"Di mana peta itu?" tanya Luther."Di ruang bawah tanah Yusuf. Aku bisa membawamu ke sana," ujar Bahran."Ruang bawah tanah?" Huston memicingkan mata dan memperingatkan, "Bahran, sebaiknya kamu jangan macam-macam atau kami akan bertindak kejam!"Bangunan seperti ini biasanya dilengkapi dengan jebakan dan senjata tersembunyi. Itu sebabnya, Huston khawatir Bahran berniat jahat pada mereka."Sekarang aku sudah kalah telak. Aku nggak akan berani macam-macam," ucap Bahran dengan raut wajah getir."Bawa jalan." Luther tidak berbasa-basi. Dia mengangguk kepada kedua prajurit untuk membawa Bahran."Sebentar, aku butuh salah satu tangan Yusuf untuk membuka brankas di ruang bawah tanah," ujar Bahran."Mudah saja." Huston sontak menghunuskan pedangnya dan memotong tangan kanan Yusuf. Dia menyodorkannya kepada Bahran dan berkata, "Nah, untukmu."Bahran tertegun sesaat. Akan tetapi, dia tidak berani berbasa-basi sehingga segera memimpin jalan. Tidak berselang lama, mereka pun memasuki markas dan ti
"Bahran, kenapa diam saja? Kamu menungguku berfoto denganmu? Cepat keluarkan peta itu!" perintah Jayden yang merasa kesal. Dia hanya bisa melampiaskan amarahnya kepada Bahran."Ya, ya. Sebentar." Bahran tidak berani berlama-lama. Dia segera datang ke depan pintu, lalu mengeluarkan tangan Yusuf dan menekan area tengah dengan pelan.Bip! Pintu yang berat terbuka secara perlahan, memperlihatkan brankas besi. Ukuran brankas itu sekitar 100 meter. Di bagian tengahnya, terlihat setumpuk emas yang jauh lebih tinggi dari manusia. Selain emas, masih ada berbagai harta karun yang tak ternilai harganya."Ini gudang pribadi Yusuf. Dia menyimpan semua barang yang disukainya di sini," jelas Bahran."Hm, banyak juga." Huston mengamati, lalu berkata, "Kalau dipakai semua, kita bisa beli kota.""Ini masih belum seberapa. Kalau dibandingkan dengan gudang harta karun Paviliun Lingga, barang-barang di sini masih termasuk sedikit," sahut Bahran."Serius?" Huston terkejut. "Itu artinya, harta karun Paviliun
"Ya, Bahran memang bersalah. Dia nggak seperti seseorang yang masih punya kesempatan untuk menebus dosanya," ujar Huston sambil melirik Jayden.Jika Jayden bukan keluarga mereka, jika Walter tidak berbelaskasihan, jika kerugian yang ditimbulkannya terlalu besar, pria ini pasti sudah mati sejak awal!"Uhuk, uhuk." Jayden segera mengalihkan topik pembicaraan setelah ditatap oleh Huston. "Gerald, ketiga gudang harta karun itu tak ternilai harganya. Gimana kamu akan mengurusnya?""Tentu saja membawa semuanya ke Atlandia. Masa diberikan kepada bajingan-bajingan itu?" Huston mengerlingkan matanya."Kita nggak boleh mengambil semuanya." Luther menggeleng dan melanjutkan, "Paviliun Lingga bisa lenyap berkat bantuan beberapa kelompok. Kita harus berbagi rata dengan mereka.""Gerald, kamu nggak bercanda?" Jayden tertegun sesaat, lalu menjadi emosional. "Kamu juga sudah mendengar ucapan Bahran tadi. Dia bilang itu adalah harta yang dikumpulkan Paviliun Lingga selama puluhan tahun. Kamu mau berbag
Sesudah membagikan peta, Luther mengatur orang untuk mengurus markas Paviliun Lingga. Pertahanan tempat ini sangat luar biasa. Lokasinya juga terpencil dan strategis, bahkan terletak di antara perbatasan kedua negara.Jadi, tempat ini sangat cocok untuk dijadikan benteng militer. Kelak kalau terjadi konflik dengan berbagai negara di wilayah barat, tempat ini akan menjadi titik terpenting. Mereka bisa mengutus pasukan dari sini dan mencapai kesuksesan yang tak terduga.Meskipun tidak akan digunakan untuk sementara waktu, tidak ada salahnya membuat persiapan. Setelah menyelesaikan masalah ini, Luther pun membawa orang-orang kembali ke istana.Luther pulang dengan membawa kemenangan. Sebagai raja, Walter pun mengatur pesta di istana sekaligus mengundang banyak tamu. Semua yang berjasa dalam misi ini pasti mendapat undangan.Seketika, istana menjadi sangat ramai. Mereka sangat bersyukur karena Walter tidak mati. Ditambah lagi kabar musnahnya Paviliun Lingga, orang-orang pun menjadi makin s
Semua orang bertatapan dengan ragu. Mereka tahu kondisi kesehatan Walter kurang baik, tetapi yakin Walter masih bisa bertahan beberapa tahun. Kini semua masalah telah teratasi, tetapi Walter tiba-tiba memilih untuk menyerahkan takhtanya."Raja, apa ini nggak terlalu terburu-buru?" tanya Haruna."Ya, Raja. Kamu masih sehat dan akan berumur panjang. Kenapa membuat keputusan secepat itu?" tanya Arafu.Orang lainnya juga merasa bingung, tetapi tidak ada yang berani bersuara. Jika membujuk Walter, mereka hanya akan menyinggung raja baru. Jadi, yang bisa mereka lakukan untuk sekarang hanya mengamati situasi."Aku tahu kondisiku sendiri. Aku rasa aku nggak bisa bertahan lama lagi. Selagi kalian semua ada di sini, aku ingin mengatur semuanya terlebih dahulu supaya bisa tenang." Walter tersenyum."Raja ...." Haruna masih ingin berbicara, tetapi Walter mengangkat tangan dan menyela, "Sudahlah. Aku sudah membuat keputusan. Jangan membujukku lagi."Walter kembali menatap semua orang, lalu berucap
Ucapan Sandya ini membuat sebagian besar orang bertatapan. Orang cerdas pasti bisa menilai bahwa dukungan yang diperoleh Huston lebih banyak. Jadi, memilih Huston barulah tindakan paling bijaksana.Sebagai amangkurat Atlandia yang terkenal akan kecerdasannya, bagaimana bisa Sandya membuat pilihan yang bertolak belakang dengan orang-orang? Kenapa dia memilih Gerald? Ini sungguh tidak wajar."Aku kurang setuju." Rajib membantah, "Ilmu bela diri Pangeran Gerald memang tak tertandingi di seluruh Atlandia. Tapi, ini bukan berarti dia pantas mewarisi takhta.""Sementara itu, Pangeran Huston berbakat dan mendapat banyak dukungan. Dia telah mengasah kemampuannya di kemiliteran selama bertahun-tahun. Atlandia pasti akan berjaya kalau dipimpin olehnya."Huston adalah keponakan Kaisar sekaligus calon menantunya. Kedua belah pihak punya perjanjian pernikahan. Bagaimanapun, Rajib akan mendukung Huston.Asalkan Huston menjadi raja, maka putrinya akan menjadi ratu. Dengan demikian, status Rajib pun a
"Nggak masalah. Hari ini pesta keluarga. Siapa pun yang datang kemari adalah keluarga. Katakan saja, nggak perlu malu-malu." Walter terkekeh-kekeh."Kalau begitu, aku nggak akan sungkan-sungkan lagi." Yogi bangkit, lalu menangkupkan tangannya sambil meneruskan, "Ini cuma pendapatku. Kalau ada yang merasa tersinggung, tolong maafkan aku.""Jenderal, jangan sungkan begini. Kamu memegang peran penting di Atlandia. Penilaianmu pasti berbeda dengan kami.""Benar, Jenderal. Beri tahu kami siapa yang kamu dukung. Kami semua ingin mendengarnya."Semua orang mulai mendesak Yogi. Jelas sekali, mereka semua merasa penasaran. Kehebatan Yogi tidak perlu diragukan lagi. Dia adalah jenderal hebat Negara Drago sekaligus pewaris Keluarga Devano di masa depan. Pengaruhnya tentu besar."Oke, aku akan terus terang." Yogi berdeham dan berkata dengan serius, "Kalau mempertimbangkan seluruh aspek dan mengutamakan bakat, Gerald adalah pilihan paling tepat.""Tentunya, dia juga punya banyak kekurangan karena t
Ucapan Jayden sontak membuat orang-orang bertatapan. Sebagai jenderal kavaleri, kepribadian Jayden memang dikritik oleh publik, tetapi kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.Bagaimanapun, Jayden bisa mencapai posisinya yang sekarang dengan melewati berbagai pertumpahan darah. Jika orang seperti Jayden saja merasa Gerald lebih cocok menjadi raja, bukankah itu berarti mereka harus mempertimbangkan ulang keputusan mereka?Sebelumnya, mereka merasa tidak ada kelompok yang mendukung Gerald sehingga Huston lebih cocok menjadi raja. Namun, dilihat dari situasi sekarang, sepertinya pemikiran mereka salah.Pertama ada Yogi sang jenderal hebat yang mendukung Gerald, sekarang muncul lagi Jayden sang jenderal kavaleri. Posisi kedua orang ini sudah cukup untuk membuat mereka berubah pikiran."Jayden, coba jelaskan kenapa kamu memilih Gerald?" tanya Walter sambil tersenyum."Alasanku memilih Gerald hanpir sama dengan Jenderal Yogi. Aku lebih mementingkan bakat dan kemampuan seseorang. Aku yakin ka
Jika Loland berada dalam kondisi puncaknya, mungkin Wirya masih akan merasa sedikit waspada.Namun, saat ini lawannya terkena Racun Uzur dan basis kultivasinya telah merosot, bahkan masih terus melemah. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan untuk menangkapnya dalam satu serangan."Minggir semua!" Melihat para prajurit mengepungnya, Loland membentak, lalu mengangkat tangannya dan menghantam tanah dengan keras.Duar! Suara ledakan bergema, menyebabkan tanah bergetar hebat. Dalam radius puluhan meter dengan Loland sebagai pusatnya, tanah langsung retak, menciptakan pola seperti jaring laba-laba.Bersamaan dengan itu, gelombang kejut yang dahsyat menyapu sekitarnya. Di mana pun gelombang kejut itu lewat, debu beterbangan, dinding runtuh, dan seluruh aula konferensi hancur berantakan.Para prajurit elite dari Tim Penegak Hukum yang maju langsung terpental seperti layang-layang putus, lalu jatuh bergulingan dengan kondisi yang mengenaskan.Bahkan Wirya, yang merupakan kapten, t
Huston berbicara dengan sangat tegas dan berwibawa sampai Loland pun tertegun sejenak oleh auranya yang begitu kuat dan mengernyitkan alis, tetapi dia segera menenangkan dirinya kembali.Ekspresi Loland tetap tenang saat melirik dokumen-dokumen bukti yang berserakan di lantai, melainkan berkata dengan sangat tenang, "Pangeran Huston, orang-orang yang mati ini hanya orang biasa saja, apa perlu sampai begitu heboh? Aku nggak percaya tanganmu nggak pernah ternoda darah seseorang."Loland merasa dia sudah berjuang mati-matian untuk posisinya saat ini juga demi kehidupan yang lebih baik. Hanya saja, setiap orang memiliki keinginan yang berbeda. Ada yang demi reputasi, mengejar keuntungan, harta kekayaan, tergila-gila pada wanita, dan ada juga yang terobsesi dengan kekayaan serta menikmati penghormatan dari orang lain.Untuk mencapai semua itu, terkadang seseorang harus melakukan hal-hal yang tidak terhormat. Ini sudah menjadi peraturan tak tertulis di kalangan pejabat dan semua pejabat juga
Weker yang wajahnya pucat pun diseret pergi. Sejak kejahatannya terungkap, dia sudah dipastikan akan musnah dan bahkan seluruh keluarganya juga akan dihukum. Semua orang yang bersalah akan diadili dan yang tidak bersalah juga akan diminta pertanggungjawabannya jika pernah menikmati hasil kejahatannya. Bisa dibilang, seluruh keluarganya akan mengalami pembersihan besar-besaran."Wirya, sudah saatnya mengundang tamu utama kita," perintah Huston lagi setelah bekas darah di lantai sudah dibersihkan. Setelah membereskan Weker, target interogasi selanjutnya adalah Loland. Dibandingkan Weker, Loland jauh lebih sulit untuk dihadapi. Bagaimanapun juga, Loland memegang kekuasaan militer yang besar, bisa menjadi masalah besar jika Loland melawan karena merasa terdesak."Aku mengerti."Wirya merespons sambil memberi hormat, lalu segera memerintah bawahannya, "Panggil beberapa orang lagi dan ikuti aku."Loland meraih kedudukannya sebagai seorang jenderal besar dengan prestasinya yang mampu menghada
"Berengsek! Setelah melihat semua bukti kejahatan ini, apa lagi yang ingin kamu katakan?" teriak Huston dengan nada muram.Weker yang sudah ketakutan sampai berkeringat dingin pun berkata dengan terbata-bata, "Pangeran Huston, tolong dengar penjelasanku .... Semua ini palsu, pasti ada orang yang ingin menjebakku. Aku sudah taat hukum selama bertahun-tahun ini, mana mungkin aku melakukan hal kotor seperti ini.""Buktinya sudah jelas, kamu masih berani membantah? Aku rasa kamu nggak akan menyerah kalau nggak terdesak."Huston melambaikan tangannya dan memerintah, "Pengawal, seret dia ke penjara bawah tanah dan siksa dia. Aku ingin lihat seberapa keras mulutnya.""Siap!" jawab sekelompok Tim Penegak Hukum yang langsung masuk dan mengepung Weker.Melihat keadaan itu, Weker akhirnya menjadi panik. Dia langsung berlutut dan mulai terus memohon ampun, "Pangeran Huston, aku mengaku salah. Aku hanya khilaf sesaat. Mohon Pangeran Huston mengingat jasaku yang sudah mengabdi pada Atlandia selama b
Malam pun perlahan-lahan tiba. Saat ini, Huston sedang membaca buku sambil menunggu hasilnya dengan diam di ruang konferensi. Setelah berhasil menghasut Trisno untuk memberontak, mencari bukti kejahatan dari Loland dan Weker hanya masalah waktu.Selama ini, kediaman Raja Atlandia selalu berpura-pura tidak tahu tentang transaksi keuangan yang dilakukan Loland dan Weker. Bagaimanapun juga, seorang pejabat mengambil sedikit keuntungan bukan hal besar.Namun, kali ini berbeda. Loland dan Weker sudah diam-diam merencanakan pembunuhan terhadap Gema, yang berarti mereka sudah meremehkan dan menantang wibawa kediaman Raja Atlandia. Ini adalah pelanggaran yang serius. Jika mereka tidak dihukum dengan tegas, entah akan ada berapa banyak orang lagi yang akan mengikuti jejak mereka kelak."Pangeran Huston." Pada saat itu, Wirya yang merupakan kapten Tim Penegak Hukum bergegas masuk ke dalam ruang konferensi. Napasnya yang terengah-engah menunjukkan dia sudah berlari sepanjang perjalanan ke sini ka
Saat ini, Trisno benar-benar panik. Sebelumnya, dia hanya khawatir akan terseret dalam masalah ini. Namun, sekarang tuduhan besar langsung dijatuhkan kepadanya, membuatnya sungguh kewalahan."Hmph! Bukti sudah sangat jelas, kamu masih berani menyangkal? Apa aku harus menggunakan penyiksaan agar kamu mau bicara?" bentak Huston dengan tegas."Pangeran! Aku benar-benar nggak bersalah!" Trisno ketakutan hingga hampir menangis. Dia mengangkat tangan dan bersumpah, "Aku bersumpah, kalau aku benar-benar terlibat dalam pembunuhan Gema, aku akan disambar petir dan nggak akan pernah terlahir kembali!""Kalau sumpah itu berguna, lalu buat apa ada tim penegak hukum?" Ekspresi Huston tetap dingin. "Karena kamu adalah pejabat senior di Atlandia, aku memberimu kesempatan untuk mengaku. Kalau kamu mengaku, hukumannya akan lebih ringan. Kalau kamu tetap bersikeras, jangan salahkan aku kalau kamu berakhir di Penjara Iblis!"Begitu mendengar kata Penjara Iblis, tubuh Trisno langsung gemetaran hebat. Deng
Sepuluh menit kemudian, Loland kembali dipersilakan keluar dari ruangan nomor 1 gedung A. Namun, dibandingkan sebelumnya, sikap Wirya berubah 180 derajat, menjadi sangat ramah."Jenderal, Pangeran sudah menyelidiki semuanya. Kali ini, masalah ini sama sekali nggak ada hubungannya denganmu. Kami yang telah keliru. Mohon maaf atas kelancangan kami," kata Wirya sambil tersenyum dengan sikap sangat rendah hati."Oh?" Melihat ekspresi penuh sanjungan di wajah Wirya, Loland mengangkat alisnya dan tampak sedikit terkejut.Baru beberapa saat yang lalu, suasana di antara mereka masih begitu tegang. Sekarang, Wirya tiba-tiba menjadi begitu ramah?"Sudah benar-benar diselidiki?" tanya Loland dengan nada menyelidik."Tentu! Berdasarkan penyelidikan kami, hilangnya Gema disebabkan oleh pembalasan dendam dari musuhnya di Midyar," ujar Wirya dengan wajah serius."Selama ini Gema bertindak semena-mena di luar dan menimbulkan banyak masalah. Dia pantas mendapatkan semua ini. Alasan Pangeran menyelidiki
"Jenderal Loland, silakan!" Wirya meletakkan satu tangan di gagang pedangnya, sementara tangan lainnya membuat gerakan mengantar tamu pergi."Hmph!" Loland melirik dingin gerakan kecil Wirya itu, lalu berbalik meninggalkan ruangan. Huston memiliki kecurigaan, tetapi selama tidak ada bukti, Huston tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.Wirya mengantar Loland keluar, lalu kembali ke ruangan nomor 1 di gedung A. Setelah menutup pintu, dia berjalan ke ruangan nomor 2 di gedung A dan mempersilakan Weker keluar dan membawanya ke ruang konferensi."Salam hormat kepada Pangeran Huston!" Begitu memasuki ruangan, Weker segera membungkuk dengan sopan."Silakan duduk." Huston tetap tanpa ekspresi. Setelah Weker duduk, dia memberi isyarat kepada Wirya untuk menuangkan secangkir teh."Apa kamu tahu alasan aku memanggilmu hari ini?" tanya Huston dengan nada datar. Sama seperti sebelumnya, kalimat pembuka ini penuh dengan makna pengujian."Apa ini tentang hilangnya Gema?" Weker bertanya balik."Oh? S
Efisiensi Tim Penegak Hukum sangat tinggi. Hanya dalam waktu satu jam saja, ketiga orang itu sudah dibawa ke kediaman Raja Atlandia.Saat memasuki kediaman itu, Wirya sengaja membiarkan ketiga orang itu bertatap muka sebentar sesuai perintah Huston. Namun, dia tidak memberi mereka kesempatan untuk berbicara dan langsung dipisahkan ke dalam tiga ruangan berbeda untuk diawasi secara ketat.Berhubung status ketiganya tinggi, Tim Penegak Hukum tidak menggunakan kekerasan. Sebaliknya, mereka malah dijamu dengan teh dan anggur terbaik. Satu-satunya syaratnya adalah mereka tidak boleh meninggalkan ruangan dan hanya bisa menunggu panggilan dari Huston. Loland ditempatkan di ruangan nomor 1 di gedung A, Weker di ruangan nomor 2, dan Trisno di ruangan nomor 3.Ketiga kamar itu berdekatan, hanya dipisahkan dengan satu dinding. Mereka bisa langsung melihat satu sama lain jika keluar dari kamar itu, tetapi mereka tidak mengetahui hal ini. Huston sengaja mengatur hal ini karena dia tahu dia harus me