Beranda / Romansa / Damian&Kimberly / Bab 1. S2. New Beginning

Share

Damian&Kimberly
Damian&Kimberly
Penulis: Abigail Kusuma

Bab 1. S2. New Beginning

Penulis: Abigail Kusuma
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-04 18:30:13

Tiga tahun berlalu … 

“Yeay! Mommy pulang! I’m so happy!” Diego melompat-lompat kegirangan melihat Kimberly sudah pulang dari kantor. Bocah laki-laki itu tampak gembira. Kedua tangannya sudah mengulur ke Kimberly, meminta Kimberly untuk menggendongnya. 

“My handsome baby, kau merindukan Mommy, hm?” Kimberly menggendong putranya, dan menghujani pipi bulat putranya itu dengan kecupan bertubi-tubi. Dia memeluk putranya dengan erat. Pun Diego membalas pelukan Kimberly tak kalah erat. Bocah laki-laki itu memberikan kecupan di pipi Kimberly. 

“Yes, Mommy. I miss you so much. Kapan Daddy pulang, Mommy?” Bibir Diego tertekuk kala mengingat ayahnya belum juga pulang. Raut wajahnya menunjukkan jelas bahwa bocah laki-laki itu sangat merindukan Damian. 

“Diego sudah menanyakan kapan Damian pulang lebih dari seratus kali padaku, Kim. Aku bisa menjawab kapan kau pulang, tapi hal yang tersulit adalah menjawab kapan Damian pulang,” sambung Carol yang sejak tadi ada di sana. 

Hari ini Carol menjaga Diego, karena kebetulan dia tak terlalu sibuk. Sementara Kimberly memiliki meeting penting menggantikan ayahnya yang kebetulan sedang berada di New York, karena memiliki pekerjaan di sana. Tentu hanya Kimberly yang bisa menggantikan ayahnya. Ben—adik Kimberly itu masih sangat kecil dan tak mungkin bisa membantu tentang perusahaan. 

Dua minggu lalu Damian harus berangkat ke Paris untukmengurus pekerjaan di sana. Awalnya Kimberly ingin menemani suaminya itu, tapi kondisi tak memungkinkan. Wanita itu memiliki banyak tanggung jawab di perusahaannya. Ditambah Diego sudah mulai bersekolah. Usia Diego saat ini adalah tiga tahun. 

“Sayang, Daddy bilang akan pulang tiga hari lagi. Kau sabar, oke?” Kimberly menyapukan hidungnya ke hidung mancung dan mungil Diego. “Daddy juga bilang, kalau dia pulang akan membawakan banyak mainan untukmu.” Wanita itu melanjutkan ucapannya memberi tahu. 

“Tiga hari lagi, Mommy?” Diego menunjukkan tiga jemari mungilnya ke hadapan Kimberly.  

Kimberly menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang. Tiga hari lagi Daddy akan pulang. Kau harus mengerti, Diego. Daddy sibuk dengan pekerjaannya, demi dirimu dan Mommy. Daddy ingin memberikan yang terbaik di hidup kita. Sekolahmu tidak murah. Mainanmu juga tidak murah. Kebutuhan kita sangat banyak.” 

“Mommy … Daddy selalu bilang Daddy memiliki banyak uang. Daddy bisa membelikan apa pun untuk kita. Aku mengingat apa yang Daddy katakan padaku, Mommy,” ujar Diego dengan bibir yang kian terkekuk. 

“Sayang, Daddy memang memiliki banyak uang, tapi kalau Daddy tidak bekerja keras, maka apa yang Daddy miliki saat ini pasti akan hilang, Sayang.” Kimberly membelai pipi Diego dengan lembut. 

“Oh begitu.” Diego mengangguk-anggukkan kepalanya. 

“Ya sudah, lebih baik kau main bersama dengan pengasuhmu dulu. Mommy ingin bicara sebentar dengan Bibi Carol, Sayang.” Kimberly membelai-belai pipi Diego, dan memberikan kecupan di sana. 

“Oke, Mommy,” jawab Diego patuh. Detik selanjutnya, Kimberly menurunkan tubuh Diego, dan pengasuh dengan sigap membawa Diego dari tempat itu. Tampak senyuman di wajah Kimberly dan Carol terlukis melihat Diego yang begitu menggemaskan.

“Bagaimana pekerjaanmu, Kim? Semua baik-baik saja, kan?” tanya Carol seraya menatap hangat Kimberly. 

“Bisa dikatakan baik tapi juga sangat melelahkan.” Kimberly duduk di sofa yang terdekat dengannya, disusul Carol yang juga duduk di samping Kimberly. “Thanks, sudah membantuku menjaga Diego.” 

“Tidak perlu berterima kasih, aku malah senang sekali bisa menjaga Diego, Kim.” Carol mengambil orange juice di hadapannya, dan meminum perlahan. “Anyway, aku ingin bercerita sesuatu padamu, Kim.” 

“Katakan, apa yang ingin kau ceritakan?” Kimberly juga mengambil orange juice yang ada di hadapannya, meminum perlahan, menyandarkan punggungnya ke sofa. 

Carol menghela napas dalam. “Ibuku bilang kalau sampai detik ini aku tidak mau dijodohkan dengan Adrik, aku harus ikut kencan buta disalah satu situs ternama dan terpercaya. Lihatlah ibuku menganggapku benar-benar seperti wanita yang tidak laku.” 

Carol nyaris hampir gila menghadapi kedua orang tuanya. Hingga detik ini, dia masih terus dijodohkan oleh pria Russia yang sudah dia tolak. Hanya saja tahun ini ibunya mengajukan padanya, jika dirinya tak mau dijodohkan, maka harus ikut dalam kencan buka yang ada di salah satu situs terpercaya. Ini memang sudah benar-benar gila! Carol dianggap seperti wanita yang tak mampu mendapatkan kekasih saja. 

Well, bisa dikatakan semua terjadi karena sampai detik ini Carol masih sendiri. Memang Carol sudah beberapa kali berkencan, tapi hasilnya masih nihil. Dia tak kunjung memiliki kekasih. Dia tak pernah cocok dengan pria-pria yang selama ini berkencan dengannya.  

Kimberly mengulum senyumannya geli mendengar ucapan Carol. “Ikuti kata hatimu. Jika kau ingin pergi ke kencan buta, maka silakan pergi. Tapi jika tidak, jangan pernah lakukan. Seperti yang pernah aku katakan padamu, menikah bukan sebuah kompetisi, Carol. Mungkin pria yang tepat untukmu memang belum waktunya tiba. Akan tiba di saat waktunya tepat.”

Carol mengangguk sependapat dengan Kimberly. “You’re right, Kim. Aku juga tidak mau terburu-buru. Daripada aku salah dalam memilih pasangan, lebih baik aku nikmati diriku untuk pengembangan diri. Lagi pula, takdir tidak akan pernah salah. Mungkin saja pria yang memang menjadi milikku saat ini sedang ada di suatu kota atau negara yang entah di mana. Butuh waktu untuk bertemu denganku.” 

Kimberly tersenyum merespon ucapan Carol. 

***

Malam semakin larut. Kimberly terlelap sambil memeluk Diego. Pelukan hangat itu membuat Diego tidur sangat pulas. Selama Damian berada di luar negeri, Kimberly selalu tidur dengan Diego. Selain kesepian, dia ingin selalu memberikan banyak perhatian dan kasih sayang pada Diego. 

Tak selang lama, pintu kamar terbuka. Seorang pria melangkah masuk ke dalam kamar secara perlahan demi tak menimbulkan suara. Pria itu meletakan tas dan jasnya ke sofa, menghampiri Kimberly yang terlelap di ranjang, duduk di pinggir ranjang, dan menatap Kimberly dan Diego dengan tatapan hangat. 

Pria itu membelai pipi Kimberly lembut, mengecupinya di sana. Refleks, sayup-sayup mata Kimberly terbuka secara perlahan. Tampak di kala mata Kimberly sudah terbuka, betapa terkejut dirinya melihat Damian di hadapannya itu. 

“Damian? K-kau sudah pulang?” Kimberly melebarkan matanya terkejut melihat Damian ada di hadapannya. Harusnya tiga hari lagi suaminya itu baru pulang, tapi kenapa malah sekarang suaminya itu ada di hadapannya? 

“Maaf membuatmu terbangun.” Damian mengecup bibir Kimberly. “Aku sengaja pulang cepat ingin memberikan kejutan untukmu dan Diego.” 

“Astaga, Damian.” Kimberly memeluk erat tubuh Damian, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. “Aku sangat merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu. Kau tahu? Diego sampai terus-terusan menanyakan kapan kau pulang. Putra kita juga merindukanmu.” Wanita itu mengeluh merindukan sang suami. Bayangkan saja ditinggal hampir dua minggu, tentu tidak mudah. 

Damian tersenyum samar. Pria itu membalas pelukan Kimberly sambil melihat Diego yang masih tertidur pulas. “Iya, aku minta maaf. Pekerjaanku banyak sekali, Kim. Maaf sudah meninggalkanmu dan Diego cukup lama. Aku juga sangat merindukan kalian.” 

Kimberly mendongakkan kepalanya, menatap Damian. “Kau menyebalkan sekali. Bisa-bisanya bilang padaku akan pulang tiga hari lagi, padahal malam ini kau pulang.” 

Damian menarik dagu Kimberly, mencium dan melumat bibir sang istri. “Anggap saja ini kejutan, Kim,” bisiknya serak. 

Kimberly tersenyum, menatap Damian, dengan tatapan penuh cinta. “Welcome home, Sayang. Aku senang sekali kau sudah pulang.”   

***

Amsterdam, Netherlands.  

Sebuah ruang kerja mewah terlihat sosok pria tampan sedang menyesap vodka di tangannya. Pria itu menatap hasil laporan perusahaannya dalam beberapa tahun terakhir yang mengalami peningkatan tajam. Tampak senyuman puas di wajah pria itu terlukis samar. 

“Tuan Fargo, kondisi perusahaan sekarang benar-benar sangat baik. Tuan Olsen dan Tuan Deston sampai menghubungi saya, mengatakan mereka bangga pada perkembangan perusahaan Anda, Tuan,” ujar Gene melaporkan. 

Dalam waktu kurun dari tiga tahun, Fargo mampu membuat perusahaannya memiliki terobosan dalam berinovasi. Alhasil, sekarang perusahaannya sudah jauh lebih berkembang. Tentu Fargo yang dulu sangat berbeda dengan Fargo yang sekarang. Hidup Fargo hanya terisikan tentang pekerjaan dan pekerjaan. Ya, dia selalu fokus dengan pekerjaannya sampai melupakan segalanya. 

“Good,” komentar Fargo menanggapi ucapan Gene. 

“Hm, Tuan … saya ingin memberi tahu Anda sesuatu,” kata Gene serius. 

“Ada apa?” 

“Saya dengar Nona Gilda sekarang sedang dekat dengan seseorang pria. Maksud saya di sini, dalam kondisi Nona Gilda belum mendapatkan donor mata, ternyata dia sepertinya telah berhasil mendapatkan pria yang tepat untuknya.” 

“Aku senang mendengarnya. Dia memang harus move on, dan mulai menata hidup baru.” 

“Apa Anda tidak mau mencoba dekat dengan seorang wanita, Tuan?” 

“Aku belum tertarik, Gene. Mereka bisa jadi hanya membuang waktuku saja. Lebih baik aku fokus pada bisnisku.” 

“Tapi, Tuan, Anda jadi kembali ke Los Angeles, dua hari lagi, kan?” Gene bertanya memastikan mengenai rencana Fargo yang ingin kembali ke Los Angeles. 

Fargo menatap lurus ke depan dengan pikiran yang menerawang. “Sebenarnya aku mulai menyukai Amsterdam, dan nyaman tinggal di sini, tapi aku sadar tidak mungkin tinggal di sini selamanya. Dan, ya, aku harus kembali. Sudah lebih dari tiga tahun aku meninggalkan Amerika. Waktunya aku untuk menata hidupku di sana.” 

*** 

Holla, ini Season dua dari novel Damian&Kimberly. Sebelum membaca ini baca dulu novel yang berjudul Terpikat Pesona Paman Suamiku. 

Follow I*: abigail_kusuma95

Bab terkait

  • Damian&Kimberly   Bab 2. S2. New Beginning II

    Los Angeles, California, New York, USA. Fargo membuka kaca mata hitamnya, meletakan kaca matanya itu ke saku jas, dan melangkahkan kaki tegas menuju mobil yang telah menjemputnya di lobby bandara. Ya, dia telah tiba di Los Angeles. Tiga tahun dirinya meninggalkan kota di mana dirinya lahir dan dibesarkan membuat Fargo merindukan kota ini. Kota yang menyimpan jutaan memori di masa lalu yang tak akan mungkin terlupakan. Namun, meski demikian tetap saja Fargo tak mau terus terusan mengingat apa yang sudah berlalu. Selama tiga tahun Fargo meninggalkan kota ini, dia terlalu fokus pada pekerjaannya. Bahkan dia tak dekat dengan wanita manapun. Tujuannya meninggalkan Los Angeles, karena pria itu ingin fokus pada diri sendiri. Tak mau memikirkan apa yang sudah terjadi. Berdamai dengan kenyataan tak mudah. Satu-satunya yang dia lakukan adalah menyibukan diri. “Silakan, Tuan.” Gene membukakan pintu mobil untuk Fargo kala tuannya sudah tiba di lobby bandara. Pun tanpa mengatakan sepatah kata,

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Damian&Kimberly   Bab 3. S2. Meet Again 

    “F-Fargo?” Mata Carol melebar terkejut melihat sosok pria yang ada di hadapannya ini Fargo. Wait! Fargo ada di Amsterdam. Tidak mungkin pria itu ada di hadapannya. Sial! Pasti dirinya salah mengenali seseorang. Carol menepis pikirannya, meyakinkan pada dirinya sendiri pasti dirinya ini salah. Tidak mungkin sosok pria yang di depannya ini adalah Fargo. Carol yakin ada yang tidak beres dengan otaknya itu.“Kenapa kau selalu membuat masalah, Carot!” suara geraman khas pria di depannya itu membuat Carol menyadari bahwa otaknya tidaklah salah. Ditambah nama paggilan ‘Carot’ yang hanya dipanggil dari mulut pria menyebalkan membuat Carol langsung sadar siapa sosok pria yang ada di depannya itu. Buru-buru, Carol menjauh dari pria itu. Beruntung injakan kakinya kuat di lantai. Jika tidak, maka sudah pasti Carol bisa saja kembali nyaris tersungkur. Oh, Hell! Betapa ceroboh dirinya. Napas Carol berembus panjang, berusaha untuk tenang seolah tak terjadi masalah apa pun. “Kau, Fargo, kan?” Ini

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Damian&Kimberly   Bab 4. S2. Fargo’s Arrival 

    “Daddy … Mommy … look at me … aku hebat, kan?” Diego berseru kala mengendarai mobil kecilnya di ruang khusus bermain. Bocah laki-laki itu tampak kegirangan kala bisa mengendarai mobil kecilnya dengan lancar. Ruang bermain Diego sangat besar. Jadi, tak heran jika Diego bisa leluasa mengendarai mobil mininya itu. Pun saat ini Kimberly dan Damian tak lagi tinggal di penthouse. Sekitar dua tahun lalu, Kimberly dan Damian memutuskan tinggal di mansion. Mereka sama-sama menyadari, Diego sangat aktif. Penthouse tak terlalu besar untuk mereka tempati. “Ya, Sayang, kau hebat, tapi pelan-pelan. Kau baru saja selesai makan. Nanti kau muntah kalau langsung mengebut seperti itu,” tegur Kimberly mengingatkan Diego. Putra kecilnya itu baru saja selsai disuapi makan steak olehnya. Memang, kebiasaan Diego setiap kali selesai makan adalah bermain. Apalagi Diego sangat menyukai mobil. “Oke, Mommy. Tenang saja. Aku pintar, Mommy,” jawab Diego riang. Dua pengasuh Diego sudah berjaga-jaga menjaga Diego

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Damian&Kimberly   Bab 4. S2. Troublesome Woman

    “Sayang, hari ini kau pulang jam berapa?” Kimberly membantu memakaikan dasi di leher sang suami, menepuk-nepuk pelan dada bidang suaminya itu kala dasi sudah terpasang sempurna. Seperti biasa setiap pagi, Kimberly selalu membantu sang suami untuk bersiap-siap ke kantor. “Mungkin sedikit terlambat. Aku memiliki meeting penting hari ini, Kim. Kau sendiri bagaimana? Jam berapa kau pulang?” Damian menarik dagu Kimberly, mencium dan melumat lembut bibir istrinya itu. “Aku pulang sore, Sayang. Jam tiga sore nanti pasti aku sudah pulang.” Kimberly melingkarkan tangannya ke leher Damian. Merapatkan tubuhnya ke tubuh sang suami. “Diego nanti pulang jam berapa?” tanya Damian sambil memeluk pinggang istrinya itu. Tadi jam tujuh pagi, Diego sudah lebih dulu berangkat sekolah. Diego berangkat lebih awal, karena bocah laki-laki itu memiliki jadwal kelas lebih pagi. “Sepertinya Diego akan menginap di rumah orang tuaku. Diego ingin bermain dengan Ben. Orang tuaku juga merindukan Diego. Tidak apa-

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Damian&Kimberly   Bab 6. S2. Troublesome Woman II 

    “Berengsek!” Fargo mengumpat dalam hati kala sudah selesai mengganti pakaiannya dengan kaus bersih. Tampak tatapan Fargo menatap kesal dan penuh emosi pada Carol yang masih meracau akibat mabuk. Saat ini Carol berbaring di ranjang dan mengatakan hal-hal sembarangan layaknya orang mabuk. Ya, dengan terpaksa Fargo membawa Carol pergi ke apartemen pribadinya. Fargo tak memiliki pilihan lain, karena jika dirinya melepas Carol, maka bisa jadi masalah baru akan timbul. “Menyusahkan sekali wanita ini!” Fargo ingin menghubungi siapa pun kontak nama yang ada di ponsel Carol, agar segera membawa Carol pergi menjauh darinya. Akan tetapi entah kenapa Fargo tak bisa melakukan itu. Seperti ada magnet kuat yang mencegah dirinya. Apalagi ketika melihat Carol yang tampak seperti sangat putus asa. Fargo memejamkan mata singkat. Berusaha mengatasi segala emosi yang terbendung dalam dirinya. Tujuan Fargo ke kelab malam karena ingin menenangkan pikiran yang belakangan ini lelah dengan pekerjaannya. Nam

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 7. S2. Troublesome Woman III

    Carol mondar mandir tidak jelas di dalam kamar mandi. Wajah cantik wanita itu sudah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sudah lima belas menit lalu dia selesai membersihkan diri, tapi tetap Carol tak kunjung keluar dari kamar mandi. Benaknya sejak tadi memikirkan tentang kebodohannya yang kelepasan bicara. Bagaimana bisa dirinya malah memberi tahu Fargo tentang ukuran dadanya? Astaga! Benar-benar sangat bodoh! Memalukan! Carol mendengkus seraya mengumpati dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri. Perlahan, dia memejamkan mata sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Hal yang paling menbuatnya kesal pada dirinya adalah kerap kelepasan bicara. Alhasil, sekarang dirinya sendiri yang malu. Akan tetapi, Carol tak bisa memungkiri bahwa dia berterima kasih pada Fargo yang sudah menyelamatkannya. Entah, bagaimana nasibnya kalau sampai Fargo meninggalkannya seorang diri di kelab malam. Memang, dia akui tadi malam dirinya mab

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 8. S2. Awkwardness

    “Turunlah. Mobilmu pasti sudah ada di halaman parkir kantormu. Tadi pagi aku sudah meminta asistenku mengantarkan mobilmu.” Fargo berucap dengan nada dingin kala pria itu sudah mengantarkan Carol tepat di lobby perusahaan Carol. Ya, tadi pagi-pagi sekali, dia sudah meminta asistennya mengambil mobil Carol yang masih terparkir di kelab malam, mengantarkan ke halaman parkir kantor Carol. “Terima kasih sudah membantuku,” jawab Carol dengan nada yang sama persis seperti Fargo. Dingin dan acuh. Paling tidak, Carol sekarang tak memiliki beban utang budi. Memasak untuk Fargo sudah sebagai bentuk balas budi. Meski rasa masakannya pas-pasan, tapi tetap masih bisa dimakan. “Anyway, besok aku akan ke kantormu. Pamanku sudah memberikan kontrak revisi yang paling terbaru. Aku tidak akan lama di kantormu. Jadi kau jangan mempersulitku meminta revisi kontrak kerja sama lagi.” Carol menoleh, menatap Fargo. Tatapan Carol menatap jengkel dan tersirat kesal pada Fargo. Ingatannya langsung tergali aka

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 9. S2. Awkwardness II 

    Carol menjadi kikuk dan tak tahu bagaimana harus bersikap kala melihat pemandangan di depan mata. Pemandangan di mana yang mengusik ketenangan jiwa dan raga. Entah, dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Namun, andai Carol tahu Fargo sedang sibbuk bermesraan dengan wanita lain, maka dia tak akan masuk ke dalam. Sungguh, dia merasa dirinya sekarang terjebak dan sulit untuk menghindar. ‘Kenapa aku harus ada di kondisi begini?’ geram Carol kesal dalam hati. Ingin rasanya Carol pergi, tapi kaki wanita itu seakan telah tertanam di lantai—membuatnya kesulitan dalam bergerak. Fargo melihat Carol yang berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya dingin dan tampak menahan rasa kesal. Detik selanjutnya, dia melepas paksa pelukan seorang wanita—yang memeluk dirinya bertepatan dengan Carol membuka pintu ruang kerjanya. Pun dia tak pernah mengira kalau wanita di hadapannya itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. “Pulanglah, Eldora. Aku sibuk,” ucap Fargo dingin, mengusir wanita bernama Eldora. Fargo ta

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26

Bab terbaru

  • Damian&Kimberly   Bab 15. S2. Beautiful Mistake II

    Raut wajah Carol menunjukkan jelas kemuramannya. Pancaran matanya tampak melemah. Jutaan hal mengusik pikiran Carol, membuat seakan tubuhnya terasa lelah. Dia mengeratkan selimut yang membalut tubuh polosnya. Dia menggigit bibir bawahnya mengingat kejadian beberapa menit lalu. Kejadian di mana tak pernah dia sangka. Semua terjadi begitu cepat, dan berhenti begitu saja seakan dirinya tak pernah diinginkan. Air mata Carol sudah mengumpul di belakang kornea matanya. Namun, wanita itu menahan diri untuk tak menangis. Entah dia tak mengerti kenapa dirinya sangat sensitive. Padahal seharusnya Carol merasa bersyukur tak terjerat dalam ikatan semu. Sungguh, dia memang tak mengerti pada dirinya sendiri. Semua terlalu rumit untuk dikatakan. Sayup-sayup mata Carol mulai merasakan kantuk. Wanita cantik itu ingin sekali pindah ke kamarnya, tetapi kondisi kakinya tak memungkinkan untuk berjalan. Perlahan, dia mulai membaringkan tubuh di sofa. Pikiran dan tubuhnya sangat lelah, membuat rasa kantu

  • Damian&Kimberly   Bab 14. S2. Beautiful Mistake 

    Sudah berjam-jam Carol memaksa untuk menutup matanya, wanita cantik itu ingin sekali beristirahat. Pun tubuhnya terasa begitu lelah. Begitu juga dengan pikirannya yang sangat lelah. Akan tetapi, alih-alih memejamkan mata malah Carol tak bisa tidur sama sekali. Hatinya seperti gelisah akan sesuatu. Benak wanita itu memikirkan hal yang dia sendiri tak tahu hal apa yang mengusik ketenangan hati dan jiwa. Carol bangun, dan memilih duduk serta menyandarkan punggung di kepala ranjang. Beberapa kali, dia menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. Ya, sekarang dia masih berada di kamar tamu di apartemen pribadi milik Fargo. Mungkin kejadian tadi di pesta, membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Harus dia akui, tindakan Fargo yang menyelamatkannya dari Adrik, membuat hatinya merasakan aman dan terlindungi. Rupanya Fargo bisa bersikap gentlemen. Carol melirik jam dinding—waktu menunjukkan pukul dua malam. Biasanya dia sudah tertidur pulas pada pukul ini, tapi sayangnya sekarang dia tida

  • Damian&Kimberly   Bab 13. S2. Party IV

    Sepasang iris mata Fargo menatap Adrik Zeno di hadapannya dengan tatapan dingin, tajam, dan menusuk. Tatapan yang tersirat penuh peringatan. Aura wajahnya menunjukan kemarahan yang tak terkendali. “Jangan ikut campur! Aku tahu kau tidak memiliki hubungan apa pun dengan Carol!” seru Adrik dengan penuh keyakinan. Tatapannya membalas tatapan Fargo tak kalah tajam. Fargo menarik tangan Carol, membawa masuk ke dalam dekapannya. “Aku dan Carol memang sengaja menyembunyikan hubungan kami. Akan ada waktunya kami mengumumkan hubungan kami pada publik. Kami memiliki alasan sendiri untuk tidak memublikasikan hubungan kami. Kau hanya orang luar yang tidak tahu apa pun. Jadi lebih baik diam!”Setelah mengatakan itu, Fargo menggenggam tangan Carol, membawa Carol meninggalkan pesta. Tampak, raut wajah Adrik berubah dingin dan menunjukan jelas emosinya kala Fargo membawa Carol. Adrik hendak ingin mengejar, tapi Adrik menyadari bahwa dirinya berada di pesta. Adrik tak mau membuat kekacauan. Fargo

  • Damian&Kimberly   Bab 12. S2. Party III

    “Kenapa kau selalu cantik, hm?” Damian melingkarkan tangannya di pinggang Kimberly possessive. Banyak mata yang melihat sang istri, tapi Damian langsung memeluk erat sang istri, seakan menunjukkan pada dunia—Kimberly hanya miliknya. “Sayang, kau jangan merayu.” Kimberly memukul pelan lengan kekar Damian. Tampak pipi wanita itu tersipu malu. Saat ini dan dan suami berada berdansa di lantai dansa. Alunan musik slow motion, membuat Kimberly hanyut akan dansa romatis itu. Damian mengecupi bibir Kimberly bertubi-tubi. Pria tampan itu selalu gemas akan tingkah sang istri yang selalu menggemaskan. Saat Damian menikmati dansa romantis dengan Kimberly—tatapan pria tampan itu teralih pada Fargo dan Carol—yang tengah berdansa. Detik itu juga raut wajah Damian berubah. Sepasang iris mata cokelat gelapnya menatap Fargo dan Carol dengan tatapan penuh arti. “Kim, lihatlah ke kanan,” bisik Damian pelan di telinga Kimberly. Refleks, Kimberly mengalihkan pandangannya ke arah kanan, sesuai dengan yan

  • Damian&Kimberly   Bab 11. S2. Party II 

    Mata Fargo melebar menatap Carol dengan tatapan terkejut sekaligus memiliki jutaan arti. Lidahnya tak mampu berucap. Pria tampan itu hanya mencetuskan nama Carol di dalam hatinya, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tetap bergeming, tak bergerak sedikit pun. Tatapan itu seakan hanyut membawanya ke lautan lepas, yang entah membawanya ke arah mana.Lagi, Fargo tetap hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun kala Carol sudah mendekat. Gaun yang dipakai Carol begitu indah dan cantik. Rambut panjang wanita itu digulung ke atas, menunjukkan leher jenjangnya yang memukau. Belahan dada Carol terlihat. Pun Fargo melihat jelas ukuran dada Carol memang menantang. Bulat, padat, dan menggoda para kaum adam. Orang yang menatap Carol tak hanya Fargo saja, tapi banyak dari pria lain yang juga menatap Carol. Tentu kehadiran Carol yang sendiri mengundang perhatian banyak orang. Semua orang di pesta pasti beranggapan bahwa Carol adalah wanita single. Jamuan makan malam yang diadakan oleh Darr

  • Damian&Kimberly   Bab 10. S2. Party 

    Carol menenggak wine di tangannya hingga tandas. Entah kenapa mood-nya benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dia ingin sekali tak datang di jamuan makan malam yang diadakan perusahaan Damian, tapi dia tak enak pada Kimberly kalau sampai tidak datang. Mau tak mau, dia memilih untuk datang karena sudah terlanjur berjanji. Carol menyandarkan punggungnya di sofa, mengambil bantal kecil dan memeluknya. Merasa sedikit bosan, dia mengambil remote televisi, dan langsung menghidupkan. Namun, di kala baru saja televisi dihidupkan, tatapannya menatap lekat penyiar berita yang tengah memberitakan sesuatu. *Kabar sore ini datang dari Fargo Jerald, mantan suami Kimberly Darrel ini sudah lagi terlihat di Los Angeles. Banyak paparazzi yang diam-diam mengambil gambar Fargo Jerald. Sampai detik ini, Fargo Jerald masih belum memiliki pengganti Kimberly Darrel. Tampaknya Fargo Jerald masih belum mau memulai sebuah hubungan.* Carol mematikan siaran berita itu. Tujuan Carol melihat televisi adalah

  • Damian&Kimberly   Bab 9. S2. Awkwardness II 

    Carol menjadi kikuk dan tak tahu bagaimana harus bersikap kala melihat pemandangan di depan mata. Pemandangan di mana yang mengusik ketenangan jiwa dan raga. Entah, dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Namun, andai Carol tahu Fargo sedang sibbuk bermesraan dengan wanita lain, maka dia tak akan masuk ke dalam. Sungguh, dia merasa dirinya sekarang terjebak dan sulit untuk menghindar. ‘Kenapa aku harus ada di kondisi begini?’ geram Carol kesal dalam hati. Ingin rasanya Carol pergi, tapi kaki wanita itu seakan telah tertanam di lantai—membuatnya kesulitan dalam bergerak. Fargo melihat Carol yang berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya dingin dan tampak menahan rasa kesal. Detik selanjutnya, dia melepas paksa pelukan seorang wanita—yang memeluk dirinya bertepatan dengan Carol membuka pintu ruang kerjanya. Pun dia tak pernah mengira kalau wanita di hadapannya itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. “Pulanglah, Eldora. Aku sibuk,” ucap Fargo dingin, mengusir wanita bernama Eldora. Fargo ta

  • Damian&Kimberly   Bab 8. S2. Awkwardness

    “Turunlah. Mobilmu pasti sudah ada di halaman parkir kantormu. Tadi pagi aku sudah meminta asistenku mengantarkan mobilmu.” Fargo berucap dengan nada dingin kala pria itu sudah mengantarkan Carol tepat di lobby perusahaan Carol. Ya, tadi pagi-pagi sekali, dia sudah meminta asistennya mengambil mobil Carol yang masih terparkir di kelab malam, mengantarkan ke halaman parkir kantor Carol. “Terima kasih sudah membantuku,” jawab Carol dengan nada yang sama persis seperti Fargo. Dingin dan acuh. Paling tidak, Carol sekarang tak memiliki beban utang budi. Memasak untuk Fargo sudah sebagai bentuk balas budi. Meski rasa masakannya pas-pasan, tapi tetap masih bisa dimakan. “Anyway, besok aku akan ke kantormu. Pamanku sudah memberikan kontrak revisi yang paling terbaru. Aku tidak akan lama di kantormu. Jadi kau jangan mempersulitku meminta revisi kontrak kerja sama lagi.” Carol menoleh, menatap Fargo. Tatapan Carol menatap jengkel dan tersirat kesal pada Fargo. Ingatannya langsung tergali aka

  • Damian&Kimberly   Bab 7. S2. Troublesome Woman III

    Carol mondar mandir tidak jelas di dalam kamar mandi. Wajah cantik wanita itu sudah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sudah lima belas menit lalu dia selesai membersihkan diri, tapi tetap Carol tak kunjung keluar dari kamar mandi. Benaknya sejak tadi memikirkan tentang kebodohannya yang kelepasan bicara. Bagaimana bisa dirinya malah memberi tahu Fargo tentang ukuran dadanya? Astaga! Benar-benar sangat bodoh! Memalukan! Carol mendengkus seraya mengumpati dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri. Perlahan, dia memejamkan mata sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Hal yang paling menbuatnya kesal pada dirinya adalah kerap kelepasan bicara. Alhasil, sekarang dirinya sendiri yang malu. Akan tetapi, Carol tak bisa memungkiri bahwa dia berterima kasih pada Fargo yang sudah menyelamatkannya. Entah, bagaimana nasibnya kalau sampai Fargo meninggalkannya seorang diri di kelab malam. Memang, dia akui tadi malam dirinya mab

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status