Tiga hari setelah pesta kaisar, kehebohan yang senyap menyelimuti paviliun ketiga selir—Selir Mei Xiao, Selir Xue Yuxian, dan Selir Hua Lingxin. Racun mandul yang secara diam-diam mereka minum saat pesta akhirnya bereaksi. Ketiganya mulai merasakan gejala aneh yang membuat mereka khawatir dan segera memanggil tabib pribadi mereka untuk melakukan pemeriksaan mendalam.“Apa yang terjadi padaku?” gumam Selir Mei Xiao memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, padahal saat selir Mei Xiao sedang menyusun rencana untuk membalas Zhao Xueyan. “Kenapa tabib sangat lama?!” bentak selir Mei Xiao merasa kesakitan. Di sudut ruangan para pelayan menunduk takut, tak berapa lama seorang tabib tua dari kediaman Mei datang dengan tergesa-gesa. “Salam —” “Cepat periksa aku tabib,” potong selir Mei Xiao yang sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya. Ketika tabib memeriksa ketiga selir, ekspresi cemas terpancar di wajah para tabib tersebut. Para tabib mendapati bahwa racun itu tidak hanya menyebabkan
Di paviliun Selir Mei Xiao, ketegangan terasa begitu nyata. Setelah kepergian tabib yang membawa kabar buruk itu, Mei Xiao duduk di kursi megahnya dengan wajah pucat dan mata berkilat penuh kemarahan. Pikirannya terus berputar, mencoba mencari jawaban atas nasib buruk yang menimpanya."Ini tidak mungkin terjadi begitu saja. Seseorang pasti merencanakan ini!" gumamnya dengan nada dingin.Para pelayan di sekelilingnya diam membisu, tak berani menatap langsung ke wajah majikan mereka. Namun, salah satu pelayan yang berdiri paling dekat akhirnya memberanikan diri berbicara."Ampun, Yang Mulia. Jika saya boleh berkata sesuatu ...."Mei Xiao mengangkat wajahnya, tatapannya tajam seperti pedang. "Bicara cepat!"Pelayan itu menelan ludah, tubuhnya gemetar. "Saya sempat melihat sesuatu di malam pesta, Yang Mulia. Di dapur, pelayan setia Selir Hua Lingxin mendekati minuman Anda. Dia tampak seperti sedang ... memasukkan sesuatu ke dalamnya."Mata Mei Xiao menyipit, penuh kecurigaan. "Pelayan Hua
Di paviliun Selir Mei Xiao, suasana semakin panas. Dia duduk di kursi berhias ukiran naga emas, wajahnya yang biasanya anggun kini dipenuhi rasa penasaran dan kemarahan. Seorang pelayan mata-mata yang dia tempatkan di paviliun Hua Lingxin, berlutut dengan penuh kehati-hatian di depannya."Yang Mulia, hamba membawa kabar penting," ujar pelayan itu sambil menundukkan kepalanya."Bicara," perintah Selir Mei Xiao dengan nada dingin."Hamba melihat pelayan setia Selir Hua Lingxin, Qing’er, meninggalkan paviliun dengan membawa surat. Dari desas-desus yang hamba dengar, surat itu ditujukan kepada keluarga Hua. Selir Hua Lingxin berniat pergi ke rumah keluarganya dalam tiga hari untuk membahas sesuatu yang sangat rahasia."Mata Selir Mei Xiao menyipit, rasa penasaran dan amarah mulai menyatu. "Hua Lingxin akan mencoba mencari solusi dari keluarganya?" gumamnya pelan. "Dia pasti tahu sesuatu tentang racun itu."Selir Mei Xiao bangkit berdiri, wajahnya penuh dengan tekad. "Ini kesempatan emas.
Istana yang biasanya ramai dengan suara tawa para selir dan nona muda bangsawan kini terasa sunyi. Tempat pertemuan mereka di taman bunga, yang sering menjadi lokasi acara minum teh dan bersosialisasi, kini kosong. Para pelayan yang ditanya hanya memberikan jawaban singkat bahwa para selir sedang sakit dan membutuhkan istirahat. Namun, rumor tentang insiden yang terjadi pada mereka mulai beredar, meskipun tidak ada yang berani membicarakannya secara terbuka.Zhao Xueyan, di sisi lain, menikmati ketenangan yang jarang dia dapatkan. Paviliunnya yang tenang menjadi tempat sempurna baginya untuk berlatih dan meningkatkan kultivasinya. Di ruang latihan, Zhao Xueyan duduk bersila di atas bantal meditasi, tubuhnya dikelilingi oleh energi spiritual yang mengalir deras. Wajahnya terlihat damai, tetapi dalam benaknya, dia mengamati semua permainan kekuasaan yang terjadi di istana."Aku hanya perlu menunggu," gumam Zhao Xueyan sambil membuka matanya perlahan. "Mereka akan saling menghancurkan
Pemakaman Selir Hua Lingxin dilaksanakan dengan penuh keheningan yang mencekam. Langit mendung seakan ikut berduka atas kepergian seorang selir kekaisaran. Bangsawan keluarga Hua tiba di tempat pemakaman dengan tangisan yang memecah suasana. Ibu Selir Hua Lingxin tak henti-hentinya menangis histeris, sementara ayahnya hanya bisa berdiri dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dari biasanya.Prosesi pemakaman dilakukan di pemakaman keluarga kekaisaran, tempat yang disediakan untuk anggota istana yang telah meninggal. Semua orang yang hadir mengenakan pakaian hitam, berdiri dalam barisan teratur untuk menghormati peti mati yang dihias dengan ukiran naga dan bunga teratai—lambang dari statusnya sebagai seorang selir kekaisaran.Peti mati itu diusung perlahan oleh beberapa penjaga istana menuju liang lahat. Kaisar Zheng Yu hadir dengan ekspresi dingin, hanya memberikan penghormatan tanpa kata-kata. Dia tampak tidak terlalu terpengaruh oleh kepergian Selir Hua Lingxin, yang jarang mendap
Karena merasa laporan Shen Yuan tidak memberikan hasil yang memuaskan, Kaisar Zheng Yu memutuskan untuk turun tangan sendiri. Ia memilih untuk mengunjungi paviliun Permaisuri Zhao Xueyan secara tiba-tiba. Hatinya dipenuhi rasa curiga meskipun tidak ada bukti yang mengarah padanya. Zhao Xueyan, meski dikenal sebagai wanita yang tenang, selalu menjadi sosok yang sulit ditebak.Malam itu, tanpa pemberitahuan, kaisar Zheng Yu mengunjungi paviliun permaisurinya, Zhao Xueyan. Kaisar ingin mengetahui apakah semua intrik di istana ini ada hubungannya dengan permaisurinya, meskipun dalam hatinya ia merasa ragu.Saat tiba di paviliun, Zhao Xueyan, yang tengah membaca di ruang utama, segera menyambutnya dengan penuh penghormatan. Wajahnya tenang seperti biasa, meskipun hatinya menyadari maksud kedatangan Kaisar."Yang Mulia datang tanpa pemberitahuan. Apakah ada yang bisa hamba bantu?" tanya Zhao Xueyan dengan suara lembut, tatapannya penuh kepolosan.Kaisar Zheng Yu memandang Zhao Xueyan denga
Selir Mei Xiao yang awalnya penuh percaya diri dengan rencananya menyebarkan desas-desus buruk tentang Zhao Xueyan, tiba-tiba dibuat terkejut ketika langkahnya keluar dari paviliunnya terhenti oleh bisikan-bisikan pelayan istana."Kenapa Selir Mei Xiao belum juga hamil? Bukankah Kaisar sering sekali mengunjungi paviliunnya?" bisik salah satu pelayan sambil menunduk."Benar, aneh sekali. Kalau seperti ini, mungkin posisi selir lain yang bisa memberi keturunan lebih berharga di mata Kaisar," timpal pelayan lainnya.Wajah Selir Mei Xiao memucat, tangan halusnya yang mencengkeram kipas berornamen emas mulai gemetar. Kemarahan dan ketakutan berkecamuk di dalam dirinya. Bagaimana mungkin isu seperti itu mulai beredar? Siapa yang menyebarkan kabar tersebut? Apakah seseorang sudah mengetahui rahasianya bahwa dia tidak bisa lagi mengandung?Setelah memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikan, Selir Mei Xiao dengan cepat kembali ke dalam paviliunnya. Di sana, dia membanting kipasnya ke lantai
Malam semakin larut, dan harapan Selir Mei Xiao mulai memudar. Ia berjalan mondar-mandir di paviliunnya dengan wajah yang semakin cemas. Para pelayan di sekitarnya tidak berani mengatakan apa pun, hanya menunduk dalam keheningan."Kenapa Yang Mulia belum datang?" tanya Selir Mei Xiao dengan nada tajam. "Apa kalian sudah memastikan bahwa aku yang dia kunjungi malam ini?"Sudah beberapa jam berlalu, tapi kaisar Zheng Yu belum juga menampakkan batang hidungnya di paviliun selir Mei Xiao. Salah satu pelayannya segera maju dan menunduk. "Ampun, Yang Mulia Selir. Kami akan segera mencari tahu," jawabnya, lalu pergi dengan tergesa-gesa. Selir Mei Xiao duduk dengan gelisah, menggigit bibir bawahnya sambil terus melirik ke arah pintu. Namun, ketika pelayannya kembali, wajahnya pucat pasi."Ada apa?" tuntut Selir Mei Xiao, tidak sabar dengan keheningan yang mencurigakan. Matanya menatap tajam pelayan di depannya itu. "Yang Mulia … Yang Mulia sedang berada di paviliun Selir Xue Yuxian," jawab
Setelah makan malam yang sedikit kacau akibat "aksi heroik" Kaisar Tian Ming di dapur, suasana istana perlahan kembali tenang.Malam itu, di ruang kerja megah sang kaisar, Zhao Xueyan, Kaisar Tian Ming, Wu Liang, dan Yu Qie duduk mengelilingi sebuah meja besar. Di atas meja terbentang peta-peta medan perang, lengkap dengan berbagai penanda strategis.Zhao Xueyan menunjuk satu titik di peta dengan jari rampingnya."Jika pasukan ditempatkan di sini," ujarnya serius, "Maka kita bisa memutus jalur logistik mereka. Serangan dari arah timur akan mempercepat kemenangan."Tian Ming mengangguk, matanya menatap Zhao Xueyan dengan penuh perhatian, tapi tak sepenuhnya pada peta. Sementara Wu Liang dan Yu Qie mengangguk-angguk setuju, lalu saling bertukar pandang.Beberapa saat kemudian, tanpa disadari oleh Zhao Xueyan yang begitu fokus menjelaskan rencana, Wu Liang dan Yu Qie sudah tidak ada lagi di ruangan itu.Kaisar Tian Ming mengusir keduanya dengan sangat halus. Wu Liang dan Yu Qie yang meng
Begitu melangkah ke dalam dapur istana, Zhao Xueyan langsung membelalakkan mata. Mulutnya sedikit terbuka tanpa suara. Dapur yang biasanya bersih dan rapi kini berubah menjadi medan peperangan. Tepung berserakan di lantai, panci-panci tergeletak miring, tungku api di sudut dapur menghembuskan nyala api yang jauh lebih besar dari seharusnya.Para juru masak dan pelayan dapur berdiri di luar ruangan, sebagian menangis dalam diam. Wajah-wajah mereka memucat ketakutan. Tak satu pun berani mengangkat kepala atau bergerak. Mereka hanya bisa memandangi kekacauan ini dengan dada sesak. Salah bicara sedikit saja, mungkin kepala mereka bisa melayang.Dan di tengah kekacauan itu, seorang pria berdiri dengan hanfu sederhana, rambutnya diikat ke belakang, tampak sedikit acak-acakan. Wajah tampannya kini dihiasi noda tepung dan bercak saus. Dialah Kaisar Tian Ming, penguasa dingin benua Yunzhu … kini tampak seperti anak kecil yang baru belajar memasak.Zhao Xueyan akhirnya menemukan suaranya."Apa
Malam menyelimuti paviliun timur dengan tenang. Lampu minyak bergoyang lembut, memancarkan cahaya keemasan yang menari di dinding kayu dan tirai tipis. Aroma teh melati yang baru diseduh memenuhi udara, membawa kehangatan yang tak hanya meresap ke tubuh, tapi juga ke dalam hati.Di ruang utama, Zhao Xueyan duduk bersila di antara kedua orang tuanya. Hanfunya berwarna biru langit, sederhana namun elegan. Ia tampak tenang, sesekali mengangkat cangkir dan meniup permukaan teh hangat sebelum menyesapnya perlahan. Di hadapannya, sang ibu Bing Qing tersenyum lembut, sedangkan sang ayah, Jenderal Zhao Yun, sudah duduk dengan santai, satu tangan menopang dagu, mata berbinar menatap keluarganya yang utuh malam ini."Ayah dan ibu sudah lama tak minum teh malam seperti ini bersamamu," ucap Bing Qing dengan suara lembut. "Kau tampak berbeda, Xueyan … lebih dewasa, dan lebih tenang."Zhao Xueyan tersenyum kecil. "Pengembaraan mengajarkanku banyak hal, Ibu. Tapi yang paling berat bukan medan tempu
Saat Zhao Xueyan tiba di paviliun timur bersama ibunya dan Niuniu, pagi yang seharusnya tenang mendadak dipenuhi langkah terburu-buru. Jenderal Zhao Yun yang mendengar kedatangan istrinya langsung keluar dari ruang baca, matanya membelalak melihat sosok wanita yang sangat dirindukannya berdiri di ambang gerbang.“Istriku, aku dengar kau diserang ... Kau baik-baik saja?”Suara itu penuh kekhawatiran, terdengar jelas meski tak terangkat tinggi. Zhao Yun langsung melangkah cepat, menghampiri sang istri dan menggenggam tangannya dengan lembut.“Aku baik-baik saja,” kata Nyonya Bing Qing dengan senyum tenang. “Bai Long membawa kami dengan aman. Hanya saja ….”Bing Qing menatap sang suami. “Hanya saja Bai Long terluka. Dan sekarang sedang memulihkan tubuhnya.” Zhao Yun menghela napas panjang lalu menatap wajah istrinya dalam-dalam. “Aku seharusnya ikut menjemputmu ... dunia luar tak lagi aman seperti dulu.”Zhao Xueyan hanya menatap keduanya sambil tersenyum kecil. Ada kehangatan dalam pan
Pagi menyapa istana Kekaisaran Tianyang dengan embusan angin sejuk dan cahaya matahari yang lembut menembus sela-sela dedaunan. Zhao Xueyan berdiri di serambi paviliun timur, matanya terarah ke langit timur. Ada getaran kuat yang hanya bisa dirasakannya—getaran familiar dari seseorang yang sangat ia kenal.“Bai Long .…” bisiknya.Tanpa pikir panjang, Zhao Xueyan segera berlari menuju pelataran utama istana, tempat biasanya Bai Long mendarat. Gaunnya berkibar mengikuti langkah cepatnya, rambut panjangnya sedikit berantakan tertiup angin. Saat tiba di halaman luas istana, matanya langsung membelalak."Bai Long!" serunya.Sosok naga hitam itu mendarat perlahan, tubuhnya yang besar terlihat penuh luka bakar dan goresan. Namun, tak jauh dari kakinya, Zhao Xueyan melihat dua sosok lainnya turun—ibunya, Bing Qing, dan Niuniu."Ibu!" Zhao Xueyan segera menghampiri. "Niuniu! Kalian tidak apa-apa?"Niuniu yang baru saja menapak tanah langsung memeluk sang nona."Nona ... kami baik-baik saja," u
Suasana di dalam masing-masing paviliun kediaman bangsawan penuh ketegangan. Para gadis bangsawan yang kemarin diusir dari jamuan Kekaisaran masih belum bisa menerima perlakuan memalukan itu. Wajah mereka penuh amarah, ada yang menangis, ada yang membanting kipas, ada pula yang terus mengumpat sambil menangis tertahan.Di Kediaman XiaoXiao Zhen berjalan mondar-mandir sambil menghentakkan kakinya. "Bagaimana mungkin! Gadis itu, seorang gadis desa hina—ternyata putri Jenderal Zhao?!"Nyonya Besar Xiao yang duduk tenang di kursi utama mengibaskan kipasnya perlahan, suaranya dingin namun penuh tekanan. "Zhen'er, duduklah. Marah tidak akan menyelesaikan masalah."Xiao Zhen menatap ibunya dengan mata merah, "Ibu! Aku dipermalukan! Diusir dari istana di depan semua tamu! Semua orang akan menertawakanku!"Nyonya Xiao tersenyum tipis. "Lebih baik dipermalukan sekali ... daripada kalah selamanya."Xiao Zhen mengerutkan kening. "Apa maksud Ibu?""Ibu sudah menyuruh ayahmu untuk mencari tahu seg
Zhao Xueyan melangkah cepat, gaunnya berkibar tertiup angin pagi. Wajahnya yang biasanya tegas kini diliputi emosi yang campur aduk—marah, kecewa, sedih. Ia melewati para pelayan yang membungkuk memberikan hormat, tapi ia tak menyahut. Di koridor luar, Wu Liang dan Yu Qie—yang sejak tadi masih penasaran—hanya bisa saling melirik ketika melihat sosok Zhao Xueyan berjalan dengan pandangan kosong. Wajahnya merah, bibirnya sedikit gemetar, dan sorot matanya penuh luka.Wu Liang mengangkat alis, berbisik pada Yu Qie, "Ada apa itu?"Yu Qie menelan ludah. “Kelihatannya … tidak baik.”Keduanya menoleh ke arah pintu ruang kerja sang kaisar. Ada rasa khawatir dan ragu di wajah mereka. Namun akhirnya, mereka memutuskan masuk kembali setelah mengetuk perlahan.“Yang Mulia .…” ucap Wu Liang pelan sambil sedikit membungkuk, diikuti Yu Qie yang ikut menunduk hormat.Begitu pintu tertutup di belakang mereka, suasana ruang kerja benar-benar berubah. Tidak lagi penuh wibawa, tapi berat dan muram. Di b
Tian Ming melangkah lebih dekat, setiap langkahnya terasa berat, membawa gelombang tekanan yang membuat dedaunan bergetar. Ia berdiri di antara mereka, meraih tangan Zhao Xueyan dan menariknya ke belakangnya.“Kau mungkin lupa, tapi Zhao Xueyan yang ini bukan milikmu lagi. Bahkan ... mungkin tidak pernah,” suara Tian Ming rendah, penuh amarah yang ditahan.“Apa maksudmu Kaisar Tian Ming? Tentu dia pernah menjadi milikku, karena dia mantan istriku,” sarkas Kaisar Zheng Yu. Kaisar Tian Ming mendengkus. “Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang Zhao Xueyan. Jadi berhentilah berharap, karena dari awal dia hanya milikku.” Zhao Xueyan berdiri diam di belakangnya, matanya mengeras namun tetap tenang.Zheng Yu menatap keduanya, ekspresinya gelap. Namun ia akhirnya mengendurkan genggamannya dan tersenyum miring.“Kita lihat saja, apakah perasaan yang pernah ada ... benar-benar telah mati.”Tanpa menunggu jawaban, Zheng Yu berbalik pergi. Matanya tajam, menyiratkan kebencian dan obsesi pada Zhao
Di dalam paviliun timur yang hangat dan harum oleh wangi teh, para pelayan berdiri rapi dengan kepala menunduk. Niuniu dengan sigap menuangkan teh ke dalam cangkir porselen di depan Jenderal Zhao Yun.“Silakan, Jenderal,” ucap Niuniu dengan sopan.Zhao Yun menerima cangkir itu, menatap pelayan muda tersebut sejenak, lalu mengangguk dalam.“Niuniu! Terima kasih karena telah menjaga Xueyan,” ucapnya, tulus.Niuniu buru-buru menggeleng, wajahnya sedikit merah. “Jenderal Zhao ... bukan saya yang menjaga nona, justru nona yang melindungi saya. Berkali-kali.”Zhao Yun melirik putrinya, senyumnya tipis dan hangat. “Ya ... itu memang sifatnya sejak kecil.”Zhao Xueyan duduk dengan anggun di sisi ayahnya, menatap wajah yang sangat dirindukannya itu. Suaranya lembut saat bertanya, “Ayah ... kenapa Ibu tidak ikut bersamamu? Bagaimana kabarnya?”Jenderal Zhao Yun menghela napas pelan, matanya menerawang sejenak. “Ibumu ... tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Belakangan ini tubuhnya mudah lelah.