru-buru Fianna menggeleng. “Kirain ketuker, Pak. Soalnya ada sayurnya.”

“Gak suka sayur?” tanya Abian dengan nada tak percaya. ”Serius?”

“Iya.” jawab Fianna polos apa adanya.

“Kamu ini.” ucap Abian yang entah mengapa merasa lelah. Ia menghela nafas panjang lalu menatap Fianna serius. “Sayuran itu penting, selain buat kesehatan juga sebagai sumber tenaga. Apalagi kamu tim kreatif, harus banyak makan sayuran biar otak kamu encer dalam berpikir dan berinovasi.”

“Kamu dengar saya?” tanya Abian sembari menatap Fianna dengan mata tajam khasnya itu saat Fianna hanya memandang kosong mangkuk mie itu.

“Dengar, Pak. Dengar.” ucap Fianna langsung, mencegah omelan yang lebih panjang keluar. “Makasih ya, Pak, saya makan.” izin Fianna pasrah sembari menyuapkan sendok berisi kuah dan mie itu ke dalam mulutnya. Rasa asing menyapa mulutnya, seperti ada yang kurang namun entah apa.

Fianna kembali menyuapkan kuah kesukaannya itu dan mengecap rasanya, benar, ini aneh, seperti bukan rasa mie instan biasanya. “Kurang asin.” komentar Fianna jujur.

Alis Abian terangkat saat melihat wajah Fianna saat ini. “Micinnya saya buang. Makan saja,” titah Abian.

Fianna menatap horor mangkuk mie itu. Ingin melakukan protes besar-besaran, namun tatapan Abian seolahnya mengatakan jika ia harus menghabiskan mie itu.

“Pak Abian kembaran Pak Aryan, ya?” tanya Fianna berbasa-basi. “Soalnya mirip banget sama Pak Aryan,”

“Beda 5 menit,” balas Abian singkat. Setelah itu, Abian menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangannya dan sebuah senyum tengil muncul di wajahnya itu. “Tapi gantengan saya,” 

Fianna tersenyum palsu mendengar hal itu, pria di depannya ini benar-benar narsis. Dan pandangannya tiba-tiba tertuju pada sesuatu yang bergerak berwarna cokelat dan berukuran kecil di belakang Abian, menempel pada tembok berwarna putih, terlihat sangat kontras.

“Pak Abian, itu kecoa bukan ya?” tanya Fianna memastikan penglihatannya. Ia lantas memajukan badannya dan mengangguk santai. "Oh iya, betul kecoa ternyata,"

Abian menoleh dengan panik dan tanpa diduga ia langsung melompat dan berlari ke belakang Fianna. “Mana? Mana?”

Seolah mengerti ketakutan Abian, kecoa itu terbang menghampiri mereka dengan kencang dan mengundang teriakan Abian yang kini sudah berlari mengelilingi dapur untuk menghindari kecoa yang sialnya terus saja mengikuti langkahnya.

Melihat kegaduhan itu, Fianna langsung putar otak dan memilih untuk mengambil sapu yang menganggur di sudut ruangan. Belum sempat ia menggapai sapu itu, tubuhnya ditabrak dengan kencang oleh Abian yang berlari tanpa melihat sekeliling.

Tubuh Fianna ambruk ke atas lantai, dan Abian terjatuh tepat di atasnya. Kedua tubuh mereka terhempas ke lantai, dengan Fianna yang terbaring di bawah Abian. Mereka saling menatap dalam kepanikan dan keheningan sejenak, pandangan mereka saling mengunci dengan mata yang terbuka lebar.

“BIANNN, BUNDA IKUT NEDUH YAA, NAK.”

Sebuah suara terdengar yang lantas memutus cepat pandangan mereka berdua. Belum sempat mereka bangkit, seorang wanita berpenampilan anggun masuk dengan menenteng tas di tangannya dan terlihat terkejut dengan apa yang ia lihat.

"Bunda!" Abian berusaha bangkit dibantu dorongan kuat dari Fianna yang sudah panik.

Abian dan Fianna kini berdiri dengan kikuk sembari mengusap bagian tubuh mereka yang kotor. Abian langsung melangkah menghampiri sang ibu yang masih terdiam kaku.

"Kamu!" Begitu Abian sampai di hadapan sang ibu, telinganya langsung dijewer dengan keras. "Pantas saja kamu tidak pernah mau dikenalkan ke wanita-wanita kenalan Bunda. Pantas saja kamu mau tinggal terpisah dari Bunda dan Aryan! Astaga astaga astaga! Anak badung ini!"

Abian mengaduh kesakitan dan kini berusaha melepaskan tangan sang ibu dari telinganya. "Aduh! Bunda lepas dulu!"

"Ini salah paham, Bu Dewi," timpal Fianna memotong obrolan ibu dan anak itu. "Ini tidak seperti yang Bu Dewi pikirkan,"

Dewi Inggit, ibu dari Abian itu menatap aneh Fianna dari ujung kaki hingga kepala sampai-sampai Fianna ikut melihat penampilannya sendiri — tidak ada yang aneh kecuali ia memakai hoodie bertuliskan nama Abian di dada kiri dan sebuah celana training hitam.

Oke, Fianna mengerti tatapan itu. Tatapan salah paham! Sebab bagaimanapun Fianna dan Abian terjebak berdua di rumah yang sepi di tengah hujan, Fianna yang memakai pakaian Abian dan mereka berdua yang kepergok dalam posisi yang mencurigakan. Maka siapa yang tidak curiga karena itu?!

"Cukup Fianna," balas Dewi dengan dramatis. "Kamu juga! Pantas saja kamu seolah-olah tidak tertarik pada pria yang mendekati kamu di kantor ya, pantas saja Aryan sellau khawatir kalau kamu tidak suka pria!"

"Nggak gitu, Bu," sanggah Fianna dengan cepat. "Ibu salah paham, saya bisa jelaskan kejadian sebenarnya. Tadi kita—"

"Bunda akan laporkan kalian berdua pada Ayah," Dewi kini melepaskan jeweran tangannya di telinga Abian dan bergegas mencari ponsel miliknya di dalam tas. "Kalian rupanya sudah macam-macam di luar pengawasan, dasar anak zaman sekarang!"

Dewi kini berbincang dengan seseorang di dalam telpon dan sedikit berjalan menjauh, yang membuat Fianna tidak bisa mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.

"Pak, gimana dong?"

Abian mengangkat bahunya acuh dan kembali duduk di kursi untuk melanjutkan kembali acara makannya yang tertunda. Fianna mengikuti langkah Abian dengan cemas dan terus saja bertanya bagaimana cara agar mereka menjelaskan semua yang terjadi pada Dewi.

"Bunda gak akan percaya," jawab Abian yang lelah.

Baru saja Fianna akan berbicara, Dewi muncul dengan tergesa menghampiri mereka. "Ayah akan kemari bersama Aryan, Arkian dan Arkana. Setelah ini, kita semua pergi ke rumah kamu Fianna,"

"K-ke rumah saya?" tanya Fianna menunjuk dirinya sendiri.

"Iya," Dewi mengangguk. "Kita akan melamar kamu untuk Abian, dan besok lusa kalian harus segera dinikahkan agar kejadian ini tidak terulang dan jika kamu hamil, itu anah yang sah,"

Astaga, seseorang katakan pada Fianna jika semua ini mimpi!!!!!

Bab terkait

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 5

    Kejadian begitu saja terjadi tanpa bisa Fianna cerna terlebih dahulu. Kini, Fianna hanya bisa memandang kosong langit-langit kamar Abian dengan tatapan menerawang dan merenungi nasib buruk yang baru saja ia alami. Sangat amat menyesali mengapa ia harus menerima ajakan Abian untuk berteduh jika akan begini jadinya. "Arghhh!" Fianna menjambak rambutnya lalu berguling ke kanan dan ke kiri di atas ranjang empuk berukuran besar itu membuat sprei yang mulanya rapih kini menjadi sedikit berantakan. Diraihnya ponsel yang sempat menganggur dan matanya menatap sebal ke arah potret dirinya dan Abian yang berdiri di atas pelaminan tadi siang dengan keluarga masing-masing. Jemari Fianna menggulirkan foto ke samping, dan lagi-lagi potret dirinya dan Abian yang sedang menunjukkan buku pernikahan. Fianna memperbesar foto itu dan memperhatikan raut wajah Abian yang tampak tersenyum lebar, berbeda dengan dirinya yang terlihat seperti senyuman karir. Astaga, dosa apa yang ia perbuat sampai-sampai h

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-06
  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 6

    Pagi itu, Fianna duduk di meja makan dengan dagu bertumpu pada kedua tangannya, menatap ke arah dapur dengan tatapan bosan. Aroma harum masakan mulai memenuhi ruangan, tapi Abian masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. . Pemandangan ini rasanya seperti deja vu bagi Fianna, pemandangan punggung Abian yang membelakanginya karena sibuk memasak. "Masih lama, Pak Abian?" Fianna berseru dengan nada mengeluh bosan, di tangannya kini sudah ada selembar kertas dan pena. "Kita kan perlu ngobrol serius nihhh, cepetan," Abian, yang tengah fokus menyiapkan sarapan, melirik sekilas ke arah Fianna. "Sabar," Fianna mendesah pelan, matanya berputar malas. "Ini ketiga kalinya, Pak Abian ngomong hal yang sama," "Kamu kalau berisik saya kasih makan sawi rebus ya," ancam Abian yang mampu membungkam sepenuhnya mulut Fianna. Hal yang paling ditakutkan Fianna adalah memakan sayuran yang dimasak Abian. Fianna menidurkan kepalanya ke atas meja dengan lesu, merasa bosan duduk saja tanpa bisa melakukan

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-08
  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 7

    Kantor geger saat sebuah postingan di media sosial milik Abian membuat semua karyawan gempar. Sebuah foto pernikahan, menampilkan Abian berdiri di samping seorang wanita misterius dengan latar belakang pelaminan yang elegan. Para karyawan langsung heboh, memperdebatkan siapa gerangan wanita yang berhasil merebut hati bos baru yang selama ini dikenal galak dan tak tersentuh. Beberapa bahkan langsung menggosipkan apakah wanita itu mungkin seorang selebriti atau putri dari keluarga kaya yang menikah diam-diam. "Aduhhh," Fianna mengaduh kesal dan mengusap wajahnya saat postingan itu tidak dibicarakan dahulu dengannya. "Dasar," gumamnya yang kini mencoba untuk tetap tenang. Fianna menatap postingan Abian itu dengan jantung yang berdegup kencang, tetapi ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan kegelisahannya. Jemarinya kini memainkan pena di atas buku catatan, tetapi pikirannya melayang jauh. "Tumben?" tanya Tirta yang baru saja datang dengan segelaa kopi di tangan. "Gak nimbrung? Bi

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-12
  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 8

    Fianna menghela napas panjang begitu ia keluar dari ruangan Abian. Rasanya seperti beban berat yang akhirnya terangkat dari pundaknya setelah berhadapan dengan si beruang pemarah itu — ya, walaupun setelah menangis tadi, Abian sedikit melunak padanya perihal pekerjaan yang terbengkalai. Dia lantas berjalan dengan langkah cepat menuju kantin, tempat biasanya dia dan teman-temannya berkumpul untuk sekadar mengobrol atau melepaskan penat setelah bekerja. Sesampainya di kantin, Fianna melihat Tirta, Andrew, Dina, dan Zidan sudah duduk di salah satu meja di sudut ruangan. Mereka tertawa-tawa, jelas tengah menikmati waktu istirahat mereka — astaga, terlihat bahagia sekali mereka. Begitu melihat Fianna, Tirta melambai-lambaikan tangan dengan semangat. “Fi! Sini, cepat ke sini!” seru Tirta dengan senyum lebar. Fianna membalas senyuman itu, merasa lega bisa kembali ke suasana yang lebih nyaman dan akrab. Dia melangkah cepat menuju meja mereka dan segera duduk di antara Dina dan Zidan. “Gim

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-22
  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 9

    "Ayo lahhhh," Tirta mulai merengek dan langkahnya terus mengikuti kemanapun Fianna melangkah.Fianna menyimpan gelasnya dengan kesal dan memutar matanya. "Kan aku udah jujur, aku gak tau ya siapa istri Pak Abian,""Bohong," bantah Tirta tak percaya. "Kamu kan deket banget sama Pak Aryan,"Fianna menatap kopi yang mengalir perlahan dari mesin memilih untuk mengabaikan sepenuhnya Tirta yang semakin merengek. Kepalanya terasa berat, seolah semua informasi dan ketegangan yang terjadi di kantor hari ini membanjiri pikirannya tanpa henti. Ditambah sekarang masalah hidupnya bertambah setelah menjadi istri Abian. “Buset,” Tirta tiba-tiba berseru keras dan wajahnya berubah menjadi cemas. “Aku lupa harus laporan ke Pak Aryan, ah gara-gara kamu sih.” “Ya udah, sana, nanti Pak Aryan malah ngomel,” titah Fianna mengusir. “Duluan ya,” pamit Tirta yang kini berjalan tergesa meninggalkan pantry. Fianna mengaduk kopinya perlahan, menikmati momen sejenak dalam kesunyian. Akhirnya Tirta pergi juga d

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-30
  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 1

    "Fianna!"Suara seseorang menggema di ruangan itu, membuat semua mata sejenak beralih pada seseorang yang baru saja datang dengan segenggam kertas di tangannya. Seorang pria dengan kemeja biru pastel yang dipadukan dengan vest putih rapi dan celana hitam datang mendekat ke arah Fianna yang masih bergeming pada posisinya, tidak mendengar panggilan itu karena terlalu fokus pada pekerjaan.Ditepuknya pundak sang wanita pelan, membuat Fianna sedikit terlonjak dan menoleh dengan cepat. Headphone buru-buru ia lepaskan dan antensinya kini berpindah pada pria yang tengah menatapnya. "Ada apa, Pak Aryan?" tanya Fianna setelah ia menguasai diri. Aryan Aiden Mikhael, Manajer Pemasaran itu tersenyum maklum. "Dipanggil Pak Abian ke ruangannya sekarang,"Kedua alis Fianna bertaut tak mengerti. "Pak Abian?"Raut wajah Fianna berubah menjadi cemas saat Aryan mengangguk mengiyakan. Hari yang awalnya dipenuhi oleh bunga-bunga bermekaran kini seolah berubah menjadi hari yang kelam dan dipenuhi oleh aw

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-04
  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 2

    Fianna berjalan kembali menuju ruangan Abian, hatinya berdebar-debar dan mulai mempertanyakan apakah Abian melihatnya mengacungkan jari tengah atau tidak saat tadi ia menutup pintu. Perasaan khawatir, cemas dan takut pun kini bercampur menjadi satu dan menghantui setiap langkahnya.Saat sudah tiba di depan ruangan Abian, Fianna lantas mengetuk pintu dan masuk, "Pak Abian, ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya dengan sopan, berbeda dengan tingkahnya tadi. Abian mendongak. "Kerjakan di ruangan saya. Bawa semua peralatan kamu ke sini," kata Abian dengan suara datar. “Kursi, laptop, dan lainnya.”“Ya. Pak?” tanya Fianna memastikan pendengarannya. “Saya?”“Jika telinga kamu tidak berfungsi, jual saja. Jangan hanya jadi pajangan.”Fianna menghela napas kecil. "Baik, Pak Abian," jawabnya pelan.Fianna dengan langkah lesu kembali ke mejanya. Kini, dia mulai membereskan peralatan miliknya. Tirta dan anggota Divisi Pemasaran yang lain pun memperhatikan Fianna dengan penasaran. “Mau ke mana

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-04
  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 3

    “Akhirnya...”Fianna menyimpan buku keuangan tahunan yang sudah diubah covernya itu di atas meja lengkap dengan nota pembuatan di atasnya. Ruangan Abian kini tampak lenggang karena sang penghuni ruangan sepertinya sudah pulang. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Fianna dengan segera membereskan barang-barangnya dan berjalan menuju parkiran, di mana kendaraannya terparkir. Raut wajahnya terlihat lelah, setelah seharian berkelahi dengan pekerjaan dadakan yang diberikan oleh Abian, yang membuatnya tertahan di kantor dalam beberapa jam.“Sepi banget,” keluhnya ngeri saat kondisi parkian sudah gelap dan sepi, mengingatkannya pada kejadian tempo hari saat ia melihat hantu.Tidak ingin kejadian serupa terulang, Fianna segera bersiap untuk mengemudikan motornya dan meninggalkan parkiran kantor. Suasana jalanan yang sedikit lenggang dimanfaatkan Fianna untuk bisa menenangkan dirinya dan bernafas lega, sedikitnya menikmati perjalanan pulang yang seolah meringankan beban di pundaknya.Di teng

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-04

Bab terbaru

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 9

    "Ayo lahhhh," Tirta mulai merengek dan langkahnya terus mengikuti kemanapun Fianna melangkah.Fianna menyimpan gelasnya dengan kesal dan memutar matanya. "Kan aku udah jujur, aku gak tau ya siapa istri Pak Abian,""Bohong," bantah Tirta tak percaya. "Kamu kan deket banget sama Pak Aryan,"Fianna menatap kopi yang mengalir perlahan dari mesin memilih untuk mengabaikan sepenuhnya Tirta yang semakin merengek. Kepalanya terasa berat, seolah semua informasi dan ketegangan yang terjadi di kantor hari ini membanjiri pikirannya tanpa henti. Ditambah sekarang masalah hidupnya bertambah setelah menjadi istri Abian. “Buset,” Tirta tiba-tiba berseru keras dan wajahnya berubah menjadi cemas. “Aku lupa harus laporan ke Pak Aryan, ah gara-gara kamu sih.” “Ya udah, sana, nanti Pak Aryan malah ngomel,” titah Fianna mengusir. “Duluan ya,” pamit Tirta yang kini berjalan tergesa meninggalkan pantry. Fianna mengaduk kopinya perlahan, menikmati momen sejenak dalam kesunyian. Akhirnya Tirta pergi juga d

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 8

    Fianna menghela napas panjang begitu ia keluar dari ruangan Abian. Rasanya seperti beban berat yang akhirnya terangkat dari pundaknya setelah berhadapan dengan si beruang pemarah itu — ya, walaupun setelah menangis tadi, Abian sedikit melunak padanya perihal pekerjaan yang terbengkalai. Dia lantas berjalan dengan langkah cepat menuju kantin, tempat biasanya dia dan teman-temannya berkumpul untuk sekadar mengobrol atau melepaskan penat setelah bekerja. Sesampainya di kantin, Fianna melihat Tirta, Andrew, Dina, dan Zidan sudah duduk di salah satu meja di sudut ruangan. Mereka tertawa-tawa, jelas tengah menikmati waktu istirahat mereka — astaga, terlihat bahagia sekali mereka. Begitu melihat Fianna, Tirta melambai-lambaikan tangan dengan semangat. “Fi! Sini, cepat ke sini!” seru Tirta dengan senyum lebar. Fianna membalas senyuman itu, merasa lega bisa kembali ke suasana yang lebih nyaman dan akrab. Dia melangkah cepat menuju meja mereka dan segera duduk di antara Dina dan Zidan. “Gim

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 7

    Kantor geger saat sebuah postingan di media sosial milik Abian membuat semua karyawan gempar. Sebuah foto pernikahan, menampilkan Abian berdiri di samping seorang wanita misterius dengan latar belakang pelaminan yang elegan. Para karyawan langsung heboh, memperdebatkan siapa gerangan wanita yang berhasil merebut hati bos baru yang selama ini dikenal galak dan tak tersentuh. Beberapa bahkan langsung menggosipkan apakah wanita itu mungkin seorang selebriti atau putri dari keluarga kaya yang menikah diam-diam. "Aduhhh," Fianna mengaduh kesal dan mengusap wajahnya saat postingan itu tidak dibicarakan dahulu dengannya. "Dasar," gumamnya yang kini mencoba untuk tetap tenang. Fianna menatap postingan Abian itu dengan jantung yang berdegup kencang, tetapi ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan kegelisahannya. Jemarinya kini memainkan pena di atas buku catatan, tetapi pikirannya melayang jauh. "Tumben?" tanya Tirta yang baru saja datang dengan segelaa kopi di tangan. "Gak nimbrung? Bi

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 6

    Pagi itu, Fianna duduk di meja makan dengan dagu bertumpu pada kedua tangannya, menatap ke arah dapur dengan tatapan bosan. Aroma harum masakan mulai memenuhi ruangan, tapi Abian masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. . Pemandangan ini rasanya seperti deja vu bagi Fianna, pemandangan punggung Abian yang membelakanginya karena sibuk memasak. "Masih lama, Pak Abian?" Fianna berseru dengan nada mengeluh bosan, di tangannya kini sudah ada selembar kertas dan pena. "Kita kan perlu ngobrol serius nihhh, cepetan," Abian, yang tengah fokus menyiapkan sarapan, melirik sekilas ke arah Fianna. "Sabar," Fianna mendesah pelan, matanya berputar malas. "Ini ketiga kalinya, Pak Abian ngomong hal yang sama," "Kamu kalau berisik saya kasih makan sawi rebus ya," ancam Abian yang mampu membungkam sepenuhnya mulut Fianna. Hal yang paling ditakutkan Fianna adalah memakan sayuran yang dimasak Abian. Fianna menidurkan kepalanya ke atas meja dengan lesu, merasa bosan duduk saja tanpa bisa melakukan

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 5

    Kejadian begitu saja terjadi tanpa bisa Fianna cerna terlebih dahulu. Kini, Fianna hanya bisa memandang kosong langit-langit kamar Abian dengan tatapan menerawang dan merenungi nasib buruk yang baru saja ia alami. Sangat amat menyesali mengapa ia harus menerima ajakan Abian untuk berteduh jika akan begini jadinya. "Arghhh!" Fianna menjambak rambutnya lalu berguling ke kanan dan ke kiri di atas ranjang empuk berukuran besar itu membuat sprei yang mulanya rapih kini menjadi sedikit berantakan. Diraihnya ponsel yang sempat menganggur dan matanya menatap sebal ke arah potret dirinya dan Abian yang berdiri di atas pelaminan tadi siang dengan keluarga masing-masing. Jemari Fianna menggulirkan foto ke samping, dan lagi-lagi potret dirinya dan Abian yang sedang menunjukkan buku pernikahan. Fianna memperbesar foto itu dan memperhatikan raut wajah Abian yang tampak tersenyum lebar, berbeda dengan dirinya yang terlihat seperti senyuman karir. Astaga, dosa apa yang ia perbuat sampai-sampai h

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 4

    Langkah Fianna terpacu pelan memasuki bagian dalam rumah Abian. Tetesan air dari bajunya kini membasahi lantai dan membuatnya tidak bisa melangkah lebih jauh. Ia lantas kembali mundur dan mencari keset yang bisa mengeringkan kakinya.Tak berselang lama, Abian kembali dengan handuk dan sepasang pakaian. “Kamu masuk aja, ngapain di sana?” tanyanya heran saat Fianna masih berdiri di ambang pintu. “Masuk sendiri atau mau saya bawa ke sini?”“Basah, Pak,” jawab Fianna.“Masuk aja dulu. Nanti bisa saya lap.” titah Abian. Tangannya kini menyerahkan handuk. “Pakai handuk dulu. Ganti juga pakaian kamu, dari sini lurus belok kiri, ada kamar mandi.”“Iya, terima kasih, Pak,” jawab Fianna yang menerima pemberian Abian itu dan dengan langkah seribu memasuki dalam rumah Abian.Setelah selesai mengganti pakaiannya, Fiana keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan bingung menelusuri rumah Abian. Rasanya canggung dan juga tidak nyaman, terlebih sangat mengingat jikalau ini adalah rumah Abian, si Mana

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 3

    “Akhirnya...”Fianna menyimpan buku keuangan tahunan yang sudah diubah covernya itu di atas meja lengkap dengan nota pembuatan di atasnya. Ruangan Abian kini tampak lenggang karena sang penghuni ruangan sepertinya sudah pulang. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Fianna dengan segera membereskan barang-barangnya dan berjalan menuju parkiran, di mana kendaraannya terparkir. Raut wajahnya terlihat lelah, setelah seharian berkelahi dengan pekerjaan dadakan yang diberikan oleh Abian, yang membuatnya tertahan di kantor dalam beberapa jam.“Sepi banget,” keluhnya ngeri saat kondisi parkian sudah gelap dan sepi, mengingatkannya pada kejadian tempo hari saat ia melihat hantu.Tidak ingin kejadian serupa terulang, Fianna segera bersiap untuk mengemudikan motornya dan meninggalkan parkiran kantor. Suasana jalanan yang sedikit lenggang dimanfaatkan Fianna untuk bisa menenangkan dirinya dan bernafas lega, sedikitnya menikmati perjalanan pulang yang seolah meringankan beban di pundaknya.Di teng

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 2

    Fianna berjalan kembali menuju ruangan Abian, hatinya berdebar-debar dan mulai mempertanyakan apakah Abian melihatnya mengacungkan jari tengah atau tidak saat tadi ia menutup pintu. Perasaan khawatir, cemas dan takut pun kini bercampur menjadi satu dan menghantui setiap langkahnya.Saat sudah tiba di depan ruangan Abian, Fianna lantas mengetuk pintu dan masuk, "Pak Abian, ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya dengan sopan, berbeda dengan tingkahnya tadi. Abian mendongak. "Kerjakan di ruangan saya. Bawa semua peralatan kamu ke sini," kata Abian dengan suara datar. “Kursi, laptop, dan lainnya.”“Ya. Pak?” tanya Fianna memastikan pendengarannya. “Saya?”“Jika telinga kamu tidak berfungsi, jual saja. Jangan hanya jadi pajangan.”Fianna menghela napas kecil. "Baik, Pak Abian," jawabnya pelan.Fianna dengan langkah lesu kembali ke mejanya. Kini, dia mulai membereskan peralatan miliknya. Tirta dan anggota Divisi Pemasaran yang lain pun memperhatikan Fianna dengan penasaran. “Mau ke mana

  • Dipersunting Dadakan oleh Bos Galak   Bab 1

    "Fianna!"Suara seseorang menggema di ruangan itu, membuat semua mata sejenak beralih pada seseorang yang baru saja datang dengan segenggam kertas di tangannya. Seorang pria dengan kemeja biru pastel yang dipadukan dengan vest putih rapi dan celana hitam datang mendekat ke arah Fianna yang masih bergeming pada posisinya, tidak mendengar panggilan itu karena terlalu fokus pada pekerjaan.Ditepuknya pundak sang wanita pelan, membuat Fianna sedikit terlonjak dan menoleh dengan cepat. Headphone buru-buru ia lepaskan dan antensinya kini berpindah pada pria yang tengah menatapnya. "Ada apa, Pak Aryan?" tanya Fianna setelah ia menguasai diri. Aryan Aiden Mikhael, Manajer Pemasaran itu tersenyum maklum. "Dipanggil Pak Abian ke ruangannya sekarang,"Kedua alis Fianna bertaut tak mengerti. "Pak Abian?"Raut wajah Fianna berubah menjadi cemas saat Aryan mengangguk mengiyakan. Hari yang awalnya dipenuhi oleh bunga-bunga bermekaran kini seolah berubah menjadi hari yang kelam dan dipenuhi oleh aw

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status