"Maafkan Livia ...."
Air matanya mengalir tak terkendali, ia kembali bangkit dan memeluk tubuh kaku ayahnya. Semua pengorbanannya menjadi sia-sia. Kehormatan yang ia jual, pada akhirnya tak mampu menyelamatkan satu-satunya orang yang benar-benar menyayanginya. Livia terus menangis, mengabaikan perawat yang mencoba menenangkannya. Dunianya telah benar-benar hancur. Ia kini sebatang kara, tanpa orangtua, tanpa tunangan, tanpa harga diri yang tersisa. *** Di bawah langit mendung, sekelompok kecil pelayat berkumpul mengelilingi sebuah makam baru. Livia berdiri terpaku, matanya kosong menatap nisan yang bertuliskan nama ayahnya. Air matanya sudah mengering, tapi hatinya masih terasa seperti tercabik-cabik. "Livia ...." Sebuah pelukan hangat membungkus tubuh mungilnya dari samping. Elena, sahabatnya sejak SMA yang sudah satu Minggu ditugaskan di Surabaya, langsung terbang ke Jakarta begitu mendengar kabar duka ini. "El ...," Suara Livia pecah. Air mata yang ia kira sudah habis kembali mengalir deras. "Aku di sini ...," Elena mengeratkan pelukannya. "Maaf, aku baru bisa datang." Satu persatu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Hujan rintik mulai turun, seolah langit pun ikut berduka. Elena membuka payung, melindungi mereka berdua. "Ayo, pulang," bisik Elena lembut. "Kamu butuh istirahat." Livia menggeleng lemah. "Aku tidak mau meninggalkan Ayah sendirian." "Liv ...." Elena mengusap air mata di pipi sahabatnya. "Ayahmu sudah tenang di sana. Dia tidak akan senang melihatmu seperti ini." Dengan lembut, Elena menuntun Livia meninggalkan area pemakaman. Sepanjang perjalanan pulang, Livia hanya diam, tatapannya kosong ke depan. Di kontrakan Livia yang sempit, Elena membuatkan teh hangat untuk sahabatnya itu. Livia duduk meringkuk di sudut tempat tidur, masih mengenakan gaun hitam berkabungnya. "Minum dulu," Elena menyodorkan cangkir teh. "Kamu belum makan sejak tadi pagi, kan?" Livia menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. "El ... aku ... aku sudah melakukan hal yang sangat buruk." Elena duduk di sebelah Livia, menggenggam tangannya dengan erat. "Ceritakan padaku." Air mata Livia kembali menetes. "Aku ... aku menjual diriku untuk mendapatkan uang operasi Ayah." Elena terkesiap, tapi ia tetap menggenggam tangan Livia. "Liv ...?" "Saat itu, aku tidak punya pilihan lain," Livia terisak. "Mama Rita bilang, hanya itu satu-satunya cara. Tapi dia menipuku. Dia membawa kabur uangnya bersama Sandra." "Sandra? Anak Mama Rita?" Livia mengangguk lemah. "Dia ... dia juga yang merebut Evan dariku, dan sekarang ... mereka kabur dengan membawa uang itu." Elena memeluk Livia erat. "Ya Tuhan, Liv ... tega sekali mereka. Kenapa kamu tidak menghubungiku?" "Aku malu." Livia membenamkan wajahnya di bahu Elena. "Aku kotor ... aku hina ...." "Sshhh ...." Elena mengusap punggung Livia yang bergetar. "Kamu tidak kotor. Kamu hanya anak yang berusaha menyelamatkan nyawa ayahnya." "Tapi aku gagal," Livia terisak semakin keras. "Ayah tetap pergi, dan pengorbananku sia-sia." "Dengar," Elena menatap mata Livia yang sembab. "Kamu korban di sini. Rita dan Sandra yang harus bertanggung jawab. Mereka harus dilaporkan ke polisi." Livia menggeleng lemah. "Percuma. Mereka sudah menghilang. Aku bahkan tidak tahu mereka pergi kemana." Elena menghela napas panjang. "Kalau begitu, mulai sekarang kamu tinggal denganku saja. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri." "Tapi pekerjaanmu di Surabaya ...?" "Tugasku di Surabaya sudah selesai, dan mulai besok kembali ke kantor cabang Jakarta." Elena tersenyum lembut. "Kita cari apartemen yang lebih besar. Kamu tidak perlu tinggal di tempat yang penuh kenangan buruk ini." Air mata Livia kembali menetes, kali ini karena terharu. "El ... aku tidak pantas mendapatkan kebaikanmu." "Hei," Elena menghapus air mata di pipi Livia. "Kita sahabat, ingat? Dalam susah maupun senang. Aku tidak akan meninggalkanmu." **** Sementara itu, di kamar hotel .... Gavin terbangun dengan kepala berdenyut. Efek alkohol semalam masih terasa. Ia mengerjapkan mata, membiasakan diri dengan cahaya matahari yang menembus tirai. Matanya tertumbuk pada noda merah di sprei putih. Bukti keperawanan yang ia renggut semalam. Mendadak, bayangan wajah cantik yang basah air mata itu memenuhi benaknya. "Siapa Nama wanita itu?" Gavin berusaha mengingatnya. Namun, efek alkohol membuatnya lupa. Gavin bangkit dan berjalan ke jendela. Jakarta tampak sibuk di bawah sana. Ia merogoh saku jasnya yang tersampir di sofa lalu mengeluarkan ponsel. [Sayang ... pulanglah, aku mohon.] Pria yang hanya mengenakan celana hitam panjangnya itu kemudian melempar ponsel ke atas tempat tidur setelah membaca pesan dari Bella. "Istri sialan!" Gavin keluar dari kamar, menatap pantulan dirinya di cermin lift hotel. Rambutnya berantakan, kemeja kusut dengan dasi yang tergantung asal. Mata merahnya memperlihatkan efek alkohol dan kurang tidur. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan kesadaran sebelum melangkah ke lobi. Petugas resepsionis meliriknya dengan tatapan penuh selidik saat check out, tapi Gavin tak peduli. Pikirannya campur aduk antara amarah pada Bella, rasa bersalah pada dirinya sendiri, dan bayangan wajah sendu gadis semalam yang tidur dengannya. Mobilnya melaju pelan di jalanan Jakarta yang mulai padat. Sesekali ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Ponselnya terus bergetar, dipenuhi oleh pesan dan panggilan dari Bella yang ia abaikan. Saat mobilnya memasuki halaman rumah, Gavin melihat Bella sudah menunggunya di teras. Wanita itu mengenakan dress biru muda di atas lutut dengan riasan make up flawless. "Sayang ...." Bella bergegas menghampiri. "Kamu kemana saja? Aku khawatir." "Khawatir?" Gavin tertawa getir. "Sayang, dengarkan aku ...." Bella mencoba meraih tangan Gavin, tapi pria itu langsung menepisnya. "Jangan sentuh aku. Aku tidak sudi disentuh oleh tangan kotor." "Sayang ... aku menyesal. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Kita bisa mulai dari awal." "Mulai dari awal?" Gavin menghentikan langkah dan menatapnya tajam. "Setelah kau tidur dengan sopir kita? Di ranjang kita?" "Itu kesalahan! Aku frustasi karena program hamil kita tidak berhasil-berhasil." Air mata buaya Bella mengalir. "Aku juga kesepian. Kamu selalu sibuk." "Dan kau pikir aku tidak frustasi?" Suara Gavin meninggi. "Aku sibuk bekerja keras agar bisa memenuhi semua keinginanmu!" "Aku tahu ... maafkan aku, Sayang" Bella terisak. "Tapi kumohon jangan cerai. Mama dan Papa akan kecewa." "Kau hanya memikirkan orang tua kita? Bagaimana dengan kepercayaanku yang sudah kau hancurkan?" Perdebatan mereka terhenti oleh suara mobil yang memasuki halaman. Mercy hitam mengkilap berhenti di depan teras. Pak Hendro dan Bu Lina, orangtua Gavin, keluar dengan anggun. "Mama! Papa!" Bella langsung menghapus air matanya, berlari memeluk mertuanya dengan senyum cerah yang kontras dengan suasana tegang sebelumnya. "Bella sayang." Bu Lina mengelus rambut menantunya dengan sayang. "Bagaimana program kehamilanmu? Mama baru dapat info dokter spesialis bagus di Singapura." "Iya, Ma, minggu depan kami ada jadwal konsultasi lagi." Bella melirik Gavin yang masih berdiri kaku. "Gavin, kenapa penampilanmu berantakan begini?" Pak Hendro mengerutkan kening. "Dan kenapa matamu merah?" "Maaf, Pa, saya kurang tidur dan kurang sehat." Gavin mencoba tersenyum. "Saya permisi ganti baju dulu." "Ayo masuk, Ma, Pa." Bella menggandeng kedua mertuanya. "Saya sudah siapkan teh melati kesukaan Mama." Di ruang keluarga, Bella duduk mengobrol akrab dengan mertuanya. Ia memang pandai mengambil hati pasangan Hendro dan Lina sejak sebelum pernikahan. "Gavin terlalu sibuk dengan perusahaan." Bu Lina menghela nafas. "Mama khawatir ini mempengaruhi program kehamilan kalian." "Iya, Ma. Tapi saya mengerti, kok." Bella tersenyum manis. "Gavin bekerja keras untuk aku." Gavin yang baru saja turun setelah mandi, mendengar percakapan itu dari tangga. Dadanya sesak menahan amarah melihat kemunafikan Bella. Semalam, wanita itu menghina dan mengkhianatinya, sekarang berpura-pura menjadi istri pengertian di depan orangtuanya. "Duduklah, Gavin." Pak Hendro menepuk sofa di sebelahnya. "Luangkan sedikit saja waktumu untuk fokus pada program kehamilan. Sebelum Papa mati, Papa ingin menimang cucu." Belum sempat Gavin menjawab, telepon rumah berbunyi nyaring. Seorang pelayan menjawab panggilan. "Halo ... Dengan kediaman Tuan Gavin, ada yang bisa dibantu?" "Saya Dokter Douglas. Apakah Tuan Gavin ada di rumah?" Pelayan yang bernama Nita itu menoleh. "Maaf, Tuan Gavin. Dari Dokter Douglas." Gavin meraih gagang telepon. "Ya, Dok." "Maaf, Tuan Gavin. Saya ingin memberitahukan bahwa hasil tes kesuburan Anda tertukar. Bisa segera datang?" "Maksud Anda?!" Gavin tersentak."Ada apa, Gavin?" Pak Hendro menatap putranya dengan seksama. "Tidak apa-apa, Pa. Dokter Douglas mengatakan ingin bertemu." Gavin memaksakan senyum. "Semoga kabar baik mengenai program kehamilan kalian, ya." Sudah satu tahun lebih Pak Hendro menderita penyakit jantung. Ia sangat berharap di sisa hidupnya yang mungkin tidak akan lama lagi, dapat bermain dengan cucu kesayangannya. "Ayo, makan!" Di ruang makan, Bella sudah menata hidangan bersama Bu Lina. Aroma sup asparagus, menu favorit mertuanya, menguar menggoda. Gavin duduk dengan enggan di sebelah Bella yang tersenyum manis. "Ini sup spesial buatan Bella, lho, Vin," Bu Lina mengedipkan mata. "Kata Mama, makanan bergizi bagus untuk program kehamilanmu." Bella tersipu, sementara Gavin hanya menatap kosong ke mangkuk supnya. "Ngomong-ngomong soal program kehamilan," Bu Lina menyesap tehnya, "Mama dapat rekomendasi klinik fertilitas bagus di Singapura. Dokter Chang sangat berpengalaman dalam program bayi tabung." "Iya, Ma, keb
Di kediaman Gavin, langit Jakarta mulai memerah. Sinar jingga matahari senja menerobos masuk melalui jendela besar ruang keluarga. Pak Hendro dan Bu Lina berpamitan pulang pada Bella. "Bella sayang," Bu Lina menggenggam kedua tangan menantunya, matanya menyiratkan harapan yang dalam. "Jangan menyerah, ya. Teruslah bujuk Gavin untuk meluangkan waktu ke Singapura. Dokter Chang itu sangat terkenal, bahkan ada daftar tunggunya, loh.""Iya, Ma," Bella mengangguk pelan, suaranya lembut penuh kesungguhan. "Aku juga sudah sangat ingin memiliki anak dari Gavin. Aku akan mencoba bicara lagi dengannya nanti malam."Pak Hendro menepuk pundak menantunya, senyum tipis terukir di wajahnya yang mulai keriput. "Kami percaya padamu, Bella. Kamu menantu terbaik yang bisa kami harapkan.""Papa jangan terlalu banyak pikiran," Bella meraih tangan mertuanya, meremasnya dengan lembut. "Ingat kata dokter, jantung Papa butuh ketenangan. Pokoknya, aku janji akan mengusahakan program bayi tabung itu secepatnya.
Pukul tujuh malam, sebuah Toyota Corolla keluaran tahun 2012 berwarna silver berhenti di depan kontrakan sempit Livia. Catnya masih mengkilap meski di beberapa bagian sudah terlihat goresan dan penyok ringan. Elena keluar dari mobil, mengenakan kemeja kerja yang sedikit kusut dan rok pensil hitam—pakaian kantor yang belum sempat diganti. Wajahnya yang lelah seketika berubah cerah saat melihat Livia berdiri di ambang pintu dengan satu koper besar dan tas ransel."Sudah siap?" Elena berseru, melambai penuh semangat.Livia mengangguk, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis. Matanya yang sembab menandakan ia baru saja menangis."Ini semua barangmu? Yakin tidak ada yang tertinggal?" Elena mengambil alih koper dari tangan Livia, merasakan betapa ringannya barang bawaan sahabatnya itu."Tidak banyak yang bisa kubawa," jawab Livia pelan sambil mengunci pintu kontrakan untuk yang terakhir kalinya. Ia menatap kunci di tangannya, ragu-ragu sejenak sebelum menyerahkannya pada pemilik kontra
Mobil sedan silver milik Elena memasuki area basement apartemen yang cukup luas, tetapi sudah hampir penuh. Elena mengedarkan pandangan, mencari-cari celah untuk parkir."Sepertinya kita agak telat," ujar Elena sambil perlahan memutar setir. "Biasanya jam segini masih banyak yang kosong."Livia hanya diam memperhatikan, jemarinya meremas tali ransel yang ia pangku. Basement ini terasa begitu berbeda dengan lingkungan kontrakannya yang sempit dan pengap. Di sini, meski remang, udara terasa lebih sejuk dengan sistem ventilasi yang baik."Nah, itu dia!" Elena berseru riang saat menemukan spot parkir di sudut basement. Dengan cekatan, ia mengarahkan mobilnya ke tempat kosong tersebut. "Home sweet home, Liv."Setelah mematikan mesin, Elena membuka bagasi dan mengeluarkan koper Livia. Livia sendiri menggendong ranselnya, berdiri canggung di samping mobil."Jangan khawatir," Elena menepuk pundak sahabatnya penuh pengertian. "Apartemennya tidak mewah, tapi nyaman, kok."Mereka berjalan beriri
Livia berusaha menghentikan langkah Evan. Namun, lima menit lagi absensi akan di tutup. "Tidak jadi. Nanti saja, aku sudah kesiangan."Dengan langkah cepat, nyaris berlari, Livia menuju gedung perkantoran yang menjulang tinggi."Pagi, Pak Satpam!" Livia tersenyum sekilas pada petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk."Pagi, Mbak Livia," satpam itu mengangguk ramah. Pagi itu, Livia langsung bekerja seperti biasanya. ****Jam makan siang akhirnya tiba. Setelah membersihkan seluruh ruangan di lantai 15—termasuk toilet, pantry, dan ruang rapat—Livia merasa perutnya mulai keroncongan. Ia menyelesaikan tugas terakhirnya, menyemprot pewangi ruangan di sudut-sudut strategis, sebelum mendorong trolinya kembali ke ruang penyimpanan di lantai tersebut."Mau makan siang, Livia?" tanya Mba Yuni, rekan sesama petugas kebersihan yang bertugas di lantai yang sama.Livia mengangguk. "Iya, Mba. Rasanya lapar sekali hari ini.""Mau bareng? Saya bawa bekal dari rumah."Sejenak Livia tergoda, tetapi
Livia berdiri mematung di taman, memandangi sosok Evan yang menjauh. Hatinya terasa kosong. Bahkan Evan, orang yang dulu begitu dekat dengannya, kini seolah asing.Dengan langkah gontai, Livia kembali menuju gedung kantornya. Jam istirahat hampir berakhir, sementara ia belum sempat makan apapun. Perutnya berbunyi memprotes, mengingatkan bahwa sejak sarapan pagi bersama Elena, ia belum memasukkan makanan ke dalam tubuhnya lagi.Di lobi, Livia menengok ke jam dinding—tinggal lima belas menit sebelum masuk kerja kembali. Ia memutuskan untuk mampir ke kantin karyawan di lantai dasar. Meski begitu, ia tahu tak akan sempat makan di sana."Mba Ida," Livia mendekati salah satu penjual di kantin, "nasi bungkus paket ayam satu, ya. Dibungkus.""Siap, Mbak Livia," Mba Ida dengan sigap menyiapkan pesanannya. "Tumben makan siang telat?"Livia tersenyum lemah. "Ada urusan penting tadi."Setelah membayar, Livia bergegas kembali ke lantai 15, membawa bungkusan nasi yang masih hangat. Ia melihat sekel
Sandra adalah yang pertama berbalik. Matanya melebar kaget melihat Livia. "Kamu? Bagaimana bisa—" "Kamu berbohong padaku, Evan!" Livia mengalihkan tatapannya pada pria itu, yang kini berdiri dengan wajah pucat. "Kamu bilang tidak tahu di mana Sandra!" "Li-Livia, aku bisa jelaskan," Evan tergagap, melangkah mundur. "Tidak perlu!" Livia mengalihkan tatapannya pada Sandra. "Aku datang untuk menuntut hakku, Sandra. Uang yang kamu dan ibumu ambil dariku!" Sandra menyilangkan tangannya defensif. "Uang apa? Aku tidak mengerti maksudmu." "Jangan pura-pura!" suara Livia meninggi, menarik perhatian beberapa pengunjung taman. "Uang yang ditransfer Madam Rose melalui rekeningmu! Uang yang seharusnya untuk operasi Ayah!" Wajah Sandra mengeras. "Oh, uang hasil 'pekerjaan khusus'mu itu?" ia melirik Evan dengan tatapan penuh arti. "Ya, uang yang kudapatkan dengan mengorbankan diriku!" Livia merasakan air mata mulai menggenang. "Uang yang seharusnya bisa menyelamatkan nyawa Ayahku, tapi kamu dan
Satu bulan berlalu sejak peristiwa di taman itu. Livia mencoba menata kembali hidupnya perlahan-perlahan. Ia tetap bekerja sebagai cleaning service, meski harus berhadapan dengan Bu Marta yang semakin keras padanya sejak insiden di ruang penyimpanan. Beruntung, Livia hanya mendapat surat peringatan, bukan pemecatan. Pagi itu, seperti biasa, Livia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Namun, begitu ia mencium aroma telur yang sedang digoreng, perutnya terasa mual. Dengan tergesa-gesa, ia berlari ke kamar mandi."Hoek! Hoek!" Livia muntah-muntah, padahal perutnya kosong. Hanya cairan bening yang keluar.Elena yang mendengar suara itu bergegas menuju kamar mandi. "Liv? Kamu kenapa?" ia mengetuk pintu dengan cemas.Livia keluar dengan wajah pucat. "Entahlah, mungkin masuk angin. Tiba-tiba saja perutku mual mencium bau telur."Elena menatapnya lekat-lekat, merasa ada yang aneh. "Sudah berapa lama kamu seperti ini?""Baru pagi ini," Livia menjawab sambil berjalan gontai menuju dapur.
Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum
Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka
Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.
Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a
Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang
Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li
Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper
Setelah berbincang kesana kemari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Livia memutuskan untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali Livia melirik ke arah Gavin yang fokus menyetir, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.Setelah 40 menit, mobil Gavin tiba di area basement. Gavin menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sepi. Lampu basement yang temaram menyinari wajah keduanya. Sebelum Livia turun, Gavin meraih tangannya dengan lembut."Livia," suaranya dalam dan penuh keyakinan, "kumohon pertimbangkan lagi untuk menempati rumah itu. Aku benar-benar ingin kamu dan bayi kita tinggal di tempat yang aman dan layak."Livia menghela napas panjang, mata hazelnya bertemu dengan mata cokelat Gavin. Jemarinya memainkan ujung dress putihnya dengan gugup."Terima kasih banyak, Gavin. Sungguh, ini terlalu berlebihan," ucapnya pelan. "Tapi kalau hanya untuk menempati ... kurasa aku
Begitu pintu utama terbuka, Livia disambut oleh interior yang elegan—perpaduan gaya klasik dan modern, dengan cat dinding cream yang hangat dan lantai marmer putih yang mengkilap."Ini rumah siapa?" tanya Livia sekali lagi, matanya berkeliling takjub melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di dinding.Gavin hanya tersenyum misterius, tidak menjawab pertanyaan Livia. Ia menuntun Livia melalui lorong pendek menuju ruang makan. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka."Selamat malam, Tuan Lysandros," sapa salah satu pelayan. "Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.""Terima kasih, Amina," jawab Gavin singkat.Ruang makan itu tidak terlalu besar namun sangat mengesankan. Meja makan untuk dua orang terletak di tengah, dihiasi dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga lily putih—menciptakan suasana romantis yang sempurna. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman."Silakan duduk," Pe