Share

Bab 17

Author: Merisa storia
last update Last Updated: 2025-03-05 11:50:24

"Ayo, kita ke minimarket saja. Beli roti dan susu," Elena memapah Livia menjauh dari warung.

Setelah membeli beberapa makanan ringan dan susu di minimarket terdekat, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di apartemen, Livia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Wajahnya masih pucat, dan tubuhnya gemetar sedikit.

Elena menyiapkan makanan di meja. Ia memanaskan sedikit tuna kaleng dan meletakkannya di mangkuk. "Liv, makanlah dulu. Paling tidak sedikit," pintanya saat Livia keluar dari kamar mandi.

"Aku tidak yakin bisa makan, El," Livia duduk di meja makan dengan lesu.

"Cobalah. Lihat wajahmu sudah pucat begitu. Kalau begini terus, nanti kamu bisa sakit dan bayimu bisa kekurangan nutrisi." Elena mendorong mangkuk tuna dan roti ke arah Livia. "Hanya beberapa roti saja."

Dengan enggan, Livia mengambil sendok dan mulai menyapukan tuna ke atas roti kemudian memasukkan ke mulutnya dengan sangat perlahan. Ia mengunyah dan menelan dengan hati-hati, seolah setiap gerakan b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 18

    Pagi itu, Livia bangun dengan perasaan campur aduk. Hari ini, ia akan berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya di PT Adi Jaya. Ia mengenakan seragam cleaning service-nya untuk yang terakhir kali, merapikan kerah bajunya di depan cermin. Matanya menatap pantulan dirinya yang masih tampak pucat.Seperti mimpi. Ini adalah hari terakhir setelah empat tahun bekerja di perusahaan yang mempertemukannya dengan Evan. Namun, ia tak lagi sedih seperti kemarin, sudah ada perusahaan baru yang menantinya untuk bekerja. Livia sampai di perusahaan tempatnya bekerja tepat pada waktunya. Beberapa rekan sesama cleaning service menyapanya dengan hangat, beberapa menatapnya dengan iba karena kontraknya tidak diperpanjang. Bu Marta, seperti biasa, hanya meliriknya sekilas tanpa berkata-kata."Livia, kamu dipanggil ke HRD," seorang petugas keamanan memberitahunya.Di ruang HRD, wanita berkacamata yang sama menyodorkan amplop coklat ke arahnya."Ini pesangon Mbak Livia. Silakan dihitung dulu," ucapnya dengan

    Last Updated : 2025-03-05
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Part 19

    "Nyonya Livia?" seorang perawat memanggil namanya. Livia bangkit dari duduknya, diikuti Elena. "Saya sendiri yang masuk atau—" "Temannya boleh ikut," perawat itu tersenyum ramah. Di dalam ruangan, wanita yang mengenakan jubah putih berusia sekitar 40-an menyambut mereka dengan senyuman. "Selamat pagi. Saya Dokter Maria," dokter itu memperkenalkan diri. "Jadi, Ibu Livia, ini kehamilan pertama?" Livia mengangguk gugup. "Iya, Dok." "Sudah berapa minggu?" "Saya tidak tahu pasti. Mungkin sekitar 6 minggu? Saya baru mengetahuinya sekitar satu minggu yang lalu." Dokter Maria mencatat di komputernya. "Baik, kita akan lakukan pemeriksaan fisik dulu, kemudian USG untuk memastikan usia kehamilan dan kesehatan janin." Setelah pemeriksaan fisik singkat, Livia diminta berbaring di ranjang untuk USG. Elena berdiri di sampingnya, memberikan dukungan moral. Dokter Maria mengoleskan gel dingin di perut Livia, lalu mulai menggerakkan alat USG. "Nah, ini dia," Dokter Maria menunjuk ke

    Last Updated : 2025-03-06
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 20

    Senin pagi, Livia berdiri di depan cermin kamarnya, jemarinya dengan teliti mengancingkan kemeja putih yang dipinjamnya dari Elena. Kemeja itu sedikit longgar di bagian perutnya, yang mungkin akan berguna beberapa bulan ke depan, pikirnya. Ia merapikan rok hitam selutut yang sudah disetrika rapi sejak semalam. Berusaha tampil profesional di hari pertama bekerja, meskipun hanya sebagai cleaning service."Kamu bisa melakukan ini," Livia berbisik pada bayangannya sendiri, tangannya tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata. "Kita bisa melakukan ini."Sentuhan terakhir, Livia mengikat rambutnya menjadi sanggul rapi lalu memoleskan lipstik berwarna nude. Meskipun bekerja sebagai cleaning service, ia tidak ingin tampil sembarangan. "Liv, sudah siap?" suara Elena terdengar dari luar kamar. "Kita harus berangkat lima belas menit lagi kalau tidak mau terlambat.""Sebentar lagi!" Livia memeriksa penampilannya sekali lagi, memastikan tidak ada yang terlewat. Sempurna, setidaknya untuk stand

    Last Updated : 2025-03-06
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 21

    "Permisi, Bu. Saya Livia, cleaning service baru yang mulai bekerja hari ini," Livia memperkenalkan diri dengan sopan.Bu Ratna mendongak, mengamati Livia dari atas ke bawah. "Ah, Livia. Iya, HRD sudah memberitahu saya. Tepat waktu, bagus," ia mengangguk puas. "Saya Bu Ratna, kepala cleaning service di gedung ini.""Senang bertemu dengan Ibu," Livia tersenyum sopan."Duduklah," Bu Ratna menunjuk kursi di depan mejanya. "Saya akan menjelaskan beberapa hal penting tentang pekerjaan dan peraturan di sini."Selama lima belas menit berikutnya, Bu Ratna menjelaskan dengan rinci tentang jadwal kerja, area yang menjadi tanggung jawab Livia, standar kebersihan yang diterapkan, dan berbagai peraturan yang harus dipatuhi. Livia mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat poin-poin penting di buku kecil yang selalu dibawanya."PT Lysandros bukan perusahaan biasa," Bu Ratna menekankan. "Klien kami adalah orang-orang penting. Jadi kebersihan dan kerapian adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.

    Last Updated : 2025-03-06
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 22

    Gavin menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam seketika melebar saat mengenali sosok Livia. Ia terlihat begitu terkejut, seolah melihat hantu. Mulutnya sedikit terbuka, nyaris mengucapkan sesuatu, tapi kemudian tertutup kembali.Livia menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk membereskan kekacauan yang dibuatnya. Tangannya bergerak cepat mengambil kain pel dan mengelap air yang tumpah, tapi pikirannya benar-benar kosong. Ia bisa merasakan tatapan Gavin yang tertuju padanya, rasanya menusuk hingga ke tulang sumsum.Jangan lihat ke atas. Jangan lihat ke atas. Berpura-puralah tidak mengenalinya. "Maafkan saya," Livia bergumam kepada lantai dengan suara bergetar. "Saya akan segera membereskan ini."Dari sudut matanya, Livia bisa melihat sepatu hitam mengkilap Gavin yang kini berdiri diam tidak jauh dari tempatnya berlutut. Sepatu itu tidak bergerak, seolah pemiliknya sedang mempertimbangkan sesuatu.Suara langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat. Ternyata Bu Ratna yang sedari tadi

    Last Updated : 2025-03-07
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 23

    Lift mendesing naik menuju lantai 25, membawa Livia yang berdiri kaku dengan satu tangan mencengkeram pegangan di dinding lift dan satunya lagi tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata. Angka digital pada layar lift bergerak naik perlahan, menghitung setiap lantai yang terlewati. 22 ... 23 ... 24 ...Livia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak karuan.25 ...Pintu lift akhirnya terbuka. Livia melangkah keluar dengan kaki gemetar, memasuki area resepsionis yang mewah. Berbeda dengan lantai-lantai lain, lantai 25 dirancang dengan gaya yang jauh lebih elegan.Di balik meja resepsionis, seorang wanita cantik dengan rambut disanggul rapi tersenyum profesional padanya."Permisi," Livia menyapa dengan suara kecil. "Saya Livia. Saya dipanggil untuk bertemu dengan Pak Gavin."Mata resepsionis itu melebar sejenak, seolah terkejut melihat siapa yang dipanggil bos besarnya. "Ah, Anda Livia. Pak Gavin sudah menunggu. Silakan lewat sini."Resepsi

    Last Updated : 2025-03-07
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 24

    "Maaf, saya bukan wanita seperti itu lagi," Livia menggeleng pelan. "Malam itu ... hanya malam itu saja. Saya bekerja di sini sebagai cleaning service, tidak ada hubungannya dengan masa lalu." Gavin terdiam sejenak, memperhatikan Livia dengan seksama. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis di hadapannya dibandingkan dengan gadis yang ia temui dua bulan lalu. Sebuah perubahan halus yang sulit ia jelaskan. "Kenapa kau memilih bekerja di sini?" tanya Gavin tiba-tiba. "Dari semua tempat di Jakarta, kenapa kau memilih perusahaanku?" "Saya tidak tahu ini perusahaan Anda," Livia menegaskan sekali lagi. "Teman saya yang mencarikan pekerjaan ini. Saya hanya tahu ini adalah PT Lysandros, saya tidak tahu Anda pemiliknya." Gavin mengangguk pelan, tampak mempercayai jawaban Livia. Kemudian, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, sikunya bertumpu pada meja, tatapannya semakin intens. "Ada satu hal yang membuatku penasaran, Livia," suaranya kini lebih tenang namun penuh tekanan. "Apakah kau hamil

    Last Updated : 2025-03-08
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 25

    Suara yang sangat tidak asing melegakan hatinya seketika. Elena berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kekhawatiran dan rasa ingin tahu."Elena ...," Livia mencoba tersenyum, tapi bibirnya hanya mampu bergetar lemah.Elena cepat-cepat masuk dan menutup pintu di belakangnya. "Ya ampun, Liv! Semua orang membicarakanmu!" bisiknya dengan nada urgent. "Apa yang terjadi? Apa benar kamu dipanggil ke ruangan Pak Gavin? Apa dia memarahimu?"Livia melirik ke sekitar ruangan. Ada dua petugas kebersihan lain yang sedang beristirahat di sudut, sibuk mengobrol namun sesekali mencuri pandang ke arah mereka."Nanti akan kuceritakan," jawab Livia pelan, "tapi tidak di sini."Elena mengangguk paham. "Ini jam makan siang. Kita ke warung nasi dekat kantor saja? Aku lapar, dan kamu juga pasti butuh makan."Livia mengangguk lemah. "Tunggu sebentar, aku bereskan ini dulu."****Warung nasi kecil tak jauh dari gedung Lysandros Group selalu ramai di jam makan siang. Aroma rempah yang menggugah selera menguar

    Last Updated : 2025-03-08

Latest chapter

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 76

    Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 75

    Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 74

    Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 73

    Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 72

    Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 71

    Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 70

    Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 69

    Setelah berbincang kesana kemari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Livia memutuskan untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali Livia melirik ke arah Gavin yang fokus menyetir, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.Setelah 40 menit, mobil Gavin tiba di area basement. Gavin menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sepi. Lampu basement yang temaram menyinari wajah keduanya. Sebelum Livia turun, Gavin meraih tangannya dengan lembut."Livia," suaranya dalam dan penuh keyakinan, "kumohon pertimbangkan lagi untuk menempati rumah itu. Aku benar-benar ingin kamu dan bayi kita tinggal di tempat yang aman dan layak."Livia menghela napas panjang, mata hazelnya bertemu dengan mata cokelat Gavin. Jemarinya memainkan ujung dress putihnya dengan gugup."Terima kasih banyak, Gavin. Sungguh, ini terlalu berlebihan," ucapnya pelan. "Tapi kalau hanya untuk menempati ... kurasa aku

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 68

    Begitu pintu utama terbuka, Livia disambut oleh interior yang elegan—perpaduan gaya klasik dan modern, dengan cat dinding cream yang hangat dan lantai marmer putih yang mengkilap."Ini rumah siapa?" tanya Livia sekali lagi, matanya berkeliling takjub melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di dinding.Gavin hanya tersenyum misterius, tidak menjawab pertanyaan Livia. Ia menuntun Livia melalui lorong pendek menuju ruang makan. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka."Selamat malam, Tuan Lysandros," sapa salah satu pelayan. "Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.""Terima kasih, Amina," jawab Gavin singkat.Ruang makan itu tidak terlalu besar namun sangat mengesankan. Meja makan untuk dua orang terletak di tengah, dihiasi dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga lily putih—menciptakan suasana romantis yang sempurna. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman."Silakan duduk," Pe

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status