Jika tidak salah dengar, pemuda itu seharusnya adalah Xavier yang terus memanggil Tiffany kelinci kecil.Saat ini, Xavier sedang memeriksa dokumen yang diberikan oleh Ronny. "Mungkin nama aslinya bukan ini. Tapi, coba kamu selidiki lagi.""Baik." Suara Ronny terdengar rendah dan agak menyanjung. "Apa aku boleh tanya, kenapa kamu ingin menyelidiki orang ini? Kalau kamu bisa memberiku lebih banyak informasi, aku mungkin bisa melakukan penyelidikan yang lebih spesifik.""Kamu nggak usah tahu." Xavier yang biasanya selalu tersenyum malah terlihat dingin sekarang. "Kamu cuma perlu tahu ini adalah perintah dariku."Meskipun ditolak, Ronny sama sekali tidak menyerah. "Pak, mengenai dana yang dibicarakan ayahmu kepadaku sebelumnya .... Sekarang aku terpojok. Keponakanku mulai menekanku seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Ayahmu bilang akan membantuku.""Keluargaku nggak mungkin mengurusmu seumur hidup." Xavier tersenyum tipis. "Tugas yang kuberikan nggak berat. Cuma mencari orang. Kalau kamu
Keesokan pagi, sinar matahari yang hangat menyelinap masuk melalui tirai jendela.Tiffany membuka matanya yang masih terasa berat. Sekujur tubuhnya pegal dan sakit.Dengan susah payah, Tiffany berusaha bangkit dan mengambil ponselnya untuk melihat jam. Ternyata sudah pukul 10 pagi lewat.Tiffany bangkit sambil mengumpat Sean di dalam hatinya. Semalam, Sean lagi-lagi menyiksanya sampai larut malam!Tiffany sudah menangis dan memperingatkan Sean bahwa mereka bukan sedang di rumah. Namun, Sean tidak peduli dan membuatnya menangis.Setelah bangkit, Tiffany membersihkan diri seperti biasa. Kemudian, dia perlahan-lahan keluar dari kamar."Oh, kelinci kecil sudah bangun?" Begitu keluar, Tiffany langsung mendengar suara pria yang menggodanya. Dia termangu, lalu tanpa sadar menoleh ke arah sumber suara.Terlihat Xavier sedang bersandar di sofa ruang tamu mereka. Sambil makan camilan, dia menonton drama, seolah-olah tempat ini adalah rumahnya!Di sofa seberang adalah Chaplin yang sedang mengutak
Xavier tersenyum, "Aku cuma penasaran, orang seperti apa yang bisa melindungimu dengan sangat baik. Berkat perlindungan mereka, kamu tumbuh menjadi gadis yang polos dan imut.""Kamu mau bilang aku bodoh dan ceroboh, 'kan?" balas Tiffany sambil mencebik. Meskipun begitu, dia senang mendengar pujian Xavier tentang paman dan bibinya. "Pamanku dan bibiku memang orang yang sangat baik.""Tapi, mereka cuma petani sederhana dari desa. Meskipun aku bilang nama mereka, kamu juga nggak kenal. Lebih baik jangan tanya deh!"Dengan senyuman lebar, Tiffany melambaikan tangan. "Sudah, sudah! Ingat bilang sama Kakek, aku suka sekali dengan kue yang dia kasih!"Setelah itu, Tiffany kembali duduk di sofa, seolah-olah Xavier sudah pergi. Dia bertanya kepada Chaplin, "Chaplin, kakakmu ke mana?""Kak Sean ada urusan bisnis. Dia ke ...."Xavier menggeleng ringan, lalu berbalik dan pergi. Setelah mengantarkan kotak kosong kembali ke rumah utama, dia kembali ke kamar mereka.Jayla sudah berdiri di depan pintu
Tiffany dan Chaplin menonton drama seharian di rumah Keluarga Japardi.Malam harinya, Sean akhirnya kembali. Karena dia pulang terlambat, pesta makan malam di rumah Keluarga Japardi sudah selesai.Jadi, Tiffany memutuskan untuk mencari pelayan dan melewati pintu belakang. Dia membeli ikan dengan uangnya, lalu pergi ke dapur untuk membuatkan Sean ikan asam pedas.Setelah Sean pulang, Tiffany menyajikan ikan asam pedas yang masih berasap ke kamar mereka."Sayang, pasti kamu belum makan, 'kan?" Tiffany tersenyum lebar sambil menyerahkan sendok kepadanya. "Aku sudah lama nggak masakin kamu."Sean yang seharian sibuk dengan laporan keuangan lantas tersenyum tipis. Dia mengelus kepala Tiffany dengan lembut. "Kamu memang istri yang perhatian banget."Tiffany tertawa kecil. Wajahnya agak merah. "Aku istrimu, kamu suamiku. Sudah kewajibanku masak untukmu."Sean tersenyum, lalu mengambil sendok dan mulai makan. Rasa asam pedas yang menyatu dengan ikan yang lembut langsung mengenyahkan rasa lelah
Yang bisa dilakukan Tiffany hanya bisa membuatkan Sean sepiring ikan asam pedas setelah dia sibuk seharian.Tiffany tak kuasa menghela napas. "Aku nggak berguna sekali ya ...."Menurut status dan penampilan Sean, seharusnya istrinya adalah wanita yang sangat hebat. Jika Sean tidak berpura-pura sakit dulu, Sean tidak mungkin menikahi Tiffany. Tiffany yang terlalu beruntung karena mendapatkan Sean.Beberapa saat kemudian, tangan Sean bergerak. Saat berikutnya, tangannya yang satu lagi memegang kepala Tiffany. "Kamu mikirin apa sih?"Suara Sean terdengar rendah dan agak lelah, tetapi dipenuhi kasih sayang. "Kamu cukup menemaniku. Sudah kubilang, kamu nggak perlu melakukan apa-apa. Cukup ada di sisiku. Aku sudah sangat bersyukur."Sean tersenyum tipis dan meneruskan, "Sayang, aku capek. Temenin aku tidur ya?"Tiffany menatapnya, lalu mengangguk dengan serius. "Oke!"Sean jarang sekali menggunakan suara menggoda seperti itu untuk memanggilnya sayang. Sean lebih sering memanggil namanya. Han
Tiffany merasa agak kesal. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dan menatap Cathy tanpa rasa takut. "Bu Cathy, aku nggak ngerti kenapa asal-usulku yang dari desa ini begitu mengganggumu.""Aku rasa asal-usulku nggak perlu dibahas terus. Setiap orang punya cara hidup masing-masing. Di matamu, orang desa memang kampungan. Tapi di desa kami, banyak orang yang ramah dan baik. Jarang ada yang sepertimu yang selalu mencari peluang untuk menghina orang."Selama ini, Tiffany selalu diam atau berpura-pura bodoh setiap kali Cathy mengejeknya. Namun, kali ini Tiffany melawan dengan tegas.Apalagi, hari ini adalah pesta ulang tahun Bronson, kepala Keluarga Japardi. Karena perkataan ini, orang-orang di sekitar pun menoleh dan berbisik.Cathy merasa malu dan hendak menjawab. Namun, Jayla segera menghampiri dan berbisik, "Kulihat Sean pergi ke halaman belakang. Sepertinya dia nggak akan kembali begitu cepat. Gimana kalau kita ...."Cathy tertawa sinis, lalu mendongak menatap Tiffany dengan tat
Tiffany menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan tenang, "Kalau aku nggak punya undangan, satpam di luar nggak mungkin membiarkanku masuk. Untuk apa kamu repot-repot mencari masalah denganku?"Jayla memutar bola matanya dengan kesal. "Siapa tahu? Mungkin satpam di luar terpesona padamu, makanya memberi pengecualian untukmu. Sebagai putri Keluarga Japardi, masa Cathy nggak punya hak untuk melihat undanganmu?"Suara mereka tidak pelan, jadi orang-orang di sekitar mulai bergosip."Jangan-jangan wanita ini benaran nggak punya undangan?""Memalukan sekali. Nggak punya undangan kok berani masuk?""Padahal Tuan Tua sayang sekali sama dia. Dia nggak seharusnya nggak punya etika begini ...."Semakin banyak yang berbisik dengan nada kesal, Cathy dan Jayla pun merasa semakin bangga.Tiffany menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menyusun kalimat. "Bukan aku nggak mau menunjukkan undangannya. Tapi, kenapa Bu Cathy agresif sekali? Apa kamu ingin menantang Keluarga Tanuwijaya?"Cathy mengern
Di bawah pimpinan Jayla, hampir semua orang di aula tertawa mengejek Tiffany."Tiffany, bagaimanapun juga kamu ini istri Sean. Kalau kamu benar-benar ingin masuk ke aula pesta ini, mintalah tolong pada Cathy. Cathy pasti akan memberimu undangan, demi menghargai Sean.""Kenapa harus cara yang begitu ceroboh untuk meniru? Kamu nggak malu, ya?"Semakin lama Jayla berbicara, dia merasa semakin puas dan bersemangat. Sejak awal, dia memang tidak suka melihat Tiffany!Pria tampan dengan kecerdasan tinggi dan kekayaan melimpah seperti Sean itu sulit ditemukan!Jayla dan Cathy sudah berteman bertahun-tahun. Saat Cathy mewakili Keluarga Japardi untuk membagikan undangan, dia bahkan mengatakan bahwa Sean adalah satu-satunya pria lajang paling berharga yang hadir di pesta hari ini.Oleh karena itu, mereka berdua bahkan sepakat untuk bersaing secara adil setelah Sean tiba. Namun, Sean malah membawa istrinya langsung!Tidak masalah jika mereka berdua tidak bisa mendapatkan Sean. Namun, bahkan Derek
Tiffany terpaku menatap video di ponsel Brandon, lalu menyeka ujung matanya yang basah. Wanita itu menarik napas dalam-dalam. "Bisa nggak kamu kirimkan video ini ke aku?""Tentu saja!" Brandon mengangguk dengan cepat, lalu langsung mengirimkan video itu ke e-mail Tiffany."Ngomong-ngomong, Dok Tiff, setelah melihat semua yang sudah dilakukan Kak Sean untukmu, kamu nggak merasa terharu?"Tiffany menerima file video itu dan mengangguk pelan. "Tentu saja aku terharu.""Kalau begitu, apakah kalian akan berdamai?" Brandon masih menatap Tiffany dengan ekspresi penuh harapan. "Kalau kamu merasa terharu, bukankah itu berarti hatimu sudah nggak terlalu menolaknya lagi?"Brandon menatap Tiffany dengan serius. "Kak Sean benar-benar tulus sama kamu, Dok Tiff.""Waktu makan siang tadi, dia menunjukkan video ini ke aku dan menceritakan banyak hal tentang perjalanan panjangnya mencarimu selama bertahun-tahun. Waktu itu, aku tiba-tiba menyadari betapa jauhnya perbedaan antara aku dan dia.""Aku bilang
Mendengar hal itu, Julie melirik Tiffany. "Kalau aku nggak bilang, kamu sendiri nggak kepikiran?"Tiffany menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. Sebenarnya, dalam hatinya, dia sudah memiliki keputusannya sendiri mengenai Sean. Bahkan tanpa Julie mengatakannya sekalipun, dia tetap bisa mempertimbangkannya.Namun, bagaimanapun juga, masa lalunya dengan Sean masih menjadi luka yang belum sembuh. Dia tidak bisa merelakan masalah itu begitu saja. Kata-kata Julie sebenarnya memberikan dorongan, sekaligus alasan baginya untuk tidak terlalu keras pada dirinya sendiri.Ternyata, bukan hanya dia yang berpikir seperti ini. Orang-orang di sekitarnya juga mendukungnya."Kamu ini ...." Julie mengusap kepala Tiffany dengan lembut. "Bi Nancy sudah lama meninggal. Relakanlah hal-hal yang seharusnya dilepaskan. Dia nggak pernah memilih untuk terlahir dari keluarga seperti itu, dengan ayah seperti itu.""Sama seperti dulu, waktu kamu nggak percaya bahwa pamanmu bisa membakar rumah dan membunuh orang,
"Sudah kubilang Sean bukan orang seperti itu."Di dalam kantor, Julie menuangkan secangkir teh untuk Tiffany sambil menggeleng pelan. "Brandon itu memang selalu di luar dugaan. Percaya sama dia lebih baik percaya sama anjing kampung di luar sana."Tiffany terkulai lesu di atas meja kerja. "Aku benar-benar salah paham sama Sean." Dia menutup matanya dan bayangan pria itu di depan hotel kembali terlintas dalam pikirannya. Sean tampak begitu kesepian dan begitu menyedihkan.Sean tidak melakukan apa pun yang membahayakan pasiennya. Namun, Tiffany malah menuduhnya macam-macam.Tiffany menghela napas panjang, lalu menutupi wajahnya dengan tangan. "Lalu, aku harus bagaimana?"Sean pasti menganggapnya keterlaluan, menganggapnya tidak masuk akal, dan terlalu keras kepala. Semua ini gara-gara Brandon!"Kenapa nggak minta maaf saja?"Julie duduk di hadapannya sembari menyeruput kopi dan membalik halaman majalah. "Kalau nggak, mau gimana lagi?""Dia datang jauh-jauh untuk mendekatimu. Ini baru har
Mungkin sejak lima tahun lalu, saat Sean memilih Sanny dan meninggalkannya, Tiffany sudah tidak berani lagi memercayainya ....Julie menghela napas, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Tiffany. "Tunggu saja sampai Brandon sadar, nanti kita akan tahu semuanya."Tiffany mengangguk.Dua wanita itu menunggu di luar ruang gawat darurat selama lebih dari setengah jam. Setelah setengah jam berlalu, pintu ruang gawat darurat akhirnya terbuka. Seorang perawat mendorong ranjang Brandon menuju kamar perawatan.Dokter yang menangani Brandon keluar dan menepuk bahu Tiffany. "Pasien ingin ketemu kamu."Tiffany segera berdiri dan melangkah cepat menuju kamar perawatan.Di dalam kamar, Brandon yang wajahnya masih pucat bersandar di ujung ranjang. Matanya berkaca-kaca saat menatap Tiffany. "Dokter Tiffany ...."Melihat pria dewasa menangis seperti ini, Tiffany merasa tidak tega. Dia menggigit bibirnya, lalu melangkah mendekat dan menyerahkan selembar tisu kepadanya. "Aku di sini."Brandon ter
Setelah berkata demikian, wanita itu langsung melepaskan tangan Sean dan berlari menuju kamar tempat Brandon berada. Sean tetap berdiri di tempatnya dan matanya menyipit tajam.Tak lama kemudian, ambulans rumah sakit pun tiba. Tiffany bersama staf hotel mengangkat Brandon ke atas tandu dan ikut pergi bersama ambulans.Saat hendak naik ke ambulans di luar hotel, dia melihat Sean berdiri di pintu masuk hotel dan memandangnya dengan tatapan suram. Wanita itu menggertakkan giginya dan langsung menutup pintu ambulans.Sean ... tidak pantas!Jelas-jelas hubungan mereka sudah berbeda dari lima tahun lalu. Meskipun Sean ingin mendekatinya kembali, itu tetap membutuhkan waktu. Sekarang hubungan mereka masih terasa asing, tetapi Sean sudah berani melakukan hal seperti itu terhadap orang yang mendekatinya.Selain itu, Brandon adalah seorang pasien!Tadi Brandon sudah memberi tahu Sean bahwa jantungnya bermasalah. Namun, Sean tetap saja bertarung dengan Brandon hingga membuatnya pingsan.Setelah l
"Pertama, aku nggak enak membicarakan masa lalu di antara kami di depannya secara langsung. Aku takut itu akan membangkitkan kenangan menyakitkan baginya.""Kedua, Dokter Tiffany masih belum kenyang. Nggak mungkin kita mengganggunya bahkan saat dia sedang makan, 'kan?"Brandon berpikir sejenak dan merasa itu masuk akal. Dia pun bangkit dan berucap, "Dokter Tiffany, silakan lanjut makan. Kami akan keluar sebentar untuk mengobrol."Tiffany bahkan belum sempat bereaksi. Kedua pria itu sudah bangkit dan turun dengan lift bersama.Tiffany termangu sesaat. Kemudian, dia berdiri untuk mengejar mereka. Namun, setelah mengambil dua langkah, akhirnya dia berhenti.Sudahlah. Terserah mereka mau melakukan apa. Lagi pula, dia ingin menjauh dari kedua pria ini. Jadi, kalau mereka pergi bersama, itu justru lebih baik.Dengan tenang, Tiffany melanjutkan makannya. Sesudah selesai, dia bahkan membayar tagihan di restoran.Sepuluh menit kemudian, saat turun ke lobi hotel, dia mendengar suara panik dari m
Restoran di Grand Oriental, restoran bintang lima, sunyi senyap.Demi mengundang Tiffany dan Sean makan, Brandon meminta manajer hotel untuk mengosongkan seluruh restoran. Di dalam restoran yang luas itu, hanya ada tiga orang, yaitu Brandon, Tiffany, dan Sean.Di sebuah meja persegi panjang, ketiganya duduk dalam posisi yang aneh. Tiffany duduk di satu sisi, sementara Brandon dan Sean duduk di sisi lainnya.Dari sudut pandang mereka berdua, Tiffany seperti sedang berhadapan langsung dengan masing-masing dari mereka.Tak lama setelah mereka duduk, pelayan mulai menyajikan semua hidangan. Sean duduk di kursi yang empuk, tersenyum tipis sambil menatap meja makan di depannya.Jelas sekali, Brandon benar-benar telah berusaha keras untuk Tiffany. Jika tidak, bagaimana mungkin seluruh meja dipenuhi makanan yang sesuai dengan selera Tiffany?Memikirkan hal ini, Sean mengangkat alisnya sedikit, lalu menatap Tiffany sambil bertanya kepada Brandon dengan suara datar, "Semua ini makanan favorit Ti
Brandon mengernyit, menatap Tiffany dengan curiga. "Jadi, kalian berdua di dalam itu ...."Tiffany hanya merasa kepalanya semakin pusing. Dia menarik napas dalam-dalam. "Barusan mantan suamiku sakit, aku hanya merawatnya."Brandon memiliki banyak koneksi di rumah sakit. Tiffany tidak ingin semua orang di rumah sakit mengetahui hubungan serta perkembangan antara dirinya dan Sean.Jadi, dia tersenyum tipis ke arah Brandon. "Kamu juga tahu, dokter harus memiliki hati yang penuh belas kasih.""Dia memang mantan suamiku, tapi saat dia sakit dan butuh perawatan, aku nggak mungkin tinggal diam."Brandon langsung menatap Tiffany dengan mata berbinar. "Dokter memang seperti yang aku bayangkan, benar-benar malaikat kecil yang baik hati!"Tiffany terdiam untuk sesaat. Kemudian, dia berdeham pelan. "Bukannya kamu bilang ingin aku memeriksamu? Kemarilah ...."Brandon langsung berlari kecil ke arah Tiffany. "Maaf sudah merepotkanmu."Tiffany berdeham dua kali. "Duduk dulu, aku akan memeriksamu ...."
Usai berbicara, Tiffany mengambil jasnya dan keluar dari kamar.Di luar, Brandon menatapnya dengan penuh kekaguman. "Dokter, sudah setengah bulan kita nggak bertemu, kamu tetap secantik seperti biasanya."Tiffany mengerutkan alisnya, lalu meliriknya sekilas dengan ekspresi datar. "Cari tempat duduk saja. Sebenarnya jantungmu sudah nggak ada masalah lagi. Tapi kalau kamu masih merasa khawatir, aku akan melakukan pemeriksaan sederhana.""Baik! Baik!" Brandon menatapnya dengan terkagum-kagum. "Aku akan pesan kamar sekarang ...."Tiffany langsung mengernyit. "Kita cuma berdua, jangan pesan kamar."Setelah berkata demikian, Tiffany melirik ke arah area duduk di kejauhan yang biasanya digunakan untuk menikmati pemandangan dari atas. "Kita duduk di sana saja."Brandon menggigit bibir dan bergumam, "Justru aku suka kalau cuma berdua denganmu ...."Tiffany mengambil barang-barangnya, lalu berjalan ke tempat duduk itu. Sementara itu, Brandon tampak sedikit enggan, tetapi tetapi mengikuti dari be