Share

Bab 10

Author: Merisa storia
last update Last Updated: 2025-03-02 21:46:46

Livia berdiri mematung di taman, memandangi sosok Evan yang menjauh. Hatinya terasa kosong. Bahkan Evan, orang yang dulu begitu dekat dengannya, kini seolah asing.

Dengan langkah gontai, Livia kembali menuju gedung kantornya. Jam istirahat hampir berakhir, sementara ia belum sempat makan apapun. Perutnya berbunyi memprotes, mengingatkan bahwa sejak sarapan pagi bersama Elena, ia belum memasukkan makanan ke dalam tubuhnya lagi.

Di lobi, Livia menengok ke jam dinding—tinggal lima belas menit sebelum masuk kerja kembali. Ia memutuskan untuk mampir ke kantin karyawan di lantai dasar. Meski begitu, ia tahu tak akan sempat makan di sana.

"Mba Ida," Livia mendekati salah satu penjual di kantin, "nasi bungkus paket ayam satu, ya. Dibungkus."

"Siap, Mbak Livia," Mba Ida dengan sigap menyiapkan pesanannya. "Tumben makan siang telat?"

Livia tersenyum lemah. "Ada urusan penting tadi."

Setelah membayar, Livia bergegas kembali ke lantai 15, membawa bungkusan nasi yang masih hangat. Ia melihat sekel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Neng Heryani
laporin aja ke polisi biar tau rasa
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 11

    Sandra adalah yang pertama berbalik. Matanya melebar kaget melihat Livia. "Kamu? Bagaimana bisa—" "Kamu berbohong padaku, Evan!" Livia mengalihkan tatapannya pada pria itu, yang kini berdiri dengan wajah pucat. "Kamu bilang tidak tahu di mana Sandra!" "Li-Livia, aku bisa jelaskan," Evan tergagap, melangkah mundur. "Tidak perlu!" Livia mengalihkan tatapannya pada Sandra. "Aku datang untuk menuntut hakku, Sandra. Uang yang kamu dan ibumu ambil dariku!" Sandra menyilangkan tangannya defensif. "Uang apa? Aku tidak mengerti maksudmu." "Jangan pura-pura!" suara Livia meninggi, menarik perhatian beberapa pengunjung taman. "Uang yang ditransfer Madam Rose melalui rekeningmu! Uang yang seharusnya untuk operasi Ayah!" Wajah Sandra mengeras. "Oh, uang hasil 'pekerjaan khusus'mu itu?" ia melirik Evan dengan tatapan penuh arti. "Ya, uang yang kudapatkan dengan mengorbankan diriku!" Livia merasakan air mata mulai menggenang. "Uang yang seharusnya bisa menyelamatkan nyawa Ayahku, tapi kamu dan

    Last Updated : 2025-03-02
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 12

    Satu bulan berlalu sejak peristiwa di taman itu. Livia mencoba menata kembali hidupnya perlahan-perlahan. Ia tetap bekerja sebagai cleaning service, meski harus berhadapan dengan Bu Marta yang semakin keras padanya sejak insiden di ruang penyimpanan. Beruntung, Livia hanya mendapat surat peringatan, bukan pemecatan. Pagi itu, seperti biasa, Livia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Namun, begitu ia mencium aroma telur yang sedang digoreng, perutnya terasa mual. Dengan tergesa-gesa, ia berlari ke kamar mandi."Hoek! Hoek!" Livia muntah-muntah, padahal perutnya kosong. Hanya cairan bening yang keluar.Elena yang mendengar suara itu bergegas menuju kamar mandi. "Liv? Kamu kenapa?" ia mengetuk pintu dengan cemas.Livia keluar dengan wajah pucat. "Entahlah, mungkin masuk angin. Tiba-tiba saja perutku mual mencium bau telur."Elena menatapnya lekat-lekat, merasa ada yang aneh. "Sudah berapa lama kamu seperti ini?""Baru pagi ini," Livia menjawab sambil berjalan gontai menuju dapur.

    Last Updated : 2025-03-03
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 13

    "Aku hamil, El," Livia berkata, seolah masih tidak percaya. "Aku mengandung anak entah siapa." Elena menghentikan langkahnya, memutar tubuh Livia agar menghadapnya. "Dengar, Liv. Ini memang kejutan besar. Tapi kamu tidak sendirian, oke? Aku di sini. Kita akan hadapi ini bersama." Livia menatap sahabatnya dengan linangan air mata. "Apa yang harus kulakukan, El? Aku bahkan tidak kenal siapa ayahnya. Apa yang akan dikatakan orang-orang nanti?" Setelah keluar dari klinik, Elena mengantar Livia kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan, Livia hanya terdiam, tangannya gemetar memegangi perutnya yang masih rata. Tatapannya kosong menatap jalanan Jakarta yang mulai padat. Elena sesekali menggenggam tangannya, mencoba memberikan kekuatan meski ia sendiri masih terkejut dengan berita ini. "Sudah sampai," kata Elena ketika mereka tiba di basement apartemen. Livia turun dari mobil dengan langkah gontai. Tubuhnya seolah tidak bertenaga, seperti boneka yang digerakkan tanpa nyawa. Di lobi

    Last Updated : 2025-03-04
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 14

    Matahari mulai condong ke barat ketika Livia terbangun dari tidur singkatnya. Matanya sembab dan bengkak, tenggorokannya kering. Ia beranjak ke dapur untuk minum, tapi perutnya kembali mual. Tidak ada yang dimuntahkan selain cairan empedu yang pahit."Bahkan sekarang kamu menyiksaku," Livia berbisik pada perutnya. "Apa salahku sampai hidup seperti ini?"Suara kunci diputar di pintu depan mengejutkannya. Elena muncul dengan napas terengah-engah, wajahnya memancarkan kekhawatiran. Ia pasti berlari dari kantornya."Liv? Kamu baik-baik saja?" Elena langsung menghampiri Livia yang terduduk di lantai dapur.Livia mendongak, matanya sembab dan wajahnya pucat pasi. "Seperti yang kamu lihat," jawabnya lemah.Elena melirik ke meja makan, piring dan gelas masih teratur seperti pagi tadi. "Kamu belum makan seharian?" tanyanya cemas.Livia hanya menggeleng lemah."Astaga, Liv!" Elena membantunya berdiri. "Kamu harus makan, apalagi sekarang kamu—" ia tidak melanjutkan kata-katanya, takut menyinggun

    Last Updated : 2025-03-04
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 15

    Ketika Livia sedang menangis di atas kasur, ponselnya tiba-tiba berdering. Ada pesan dari Elena."Liv, aku lembur hari ini. Pulang malam. Kalau mau, kamu bisa datang ke kantorku setelah jam kerja. Ada ruang istirahat, atau naik saja ke rooftop, pemandangannya bagus. Ada taman kecil juga di atas. Kamu bisa lihat Jakarta dari sana. Mungkin bisa menghiburmu sedikit."Livia membaca pesan itu berulang kali. Ide untuk keluar dari apartemen dan menikmati udara segar terdengar begitu menggiurkan daripada harus terkungkung dalam kesedihannya.Jam menunjukkan pukul 7 malam ketika Livia akhirnya memutuskan untuk pergi. Ia mengenakan cardigan tipis untuk melindungi dari angin malam, lalu melangkah keluar dari apartemen.Gedung tempat Elena bekerja hanya berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Livia menunjukkan kartu identitasnya pada petugas keamanan dan menjelaskan bahwa ia teman Elena."Mbak Elena ada di lantai 14, sedang lembur," kata petugas itu ramah. "Tapi kalau Mbak mau ke rooftop du

    Last Updated : 2025-03-04
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 16

    Masih di rooftop, ponsel Livia tiba-tiba bergetar. Nama Elena muncul pada layar."Liv? Kamu di mana?" suara Elena terdengar sedikit cemas."Aku di rooftop kantormu, El," jawab Livia sambil menghapus sisa air mata di pipinya. "Tadi aku lihat pesanmu, jadi kuputuskan untuk ke sini.""Oh, syukurlah. Mau turun ke ruanganku? Aku sudah hampir selesai, kok."Livia menatap langit malam Jakarta. "Tidak usah, El. Aku tunggu di sini saja. Pemandangannya bagus, dan ... aku butuh waktu sendirian sebentar.""Kamu baik-baik saja, kan?" terdengar keraguan dalam suara Elena."Tidak apa-apa. Kamu selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Aku tidak mau mengganggu.""Baiklah. Aku akan ke sana setengah jam lagi, oke?""Oke," Livia mengakhiri panggilan dan kembali menatap gemerlap kota dari ketinggian.Empat puluh menit kemudian, pintu rooftop terbuka. Elena muncul dengan wajah lelah tapi tetap tersenyum hangat. Ia menghampiri Livia yang duduk di salah satu bangku kayu."Maaf ya, agak lama. Ada beberapa laporan ya

    Last Updated : 2025-03-05
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 17

    "Ayo, kita ke minimarket saja. Beli roti dan susu," Elena memapah Livia menjauh dari warung.Setelah membeli beberapa makanan ringan dan susu di minimarket terdekat, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di apartemen, Livia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Wajahnya masih pucat, dan tubuhnya gemetar sedikit.Elena menyiapkan makanan di meja. Ia memanaskan sedikit tuna kaleng dan meletakkannya di mangkuk. "Liv, makanlah dulu. Paling tidak sedikit," pintanya saat Livia keluar dari kamar mandi."Aku tidak yakin bisa makan, El," Livia duduk di meja makan dengan lesu."Cobalah. Lihat wajahmu sudah pucat begitu. Kalau begini terus, nanti kamu bisa sakit dan bayimu bisa kekurangan nutrisi." Elena mendorong mangkuk tuna dan roti ke arah Livia. "Hanya beberapa roti saja."Dengan enggan, Livia mengambil sendok dan mulai menyapukan tuna ke atas roti kemudian memasukkan ke mulutnya dengan sangat perlahan. Ia mengunyah dan menelan dengan hati-hati, seolah setiap gerakan b

    Last Updated : 2025-03-05
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 18

    Pagi itu, Livia bangun dengan perasaan campur aduk. Hari ini, ia akan berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya di PT Adi Jaya. Ia mengenakan seragam cleaning service-nya untuk yang terakhir kali, merapikan kerah bajunya di depan cermin. Matanya menatap pantulan dirinya yang masih tampak pucat.Seperti mimpi. Ini adalah hari terakhir setelah empat tahun bekerja di perusahaan yang mempertemukannya dengan Evan. Namun, ia tak lagi sedih seperti kemarin, sudah ada perusahaan baru yang menantinya untuk bekerja. Livia sampai di perusahaan tempatnya bekerja tepat pada waktunya. Beberapa rekan sesama cleaning service menyapanya dengan hangat, beberapa menatapnya dengan iba karena kontraknya tidak diperpanjang. Bu Marta, seperti biasa, hanya meliriknya sekilas tanpa berkata-kata."Livia, kamu dipanggil ke HRD," seorang petugas keamanan memberitahunya.Di ruang HRD, wanita berkacamata yang sama menyodorkan amplop coklat ke arahnya."Ini pesangon Mbak Livia. Silakan dihitung dulu," ucapnya dengan

    Last Updated : 2025-03-05

Latest chapter

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 78

    Vanya tampak sedikit gugup, tidak menyangka pihak Gavin memiliki bukti sebanyak itu. "Yang Mulia, kami perlu waktu untuk memeriksa bukti-bukti ini sebelum memberikan tanggapan."Hakim mengangguk. "Baiklah, sidang akan ditunda selama 30 menit untuk memberikan kesempatan kepada kuasa hukum termohon memeriksa bukti yang diajukan pemohon."Setelah jeda, sidang kembali dilanjutkan. Vanya tampak lebih tenang, meski ada kekhawatiran di wajahnya."Yang Mulia, meskipun ada beberapa bukti yang diajukan pihak pemohon, klien kami tetap menolak perceraian ini dan mengusulkan untuk melakukan mediasi terlebih dahulu," ujar Vanya.Hakim beralih pada Gavin. "Tuan Lysandros, bagaimana tanggapan Anda terhadap usulan mediasi?"Gavin berdiri dengan ekspresi tegas. "Yang Mulia, dengan segala hormat, saya menolak mediasi. Pernikahan ini sudah tidak dapat diselamatkan. Kepercayaan sudah hancur, dan kami telah hidup terpisah selama lebih dari enam bulan." Bella mendengus keras, matanya menyala penuh kebencia

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 77

    Dua minggu berlalu dengan cepat. Pagi itu, cahaya matahari Jakarta menembus jendela kamar Livia, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Ia melirik jam di dinding—pukul 6 pagi. Hari ini adalah hari persidangan perceraian Gavin dan Bella.Livia bangkit perlahan, merasakan tendangan lembut dari perutnya yang kini semakin membesar. "Selamat pagi juga, sayang," bisiknya sambil mengelus perutnya.Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. "Nona Livia? Tuan Gavin sudah datang. Beliau menunggu di ruang makan," suara Amina terdengar dari balik pintu."Baik, Mbak. Terima kasih. Saya akan segera turun."Sebelum menghadapi persidangan yang pastinya akan rumit, Gavin mampir untuk menemui Livia pagi ini. Livia bergegas mandi dan bersiap, memilih gaun sederhana berwarna biru muda yang cukup longgar untuk menutupi perutnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar kamar.Di ruang makan, Gavin duduk sembari menikmati secangkir kopi. Pria tampan itu mengenakan setelan jas fo

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 76

    Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 75

    Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 74

    Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 73

    Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 72

    Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 71

    Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 70

    Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status