Beranda / Romansa / Damian&Kimberly / Bab 4. S2. Troublesome Woman

Share

Bab 4. S2. Troublesome Woman

Penulis: Abigail Kusuma
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-04 18:31:20

“Sayang, hari ini kau pulang jam berapa?” Kimberly membantu memakaikan dasi di leher sang suami, menepuk-nepuk pelan dada bidang suaminya itu kala dasi sudah terpasang sempurna. Seperti biasa setiap pagi, Kimberly selalu membantu sang suami untuk bersiap-siap ke kantor. 

“Mungkin sedikit terlambat. Aku memiliki meeting penting hari ini, Kim. Kau sendiri bagaimana? Jam berapa kau pulang?” Damian menarik dagu Kimberly, mencium dan melumat lembut bibir istrinya itu. 

“Aku pulang sore, Sayang. Jam tiga sore nanti pasti aku sudah pulang.” Kimberly melingkarkan tangannya ke leher Damian. Merapatkan tubuhnya ke tubuh sang suami. 

“Diego nanti pulang jam berapa?” tanya Damian sambil memeluk pinggang istrinya itu. Tadi jam tujuh pagi, Diego sudah lebih dulu berangkat sekolah. Diego berangkat lebih awal, karena bocah laki-laki itu memiliki jadwal kelas lebih pagi. 

“Sepertinya Diego akan menginap di rumah orang tuaku. Diego ingin bermain dengan Ben. Orang tuaku juga merindukan Diego. Tidak apa-apa, kan?” ujar Kimberly hangat. 

Diego sangat dekat dengan Ben layaknya kakak beradik. Usia mereka sama, membuat Diego dan Ben begitu dekat. Bahkan Kimberly sengaja menyekolahkan Diego di sekolah yang sama dengan Ben—adik tiri Kimberly. 

“Tidak apa-apa. Diego juga pasti senang menginap di sana.” Damian mengecup bibir Kimberly singkat. “Ya sudah, aku harus berangkat sekarang. Kau jam berapa berangkat?” 

“Sekitar satu jam lagi aku berangkat. Kau berangkat saja duluan. Hari ini aku akan menemui Carol dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus. Kau hati-hati di jalan. Jangan mengebut. Jangan lupa makan siang. Jangan lupa minum vitaminmu. Pekerjaan memang penting, tapi aku tidak mau kau sampai sakit, Sayang,” ujar Kimberly mengingatkan sang suami. 

Senyuman samar di wajah Damian terlukis mendengar ucapan Kimberly. Yang paling Damian sukai adalah kecerewetan istrinya itu. “Oke, Mrs. Darrel. Aku tidak akan lupa semua pesanmu. Nanti aku akan menghubungimu kalau sudah di kantor.” Pria tampan itu menyapukan hidungnya ke hidung Kimberly. 

Kimberly menganggukan kepalanya. Detik selanjutnya, Damian melangkah pergi meninggalkan Kimberly. Tampak tatapan Kimberly menatap hangat punggung suaminya itu. Setiap pagi selalu saja Kimberly memiliki momen manis yang tak akan terlupakan dengan suaminya itu. Momen di mana Kimberly menyadari betapa bahagia hidupnya sekarang ini. 

***

“Paman, kau jangan bercanda. Aku sudah katakan padamu, kalau aku tidak mau lagi bertemu dengan Fargo Jerald. Aku sibuk, Paman. Aku bisa meminta sekretarisku untuk menggantikanku bertemu dengan Fargo Jerald,” seru Carol jengkel mengomel di telepon. 

“Carol, tidak bisa. Harus kau yang mengantarkan revisi dokumen ini. Paman tidak enak pada Tuan Fargo kalau kau digantikan dengan sekretarismu, Carol,” kata Donald membujuk Carol dari seberang sana. 

“Come on, Paman. Apa bedanya aku dan sekretarisku? Itu hanya meeting sebentar yang membutuhkan tanda tangan Fargo. Simple, Paman. Jangan dibuat susah.” 

“Carol, kau tidak mengerti … project ini sangat penting. Butuh waktu hampir enam bulan, Paman berdiskusi dengan Fargo Jerald sampai dia akhirnya setuju. Paman mohon kali ini saja bantu Paman, Carol.” 

“Ck! Masih banyak sekali perusahaan yang jauh lebih besar daripada perusahaan milik Fargo Jerald. Kalau project ini gagal, aku akan carikan partner bisnis untukmu yang lain.” 

“Carol, Paman paling cocok dengan perusahaan Fargo. Paman mohon, mengertilah. Sekarang Paman masih di Florida, belum bisa kembali ke Los Angeles. Kemungkinan Paman akan kembali ke Los Angeles masih sekitar dua minggu lagi. Tolong gantikan Paman untuk kali ini saja, Carol. Hanya kau yang bisa Paman andalkan dan percayai.” 

Carol mengembuskan napas panjang mendengar ucapan Donald. Sungguh, Carol ingin sekali menolak, tapi jika sudah seperti ini mana mungkin bisa? Kenapa harus Fargo yang menjadi rekan bisnis pamannya? Benar-benar sangat menyebalkan!  

“Baiklah, Paman. Kirimkan saja dokumenmu yang baru ke kantorku. Nanti aku akan mengatur waktu untuk bertemu dengan Fargo.” 

“Terima kasih, Carol. Kau memang keponakan Paman yang selalu bisa diandalkan.” 

Carol tak mengatakan apa pun lagi. Wanita itu memilih menutup panggilan sepihak, dan meletakan ponselnya ke atas meja. Carol mengambil wine yang ada di hadapannya, lalu menenggak hingga tandas. Kepalanya sudah pusing, menjawab telepon dari pamannya. 

“Kenapa hidupku sial sekali?” gerutu Carol kesal. 

“Sial kenapa?” Kimberly tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Carol. 

“Kim? Kau sudah datang?” Carol sedikit terkejut melihat kedatangan Kimberly. Memang hari ini, Carol memiliki janji bertemu dengan Kimberly, tapi Carol tak mengira kalau Kimberly akan datang secepat ini.  

Kimberly menarik kursi, duduk di hadapan Carol. “Ya, aku baru saja datang. Kau kenapa, Carol? Sepertinya kau sedang memiliki masalah.” 

“Hanya sedikit masalah saja. Tidak usah dipikirkan. Aku baik-baik saja, Kim.” Carol meletakan gelas berkaki tinggi yang masih berisikan wine ke atas meja. Dia sengaja tak menceritakan pada Kimberly tentang dirinya yang bertemu dengan Fargo. Pasalnya, Carol yakin pasti Kimberly akan membela Fargo. Kimberly terlalu baik mudah memaafkan Fargo. Apa pun alasannya, di mata Carol, Fargo tetap pria berengsek yang tidak akan pernah bisa termaafkan sampai kapan pun.  

Kimberly menganggukkan kepalanya. “Ya sudah, lupakan. Anyway, bagaimana dengan produk skin care kita yang terbaru? Apa kau sudah memikirkan semuanya?” 

“Sudah, Kim. Minggu depan kita akan meeting dengan direktur marketing untuk membahas iklan. Aku ingin tetap kita menggunakan Jennisa Mared sebagai model. Harus aku akui, Jennisa mampu membawa dampak bagus di perusahaan kita,” ujar Carol memberikan saran. 

Kimberly kembali menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Pun Kimberly sependapat dengan Carol tentang Jennisa. “Oke, tidak masalah. Kau atur saja, Carol. Aku setuju denganmu.” 

Carol tersenyum samar merespon ucapan Kimberly. 

***

Suara dentuman musik memekak telinga. Malam semakin larut, salah satu kelab malam di Los Angeles sangatlah ramai. Terlihat banyak pasangan yang saling mengumbar kemesraan di lantai dansa. Pasangan yang tak semuanya memiliki hubungan pasti. Banyak di antaranya hanyalah hubungan satu malam saja. 

Well, tak akan asing lagi di telinga tentang hubungan satu malam. Hubungan singkat antar wanita dan pria yang sebagai penghangat ranjang, lalu besoknya pergi bagaikan virus. Seperti itu kehidupan malam. Tak lagi asing. Namun sayang, Carol tak tertarik pada kehidupan seperti itu. 

Jika semua orang menari bahagia di lantai dansa, lain halnya dengan Carol yang duduk di depan kursi bartender dengan raut wajah begitu kacau. Wanita itu menenggak vodka di tangannya hingga tandas. Sudah tak lagi terhitung berapa kali Carol menegak minumannya. 

“Aku ingin bertanya padamu,” ucap Carol setengah mabuk pada sang bartender. 

“Silakan, Nona,” jawab sang bartender sopan seraya meracik minuman untuk para pengunjung. 

“Dalam hidup, kenapa aku sangat sial? Apa kurangnya aku? Aku ini cantik, dan memiliki segalanya. Tapi kenapa aku belum juga memiliki kekasih? Yang ada malah aku dipertemukan dengan pria sialan yang sangat menyebalkan. Apa aku ini sudah mendapatkan kutukan?” Carol bertanya dengan mata yang sayu. Wanita itu tetap menenggak vodka di tangannya, meski dirinya sudah dalam keadaan mabuk. 

Sang bartender tersenyum. “Nona, mungkin saja pria yang menyebalkan yang Anda maksud adalah pria yang memang diperuntukan untuk Anda. Takdir tidak ada yang tahu, Nona.” 

“Ck! Kau ini sudah gila. Mana mungkin aku ditakdirkan dengan pria berengsek. Kau tahu? Dia itu pria yang pernah berselingkuh dari istrinya. Padahal istrinya saja sangat cantik. Aku tidak sudi berjodoh dengan pria bajingan.” 

“Nona, semua orang berhak berubah, bukan? Pria yang dulunya bajingan, bisa berubah menjadi pria baik.” 

“Ck! Selingkuh itu penyakit! Tidak akan pernah bisa diobati sampai kapan pun. Pria yang sudah pernah berselingkuh, akan tetap berselingkuh. Semua hanya manis di awal saja. Pada akhirnya mereka akan tetap menjadi pria bajingan.” 

“Nona, berubahnya seseorang atas dasar keinginan hati. Jika hatinya ingin berubah, maka orang itu pasti akan bisa berubah. Percayalah, Nona … tidak semua yang buruk akan tetap menjadi buruk. Orang di dunia ini pantas diberikan kesempatan untuk berubah.” 

“Aku tidak sependapat denganmu! Sudahlah, aku pulang saja! Kau sangat menyebalkan! Kau malah membela pria sialan itu!” 

Carol mengeluarkan beberapa lembar dollar yang ada di dompetnya ke atas meja. Tak lupa, wanita itu memberikan tip pada bartender yang sudah menemaninya mengobrol. Walau obrolan itu membuat Carol malah semakin kesal. 

Saat Carol hendak melangkah keluar dari klub malam, mata Carol menyipit melihat sosok pria yang seperti dia kenal hendak memasuki kelab malam itu. Entah kenapa kaki Carol malah melangkah mendekat pada sosok pria itu. Tubuhnya tinggi, bidang terbalut oleh jas berwarna abu-abu gelap yang membuat pria itu semakin tampan. 

“Kau seperti pria menyebalkan yang pernah aku kenal,” racau Carol setengah mabuk kala tiba di depan pria itu. 

Fargo menaikan sebelah alisnya, menatap dingin Carol. Tak dia sangka kalau akan bertemu dengan Carol di kelab malam. “Pergilah, jangan ganggu aku!” usirnya tegas. 

“Ah, suaramu tak asing. Kau pria—” Perkataan Carol terpotong kala merasakan perutnya seakan diaduk-aduk. Seketika itu juga, Carol memuntahkan semua isi perutnya ke jas Fargo. 

Hueekkkk … 

“Fuck!” Fargo mengumpat kasar melihat Carol muntah di jasnya. Jijik bercampur emosi menguasainya. Dia hendak berbalik masuk ke dalam mobil, meninggalkan Carol. Namun, di kala tubuh Carol tumbang, Fargo malah menangkap tubuh Carol, menggendong wanita itu. 

“Shit! Kau selalu menyusahkan hidupku, Carot!” Fargo mengumpati Carol yang kini ada di gendongannya. Dengan raut wajah penuh paksaan dan tersirat marah, Fargo menuju mobilnya, membawa Carol masuk ke dalam mobilnya. Jika saja Carol bukan teman Kimberly, sudah pasti Fargo akan meninggalkan Carol sendirian di sini. Tujuannya menenangkan pikiran, malah terjebak masalah baru. 

Bab terkait

  • Damian&Kimberly   Bab 6. S2. Troublesome Woman II 

    “Berengsek!” Fargo mengumpat dalam hati kala sudah selesai mengganti pakaiannya dengan kaus bersih. Tampak tatapan Fargo menatap kesal dan penuh emosi pada Carol yang masih meracau akibat mabuk. Saat ini Carol berbaring di ranjang dan mengatakan hal-hal sembarangan layaknya orang mabuk. Ya, dengan terpaksa Fargo membawa Carol pergi ke apartemen pribadinya. Fargo tak memiliki pilihan lain, karena jika dirinya melepas Carol, maka bisa jadi masalah baru akan timbul. “Menyusahkan sekali wanita ini!” Fargo ingin menghubungi siapa pun kontak nama yang ada di ponsel Carol, agar segera membawa Carol pergi menjauh darinya. Akan tetapi entah kenapa Fargo tak bisa melakukan itu. Seperti ada magnet kuat yang mencegah dirinya. Apalagi ketika melihat Carol yang tampak seperti sangat putus asa. Fargo memejamkan mata singkat. Berusaha mengatasi segala emosi yang terbendung dalam dirinya. Tujuan Fargo ke kelab malam karena ingin menenangkan pikiran yang belakangan ini lelah dengan pekerjaannya. Nam

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 7. S2. Troublesome Woman III

    Carol mondar mandir tidak jelas di dalam kamar mandi. Wajah cantik wanita itu sudah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sudah lima belas menit lalu dia selesai membersihkan diri, tapi tetap Carol tak kunjung keluar dari kamar mandi. Benaknya sejak tadi memikirkan tentang kebodohannya yang kelepasan bicara. Bagaimana bisa dirinya malah memberi tahu Fargo tentang ukuran dadanya? Astaga! Benar-benar sangat bodoh! Memalukan! Carol mendengkus seraya mengumpati dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri. Perlahan, dia memejamkan mata sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Hal yang paling menbuatnya kesal pada dirinya adalah kerap kelepasan bicara. Alhasil, sekarang dirinya sendiri yang malu. Akan tetapi, Carol tak bisa memungkiri bahwa dia berterima kasih pada Fargo yang sudah menyelamatkannya. Entah, bagaimana nasibnya kalau sampai Fargo meninggalkannya seorang diri di kelab malam. Memang, dia akui tadi malam dirinya mab

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 8. S2. Awkwardness

    “Turunlah. Mobilmu pasti sudah ada di halaman parkir kantormu. Tadi pagi aku sudah meminta asistenku mengantarkan mobilmu.” Fargo berucap dengan nada dingin kala pria itu sudah mengantarkan Carol tepat di lobby perusahaan Carol. Ya, tadi pagi-pagi sekali, dia sudah meminta asistennya mengambil mobil Carol yang masih terparkir di kelab malam, mengantarkan ke halaman parkir kantor Carol. “Terima kasih sudah membantuku,” jawab Carol dengan nada yang sama persis seperti Fargo. Dingin dan acuh. Paling tidak, Carol sekarang tak memiliki beban utang budi. Memasak untuk Fargo sudah sebagai bentuk balas budi. Meski rasa masakannya pas-pasan, tapi tetap masih bisa dimakan. “Anyway, besok aku akan ke kantormu. Pamanku sudah memberikan kontrak revisi yang paling terbaru. Aku tidak akan lama di kantormu. Jadi kau jangan mempersulitku meminta revisi kontrak kerja sama lagi.” Carol menoleh, menatap Fargo. Tatapan Carol menatap jengkel dan tersirat kesal pada Fargo. Ingatannya langsung tergali aka

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 9. S2. Awkwardness II 

    Carol menjadi kikuk dan tak tahu bagaimana harus bersikap kala melihat pemandangan di depan mata. Pemandangan di mana yang mengusik ketenangan jiwa dan raga. Entah, dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Namun, andai Carol tahu Fargo sedang sibbuk bermesraan dengan wanita lain, maka dia tak akan masuk ke dalam. Sungguh, dia merasa dirinya sekarang terjebak dan sulit untuk menghindar. ‘Kenapa aku harus ada di kondisi begini?’ geram Carol kesal dalam hati. Ingin rasanya Carol pergi, tapi kaki wanita itu seakan telah tertanam di lantai—membuatnya kesulitan dalam bergerak. Fargo melihat Carol yang berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya dingin dan tampak menahan rasa kesal. Detik selanjutnya, dia melepas paksa pelukan seorang wanita—yang memeluk dirinya bertepatan dengan Carol membuka pintu ruang kerjanya. Pun dia tak pernah mengira kalau wanita di hadapannya itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. “Pulanglah, Eldora. Aku sibuk,” ucap Fargo dingin, mengusir wanita bernama Eldora. Fargo ta

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 10. S2. Party 

    Carol menenggak wine di tangannya hingga tandas. Entah kenapa mood-nya benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dia ingin sekali tak datang di jamuan makan malam yang diadakan perusahaan Damian, tapi dia tak enak pada Kimberly kalau sampai tidak datang. Mau tak mau, dia memilih untuk datang karena sudah terlanjur berjanji. Carol menyandarkan punggungnya di sofa, mengambil bantal kecil dan memeluknya. Merasa sedikit bosan, dia mengambil remote televisi, dan langsung menghidupkan. Namun, di kala baru saja televisi dihidupkan, tatapannya menatap lekat penyiar berita yang tengah memberitakan sesuatu. *Kabar sore ini datang dari Fargo Jerald, mantan suami Kimberly Darrel ini sudah lagi terlihat di Los Angeles. Banyak paparazzi yang diam-diam mengambil gambar Fargo Jerald. Sampai detik ini, Fargo Jerald masih belum memiliki pengganti Kimberly Darrel. Tampaknya Fargo Jerald masih belum mau memulai sebuah hubungan.* Carol mematikan siaran berita itu. Tujuan Carol melihat televisi adalah

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • Damian&Kimberly   Bab 11. S2. Party II 

    Mata Fargo melebar menatap Carol dengan tatapan terkejut sekaligus memiliki jutaan arti. Lidahnya tak mampu berucap. Pria tampan itu hanya mencetuskan nama Carol di dalam hatinya, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tetap bergeming, tak bergerak sedikit pun. Tatapan itu seakan hanyut membawanya ke lautan lepas, yang entah membawanya ke arah mana.Lagi, Fargo tetap hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun kala Carol sudah mendekat. Gaun yang dipakai Carol begitu indah dan cantik. Rambut panjang wanita itu digulung ke atas, menunjukkan leher jenjangnya yang memukau. Belahan dada Carol terlihat. Pun Fargo melihat jelas ukuran dada Carol memang menantang. Bulat, padat, dan menggoda para kaum adam. Orang yang menatap Carol tak hanya Fargo saja, tapi banyak dari pria lain yang juga menatap Carol. Tentu kehadiran Carol yang sendiri mengundang perhatian banyak orang. Semua orang di pesta pasti beranggapan bahwa Carol adalah wanita single. Jamuan makan malam yang diadakan oleh Darr

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Damian&Kimberly   Bab 12. S2. Party III

    “Kenapa kau selalu cantik, hm?” Damian melingkarkan tangannya di pinggang Kimberly possessive. Banyak mata yang melihat sang istri, tapi Damian langsung memeluk erat sang istri, seakan menunjukkan pada dunia—Kimberly hanya miliknya. “Sayang, kau jangan merayu.” Kimberly memukul pelan lengan kekar Damian. Tampak pipi wanita itu tersipu malu. Saat ini dan dan suami berada berdansa di lantai dansa. Alunan musik slow motion, membuat Kimberly hanyut akan dansa romatis itu. Damian mengecupi bibir Kimberly bertubi-tubi. Pria tampan itu selalu gemas akan tingkah sang istri yang selalu menggemaskan. Saat Damian menikmati dansa romantis dengan Kimberly—tatapan pria tampan itu teralih pada Fargo dan Carol—yang tengah berdansa. Detik itu juga raut wajah Damian berubah. Sepasang iris mata cokelat gelapnya menatap Fargo dan Carol dengan tatapan penuh arti. “Kim, lihatlah ke kanan,” bisik Damian pelan di telinga Kimberly. Refleks, Kimberly mengalihkan pandangannya ke arah kanan, sesuai dengan yan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27
  • Damian&Kimberly   Bab 13. S2. Party IV

    Sepasang iris mata Fargo menatap Adrik Zeno di hadapannya dengan tatapan dingin, tajam, dan menusuk. Tatapan yang tersirat penuh peringatan. Aura wajahnya menunjukan kemarahan yang tak terkendali. “Jangan ikut campur! Aku tahu kau tidak memiliki hubungan apa pun dengan Carol!” seru Adrik dengan penuh keyakinan. Tatapannya membalas tatapan Fargo tak kalah tajam. Fargo menarik tangan Carol, membawa masuk ke dalam dekapannya. “Aku dan Carol memang sengaja menyembunyikan hubungan kami. Akan ada waktunya kami mengumumkan hubungan kami pada publik. Kami memiliki alasan sendiri untuk tidak memublikasikan hubungan kami. Kau hanya orang luar yang tidak tahu apa pun. Jadi lebih baik diam!”Setelah mengatakan itu, Fargo menggenggam tangan Carol, membawa Carol meninggalkan pesta. Tampak, raut wajah Adrik berubah dingin dan menunjukan jelas emosinya kala Fargo membawa Carol. Adrik hendak ingin mengejar, tapi Adrik menyadari bahwa dirinya berada di pesta. Adrik tak mau membuat kekacauan. Fargo

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-27

Bab terbaru

  • Damian&Kimberly   Bab 15. S2. Beautiful Mistake II

    Raut wajah Carol menunjukkan jelas kemuramannya. Pancaran matanya tampak melemah. Jutaan hal mengusik pikiran Carol, membuat seakan tubuhnya terasa lelah. Dia mengeratkan selimut yang membalut tubuh polosnya. Dia menggigit bibir bawahnya mengingat kejadian beberapa menit lalu. Kejadian di mana tak pernah dia sangka. Semua terjadi begitu cepat, dan berhenti begitu saja seakan dirinya tak pernah diinginkan. Air mata Carol sudah mengumpul di belakang kornea matanya. Namun, wanita itu menahan diri untuk tak menangis. Entah dia tak mengerti kenapa dirinya sangat sensitive. Padahal seharusnya Carol merasa bersyukur tak terjerat dalam ikatan semu. Sungguh, dia memang tak mengerti pada dirinya sendiri. Semua terlalu rumit untuk dikatakan. Sayup-sayup mata Carol mulai merasakan kantuk. Wanita cantik itu ingin sekali pindah ke kamarnya, tetapi kondisi kakinya tak memungkinkan untuk berjalan. Perlahan, dia mulai membaringkan tubuh di sofa. Pikiran dan tubuhnya sangat lelah, membuat rasa kantu

  • Damian&Kimberly   Bab 14. S2. Beautiful Mistake 

    Sudah berjam-jam Carol memaksa untuk menutup matanya, wanita cantik itu ingin sekali beristirahat. Pun tubuhnya terasa begitu lelah. Begitu juga dengan pikirannya yang sangat lelah. Akan tetapi, alih-alih memejamkan mata malah Carol tak bisa tidur sama sekali. Hatinya seperti gelisah akan sesuatu. Benak wanita itu memikirkan hal yang dia sendiri tak tahu hal apa yang mengusik ketenangan hati dan jiwa. Carol bangun, dan memilih duduk serta menyandarkan punggung di kepala ranjang. Beberapa kali, dia menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. Ya, sekarang dia masih berada di kamar tamu di apartemen pribadi milik Fargo. Mungkin kejadian tadi di pesta, membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Harus dia akui, tindakan Fargo yang menyelamatkannya dari Adrik, membuat hatinya merasakan aman dan terlindungi. Rupanya Fargo bisa bersikap gentlemen. Carol melirik jam dinding—waktu menunjukkan pukul dua malam. Biasanya dia sudah tertidur pulas pada pukul ini, tapi sayangnya sekarang dia tida

  • Damian&Kimberly   Bab 13. S2. Party IV

    Sepasang iris mata Fargo menatap Adrik Zeno di hadapannya dengan tatapan dingin, tajam, dan menusuk. Tatapan yang tersirat penuh peringatan. Aura wajahnya menunjukan kemarahan yang tak terkendali. “Jangan ikut campur! Aku tahu kau tidak memiliki hubungan apa pun dengan Carol!” seru Adrik dengan penuh keyakinan. Tatapannya membalas tatapan Fargo tak kalah tajam. Fargo menarik tangan Carol, membawa masuk ke dalam dekapannya. “Aku dan Carol memang sengaja menyembunyikan hubungan kami. Akan ada waktunya kami mengumumkan hubungan kami pada publik. Kami memiliki alasan sendiri untuk tidak memublikasikan hubungan kami. Kau hanya orang luar yang tidak tahu apa pun. Jadi lebih baik diam!”Setelah mengatakan itu, Fargo menggenggam tangan Carol, membawa Carol meninggalkan pesta. Tampak, raut wajah Adrik berubah dingin dan menunjukan jelas emosinya kala Fargo membawa Carol. Adrik hendak ingin mengejar, tapi Adrik menyadari bahwa dirinya berada di pesta. Adrik tak mau membuat kekacauan. Fargo

  • Damian&Kimberly   Bab 12. S2. Party III

    “Kenapa kau selalu cantik, hm?” Damian melingkarkan tangannya di pinggang Kimberly possessive. Banyak mata yang melihat sang istri, tapi Damian langsung memeluk erat sang istri, seakan menunjukkan pada dunia—Kimberly hanya miliknya. “Sayang, kau jangan merayu.” Kimberly memukul pelan lengan kekar Damian. Tampak pipi wanita itu tersipu malu. Saat ini dan dan suami berada berdansa di lantai dansa. Alunan musik slow motion, membuat Kimberly hanyut akan dansa romatis itu. Damian mengecupi bibir Kimberly bertubi-tubi. Pria tampan itu selalu gemas akan tingkah sang istri yang selalu menggemaskan. Saat Damian menikmati dansa romantis dengan Kimberly—tatapan pria tampan itu teralih pada Fargo dan Carol—yang tengah berdansa. Detik itu juga raut wajah Damian berubah. Sepasang iris mata cokelat gelapnya menatap Fargo dan Carol dengan tatapan penuh arti. “Kim, lihatlah ke kanan,” bisik Damian pelan di telinga Kimberly. Refleks, Kimberly mengalihkan pandangannya ke arah kanan, sesuai dengan yan

  • Damian&Kimberly   Bab 11. S2. Party II 

    Mata Fargo melebar menatap Carol dengan tatapan terkejut sekaligus memiliki jutaan arti. Lidahnya tak mampu berucap. Pria tampan itu hanya mencetuskan nama Carol di dalam hatinya, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tetap bergeming, tak bergerak sedikit pun. Tatapan itu seakan hanyut membawanya ke lautan lepas, yang entah membawanya ke arah mana.Lagi, Fargo tetap hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun kala Carol sudah mendekat. Gaun yang dipakai Carol begitu indah dan cantik. Rambut panjang wanita itu digulung ke atas, menunjukkan leher jenjangnya yang memukau. Belahan dada Carol terlihat. Pun Fargo melihat jelas ukuran dada Carol memang menantang. Bulat, padat, dan menggoda para kaum adam. Orang yang menatap Carol tak hanya Fargo saja, tapi banyak dari pria lain yang juga menatap Carol. Tentu kehadiran Carol yang sendiri mengundang perhatian banyak orang. Semua orang di pesta pasti beranggapan bahwa Carol adalah wanita single. Jamuan makan malam yang diadakan oleh Darr

  • Damian&Kimberly   Bab 10. S2. Party 

    Carol menenggak wine di tangannya hingga tandas. Entah kenapa mood-nya benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dia ingin sekali tak datang di jamuan makan malam yang diadakan perusahaan Damian, tapi dia tak enak pada Kimberly kalau sampai tidak datang. Mau tak mau, dia memilih untuk datang karena sudah terlanjur berjanji. Carol menyandarkan punggungnya di sofa, mengambil bantal kecil dan memeluknya. Merasa sedikit bosan, dia mengambil remote televisi, dan langsung menghidupkan. Namun, di kala baru saja televisi dihidupkan, tatapannya menatap lekat penyiar berita yang tengah memberitakan sesuatu. *Kabar sore ini datang dari Fargo Jerald, mantan suami Kimberly Darrel ini sudah lagi terlihat di Los Angeles. Banyak paparazzi yang diam-diam mengambil gambar Fargo Jerald. Sampai detik ini, Fargo Jerald masih belum memiliki pengganti Kimberly Darrel. Tampaknya Fargo Jerald masih belum mau memulai sebuah hubungan.* Carol mematikan siaran berita itu. Tujuan Carol melihat televisi adalah

  • Damian&Kimberly   Bab 9. S2. Awkwardness II 

    Carol menjadi kikuk dan tak tahu bagaimana harus bersikap kala melihat pemandangan di depan mata. Pemandangan di mana yang mengusik ketenangan jiwa dan raga. Entah, dia tak mengerti pada dirinya sendiri. Namun, andai Carol tahu Fargo sedang sibbuk bermesraan dengan wanita lain, maka dia tak akan masuk ke dalam. Sungguh, dia merasa dirinya sekarang terjebak dan sulit untuk menghindar. ‘Kenapa aku harus ada di kondisi begini?’ geram Carol kesal dalam hati. Ingin rasanya Carol pergi, tapi kaki wanita itu seakan telah tertanam di lantai—membuatnya kesulitan dalam bergerak. Fargo melihat Carol yang berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya dingin dan tampak menahan rasa kesal. Detik selanjutnya, dia melepas paksa pelukan seorang wanita—yang memeluk dirinya bertepatan dengan Carol membuka pintu ruang kerjanya. Pun dia tak pernah mengira kalau wanita di hadapannya itu memeluk dirinya secara tiba-tiba. “Pulanglah, Eldora. Aku sibuk,” ucap Fargo dingin, mengusir wanita bernama Eldora. Fargo ta

  • Damian&Kimberly   Bab 8. S2. Awkwardness

    “Turunlah. Mobilmu pasti sudah ada di halaman parkir kantormu. Tadi pagi aku sudah meminta asistenku mengantarkan mobilmu.” Fargo berucap dengan nada dingin kala pria itu sudah mengantarkan Carol tepat di lobby perusahaan Carol. Ya, tadi pagi-pagi sekali, dia sudah meminta asistennya mengambil mobil Carol yang masih terparkir di kelab malam, mengantarkan ke halaman parkir kantor Carol. “Terima kasih sudah membantuku,” jawab Carol dengan nada yang sama persis seperti Fargo. Dingin dan acuh. Paling tidak, Carol sekarang tak memiliki beban utang budi. Memasak untuk Fargo sudah sebagai bentuk balas budi. Meski rasa masakannya pas-pasan, tapi tetap masih bisa dimakan. “Anyway, besok aku akan ke kantormu. Pamanku sudah memberikan kontrak revisi yang paling terbaru. Aku tidak akan lama di kantormu. Jadi kau jangan mempersulitku meminta revisi kontrak kerja sama lagi.” Carol menoleh, menatap Fargo. Tatapan Carol menatap jengkel dan tersirat kesal pada Fargo. Ingatannya langsung tergali aka

  • Damian&Kimberly   Bab 7. S2. Troublesome Woman III

    Carol mondar mandir tidak jelas di dalam kamar mandi. Wajah cantik wanita itu sudah seperti kepiting rebus akibat menahan malu. Sudah lima belas menit lalu dia selesai membersihkan diri, tapi tetap Carol tak kunjung keluar dari kamar mandi. Benaknya sejak tadi memikirkan tentang kebodohannya yang kelepasan bicara. Bagaimana bisa dirinya malah memberi tahu Fargo tentang ukuran dadanya? Astaga! Benar-benar sangat bodoh! Memalukan! Carol mendengkus seraya mengumpati dirinya sendiri. Jika sudah seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri. Perlahan, dia memejamkan mata sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Hal yang paling menbuatnya kesal pada dirinya adalah kerap kelepasan bicara. Alhasil, sekarang dirinya sendiri yang malu. Akan tetapi, Carol tak bisa memungkiri bahwa dia berterima kasih pada Fargo yang sudah menyelamatkannya. Entah, bagaimana nasibnya kalau sampai Fargo meninggalkannya seorang diri di kelab malam. Memang, dia akui tadi malam dirinya mab

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status